MENANGGULANGI PERKARA KEBANGKITAN (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 15:12-28
Dalam berita ini kita akan melihat dua perkara dalam 15:12-28: Sanggahan Paulus terhadap orang-orang yang menyatakan tidak ada kebangkitan dan sejarah kebangkitan.
II. SANGGAHAN TERHADAP ”TIDAK ADA KEBANGKITAN”
Ayat 12 mengatakan, ”Jadi, bilamana diberitakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?” Dalam pasal ini rasul menanggulangi perkataan bidah orang-orang Korintus yang mengatakan tidak ada kebangkitan orang-orang mati. Mereka sama seperti orang-orang Saduki (Mat. 22:23; Kis. 23:8). Inilah masalah kesepuluh di antara mereka. Masalah ini mencelakakan, merusak ekonomi Perjanjian Baru Allah, lebih serius daripada bidah Himeneus dan Filetus mengenai kebangkitan (2Tim. 2:17-18). Kebangkitan adalah urat nadi dan garis hayat ekonomi ilahi. Jika tidak ada kebangkitan, Allah akan menjadi Allah orang mati, bukan Allah orang hidup (Mat. 22:32). Jika tidak ada kebangkitan, Kristus tidak akan dibangkitkan dari antara orang mati, Dia akan menjadi Juruselamat yang mati, bukan Juruselamat yang hidup. Tetapi Dia hidup dan yang akan hidup sampai selama-lamanya (Why. 1:18). Dia dapat menyelamatkan sampai kepada kesudahan (Ibr. 7:25). Jika tidak ada kebangkitan, tidak akan ada bukti hidup tentang dibenarkan oleh kematian-Nya (Rm. 4:25 dan cat.), tidak ada penyaluran hayat (Yoh. 12:24), tidak ada kelahiran kembali (Yoh. 3:5), tidak ada pembaruan (Tit. 3:5), tidak ada pengubahan (Rm. 12:2; 2Kor. 3:18), dan tidak ada penyerupaan kepada gambar Kristus (Rm. 8:29). Jika tidak ada kebangkitan, tidak akan ada anggota-anggota Kristus (Rm. 12:5), tidak ada Tubuh Kristus sebagai kepenuhan-Nya (Ef. 1:20-23), tidak ada gereja sebagai mempelai perempuan Kristus (Yoh. 3:29), dan tidak ada manusia baru (Ef. 2:15; 4:24; Kol. 3:10-11). Jika tidak ada kebangkitan, ekonomi Perjanjian Baru Allah akan sama sekali runtuh, dan ketentuan kehendak kekal Allah akan nihil.
Dalam ayat 12 Paulus menyinggung pemberitaan bahwa Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa rasul-rasul memberitakan kebangkitan Kristus. Menurut Kitab Kisah Para Rasul, pemberitaan Injil terutama adalah pemberitaan kebangkitan Kristus. Meskipun rasul-rasul menekankan kebangkitan Kristus, pemberitaan orang-orang Kristen pada hari ini lebih banyak menekankan penyaliban daripada kebangkitan. Namun, kita, harus mengikuti rasul untuk menekankan kebangkitan seperti halnya penyaliban.
Ayat 13 melanjutkan, ”Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.” Ini adalah butir pertama dari sanggahan Paulus. Satu kenyataan bahwa Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Lalu, bagaimana beberapa orang dapat mengatakan tidak ada kebangkitan? Jika tidak ada kebangkitan, maka Kristus tidak dapat bangkit dari antara orang mati.
Dalam ayat 14 Paulus berkata, ”Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Kata ”sia-sia” di sini berarti kosong, hampa. Tanpa Kristus yang hidup dalam kebangkitan, baik pemberitaan Injil maupun iman kita terhadap Injil akan menjadi kosong, hampa, tanpa realitas. Memberitakan kematian Kristus tanpa memberitakan kebangkitan-Nya akan menjadi sia-sia. Kebangkitan Kristus adalah yang membuat pemberitaan kita menjadi vital dan menang. Pemberitaan yang demikian tidak akan pernah sia-sia. Lagi pula, di luar kebangkitan Kristus, iman kita akan sia-sia. Tanpa kebangkitan Kristus, baik pemberitaan kita maupun iman kita akan sia-sia. Ini adalah perkara yang sangat serius.
