MENANGGULANGI PENGUMPULAN UANG PEMBERIAN DAN PENUTUP
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 16:1-24
Dalam berita ini kita akan membahas 16:1-24, pasal yang terakhir dari 1Korintus. Dalam ayat 1-9 Paulus menanggulangi pengumpulan uang pemberian. Ayat 10-24 adalah penutup dari Surat Kiriman ini.
I. MENANGGULANGI
PENGUMPULAN UANG PEMBERIAN
A. Petunjuk Rasul
Dalam ayat 1 Paulus berkata, ”Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu melakukannya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada jemaat-jemaat di Galatia.” Ini adalah masalah kesebelas yang ditanggulangi oleh rasul dalam surat ini, yaitu yang berhubungan dengan uang, mamon, dan harta benda. Semua umat manusia yang jatuh berada di bawah penguasaan mamon dan harta benda (Mat. 6:19-21, 24-25, 30; 19:21-22; Luk. 12:13-19). Pada hari Pentakosta, di bawah kuasa Roh Kudus, semua orang beriman mendongkel penguasaan oleh uang ini, mempraktekkan segala milik mereka adalah milik bersama, kemudian membagi-bagikan kepada orang-orang sesuai dengan kebutuhan mereka (Kis. 2:44-45; 4:32, 34-37). Tetapi karena kelemahan sifat hakiki yang jatuh dari orang-orang beriman (cf. Kis. 5:1-11; 6:1), praktek itu tidak berlangsung lama, dan telah berlalu pada masa rasul Paulus. Karena itu, kaum beriman perlu kasih karunia untuk mengalahkan kuasa mamon dan benda-benda materi, melepaskan benda-benda materi ini dari penguasaan Iblis untuk dipersembahkan kepada Tuhan bagi perampungan ketetapan kehendak-Nya. Hayat kebangkitan adalah suplaian serba lengkap bagi kaum beriman untuk menempuh kehidupan yang sedemikian, kehidupan yang bersandar kepada Allah dan bukan kepada harta benda, kehidupan yang bukan untuk hari ini tetapi untuk kelak, bukan untuk zaman ini tetapi untuk zaman yang akan datang (Luk. 12:16-21; 1Tim. 6:17-19), kehidupan yang mendongkel penjajahan harta kekayaan yang sementara dan tidak menentu. Boleh jadi inilah sebabnya penanggulangan terhadap masalah ini dibentangkan setelah membahas tentang realitas hayat kebangkitan. Bagaimanapun, penanggulangan ini berhubungan dengan pemerintahan Allah di antara gereja-gereja.
Adalah satu hal yang penting bahwa penanggulangan ini mengikuti satu pasal mengenai realitas hayat kebangkitan. Kebangkitan bukan hanya kuasa yang menang atas dosa dan maut; kebangkitan juga adalah satu kuasa yang menang atas mamon dan harta benda. Karena itu, segera setelah pasal tentang kebangkitan ini, Paulus beralih kepada perkara harta benda.
Dari ayat 1 kita melihat bahwa Paulus memberikan petunjuk yang sama kepada gereja di Korintus seperti yang ia lakukan kepada gereja-gereja di Galatia. Ini dengan kuat menunjukkan bahwa semua gereja lokal seharusnya sama dalam praktek mereka (7:17; 11:16; 14:33).
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan, ”Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing sesuai dengan apa yang kamu peroleh menyisihkan sesuatu dan menyimpannya, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan pada saat aku datang.” Hari ketujuh dari tiap-tiap minggu, hari Sabat, merupakan peringatan atas penciptaan Allah (Kej. 2:1-3; Kel. 20:8, 11). Hari pertama dari tiap minggu adalah lambang kebangkitan Tuhan, adalah hari Tuhan bangkit dari antara orang mati (Yoh. 20:1 dan cat. 1) dan disebut ”Hari Tuhan” (Why. 1:10). Orang-orang kudus Perjanjian Baru berhimpun bersama dan mempersembahkan harta pada hari ini (Kis. 20:7), hari kebangkitan Tuhan. Ini melambangkan bahwa mereka telah dibangkitkan bersama-sama dengan Tuhan (Ef. 2:6) oleh kebangkitan-Nya (1Ptr. 1:3) dan bahwa mereka berhimpun bersama di dalam kebangkitan untuk memperingati Tuhan dan menyembah Allah dengan persembahan-persembahan mereka, berdasarkan hayat kebangkitan, bukan berdasarkan hayat alamiah mereka.
