MENANGGULANGI MASALAH KEBANGKITAN (4)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 15:45-58
Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan definisi kebangkitan dan kemudian melanjutkan untuk melihat kemenangan kebangkitan.
B. Tubuh Rohani
Ayat 45 berkata, “Seperti ada tertulis: ‘Manusia pertama, Adam menjadi makhluk (jiwa) yang hidup’, tetapi Adam yang terakhir menjadi Roh yang menghidupkan (pemberi hayat)”. Melalui ciptaan, Adam menjadi jiwa yang hidup dengan tubuh jiwani. Melalui kebangkitan, Kristus menjadi Roh pemberi hayat dengan tubuh rohani. Adam sebagai jiwa yang hidup, bersifat alamiah; Kristus adalah Roh pemberi hayat, di dalam kebangkitan. Pertama-tama, di dalam inkarnasi, Kristus menjadi daging demi penebusan (Yoh. 1:14, 29); kemudian, di dalam kebangkitan, Dia menjadi Roh pemberi hayat demi menyalurkan hayat (Yoh. 10:10b). Melalui inkarnasi, Dia memiliki tubuh jiwani, sama seperti Adam; melalui kebangkitan, Dia memiliki tubuh rohani. Tubuh jiwani-Nya telah menjadi tubuh rohani melalui kebangkitan. Sekarang Dia adalah Roh pemberi hayat di dalam kebangkitan, dengan tubuh rohani siap diterima oleh orang-orang yang percaya. Begitu kita percaya ke dalam Dia, Dia segera masuk ke dalam roh kita, dan kita bersatu dengan Dia sebagai Roh pemberi hayat. Demikianlah, kita menjadi satu roh dengan Dia (6:17). Roh kita di hidupkan dan dibangkitkan bersama dengan Dia. Akhirnya, tubuh jiwani kita yang sekarang ini akan menjadi tubuh rohani di dalam kebangkitan, sama seperti tubuh-Nya (ayat 52-54; Flp. 3:21).
Ayat 45 menyiratkan ciptaan lama dan ciptaan baru. Adam, manusia pertama, adalah kepala dari ciptaan lama. Ketika Allah menciptakan dia, Adam menjadi jiwa yang hidup. Ini berarti ia menjadi satu persona, satu manusia. Dalam bahasa Ibrani kata “Adam” berarti “manusia”. Karena Allah menciptakan Adam menjadi jiwa yang hidup, maka bagian utamanya adalah jiwa, yang adalah untuk ciptaan lama. Hari ini, dalam prinsipnya, jika kita hidup dalam jiwa kita, oleh jiwa kita, atau untuk jiwa kita, maka kita berada di dalam ciptaan lama. Jiwa adalah inti dan garis hayat dari ciptaan lama. Seseorang mungkin barmoral, tetapi jika ia hidup dalam jiwa, ia masih tetap milik ciptaan lama.
Kristus menjadi Adam yang akhir menyiratkan satu pengakhiran dan penyelesaian atas ciptaan lama. Ciptaan lama berakhir dengan seorang manusia, yaitu Adam yang akhir. Manusia yang mengakhiri ciptaan lama ini menjadi Roh pemberi hayat dalam kebangkitan. Sekarang Roh ini adalah inti dan garis hayat dari ciptaan baru.
Ciptaan lama diciptakan oleh Allah. Namun, ciptaan baru, muncul bukan melalui penciptaan, melainkan melalui kebangkitan. Karena itu, ayat 45 menyiratkan dua ciptaan: ciptaan lama dengan manusia sebagai jiwa yang hidup menjadi inti dan garis hayatnya, dan ciptaan baru dalam kebangkitan dengan Roh pemberi hayat sebagai inti dan garis hayatnya.
Hari ini banyak orang Kristen yang kekurangan wahyu, kekurangan visi rohani yang tepat, dan menentang kita bila kita mengatakan bahwa Kristus sebagai Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat. Tetapi menyangkal Kristus sebagai Roh pemberi hayat itu sama dengan menyangkal realitas kebangkitan. Roh pemberi hayat adalah urat nadi kebangkitan Kristus. Jika Kristus hanya dibangkitkan dengan satu tubuh saja dan tidak menjadi Roh pemberi hayat, maka kebangkitan-Nya tidak akan memiliki banyak arti terhadap kita. Ini hanya akan menjadi satu fakta obyektif yang tidak berhubungan dengan hayat. Mungkin hanya dapat dibandingkan dengan kebangkitan Lazarus. Kebangkitan Lazarus hanyalah satu tindakan kebangkitan; tetapi tidak menghasilkan dan mendatangkan sesuatu yang berhubungan dengan hayat. Kebangkitan Kristus mutlak merupakan perkara yang berhubungan dengan hayat, karena dalam kebangkitan ini Dia menjadi Roh pemberi hayat.