Dalam ayat 15 Paulus melanjutkan berkata, ”Lebih daripada itu, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan bahwa Ia telah membangkitkan Kristus padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan.” Ini adalah satu butir tegas lainnya dalam sanggahan Paulus.
Dalam ayat 16 Paulus berkata, ”Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.” Kemudian ayat 17 mengatakan, ”Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” Kata ”sia-sia” di sini berarti tidak ada buahnya, tidak berharga. Jika Kristus tidak bangkit dan hidup di dalam kita sebagai hayat dan segala kita, iman kita terhadap-Nya tidak akan menghasilkan buah, tidak berharga, tidak ada hasil apa pun, seperti penyaluran hayat, pelepasan dari dosa, kemenangan atas Iblis, dan pertumbuhan dalam hayat. Kata sia-sia yang dipakai di sini bahkan lebih kuat daripada kata sia-sia dalam ayat 14. Dalam ayat 14, sia-sia adalah kosong. Tetapi kata sia-sia di sini menunjukkan berjerih lelah tanpa hasil, bekerja tanpa adanya keuntungan. Jika tidak ada kebangkitan, kita mungkin tetap percaya, tetapi pada akhirnya tidak ada hasil dari kepercayaan kita itu. Maka, iman kita menjadi sia-sia.
Selain itu, menurut ayat 17 jika Kristus tidak dibangkitkan, maka kita akan tetap berada dalam dosa kita. Kematian Kristus menyelamatkan kita dari penghukuman dosa, bukan dari kuasa dosa. Hayat kebangkitan Kristus yang membebaskan kita dari kuasa dosa (Rm. 8:2). Jika Kristus tidak dibangkitkan, kita masih tetap di dalam dosadosa dan berada di bawah kuasa dosa.
Dosa-dosa adalah satu hal dan kuasa dosa adalah hal lainnya lagi. Karena dosa-dosa membawa masuk penghukuman, maka kita menjadi orang-orang dosa yang penuh dengan dosa-dosa, dan penghukuman akan menimpa kita. Tetapi melalui kematian Kristus, penghukuman itu telah disingkirkan. Jadi, kematian Kristus telah menyelamatkan kita dari penghukuman dosa. Tetapi kematian-Nya tidak dapat menyelamatkan kita dari kuasa dosa. Penghukuman dosa bersifat obyektif, sedangkan kuasa dosa bersifat subyektif. Diselamatkan dari penghukuman dosa dapat digenapkan satu kali untuk selamanya. Tetapi diselamatkan dari kuasa dosa adalah satu perkara seumur hidup dan perkara sehari-hari, bahkan perkara setiap saat. Masalah temperamen yang kita semua miliki menggambarkan perlunya kita diselamatkan dari kuasa dosa setiap hari. Anda telah diselamatkan dari penghukuman dosa, tetapi Anda masih perlu diselamatkan dari temperamen Anda.
Bila seseorang bertanya kepada Anda apakah Anda telah diselamatkan, Anda perlu menjawab dengan tepat. Anda dapat menjawabnya dengan satu pertanyaan, ”Yang Anda maksud diselamatkan dari neraka dan dari penghakiman Allah, atau diselamatkan dari kuasa dosa?” Kemudian lanjutkan dengan berkata, ”Anda bertanya kepadaku apakah aku telah diselamatkan. Sekarang aku ingin bertanya kepada Anda, apakah Anda telah diselamatkan dari temperamen Anda?” Siapa yang dapat mengatakan bahwa ia telah diselamatkan sepenuhnya dari temperamennya? Kita perlu membantu orang lain menyadari bahwa kita telah diselamatkan dari dosa-dosa, tetapi kita masih perlu diselamatkan dari kuasa dosa. Untuk diselamatkan dengan cara ini kita memerlukan kuasa kebangkitan.
Menurut Roma 8:2, hukum Roh hayat telah memerdekakan kita dari hukum dosa. Hukum dosa ini sebenarnya mengacu kepada kuasa dosa, seperti halnya hukum gravitasi yang sebenarnya mengacu kepada kekuatan gravitasi. Hanya hayat kebangkitan yang dapat membebaskan kita dari kuasa dosa dan dari hukum dosa. Hayat kebangkitan ini mengandung satu hukum yang lebih berkuasa daripada hukum dosa. Satu pesawat terbang dapat terbang karena adanya operasi dari satu kekuatan yang mengatasi gravitasi. Demikian juga, kita dapat mengatasi kuasa dosa dengan operasi hayat kebangkitan Kristus yang penuh kuasa.
