MENANGGULANGI PERJAMUAN MALAM TUHAN (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 11:17-34
Dalam 11:17-34 Paulus menanggulangi perkara perjamuan malam Tuhan. Marilah kita melihat berbagai butir yang disinggung oleh Paulus dalam ayat-ayat ini.
I. TEGURAN KARENA ADANYA KEKACAUAN
A. Dalam Peraturan yang Diberikan Ini
Tidak Ada Pujian
Dalam 11:17-22 Paulus menegur orang-orang Korintus karena adanya kekacauan di antara mereka dalam hubungannya dengan perjamuan malam Tuhan. Dalam ayat 17 ia berkata, ”Dalam petunjuk-petunjuk berikut ini, aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.” Kata ”tetapi” di sini menunjukkan suatu perbedaan antara ”tidak memuji kamu” dan ”aku memuji kamu” dalam ayat 2. Dari ayat ini sampai akhir pasal ini rasul menanggulangi masalah yang kedelapan, yaitu mengenai perjamuan malam Tuhan.
Paulus itu jujur dan terus terang. Ketika kaum beriman harus dipuji, ia memuji mereka. Tetapi ketika mereka tidak seharusnya dipuji, ia tidak memuji mereka. Meskipun dalam ayat 17 Paulus tidak berkata, ”aku menegur kamu,” tetapi tidak diragukan lagi ia berbicara kepada mereka dengan nada yang menegur.
B. Kaum Beriman Korintus Berkumpul Bersama,
Tidak Mendatangkan Kebaikan,
Tetapi Mendatangkan Keburukan
Alasan mengapa Paulus tidak memuji mereka adalah karena ketika mereka berkumpul bersama, tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan (ayat 17). Ini menunjukkan bahwa pertemuan-pertemuan kaum beriman mungkin dapat merugikan, bukan menguntungkan. ”Tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan” berarti bahwa hasil dari orang-orang Korintus berkumpul bersama-sama itu tidak mendatangkan kebaik-an, melainkan mendatangkan keburukan, yaitu bahwa akibat perkumpulan mereka itu tidak menguntungkan, melainkan merugikan. Ada beberapa orang Korintus yang menjadi lemah, yang lainnya sakit, dan bahkan ada beberapa yang meninggal. Ini membuktikan bahwa mereka menderita kerugian yang besar.
C. Ada Perpecahan di Antara Mereka dalam Sidang Gereja Mereka
Dalam ayat 18 Paulus selanjutnya berkata, ”Sebab pertama-tama aku mendengar bahwa apabila kamu berkumpul sebagai jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.” Paulus berbicara dengan agak lunak. Ia tidak mengatakan bahwa ia sepenuhnya percaya kepada apa yang telah ia dengar; sebaliknya ia mengatakan bahwa sedikit banyak ia percaya akan hal itu. Ini menunjukkan nadanya yang lunak dalam menegur orang-orang Korintus. Istilah ”sebagai jemaat” berarti dalam perkumpulan gereja (14:34-35).
Ayat 19 melanjutkan, ”Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapa di antara kamu yang tahan uji.” Kata ”perpecahan” dalam bahasa aslinya berarti sekte-sekte, aliran-aliran dari berbagai pendapat yang berbeda, seperti dalam Galatia 5:20. Kata ”tahan uji” itu berarti terbukti memenuhi tuntutan/permintaan. Menurut ayat ini, perpecahan, sekte berguna untuk menyatakan orang-orang yang tahan uji, yang bukan pemecah-belah.
D. Mereka Berkumpul Bukanlah untuk Makan
Perjamuan Malam Tuhan
Dalam ayat 20 Paulus berkata, ”Apabila kamu berkum-pul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.” Dalam 10:21 perjamuan malam Tuhan disebut ”meja Tuhan”. Penekanan pada meja Tuhan adalah persekutuan dengan darah dan tubuh Tuhan (10:16-17), mengambil bagian dalam Tuhan, saling menikmati Tuhan dalam persekutuan; sedangkan penekanan pada perjamuan malam Tuhan adalah peringatan terhadap Tuhan (11:24-25). Dalam meja Tuhan kita menerima tubuh dan darah-Nya sebagai kenikmatan kita; dalam perjamuan malam Tuhan kita mengingat Dia, agar Dia mendapatkan kenikmatan.