Pemberian kita harus berada di dalam hayat kebangkitan, bukan di dalam hayat alamiah kita. Namun, hari ini banyak pemberian orang-orang Kristen dilakukan menurut hayat alamiah. Mereka memberikan (menyumbang) berdasarkan hayat alamiah, cara demikian mutlak berada di dalam ciptaan lama. Lagi pula, orang-orang yang memberikan uang dalam jumlah besar sering kali dikenal secara umum, sedangkan orang-orang yang memberikan dalam jumlah kecil diabaikan. Pemberian kita harus mutlak berbeda dengan cara itu. Persembahan-persembahan kita harus dipersembahkan dalam kebangkitan dan oleh kebangkitan.
Dalam ayat 3 Paulus berkata, ”Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, di-sertai dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu.” Kata ”pemberian” dalam bahasa aslinya adalah ”kasih karunia”. Ini adalah persekutuan gereja-gereja di tanah kafir dengan gereja di Yerusalem di bawah petunjuk rasul (2Kor. 8:1-2; Rm. 15:25-27).
Kita telah berulang-ulang menunjukkan bahwa dalam bagian kedua dari 1Korintus ini, pasal 11-16, Paulus menanggulangi perkara dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi. Bagian ini dimulai dengan kekepalaan Allah dan diakhiri dengan satu perkara yang kelihatannya tidak penting pemberian harta benda bagi orang-orang kudus. Apakah kita benar-benar berada di dalam pemerintahan Allah, bagi pemerintahan Allah, dan melaksanakan pemerintahan Allah, dapat diuji dengan cara kita berhubungan dengan hal-hal materi dan bagaimana kita menangani uang kita. Jika kita memakai uang kita secara duniawi, tidak peduli apa yang kita katakan mengenai kebangkitan, kita tidak benar-benar berada di dalam pemerintahan Allah. Sampai tingkatan manakah kita di dalam pemerintahan ilahi dan bagi pemerintahan ilahi ini ditentukan oleh bagaimana kita mengurus uang dan harta benda.
Dari tahun ke tahun, kita yang berada di dalam pemulihan Tuhan telah mendengar Firman-Nya dan telah dibangun dalam kekayaan Kristus. Kita benar-benar telah dirawat oleh Firman ilahi. Sekarang, jika kita semua mau dengan setia hidup bagi pemerintahan Allah dalam mengurus uang dan perkara-perkara materi, maka tidak akan ada kekurangan keuangan di dalam pemulihan ini. Misalnya, tentunya kita dapat melatih roh kita dan tekad kita untuk mengumpulkan sedikit uang setiap minggunya, mungkin hanya dua dolar lima puluh sen, dan memberikan uang ini kepada Tuhan bagi pergerakan-Nya di bumi. Dalam satu minggu, kita boleh tidak makan siang satu kali di rumah makan, dan hanya makan makanan sederhana yang disiapkan dari rumah. Kemudian uang yang dikumpulkan itu dapat diberikan kepada Tuhan. Bayangkan, apa yang akan terjadi jika kita semua setia melakukan seperti ini minggu demi minggu!
Dalam kitab yang demikian rohani yang menanggulangi perkara-perkara yang rohani dan surgawi, pada penutupnya Paulus beralih kepada perkara keuangan yang sangat riil. Mudah sekali untuk membicarakan tentang kekepalaan dan berkata, ”Puji Tuhan, aku berada di bawah kekepalaan Kristus! Kristus adalah Kepalaku. Terhadap kekepalaan-Nya, aku tidak ada masalah.” Tetapi dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda tidak ada masalah dengan perkara yang dikemukakan dalam pasal 16 ini? Kita dapat berbicara tentang kemenangan kebangkitan atas dosa dan maut, tetapi bagaimana tentang kemenangan kebangkitan atas pemakaian Anda terhadap uang dan harta benda? Pembicaraan kita mudah menjadi abstrak dan tidak riil mengenai kekepalaan, membedakan Tubuh, karunia, dan kebangkitan. Karena alasan ini, Paulus dalam hikmat Allah, menanggulangi perkara pemberian ini segera setelah perkara kebangkitan. Jika kita benar-benar hidup dalam kebangkitan, kita tidak akan ada masalah dengan uang atau hal-hal materi.