Dalam ayat 17, Paulus tidak menulis secara filsafat atau secara teoritis. Ia membela diri dari pengalaman orang-orang yang berdebat terhadap perkara kebangkitan dan memakai pengalaman mereka untuk mengalahkan mereka. Dengan kata lain, sanggahan Paulus itu sangat riil. Bila seseorang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan, berarti Kristus tidak bangkit. Lalu apakah yang dapat kita lakukan terhadap kuasa dosa? Karena itulah, kita memerlukan kebangkitan.
Dalam ayat 18 Paulus melanjutkan sanggahannya: ”Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.” Kata ”mati” dalam ayat ini dalam bahasa aslinya adalah ”tidur”, yakni mengacu kepada orang-orang yang meninggal (1Tes. 4:13-16). Di sini kata binasa berarti tidak bangkit, selama-lamanya tinggal di dalam kematian. Jika Kristus tidak dibangkitkan dari antara orang mati, maka orang-orang yang percaya dalam Kristus yang telah mati akan binasa. Mereka percaya kepada Kristus untuk diselamatkan. Tetapi jika Kristus tidak dibangkitkan, maka mereka juga tidak akan dibangkitkan. Sebaliknya, mereka akan tetap tinggal dalam kematian dan akan binasa. Inilah argumen Paulus. Melalui hal ini sekali lagi kita nampak bahwa ia berdebat mengenai kebangkitan secara riil.
Saya memiliki pengalaman menanggulangi argumen doktrinal secara demikian riil sejak 1939. Pada satu hari, saya bertemu dengan seorang teman Kristen yang terkasih di jalan. Pada mulanya ia berbicara kepada saya dengan sopan, mengatakan bahwa ia memuji Tuhan karena Dia memakai saya. Tetapi akhirnya ia mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan pengajaran bahwa kaum beriman sejati dapat dilemparkan ke dalam kegelapan ketika Tuhan Yesus datang kembali. Saya tidak berdebat dengannya secara doktrinal, sebaliknya saya mengajukan satu pertanyaan riil kepadanya, ”Saudara, coba kita perhatikan zaman sekarang ini. Apakah Anda percaya bahwa tidak ada kaum beriman sejati dalam Kristus yang berada dalam kegelapan pada hari ini?” Ia harus mengakui bahwa banyak orang beriman yang masih hidup dalam kegelapan. Kemudian saya selanjutnya bertanya, ”Saudara, lalu bagaimana dengan kaum beriman itu pada waktu Tuhan Yesus datang kembali?” Ini adalah satu ilustrasi bagaimana berargumentasi dengan para pendebat secara riil bukan secara teoritis.
Ayat 19 mengatakan, ”Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.” Jika tidak ada kebangkitan, kita tidak ada masa depan, juga tidak memiliki pengharapan untuk masa depan, seperti Kristus adalah harapan mulia kita (Kol. 1:27), bagian berkat kekal kita (Dan. 12:13), memerintah bersama dengan Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4, 6), dan pahala kebangkitan orang-orang benar (Luk. 14:14). Semua pengharapan ini berhubungan dengan kebangkitan kita. Sekali lagi, argumen Paulus itu sangat riil.
Paulus kemudian menambahkan, dengan cara menyisipkan, sesuatu mengenai sejarah kebangkitan dalam ayat 20-28. Ia sekali lagi berargumen mengenai kebangkitan secara riil di dalam ayat 29-32. Dalam ayat 32 ia berkata,
“Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Paulus rela menderita oleh hayat kebangkitan dan bagi kebangkitan. Ia tahu bahwa akan ada satu hari kebangkitan, dan bahwa dalam kebangkitan itu akan ada satu pahala.
III. SEJARAH KEBANGKITAN
A. Kristus, Buah Sulung
dari Orang-orang yang Telah Meninggal
Dalam ayat 20 Paulus mengumumkan, “Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” Ayat 20-28 merupakan perkataan sisipan yang membuktikan kebenaran kebangkitan dengan mengumumkan Kristus adalah buah sulung kebangkitan. Kristus adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati, adalah buah sulung kebangkitan. Ini dilambangkan dengan buah-buah sulung (seberkas tuaian pertama, meliputi Kristus dan orang-orang kudus Perjanjian Lama yang telah mati, yang dibangkitkan pada kebangkitan Tuhan Mat. 27:52-53) dalam Imamat 23:10-11, yang dipersembahkan kepada Allah pada hari setelah Sabat, yaitu hari kebangkitan (Mat. 28:1). Kristus sebagai buah sulung kebangkitan adalah Yang Sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, supaya Dia boleh menjadi Kepala Tubuh (Kol. 1:18; Ef. 1:20-23). Karena Kristus, Kepala Tubuh, telah bangkit, maka kita, Tubuh, juga akan dibangkitkan.
