← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 7/23

MENANGGULANGI MASALAH PENUDUNGAN KEPALA

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 11:2-16

Dalam berita ini kita akan melihat 11:2-16, di mana Paulus menanggulangi masalah penudungan kepala.

I. PUJIAN RASUL

Dalam 11:2 Paulus berkata, ”Aku memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.” Di sini Paulus memuji orang-orang Korintus karena mereka mengingatnya dalam segala sesuatu dan karena mereka berpegang pada ajaran-ajaran yang ia teruskan kepada mereka. Kata ”ajaran” dalam ayat ini menekankan ajaran-ajaran yang diteruskan secara lisan atau tertulis (2Tes. 2:15).

II. KEKEPALAAN

Dalam ayat 3 Paulus berkata, ”Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” Ayat 3-16 menanggulangi masalah ketujuh, yaitu penudungan kepala. Keenam masalah pertama yang ditanggulangi dalam pasal 1-10, dapat dianggap sebagai satu kelompok, yang berhubungan dengan perkara-perkara dalam ruang lingkup kehidupan manusia. Kelima masalah terakhir yang ditanggulangi dalam pasal 11-16, adalah kelompok yang lain, yang berhubungan dengan perkara-perkara dalam ruang lingkup pemerintahan (administrasi) Allah. Masalah pertama dalam kelompok kedua ini berhubungan dengan kekepalaan Kristus dan Allah dalam pemerintahan ilahi. Dalam Efesus 1:22-23, kekepalaan Kristus atas segala sesuatu adalah bagi Tubuh-Nya, gereja. Di sini, pengepalaan Kristus atas setiap orang, berhubungan dengan perorangan. Kristus adalah Kepala Tubuh, gereja, secara korporat, dan juga Kepala kaum beriman secara perorangan. Dia adalah Kepala atas setiap orang di antara kita secara langsung. Ketika rasul menanggulangi masalah orang-orang Korintus yang berhubungan dengan pemerintahan Allah, yang terlebih dulu diperhatikannya ialah masalah kekepalaan Kristus dan Allah.

Dalam ayat 3 Paulus menunjukkan bahwa kepala dari perempuan ialah laki-laki. Dalam ketetapan pemerintahan Allah, perempuan berada di bawah kekepalaan laki-laki. Demikianlah Allah menciptakan perempuan (Kej. 2:18-24; 1Tim. 2:13). Menurut kodrat (1Kor. 11:14) yang diciptakan Allah, perempuan berada di bawah laki-laki.

Paulus juga mengatakan dalam ayat 3 bahwa kepala dari Kristus ialah Allah. Kristus adalah Yang diurapi Allah, Yang ditunjuk oleh Allah. Karena itu, Dia berada di bawah Allah, dan Allah sebagai Sang Pemula adalah Kepala-Nya. Ini mengacu kepada hubungan antara Kristus dan Allah dalam pemerintahan Allah.

Dalam menanggulangi masalah penudungan kepala, rasul mengambil kekepalaan Allah, kekepalaan Kristus, dan kekepalaan laki-laki sebagai dasar yang kuat untuk ajaran-nya. Ajarannya mengenai penudungan kepala bukan berdasarkan praktek agama atau kebiasaan manusia mana pun, tetapi berdasarkan kekepalaan dalam pengaturan pemerintahan Allah. Dasar yang sedemikian kuat tidak memberikan kedudukan apa pun bagi perdebatan terhadap perkara penudungan kepala.

Segera setelah saya beroleh selamat, saya mendengar banyak pembicaraan tentang penudungan kepala. Beberapa orang berdebat bahwa Paulus membicarakan masalah penudungan kepala karena ada kebiasaan itu di antara orang-orang pada masanya. Kemudian, melalui penelitian yang seksama, jelas ternyata bahwa tidak ada kebiasaan itu di antara orang Yunani atau orang Yahudi. Sebenarnya, menurut kebiasaan Yahudi, para imamlah yang dituntut untuk menudungi kepala mereka. Ajaran Paulus dalam 1Korintus 11 ini bukan berdasar pada kebiasaan apa pun yang ditemukan di daerah Laut Tengah. Sebaliknya, pengajarannya adalah menurut wahyu ilahi.

