← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 21/23

MENANGGULANGI MASALAH KEBANGKITAN (3)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 15:29-44

Kebangkitan adalah fakta yang erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai orang Kristen. Kehidupan sehari-hari seorang Kristen sebenarnya bergantung kepada kebangkitan. Jika tidak ada kebangkitan, tidak akan ada pengharapan, dan kita akan menjadi orang-orang yang paling malang di bumi ini.

Kebangkitan Kristus juga berhubungan dengan pemerintahan Allah. Pelaksanaan pemerintahan ilahi ini tergantung kepada pengalaman kita akan kebangkitan Kristus. Jika kita tidak memiliki Kristus sebagai hayat kebangkitan di dalam kita, kita tidak dapat menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya yang hidup bagi pelaksanaan pemerintahan Allah, supaya Kristus dapat memerintah sampai Dia menaklukkan semua musuh-Nya. Dalam berita ini kita akan melihat pengaruh moral dari kebangkitan (ayat 29-34) dan definisi kebangkitan (ayat 35-49).

IV. PENGARUH MORAL DARI KEBANGKITAN

Kita telah melihat bahwa ayat 20-28 dapat dianggap sebagai satu sisipan. Hal ini akan menghubungkan ayat 29 dengan ayat 18 dan ayat 30 sampai 32 dengan ayat 19.

A. Jika Tidak Ada Kebangkitan

Dalam ayat 29 Paulus berkata, “Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” Frase “dibaptis bagi orang mati” berarti dibaptis bagi orang lain yang telah mati. Ini seharusnya bukan pelaksanaan resmi secara umum oleh gereja-gereja sebermula, melainkan tindakan pribadi dari beberapa orang beriman. Orang-orang beriman ini memperhatikan orang-orang yang telah meninggal, yang mungkin telah percaya kepada Tuhan tetapi belum dibaptis sebelum mereka meninggal. Mereka melakukan hal ini dengan harapan bahwa orang-orang yang telah meninggal akan dibangkitkan dari antara orang mati pada saat kedatangan kembali Tuhan (1Tes. 4:16), karena baptisan dengan kuat menyatakan kebangkitan (Kol. 2:12). Rasul menggunakan apa yang mereka lakukan untuk memperkuat kebenaran tentang kebangkitan. Namun, ini bukan berarti bahwa rasul menyetujui baptisan oleh beberapa orang beriman untuk orang-orang yang telah mati.

Dalam ayat 29 ini kata “bagi” sebenarnya berarti demi. Beberapa orang beriman memiliki kerabat, tetangga, atau teman yang juga percaya kepada Tuhan, tetapi yang telah mati tanpa dibaptis. Karena mengasihi mereka, maka beberapa orang beriman dibaptis demi orang-orang yang telah mati itu. Ini tidak diajarkan oleh para rasul, tetapi kita tahu dari sejarah gereja bahwa hal ini dipraktekkan oleh kaum beriman, meskipun praktek ini tidak umum. Fakta bahwa seorang beriman mau dibaptis demi orang beriman lainnya yang telah mati menandakan satu kepercayaan yang kuat kepada kebangkitan. Baptisan menandakan kematian, penguburan, dan kebangkitan. Jika tidak ada kebangkitan dan jika orang-orang Kristen hanya mati dan dikubur, mengapa seseorang mau dibaptis demi orang yang telah mati? Fakta bahwa seseorang mau dibaptis bagi orang yang telah mati menunjukkan satu kepercayaan, satu harapan, bahwa orang yang telah mati akan dibangkitkan. Paulus menyinggung praktek ini sebagai bagian dari sanggahannya terhadap bidah yang menyatakan bahwa tidak ada kebangkitan. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Jika orang-orang mati tidak dibangkitkan, lalu mengapa orang lain mau dibaptis bagi mereka untuk menandakan bahwa mereka akan dibangkitkan?” Inilah maksud Paulus di sini.

Dalam ayat 30 Paulus selanjutnya berkata, “Dan kami juga mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya?” Jika tidak ada kebangkitan, mengapa Paulus mau membiarkan dirinya setiap saat berada dalam bahaya? Mengapa ia setiap hari mau mempertaruhkan nyawanya? Jika tidak ada kebangkitan, ia seharusnya menikmati hidup masa kini.

Dalam ayat 31 Paulus melanjutkan, “Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaan akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku

katakan bahwa hal ini benar.” Di sini kata “maut” berarti berada dalam bahaya maut, berhadapan dengan maut, dan mati terhadap ego (2Kor. 11:23; 4:11; 1:8-9; Rm. 8:36).

