← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 19/23

MENANGGULANGI MASALAH KEBANGKITAN (1)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 15:1-11

Dalam 15:1-58 Paulus menanggulangi masalah kebangkitan. Dalam berita ini kita akan melihat 15:1-11.

I. KEBANGKITAN KRISTUS, VITALITAS INJIL

Kebangkitan Kristus adalah vitalitas (daya hidup) Injil. Ada banyak filsafat dan agama di bumi ini. Tetapi, setiap filsafat atau agama itu kekurangan hayat. Dalam filsafat atau agama mungkin ada banyak pengajaran dan doktrin, tetapi tidak ada hayat. Injil Tuhan justru mengandung hayat, bahkan mengandung hayat kebangkitan.

Hayat kebangkitan adalah hayat yang mengalahkan kematian, hayat yang masuk ke dalam kematian, yang tetap berada dalam kematian untuk sejangka waktu, dan kemudian keluar dari kematian. Maka, hayat ini adalah hayat yang mengalahkan kematian dan menaklukkan kematian. Karena itu, hayat ini disebut hayat kebangkitan.

Injil Kristus bukan hanya memiliki hayat; melainkan juga kuasa hayat yang menaklukkan kematian, mengalahkan kematian, dan menyingkirkan kematian. Hayat ini, hayat yang telah menaklukkan, mengalahkan, dan menyingkirkan kematian ini, adalah hayat kebangkitan. Tahukah Anda apakah hayat kebangkitan? Kebangkitan adalah hayat yang menang atas kematian.

Kita telah menunjukkan bahwa Kitab 1Korintus dapat dibagi menjadi dua bagian besar, dengan pasal 1-10 membentuk bagian yang pertama dan pasal 11-16 membentuk bagian yang kedua. Dalam bagian pertama Paulus menanggulangi kehidupan sehari-hari orang Kristen. Untuk hal ini, perlu Kristus. Kristus adalah faktor yang unik untuk memecahkan semua masalah dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen. Kristus ini, yaitu pemecahan bagi semua masalah dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen, adalah hikmat Allah dan kekuatan Allah. Kristus adalah Dia yang berinkarnasi, yang hidup di bumi sebagai seorang manusia, yang mati di atas salib, dan yang telah bangkit dari antara orang mati.

Beberapa agama memiliki pengajaran tentang Yesus, tetapi pengajaran-pengajaran itu tidak sesuai dengan Alkitab. Misalnya, ada ajaran yang mengatakan bahwa meskipun Yesus disalibkan, Dia tidak mati di sana, tetapi diambil oleh para malaikat. Menurut ajaran itu, Yesus ini, yaitu nabi yang paling besar, ada di surga. Sesungguhnya ajaran itu tidak percaya kepada Kristus yang tersalib dan bangkit. Tetapi menurut Alkitab, kita percaya bahwa Kristus disalib, dikubur, dan bangkit. Karena itu, Kristus kita adalah Kristus yang bangkit. Selain itu, Dia sendiri sebenarnya adalah kebangkitan (Yoh. 11:25). Dia adalah hayat yang mengalahkan dan menaklukkan maut. Haleluya, Kristus kita adalah hayat yang mengalahkan maut! Dia adalah kebangkitan!

Agar menjadi hikmat dan kekuatan Allah bagi kita untuk membereskan masalah-masalah kita dalam kehidupan sehari-hari, Kristus harus menjadi Kristus yang bangkit. Hari ini kita memiliki Dia dalam kebangkitan. Kristus yang hidup di dalam kita sebagai hayat kita adalah Kristus yang bangkit.

Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam bagian kedua dari kitab ini, yaitu pasal 11-16, Paulus menanggulangi lima masalah dalam ruang lingkup pemerintahan Allah. Jika kita ingin mengenal pemerintahan ilahi ini, kita perlu paham bahwa pernah terjadi pemberontakan di alam semesta ini. Di bawah kepemimpinan Iblis, penghulu malaikat, banyak malaikat yang memberontak terhadap Allah. Ini adalah perkara dalam ruang lingkup penciptaan Allah. Dalam penciptaan sebermula Allah ada satu pemberontakan. Karena itu, Allah kemudian melakukan penciptaan yang kedua, yang terutama melibatkan penciptaan manusia. Dalam Kejadian 1 penciptaan di situ terutama adalah penciptaan manusia, bukan penciptaan langit dan bumi. Kejadian 1:1 mengatakan, ”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Ayat-ayat selanjutnya dari pasal ini membicarakan tentang pemulihan langit dan bumi dengan penciptaan ras manusia. Setelah penciptaan manusia, datanglah Iblis, si pemberontak, menggoda manusia untuk mengikutinya. Akibatnya, manusia juga memberontak terhadap Allah. Karena itu, telah ada satu pemberontakan di antara ras malaikat dan pemberontakan lainnya di antara ras manusia. Dalam penciptaan, Allah tidak dapat melaksanakan pemerintahan-Nya, karena pemberontakan malaikat dan manusia.

Pada suatu hari, Allah sendiri datang dalam Putra sebagai seorang manusia. Menurut Yesaya 9:5, nama-Nya disebut ajaib. Dia begitu ajaib sehingga tidak ada seorang pun yang dapat sepenuhnya memahami Dia. Dia adalah Allah dan manusia pada waktu yang sama. Yesaya 9:5 juga memberi tahu kita bahwa meskipun Dia adalah seorang anak, tetapi Dia disebut Allah yang perkasa, dan meskipun Dia adalah putra, namun nama-Nya disebut Bapa yang kekal. Manusia-Allah yang ajaib ini hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Kebanyakan waktu hidup-Nya diluangkan di rumah seorang tukang kayu di kota kecil Nazaret. Bayangkan, Dia yang disebut Allah yang perkasa dan Bapa yang kekal itu hidup dalam situasi yang demikian selama lebih dari tiga puluh tahun! Akhirnya, Dia keluar untuk melayani. Dia melaksanakan ministri-Nya selama tiga setengah tahun. Pada akhir waktu ini, Dia dibawa ke salib. Sebenarnya, tidaklah mutlak tepat bila mengatakan bahwa Kristus dibawa ke salib, karena dalam Yohanes 10 Dia memberi tahu kita bahwa Dia rela menyerahkan nyawa-Nya. Ini berarti Dia rela berjalan ke Golgota, ke Kalvari. Dia rela diletakkan di atas salib.

Tuhan telah disalibkan, ini adalah perkara yang benarbenar, yang sungguh-sungguh dan nyata telah terjadi. Dengan paku di tangan-Nya dan kaki-Nya, Dia digantung di atas salib itu, sekitar selama enam jam, dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Selama tiga jam yang pertama, manusia melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk mencemooh Dia. Kemudian dalam tiga jam yang terakhir, Allah datang menghakimi Dia sebagai pengganti kita. Sewaktu Allah menghakimi Dia, Kristus mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita. Dari lambung-Nya keluar darah dan air; darah bagi penebusan dan air bagi pembebasan hayat. Karena itu, melalui penyaliban-Nya, Kristus menggenapkan penebusan dan membebaskan hayat ilahi.

Segera setelah Dia mati, Kristus diberikan satu penguburan yang layak di sebuah kubur milik seorang yang kaya. Kemudian pada hari yang ketiga Dia bangkit. Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Kristus dibangkitkan. Di pihak lainnya, Alkitab juga mengatakan bahwa Kristus bangkit, Dia tidak memerlukan siapa pun untuk membangkitkan diri-Nya. Bagaimana mungkin Kristus dapat bangkit dari antara orang mati? Dia bisa bangkit karena Dia sendiri adalah kebangkitan.

