← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 16/23

MENANGGULANGI KARUNIA-KARUNIA (6)

MASALAH MENGENAI BERBAHASA LIDAH

PADA HARI INI

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 12:4-31; 14:1-25

Dalam menanggulangi karunia-karunia, Paulus menekankan enam perkara: berbicara, Roh itu, Tubuh, pemerintahan Allah, kasih, dan tutur-sabda yang unggul bagi pembangunan gereja. Dalam pasal 12 Paulus berkali-kali membicarakan tentang Tubuh, sedikitnya 18 kali. Tetapi dalam pasal 14 ia membicarakan tentang pembangunan gereja. Jadi, dalam pasal 12 kita memiliki Tubuh dan dalam pasal 14, kita memiliki gereja.

TUBUH DAN GEREJA

Tubuh dan gereja itu sinonim; keduanya mengacu kepada hal yang sama. Tubuh adalah gereja, dan gereja adalah Tubuh. Meskipun demikian, dalam pasal 12 Paulus menekankan Tubuh, dan dalam pasal 14 ia menekankan gereja. Ada satu perbedaan antara Tubuh dan gereja. Tubuh adalah satu organisme bagi Kristus sebagai hayat kaum beriman untuk bertumbuh dan mengekspresikan diri-Nya sendiri. Gereja adalah satu perhimpunan bagi Allah untuk mengoperasikan pemerintahan-Nya. Kristus sebagai hayat adalah esens Tubuh sebagai satu kesatuan yang organik. Organisme ini bukanlah untuk organisasi, melainkan untuk kehidupan yang mengekspresikan Kristus. Kristus adalah esens Tubuh-Nya, dan Tubuh-Nya adalah satu kesatuan organik yang hidup, bertumbuh, dan matang dengan diri-Nya sendiri sampai akhirnya mengekspresikan Dia.

Dalam 12:12-27 pemikiran utamanya bukanlah aktivitas atau usaha. Pemikiran utamanya adalah bahwa Tubuh adalah satu organisme yang hidup, bertumbuh, matang, dan mengekspresikan Kristus sebagai esens batini. Karena alasan ini, maka ayat 3 memberi tahu kita bahwa bila kita berkata, ”Tuhan Yesus,” kita akan berada di dalam Roh itu. Roh inilah yang membawa kita masuk ke dalam Tubuh, karena Roh ini adalah Roh pemberi hayat, Roh hayat, bukan hanya Roh Allah seperti yang tercantum dalam Kejadian 1:3. Kita telah menerima Roh yang membawa kita masuk ke dalam Tubuh ini secara organik.

Dalam Roma 10:13 Paulus berkata, ”Sebab, ’Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.’” Kita perlu menempatkan ayat ini bersama Kisah Para Rasul 2:21: ”Dan siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” Di sini, dalam Kisah Para Rasul 2, diselamatkan adalah menerima karunia awal yaitu Roh itu. Menerima Roh itu sebagai karunia awal sama dengan diselamatkan. Hal ini terjadi bukan hanya melalui percaya, tetapi juga melalui berseru kepada nama Tuhan. Setiap orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus juga akan berseru kepada Dia dan berkata, ”Tuhan Yesus!” Jika kita berkata, “Tuhan Yesus!” Roh itu akan masuk ke dalam kita, dan kita akan berada di dalam Roh itu. Roh itu adalah pneuma, hembusan, udara, untuk kita hirup. Kita tidak mungkin menghirup udara itu tanpa mengambil udara itu masuk ke dalam kita. Ketika kita menghirup, udara itu ada di dalam kita, dan kita berada di dalam udara itu. Demikian juga, ketika kita berseru kepada Tuhan Yesus, kita berada di dalam Roh yang memberi hayat itu dan membawa kita masuk ke dalam Tubuh.