Alasan perlu penudungan kepala dalam gereja adalah karena penudungan kepala itu berhubungan dengan kekepalaan Allah. Inilah sebabnya Paulus berbicara seperti yang ia lakukan dalam 11:3, yang menyatakan bahwa ia menghendaki kita mengenal bahwa Kepala dari setiap laki-laki ialah Kristus, dan bahwa kepala dari perempuan adalah laki-laki, dan bahwa Kepala dari Kristus ialah Allah. Jadi, penudungan kepala berhubungan dengan kekepalaan dalam pemerintahan Allah. Dalam alam semesta ini, khususnya dalam pengaturan pemerintahan Allah, ada suatu urutan. Allah adalah Kepala atas Kristus, Kristus adalah Kepala atas setiap laki-laki, dan laki-laki adalah kepala atas perempuan. Karena itu, dalam sidang-sidang gereja para saudari harus memakai tudung kepala untuk menandakan bahwa kita mengakui otoritas Allah dan menghormati kekepalaan-Nya, dan bahwa kita bukanlah umat yang memberontak terhadap Allah. Sebaliknya, kita mutlak tunduk kepada-Nya dan menyatakan hal ini dengan memakai tudung kepala. Namun, meskipun hal ini telah menjadi praktek kita selama lebih dari lima puluh tahun, kita tidak pernah memaksa seorang pun untuk mengambil bagian dalam praktek ini. Kita tidak ingin membuat penudungan kepala ini menjadi suatu formalitas yang di luar. Tetapi ini adalah fakta Alkitab yang mewahyukan bahwa gereja harus memiliki satu tanda yang mengumumkan bahwa kita adalah umat yang berada di bawah kekepalaan Allah.

III. PENUDUNGAN KEPALA

A. Tiap-tiap Laki-laki yang Berdoa atau Bernubuat

dengan Kepala yang Bertudung, Menghina Kepalanya

Dalam ayat 4 Paulus selanjutnya berkata, ”Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya.” Di sini bernubuat berarti berbicara bagi Allah. Laki-laki adalah kepala perempuan, juga adalah gambar dan kemuliaan Allah (ayat 7). Ketika dia menjamah takhta pemerintahan Allah dengan berdoa kepada Allah atau berbicara bagi-Nya, dia harus membiarkan kepalanya dinyatakan, tidak tersembunyi, tidak tertutup. Kalau tidak, dia menghina atau mempermalukan kepalanya.

Kita tidak boleh mengira bahwa berdoa atau berbicara bagi Allah melalui bernubuat adalah perkara-perkara yang tidak bermakna. Berbicara bagi Allah adalah satu perkara yang besar. Doa kita dan pembicaraan kita bagi Allah itu berhubungan dengan pemerintahan Allah. Keduanya berhubungan dengan otoritas dan kekepalaan Allah. Karena itu, sebagai orang-orang yang adalah gambar dan kemuliaan Allah, laki-laki tidak boleh menudungi kepalanya sewaktu mereka berdoa atau bernubuat. Menutupi kepala kita dengan cara demikian berarti mempermalukan Kepala kita.

B. Tiap-tiap Perempuan yang Berdoa atau

Bernubuat dengan Kepala yang Tidak Bertudung,

Menghina Kepalanya

Dalam ayat 5 Paulus melanjutkan, ”Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.” Perempuan berada di bawah kekepalaan laki-laki, ketika dia menjamah pemerintahan ilahi dengan berdoa kepada Allah atau berbicara bagi Allah, dia harus menudungi kepalanya, tidak menonjolkannya. Kalau tidak, dia menghina atau mempermalukan kepalanya, seperti perempuan yang dicukur rambutnya; karena ketika dia menjamah otoritas Allah dia telah menyangkal ketetapan pemerintahan ilahi dengan menonjolkan kepalanya terhadap para malaikat yang memperhatikan (ayat 10).

Paulus memberitahukan bahwa seorang perempuan yang mempermalukan kepalanya sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Ini merupakan petunjuk yang kuat bahwa perempuan mencukur rambut atau memotong rambutnya adalah perkara yang memalukan (ayat 6).

