← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 17/23

MENANGGULANGI KARUNIA-KARUNIA (7)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 14:26-40

Bertahun-tahun, banyak yang dibicarakan dan ditulis mengenai 14:26-40. Alasan untuk hal ini adalah bahwa dalam Perjanjian Baru tidak ada firman yang jelas yang memberi tahu kita bagaimana orang-orang Kristen harus bersidang atau bagaimana kita harus berfungsi dalam sidang-sidang gereja. Bagian dari 1Korintus ini dianggap unik dalam Perjanjian Baru oleh beberapa orang, karena bagian ini kelihatannya memberi tahu kita bagaimana berfungsi dalam sidang-sidang. Namun, semakin kita mempelajari ayat-ayat ini, semakin ”sulit” diri kita. Tetapi karena Paulus telah memasukkan bagian ini dalam 1Korintus, kita perlu mempelajarinya dengan teliti.

VII. PENUNAIAN FUNGSI DALAM SIDANG GEREJA

A. Mengenai Tiap-tiap Orang

Dalam ayat 26 Paulus berkata, ”Jadi, bagaimana sekarang, Saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa lidah, atau karunia untuk menafsirkan bahasa lidah, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.” Kata ”mempersembahkan” dalam bahasa aslinya disebut lima kali dalam ayat ini, yang merupakan terjemahan dari kata Yunani echo, satu kata yang digunakan secara luas, mempunyai banyak arti, berikut ini adalah tiga arti yang terutama: (1) memegang, menduduki, menjaga (sesuatu barang); (2) memiliki (sesuatu barang) untuk kenikmatan; (3) memiliki cara atau kekuatan melakukan sesuatu. Dua arti yang pertama tentunya sesuai untuk ketiga butir pertama dari lima butir yang tercantum dalam ayat ini, dan arti yang ketiga tentunya sesuai untuk kedua butir terakhir, bahasa lidah dan penafsiran bahasa lidah. Ini menunjukkan bahwa ketika kita datang ke sidang gereja, kita harus memiliki sesuatu dari Tuhan untuk dibagikan kepada orang lain, atau ada mazmur (nyanyian) untuk memuji Tuhan; atau ada pengajaran (dari pengajar) yang melayankan kekayaan Kristus untuk menggenapkan dan merawat orang lain; atau ada wahyu (dari penutur sabda, ayat 30) yang memberikan visi-visi kehendak kekal Allah tentang Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus; atau ada bahasa lidah sebagai tanda bagi orang-orang yang tidak percaya (ayat 22) supaya mereka mengenal dan menerima Kristus, atau ada penerjemahan sehingga bahasa lidah mengenai Kristus dan Tubuh-Nya dapat dimengerti. Sebelum datang ke suatu sidang, kita seharusnya sudah mempersiapkan diri kita untuk sidang itu dengan hal-hal dari Tuhan dan milik Tuhan, baik melalui pengalaman kita tentang Dia atau melalui kenikmatan kita atas firman-Nya dan persekutuan dengan-Nya di dalam doa. Setelah datang ke dalam sidang itu, kita tidak perlu dan tidak seharusnya menunggu mendapatkan perasaan roh, melainkan harus menggunakan roh kita dan menggunakan pikiran kita yang telah dilatih untuk berfungsi, mempersembahkan apa yang telah kita siapkan untuk Tuhan bagi kemuliaan dan kepuasan-Nya, dan agar para hadirin mendapatkan faedah, yaitu mendapatkan penerangan, rawatan, dan pembangunan.

Ini seperti Hari Raya Pondok Daun pada zaman kuno. Orang-orang Israel membawa hasil tanah permai, yaitu tuaian dari jerih lelah mereka atas tanah itu, ke pesta dan dipersembahkan kepada Tuhan, agar dalam persekutuan dengan Tuhan dan dalam persekutuan satu dengan lainnya, Tuhan mendapatkan kenikmatan, dan saling memiliki kenikmatan di depan Tuhan. Kita harus berjerih lelah atas Kristus, tanah permai kita, supaya kita dapat menuai hasil dari kekayaan-Nya untuk dibawa ke sidang gereja dan dipersembahkan. Demikian sidang gereja akan menjadi pameran akan kekayaan Kristus, juga menjadi kenikmatan bersama atas Kristus oleh seluruh hadirin di hadapan Allah dan bersama dengan Allah, bagi pembangunan orang-orang kudus dan gereja.

