PANDANGAN TENTANG SATU KORINTUS
Pembacaan Alkitab:
1 Kor. 15:45b; 12:13; 2Kor. 3:6, 17-18; 1Kor. 11:3, 20, 23-25; 12:1; 15:12; 16:1-2
Dalam berita ini kita akan menyajikan satu pandangan menyeluruh tentang 1Korintus. Namun, sebelum kita melakukannya, pertama-tama marilah kita melihat empat ayat, dua dari 1Korintus dan dua dari 2Korintus. Satu Korintus 15:45b, ”Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat” (Tl.). Dalam 12:13 Paulus mengumumkan, ”Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Dua Korintus 3:6 mengatakan bahwa kita adalah ”pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh.” Akhirnya, 2Korintus 3:18 mengatakan, ”Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Pernahkah Anda memikirkan tentang hubungan di antara empat ayat ini? Dua ayat mewakili 1Korintus dan dua ayat lagi mewakili 2 Korintus. Sebenarnya dua kitab ini adalah kitab tentang Roh. Keempat ayat yang dikutip di atas membicarakan Roh. Saya percaya bahwa banyak orang Kristen belum terkesan secara memadai dengan ayat-ayat ini.
ROH PEMBERI-HAYAT
Menurut 15:45b, Kristus, Adam yang akhir ini, menjadi Roh pemberi hayat. Sebelum Anda masuk ke dalam pemulihan Tuhan, tahukah Anda bahwa ada satu ayat dalam Perjanjian Baru yang memberi tahu kita bahwa Adam yang akhir, Kristus, menjadi Roh pemberi hayat? Ayat ini tidak mengatakan bahwa Adam yang akhir menjadi Penebus, Penyelamat, atau Tuhan yang Mahakuasa; sebaliknya ayat ini memberi tahu kita bahwa Dia telah menjadi Roh pemberi hayat.
DIBAPTIS DALAM ROH UNTUK MINUM ROH
Sampai satu tahap, kaum beriman pada hari ini akrab dengan perkataan Paulus dalam 12:13. Ada beberapa orang yang sering menyinggung ayat ini. Namun, penekanan mereka biasanya pada kata dibaptis: kita semua telah dibaptis dalam satu Roh. Pernahkah Anda mendengar berita yang menekankan kata minum, berita yang memberi tahu Anda bahwa Anda telah dibaptis dalam Roh untuk minum Roh itu? Kita telah dibaptis untuk minum. Karena itu, kita tidak boleh berhenti pada kata dibaptis, melainkan maju memahami bahwa kita telah dibaptis untuk minum. Dibaptis adalah perkara satu kali untuk selamanya, sedangkan minum adalah satu perkara yang berkelanjutan. Bahkan dalam kekekalan kita juga tetap akan minum dari satu Roh ini.
Tuhan Yesus sebagai Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi hayat, supaya kita dapat dibaptis ke dalam Roh ini. Ke dalam Roh apa kita telah dibaptis? Kita bukan dibaptis hanya ke dalam Roh Allah saja. Melainkan, kita juga telah dibaptis dalam Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19). Roh Yesus Kristus ini adalah Roh pemberi hayat.
Jika kita tidak dibaptis ke dalam Roh pemberi hayat ini, bagaimana mungkin kita dapat dibaptis ke dalam satu Tubuh? Tubuh bukanlah perkara kuasa atau organisasi; melainkan adalah satu organisme hayat. Kita telah dibaptis secara organik ke dalam satu Tubuh dalam Roh pemberi hayat, Roh Yesus Kristus, bukan hanya ke dalam Roh Allah saja. Jika kita tidak memiliki hayat dan unsur yang organik, bagaimana mungkin kita dapat menjadi anggota-anggota Tubuh yang hidup? Ini tidak mungkin. Membaptis seorang beriman dalam air saja tidak melibatkan hayat. Setelah seseorang diselam ke dalam air, ia masih tetap satu individu yang terpisah. Tetapi kita bukan hanya telah dibaptis dalam air, melainkan juga dalam Roh pemberi hayat. Air adalah satu tanda dari Roh itu yang ke dalamnya kita dibaptis. Setelah seseorang dibaptis dalam Roh pemberi hayat, maka secara organik ia menjadi bagian dari Tubuh.