Ayat 6 mengatakan, ”Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.” Ini menunjukkan bahwa tudung kepala merupakan penutup yang lain sebagai tambahan bagi rambut yang panjang. Bagi perempuan, membiarkan rambutnya panjang, tidak mencukur rambutnya, berarti dia tidak menolak ketetapan pemerintahan Allah; dan memakai tudung kepala sebagai tambahan bagi rambutnya yang panjang menunjukkan bahwa dia mengatakan, ”amin,” terhadap ketetapan Allah.

IV. ALASAN-ALASANNYA

A. Laki-laki Adalah Gambar dan Kemuliaan Allah,

tetapi Perempuan Adalah Kemuliaan Laki-laki

Satu alasan untuk masalah penudungan kepala ini terdapat dalam ayat 7: ”Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: Ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.” Laki-laki diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26) untuk mengekspresikan Allah dan memuliakan Allah. Karena laki-laki menampilkan gambaran dan kemuliaan Allah dan mewakili Allah, maka dia tidak seharusnya menutupi kepalanya. Jika dia menutupi kepalanya, gambaran dan kemuliaan Allah akan tertutup. Karena perempuan adalah kemuliaan laki-laki, maka dia tidak seharusnya menonjolkan kepalanya tetapi harus menutupinya. Dia tidak seharusnya menyatakan dirinya sendiri tetapi menyatakan laki-laki, yang di bawahnya dia berada. Rasul juga mengambil hal ini sebagai dasar bagi ajarannya mengenai penudungan kepala.

Ketika laki-laki berdoa atau bertutur sabda, menjamah takhta otoritas Allah, ia tidak boleh menutupi kepalanya. Tetapi ketika perempuan berdoa atau bertutur sabda, ia harus ditutupi.

B. Laki-laki Tidak Berasal dari Perempuan, tetapi Perempuan Berasal dari Laki-laki

Dalam ayat 8 Paulus memberikan alasan kedua untuk masalah penudungan kepala: ”Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.” Sebagai tulang rusuk yang diambil dari laki-laki, perempuan dijadikan dari laki-laki (Kej. 2:21-23). Allah tidak menciptakan perempuan. Dia membentuk tubuh laki-laki dari debu tanah dan menghembuskan nafas hayat ke dalam tubuh ini. Hasilnya, laki-laki, yang dinamakan Adam, menjadi jiwa yang hidup. Allah menidurkan laki-laki ini, dan kemudian Dia membuka pinggangnya, mengambil satu tulang rusuk, dan memakai tulang rusuk itu untuk membangun seorang perempuan. Jadi, perempuan itu tidak diciptakan, melainkan berasal dari laki-laki. Ini menunjukkan bahwa tempat perempuan adalah di iga laki-laki.

Namun, laki-laki tidak boleh sombong mengenai kedudukannya dalam hubungannya dengan perempuan. Perhatikanlah apa yang Paulus katakan dalam ayat 11 dan 12, ”Sekalipun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.” Dalam rencana dan pengaturan Allah, tidak ada perempuan tanpa laki-laki atau laki-laki tanpa perempuan. Laki-laki adalah sumber keberadaan perempuan, karena itu perempuan berasal dari laki-laki. Perempuan adalah sarana yang melaluinya laki-laki dilahirkan, karena itu laki-laki dilahirkan melalui perempuan.

Mengenai hubungan laki-laki dan perempuan, Paulus itu seimbang. Di satu pihak ia mengatakan bahwa perempuan berasal dari laki-laki, karena ia dijadikan dari tulang rusuk yang berasal dari Adam. Di pihak lain, Paulus mengatakan bahwa laki-laki dilahirkan melalui perempuan, karena laki-laki ada melalui ibunya. Kita juga harus seimbang, dengan menyadari keduanya bahwa perempuan berasal dari laki-laki dan bahwa laki-laki dilahirkan melalui perempuan.

C. Laki-laki Tidak Diciptakan karena Perempuan,

tetapi Perempuan Diciptakan karena Laki-laki

Ayat 9 mengatakan, ”Lagi pula, laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.” Di sini rasul mengambil tujuan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai dasar lain yang kuat untuk ajarannya mengenai penudungan kepala. Penudungan kepala tidak berdasarkan kebiasaan buatan manusia, tetapi berdasarkan tujuan ilahi dalam penciptaan. Tujuan perempuan dibuat adalah untuk mendampingi laki-laki (Kej. 2:18, 24).