Kristus rela dikubur, masuk ke dalam kematian, kubur, dan Alam Maut. Sewaktu Dia berada di Alam Maut, Dia menguji maut, mempermalukan maut, mengalahkan, dan menaklukkan maut. Dia masuk ke dalam ruang lingkup maut untuk berpariwisata di sana dan melihat apa yang dapat dilakukan maut. Akhirnya Dia menemukan bahwa maut tidak dapat berbuat apa-apa terhadap diri-Nya. Maut tidak memiliki kuasa untuk menahan-Nya, menghalangi-Nya (Kis. 2:24). Ketika tiba waktunya bagi Dia untuk bangkit, Dia mengucapkan selamat tinggal kepada maut dan berjalan meninggalkannya. Demikianlah, Kristus telah mengalahkan maut, menaklukkan maut, dan keluar dari maut. Inilah kebangkitan.

Kita tidak dapat memahami sepenuhnya tentang Trinitas, inkarnasi, penyaliban, atau kebangkitan. Pada faktanya, kita bahkan tidak dapat sepenuhnya memahami kehidupan fisik kita. Dapatkah Anda menjelaskan apakah hayat Anda itu? Lagi pula, apakah Anda dapat memahami sepenuhnya roh Anda dan hati psikologi Anda? Adalah fakta bahwa kita memiliki roh dan hati psikologi, tetapi kita tidak dapat memahami sepenuhnya akan hal-hal ini. Sesungguhnya adalah satu kebodohan bila kita menolak untuk mempercayai hal-hal ini karena kita tidak dapat memahaminya secara memadai. Begitu pula hubungannya dengan Trinitas, inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan.

Firman Allah itu layak dipercaya. Firman Allah memberi tahu kita bahwa Allah itu Tritunggal, Allah Bapa, Putra, dan Roh. Pada suatu hari Allah ini menjadi seorang manusia. Itulah inkarnasi. Kemudian Dia yang berinkarnasi ini, perwujudan dari Allah Tritunggal ini, hidup di bumi, dan disalibkan. Ini adalah satu rahasia. Dia yang mati di atas salib bukan hanya seorang manusia, tetapi juga adalah Allah. Tetapi bagaimana Allah dapat mati? Ini adalah satu rahasia. Dalam salah satu kidungnya, Charles Wesley berkata, ”Betapa Tuhan, Allah mati bagi aku?” Bait lainnya dari kidung ini (Kidung 234) berbunyi, ”Dia Sang Hidup, rela mati! Mengherankan, tak terpahamkan!” Ini sungguh mengherankan, dan kita tidak dapat memahami sepenuhnya. Setelah Kristus mati, Dia dikubur, dan bangkit kembali. Kita juga dapat mengatakan bahwa Dia telah bangkit. Dia bukan hanya dibangkitkan oleh Allah, tetapi Dia sendiri bangkit. Semuanya ini inkarnasi, penyaliban, kebangkitan adalah fakta.

Namun, beban saya dalam berita ini bukan hanya membicarakan fakta-fakta ini; tetapi juga melihat makna rohani dan realitas dari fakta-fakta ini. Apakah makna inkarnasi? Makna dari inkarnasi Kristus adalah Allah masuk ke dalam manusia dan menjadi satu dengan manusia. Tetapi menurut pemahaman yang dangkal dari banyak orang Kristen hari ini, makna inkarnasi itu hanyalah kedatangan seorang Penyelamat. Memang, Injil Lukas mengatakan bahwa seorang Juruselamat telah lahir bagi kita di Betlehem (2:11). Tetapi, dengan mewahyukan sesuatu yang lebih dalam, Injil Yohanes membicarakan inkarnasi demikian: Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah, dan yang adalah Allah pada mulanya, telah menjadi daging (1:1, 14). Ini bukan hanya mendatangkan Penyelamat; ini adalah membawa Allah ke dalam manusia dan membuat Allah dan manusia menjadi satu. Ini juga membuat Allah menjadi satu dengan daging, karena Yohanes 1:14 mengumumkan: ”Firman itu telah menjadi daging” (Tl.). Di sini Firman itu mengacu kepada Allah, dan daging ditujukan kepada manusia. Pada Firman yang menjadi daging ini ada kasih karunia dan kebenaran. Seperti dikatakan dalam Yohanes 1:17, ”Kasih karunia dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Karena itu, inkarnasi adalah membawa Allah ke dalam manusia dan membuat Allah dan manusia menjadi satu. Betapa besarnya keajaiban ini! Ini adalah satu keajaiban yang lebih besar daripada penciptaan Allah atas alam semesta, manusia, dan segala isinya. Betapa ajaibnya, betapa rahasianya, bahwa melalui inkarnasi Allah datang menjadi satu dengan manusia!