Dalam ayat 2 ini Paulus dengan istimewa menyinggung, ”Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu.” Kita telah melihat bahwa hari ini, adalah hari Tuhan, adalah lambang dari kebangkitan Kristus. Kita bukanlah orang-orang yang hidup dan berperilaku pada hari yang ketujuh dari tiap minggu, karena hari itu adalah hari peringatan ciptaan lama. Kita harus hidup dalam kebangkitan pada hari pertama tiap minggu. Ini berarti kita tidak boleh menjadi umat hari ketujuh; kita harus menjadi umat hari pertama. Jika kita hidup dalam kebangkitan, pada hari pertama dari tiap minggu, pemulihan Tuhan tidak akan ada masalah mengenai keperluan keuangan.
B. Keinginan Rasul
Dalam 16:4-9 kita melihat keinginan rasul. Ayat 4 mengatakan, ”Kalau ternyata penting bahwa aku juga pergi, maka mereka akan pergi bersama-sama dengan aku.” Dalam ayat 6 ia selanjutnya berkata, ”Di Korintus mungkin aku akan tinggal beberapa lama dengan kamu atau mungkin aku akan tinggal selama musim dingin, sehingga kamu dapat menolong aku untuk melanjutkan perjalananku.” Dalam ayat 8 Paulus memberi tahu bahwa ia akan tetap tinggal di Efesus sampai Pentakosta. Surat ini ditulis di Efesus, ketika rasul tinggal selama tiga tahun di sana perjalanan ministrinya kali ketiga (Kis. 19:21-22; 20:1, 31).
II. PENUTUP
A. Petunjuk-petunjuk yang Intim
Ayat 10 mengatakan, ”Timotius datang, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa merasa takut, sebab ia mengerjakan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku.” Agar Timotius dapat bersama-sama dengan orang-orang Korintus tanpa takut, mereka harus taat dan tunduk kepada perkataan Paulus. Dalam ayat ini Paulus seolah-olah berkata, ”Kalian harus berada dalam hari pertama dalam satu minggu, hidup dalam kebangkitan. Kalian juga harus berada di bawah kekepalaan Kristus dan Allah, kalian harus membedakan Tubuh, mendambakan karunia yang lebih besar, dan mempraktekkan karunia-karunia dalam kasih, dan berada dalam kebangkitan. Jika situasi kalian demikian, maka sekerja mudaku itu tidak akan takut ketika ia bersama-sama dengan kalian. Usahakanlah supaya Timotius bersama-sama dengan kalian tanpa takut, sebab ia mengerjakan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku.”
Dalam ayat 11 Paulus melanjutkan, ”Jadi, janganlah ada orang yang menganggapnya rendah! Sebaliknya, tolonglah dia, supaya ia melanjutkan perjalanannya dengan selamat, agar ia datang kembali kepadaku, sebab aku di sini menunggu kedatangannya bersama-sama dengan saudara-saudara seiman yang lain.” Di sini Paulus mendesak kaum beriman Yunani yang filosofis itu supaya tidak meremehkan sekerja mudanya. Bagaimana orang-orang Korintus dapat mengantar Timotius pergi dengan damai jika mereka tidak hidup dalam kebangkitan? Itu tidak mungkin. Dalam ayat ini sebenarnya kita memiliki satu gambaran yang sangat indah. Paulus sedang menunggu Timotius bersama dengan saudara-saudara, dengan harapan bahwa orang-orang Korintus akan mengantar Timotius pergi dalam damai sejahtera.
Dalam ayat 12 Paulus selanjutnya berkata, ”Tentang saudara kita, Apolos, telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama-sama dengan saudara-saudara seiman yang lain mengunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang.” Melalui ini orang-orang Korintus seharusnya menyadari bahwa sikap rasul Paulus terhadap Apolos dan hubungannya dengan Apolos sangat berbeda dengan kesukaan/pilihan mereka (1:11-12). Sikap dan hubungan Paulus terhadap Apolos memelihara kesatuan; kesukaan/pilihan orang-orang Korintus menyebabkan perpecahan.
Rasul Paulus dan Apolos adalah orang-orang yang hidup di dalam Roh. Tetapi, yang satu mendesak yang lain untuk mengunjungi gereja, tetapi yang lain tidak ingin melakukannya. Ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki kebebasan di dalam Roh dan bahwa Roh memiliki kebebasan di dalam mereka. Ini juga menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang melaksanakan pengendalian apa pun atas pekerjaan Tuhan.