Kebanyakan orang Kristen percaya kepada kebangkitan hanya secara obyektif. Bagi mereka kebangkitan Kristus tidak lain adalah satu tindakan obyektif, satu tindakan yang tidak berhubungan dengan anggota-anggota Tubuh Kristus. Orang-orang yang memiliki pemahaman tentang kebangkitan Kristus juga memandang kenaikan-Nya secara obyektif. Mereka tidak sadar bahwa kenaikan itu memiliki hubungan dengan kita secara subyektif. Dari sudut pandang beberapa orang Kristen, kebangkitan dan kenaikan Kristus tidak berhubungan apa-apa dengan kita dilihat dari segi hayat. Sebaliknya, keduanya adalah fakta obyektif yang digenapkan oleh Kristus. Mereka berpegang kepada fakta-fakta ini sebagai bagian dari kepercayaan fundamental mereka.
Kebangkitan bukan hanya satu tindakan obyektif yang digenapkan oleh Kristus, kebangkitan lebih-lebih berhubungan sangat erat dengan kita secara subyektif. Melalui inkarnasi, Kristus menjadi seorang manusia; Dia menjadi kita. Karena itu, inkarnasi itu melebihi sekadar fakta yang obyektif. Inkarnasi adalah satu proses yang membawa Allah ke dalam keinsanian. Sama prinsipnya dengan proses kebangkitan. Kebangkitan bukan hanya satu tindakan; melainkan satu proses yang menghasilkan Roh pemberi hayat. Melalui proses kebangkitan ini, Manusia yang mengakhiri ciptaan lama itu menjadi Roh pemberi hayat, unsur yang menunaskan ciptaan baru.
Sangat sedikit orang Kristen yang telah melihat bahwa Kristus dalam kebangkitan adalah Roh pemberi hayat. Namun, Andrew Murray memahami sesuatu mengenai hal ini. Ia menuliskan hal ini dalam karyanya yang cukup terkenal, “The Spirit of Christ” (Roh Kristus), dalam bab yang berjudul, “The Spirit of the Glorified Jesus” (Roh Yesus yang Di muliakan). Roh Yesus yang dimuliakan ini sebenarnya adalah Tuhan Yesus sendiri dalam kebangkitan dan kemuliaan. Ketika Dia masuk ke dalam kebangkitan, Dia menjadi Roh yang memberi hayat. Roh pemberi hayat ini adalah esens yang menunaskan ciptaan baru. Unsur yang menunaskan ciptaan baru ini adalah Kristus yang bangkit sebagai Roh pemberi hayat.
Teologi Kristen yang tradisional menentang kebenaran bahwa Kristus telah menjadi Roh pemberi hayat. Dalam opini kebanyakan orang, berkata demikian adalah bidah. Sebenarnya, ini adalah kebenaran yang terdapat dalam lubuk dari Firman Allah. Pada akhirnya, kebenaran ini akan menang.
Satu Korintus 15:45 adalah satu ayat yang besar. Sekali lagi, ayat ini menyiratkan ciptaan lama dengan jiwa sebagai intinya dan ciptaan baru dengan Roh itu sebagai intinya. Roh ini tidak lain Kristus, Allah Tritunggal. Sebenarnya, Roh pemberi hayat ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Allah telah melalui proses inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Sekarang dalam kebangkitan, Dia adalah esens hayat untuk menunaskan ciptaan baru. Kita telah menjadi ciptaan baru yang ditunaskan oleh Allah Tritunggal sebagai Roh pemberi hayat. Dalam buku yang berjudul Ekonomi Allah, kita menekankan tentang roh manusia dan Kristus yang menjadi Roh pemberi hayat. Definisi yang tertinggi dari kebangkitan adalah bahwa kebangkitan adalah proses yang olehnya Kristus, Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi hayat.