D. Perempuan Memiliki Tanda Wibawa di Kepalanya oleh Karena Para Malaikat

Dalam ayat 10 Paulus melanjutkan, ”Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.” Tanda wibawa di sini mengacu kepada penudungan kepala, yang menandakan kekepalaan laki-laki atas perempuan.

Dalam ayat ini kita memiliki dasar lain lagi bagi pengajaran mengenai penudungan kepala. Penudungan kepala erat hubungannya dengan kekepalaan Allah, dan otoritas Allah. Penghulu malaikat dengan bawahannya memberontak melawan kekepalaan Allah (Yeh. 28:13-18; Yes. 14:12-15; Mat. 25:41), mendirikan kerajaan gelapnya (Mat. 12:26; Kol. 1:13), dan menjadi Iblis, musuh Allah. Setelah Allah menciptakan manusia, Iblis menipu manusia untuk mengikutinya dan memberontak melawan Allah. Kemudian Allah mengutus Putra-Nya untuk membinasakan Iblis dan menyelamatkan manusia dari kuasanya, kembali ke Kerajaan Allah (1Yoh. 3:8; Ibr. 2:14; Kol. 1:13). Sekarang, ketika kaum beriman menyembah Allah dalam doa kepada-Nya atau dalam berbicara bagi Dia, mereka harus mempunyai tanda yang menyatakan bahwa mereka berada di bawah kekepalaan Allah, di bawah otoritas ilahi, untuk diperlihatkan kepada para malaikat yang memperhatikan (lihat 1 Kor. 4:9), dan melihat perkara ini bahwa mereka (kaum beriman) sedang memelihara susunan yang ditetapkan Allah dalam pemerintahan-Nya. Untuk ini, para saudari seharusnya memiliki suatu tanda, suatu penudung di atas kepala mereka.

Sangatlah bermakna Paulus mengatakan bahwa perempuan harus memiliki otoritas di atas kepalanya demi para malaikat. Iblis, penghulu malaikat, telah ditugaskan untuk mengendalikan alam semesta ini bagi Allah. Tetapi ia memberontak, dan malaikat-malaikat tertentu mengikutinya. Memang, ada banyak malaikat yang tetap setia kepada Allah. Allah menciptakan manusia untuk menanggulangi malaikat-malaikat yang memberontak itu. Tetapi Iblis menipu manusia, dan manusia mengikutinya. Kemudian dalam penebusan, Allah datang untuk membawa manusia yang telah jatuh ini kembali kepada diri-Nya. Sekarang umat tebusan Allah adalah gereja. Sebagai gereja, kita harus mengumumkan kepada malaikat-malaikat, baik yang memberontak maupun yang taat, bahwa sebagai umat tebusan Allah kita tidak memberontak terhadap kekepalaan-Nya. Sebaliknya, kita tetap berada di bawah kekepalaan Allah. Bukan hanya dalam zaman kerajaan yang akan datang, dalam kekekalan kita akan berada di bawah kekepalaan Allah, tetapi di zaman yang memberontak sekarang pun kita tunduk kepada otoritas-Nya. Tudung kepala di atas kepala para saudari adalah satu tanda yang mengumumkan hal ini kepada para malaikat.

Dalam ayat 13 Paulus bertanya, ”Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah tanpa menudungi kepalanya?” Di sini Paulus menunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan menurut alasan-alasan yang diberikannya, maka tidaklah patut bagi seorang perempuan untuk berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung.

E. Alam Sendiri Mengajarkan kepada Kita Bahwa

Adalah Kehinaan bagi Laki-laki, Jika Ia Berambut

Panjang, tetapi Adalah Kehormatan bagi

Perempuan Jika Ia Berambut Panjang

Ayat 14 dan 15 mengatakan, ”Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.” Ketika Paulus mengatakan alam di sini, ia mengacukannya kepada kodrat alamiah kita menurut penciptaan Allah. Kodrat ini memberi tahu kita bahwa laki-laki tidak seharusnya berambut panjang, tetapi perempuan seharusnya berambut panjang. Perempuan menyadari berdasarkan kodrat kewanitaannya bahwa memiliki rambut panjang untuk menudungi kepalanya adalah suatu kemuliaan. Ini juga adalah dasar yang kuat bagi pengajaran rasul mengenai penudungan kepala.