Menurut penekanan dan penegasan surat ini, kelima perkara yang dicantumkan dalam ayat ini seharusnya berpusat pada Kristus sebagai inti Allah menjadi bagian kita dan gereja sebagai sasaran Allah menjadi tujuan kita. Mazmur seharusnya merupakan pujian bagi Allah karena memberikan Kristus sebagai hikmat dan kekuatan kita untuk kehidupan kita sehari-hari dan kehidupan gereja. Pengajaran dari pengajar dan wahyu dari penutur sabda seharusnya mengajar dan menyuplaikan Kristus dan gereja (yaitu Tubuh Kristus) kepada orang. Bahasa lidah dan penerjemahannya juga seharusnya mengambil Kristus dan gereja sebagai inti dan isi. Penekanan terhadap hal-hal lain apa pun selain Kristus dan gereja akan membawa kekacauan bagi gereja dan penyimpangan dari garis pusat ekonomi Perjanjian Baru Allah, menjadikannya seperti gereja di Korintus.

Dalam ayat 26 Paulus memberi tahu kita bahwa segala sesuatu harus dilakukan untuk membangun. Apa pun yang kita lakukan dalam sidang gereja haruslah bagi pembangunan orang-orang kudus dan gereja. Memamerkan Kristus dan menikmati Kristus dalam sidang-sidang bagi pembangunan Tubuh Kristus haruslah merupakan tujuan dan sasaran kita satu-satunya.

Kata ”mempersembahkan/memiliki” dalam ayat 26 ini sangat penting. Menurut Paulus, kapan saja kita semua datang berkumpul untuk bersidang, kita harus memiliki sesuatu. Paulus tidak mengatakan ”seharusnya memiliki” atau ”akan memiliki”; ia mengatakan dalam kala kini (present tense) untuk menekankan fakta dan mengatakan bahwa kita memiliki sesuatu, bahwa setiap orang dari kita memiliki sesuatu. Lagi pula, ia tidak mengatakan bahwa hanya beberapa orang saja yang memiliki sesuatu, banyak yang memiliki, atau kebanyakan memiliki; sebaliknya ia mengatakan bahwa ”tiap-tiap orang memiliki” sesuatu. Kemudian ia menyinggung lima hal dalam urutan berikut ini: mazmur, pengajaran, penyataan, bahasa lidah, dan penafsiran bahasa lidah. Daftar ini bukanlah yang almuhit; ini adalah ilustrasi saja. Ia pertama-tama menyinggung mazmur, bahasa lidah dan penafsiran bahasa lidah disebut paling akhir. Paulus menuliskan bahasa lidah dan penafsiran bahasa lidah di tempat yang terakhir karena dalam pasal ini pikirannya dipenuhi dengan pembangunan gereja bagi pemerintahan Allah.

Fakta bahwa Paulus menyinggung mazmur terlebih dahulu itu menunjukkan bahwa dalam sidang gereja, memuji Tuhan haruslah menjadi yang terutama. Mazmur agak sama dengan kidung. Di dalam pergerakan Pentakosta pada hari ini ada nyanyian ayat-ayat Alkitab. Namun, kebanyakan dari ayat-ayat itu diambil dari Perjanjian Lama. Saya ragu apakah ada nyanyian mengenai Kristus sebagai rahasia Allah atau gereja sebagai rahasia Kristus. Pernahkah Anda mendengar orang-orang di sidang Pentakosta menyanyikan Efesus 1, 3, atau 4? Kita perlu menuliskan not-not musik agar kita dapat menyanyikan pasal-pasal ini dan bagian-bagian kitab lainnya yang merupakan jantung wahyu ilahi: yaitu kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose. Kita perlu menyanyikan tentang betapa senangnya Allah mewahyukan Putra-Nya di dalam kita; tentang Kristus hidup di dalam kita dan tentang fakta bahwa kita telah disalibkan dengan Dia; tentang hidup dalam Roh; tentang perlunya Roh hikmat dan wahyu, supaya kita dapat mengenal pengharapan yang terkandung dalam panggilan Allah, kemuliaan warisan-Nya di dalam orang-orang kudus, dan betapa besar kekuatan kuasa-Nya yang membangkitkan Kristus dan mendudukkan Dia di surga; tentang gereja sebagai kepenuhan Kristus, Dia yang memenuhi semua dan di dalam semua; tentang perlunya dikuatkan di dalam manusia batiniah kita oleh Roh Allah sehingga Kristus dapat membuat rumah-Nya di dalam hati kita, dan supaya kita dapat memahami bersama-sama dengan semua orang kudus dimensi universal Kristus kepada kepenuhan Allah; tentang satu Tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua; tentang hidup dalam kebenaran Yesus supaya kita dapat menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, dan diperbarui dalam roh pikiran kita untuk mendapatkan realitas manusia baru; tentang suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus; tentang memperhidupkan Dia, memperbesar Dia, ditemukan di dalam Dia, mengejar Dia, dan memiliki pengetahuan yang sempurna tentang Dia; tentang Kristus yang Terkasih, sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan, dan yang Sulung dari semua ciptaan. Marilah kita belajar menyanyikan ayat-ayat dari keempat kitab ini juga dari Roma, 1dan 2Korintus, dan Ibrani. Dalam nyanyian kita, kita perlu dibawa kepada standar ekonomi Perjanjian Baru.