Karena kita semua telah dibaptis dalam satu Roh, maka secara organik kita adalah satu Tubuh. Alasan mengapa kita mengasihi semua orang kudus, tanpa mempedulikan ras, kebudayaan, atau kebangsaan, adalah karena kita secara organik disatukan di dalam hayat. Kita memiliki satu unsur organik di dalam kita, dan kita adalah satu dalam hayat dari Roh pemberi hayat ini.
Setelah melalui suatu proses, Allah Tritunggal menjadi Roh pemberi hayat yang demikian. Di dalam Roh yang demikian kita semua telah dibaptis ke dalam satu Tubuh. Bagaimana mungkin kita menjadi satu Tubuh? Kita dapat menjadi satu Tubuh karena kita telah dibaptis dalam Roh pemberi hayat yang ajaib ini, yang adalah perampungan akhir Allah Tritunggal.
Kita telah dibaptis di dalam Roh yang ajaib ini untuk minum dari Allah Tritunggal. Ini berarti baptisan itu bukan akhirnya; melainkan hanya satu permulaan saja. Kita yang telah dibaptis satu kali akan minum Roh pemberihayat ini sampai selama-lamanya.
Ada satu hubungan yang ajaib di antara 12:13 dengan Wahyu 22:1, di mana dikatakan bahwa ada sungai air hayat yang keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Sungai ini akan mengaliri seluruh Yerusalem Baru sehingga setiap orang dapat minum air hayat itu. Dalam kekekalan air hayat ini akan menjadi minuman kita. Kita telah dibaptis untuk minum Roh ini, air hayat ini, sampai selama-lamanya.
Surat 1 Korintus mengajarkan bahwa Adam yang akhir, Allah yang berinkarnasi, telah menjadi Roh pemberihayat, dan bahwa di dalam Roh ini kita semua telah dibaptis ke dalam satu Tubuh. Sekarang, sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam Roh pemberi hayat ini, kita perlu minum Roh ini. Hari demi hari, kita harus minum. Kapan saja kita berdoa, doabaca, atau berseru, ”O, Tuhan Yesus,” kita dapat meminumnya. Sewaktu kita bersekutu dengan orang-orang kudus, kita juga harus minum Roh itu. Kadang-kadang ketika saya minum dari Roh ini, saya lupa diri karena sukacita. Haleluya, kita telah dibaptis ke dalam satu Tubuh untuk minum Roh pemberi hayat ini! Sungguh suatu wahyu yang menakjubkan!
PELAYAN-PELAYAN ROH
Akhirnya, melalui minum Roh itu kita dijenuhi dengan Roh itu. Kemudian kita menjadi pelayan-pelayan perjanjian baru, ”yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh” (2Kor. 3:6). Perjanjian baru bukan berasal dari hukum Taurat, melainkan dari Kristus yang telah menjadi Roh pemberi-hayat.
Kristus menjadi Roh pemberi hayat itu menyiratkan semua langkah dari proses-Nya: inkarnasi, kehidupan in-sani, penyaliban, dan kebangkitan. Ini juga termasuk penebusan. Sasaran dari proses ini bukanlah inkarnasi, penyaliban, atau bahkan kebangkitan; sasarannya adalah Roh pemberi-hayat. Karena itu, perjanjian baru menyiratkan inkarnasi; yaitu, menyiratkan Allah menjadi seorang manusia dan hidup sebagai manusia di bumi. Perjanjian baru juga menyiratkan Dia yang telah berinkarnasi ini pergi ke salib dan mati untuk dosa-dosa kita, dan bahkan bagi diri kita sendiri, untuk mengakhiri ciptaan lama. Setelah mencurahkan darah-Nya di salib dan mati bagi kita, Dia dikubur dan kemudian masuk ke dalam kebangkitan. Ketika Dia masuk ke dalam kebangkitan, Dia mencapai tujuannya Roh pemberi hayat.
Dalam Roh yang ajaib ini kita semua telah dibaptis ke dalam satu Tubuh. Sekarang bila kita minum Roh ini dan dijenuhi dengan Dia, maka secara spontan kita menjadi pelayan-pelayan perjanjian baru, perjanjian yang tersusun dari Roh. Karena itu, kita tidak boleh melayankan doktrin atau huruf-huruf saja. Sebaliknya, kita harus meministrikan Roh itu. Kita harus melayani orang lain dengan minuman surgawi yang dengannya kita telah dijenuhi. Marilah kita semua menjadi pelayan-pelayan yang bukan terdiri dari doktrin atau huruf-huruf, melainkan dari hayat dan dari Roh itu.