Kaum beriman Korintus adalah buah-buah dari kerja keras rasul, kerja keras yang di dalamnya dia mempertaruhkan nyawanya. Di atas diri mereka rasul dapat memegahkan diri atas hal ini. Sekarang dengan kebanggaan ini, dia dengan khidmat berkata kepada mereka bahwa setiap hari dia mati. Kemegahan rasul terhadap orang-orang Korintus sebagai buah-buah dari mempertaruhkan nyawanya adalah di dalam Kristus, bukan di dalam dirinya sendiri, karena kerja kerasnya bukanlah berdasarkan dirinya sendiri, melainkan berdasarkan Kristus.

Paulus bagaikan seorang prajurit yang mempertaruhkan nyawanya di medan perang. Dia berperang bagi Kerajaan Allah, dan setiap hari ia mati demi orang-orang Korintus. Ketika ia datang untuk memberitakan Injil kepada mereka, ia mempertaruhkan nyawanya. Sewaktu ia berada di Korintus, ia setiap hari mati. Bukanlah satu hal yang mudah bagi Paulus datang ke Korintus di dunia Kafir. Dunia ini bertentangan dengan hal-hal Yahudi dan juga bertentangan dengan hal-hal Kristen. Meskipun demikian, Paulus setiap hari mempertaruhkan nyawanya untuk memberitakan Injil kepada mereka. Karena kerelaannya mati setiap hari, maka sejumlah orang di Korintus diselamatkan.

Dalam ayat 32 Paulus memakai satu kata kiasan: “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka ‘marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.’” Frase “binatang buas” yang dipakai di sini adalah kata kiasan yang mengacu kepada orang atau perkara yang jahat. Pada masa itu, orang-orang berjuang melawan oknum-oknum atau perkara-perkara jahat untuk menerima pahala yang sementara. Tetapi rasul tidak berdasarkan hal itu berjuang melawan oknum-oknum atau perkara-perkara yang jahat demi Injil; dia berjuang berdasarkan pengharapan yang lebih tinggi untuk mendapatkan pahala pada kebangkitan yang akan datang (Luk. 14:14; 2Tim. 4:8).

Kita tahu dari Kisah Para Rasul 19 bahwa Paulus berjuang melawan “binatang buas.” Orang-orang Yahudi dan orang-orang Kafir di Efesus menentangnya sekuat tenaga. Jadi ia harus berjuang melawan oknum-oknum dan perkara-perkara yang jahat. Tetapi jika tidak ada kebangkitan, apakah untungnya bagi Paulus berjuang dengan cara demikian? Seperti yang dikatakan Paulus, “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Ini muncul sebagai kutipan dari suatu pepatah pada masa itu, suatu peribahasa kelompok Epikuros. Jika tidak ada kebangkitan, kita kaum beriman tidak berpengharapan untuk masa depan, dan telah menjadi orang yang paling kasihan dari semua manusia (ayat 19). Jika demikian, lebih baik kita menikmati hidup kita hari ini sambil melupakan masa depan, seperti yang dilakukan oleh kelompok Epikuros.

B. Peringatan Agar Jangan Sesat

Ayat 33 mengatakan, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Ini muncul sebagai kutipan dari suatu pepatah pada masa itu, sepotongan puisi Yunani. Dengan perkataan ini rasul memperingatkan kaum beriman Korintus untuk tidak bergaul dengan para bidah yang mengatakan tidak ada kebangkitan. Pergaulan buruk itu bisa merusak kepercayaan mereka dan kebajikan-kebajikan orang Kristen.

Dalam ayat 33 Paulus menyuruh orang-orang Korintus untuk tidak menaruh perhatian kepada bidah yang menyesatkan dan tidak masuk akal bahwa tidak ada kebangkitan. Orang-orang yang mendengarkan bidah ini akan disesatkan olehnya. Lagi pula, jika mereka bersahabat dengan orang-orang bidah, persahabatan itu akan merusak moral yang baik. Prinsip ini berlaku bagi kita dalam kehidupan gereja pada hari ini.