Tidak peduli betapa beraninya seorang saudari, ia tidak akan merasa damai jika ia mengambil otoritas atas suaminya. Tidak perlu seorang pun mengajarnya untuk merasa tidak enak tentang hal ini. Berdasarkan kodrat alamiahnya yang diciptakan oleh Allah, ia tahu bahwa ia tidak boleh mengambil otoritas atas suaminya. Tidak diragukan lagi bahwa kodrat perempuan berbeda dengan kodrat laki-laki. Karena itu, perasaan yang kita miliki yang berasal dari kodrat alamiah kita pun menopang pengajaran Paulus mengenai penudungan kepala ini.

Dalam ayat 15 Paulus mengatakan bahwa rambut panjang seorang perempuan memberikan satu penudung baginya. Beberapa orang yang berdebat tentang penudungan kepala menyatakan bahwa penudungan kepala dalam pasal 11 ini hanyalah mengacu kepada rambut panjang perempuan. Menurut opini mereka, asal perempuan itu memiliki rambut yang panjang, maka ia bertudung kepala. Tetapi jika kita dengan teliti membaca ayat-ayat ini, kita akan melihat bahwa penudungan kepala adalah sesuatu yang ditambahkan kepada rambut panjang perempuan. Bagi seorang perempuan memiliki rambut panjang menunjukkan bahwa ia mengakui otoritas Allah atasnya. Bila ia mengenakan tudung kepala, maka hal ini menunjukkan bahwa ia mengatakan amin kepada pengaturan pemerintahan Allah.

V. TIDAK ADA PERBANTAHAN

Dalam ayat 16 Paulus menyimpulkan bagian tentang penudungan kepala ini: ”Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian.” Baik diri rasul sendiri atau gereja-gereja tidak bisa bertoleransi kepada perbantahan apa pun mengenai pengajaran rasul. Selain itu, kata ”gereja-gereja” yang jamak dalam ayat ini menunjukkan meskipun semua gereja lokal masing-masing adalah man-diri, tetapi semua memiliki pergerakan yang sama menurut pengajaran rasul.

Dalam membicarakan penudungan kepala, kita tidak bermaksud agar para saudari menerima praktek lahiriah ini hanya secara doktrinal. Sejak waktu pemulihan Tuhan datang ke Amerika Serikat, saya belum pernah menyampaikan satu berita yang memerintahkan para saudari untuk menudungi kepala mereka. Jika saya menyampaikan berita yang demikian, saya hanya akan mendorong suatu formalitas saja. Kita tidak ingin melihat bentuk yang luaran saja. Pemakaian tudung kepala oleh perempuan-perempuan telah dipraktekkan dalam ajaran Katholik. Di antara orang-orang Arab, perempuan-perempuan juga diperintahkan untuk memakai kerudung di atas kepala mereka. Namun, dalam kasus-kasus ini, saya tidak percaya mereka memahami apa yang dimaksud dengan penudungan kepala. Ketika seorang saudari memakai tudung kepala di atas kepalanya, ia perlu menyadari makna penudungan kepala itu.

Kekepalaan Kristus adalah perkara yang berhubungan dengan semua orang kudus, baik saudara maupun saudari. Dalam 11:3 Paulus berkata, ”Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” Pertama, para saudara perlu menyadari bahwa mereka harus berada di bawah kekepalaan Kristus. Khususnya jika para penatua satu gereja lokal tidak berada di bawah kekepalaan Kristus, maka mereka tidak seharusnya mengharapkan para saudari atau siapa pun untuk berada di bawah kekepalaan mereka. Dalam ayat 3 Paulus pertama-tama mengatakan bahwa Kepala dari setiap laki-laki adalah Kristus, dan kemudian ia menunjukkan bahwa kepala dari perempuan adalah laki-laki. Selain itu, Paulus menelusuri asal mula dari masalah penudungan kepala itu kembali kepada Allah sendiri sebagai Kepala Kristus.