Ketika Kristus, manusia-Allah, mati di atas salib, Dia adalah Anak Domba Allah (Yoh. 1:29). Melalui kematianNya di atas salib, Dia menggenapkan penebusan. Namun, makna dari penyaliban ini bukan sekadar penebusan. Tentu, penebusan adalah satu bagian yang sangat penting dari penyaliban. Tetapi Kristus bukan hanya mati untuk menggenapkan penebusan bagi kita; Dia mati untuk mengakhiri seluruh ciptaan lama. Tahukah Anda apakah makna yang almuhit dari penyaliban Kristus? Maknanya adalah bahwa salib Kristus mengakhiri seluruh ciptaan lama, termasuk ras malaikat, langit bumi yang dipulihkan dan yang kembali jatuh ini, dan ras manusia. Ketika Kristus berada di atas salib, Dia tidak sendiri digantung di sana. Ciptaan lama ada pada-Nya, dan disalibkan dengan-Nya. Karena itu, di atas salib, Kristus mengakhiri ras malaikat, langit dan bumi, ras manusia, dan setiap butir dari ciptaan lama. Walaupun hal ini diwahyukan dalam Alkitab, tetapi tidak ada perkataan kebenaran demikian yang diberitakan di antara orang-orang Kristen pada hari ini. Meskipun demikian, inilah makna dari kematian Kristus. Inilah sebabnya kita menyebut kematian Kristus sebagai kematian yang almuhit.

Dalam Ibrani 10, tirai di Bait Allah adalah lambang dari kematian Kristus yang almuhit ini. Ibrani 10:19 dan 20 mengatakan bahwa tirai ini melambangkan daging Kristus: ”Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri.” Pada tirai di dalam Bait Allah itu, ada kerub yang disulam. Kerub-kerub itu melambangkan ciptaan Allah. Jadi, ketika tirai di Bait Allah itu robek, maka ciptaan-ciptaan yang tersulam pada tirai itu juga robek. Ini menunjukkan bahwa ketika Kristus disalibkan, kita, dengan seluruh ciptaan itu, juga disalibkan. Haleluya untuk kematian yang almuhit ini!

Sekali lagi, ketika Kristus mati, Dia membawa setiap butir dari ciptaan lama ke atas salib. Segala sesuatu telah disalibkan! Percayakah Anda akan hal ini? Saya percaya karena Alkitab memberi tahu saya demikian. Lagi pula, kita bukan hanya telah disalibkan kita juga telah dikubur di dalam kubur Yesus. Meskipun kubur itu kecil, tetapi alam semesta dikuburkan di dalamnya.

Kebangkitan berarti bahwa Kristus mati, dikubur, dan bangkit lagi. Kebangkitan ini adalah vitalitas Injil. Dalam kebangkitan yang penuh vitalitas inilah Allah bisa memiliki satu pemerintahan.

