← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 18/23

PERHIMPUNAN ORANG KRISTEN YANG TEPAT

Pembacaan Alkitab:

1Kor. 1:2; 6:17; 14:32; Ef. 5:18-19; 2Kor. 2:10; Gal. 5:16, 25; Rm. 8:4

Pada permulaan zaman gereja, orang-orang kudus itu sangat sederhana. Mereka tidak memiliki Perjanjian Baru, dan sangat sedikit memiliki salinan dari Perjanjian Lama. Lagi pula, mereka tidak memiliki buku-buku kidung. Namun, ada satu hal: mereka semua memiliki Roh pemberi hayat yang almuhit. Dalam permulaan kehidupan gereja, tidak ada begitu banyak doktrin, praktek, atau cara-cara untuk bekerja bagi Tuhan. Sebaliknya, orang-orang kudus hanya menikmati Roh itu yang hidup dan berhuni di dalam roh mereka. Hal ini membuat mereka menjadi umat yang berbeda. Sebelum mereka diselamatkan, mereka berada dalam keadaan yang digambarkan oleh Paulus dalam Efesus 2:1-3. Tetapi setelah mereka diselamatkan, bertobat, dan dilahirkan kembali, mereka menjadi umat lainnya, satu umat yang dihuni oleh Roh yang almuhit.

BERSERU KEPADA NAMA TUHAN

Orang-orang dalam gereja sebermula dikenal melalui fakta bahwa mereka berseru kepada nama Tuhan Yesus. Kisah Para Rasul 9:14 mengatakan bahwa Saulus memiliki kuasa dari imam-imam kepala untuk membelenggu semua orang yang berseru kepada nama Tuhan. Praktek berseru kepada nama Tuhan Yesus ini adalah tanda dari orang beriman dalam Kristus. Orang-orang yang tidak percaya dapat dengan mudah mengenal orang Kristen melalui fakta bahwa ia berseru kepada nama Tuhan. Saya yakin bahwa orang-orang Kristen sebermula itu setiap hari berseru kepada nama Tuhan.

Dalam 1:2 Paulus menyinggung perkara ini: ”Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.” Ayat ini menunjukkan bahwa di satu pihak, kaum beriman adalah suatu umat yang terpanggil, karena mereka telah dipanggil oleh Allah. Di pihak lainnya, mereka adalah suatu umat yang berseru, karena mereka berseru kepada nama Tuhan Yesus Kristus. Kita telah dipanggil oleh Allah untuk berseru kepada nama Tuhan. Menurut ayat ini, kaum beriman ”di segala tempat” berseru kepada nama Tuhan.

PEMBICARAAN

Selain berseru kepada nama Tuhan, orang-orang dalam gereja yang sebermula banyak membicarakan tentang Tuhan Yesus. Mereka saling membicarakan Tuhan, kepada seorang akan yang lain dan kepada orang-orang yang tidak percaya. Pembicaraan mereka adalah bertutur-sabda, jenis bertutur-sabda yang ditekankan dalam Perjanjian Baru. Tidak seperti para nabi Perjanjian Lama, orang-orang yang percaya kepada Kristus tidak perlu menunggu Roh Tuhan turun ke atas mereka untuk bertutur-sabda. Sejak kita berseru kepada nama Tuhan untuk kali pertama, Kristus sebagai Roh yang hidup itu telah ada di dalam roh kita. Karena alasan ini, maka Paulus dapat berkata, ”Siapa yang mengikatkan diri-Nya pada Tuhan menjadi satu roh dengan Dia” (6:17). Betapa ajaib bahwa Roh itu berbaur dengan roh kita! Lagi pula, roh ini tunduk kepada kita (14:32). Karena roh kita tunduk kepada kita, maka tidak perlu lagi menunggu Roh itu turun ke atas kita. Sebaliknya, kita hanya perlu melatih roh kita. Sesungguhnya orang-orang Kristen dalam permulaan kehidupan gereja melatih roh mereka untuk berbicara kepada satu sama lain dan kepada orang-orang yang tidak percaya demi kepentingan Tuhan.

Betapa sederhananya orang-orang kudus dalam permulaan kehidupan gereja! Dalam sidang-sidang mereka pasti ada banyak seruan, pembicaraan, nyanyian, dan pujian. Menurut Efesus 5:19, mereka berkata-kata seorang kepada yang lain dengan mazmur dan kidung pujian dan nyanyian rohani, bernyanyi dan bermazmur dengan segenap hati mereka kepada Tuhan.