Ayat 21 mengatakan, “Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.” Manusia yang melaluinya maut datang adalah Adam, manusia pertama (ayat 45). Manusia yang melaluinya kebangkitan datang adalah Kristus, Manusia kedua (ayat 47). Adam membawa masuk maut melalui dosa (Rm. 5:12); Kristus membawa masuk hayat kebangkitan melalui kebenaran (Rm. 5:17-18). Maut yang dibawa masuk oleh Adam bekerja di dalam kita sejak kita lahir dari orang tua kita sampai kematian tubuh kita. Hayat kebangkitan yang dibawa masuk oleh Kristus bekerja di dalam kita, sebagaimana dinyatakan oleh baptisan (Rm. 6:4), sejak kelahiran kembali kita oleh Roh Allah (Yoh. 3:5) sampai transfigurasi tubuh kita (Flp. 3:21).
Allah menciptakan manusia, tetapi manusia jatuh dan dicengkeram oleh maut. Namun, Allah tidak membuang manusia begitu saja. Tetapi perlu ada satu “pengobatan”. Pengobatan ini meliputi penebusan dan kebangkitan. Penebusan menanggulangi dosa, tetapi tidak dapat menanggulangi maut. Jadi, perlu ada satu langkah lebih jauh sebagai tambahan bagi penebusan, dan langkah ini adalah kebangkitan. Ini memberikan satu jalan kepada Allah untuk memecahkan masalah yang disebabkan oleh kejatuhan manusia. Namun, jika tidak ada kebangkitan, berarti Allah dikalahkan oleh kejatuhan manusia. Tetapi Allah tidak pernah dapat dikalahkan. Manusia jatuh ke dalam dosa, dan dosa membawa masuk maut. Tetapi Allah datang menggenapkan penebusan, dan membereskan masalah dosa. Lagi pula, kebangkitan itu menelan maut. Karena itu, bukannya dikalahkah, malah sebaliknya, Allah menang. Allah telah mengalahkan kejatuhan manusia. Dia mengalahkan dosa dengan penebusan dan mengalahkan maut dengan kebangkitan.
Ayat 22 mengatakan, “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” Dalam Adam kita dilahirkan dalam kematian dan dilahirkan untuk mati; di dalam Adam kita mati (Ef. 2:1, 5). Segera setelah seseorang itu lahir, maka ia mulai mati. Sadarkah Anda bahwa sepanjang waktu hidup Anda, Anda sebenarnya sedang berangsur-angsur mati? Satu tahun Anda hidup, itu berarti satu tahun telah dikurangi dari jangka waktu hidup Anda. Kita bukan lahir untuk bertumbuh dan hidup; sebaliknya kita lahir untuk mati, karena di dalam Adam kita lahir di dalam maut.
Dalam ayat 22 Paulus tidak hanya mengatakan bahwa di dalam Adam kita semua mati, tetapi ia selanjutnya mengumumkan bahwa di dalam Kristus kita semua dihidupkan kembali. Dalam Kristus kita dilahirkan kembali dalam hayat dan dibangkitkan untuk hidup; di dalam Kristus kita telah dihidupkan, dijadikan hidup (Ef. 2:5-6). Di satu pihak, kita sedang mati; di pihak lain kita sedang hidup. Dalam Kristus kita semua telah dihidupkan kembali; kita telah dibangkitkan untuk hidup.
B. Tiap-tiap Orang Menurut Urutannya
Dalam ayat 23 Paulus melanjutkan, “Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya; Kristus sebagai buah sulung, sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.” Di sini Paulus kembali menunjukkan Kristus sebagai buah sulung, Yang pertama bangkit dari antara orang mati sebagai buah sulung kebangkitan. Orang-orang milik Kristus adalah kaum beriman dalam Kristus yang akan dibangkitkan kepada hidup pada saat kedatangan kembali Tuhan sebelum Kerajaan Seribu Tahun (Yoh. 5:29; Luk. 14:14; 1Tes. 4:16; 1Kor. 15:52; Why. 20:4-6). Mereka adalah yang kedua di dalam urutan kebangkitan dari antara orang mati.