TRANFORMASI DARI TUHAN ROH
Menurut 2Korintus 3, kita bukan hanya harus menjadi pelayan-pelayan Roh, melainkan juga harus ”. . . dari Tuhan Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dari kemuliaan ke kemuliaan” (ayat 18 Tl.). Atas semua yang kita lakukan dalam gereja sidang-sidang, persekutuan, pelayanan, memberikan dan menerima tumpangan kita harus mengalami proses transformasi ini. Kita semua sedang ditransformasi ke dalam gambar Tuhan dari kemuliaan ke kemuliaan, dari satu tingkat kemuliaan kepada tingkat kemuliaan lainnya. Ini adalah dari Tuhan Roh.
Saya sangat mengapresiasi keempat ayat ini. Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi hayat. Kita telah dibaptis dalam Roh ini dan sekarang kita sedang minum Roh ini. Lagi pula, bila kita dijenuhi dengan Roh itu, kita akan menjadi pelayan-pelayan Roh. Selain itu, kita berada dalam proses ditransformasi dari kemuliaan ke kemuliaan seperti dari Tuhan Roh. Sesungguhnya 1dan 2 Korintus adalah kitab tentang Roh.
MASALAH-MASALAH DALAM RUANG LINGKUP
KEHIDUPAN MANUSIA
Sampai butir ini akan sangat membantu bila kita melihat Surat 1Korintus secara menyeluruh, untuk mendapatkan satu pandangan tentang seluruh surat ini. Ketika Paulus menulis Surat Kiriman ini, ia sangat berbeban di dalam rohnya. Surat ini menanggulangi masalah-masalah di antara orang-orang kudus dalam gereja yang kacau dan tidak teratur. Orang-orang kudus di Korintus ini telah diselewengkan, ada kekacauan di antara mereka. Maka, rasul Paulus berbeban untuk gereja itu, dan menuliskan Surat Kiriman ini untuk menjernihkan situasi dengan menanggulangi masalah-masalah itu satu demi satu.
Setelah banyak membaca dan mempelajari, saya menemukan bahwa dalam 1Korintus ada sebelas masalah (problem) yang ditanggulangi oleh rasul. (Beberapa guru hanya mengenal sepuluh masalah). Sebelas masalah ini ada dalam dua kategori. Kelompok yang pertama terdiri atas enam masalah yang terliput dalam pasal 1-10. Masalah yang pertama adalah perpecahan, yang disebabkan oleh hidup dalam jiwa. Di antara orang-orang Korintus terjadi perpecahan karena mereka itu alamiah dan hidup menurut hikmat filsafat mereka. Mereka menempuh satu kehidupan jiwani, dan akibatnya mereka terpecah-belah.
Masalah yang kedua adalah dosa kotor karena perbuatan sumbang yang ditanggulangi dalam pasal 5. Dosa ini melibatkan pengumbaran daging. Pengumbaran daging ini berasal dari hidup oleh hayat jiwa. Orang-orang yang jiwani, lambat atau cepat mengumbar daging mereka.
Masalah ketiga yang dibahas dalam pasal 6, yaitu tentang tuntutan hukum. Hal ini melibatkan penuntutan hak perseorangan.
Keempat, juga ada dalam pasal 6, masalah tentang penyalahgunaan hak manusia. Dalam penciptaan-Nya, Allah telah menentukan bahwa manusia harus makan untuk hidup dan juga harus menikah untuk berkembangbiak. Jadi, makan dan pernikahan, yang keduanya ditentukan Allah, adalah hak-hak manusia. Tetapi orang-orang kudus yang jiwani dan bahkan karnal itu menyalahgunakan hak-hak tersebut. Penyalahgunaan hak makan adalah makan dengan rakus, dan penyalahgunaan hak pernikahan adalah perzinaan.
Kelima, dalam pasal 7 Paulus membereskan masalah pernikahan. Masalah ini berhubungan dengan hayat jiwa dan daging. Semakin bijak dan filsafatnya seseorang, semakin banyak masalah yang ia miliki dalam kehidupan pernikahannya. Sebaliknya, orang yang kurang berpendidikan, kelihatannya semakin sedikit masalahnya dalam kehidupan pernikahan.