Kapan saja kita berhimpun bersama dalam sidang-sidang gereja, kita harus memamerkan apa yang kita nikmati setiap hari atas diri Tuhan. Dalam suatu pameran, orang-orang memperlihatkan atau memamerkan sesuatu yang mereka miliki atau mereka hasilkan. Kita hanya bisa memamerkan apa yang kita miliki, bukan apa yang tidak kita miliki. Perhimpunan orang Kristen yang tepat harus merupakan satu pameran dari kehidupan kristiani kita. Sidang ini harus menjadi satu pameran kekayaan Kristus yang kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Jika kita setiap hari melatih roh kita untuk mengontak Tuhan, maka dalam sidang-sidang gereja kita akan memiliki sesuatu dari Kristus untuk dibagikan dan dinikmati bersama orang-orang kudus.

HIDUP DALAM PETUNJUK DARI MATA KRISTUS

Tuhan Yesus bukanlah satu agama atau seperangkat peraturan atau pengajaran. Dia adalah satu Persona yang hidup yang dapat kita kontaki hari demi hari. Sebagai Roh almuhit yang menghuni roh kita, Dia itu riil dan tersedia. Jam demi jam dan bahkan saat demi saat, kita harus melatih roh kita untuk mengontak Dia secara intim. Kita perlu memupuk kebiasaan berseru kepada nama Tuhan di segala waktu dan di segala tempat. Jika kita membangun praktek ini, maka kita akan dapat berkata, ”O, Tuhan Yesus, nama-Mu adalah yang termanis di bumi.”

Sewaktu kita mengontak Tuhan dan berseru kepada nama-Nya, kita harus berjalan bersama Dia, hidup oleh-Nya, dan melakukan segala sesuatu menurut petunjuk dari mata-Nya. Petunjuk mata ini mengacu kepada daerah sekitar mata, yaitu pandangan seperti petunjuk dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang di dalam yang mewakili seluruh diri seseorang. Menurut 2Korintus 2:10, Paulus hidup dalam persona, petunjuk Kristus. Ia melakukan segala sesuatu menurut ekspresi yang disampaikan melalui petunjuk dari mata Tuhan. Kita juga harus hidup menurut petunjuk Kristus ini. Namun, ini hanya mungkin terjadi bila kita hidup di hadirat-Nya. Jika kita jauh dari Dia atau ada sesuatu di antara kita dengan Dia, kita tidak dapdalam kita. Misalnya, kita memaksakan diri untuk pergi ke pusat perbelanjaan, sekalipun dalam lubuk kita merasakan bahwa Tuhan tidak menyetujuinya. Kita mungkin tawar menawar dengan Tuhan, meminta kepada-Nya agar Dia membiarkan kita pergi sekali ini saja dan berjanji kepada-Nya bahwa kita tidak akan pergi lagi. Bila kita berbicara demikian kepada Tuhan, maka kita tidak jujur atau benar terhadap-Nya. Kapan saja kita berkata, ”Tuhan biarkan aku melakukan hal ini sekali ini saja,” maka selalu akan ada yang kedua. Jika kita tidak mengontak Dia setiap hari dan hidup oleh-Nya, maka apa yang akan kita miliki dari Kristus untuk dipamerkan dalam sidang-sidang gereja? Tentunya kita tidak dapat memperlihatkan ketidaktaatan kita kepada Tuhan, atau bersaksi mengenai bagaimana kita pergi berbelanja tanpa mendengar teguran Tuhan dalam batin kita. Karena mereka tidak memiliki apa-apa dari Kristus untuk dipamerkan, maka banyak orang kudus yang diam saja dalam sidang-sidang gereja. Tetapi jika kita menikmati Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari dan bersaksi dalam sidang-sidang gereja tentang kenikmatan ini, kita akan memiliki lebih banyak kenikmatan terhadap Tuhan. Semakin kita membicarakan tentang Kristus, kita akan semakin menikmati Dia, semakin dipenuhi Dia sehingga menjadi seluruh kepenuhan Allah.