Dalam ayat 10 Paulus hanya menyebut Timotius. Tetapi ketika membicarakan tentang Apolos dalam ayat 12, ia memakai ungkapan ”saudara kita”. Ini adalah satu ungkapan yang penuh kasih, dan intim. Kita tahu dari pasal-pasal yang di depan dari Surat Kiriman ini, ada orang-orang Korintus yang lebih suka kepada Apolos daripada Paulus. Kesukaan mereka itu adalah satu penyebab perpecahan. Sekarang pemakaian kata-kata ”saudara kita, Apolos” oleh Paulus ini menunjukkan bahwa tidak ada apa-apa antara dia dengan Apolos. Paulus seolah-olah berkata, ”Kalian orang-orang Korintus membuat satu perbedaan antara Apolos dan aku. Tetapi aku ingin memberi tahu kalian bahwa tidak ada apa-apa di antara kami. Apolos adalah saudaraku; ia adalah saudara kita. Aku sangat mendesak dia agar ia mau datang kepadamu.” Sekalipun Paulus menyadari bahwa ada orang-orang Korintus yang lebih suka kepada Apolos, tetapi ia masih mendorongnya untuk pergi ke Korintus. Kenyataannya, Paulus sangat mendesaknya untuk pergi. Namun, ini tidak seperti kebanyakan pekerja Kristen pada hari ini yang mau mendorong pekerja lainnya untuk pergi ke satu tempat jika mereka menyadari bahwa orang-orang di tempat itu lebih suka kepada pekerja lainnya itu.
Kita telah menunjukkan bahwa meskipun Paulus mendesak Apolos untuk pergi ke Korintus, tetapi bukanlah keinginan Apolos untuk pergi pada waktu itu. Lalu, siapakah yang hidup di dalam Roh, Paulus atau Apolos? Jawabannya adalah bahwa keduanya hidup di dalam Roh. Tetapi meskipun Paulus dan Apolos hidup di dalam Roh, tetapi mereka memiliki perasaan yang berbeda tentang kepergian Apolos ke Korintus.
Ada orang menghakimi saya dan menuduh saya bahwa saya adalah seorang diktator; mereka mengatakan bahwa saya memiliki otoritas swantara (otonom) untuk mengendalikan semua gereja dan semua orang kudus. Kenyataannya, saya tidak mengendalikan gereja-gereja atau orang-orang kudus. Seperti banyak orang juga dapat bersaksi, bila orang lain datang kepada saya untuk minta nasihat, saya mendorong mereka untuk pergi kepada Tuhan dan berdoa. Saya memberi tahu mereka bahwa bukan saya yang memutuskan apa yang seharusnya mereka lakukan. Paulus tidak mengendalikan orang, dan kita pada hari ini juga tidak mengendalikan orang.
Dalam ayat 13 Paulus berkata, ”Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikap beranilah dan tetaplah kuat!” Di sini Paulus memerintahkan orang-orang Korintus agar jangan goyah oleh bidah apa pun, terutama bidah yang mengatakan tidak ada kebangkitan. ”Iman” dalam ayat ini adalah kepercayaan yang obyektif; mengacu kepada apa yang kita percayai. Bersikap berani adalah menjadi orang-orang yang bertumbuh dewasa, yang kuat dalam kepercayaan dan berdiri teguh, tidak seperti anak-anak dalam pengertian (14:20), atau seperti anak-anak kecil yang diombang-ambingkan dan dihanyutkan oleh rupa-rupa angin pengajaran (Ef. 4:14). Ini memerlukan pertumbuhan dalam hayat (3:1, 6). Kaum beriman Korintus mengabaikan pertumbuhan dalam hayat dan kekurangan hayat.
Ayat 14 mengatakan, ”Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” Ini adalah kasih yang didefinisikan dalam pasal 13.
Dalam ayat 17 dan 18 Paulus mengatakan bahwa Stefanas, Fortunatus, dan Akhaikus ”menyegarkan rohku dan rohmu.” Ini pastilah dengan kekayaan-kekayaan Kristus yang dilayankan oleh roh seseorang, yang dapat menjamah roh-roh orang lain. Ini menunjukkan bahwa kontak dan hubungan kita dengan orang-orang kudus seharusnya di dalam dan dengan roh kita, bukan di dalam dan dengan emosi jiwani kita. Jika saudara-saudara ini datang kepada Paulus dengan banyak gosip, mereka tidak akan dapat menyegarkan rohnya. Fakta bahwa mereka menyegarkan roh rasul dan semua orang Korintus, menunjukkan bahwa mereka hidup dan berperilaku di dalam roh.