Kidung kita berisi lebih dari 1300 kidung. Sewaktu kita menyusun kidung ini, kita memilih kidung-kidung yang telah Allah berikan kepada umat-Nya sepanjang abad. Ini membuktikan bahwa kita tidak bertindak seperti sekte; sebaliknya, kita mencakup semua. Tetapi sekarang kita harus terus menulis lebih banyak kidung dan nyanyian tentang ministri penggenapan Paulus dan ministri penambalan Yohanes. Kita memerlukan koleksi nyanyian tentang Roma, 1dan 2Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1dan 2Timotius, Titus, Filemon, dan Ibrani. Kita juga memerlukan nyanyian dan kidung-kidung tentang Injil Yohanes, 1Yohanes, dan Wahyu. Marilah kita menyanyikan kidung tentang Yohanes 15 tentang tinggal di dalam Kristus dan Kristus tinggal di dalam kita. Marilah kita juga menyanyikan tentang tujuh kaki dian, tujuh obor, dan sungai yang mengalir dalam Kitab Wahyu.

Dalam nyanyian kita dan dalam pemakaian kidung kita, kita tidak boleh tradisional. Nyanyian dan pujian kita seharusnya bukan tentang Allah sebagai Pencipta atau berbagai tindakan perlakuan-Nya terhadap manusia pada tiaptiap zaman, melainkan terutama tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah. Misalnya, kita perlu menyanyikan mengenai Allah Tritunggal yang telah melalui proses.

Saya harap dalam tahun-tahun yang akan datang akan ada satu perubahan besar dalam nyanyian kita dan dalam kidung kita. Dalam nyanyian dan pujian kita, kita masih berada di bawah pengaruh tradisi. Mengenai hal ini, kita perlu meninggalkan cara tradisional dan mutlak beralih kepada ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Kaum beriman pada zaman Paulus mungkin telah menyanyikan Mazmur Perjanjian Lama. Para penulis Perjanjian Lama tidak memiliki wahyu yang jelas mengenai gereja sebagai rahasia Kristus. Karena kini perkara ini tidak lagi tersembunyi, maka kita perlu menulis kidung-kidung mengenai hal ini berdasarkan wahyu dalam Perjanjian Baru. Paulus telah menulis empat belas Surat Kiriman, dan kita perlu menyanyikannya. Namun, kita mungkin tertahan oleh atmosfir dan pengaruh kekristenan tradisional. Sekali lagi, saya mendorong Anda untuk menuliskan kidung-kidung tentang ministri penggenapan Paulus dan ministri penambalan Yohanes.

Setelah berkata, ”yang seorang mazmur,” Paulus menyinggung tentang pengajaran, penyataan Allah, bahasa lidah, dan penafsirannya. Pengajaran-pengajaran itu harus menurut pengajaran para rasul, dan penyataannya harus memperlihatkan sesuatu yang tersembunyi tetapi yang sekarang telah disingkapkan. Di dalam sidang-sidang kita perlu firman pengajaran dan juga firman wahyu. Kita telah menunjukkan bahwa pengajaran yang berasal dari guru dan wahyu yang berasal dari nabi ini harus mengajarkan dan melayankan Kristus dengan gereja sebagai Tubuh-Nya kepada orang. Dalam prinsipnya, bahasa lidah yang sejati dan penafsiran bahasa lidah juga harus demikian, keduanya harus memiliki Kristus dengan gereja sebagai inti dan isinya. Ini berarti hal-hal itu harus berpusat pada Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus, bukan berpusat pada hal-hal lainnya. Bahasa lidah yang tepat haruslah mengenai Kristus dan gereja. Ini berdasar pada konteks dari seluruh kitab 1Korintus, kitab yang membicarakan tentang Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah, adalah rahasia Allah, juga membicarakan tentang gereja sebagai Tubuh untuk mengekspresikan Kristus dan sebagai sarana untuk melaksanakan pemerintahan Allah.