Pada tahun 1964, ketika kita sedang mengerjakan kidung kita, ada seorang saudara yang menganjuri kita agar tidak menerbitkan kidung-kidung tentang Kristus sebagai Roh itu. Ia mengakui bahwa Alkitab mewahyukan bahwa Kristus adalah Roh itu. Namun, ia mengatakan, karena kebanyakan orang Kristen tidak menerima pengajaran ini, maka kita tidak boleh memasukkan kidung-kidung tentang perkara ini di dalam kidung kita. Saya memberi tahu dia bahwa saya tidak akan pernah memaksa seorang pun untuk mengikuti pengajaran saya, tetapi saya sungguh memerlukan kebebasan untuk mengajarkan kebenaran dari Alkitab. Selanjutnya saya menunjukkan bahwa sasaran kita pertama-tama adalah menyelamatkan orang-orang dosa melalui pemberitaan Injil; kedua, membina orang-orang kudus dan membangun mereka dengan pengajaran yang tepat supaya mereka dapat bertumbuh dalam hayat; ketiga, mengambil dasar gereja yang unik untuk mendirikan gereja-gereja lokal; dan keempat, memiliki persekutuan dari semua gereja sebagai satu Tubuh. Saya mengatakan bahwa selama pekerjaan kita memiliki empat aspek ini, kita memiliki tujuan yang sama dan sasaran yang sama. Saya juga memberi tahu dia bahwa saya memiliki satu beban yang berat mengenai perkara Kristus sebagai Roh itu dan bahwa saya tidak punya pilihan lain selain meministrikannya menurut beban ini. Saya memberi tahu dia bahwa saya harus mengumumkan bahwa hari ini Kristus adalah Roh pemberi hayat. Bukanlah urusan saya, apakah orang lain mau menerima pengajaran ini atau menolaknya. Pada zaman Martin Luther, tidak setiap orang menerima kebenaran tentang dibenarkan oleh iman. Jika Luther ragu-ragu tentang hal ini, bagaimana mungkin ada satu Reformasi? Saya dengan tegas memberi tahu dia bahwa saya tidak takut terhadap penentangan.
Saya tidak ingin seorang pun mengikuti saya dengan buta. Paulus berkata, “Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus” (11:1). Jika saya mengikuti Kristus, jika saya mengikuti Alkitab, jika saya mengikuti kebenaran, maka Anda harus mengikuti saya. Demikian juga, jika Anda mengikuti Kristus, Alkitab, dan kebenaran, maka saya harus mengikuti Anda. Dalam hal ini, kita harus mengikuti satu sama lain. Inilah yang berusaha kita lakukan dalam pemulihan Tuhan.
Beberapa orang yang menentang pernyataan bahwa hari ini Kristus adalah Roh pemberi hayat berusaha mempersoalkan fakta bahwa 15:45 tidak memakai kata sandang tentu, bahwa ayat ini mengatakan tentang Roh pemberi hayat bukan mengatakan Roh pemberi hayat itu. Namun, perkara yang penting di sini bukanlah apakah kata sandang tentu atau tidak tentu; melainkan adalah sebutan yang jelas tentang Roh pemberi hayat. Apakah penentang-penentang kita percaya bahwa ada dua Roh yang memberi hayat, Roh Kudus dan Roh pemberi hayat? Adalah bidah bila kita mengajarkan bahwa ada dua Roh pemberi hayat, dua Roh yang memberi hayat. Semakin saya membicarakan tentang Kristus menjadi Roh pemberi hayat, saya semakin berani, yakin, dan terdorong. Ini benar-benar sesuai dengan wahyu ilahi bahwa Kristus, Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi hayat.
Mengatakan Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat sama dengan mengatakan, menurut Yohanes 1:14, Firman itu menjadi daging. Perhatikan, di depan kata daging tidak ada kata sandang. Berbedakah bila ayat ini mengatakan ”Firman itu menjadi daging itu?” Daging atau daging itu, sama artinya. Dengan prinsip yang sama, tidak adanya kata sandang tentu dalam 15:45 tidaklah penting. Sekali lagi, yang penting adalah Roh pemberi hayat.