Sekarang kita dapat memahami mengapa pasal 15 ini meliput perkara kebangkitan. Dalam pasal 11-14 kita memiliki Kepala, Tubuh, dan semua karunia dengan fungsinya bagi pekerjaan untuk melaksanakan pemerintahan Allah. Namun, semua ini, harus berada dalam kebangkitan. Dalam penciptaan, Allah tidak memiliki cara untuk melaksanakan pemerintahan-Nya, karena malaikat dan manusia memberontak terhadap-Nya. Tetapi dalam kebangkitan, Allah memiliki cara untuk melaksanakan pemerintahan-Nya. Sebagai orang-orang Kristen, kita harus menjadi satu umat yang bangkit, dan gereja harus berada dalam kebangkitan. Hanya di dalam kebangkitanlah kita dapat menyadari ke kepalaan Allah, membedakan Tubuh, dan menjadi anggota-anggota Tubuh. Kristus tidak dapat memiliki Tubuh tanpa berada dalam kebangkitan. Jika tidak ada kebangkitan, tidak mungkin ada gereja. Gereja berada dalam kebangkitan, dan kita juga berada dalam kebangkitan.

Dalam kebangkitan ini pemerintahan Allah dapat dilak-sanakan. Satu Korintus 15:27 dan 28 menunjukkan hal ini: ”Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan bahwa ’segala sesuatu telah ditaklukkan’, maka teranglah bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya supaya Allah menjadi semua di dalam semua.” Menurut ayat 27 Allah telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus. Akhirnya, ketika segala sesuatu ditundukkan kepada Kristus, maka Allah akan menjadi semua di dalam semua. Inilah pelaksanaan pemerintahan Allah. Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa ayat-ayat ini terdapat dalam satu pasal yang menanggulangi masalah kebangkitan. Sungguh tidak masuk akal menyatakan bahwa tidak ada kebangkitan.

A. Diberitakan

1. Rasul Menghendaki Kaum Beriman Korintus Mengenal Injil

Dalam 15:1 dan 2 Paulus berkata, ”Dan sekarang, Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” Injil di sini adalah Injil yang penuh, meliputi pengajaran-pengajaran mengenai Kristus dan gereja, sebagaimana disingkapkan dengan sepenuhnya dalam kitab Roma (1:1; 16:25). Kita harus berdiri di atas Injil yang penuh, yaitu seluruh Perjanjian Baru, tidak hanya berdiri di atas pengajaran dan doktrin tertentu.

”Diselamatkan” dalam ayat 2 secara harfiah berarti di atas jalan keselamatan (Conybeare). Setelah kita dibenarkan dalam Kristus dan dilahirkan kembali oleh Roh itu, kita berada di dalam proses diselamatkan berdasarkan hayat Kristus (Rm 5:10), sampai kita matang, mutlak diserupakan dengan gambar-Nya (Rm. 8:29). Di satu pihak, kita telah diselamatkan; di pihak lain, kita sedang diselamatkan. Kita telah diselamatkan oleh kematian Kristus, tetapi kita sedang diselamatkan dalam kebangkitan-Nya.

2. Injil yang Disampaikan kepada Mereka

Dalam ayat 3 dan 4 Paulus selanjutnya berkata, ”Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” Menurut nubuat-nubuat Perjanjian Lama, Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita, telah dikuburkan untuk pengakhiran kita, dan telah dibangkitkan untuk permulaan hidup baru kita berdasarkan hayat (Yes. 53:5-8, 10-12; Mzm. 22:14-18; Dan. 9:26; Yes. 53:9; Mzm. 16:9-10; Hos. 6:2), semua ini adalah butir-butir dasar di antara hal-hal utama dari Injil. Butir terakhir adalah butir yang paling penting dalam Injil, karena ia adalah aspek positif dari Injil yang menyalurkan hayat kepada kita, supaya kita bisa mendapatkan hayat dan memperhidupkan Kristus dari diri kita. Butir lainnya dari Injil yang penuh ini meliputi Kristus sebagai rahasia Allah, gereja sebagai rahasia Kristus, dan Yerusalem Baru. Sebenarnya, Injil yang penuh ini meliputi seluruh Perjanjian Baru.