Nyanyian dan pembicaraan di antara orang-orang Pentakosta pada hari ini sangat kekurangan visi tentang ekonomi Allah dalam Perjanjian Baru. Mereka kekurangan wahyu surgawi; karena itu, nyanyian dan pembicaraan mereka berada dalam ruang lingkup alamiah. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa pemulihan-Nya berada di dalam ruang lingkup yang lainnya, satu ruang lingkup rohani, ruang lingkup surgawi, ruang lingkup Kristus dan gereja. Meskipun demikian, pemahaman dan pengertian kita masih perlu dipertinggi. Kita perlu berdoa agar Tuhan memalingkan kita sepenuhnya dari ruang lingkup alamiah ke ruang lingkup surgawi, rohani, supaya segala sesuatu yang kita katakan dan lakukan di dalam sidang-sidang adalah bagi pelaksanaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Saya harap agar situasi di dalam semua sidang dari semua gereja demikian dan agar sidang-sidang itu dipenuhi dengan pembicaraan mengenai Kristus dan gereja.

B. Mengenai Berbahasa Lidah

Dalam ayat 27-28 Paulus selanjutnya mengatakan mengenai berbahasa lidah: ”Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa lidah, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.” Pemakaian kata ”jemaat” (gereja) oleh Paulus dalam ayat 28 ini menunjukkan bahwa sidang (pertemuan) gereja adalah gereja itu sendiri. Dalam ayat-ayat ini kita nampak bahwa Paulus tidak sama sekali mengabaikan perihal berbahasa lidah, sebaliknya memberikan beberapa peraturan mengenai hal itu. Dua atau paling banyak tiga orang boleh berbahasa lidah dan harus ada orang yang menafsirkannya. Namun, dalam beberapa sidang orang Kristen pada hari ini, setiap orang didorong untuk berbahasa lidah. Orang-orang dengan praktek yang demikian perlu memperhatikan ayat-ayat ini dan belajar berbicara secara bergiliran. Hal menunggu yang diminta akan mengatur mereka dan menguji mereka. Tetapi jika tidak ada orang yang menafsirkannya, maka mereka harus berdiam diri di dalam sidang itu dan berbicara kepada diri mereka sendiri dan kepada Allah. Bila kita melihat ayat-ayat ini, kita akan melihat bahwa menurut peraturan yang diberikan oleh Paulus ini, satu sidang Kristen tidak boleh seperti sidang-sidang Pentakosta pada hari ini.

C. Mengenai Bertutur-sabda

Ayat 29 mengatakan, ”Tentang nabi-nabi baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan.” Menurut ayat ini, di dalam satu sidang ada dua atau tiga orang nabi yang boleh berbicara, dan yang lainnya harus menanggapinya. Kata ”yang lainnya” di sini mengacu kepada nabi-nabi lainnya. Ayat 29-32 membicarakan tentang nabi-nabi saja, bukan semua anggota gereja. Nabi-nabi lainnya harus menanggapi, menghakimi, (membedakan Tl.), apa yang dikatakan oleh nabi-nabi itu. Ini adalah memutuskan atau membedakan apakah yang ditutur sabdakan berasal dari Allah atau tidak, sambil membedakan yang benar dari yang salah. Ini membuktikan bahwa ada tutur sabda yang bukan berasal dari Allah.

Dalam ayat 30 Paulus melanjutkan, ”Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan dari Allah, maka yang pertama itu harus berdiam diri.” ”Seorang yang lain” mengacu kepada nabi lainnya, dan yang ”pertama” mengacu kepada nabi yang pertama. Jadi, ayat 30 ini mengacu kepada nabi-nabi, bukan mengacu kepada semua yang hadir dalam sidang gereja itu.