Masalah keenam yang dibahas dalam pasal 8-10, yaitu tentang makan kurban yang dipersembahkan kepada berhala. Orang-orang yang melakukan praktek ini di antara orang-orang Korintus tidak memiliki batasan; mereka tidak memperhatikan orang lain, tidak memperhatikan Tu-buh Kristus, ataupun kesaksian Allah. Mereka hanya memperhatikan makan mereka. Masalah tentang makan kurban yang dipersembahkan kepada berhala ini juga berhubungan dengan meja Tuhan. Seseorang tidak dapat makan kurban berhala dengan rakus dan pada saat yang sama datang ke meja Tuhan. Inilah sebabnya dalam membereskan masalah makan kurban yang dipersembahkan kepada berhala, Paulus menjamah perkara meja Tuhan.
Keenam masalah ini semuanya berada dalam alam kehidupan manusia. Kaum beriman mana pun yang dapat memecahkan masalah ini akan benar-benar menjadi kudus; ia benar-benar akan dikuduskan. Ia tidak akan memiliki masalah perpecahan, hawa nafsu daging, penuntutan hak pribadi, penyalahgunaan haknya dalam makan dan pernikahan, serta dalam kehidupan pernikahan itu sendiri. Lagi pula dalam kehidupan sehari-harinya, khususnya dalam perkara makan, ia akan dibatasi dan memperhatikan orang lain, gereja, dan kesaksian Allah.
KRISTUS — FAKTOR UNTUK MEMECAHKAN
MASALAH-MASALAH DALAM KEHIDUPAN
ORANG KRISTEN KITA
Faktor yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah mengenai kehidupan orang Kristen sehari-hari ini adalah Kristus. Kristus adalah inti Allah dan Dia diberikan kepada kita sebagai satu-satunya bagian kita. Jika kita menikmati Kristus berdasarkan wahyu tentang Dia dalam 10 pasal pertama dari surat ini, kita akan memiliki faktor yang diperlukan untuk memecahkan enam masalah ini. Kita akan memecahkan masalah perpecahan, pengumbaran daging, penuntutan hak pribadi, dan penyalahgunaan hak-hak kita. Kita juga akan memiliki pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan pernikahan kita. Jika Anda memiliki masalah dalam kehidupan pernikahan Anda, itu adalah satu petunjuk bahwa Anda kekurangan Kristus, bahwa Anda tidak dirawat dengan Kristus secara memadai. Tetapi jika Anda menikmati Kristus secara penuh, maka Anda tidak akan memiliki masalah dalam kehidupan pernikahan, atau lima masalah lainnya yang dibahas dalam 1Korintus 1-10. Karena Kristus adalah faktor untuk memecahkan masalah-masalah ini, maka sepuluh pasal ini sangat menekankan tentang Kristus. Kristus adalah Dia yang almuhit. Dia adalah kekuatan Allah, hikmat Allah, bahkan kedalaman dan rahasia Allah. Dia adalah satu-satunya faktor untuk memecahkan masalah-masalah dalam alam kehidupan manusia.
MASALAH-MASALAH DALAM RUANG LINGKUP PEMERINTAHAN (ADMINISTRASI) ALLAH
Namun, masalah-masalah di antara orang-orang Korintus ini bukan hanya berhubungan dengan kehidupan manusia, bahkan berhubungan dengan pemerintahan Allah. Di antara mereka tidak ada aturan, tidak ada wewenang. Karena itu, mereka bukan hanya menyalahgunakan hak-hak mereka dalam makan dan pernikahan; mereka bahkan menyalahgunakan karunia rohani mereka. Mereka secara berlebihan menyalahgunakan karunia yang diberikan Allah untuk memenuhi tuntutan mereka sendiri. Hal ini membuat pemerintahan Allah di antara mereka terhalang, dan sedikitnya sampai tingkat tertentu, telah rusak.
Beberapa orang bahkan bersalah sedemikian rupa dalam hal pemerintahan Allah sehingga mereka sampai mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan (15:12). Jika tidak ada kebangkitan di alam semesta ini, maka Allah itu bukan apa-apa. Allah sendiri adalah kebangkitan. Ketika Allah datang dalam daging, Dia berkata, ”Akulah kebangkitan” (Yoh. 11:25). Maka, jika tidak ada kebangkitan, itu berarti tidak ada Allah, karena tidak ada Allah yang menjadi sumber hayat, kuasa hayat, bentuk hayat, dan fungsi hayat. Tanpa kebangkitan, alam semesta ini akan kosong. Karena itu, adalah satu perkara yang sangat serius bila mengatakan tidak ada kebangkitan. Ini adalah menyangkal Allah dan menghapus kuasa ilahi bagi pemerintahan-Nya di alam semesta ini. Kita harus mengakui ada kebangkitan dan bahwa Allah sedang mengatur alam semesta ini untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya melalui kebangkitan dan dalam kebangkitan.