Orang-orang Kristen mungkin mengakui bahwa perkara-perkara tertentu terdapat dalam Firman itu, tetapi, karena takut terhadap manusia, mereka tidak memiliki keberanian untuk berdiri bagi kebenaran itu. Karena pengaruh tradisi, mereka tidak mau berdiri sepenuhnya bagi kebenaran itu. Orang-orang tertentu yang menentang kita mengakui bahwa Putra disebut Bapa dalam Yesaya 9:5, tetapi karena tradisi, mereka tidak mau mengatakan hal ini. Orang lain boleh mengikuti tradisi, tetapi kita hanya memperhatikan Alkitab, Firman Allah yang murni.
Dalam ayat 46 Paulus berkata, ”Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah (jiwani); kemudian barulah datang yang rohaniah.” Yang rohaniah di sini mengacu kepada Kristus, Manusia kedua; yang alamiah atau jiwani mengacu kepada Adam, manusia pertama (ayat 47). Menurut pemahaman manusia, tradisi, dan prakteknya, kita harus mengikuti manusia yang pertama, bukan manusia yang kedua. Inilah sebabnya Paulus dengan penuh pertimbangan mengatakan dalam ayat ini bahwa yang jiwani adalah yang pertama bukan yang rohaniah. Yang rohaniah adalah yang kedua. Jika kita mengambil jalan Alkitab, maka kita harus mengikuti yang kedua, bukan yang pertama. Misalnya, Anda seharusnya mengikuti Kain atau Habel? Kita benar-benar tidak boleh mengikuti Kain, yang pertama; kita harus mengikuti Habel, yang kedua. Selain itu, pada waktu Paskah, yang disembelih adalah yang sulung. Ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah adalah terhadap yang sulung. Prinsip yang sama berlaku bagi ciptaan pertama dan ciptaan kedua. Allah tidak menghendaki yang pertama; Dia menghendaki yang kedua.
Dalam ayat 47 Paulus melanjutkan, ”Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat alamiah, manusia kedua berasal dari surga.” Berasal dari debu tanah mengacu kepada asal usul manusia pertama, Adam. Milik tanah itulah sifat hakikinya. Kristus bukan hanya Adam yang akhir, tetapi juga manusia yang kedua. Adam yang pertama adalah permulaan dari umat manusia; Adam yang akhir adalah akhir umat manusia. Sebagai manusia yang pertama, Adam adalah kepala ciptaan lama, mewakili ciptaan lama dalam penciptaan. Sebagai manusia kedua, Kristus adalah Kepala ciptaan baru, mewakili ciptaan baru dalam kebangkitan. Dalam seluruh alam semesta hanya ada dua manusia: manusia pertama, Adam, meliputi semua keturunannya; manusia kedua, Kristus, meliputi semua orang beriman-Nya. Kita kaum beriman termasuk di dalam manusia yang pertama karena kelahiran, dan menjadi bagian dari manusia kedua melalui kelahiran kembali. Iman kita telah memindahkan kita dari manusia pertama ke dalam manusia kedua. Dikatakan dari segi kita berbagian dengan manusia yang pertama, asal usul kita adalah tanah dan sifat hakiki kita adalah debu tanah. Dikatakan dari segi kita berbagian dengan manusia yang kedua, asal usul kita adalah Allah dan sifat hakiki kita adalah surgawi. Berasal dari surga mengacu kepada asal usul ilahi dan sifat hakiki surgawi dari manusia kedua, Kristus.
Ayat 48 mengatakan, ”Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk surgawi sama dengan Dia yang berasal dari
surga.” Alamiah mengacu kepada manusia pertama Adam, yang berasal dari debu tanah. ”Makhluk-makhluk yang alamiah” mengacu kepada semua keturunan Adam, yang sama seperti Adam, milik tanah. ”Yang surgawi” mengacu kepada manusia kedua, Kristus, yang berasal dari surga. Demikian juga ”makhluk-makhluk surgawi” mengacu kepada semua orang beriman dalam Kristus, yang berasal dari surga, seperti Kristus. Dulu kita bersifat bumiah, milik tanah; sekarang kita bersifat surgawi.