Ayat 31 mengatakan,”Sebab kamu semua boleh bernubuat (bertutur sabda) seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan.” Menurut konteks dari ayat 29-31, ”kamu” dan ”semua” (dua kali) mengacu kepada para nabi, bukan kepada semua anggota gereja. Kata ”beroleh kekuatan” di sini juga berarti ”beroleh penghiburan”. Nabi-nabi pun perlu belajar dan dikuatkan.

Dalam ayat 32 Paulus berkata, ”Roh nabi takluk kepada nabi-nabi.” Mengatakan bahwa roh nabi takluk kepada nabi-nabi itu berarti bahwa para penutur sabda tidak berada di bawah kendali roh mereka, tetapi roh-roh mereka berada di bawah pengaturan mereka. Karena itu, mereka dapat menentukan kapan harus bertutur-sabda dan kapan harus berhenti bertutur-sabda, untuk menjaga urutan yang baik dalam sidang gereja. Roh-roh mereka bukan tuan mereka tetapi sarana mereka untuk berfungsi. Mereka harus belajar bagaimana menurut keputusan mereka sendiri melatih dan menggunakan roh mereka.

Ayat 32 ini menunjukkan dengan jelas bahwa roh kita harus tunduk kepada kita, bukan kita yang harus tunduk kepada roh kita. Namun, beberapa orang dalam aliran Pentakosta pada hari ini memaafkan diri mereka sendiri dengan mengatakan bahwa apa saja yang mereka lakukan di dalam sidang-sidang itu adalah menurut roh. Mereka menyatakan bahwa mereka dibawa oleh roh mereka. Misal-nya, seseorang mungkin berteriak dengan suara nyaring dengan tidak mempedulikan orang lain atau hal lainnya lagi. Bila ada seseorang bertanya kepadanya mengapa ia berteriak begitu nyaring, ia mungkin akan menjawab: ”Ini bukanlah berasal dari saya, melainkan saya dibawa oleh roh.” Ini bertentangan dengan perkataan Paulus. Ia mengatakan dengan tegas bahwa kita tidak boleh tunduk kepada roh; sebaliknya, roh itulah yang harus tunduk kepada kita.

Selama bertahun-tahun saya telah menunjukkan perlunya melatih roh. Ini menunjukkan bahwa roh kita itu tunduk kepada kita. Kita melatih roh; bukan roh itu yang melatih kita. Apakah Anda melatih roh atau roh itukah yang melatih Anda? Ungkapan ”melatih roh” ditujukan kepada orang-orang yang berpikiran sehat, khususnya kepada orang-orang yang cenderung duduk dengan tenang di dalam sidang-sidang. Semua orang demikian perlu melatih roh. Tetapi bagi orang-orang seperti orang-orang Korintus yang hanyut oleh kegembiraan mereka, Paulus berkata, ”Jangan menundukkan diri Anda kepada roh, tetapi biarlah roh Anda tunduk kepada Anda. Berpalinglah dari kegembiraan Anda dan buatlah roh Anda tunduk kepada Anda.” Janganlah memaafkan diri Anda dengan mengatakan bahwa segala sesuatu yang Anda lakukan adalah menurut roh. Penggunaan karunia harus secara teratur, bukan dengan cara yang tidak terkendali. Roh kita harus tunduk kepada kita. Ini berarti kita harus memiliki pemikiran yang sehat untuk menggunakan roh kita dengan tepat.

Ayat 33 mengatakan, ”Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” Prinsip petunjuk-petunjuk Paulus kepada orang-orang Korintus dalam ayat 26-32, terutama tentang berbahasa lidah dan bertutur-sabda, adalah menjaga damai sejahtera dan urutan yang serasi menurut apa adanya Allah sendiri.

D. Mengenai Perempuan-perempuan

Bagian yang terakhir dari ayat 33 sebenarnya membuka ayat 34 yang mengatakan: ”Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus.” Kata ”sama seperti” menunjukkan bahwa semua gereja lokal seharusnya sama dalam pelaksanaan. Satu Korintus 1:2 dan 10:32 menyinggung tentang gereja Allah. Tetapi di sini kita menemukan gereja orang-orang kudus. Gereja Allah menunjuk kepada unsur penyusun gereja; gereja tersusun dari unsur Allah. Gereja orang-orang kudus menunjuk kepada unsur-unsur penyusun gereja-gereja; gereja-gereja tersusun dari orang-orang kudus.

