← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 5/23

MAKAN YANG WAJAR

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 10:23-11:1

Dalam 10:23-11:1 kita memiliki kesimpulan dari bagian tentang makan kurban yang dipersembahkan kepada berhala. Dalam ayat-ayat ini Paulus membicarakan tentang makan yang wajar.

Dalam menanggulangi perihal makan, pemikiran Paulus itu sangat dalam. Dengan memakai sejarah bangsa Israel sebagai latar belakangnya, Paulus menulis kepada kaum beriman Korintus secara mendesak. Tulisannya menunjuk kan sesuatu yang mendesak. Juga ada satu petunjuk bahwa ia tidak ada waktu untuk membahas segala sesuatunya dengan terperinci.

MAKAN DAN KENIKMATAN

Kita telah melihat bahwa Paulus menyamakan kenik-matan kita terhadap meja Tuhan dengan kenikmatan orang-orang Israel yang makan kurban dan yang mendapat bagian dalam pelayanan mezbah (ayat 18). Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa makan berhubungan dengan kenikmatan. Jika kenikmatan kita berasal dari sesuatu selain Kristus, maka dalam pandangan Allah kenikmatan itu adalah suatu penyembahan berhala. Kita perlu menyederhanakan dan memurnikan kenikmatan kita, sehingga kita hanya menikmati Tuhan itu sendiri.

Kristus adalah Tuhan dan Dia juga adalah meja. Bila kita mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, kita mengartikannya bahwa Dia adalah segala sesuatu. Sebagai segala sesuatu kita, Dia adalah meja kita. Meja ini dilambangkan oleh tanah permai, yang merupakan suatu meja bagi bangsa Israel. Ketika mereka tinggal di tanah yang permai itu, mereka berpesta di meja itu, dengan menikmati semua hasil yang kaya dari tanah itu. Berbagai aspek hasil tanah itu adalah lambang dari kekayaan Kristus. Lagi pula, Kristus itu sendiri adalah tanah permai bagi kita sebagai meja itu. Jika kita melihat dengan jelas gambaran ini, maka kita akan tahu cara menikmati Tuhan sebagai tanah permai dengan semua kekayaannya.

Kita telah memberikan banyak berita tentang kekayaan Kristus, khususnya serangkaian berita yang dicetak dalam buku Kristus yang Almuhit. Kita juga telah banyak membicarakan kekayaan Kristus dalam Pelajaran pelajaran Hayat Kolose dan Filipi. Saya mendorong orang-orang kudus untuk membaca berita-berita itu dan memegang butir-butir tentang kekayaan Kristus. Maka kekayaan-kekayaan ini akan menjadi bahan makanan untuk kita nikmati.

Dalam 10:23 Paulus berkata, ”’Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi tidak semua berguna. ’Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi tidak semua membangun.” Ayat 14-22 menanggulangi masalah makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala dari aspek membuat seseorang bersatu dengan roh-roh jahat. Dari ayat 23 sampai 11:1 masalah ini ditanggulangi dari aspek membangun orang lain bagi kemuliaan Allah (ayat 31).

Bagian pertama dari ayat 23 ini sejajar dengan 6:12. Kata Yunani untuk ”diperbolehkan” berarti di bawah ke kuasaanku; jadi diperbolehkan, diizinkan, sah. Kata ”berguna” berarti bermanfaat (tidak sekadar mudah), indah, dan baik, berharga. Ayat yang paralel ini, yaitu 6:12, berakhir dengan tidak diperhamba oleh apa pun. Ayat ini berakhir dengan tidak semua membangun. Yang pertama berhubungan dengan diri kita sendiri; yang terakhir berhubungan dengan orang lain. Konsepsi Paulus dalam 6:12 itu bersifat pribadi, sedangkan dalam 10:23 konsepnya bersifat korporat.