Dalam ayat 49 Paulus mengumumkan, ”Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang surgawi.” Sebagai bagian dari Adam, kita telah memakai rupa dari manusia yang milik tanah; sebagai bagian dari Kristus, kita akan memakai rupa dari manusia yang surgawi dalam kebangkitan. Ini menunjukkan bahwa sama seperti di dalam Adam kita telah dilahirkan sebagai manusia yang milik tanah, demikian juga di dalam Kristus kita pasti dibangkitkan sebagai manusia surgawi. Kebangkitan yang sedemikian adalah nasib kita. Ini sama pastinya dengan kelahiran kita, kita tidak seharusnya ragu-ragu sedikit pun.
Hari ini kita mengemban dua gambar: gambar yang milik tanah dan gambar yang surgawi. Kita dapat meng-ambil ulat bulu sebagai satu ilustrasi dari keadaan kita yang berada di dalam proses menjadi kupu-kupu yang cantik. Kadang-kadang ulat bulu yang ada di dalam kita ini dapat dilihat; pada waktu-waktu lainnya kupu-kupu yang agak kelihatan. Akhirnya, melalui kebangkitan, kita akan keluar sepenuhnya dari kepompong menjadi kupu-kupu. Kita tidak akan buruk lagi seperti ulat bulu kita akan menjadi kupu-kupu yang cantik yang mengemban gambar Kristus. Menurut Filipi 3:21, tubuh kita yang hina ini akan ditransfigurasi menjadi tubuh kemuliaan dan menjadi sama dengan tubuh Kristus. Ini akan terjadi oleh kebangkitan dan di dalam kebangkitan.
VI. KEMENANGAN KEBANGKITAN
A. Ketidakbinasaan Mengalahkan Kebinasaan
Dalam bagian yang terakhir dari pasal 15 ini, yaitu ayat 50-58, kita memiliki kemenangan kebangkitan. Dalam ayat 50 Paulus berkata, ”Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mewarisi Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mewarisi apa yang tidak binasa.” Daging dan darah adalah unsur penyusun tubuh jiwani. Tubuh ini dapat binasa dan tidak bersyarat mewarisi Kerajaan Allah yang tidak dapat binasa. Kebinasaan tidak dapat mewarisi ketidakbinasaan. Tubuh kita yang dapat binasa harus dibangkitkan ke dalam tubuh yang tidak dapat binasa, supaya kita dapat mewarisi Kerajaan Allah yang tidak dapat binasa di dalam kebangkitan. Bahkan hari ini, jika kita hidup oleh daging dan darah dan bukan oleh roh, kita tidak dapat mempraktekkan kehidupan gereja yang adalah Kera-jaan Allah pada hari ini. Kemudian di dalam Kerajaan Seribu Tahun, kita tidak akan dapat mewarisi Kerajaan Allah. Karena hal ini, kita perlu menjadi rohani.
Dalam ayat 50 Paulus mengatakan bahwa kebinasaan tidak dapat mewarisi ketidakbinasaan. Ciptaan lama itu bukan hanya bobrok; tetapi juga binasa. Namun, Kerajaan Allah tidak binasa. Kebinasaan tidak dapat mewarisi ketidakbinasaan.
Ayat 51 mengatakan, ”Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah.” Rahasia di sini mengacu kepada transfigurasi, meliputi kebangkitan, dari tubuh yang dapat binasa ke dalam tubuh yang tidak dapat binasa (Flp. 3:21). Ini adalah suatu rahasia bagi pengertian manusia.
Kata ”mati” dalam ayat 51 dalam bahasa aslinya adalah ”tidur” (1Kor. 11:30; Yoh. 11:11-13; 1 Tes. 4:13-16). Kata ”diubah” berarti ditransfigurasikan dari kebinasaan, kehinaan, dan kelemahan kepada ketidakbinasaan, kemuliaan, dan kekuatan (ayat 42-43). Tubuh kita yang hina akan diubah menjadi serupa dengan tubuh Kristus yang mulia (Flp. 3:21).
Ayat 52 mengatakan, ”Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.” Nafiri yang terakhir adalah nafiri yang ketujuh (Why. 11:15), yaitu nafiri Allah (1Tes. 4:16). Ini berarti nafiri yang terakhir di sini sama dengan sangkakala yang ketujuh dalam Kitab Wahyu. Sesungguhnya setelah sangkakala yang ke tujuh dalam Kitab Wahyu tidak akan ada lagi sangkakala. Karena itu, adalah benar bila mengatakan bahwa sangkakala yang ketujuh dalam Kitab Wahyu adalah nafiri yang terakhir dalam ayat 52 ini.