Ayat 34 mengatakan, ”Perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.” Frase ”dalam pertemuan-pertemuan jemaat” berarti dalam sidang-sidang gereja. Menurut 11:5, perempuan-perempuan boleh bertutur-sabda (tentu saja secara umum) dengan bertudung kepala. Dalam Kisah Para Rasul 2:17-18 dan 21:9 juga membuktikan adanya perempuan bertutur-sabda. Tetapi 1Timotius 2:12 mengatakan bahwa perempuan tidak diizinkan mengajar, itu mengacu kepada mengajar sebagai pemegang otoritas (di sana, pengajaran berhubungan dengan penggunaan kekuasaan), atau mengambil keputusan terhadap suatu ajaran. Jadi, menurut prinsip Perjanjian Baru, kaum perempuan tidak diizinkan berbicara dalam sidang-sidang gereja berarti kaum perempuan tidak dizinkan mengajar dengan kekuasaan atau mengambil keputusan terhadap suatu ajaran. Ditinjau dari makna ini, mereka harus berdiam diri dalam sidang-sidang gereja. Mereka tidak diizinkan berbicara, karena mereka harus tunduk kepada kaum lelaki. Ini berhubungan dengan kekuasaan yang ditetapkan Allah dalam pemerintahan-Nya. Dalam ketetapan pemerintahan Allah, kaum perempuan tidak diizinkan berbicara dengan kuasa atas kaum lelaki. Mereka boleh berdoa, juga boleh bertutur-sabda, terutama adalah untuk berkata-kata bagi Tuhan dan mengutarakan Tuhan. Namun, mereka harus melakukan ini di bawah penudungan para saudara, karena di sini ditunjukkan bahwa mereka harus tunduk.

”Hukum Taurat” dalam ayat 34 ini mengacu kepada kitab-kitab yang ditulis oleh Musa (Mat. 5:17; 7:12; 11:13). Dalam tulisan-tulisan Musa, Kejadian 3:16 memerintahkan perempuan harus tunduk kepada pemerintahan laki-laki. Inilah ketetapan Allah.

Satu Korintus 14:34 tidak boleh dipahami secara terpisah dari kitab-kitab lain dalam Alkitab. Sebaliknya, kita perlu menafsirkan Alkitab dengan Alkitab dan oleh Alkitab. Menurut pengajaran seluruh Perjanjian Baru, para saudari boleh bertutur-sabda, tetapi mereka tidak memiliki otoritas untuk mengajarkan doktrin. Hal ini harus diberikan kepada para saudara. Lagi pula, adalah fakta sejarah bahwa beberapa dari ajaran bidah yang paling serius masuk melalui perempuan-perempuan.

Pada tahun 1933, setelah berhenti bekerja untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, saya mengunjungi Saudara Watchman Nee di Shanghai. Sewaktu saya berada di sana, ia memberi tahu saya bahwa karena berada di bawah pengaruh praktek the Brethren, mereka tidak mengizinkan para saudari berdoa dalam sidang-sidang, apalagi berbicara. Ia memberi tahu saya bahwa mereka telah mengikuti praktek ini selama sebelas tahun. Namun, Saudara Watchman Nee menyadari bahwa jika para saudari tidak berdoa dalam sidang-sidang gereja, maka setengah gereja akan lumpuh dan tidak berfungsi. Hal itu akan merusak dan merugikan sidang-sidang itu. Maka Saudara Watchman Nee memikirkan cara membetulkan situasi itu. Kemudian ia mengajukan perkara ini kepada saya dan bertanya bagaimana pendapat saya tentang hal itu. Saya mengatakan bahwa saya kira kita perlu membiarkan saudari-saudari berdoa dalam sidang-sidang. Ini adalah satu contoh mengambil keputusan yang berhubungan dengan doktrin. Keputusan demikian berhubungan dengan otoritas.

Keputusan dengan otoritas demikian ini adalah jenis berbicara yang disinggung oleh Paulus dalam ayat 34. Ia tidak setuju para saudari berbicara dalam sidang-sidang gereja dengan cara menggunakan otoritas atas para saudara. Jika kita tidak memahami ayat ini dengan cara ini, kita tidak bisa menghubungkannya dengan pasal 11, di mana Paulus membicarakan saudari-saudari yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung. Ini adalah satu petunjuk yang kuat bahwa para saudari dapat berbicara dalam sidang-sidang, asalkan mereka menudungi kepala mereka.

Dalam ayat 35 Paulus berkata, ”Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat.” Sekali lagi ”dalam pertemuan jemaat” berarti dalam sidang-sidang gereja.