Dalam ayat 21 Paulus mengumumkan, ”Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.” Pada zaman rasul, kaum beriman mempunyai satu kebiasaan berkumpul bersama untuk makan malam, yaitu waktu makan utama dalam sehari itu. Orang yang kaya membawa makanan lebih banyak dan lebih baik untuk dinikmati bersama; orang yang miskin membawa lebih sedikit. Inilah yang disebut perjamuan kasih (2Ptr. 2:13; Yud. 12), yang muncul dari latar belakang perjamuan Paskah (Luk. 22:13-20). Pada akhir perjamuan kasih, mereka makan perjamuan malam Tuhan, yaitu makan roti dan minum cawan memperingati Tuhan (ayat 23-25). Orang-orang Korintus tidak melakukannya dengan tepat. Mereka tidak menunggu satu sama lain (lihat ayat 33), masing-masing orang mengambil makanan mereka sendiri. Hasilnya, yang kaya sudah mabuk tetapi yang miskin masih lapar (ayat 21). Ini menyebabkan perpecahan dan pengelompokan di antara mereka (ayat 18) dan merusak perjamuan malam Tuhan. Jika demikian, mereka bukan makan perjamuan malam Tuhan (ayat 20). Dalam ayat 22 Paulus berkata kepada mereka, ”Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau apakah kamu hendak menghina jemaat Allah dan mempermalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji.”
II. PENGULANGAN DEFINISI
PERJAMUAN MALAM TUHAN
A. Rasul Menerima dari Tuhan
Mengenai pengulangan definisi perjamuan malam Tuhan, Paulus berkata dalam ayat 23, ”Telah aku terima dari Tuhan.”
B. Yang Diteruskannya kepada
Kaum Beriman Korintus
Apa yang Paulus terima dari Tuhan, ia teruskan kepada kaum beriman Korintus. Dalam ayat 23 ia memberi tahu mereka, ”bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti.” Kemudian ”sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata, ’Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’” Pemecahan roti adalah supaya kita dapat memakan-Nya (Mat. 26:26). Makan perjamuan malam Tuhan adalah bagi peringatan terhadap Tuhan sendiri.
Ayat 25 mengatakan, ”Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, ’Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’” Roti adalah roti hayat (Yoh. 6:35) dan cawan adalah cawan berkat (1Kor. 10:16). Cawan ini adalah perjanjian yang baru, yang meliputi semua berkat Perjanjian Baru yang limpah, termasuk Allah sendiri. Perjanjian yang baru didirikan dengan darah Tuhan, yang Dia cucurkan di atas salib bagi penebusan kita (Mat. 26:28).
Peringatan yang sejati terhadap Tuhan adalah makan roti dan minum cawan (ayat 26), yaitu mengambil bagian dalam dan menikmati Tuhan yang telah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita melalui kematian penebusan-Nya. Makan roti dan minum cawan adalah menerima Tuhan Penebus menjadi bagian kita, menjadi hayat dan berkat kita. Ini baru benar-benar memperingati Dia.
Ayat 26 melanjutkan, ”Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Kata ”memberitakan” di sini berarti memproklamirkan, atau memamerkan. Makan perjamuan malam Tuhan bukan mengingat kematian Tuhan, melainkan memberitakan dan memamerkan kematian Tuhan. Kita mengingat Tuhan sendiri melalui memberitakan dan memamerkan kematian-Nya. Perhatikanlah bahwa kita mengingat Persona Tuhan, tetapi kita memberitakan, memproklamirkan kematian-Nya. Kita mengingat Persona ini dengan memberitakan kematian-Nya kepada alam semesta; kepada roh-roh jahat, kepada malaikat-malaikat, dan kepada manusia.