KEMBALI KEPADA KESEDERHANAAN

Beban saya dalam berita ini adalah memberi kesan kepada Anda dengan kesederhanaan orang-orang Kristen yang sebermula. Kiranya Tuhan memulihkan kesederhanaan dalam kita. Misalnya, kita memaksakan diri untuk pergi ke pusat perbelanjaan, sekalipun dalam lubuk kita merasakan bahwa Tuhan tidak menyetujuinya. Kita mungkin tawar menawar dengan Tuhan, meminta kepada-Nya agar Dia membiarkan kita pergi sekali ini saja dan berjanji kepada-Nya bahwa kita tidak akan pergi lagi. Bila kita berbicara demikian kepada Tuhan, maka kita tidak jujur atau benar terhadap-Nya. Kapan saja kita berkata, ”Tuhan biarkan aku melakukan hal ini sekali ini saja,” maka selalu akan ada yang kedua. Jika kita tidak mengontak Dia setiap hari dan hidup oleh-Nya, maka apa yang akan kita miliki dari Kristus untuk dipamerkan dalam sidang-sidang gereja? Tentunya kita tidak dapat memperlihatkan ketidak-taatan kita kepada Tuhan, atau bersaksi mengenai bagaimana kita pergi berbelanja tanpa mendengar teguran Tuhan dalam batin kita. Karena mereka tidak memiliki apa-apa dari Kristus untuk dipamerkan, maka banyak orang kudus yang diam saja dalam sidang-sidang gereja. Tetapi jika kita menikmati Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari dan bersaksi dalam sidang-sidang gereja tentang kenikmatan ini, kita akan memiliki lebih banyak kenikmatan terhadap Tuhan. Semakin kita membicarakan tentang Kristus, kita akan semakin menikmati Dia, semakin dipenuhi Dia sehingga menjadi seluruh kepenuhan Allah.

KEMBALI KEPADA KESEDERHANAAN

Beban saya dalam berita ini adalah memberi kesan kepada Anda dengan kesederhanaan orang-orang Kristen yang sebermula. Kiranya Tuhan memulihkan kesederhanaan yang demikian di antara kita di dalam pemulihan-Nya hari ini! Jika kita dibawa kembali kepada kesederhanaan ini dalam sidang-sidang kita, kita tidak akan memakai kidung atau bahkan Alkitab untuk menggantikan Roh yang almuhit itu. Kadang-kadang kita mungkin mengadakan satu sidang di mana di dalamnya kita tidak memakai kidung atau Alkitab. Sebaliknya, kita hanya memperlihatkan Kristus melalui melatih roh kita. Saya bisa dipisahkan dari kidung saya dan dari Alkitab saya, tetapi saya tidak bisa dipisahkan dari Kristus yang almuhit di dalam roh saya. Namun, jika beberapa orang Kristen tidak memiliki kidung atau Alkitab, mereka tidak akan memiliki apa-apa. Mereka tahu bagaimana bernyanyi dari kidung itu dan bagaimana memakai Alkitab, tetapi mereka tidak tahu bagaimana melatih roh untuk mengalami Kristus sebagai Roh pemberi hayat. Oh, kiranya Tuhan membuat kita menaruh kepercayaan kita bukan di dalam hal lainnya selain Kristus yang hidup itu sendiri!

Kita telah melihat bahwa meskipun orang-orang Kristen dalam gereja yang sebermula itu tidak memiliki Alkitab atau kidung, tetapi mereka memiliki Kristus yang hidup. Mereka berseru kepada nama-Nya dan banyak membicarakan tentang Kristus. Mereka juga menyanyi dan memuji Tuhan. Karena itu, kapan saja mereka berkumpul bersama, mereka dapat memamerkan apa yang telah mereka alami dan nikmati tentang Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari. Melalui hal ini kita melihat bahwa sidang orang Kristen yang tepat harus merupakan ekspresi dari kehidupan orang Kristen. Kita tidak boleh membuat sidang-sidang itu menjadi sesuatu yang berbeda atau terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Jika kita berbuat demikian, sidang-sidang kita akan menjadi sandiwara, balai sidangnya akan menjadi satu teater, dan orang-orang kudusnya menjadi para pemainnya. Sidang-sidang kita tidak boleh menjadi sandiwara; sidang-sidang kita harus menjadi pameran dari cara hidup kita di rumah, di sekolah, dan di tempat kerja. Sidang-sidang kita harus menjadi ekspresi Kristus yang olehnya dan di dalamnya kita hidup hari demi hari. Untuk memiliki sidang-sidang yang tepat, pertama-tama kita harus memiliki kehidupan sehari-hari yang tepat.