Pada sangkakala yang terakhir, orang-orang yang mati dalam Kristus, yaitu kaum beriman yang telah mati, akan dibangkitkan dalam ketidakbinasaan (1Tes. 4:16). Kita kaum beriman yang masih hidup pada waktu kembalinya Tuhan akan diubah. Orang-orang kudus yang telah mati akan dibangkitkan terlebih dahulu; kemudian mereka yang masih hidup akan diubah, ditransfigurasikan dalam keterangkatan (1Tes. 4:15-17). Dalam ayat 53 Paulus melanjutkan, ”Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” Frase ”yang dapat binasa ini” dan frase ”yang dapat mati ini” mengacu kepada tubuh kita yang dapat binasa dan dapat mati, yang harus mengenakan ketidakbinasaan dan ketidakfanaan, baik dengan cara dibangkitkan dari antara orang mati atau dengan cara ditransfigurasi ketika masih hidup. Kemudian tubuh yang fana ini akan mengenakan yang tidak fana. Ini adalah rahasia dan tidak dapat dimengerti bagi penglihatan alamiah. Tidak peduli betapa sehat atau kuatnya kita pada hari ini, tubuh kita ini dapat binasa dan fana. Tetapi dalam kebangkitan, tubuh ini akan mengenakan sesuatu yang dikatakan Alkitab sebagai yang tidak binasa dan tidak fana.
B. Hayat Mengalahkan Maut
Dalam ayat 54 Paulus selanjutnya berkata, ”Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ’Maut telah ditelan dalam kemenangan.’” Kata ”sesudah” mengacu kepada waktu ketika tubuh kita yang dapat binasa dan yang fana dibangkitkan atau ditransfigurasikan dari kebinasaan dan kematian ke dalam kemuliaan dan hayat.
Kematian (maut) akan ditelan dalam kemenangan. Inilah perampungan dari kebangkitan yang kita nikmati bersama dalam ekonomi Allah melalui penebusan dan penyelamatan dalam Kristus. Kebangkitan ini dimulai dari dihidupkan-Nya roh kita yang telah mati dan rampung pada transfigurasi tubuh kita yang dapat binasa. Di antara kedua ujung ini adalah proses yang di dalamnya jiwa kita yang jatuh diubah secara metabolis oleh Roh pemberi hayat, yang adalah realitas kebangkitan (2Kor. 3:18).
Maut adalah suatu kekalahan bagi manusia. Melalui keselamatan Kristus dalam hayat kebangkitan, maut akan ditelan dalam kemenangan bagi kita yang menerima hayat kebangkitan Kristus. Dalam ayat ini kemenangan adalah suatu sinonim dari kebangkitan. Kebangkitan adalah kemenangan hayat atas maut.
Dalam ayat 55 Paulus bertanya, ”Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Ini adalah seruan kemenangan rasul tentang kemenangan hayat kebangkitan atas maut.
Ayat 56 mengatakan, ”Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.” Maut adalah milik Iblis (Ibr. 12:4), dengan dosa maut menyengat kita sampai mati (Rm. 5:12). Di dalam penebusan Allah, Kristus dijadikan dosa karena kita (2Kor. 5:21) supaya Allah dapat menghakimi dosa melalui kematian Kristus (Rm. 8:3), dengan demikian menyingkirkan sengat maut. Kemudian melalui kebangkitan Kristus, maut ditelan oleh hayat kebangkitan.
Melalui hukum Taurat, dosa membawa kutuk dan penghakiman kepada kita, baik di dalam hati nurani kita maupun di hadapan Allah (Rm. 4:15; 5:13, 20; 7:7-8).
Karena itu, hukum Taurat menjadi kuasa dosa untuk membunuh kita (Rm. 7:10-11). Karena kematian Kristus telah menggenapkan tuntutan hukum Taurat atas diri kita (1Ptr. 3:18; 2:24), maka kuasa dosa telah ditiadakan. Demikianlah kematian Kristus telah menghakimi dosa dan meniadakan hukum Taurat, dan kebangkitan-Nya juga telah menelan maut. Karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah yang membuat kita menang atas dosa dan maut oleh kematian dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus (ayat 57).