B. Salam dan Peringatan
Ayat 19 mengatakan, ”Salam kepadamu dari jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam dalam Tuhan kepadamu.” Ini berarti ketika Akwila dan Priskila tinggal di Efesus, gereja di sana bersidang di rumah mereka (Kis. 18:18-19, 26). Ketika mereka tinggal di Roma, gereja di Roma juga bersidang di rumah mereka (Rm. 16:5; lihat Kol. 4:15-16; Flm. 2).
Ayat 10-21 memaparkan suatu gambaran praktek kehidupan Tubuh yang riil dalam keharmonisan yang indah, bukan hanya di antara rasul dan para sekerja, tetapi juga di antara mereka dan gereja-gereja bagi pembangunan Tubuh; inilah yang dengan kuat ditekankan dalam pasal 12-14.
Dalam ayat 22 Paulus mengumumkan, ”Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranatha!” Kata ”terkutuklah” dalam bahasa aslinya adalah anathema, yang berarti suatu benda atau orang yang dikutuk; yaitu, dipisahkan, diserahkan kepada celaka. Mengasihi Allah membuat kita menjadi orang-orang yang diberkati Allah, berbagian atas berkat-berkat ilahi yang melampaui pengertian kita (2:9), yang telah Dia tetapkan dan sediakan bagi kita. Tidak mengasihi Tuhan membuat kita menjadi orang-orang yang terkutuk, disisihkan kepada suatu kutukan. Ini adalah satu peringatan yang serius.
Maranatha, adalah istilah dari bahasa Aram, berarti ”Tuhan datang!” atau ”Tuhan kita datang!” Seruan ini memperingatkan kita bahwa Tuhan pasti datang kembali untuk melaksanakan penghakiman.
Ayat 23 mengatakan, ”Anugerah (kasih karunia) Tuhan Yesus menyertai kamu.” Seperti yang telah kita tunjukkan di dalam berita sebelumnya, kasih karunia ini adalah Kristus yang bangkit menjadi Roh pemberi-hayat untuk membawa Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam kebangkitan ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat kita.
Sebagaimana biasanya, Paulus menutup Surat Kirimannya dengan kata kasih karunia. Tetapi dalam Surat Kiriman ini ia mengakhirinya dengan kata kasih: ”Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus.” Ini bukan kasih alamiah, melainkan kasih dalam Kristus, kasih dalam kebangkitan (4:21), juga kasih Allah, yang telah menjadi kasih kita oleh karena kasih karunia Kristus dan persekutuan Roh itu (2Kor. 13:13). Dari keempat belas surat Paulus, hanya surat ini yang diakhiri dengan perkataan kasih yang demikian meyakinkan. Ini dikarenakan rasul telah menanggulangi mereka dengan teguran-teguran yang kuat (1:13; 3:3; 4:7-8; 5:2, 5; 6:5-8; 11:17). Dia setia, jujur, dan terus terang terhadap mereka dalam kasih Allah dalam Kristus (2Kor. 2:4), sedikit pun tidak berpolitik. Itulah sebabnya Tuhan menghargai penanggulangan-penanggulangannya, agar orang-orang Korintus menerima tegurannya dan bertobat sehingga mendapatkan faedah (2Kor. 7:8-13).
Satu Korintus ditutup dengan satu roh yang manis dengan satu gambaran persekutuan yang manis. Meskipun ini adalah satu Surat Kiriman tentang penanggulangan-penanggulangan dan teguran-teguran, tetapi kitab ini diakhiri dengan cara yang demikian manis. Surat Kiriman ini memperlihatkan kepada kita bahwa pada zaman dahulu ada persekutuan yang manis antar sekerja, antar para sekerja dengan gereja-gereja, dan antar semua gereja. Para sekerja dan gereja-gereja berada dalam persekutuan yang manis.