Orang-orang tertentu yang telah meninggalkan pemulihan Tuhan dan yang sekarang membicarakan hal-hal yang jahat mengenai pemulihan Tuhan mungkin berusaha mempengaruhi orang lain yang tetap tinggal dalam kehidupan gereja. Jika Anda menerima pikiran negatif dan menjadi sahabat orang-orang yang menentang kehidupan gereja, persahabatan itu akan merusak kehidupan gereja Anda. Moral yang baik yang disinggung dalam ayat 33 ini meliputi mengasihi Tuhan, hidup bagi masa depan, mempertaruhkan nyawa kita bagi Injil, dan mempraktekkan kehidupan gereja yang tepat. Ini sebenarnya meliputi semua hal baik yang dibahas dalam seluruh Kitab 1Korintus.

Dalam ayat 34 Paulus melanjutkan perintahnya: “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.” Sadarlah sebaik-baiknya adalah sadar kembali dari kelelapan kemabukan; tidak lagi mabuk demi kebenaran. “Benar” berarti benar terhadap Allah dan terhadap manusia. Mengatakan tidak ada kebangkitan menyalahi Allah dan manusia, ini adalah berbuat dosa dan tidak benar. Karena itu, rasul menasihati orang-orang Korintus yang menyimpang agar sadar dari dosa ini dan memulihkan hubungan yang benar dengan Allah dan manusia. Mereka pernah, menurut ketidakbenaran, mabuk dan terlelap dalam bidah tidak ada kebangkitan; mereka perlu berhenti dari kemabukan itu.

Secara harfiah, kata “tidak mengenal” adalah “menyangkal.” Bidah yang mengatakan tidak ada kebangkitan berarti tidak mengenal Allah, tidak mengenal kuasa dan ekonomi Allah (Mat. 22:29-32). Ini adalah hal yang memalukan bagi kaum beriman.

Sebagai orang Kristen, kita harus sadar. Kita tidak boleh seperti orang-orang Epikuros, yang hanya ingin menikmati hidup dan tidak memperhatikan hari esok. Kita perlu dengan benar berhenti bermabuk-mabukan. Setiap orang yang mengatakan tidak ada kebangkitan itu tidak benar terhadap Allah dan terhadap manusia. Demikian juga, orang-orang yang menentang kehidupan gereja tidak benar terhadap Allah maupun terhadap manusia.

Pada satu kali saya menerima sebuah surat dari seorang saudara yang mengakui bahwa saya telah membantunya mengenal Kristus dan mengalami Kristus. Ia sangat bersyukur atas bantuan ini, dan juga atas bantuan dalam mengenal gereja. Tetapi kemudian ia mengatakan bahwa pengajaran saya mengenai kehidupan gereja, khususnya dasar gereja, itu bersifat daging. Adalah tidak benar mengatakan bahwa mengajarkan kaum beriman untuk mempraktekkan kehidupan gereja itu bersifat daging. Perkataan demikian tidak benar terhadap Allah maupun terhadap manusia. Seseorang yang membuat pernyataan demikian atau yang menyetujuinya perlu sadar dari keadaan mabuk.

Hari ini banyak pengajaran bidah. Beberapa dari pengajaran itu mungkin hanya mengandung sedikit bidah, dan yang lainnya mengandung lebih banyak. Tahukah Anda mengapa Anda rela menerima pengajaran bidah tertentu? Itu dikarenakan karena Anda memiliki satu kecenderungan, satu kecondongan batin, terhadap bidah itu. Itu cocok dengan selera Anda. Kemudian, karena Anda mengambil satu pengajaran bidah untuk memenuhi selera Anda, Anda menjadi mabuk.

Karena mengetahui situasi orang-orang Korintus itu, Paulus memperingatkan mereka agar tidak menerima bidah yang menyangkal kebangkitan. Paulus tahu hal itu akan melibatkan satu persahabatan yang buruk yang akan merusak moral mereka dalam kehidupan gereja. Melalui perkara ini kita nampak bahwa kebangkitan benar-benar memiliki satu pengaruh yang positif terhadap moral kita. Sedangkan menyangkal kebangkitan akan merusak moral kita, membuat kita menjadi karam.