Kita perlu merangkaikan perkataan Paulus tentang penudungan kepala dalam 11:2-16 ini dengan seluruh kitab Wahyu. Dalam Kitab Wahyu kita melihat bahwa Kristus, Domba yang tersembelih itu, mutlak berada di bawah kekepalaan Allah bagi pelaksanaan pemerintahan Allah. Wahyu 4 dan 5 memperlihatkan satu gambaran bahwa Domba yang telah tersembelih, yang telah bangkit, dan telah naik ini, sekarang ada di surga melaksanakan pemerintahan Allah di bawah kekepalaan Allah.

Belakangan ini kita telah menerbitkan sejumlah berita mengenai ministri surgawi Kristus. Ministri surgawi Kristus berhubungan dengan pengaturan surgawi pemerintahan ilahi. Kristus adalah Pengatur yang sedang melaksanakan pemerintahan Allah melalui ketaatan-Nya kepada kekepalaan Allah.

Menurut Wahyu 4 dan 5, di surga, di hadapan takhta Allah, tidak ada pemberontakan. Sebaliknya, seperti yang telah kita tunjukkan, Domba yang telah tersembelih, yang telah bangkit, dan telah naik itu sedang mengambil pimpinan untuk taat kepada kekepalaan Allah di surga. Namun, bumi ini penuh dengan pemberontakan. Iblis mengambil pimpinan untuk memberontak terhadap Allah. Tetapi puji Tuhan bahwa di tengah-tengah semua pemberontakan ini, ada satu Tubuh yang tersusun dari orang-orang yang telah ditebus dan dibaptis ke dalam Allah Tritunggal! Baptisan bukanlah satu formalitas. Kita telah dibaptis ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Menurut Roma 6:3 dan Galatia 3:27, kita telah dibaptis ke dalam Kristus. Dibaptis ke dalam Kristus sebagai Roh pemberi hayat membawa kita masuk ke dalam Tubuh secara organik. Maka, di bumi ada satu organisme, satu Tubuh, yang tersusun dari orang-orang yang telah ditebus dan dibaptis ke dalam Allah Tritunggal. Ini adalah Tubuh dari Dia yang ada di surga yang tunduk kepada kekepalaan Allah. Sekarang di bumi, Tubuh ini harus memantulkan ketaatan Kristus di surga.

Tubuh Kristus di bumi harus memantulkan Kristus sebagai Kepala yang tunduk kepada kekepalaan Allah. Kita di bumi harus menjadi satu televisi surgawi yang mengekspresikan apa yang sedang terjadi di surga. Kristus adalah Dia yang telah menjadi manusia, yang tersembelih karena dosa-dosa kita, dan yang dibangkitkan untuk menjadi Roh pemberi hayat supaya kita dapat memiliki hayat. Sekarang Dia ada di surga tunduk kepada kekepalaan Allah bagi pelaksanaan pemerintahan ilahi. Sebagai anggota-anggota Tubuh, kita memiliki televisi surgawi di dalam kita yang olehnya kita dapat melihat apa yang sedang terjadi di surga. Sekarang kita harus menjadi televisi untuk memantulkan apa yang sedang terjadi di surga supaya orang lain dapat melihat apa yang sedang terjadi di sana dari dalam kita. Ini berarti gereja di masing-masing lokal harus memantulkan visi surgawi dan mengekspresikan ketaatan Kristus kepada kekepalaan Allah bagi pelaksanaan pemerintahan-Nya.

Apakah ada televisi surgawi dalam gereja di lokal Anda? Apakah gereja lokal Anda memantulkan ketaatan Kristus di surga? Kita memuji Tuhan bahwa di banyak tempat ada pemantulan yang tepat dari ketaatan Kristus kepada kekepalaan Allah. Meskipun bumi ini penuh dengan pemberontakan, kita harus menjadi orang-orang yang berada di bawah kekepalaan Allah yang melalui ketaatan kita kepada Kristus, memantulkan ketaatan Kristus sendiri kepada Allah.