Menurut ayat 26 kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Kita harus makan perjamuan malam Tuhan untuk mengingat Dia dengan memberitakan kematian penebusan-Nya tanpa henti-hentinya sampai Dia datang kembali.
III. PERLUNYA MENGUJI DAN MEMBEDAKAN
A. Orang yang Makan Roti dan Minum
Cawan Tuhan dengan Cara yang Tidak Layak,
Berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan
Dalam ayat 27 Paulus berkata, ”Jadi, siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” Makan atau minum dengan cara yang tidak layak adalah ti-dak menghargai arti roti dan cawan Tuhan. Roti dan cawan Tuhan menyatakan tubuh-Nya terbelah bagi kita dan darah-Nya tercurah bagi dosa-dosa kita, melalui kematian penebusan-Nya bagi kita. Berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan bagi seorang beriman adalah mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri (ayat 29-30).
B. Menguji Diri Sendiri
Dalam ayat 28 Paulus melanjutkan, ”Karena itu, hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.” Bagi seseorang menguji dirinya sendiri berarti memeriksa diri sendiri, menguji diri sendiri, agar diri sendiri tahan uji, memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.
C. Makan dan Minum Tanpa Mengakui Tubuh,
Mendatangkan Penghakiman atas Diri Sendiri
Ayat 29 mengatakan, ”Karena siapa yang makan dan minum tanpa mengakui tubuh, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (Tl.). Makan roti atau minum cawan Tuhan dengan cara yang tidak layak mendatangkan penghakiman atas kita. Penghakiman ini bukan suatu penghukuman, melainkan pendisiplinan Tuhan yang sementara (ayat 32).
Tidak membedakan berarti tidak memisahkan, tidak membuat perbedaan. Tidak membedakan tubuh Tuhan berarti tidak membuat perbedaan antara roti yang menyatakan tubuh Tuhan, dari makanan biasa. Ini berarti tidak menghargai arti roti yang kita makan pada perjamuan malam Tuhan. Ini bisa membuat kita terkena penghakiman, yaitu pendisiplinan Tuhan.
Rasul menggunakan ungkapan ”tubuh” dan bukan ”tubuh Tuhan”. Ini mungkin menyiratkan fakta bahwa selain tubuh jasmani Tuhan (1Kor. 11:24), masih ada Tubuh Kristus yang misteri (Ef. 4:4). Karena itu, ketika kita mengambil bagian dalam meja Tuhan, kita harus membedakan apakah roti di atas meja menyatakan Tubuh Kristus yang unik itu atau perpecahan manusia mana pun (denominasi mana pun). Karena kita telah membedakan Tubuh Kristus, maka kita tidak seharusnya mengambil bagian dalam roti perpecahan apa pun atau yang disertai roh perpecahan apa pun. Partisipasi kita dalam meja Tuhan haruslah merupakan persekutuan yang unik dari Tubuh Nya yang unik tanpa perpecahan apa pun, baik dalam pelaksanaan maupun dalam roh.
Penanggulangan rasul terhadap penudungan kepala bersangkutan dengan Kepala (ayat 3); penanggulangannya terhadap perjamuan malam Tuhan (meja Tuhan) bersangkutan dengan Tubuh. Mengenai kekepalaan Kristus, yang mewakili Allah dan diwakili oleh laki-laki, kita harus memelihara urutan pemerintahan ilahi yang ditetapkan Allah tanpa kekacauan apa pun. Mengenai Tubuh Kristus, kita harus dengan tepat diatur oleh pengajaran rasul, tanpa kekacauan dan perpecahan apa pun. Kepala adalah Kristus, dan Tubuh adalah gereja. Kristus dan gereja adalah dua faktor pengendali dan pengarah dari rasul dalam menanggulangi gereja yang kacau dan tidak teratur. Dari pasal 10, dia menanggulangi masalah gereja, terlebih dahulu dengan menekankan Kristus adalah inti Allah, juga adalah bagian kita. Selanjutnya, dalam pasal 11-16 dia menekankan gereja adalah sasaran Allah, juga adalah perhatian kita. Dari pasal 1-10 dia terlebih dulu dengan Kristus sebagai antibiotik menyembuhkan penyakit-penyakit gereja yang sakit. Kemudian dari pasal 11 dia meneruskan membicarakan gereja, dan menggunakan gereja, yaitu Tubuh Kristus, sebagai obat penangkal melawan kekacauan gereja. Baik Kristus maupun gereja sangatlah penting bagi perampungan pemerintahan Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya.