HIDUP MENURUT ROH

Jika kita ingin memiliki satu kehidupan Kristen yang tepat, maka kita perlu hidup menurut roh. Adalah bermakna bahwa Perjanjian Baru tidak menyuruh kita hidup menurut Kitab Suci, melainkan hidup menurut roh (Rm. 8:4). Dalam Galatia 5:16 Paulus berkata, ”Hiduplah oleh Roh.” Dalam ayat 25 ia selanjutnya berkata, ”Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Kita harus berperilaku bukan menurut pengajaran atau doktrin, melainkan menurut Roh. Hari ini Roh itu adalah Kristus yang telah masuk ke dalam roh kita dan yang sekarang berbaur dengan roh kita. Kita perlu hidup menurut roh perbauran ini. Semakin kita hidup menurut roh perbauran ini, kita akan semakin dipenuhi dalam roh, dan menjadi seluruh kepenuhan Allah. Kemudian kita akan tahu bagaimana berseru kepada nama Tuhan, bagaimana berbicara kepada orang lain, dan bagaimana bernyanyi dan bersaksi. Jika kita memupuk kebiasaan-kebiasaan ini, sidang-sidang kita dengan spontan akan menjadi satu pameran dari kehidupan kita sehari-hari. Betapa berbedanya sidang-sidang yang demikian dengan pelayanan-pelayanan agama yang formal dari kekristenan pada hari ini!

PRODUK DARI KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI

Kita harus mengakui bahwa kita masih berada di bawah pengaruh kekristenan yang tradisional. Kita lahir ke dalam lingkungan itu dan dibesarkan di bawah pengaruhnya. Tetapi di dalam pemulihan Tuhan kita harus membuang kekristenan yang tradisional, khususnya tradisi-tradisi yang berhubungan dengan sidang-sidang yang formal. Sidang-sidang kita tidak boleh dimulai dengan suatu cara yang formal. Sebaliknya, sidang-sidang kita harus dimulai dengan spontan melalui latihan roh kita. Namun, saya katakan sekali lagi bahwa sidang semacam ini adalah produk dari latihan roh kita untuk mengalami Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita tidak melatih roh kita dalam kehidupan kita sehari-hari, apa saja yang kita lakukan dalam sidang-sidang itu akan menjadi satu sandiwara saja, bukan pameran yang spontan dari kehidupan kristiani kita sehari-hari. Jika kita hari demi hari hidup di dalam roh, tidak akan ada seorang pun yang dapat meramalkan bagaimana sidang-sidang itu akan dimulai. Kita hanya akan berkumpul bersama untuk mengadakan pameran yang spontan atas kekayaan-kekayaan Kristus bagi pembangunan gereja. Karena pengaruh tradisi dan konsepsi alamiah, maka sangat mudah bagi kita untuk bersidang secara sistematis. Sidang-sidang demikian dapat menjadi formal dan mutlak tidak ada spontanitas dari Roh itu. Oh, kita memerlukan kebebasan! Kita memerlukan kelepasan! Tetapi kebebasan dan kelepasan ini tidak dapat dimulai dengan sandiwara di dalam sidang-sidang; sebaliknya harus dimulai dengan latihan roh dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus menjadi satu macam orang, yaitu orang yang mengontak Tuhan, berseru kepada nama-Nya, membicarakan tentang Dia kepada orang lain, dan yang menyanyikan pujian-pujian kepada Tuhan. Kemudian ketika kita datang ke sidang-sidang gereja, kita harus tetap menjadi orang yang demikian. Dengan cara ini aktivitas kita dalam sidang-sidang akan memamerkan latihan kita dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita tidak sadar betapa kita masih berada di bawah tradisi agama yang membunuh. Yakinlah, kita masih terlalu banyak berada di bawah tradisi kekristenan. Anda mungkin bertanya apakah yang dapat kita lakukan terhadap hal demikian. Satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah melatih roh kita untuk mengadakan kontak yang intim dengan Tuhan sebagai Persona yang hidup hari demi hari. Kita tidak boleh berusaha membetulkan diri kita sendiri atau memperbaiki perilaku kita. Selain itu, kita tidak boleh berusaha untuk menjadi rohani atau kudus. Lupakanlah semua itu dan perhatikan saja petunjuk dari mata Tuhan. Kita harus hidup di hadirat Tuhan, bukannya berusaha untuk menjadi rohani. Kita perlu mengumumkan kepada Iblis dan kepada alam semesta ini: ”Aku tidak tahu arti kekudusan atau kerohanian. Aku hanya tahu bahwa Kristus adalah hayatku dan personaku. Hari ini Dia hidup di dalamku, dan aku hidup menurut petunjuk dari mata-Nya. Kedambaanku satu-satunya adalah menjadi satu dengan Dia. Aku tidak peduli apakah aku mengasihi atau membenci, apakah aku marah atau tenang. Aku hanya memperhatikan menerima Kristus sebagai personaku dan menjadi satu dengan Dia di dalam segala sesuatu.”