Dalam ayat 36 Paulus bertanya, ”Atau apakah firman Allah berasal dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang?” Perkataan yang tegas, dan terus terang ini menunjukkan bahwa satu gereja lokal seharusnya mengikuti gereja-gereja lainnya di dalam pelaksanaannya. Semua gereja lokal seharusnya tunduk kepada petunjuk umum dari Roh itu menurut perkataan Allah yang keluar dari rasul.

Dalam ayat 37 Paulus selanjutnya berkata, ”Jika seseorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar bahwa apa yang kutuliskan kepadamu adalah perintah Tuhan.” Di sini Paulus berbicara dengan otoritas, mengucapkan satu perintah dari Tuhan.

Perkataan Paulus dalam ayat 37 menunjukkan bahwa penutur-sabda atau orang rohani sangat dihormati dalam gereja bagi perampungan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Penutur-sabda adalah yang kedua setelah rasul dalam pemerintahan Allah di dalam gereja (12:28). Dia berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah, dia juga menerima wahyu rahasia-rahasia mengenai Kristus dan gereja (Ef. 3:5) sebagai dasar pembangunan gereja (Ef. 2:20). Orang yang rohani adalah orang yang hidup menurut rohnya yang berbaur dengan Roh Allah, dan yang dapat membedakan semua hal rohani (3:1 dan cat; 2:15 dan cat.). Orang-orang yang berpengetahuan rohani sedemikian seharusnya tahu dengan jelas bahwa pengajaran-pengajaran rasul Paulus adalah perintah Tuhan, dan perkataan mereka seharusnya sesuai dengan pengajaran-pengajaran rasul. Roh Paulus kuat dan perkataannya terus terang dalam menanggulangi orang-orang Korintus yang kacau-balau. Dia menegaskan kepada mereka untuk mengetahui secara pasti bahwa pengajaran-pengajarannya adalah perintah Tuhan, mengandung kuasa Tuhan yang sesungguhnya. Karena pengajaran-pengajaran rasul menurut ketetapan Allah (ayat 34), maka pengajaran-pengajaran itu adalah perintah dari Tuhan.

Ayat 38 mengatakan, ”Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia.” Paulus kadang-kadang sopan, tetapi di sini ia tegas dan terus terang.

Ayat 39 mengatakan, ”Karena itu, Saudara-saudaraku, berusahalah memperoleh karunia bernubuat (bertutur-sabda) dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa lidah.” Di sini Paulus melunakkan sedikit nada bicaranya untuk menenangkan badai di antara orang-orang Korintus yang kacau-balau itu. Sebenarnya, seluruh pasal ini membahas tentang bertutur-sabda dan berbahasa lidah. Bertutur-sabda adalah karunia yang paling berfaedah bagi pembangunan orang-orang kudus dan gereja dengan ministri Kristus yang limpah, karena itu bertutur-sabda sangat dihargai dan dipromosikan oleh rasul. Berbahasa lidah tidak mendatangkan faedah bagi pembangunan, karena itu rasul dengan tulus setia menyingkapkan nilainya yang lebih rendah. Baik penghargaan rasul maupun penyingkapannya adalah menurut perhatiannya bagi perampungan ketetapan kehendak Allah dalam membangun gereja dengan kekayaan Kristus. Pada penutup pasal ini dia masih menyuruh kita agar dengan sungguh-sungguh mendambakan bertutur-sabda bagi pembangunan Allah. Namun, untuk menjaga kealmuhitan dan kesatuan gereja, dia juga menyuruh kita untuk tidak melarang orang berbahasa lidah.

Dalam ayat 40 Paulus menyimpulkan, Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Perhatian rasul bagi gereja adalah Kristus sebagai inti Allah dan gereja sebagai sasaran Allah dapat dilaksanakan dan dirampungkan, dan segala sesuatu dilakukan dengan sepatutnya dan dalam urutan yang baik di hadapan manusia dan malaikat (4:9; 11:10). Hayat alamiah kita tidak berguna dalam penggenapan tujuan yang demikian tinggi. Kehidupan gereja yang wajar memerlukan pengalaman akan Kristus yang tersalib (1:23; 2:2) untuk mengakhiri ego kita dan pengalaman akan Kristus dalam kebangkitan sebagai pengudusan dan penebusan kita setiap hari (1:30).