Kita telah melihat bahwa bagian kedua dari Surat Kiriman ini membahas lima perkara yang berhubungan dengan pemerintahan Allah: kekepalaan, Tubuh, karunia-karunia, kebangkitan, dan harta benda. Pemerintahan Allah memerlukan kekepalaan. Kemudian untuk melaksanakan pemerintahan ilahi di bawah kekepalaan Allah ini, perlu ada Tubuh. Jika Tubuh ingin melaksanakan pemerintahan Allah, maka semua anggota Tubuh perlu karunia untuk berfungsi. Jadi, kita memiliki kekepalaan, Tubuh, dan karunia-karunia, kemampuan-kemampuan. Selain itu, perlu ada kuasa dan kekuatan. Inilah hayat kebangkitan. Hayat kebangkitan ini membuat anggota-anggota itu menunaikan fungsi dengan karunia-karunia mereka, supaya Tubuh dapat beroperasi untuk melaksanakan pemerintahan Allah di bawah kekepalaan-Nya. Butir yang terakhir yang dibahas dalam bagian ini uang dan harta benda adalah satu ujian untuk membuktikan berapa banyak kita hidup dalam hayat kebangkitan.
Pengujian oleh harta benda yang sangat riil ini adalah satu perkara yang berhubungan dengan hari pertama dalam satu minggu. Hari mengacu kepada kehidupan kita. Cara hidup yang bagaimana yang kita miliki itu tergantung kepada hari apakah yang kita miliki. Jika kita gagal dalam kehidupan kita, ini berarti kita memiliki satu hari kegagalan. Selain itu, jika kita hidup dalam ciptaan lama, kita hidup pada hari ketujuh. Tetapi jika kita hidup dalam hayat kebangkitan, kita akan hidup pada hari pertama dalam satu minggu. Jika kita tidak berada dalam kebangkitan, kita mengabaikan karunia-karunia, Tubuh, dan kekepalaan Allah. Namun, jika kita hidup pada hari pertama dalam satu minggu, yaitu hidup dalam hayat kebangkitan, kita benar-benar berada di bawah kekepalaan Allah, kita berada di dalam Tubuh, dan kita menggunakan karunia-karunia kita dengan cara yang berfaedah. Kemudian kita akan memiliki kehidupan sehari-hari yang mengumumkan kepada alam semesta ini bahwa kita adalah orang-orang yang menempuh kehidupan yang mutlak berada dalam kebangkitan.
Bagi Kristus, musuh yang terakhir ialah maut. Bagi kita, musuh yang terakhir adalah mamon, harta benda. Hayat kebangkitan membuat kita dapat mengatasi kuasa dosa. Kebangkitan juga adalah kuat kuasa bagi Kristus untuk memerintah atas orang-orang yang memberontak dan menaklukkan semua musuh-Nya. Musuh yang terakhir yang akan ditaklukkan oleh-Nya adalah maut. Sebagai kelanjutan dari pasal 15, pasal 16 ini menunjukkan bahwa hayat kebangkitan di dalam kita dapat mengatasi musuh kita yang terakhir harta benda.
Dari penyelidikan dan pengalaman, saya dapat bersaksi bahwa bagi kebanyakan orang rohani, perkara yang terakhir yang harus diatasi adalah perkara uang. Beberapa orang Kristen menang atas temperamen mereka, kelemahan mereka, dan dosa mereka, tetapi tidak menang dalam hal harta benda.
Sejak saya masih sebagai seorang Kristen muda, Tuhan mulai mendisiplinkan saya dalam perkara uang dan harta benda. Tuhan melatih saya untuk memakai uang bagi-Nya. Bahkan sebagai seorang muda, saya memakai uang itu untuk mencetak traktat Injil yang saya tulis. Setelah ada beberapa pengalaman ini, saya dapat bersaksi bahwa harta benda adalah musuh yang terakhir. Karena itu, dari pengalaman ini saya menyadari bahwa kemenangan atas hal-hal materi dalam pasal 16 adalah kelanjutan dan kesimpulan dari perkara kebangkitan yang dibicarakan dalam pasal 15.
Puji Tuhan bahwa kita memiliki kekepalaan, Tubuh, karunia-karunia, kebangkitan, dan kemenangan atas harta benda! Kemenangan ini membuktikan bahwa kita hidup dalam hari pertama dalam satu minggu. Kita bukanlah orang-orang yang hidup dalam Sabat, yaitu, dalam ciptaan lama. Kita adalah umat hari Tuhan yang hidup dalam kebang-kitan. Oleh hayat kebangkitan, kita telah mengatasi segala sesuatu, dan segala sesuatu berada di bawah kaki kita.
?
PELAJARAN HAYAT
SURAT 1PETRUS
BERITA
01 02 03 04 05 06 07 08
09 10 11
12 13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23