MEMAMERKAN KRISTUS

UNTUK MENGANGKAT SIDANG

Di dalam kamus Kristen kita seharusnya hanya ada satu kata Kristus. Kristus adalah rendah hati kita, kesabaran kita, segala sesuatu kita. Betapa manis kehidupan kita sehari-hari bila kita mengambil Kristus sebagai segala sesuatu! Betapa ajaibnya hidup menurut petunjuk dari mata-Nya! Kehidupan yang demikian ini penuh dengan seruan, pembicaraan, nyanyian, dan pujian. Jika ini adalah pengalaman kita sehari-hari, maka dalam sidang-sidang itu tidak akan ada sandiwara. Sebaliknya, kita akan membebaskan roh kita dengan spontan untuk memamerkan Kristus. Jika semua orang kudus memiliki kehidupan sehari-hari yang demikian, maka sidang-sidang itu akan menjadi sejati, kaya, dan membubung, dan mutlak berbeda dengan sesuatu yang kita alami sebelumnya.

Marilah kita mengesampingkan konsepsi alamiah kita tentang bagaimanakah sidang itu seharusnya diadakan. Tuhan telah memperlihatkan kepada kita dengan jelas bahwa sidang yang tepat adalah pameran dari kehidupan kita sehari-hari sebagai orang Kristen. Di dalam sidang-sidang itu kita tidak boleh memfokuskan perhatian kita pada nyanyian, pemberitaan, atau pengajaran. Fokus kita seharusnya pameran dari kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita jelas tentang hal ini, kita akan sadar bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengajar kita bagaimana mengadakan sidang. Pengajaran hanya akan memimpin kepada pertunjukan, tidak pernah memimpin kepada pameran. Marilah kita semua memandang kepada Tuhan memohon belas kasihan-Nya dan berkata, ”Tuhan kami telah diselubungi dengan agama dan disimpangkan dari diri-Mu sendiri. Tuhan, bawalah kami kembali kepada-Mu sendiri, kembalikan kami dari begitu banyak hal yang baik, rohani, dan bahkan hal-hal yang alkitabiah. Buatlah kami mengnal Kristus dan hanya Kristus itu sendiri.”

Saya memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan ingin memulihkan kontak sehari-hari kita yang intim dengan-Nya dan memulihkan kehidupan kita oleh-Nya. Khususnya, saya berharap Tuhan mendapatkan orang-orang muda dalam hal ini, karena mereka sedikit berada di bawah pengaruh tradisi. Marilah kita semua bangkit untuk menanggalkan kekristenan yang tradisional. Jika kita menanggalkan tradisi-tradisi agama dan hanya memperhatikan Kristus yang hidup, maka kita akan memiliki roh yang tepat, roh kuasa, kasih, dan pikiran yang sehat. Kemudian dalam sidang-sidang kita akan diluapi dengan Roh itu. Semakin kita membicarakan tentang Tuhan, kita semakin harus berbicara.

Oh, kiranya kita semua menjadi sederhana dan berpaling kepada Kristus sendiri! Marilah kita melupakan tradisi-tradisi agama dan semua praktek yang formal. Tuhan sedang memanggil kita kembali ke Roh itu. Keperluan kita yang mendesak adalah hidup dan berjalan di dalam roh dan kemudian memamerkan kehidupan kita sehari-hari dalam Kristus secara korporat.