EMPAT PRINSIP

Jika kita menjajarkan 6:12 dan 10:23 dan 31, maka kita memiliki empat prinsip mengenai perilaku orang beriman. Pertama, segala sesuatu diperbolehkan bagi orang beriman, tetapi segala sesuatu yang mereka lakukan itu harus berguna. Ini berarti hal-hal itu haruslah menguntungkan, yaitu tidak menyebabkan penderitaan kerugian apa pun. Kedua, orang beriman tidak boleh berada di bawah kekuasaan apa pun. Ketiga, segala sesuatu yang dilakukan orang beriman harus membangun orang lain. Keempat, apa pun yang dilakukan orang beriman, harus mereka lakukan untuk kemuliaan Allah (10:31). Dengan mewaspadai sepenuhnya prinsip-prinsip ini, Paulus selanjutnya berkata dalam 10:24, ”Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”

TANPA MENGADAKAN PEMERIKSAAN KARENA

KEBERATAN-KEBERATAN HATI NURANI

Ayat 25 mengatakan, ”Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa memeriksanya karena keberatan-keberatan hati nurani.” Pada masa rasul, barang-barang (daging) yang dipersembahkan kepada berhala umumnya hanya dibakar sebagian, sisanya diberikan kepada para imam atau orang-orang miskin, atau dijual di pasar. Boleh jadi, tanpa sepengetahuan pembeli, ia membeli daging yang telah dipersembahkan kepada berhala. Jadi, bila seseorang pergi ke pasar untuk membeli daging, ia mungkin membeli daging yang telah dipakai dalam kurban yang dipersembahkan kepada berhala. Mengenai hal ini, Paulus memberi tahu kaum beriman untuk tidak mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Ini berarti mereka tidak seharusnya menanyakan tentang daging itu, melainkan membelinya dan memakannya saja.

Dalam ayat 26 Paulus melanjutkan, ”Karena: ’Bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.’” Segala isinya di sini berarti kekayaan dan ekspresi. Semua kekayaan bumi ini adalah kepenuhannya, ekspresinya.

Dalam ayat 27 Paulus selanjutnya berkata, ”Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.” Pada peristiwa yang demikian ini, kaum beriman tidak seharusnya menyelidiki situasi itu. Tidak perlu bertanya-tanya. ”Tetapi,” Paulus melanjutkan, ”kalau seseorang berkata kepadamu, ’Itu persembahan berhala!’ janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu” (ayat 28-29a). Karena ada seseorang yang menunjukkan bahwa daging itu telah dipersembahkan dalam kurban kepada berhala, maka kaum beriman tidak boleh memakannya karena keberatan-keberatan hati nurani orang yang menunjukkan fakta itu.

Dalam bagian kedua dari ayat 29 dan 30 Paulus bertanya, ”Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang mencela aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?” Kata ”turut” dalam ayat 30 menekankan makan. Hal ini menunjukkan makan adalah turut mengambil bagian (ayat 17). Di sini ”mencela” berarti mengkritik dengan tujuan jahat. Jika seorang beriman dikritik dengan cara ini karena makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, maka ia tidak seharusnya memakan daging itu.

Dalam ayat 31 Paulus menyimpulkan, ”Karena itu, baik kamu makan atau minum, atau pun melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Kata ”karena itu” dalam ayat ini menunjukkan bahwa 10:31-11:1 merupakan kesimpulan dari bagian ini, yang dimulai dengan ayat 23.

Saya ingin mengatakan sekali lagi bahwa 6:12 dan 10:23 dan 31 memberi kita empat prinsip dasar yang mengatur perilaku orang beriman Perjanjian Baru. Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi apa pun yang kita lakukan, (1) terhadap perkara itu sendiri, harus berguna, (2) terhadap diri sendiri, tidak diperhamba oleh apa pun, (3) terhadap orang lain, harus membangun mereka; dan (4) terhadap Allah, harus memuliakan Dia. Kalau tidak, tidak ada yang boleh dilakukan atau diterima. Jika satu perkara tidak lulus ujian dari empat prinsip ini, maka kita tidak seharusnya melakukannya.

JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN

Ayat 32 mengatakan, ”Janganlah kamu menjadi batu sandungan, baik terhadap orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah” (Tl.). Kata ”batu sandungan” di sini memiliki akar kata yang sama dengan batu sandungan dalam 8:9. Ini berbeda dengan kata batu sandungan dalam 8:13.

Dalam ayat 32 Paulus membicarakan tentang orang Yahudi, orang Yunani, dan gereja Allah. Dalam zaman Perjanjian Baru, orang-orang terbagi atas tiga kategori: orang Yahudi umat pilihan Allah; orang Yunani orang kafir yang tidak percaya; gereja susunan kaum beriman dalam Kristus. Kita tidak seharusnya menjadi penghalang, batu sandungan bagi siapa pun dalam ketiga kategori ini, supaya mereka dapat diselamatkan (ayat 33).

MENYENANGKAN HATI

SEMUA ORANG DALAM SEGALA HAL

Dalam ayat 33 Paulus mengumumkan, ”Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka diselamatkan.” Teladan yang sangat baik dari rasul bagi kita!

Mungkin saja kita menerapkan perkataan Paulus dengan tidak tepat tentang menyenangkan semua orang dalam segala hal dan tentang mencari keuntungan orang banyak agar mereka dapat diselamatkan. Beberapa orang yang salah menerapkan ayat ini mengatakan bahwa untuk membawa orang kepada Tuhan, kita harus turun ke level mereka. Itu berarti kita harus kembali ke dunia untuk membawa orang kepada Kristus. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa berbuat begitu tidak manjur. Sebaliknya, orang-orang yang menerapkan perkataan Paulus dengan cara itu akan lebih condong kembali ke dunia daripada membawa orang lain kepada Kristus. Dalam memberitakan Injil, kita tidak boleh merendahkan standar kita. Bukannya turun dari gunung, kita malah harus tetap tinggal di atas gunung dan memanggil orang lain untuk naik ke tempat kita berada. Kita harus sangat berhati-hati, jangan sampai menyalahgunakan ayat ini dan membentuknya menjadi satu prinsip yang bertentangan dengan maksud Paulus.

MENGIKUTI ORANG YANG MENGIKUTI KRISTUS

Dalam 11:1, satu ayat yang sebenarnya adalah kesimpulan pasal 10, Paulus berkata, ”Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus.” Karena Paulus adalah seorang pengikut Kristus, maka adalah benar bagi kaum beriman Korintus dan semua orang lainnya, untuk mengikutinya. Jika seseorang adalah peniru Kristus, kita seharusnya menjadi penirunya. Ini membuat kita juga menjadi peniru Kristus. Kalau tidak, kita tidak seharusnya menjadi peniru siapa pun. Sebenarnya dalam mengikuti seseorang yang adalah peniru Kristus, kita tidak mengikuti orang itu, melainkan mengikuti Kristus.

DIFOKUSKAN PADA VISI INTI

Saya tidak berbeban untuk membicarakan tentang empat prinsip dasar yang mengatur perilaku orang beriman Perjanjian Baru. Bertahun-tahun yang lalu, saya telah menyampaikan berita-berita tentang setiap prinsip ini. Hari ini beban saya adalah agar umat Tuhan dibawa kembali kepada visi inti tentang Kristus dan gereja. Jadi, kita perlu menerapkan ayat-ayat ini dan prinsip-prinsip ini ke atas gereja. Saya tidak akan senang melihat orang-orang kudus menerapkannya sebagai amsal saja bagi keinsaniannya secara umum. Dalam melihat prinsip-prinsip ini dan bagian dari 1Korintus ini, kita perlu difokuskan pada visi inti tentang Kristus dan gereja. Kita semua perlu menaruh perhatian pada visi ini dan lebih banyak berdoa mengenainya.