Jika kita benar-benar berada di bawah pemerintahan Allah dalam kebangkitan, maka kita akan mengatasi uang dan harta benda. Hal-hal itu tidak akan berkuasa atas kita, dan tidak akan menduduki kita atau memiliki kita. Sebaliknya, kita akan mengatasi mereka dan memerintah atas mereka.
Dalam pasal 15 Paulus membereskan perkara kebangkitan. Kemudian ia membuka pasal 16 dengan perkataan tentang mengumpulkan pemberian-pemberian materi pada hari pertama dari minggu itu. Hari pertama dari minggu itu menandakan kebangkitan, karena ini adalah hari kebangkitan.
Fakta bahwa hal-hal materi dipersembahkan pada hari pertama dari minggu itu menunjukkan bahwa hal-hal materi itu harus dipersembahkan dalam kebangkitan, bukan dalam hayat alamiah kita. Orang-orang dunia yang kaya dapat menuliskan cek untuk sejumlah besar uang. Tetapi jika mereka memberikan sumbangan yang besar, mereka biasanya menuliskan nama mereka sendiri dan memamerkan apa yang telah mereka lakukan. Ini bukanlah memberi dalam kebangkitan. Kita memberi uang dan hal-hal materi haruslah di dalam kebangkitan. Cara pemberian yang demikian ini adalah satu petunjuk yang kuat bahwa kita berada di bawah pemerintahan Allah dalam kebangkitan dan telah mengatasi harta benda. Akibatnya, pemerintahan Allah akan bisa terlaksana di antara kita.
Hal yang pertama dari lima masalah yang berhubungan dengan pemerintahan Allah ini adalah tentang kekepalaan. Paulus membahas hal ini dalam 11:2-16 ketika ia menanggulangi masalah penudungan kepala. Penudungan kepala berhubungan dengan kekepalaan di dalam pemerintahan universal Allah.
Masalah yang kedua dalam kelompok ini adalah tentang perjamuan malam Tuhan. Perjamuan Tuhan bukanlah satu hal yang tersendiri, karena hal ini berkenaan dengan Tubuh. Untuk mengatur alam semesta ini, Allah memerlukan Tubuh. Dia memerlukan sekelompok orang yang terbentuk secara organik menjadi satu Tubuh. Tubuh ini adalah sarana yang olehnya Allah dapat melaksanakan pemerintahan-Nya.
Masalah yang ketiga dalam kategori ini adalah masalah tentang menyalahgunakan karunia-karunia rohani. Dalam pasal 11 Paulus membicarakan tentang kekepalaan dan Tubuh, dan dalam pasal 12-14, ia membicarakan tentang karunia-karunia. Tubuh berfungsi melalui karunia-karunia. Jika Tubuh ingin melaksanakan pemerintahan Allah, maka setiap anggota Tubuh harus memiliki satu karunia untuk berfungsi menurut operasi Allah. Allah melaksanakan pengaturan melalui beroperasi, dan operasi Allah hanya dapat dilaksanakan melalui fungsi kita. Selain itu, fungsi kita itu hanya bisa tampil melalui karunia-karunia kita. Bila kita memiliki karunia, maka kita memiliki fungsi. Kemudian dari fungsi ini dihasilkanlah pelayanan. Pelayanan ini adalah bagi operasi Allah, dan operasi ini melaksanakan pemerintahan Allah. Karena itu, pertama-tama kita memiliki kekepalaan, kemudian Tubuh, dan kemudian karunia-karunia untuk pelayanan agar pemerintahan Allah dapat dilaksanakan.
Kebangkitan adalah masalah yang keempat dalam ruang lingkup pemerintahan Allah. Kekepalaan, Tubuh, dan fungsi anggota-anggota oleh karunia-karunia semuanya harus berada dalam kebangkitan. Kita tidak boleh menyangkal fakta tentang kebangkitan ini. Jika tidak ada kebangkitan, tidak mungkin ada karunia-karunia dan tidak mungkin ada kuasa bagi pemerintahan ilahi ini.