IV. PENDISIPLINAN TUHAN
A. Akibat dari Tidak Menguji dan Membedakan
Dalam ayat 30 dan 31 Paulus berkata, ”Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita”. ”Itu” dalam ayat 30 berarti tidak membedakan tubuh. Menjadi lemah dan sakit dalam ayat ini adalah pendisiplinan Tuhan, penghakiman Tuhan yang sementara, atas mereka yang mengambil bagian dalam tubuh Tuhan dengan cara yang tidak layak. Terlebih dulu Tuhan mendisiplin mereka, sehingga tubuh mereka menjadi lemah. Kemudian, karena mereka tidak mau bertobat atas kesalahan mereka, mereka dihajar lebih lanjut sehingga mereka menjadi sakit. Karena mereka masih tidak mau bertobat, Tuhan menghakimi mereka dengan kematian. Mati secara demikian sama dengan ditewaskan di padang gurun di dalam 10:5. Kata ”tidur” dalam ayat 30 itu berarti mati (1Tes. 4:13-16).
B. Menguji Diri Sendiri Agar Kita Tidak Dihakimi
Dalam ayat 31 Paulus mengatakan bahwa kalau kita menguji diri sendiri, maka kita tidak akan dihakimi. Menguji diri sendiri adalah membedakan diri sendiri, membuat penilaian (penghakiman) yang tepat terhadap diri sendiri. Tujuan dihakimi adalah agar kita dapat dibawa kembali kepada pemerintahan Allah. Orang-orang yang menyimpang memerlukan penghakiman dari Allah untuk membawa me-reka kembali berada di bawah pemerintahanNya.
C. Didisiplinkan Agar Kita Tidak Dihukum Bersama-sama dengan Dunia
Dalam ayat 32 Paulus berkata, ”Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.” Jika kita memelihara diri kita sendiri di bawah administrasi Allah, kita tidak akan dihakimi, dikoreksi, didisiplinkan, untuk dibawa kembali kepada pemerintahan-Nya. Pendisiplinan dalam ayat 32 ini juga adalah perkara pemerintahan Allah. Pendisiplinan ini bersifat sementara supaya kita tidak dihukum bersama-sama dengan dunia, yaitu dihukum selama-lamanya.
D. Berkumpul untuk Makan
Perjamuan Malam Tuhan
Dalam ayat 33-34a Paulus berkata, ”Karena itu, Sau-dara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, hendaklah kamu saling menunggu. Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum.” Perintah untuk saling menunggu disebabkan oleh keadaan yang disebut dalam ayat 21. Menunggu itu memerlukan kesabaran. Saling me-nunggu menunjukkan bahwa kita benar-benar berada di bawah pemerintahan Allah.
E. Hal-hal yang Lain akan Diatur
Ketika Rasul Datang
Dalam ayat 34b Paulus menyimpulkan, ”Hal-hal yang lain akan kuatur, kalau aku datang.” Ini menunjukkan bahwa rasul tidak memberikan petunjuk atas setiap perkara dalam pelaksanaan gereja. Untuk ”hal-hal yang lain”, kita perlu mencari pimpinan Tuhan berdasarkan dan dikendalikan oleh prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam Perjanjian Baru.