B. Disaksikan

Dalam ayat 5-11 Paulus membicarakan tentang saksi-saksi kebangkitan Kristus. Ayat 5 mengatakan, ”Bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.” Kata ”menampakkan” juga berarti ”dilihat oleh”. Para rasul dan para murid sebermula adalah saksi-saksi mata dari kebangkitan Kristus (Kis. 1:22), dan pemberitaan mereka menekankan kesaksian mereka akan hal ini (Kis. 2:32; 4:33). Mereka mempersaksikan Kristus yang bangkit tidak hanya dengan pengajaran mereka, tetapi juga kehidupan mereka. Mereka hidup ber-sama-sama dengan Dia dalam kehidupan-Nya di dalam kebangkitan (Yoh. 14:19).

Dalam ayat 8 dan 9 Paulus menyebut dirinya sendiri, ”Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena akulah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah.” Orang yang menganiaya Kristus dan gereja menjadi seorang rasul. Dalam ayat 10 Paulus melanjutkan, ”Tetapi karena

anugerah (kasih karunia) Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepa-daku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Kasih karunia yang disebut tiga kali dalam ayat ini adalah Kristus yang bangkit menjadi Roh pemberi hayat (ayat 45) untuk membawa Allah Tritunggal, yang telah melalui proses di dalam kebangkitan, ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat kita, agar kita dapat hidup di dalam kebangkitan. Karena itu, kasih karunia adalah Allah Tritunggal menjadi hayat dan segala-gala bagi kita. Karena kasih karunia inilah, Saulus dari Tarsus, orang yang paling berdosa (1Tim. 1:15-16), telah menjadi rasul di antara segala rasul, bekerja lebih keras daripada semua rasul. Ministri dan hidupnya yang bersandarkan kasih karunia ini merupakan kesaksian yang tidak dapat disangkal atas kebangkitan Kristus.

”Bukannya aku, melainkan anugerah Allah” sama dengan ”Bukan lagi aku melainkan Kristus” dalam Galatia 2:20. Kasih karunia yang mendorong rasul dan yang bekerja di dalamnya bukan suatu perkara atau benda, melainkan satu pribadi yang hidup, yaitu Kristus yang bangkit, perwujudan Allah Bapa yang menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit, yang berhuni di dalam rasul dan menjadi segala sesuatu bagi rasul.

Dalam ayat 10 ini kasih karunia adalah Kristus yang berada dalam kebangkitan dan yang adalah kebangkitan. Melalui kasih karunia ini, Paulus dapat menjadi apa adanya dia sekarang dan bekerja lebih keras daripada semua rasul lainnya. Bila kita membandingkan 1Korintus 15:10 dengan Galatia 2:20, kita melihat bahwa kasih karunia ini bukanah satu hal, melainkan satu Persona. Semua murid dan rasul yang melihat Kristus yang bangkit ini bukan hanya melihat Dia secara obyektif, tetapi juga mengalami Dia secara subyektif. Melalui mereka melihat Kristus, Dia masuk ke dalam mereka dan menjadi Dia yang subyektif di dalam mereka. Ketika hari Pentakosta tiba, inilah yang membuat mereka hidup, perkasa, dan lincah. Kristus yang bangkit ada di dalam mereka. Bukan hanya Kristus sendiri yang bangkit secara obyektif, melainkan dalam kebangkitan itu Dia hidup di dalam Petrus, Yohanes, dan semua rasul serta murid lainnya.

Sepanjang abad, semua hamba Allah yang hidup memiliki Kristus yang bangkit yang hidup di dalam mereka. Saya juga dapat bersaksi bahwa Dia hidup di dalam saya, membuat saya dapat melakukan apa yang tidak pernah dapat saya lakukan sendiri. Haleluya, Tuhan Yesus itu hidup! Bagaimana kita tahu Dia itu hidup? Seperti kidung mengatakan, kita tahu Dia hidup karena Dia hidup di dalam kita. Kita mungkin dianiaya dan ditentang, dan kita mungkin sangat menderita. Tetapi kita memiliki Kristus yang bangkit di dalam kita. Semakin kita ditentang, semakin kita menjadi hidup dan aktif. Jadi, kesaksian kita adalah ini: Bukan lagi aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai kita.