Akhirnya, Paulus menanggulangi masalah harta benda. Jika kita berada di bawah kekepalaan, jika kita berada di dalam Tubuh, dan jika kita memiliki karunia untuk berfungsi dalam kebangkitan, sesungguhnya kita akan mengatasi belenggu hal-hal materi. Hal-hal materi akan berada di bawah kaki kita. Uang atau harta benda tidak akan menghalangi atau menggagalkan fungsi kita dalam Tubuh. Sebaliknya, apa yang kita miliki akan dipakai bagi pemerintahan Allah melalui gereja-gereja. Jika situasi kita demikian, Tuhan Allah akan memiliki jalan untuk melaksanakan pemerintahan-Nya.
Sekarang kita memiliki pandangan yang menyeluruh di hadapan kita tentang seluruh Surat 1 Korintus ini. Dengan memiliki pandangan semacam ini kita dapat mengingat apa yang dibicarakan dalam 16 pasal dari Surat Kiriman ini. Pasal 1-4 menanggulangi masalah perpecahan; pasal 5, menanggulangi perbuatan sumbang; pasal 6, menanggulangi menuntut hak-hak dan penyalahgunaan kebebasan dalam makan dan pernikahan; pasal 7, menanggulangi kehidupan pernikahan; pasal 8-10, menanggulangi masalah makan kurban yang dipersembahkan kepada berhala; pasal 11, menanggulangi masalah kekepalaan dan perjamuan malam Tuhan yang berhubungan dengan Tubuh; pasal 12-14, menanggulangi masalah karunia-karunia rohani; pasal 15, menanggulangi masalah kebangkitan; dan pasal 16, membicarakan mengenai mengatasi hal-hal materi.
KRISTUS DAN GEREJA
Kita telah menunjukkan bahwa sebelas masalah yang dibahas dalam 1 Korintus ini terdiri dari dua kategori, dua kelompok. Untuk memecahkan enam masalah dalam kategori pertama, kita memerlukan Kristus sebagai satu-satunya faktor. Untuk memecahkan lima masalah dalam kategori yang kedua, kita memerlukan gereja sebagai unsur untuk menanggulangi perkara-perkara itu. Karena itu, surat ini pertama-tama menekankan tentang Kristus dalam pasal 1-10, dan kemudian menekankan tentang gereja sebagai Tubuh Kristus dalam pasal 11-16. Jadi, apa yang kita lihat dalam 1Korintus adalah Kristus dan gereja. Kristus adalah faktor untuk memecahkan semua masalah dalam alam kehidupan manusia, dan gereja adalah unsur untuk menanggulangi semua masalah dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi. Kita semua perlu melihat Kristus dalam ruang lingkup kehidupan manusia dan gereja dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi.
Orang-orang kudus di Korintus memiliki masalah dalam kedua ruang lingkup ini. Hal ini sama seperti banyak orang Kristen pada hari ini. Mereka memiliki masalah dalam ruang lingkup kehidupan manusia, dan mereka juga memiliki masalah dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi. Karena itu, semua orang beriman, termasuk kita, memerlukan 1Korintus. Kita semua perlu berada di bawah kekepalaan dalam pengaturan pemerintahan Allah. Kita perlu benar terhadap Tubuh Kristus sehingga Allah dapat memiliki sarana untuk mengerjakan pemerintahan-Nya. Kita perlu tahu bagaimana memakai karunia-karunia kita untuk berfungsi dengan tepat dan untuk melayani Tuhan dengan ministri untuk melaksanakan operasi Allah supaya pemerintahan ilahi ini dapat berlangsung di bumi ini. Kita juga perlu mengenal hayat kebangkitan, kuat kuasa kebangkitan, dan prinsip-prinsip kebangkitan supaya kita dapat berfungsi di bawah kekepalaan dan di dalam Tubuh dengan benar, tepat, dan memadai. Kemudian kita akan mengalahkan uang dan hal-hal materi. Ini berarti kita akan mengatasi semua ikatan bumiah. Kemudian kita akan benar-benar memperhidupkan Kristus. Dengan memperhidupkan Kristus, kita akan memiliki satu kehidupan insani yang tepat dan kita akan melaksanakan pemerintahan Allah. Inilah yang didambakan dan diharapkan Tuhan pada hari ini. Inilah beban sesungguhnya yang ada di dalam roh dan hati Paulus ketika ia menulis surat ini. Satu Korintus bukan hanya satu kitab pengajaran. Surat Kiriman ini ditulis menurut beban di dalam roh Paulus mengenai Kristus dalam ruang lingkup kehidupan manusia dan gereja dalam ruang lingkup pemerintahan Allah.