Dalam ayat 57 Paulus berseru, ”Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kemenangan atas dosa dan maut oleh kematian dan kebangkitan Kristus seharusnya bukan hanya suatu fakta yang telah rampung untuk kita terima, juga harus menjadi pengalaman kita sehari-hari di dalam hayat melalui Kristus yang bangkit sebagai Roh pemberi hayat (ayat 45) yang bersatu dengan roh kita (6:17). Karena itu, kita seharusnya hidup dan berjalan menurut roh perbauran ini. Demikian kita bisa senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Kuat kuasa kebangkitanlah yang akan memerdekakan kita dari hukum dosa, dan kuasa dosa. Dan pada masa yang akan datang kebangkitan inilah yang akan menelan maut.
C. Motivasi bagi Pekerjaan Tuhan
Dalam ayat 58 Paulus menyimpulkan, ”Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab
kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Meragukan kebenaran kebangkitan berarti menjadi goyah. Yakin dan tinggal dalam realitas kebangkitan berarti berdiri teguh, tidak goyah.
Tidak percaya kepada kebenaran kebangkitan membuat kita kecewa akan masa depan, sehingga kita putus asa dalam pekerjaan Tuhan. Iman membuat kita memiliki kedambaan yang kuat untuk berlimpah ruah dalam pekerjaan Tuhan dengan harapan menyenangkan Tuhan di dalam kebangkitan, pada saat kedatangan-Nya kembali.
Paulus mengatakan bahwa jerih payah kita dalam Tuhan tidak akan sia-sia. Ini bukan berdasarkan hayat dan kemampuan alamiah kita, tetapi berdasarkan hayat dan kuat kuasa kebangkitan Tuhan. Jerih payah kita bagi Tuhan di dalam hayat kebangkitan dengan kuat kuasa kebangkitan-Nya, tidak akan sia-sia, justru akan menghasilkan perampungan ketetapan kehendak kekal Allah melalui pemberitaan tentang Kristus kepada orang-orang dosa, penyuplaian hayat kepada orang-orang kudus, dan pembangunan gereja dengan pengalaman-pengalaman akan Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai emas, perak, dan batu permata (3:12). Jerih payah ini akan diberi pahala oleh Tuhan yang datang kembali pada hari kebangkitan orang-orang benar (3:14; Mat. 25:21, 23).
Tidak lama setelah saya diselamatkan, saudari saya, yang sedang belajar di sebuah seminari, menulis sepucuk surat kepada saya yang di dalamnya ia memakai 15:58 untuk mendorong saya bekerja bagi Tuhan. Pada waktu itu saya tidak menyadari bahwa ayat ini membicarakan tentang sesuatu yang berada dalam kebangkitan dan sangat erat hubungannya dengan kebangkitan. Jika kita berada di dalam kebangkitan, maka ayat ini berlaku bagi kita. Tetapi jika kita tidak berada di dalam kebangkitan, kita mungkin memiliki pemikiran yang salah bahwa ayat ini mendorong kita untuk bergumul dan menjadi kuat. Dari tahun ke tahun, orang-orang Kristen telah mengutip ayat ini. Namun, saya tidak percaya bahwa ada banyak orang yang menyadari bahwa ayat ini berhubungan dengan kebangkitan. Ini ditunjukkan oleh kata ”itu” pada permulaan ayat ini, satu kata yang menunjukkan semua yang telah dikatakan Paulus dalam pasal ini. Berdasarkan apa yang ia tulis di sini, Paulus mendorong saudara-saudara yang terkasih untuk berdiri teguh, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan. Menurut hayat alamiah, mereka mungkin dapat digoyahkan oleh satu hal yang kecil. Lalu, bagaimana mereka dapat berdiri teguh? Kita dapat berdiri teguh hanya oleh hayat kebangkitan yang ada di dalam kita. Kebangkitan membuat kita menjadi teguh, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan. Selain itu, kebangkitan ini dapat membuat kita tahu bahwa jerih payah kita dalam Tuhan tidak sia-sia. Tanpa kebangkitan, apa saja yang kita lakukan akan sia-sia. Tetapi dalam kebangkitan, jerih payah kita dalam Tuhan tidak sia-sia. Karena itu, kebangkitan bukan hanya suatu dorongan, lebih-lebih memotivasi kita bagi pekerjaan Tuhan.