Dalam ayat 24 Paulus mengumumkan, “Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.” Kesudahan di sini adalah kesudahan segala zaman dan generasi ciptaan lama. Ini juga kesudahan Kerajaan Seribu Tahun sebelum langit baru dan bumi baru (Why. 21:1). Di dalam semua zaman dan generasi, di satu pihak, Allah telah menanggulangi musuh-Nya, Iblis, dan semua hal negatif dalam alam semesta; di pihak lain, Dia telah merampungkan segala sesuatu bagi penggenapan ketetapan kehendak kekal-Nya. Akhir dari zaman dan generasi adalah Kerajaan Seribu Tahun, zaman kerajaan. Setelah itu, semua penanggulangan dan perampungan Allah akan diselesaikan sepenuhnya. Penyelesaian itu akan menjadi kesudahan, penutup dari semua pekerjaan Allah. Pada kesudahan ini, semua orang yang tidak percaya yang telah mati, yaitu orang-orang yang tidak benar, akan dibangkitkan untuk dihakimi, binasa selama-lamanya (Yoh. 5:29; Why. 20:5, 11-15). Mereka adalah yang ketiga dalam urutan kebangkitan.
Kebangkitan Kristus menandai permulaan zaman gereja. Kaum beriman dalam Kristus yang telah mati akan dibangkitkan pada kedatangan-Nya, yang akan menjadi akhir dari zaman gereja. Di sini kita melihat dua kebangkitan: yang pertama pada permulaan zaman gereja, dan yang kedua pada perampungan zaman gereja. Kata Yunani yang diterjemahkan “kesudahan” dalam ayat 24 ini sebenarnya berarti kelengkapan. Seperti yang telah kita tunjukkan, ayat 24 ini mengacu kepada akhir dari segala zaman dan zaman ciptaan lama. Akhir zaman ini bukan terjadi pada penutupan zaman gereja, melainkan pada penutupan Kerajaan Seribu Tahun. Kemudian akan ada zaman kekekalan dengan langit baru dan bumi baru. Perkataan Paulus ini sangat singkat, tetapi menyiratkan banyak hal, karena mencakup Kerajaan Seribu Tahun. Setelah Kerajaan Seribu Tahun, kesudahan yang Paulus maksudkan dalam ayat 24 ini akan tiba.
Dalam ayat 24 kata “bilamana” itu sungguh bermakna. Kata ini menunjukkan waktu ketika Kristus meniadakan kuasa Iblis, menaklukkan semua musuh-Nya (ayat 25), menyingkirkan maut (ayat 26), dan menyerahkan kerajaan kepada Allah Bapa, yaitu ketika semua hal yang negatif disingkirkan dan seluruh ketetapan kehendak Allah digenapkan, saat itu ciptaan lama berakhirlah.
Kapankah Tuhan Yesus menyerahkan kerajaan kepada Allah? Ini bukan terjadi pada saat kedatangan-Nya kembali, karena Dia akan membawa Kerajaan Allah ke bumi. Kemudian selama seribu tahun Dia akan melaksanakan kerajaan itu. Maka, penyerahan kerajaan kepada Allah pasti terjadi pada akhir dari masa seribu tahun. Kapankah Kristus membinasakan semua pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan? Hal ini hanya dapat terjadi pada akhir Kerajaan Seribu Tahun. Kita tahu dari Wahyu 20 bahwa Iblis tidak akan dibinasakan sepenuhnya sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Sebaliknya, ia akan dipenjarakan. Kemudian pada akhir masa seribu tahun ia akan dibebaskan dari penjara. Kemudian hanya sesaat saja ia akan dilemparkan ke dalam lautan api (Why. 20:7-10). Karena itu, setelah Kerajaan Seribu Tahun inilah Kristus akan menyerahkan kerajaan kepada Allah. Menjelang waktu itu Iblis telah dibinasakan.