V. DEFINISI KEBANGKITAN

Di alam dunia ini kita memiliki banyak ilustrasi tentang kebangkitan. Pada tahun 1936 saya mengunjungi salah satu universitas besar di China. Salah satu dari mahasiswanya berbicara kepada saya tentang kesulitannya dalam mempercayai perihal kebangkitan. Ia memberi tahu saya bahwa karena ilmu pengetahuan modernnya, ia tidak dapat percaya. Baginya, kebangkitan itu berlawanan dengan ilmu pengetahuan. Di luar ruangan di mana kita bersidang ada sebuah ladang gandum. Dengan menarik perhatiannya kepada gandum yang bertumbuh di ladang itu, saya menunjukkan bahwa gandum itu dihasilkan dari beberapa butir benih yang ditanam di tanah. Saya memberi tahu dia bahwa dalam satu hal, benih-benih itu mati, tetapi sekarang benih-benih itu keluar dalam kebangkitan sebagai gandum. Melalui ilustrasi kematian dan kebangkitan itu, orang muda ini diselamatkan. Sekarang ia adalah salah satu sekerja terkemuka di Taiwan. Dalam memakai gandum sebagai ilustrasi kebangkitan, saya tidak mengikuti hikmat saya sendiri. Sebaliknya, saya mengikuti teladan yang dibuat oleh Paulus dalam 1Korintus 15.

A. Tubuh Kebangkitan

Ayat 35-36 mengatakan, “Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: ‘Bagaimana orang mati dibangkitkan? Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?’ Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau tidak mati dahulu.” Orang Yunani yang filosofis mengira bahwa mereka pandai, tetapi Paulus menyebut mereka sebagai orang bodoh, dengan menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan itu membuktikan kebodohan mereka. Dalam jawabannya, Paulus menyinggung hayat tumbuh-tumbuhan. Realitas kebangkitan terdapat dan tersembunyi di dalam alam, terutama dalam hayat tumbuh-tumbuhan. Sebuah benih ditanam dalam tanah, mati, dan hidup kembali. Inilah kebangkitan. Ini menjawab pertanyaan pertama dari orang-orang Korintus yang bodoh, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan?”

Dalam ayat 37 Paulus melanjutkan, “Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.” Apa yang ditaburkan itu bukanlah tubuh gandum, melainkan sebuah benih, biji gandum. Kemudian benih itu bertumbuh dan berubah menjadi “tubuh tanaman”. Mungkin sangat sulit untuk membedakan benih-benih tertentu. Tetapi begitu benih-benih itu ditaburkan ke dalam tanah dan bertumbuh, pada akhirnya perbedaan itu akan nampak. Tanaman-tanaman itu akan berbeda dalam bentuk dan warnanya.

Dengan melanjutkan ilustrasi ini dalam ayat 38, Paulus selanjutnya berkata, “Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri.” Paulus menerapkan kata tubuh di sini bukan kepada tubuh yang ditabur untuk mati (ayat 37), tetapi tubuh kebangkitan yang diberikan oleh Allah, bentuknya berbeda dan tingkatannya lebih tinggi. Ini menjawab pertanyaan bodoh orang-orang Korintus, “Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?”

Ayat 39 mengatakan, “Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan.” Dalam ayat 39-41, rasul membuktikan kepada orang-orang Korintus yang bodoh bahwa Allah mampu memberikan suatu tubuh kepada semua hayat yang bangkit, sama seperti Dia memberikan tubuh kepada semua makhluk ciptaan: kepada manusia dan binatang-binatang di bumi, kepada burung-burung di udara, dan kepada ikan-ikan di air tubuh jasmani dengan kemuliaan yang berbeda-beda; dan kepada matahari, bulan, dan bintang benda-benda langit dengan tingkat kemuliaan surgawi yang berbeda-beda. Dalam ayat 42 Paulus menggambarkan kesimpulannya, “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati.” Kemudian ia menunjukkan bahwa tubuh ini ditaburkan dalam kebinasaan, kehinaan, dan kelemahan, tetapi dibangkitkan dalam ketidakbinasaan, kemuliaan, dan kekuatan.

Dalam ayat 44 Paulus mengumumkan, “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah (jiwani), yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah (jiwani), maka ada pula tubuh rohaniah.” Tubuh jiwani adalah tubuh alamiah yang berhayatkan jiwa, tubuh yang di dalamnya jiwa menguasai. Tubuh rohani adalah tubuh yang bangkit yang dijenuhi oleh roh, tubuh yang di dalamnya roh menguasai. Jika kita mati, tubuh alamiah kita yang jiwani akan ditanam (dikubur) di dalam kebinasaan, kehinaan, dan kelemahan. Ketika tubuh ini dibangkitkan, tubuh ini menjadi tubuh rohani di dalam ketidakbinasaan, kemuliaan, dan kekuatan (ayat 42-43). Haleluya, pada suatu hari kita akan berada di dalam kebangkitan! Kemudian tidak akan ada lagi kebinasaan, kehinaan, atau kelemahan. Sebaliknya, kita akan berada di dalam ketidakbinasaan, kemuliaan, dan kekuatan.