Setelah merampungkan penebusan, Kristus pergi untuk menerima kerajaan dari Bapa (Luk. 19:12, 15). Sebelum Kerajaan Seribu Tahun, Dia sebagai Anak Manusia, akan menerima kerajaan dari Allah, Yang Lanjut Usianya itu, untuk memerintah atas bangsa-bangsa selama seribu tahun (Dan. 7:13-14; Why. 20: 4, 6). Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, Dia mengalahkan Satan, Iblis, dan malaikat-malaikatnya yang jatuh (yaitu segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan), bahkan maut dan alam maut, menaruh semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya (ayat 25-26), dan mencampakkan mereka semua, termasuk maut dan alam maut, ke dalam lautan api (Why. 20:7-10, 14), setelah itu Dia akan menyerahkan kembali kerajaan kepada Allah Bapa.
Dalam ayat 24 Paulus dua kali memakai istilah “bilamana” (LAI, bilamana . . . sesudah). Ada satu perbedaan yang penting antara kata bilamana dan sesudah. Bilamana berarti bahwa sesuatu dapat terjadi kapan saja. Hari ini Kristus dapat membinasakan semua pemerintah, kekuasaan, dan kekuatan, jika Dia menghendakinya. Paulus tidak menetapkan waktunya, karena ia bukan Tuhan. Karena itu, ia mengatakan “bilamana.” Bilamana Kristus membinasakan semua pemerintah, kekuasaan, dan kekuatan, itulah tiba kesudahannya.
Dalam ayat 25 Paulus membicarakan tentang Kristus, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Agar Kristus dapat memerintah, maka Dia harus berada di dalam kebangkitan. Jika tidak ada kebangkitan, Kristus akan tetap berada dalam kubur, dan tidak mungkin memerintah. Kristus mulai memerintah sejak waktu kebangkitan-Nya. Dalam Matius 28:18, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dia memiliki otoritas untuk memerintah. Sekarang di bawah pemerintahan-Nya kita harus memuridkan bangsa-bangsa, membawa bangsa-bangsa ke dalam Kerajaan-Nya dan membuat mereka menjadi umat-Nya. Hari ini Raja yang sesungguhnya, Penguasa yang sesungguhnya, adalah Tuhan Yesus. Menurut Wahyu 1, Dia adalah Penguasa raja-raja di bumi. Setiap raja, ratu, presiden, dan kepala negara berada di bawah pemerintahan-Nya. Sebenarnya, pernyataan ini juga adalah satu bagian yang tegas dari sanggahan Paulus bagi orang-orang yang mengatakan tidak ada kebangkitan.
Dalam ayat 25 Paulus mengatakan bahwa Kristus harus memerintah sampai Dia meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Akhirnya, pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, zaman yang terakhir dari ciptaan lama, setiap musuh akan diletakkan di bawah kaki Kristus. Kata “sampai” menunjukkan hal ini dan menunjuk kepada akhir dari masa seribu tahun. Itu akan menjadi waktu ketika setiap musuh telah diletakkan di bawah kaki Kristus.
Dalam ayat 26 Paulus berkata, “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.” Segera setelah kejatuhan manusia, Allah memulai pekerjaan-Nya untuk menyingkirkan dosa dan maut. Pekerjaan ini berlanjut terus melalui zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan masih berlangsung hingga hari ini. Ketika dosa dilenyapkan pada akhir ciptaan lama, dan ketika sumbernya, Iblis dicampak-kan ke dalam lautan api (Why. 20:7-10), maut akan dihapus, Maut dan kuasa maut, yaitu alam maut, akan dicampakkan ke dalam lautan api setelah penghakiman terakhir dan final pada takhta putih (Why. 20:11-15).
Dalam ayat 27 Paulus menjelaskan, “Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan bahwa ‘segala sesuatu telah ditaklukkan’, maka teranglah bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya.” Kata ganti “Ia” dalam ayat ini mengacu kepada Allah yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus. Ini mengutip Mazmur 8:7-9 mengenai Kristus sebagai manusia yang Allah angkat untuk berkuasa atas segala sesuatu. Ini akan digenapi ketika segala sesuatu yang disebut dalam ayat 24-26 telah terjadi. Kata “sebab” pada permulaan ayat ini menunjukkan hal ini.
Dalam ayat 27 frase “kaki-Nya” dan kata ganti “Nya” mengacu kepada Kristus sebagai Manusia yang dinubuatkan dalam Mazmur 8:5-9. Bagi Dialah Manusia yang bangkit, dimuliakan, dan ditinggikan Allah telah menaklukkan segala sesuatu (Ibr. 2:7-9; Ef. 1:20-22). Allah telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus. Namun, jelas hal ini tidak mencakup Allah itu sendiri. Allah, yaitu Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu kepada Kristus, adalah satu-satunya pengecualian.
Ayat 28 mengatakan, “Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.” Inilah pelaksanaan pemerintahan Allah melalui kebangkitan.
Kata ganti “Ia” yang pertama-tama dipakai dalam ayat 28, itu mengacu kepada Kristus, yang kepada-Nya Allah telah menaklukkan segala sesuatu. Kata ganti “Dia” meng-acu kepada Allah, yaitu Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu kepada Kristus. Menurut ayat 28, pada akhirnya Putra sendiri akan ditaklukkan kepada Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. Kristus, Putra Allah, sebagai kepala umat manusia dalam keinsanian-Nya, berada di bawah kekepalaan Allah Bapa (11:3). Ini adalah untuk pemerintahan Kerajaan Allah. Setelah Allah Bapa menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus sebagai Manusia yang bangkit dalam kemuliaan (Ef. 1:22; Ibr. 2:7-8), dan setelah Kristus sebagai Manusia yang bangkit ini meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya untuk melaksanakan penaklukan Allah Bapa atas segala sesuatu kepada-Nya, Dia sebagai Putra Allah, selanjutnya menyerahkan kembali kerajaan kepada Allah Bapa (ayat 24), juga akan menaklukkan diri-Nya sendiri di dalam keilahian-Nya kepada Allah, yang telah menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, Putra di dalam keinsanian-Nya. Ini menunjukkan ketaatan dan ketundukan yang mutlak di bawah kuasa Allah dari Putra kepada Bapa, yang meninggikan Bapa, supaya Bapa dapat menjadi semua dan di dalam segala sesuatu.
Pada butir ini saya ingin menyinggung Efesus 1:10: “Sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” Bagaimana cara Allah menaklukkan segala sesuatu di bawah Kristus? Dia akan melakukan hal ini dengan mengepalai segala sesuatu di dalam Kristus. Lagi pula, melalui gerejalah segala sesuatu akan dikepalai di dalam Kristus. Pertama, Kristus harus memiliki Tubuh, yaitu gereja. Dalam Tubuh-Nya terlebih dulu Dia harus mengepalai kita. Kita telah melihat bahwa dalam 1Korintus 11:3 Paulus mengatakan bahwa kepala dari Kristus ialah Allah, Kepala dari setiap laki-laki ialah Kristus, dan kepala dari perempuan ialah laki-laki. Pengepalaan ini pertama-tama terjadi di dalam gereja. Gereja adalah Tubuh bagi Kristus Sang Kepala untuk mengepalai segala sesuatu. Begitu gereja dikepalai, gereja akan dipakai oleh Kristus sebagai Tubuh-Nya untuk mengepalai segala sesuatu. Ini akan terjadi dalam kebangkitan.
Dalam 11:3 Paulus memulai dengan kekepalaan dan dalam 15:24-28 ia menyimpulkan dengan kebangkitan. Dalam kebangkitan, Kristus bukan hanya menjadi Roh pemberi hayat untuk menyalurkan hayat-Nya ke dalam Tubuh-Nya; Dia juga menjadi Raja yang memerintah untuk melaksanakan pemerintahan Allah. Semua hal ini berada dalam kebangkitan. Di satu pihak, bagi kita sebagai umat pilihan Allah, Kristus dalam kebangkitan adalah Roh pemberi hayat yang menyalurkan hayat kepada kita. Di pihak lain, bagi bangsa-bangsa, Kristus dalam kebangkitan telah menjadi Raja yang memerintah yang melaksanakan pemerintahan Allah. Tubuh-Nya harus bekerja sama dengan-Nya dalam hayat kebangkitan dan otoritas kebangkitan, supaya gereja dapat dikepalai. Kemudian semua bangsa akan dikepalai. Selain itu, sewaktu Dia mengepalai segala sesuatu, Dia menundukkan, menaklukkan musuh-musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Akhirnya, pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, setelah akhir segala zaman dan pengaturan, pemerintahan Allah akan sepenuhnya digenapkan dan Kristus akan menyerahkan kembali kerajaan kepada Allah, yaitu Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya. Kemudian akan ada langit baru dan bumi baru, dan kita akan berada dalam Yerusalem Baru menikmati Kristus dan memerintah bersama atas bangsa-bangsa. Inilah pemerintahan Allah yang dilaksanakan dalam kebangkitan Kristus yang almuhit.