Menurut 12:13, dalam Roh inilah kita telah dibaptis ke dalam Tubuh. Air baptisan adalah lambang dari fakta bahwa kita telah dibaptis ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19) dan dibaptis ke dalam Kristus (Gal. 3:27; Rm. 6:3). Ketika kita dibaptis ke dalam Kristus, kita juga dibaptis ke dalam Tubuh-Nya dan menjadi bagian dari Tubuh organik ini. Satu Korintus 12 dengan jelas mewahyukan bahwa kita telah menjadi anggota-anggota Tubuh organik Kristus. Haleluya, kita sekarang berada di dalam Tubuh! Kita telah berseru ”Tuhan Yesus!” dan telah dibawa masuk ke dalam Roh itu. Roh itu pun telah membawa kita masuk ke dalam Tubuh, dan sekarang kita secara organik berada di dalam Tubuh ini.

Setelah berbicara begitu banyak mengenai Tubuh dalam 12:12-27, Paulus mulai membicarakan gereja dalam ayat 28: ”Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam berbagai jenis bahasa lidah.” Gereja adalah bagi pemerintahan Allah. Ketika Paulus menyinggung gereja, penekanannya bukanlah pada kesatuan yang organik, melainkan pada pemerintahan Allah. Tubuh adalah bagi ekspresi Kristus; gereja adalah bagi pemerintahan Allah. Dalam pasal 14 konsepsi Paulus terutama bukan berhubungan dengan pertumbuhan yang organik, melainkan berhubungan dengan pengaturan pemerintahan. Dalam pasal 12 penekanannya adalah pada hayat; dalam pasal 14 adalah pada pemerintahan. Karena itu kita dapat memakai istilah ”ekspresi yang organik” untuk menggambarkan pasal 12 dan memakai istilah ”pengaturan pemerintahan” untuk menggambarkan pasal 14. Selain itu, pembangunan gereja adalah bagi pemerintahan ini, sedangkan pembangunan Tubuh adalah bagi ekspresi Kristus secara organik. Untuk mengekspresikan Kristus kita memerlukan Tubuh; untuk melaksanakan pemerintahan ilahi kita memerlukan gereja. Karena alasan ini, maka pasal 12 menekankan Tubuh secara organik bagi pertumbuhan dan ekspresi Kristus, sedangkan pasal 14 menekankan gereja secara pemerintahan bagi pelaksanaan tujuan kekal Allah.

Sampai di sini saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang berhubungan dengan berbahasa lidah: Dapatkah berbahasa lidah membantu Tubuh bertumbuh secara organik dan mengekspresikan Kristus? Kita perlu menjawab pertanyaan ini dengan hati-hati. Adalah salah bila kita mengatakan bahwa berbahasa lidah itu tidak dapat memberikan bantuan apa pun bagi pertumbuhan Tubuh. Berbahasa lidah masih ada hubungan dengan Roh itu, dan Roh itu adalah bagi Tubuh. Karena alasan ini, kita tidak boleh mengatakan bahwa berbahasa lidah tidak mungkin berfaedah bagi Tubuh. Faktor yang menentukan ini berkenaan dengan realisasi kita mengenai berbahasa lidah dan penerapan kita terhadapnya. Jika Anda berbahasa lidah bagi penuntutan Anda sendiri, hal ini akan merusak Tubuh. Tetapi jika Anda menuntut berbahasa lidah bagi Tubuh dan jika Anda memperhatikan Tubuh, maka berbahasa lidah Anda itu akan berfaedah bagi Tubuh. Beberapa orang di antara kita bersaksi bahwa berbahasa lidah merangsang mereka secara batini untuk menuntut Kristus. Ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Sesungguhnya menuntut Kristus berdasar pada Roh itu dan bagi Tubuh. Namun, orang-orang yang terangsang untuk menuntut Kristus oleh Roh itu melalui berbahasa lidah mungkin tidak menyadari bahwa penuntutan mereka akan Kristus itu haruslah bagi Tubuh. Dalam kasus yang demikian ini, realisasi mereka mengenai berbahasa lidah itu agak kurang. Apakah berbahasa lidah itu berfaedah bagi Tubuh, itu tergantung pada realisasi dan penerapan yang tepat.

Sekarang izinkan saya mengajukan pertanyaan lainnya: Apakah berbahasa lidah berfaedah dalam pembangunan gereja bagi pemerintahan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini jelas dan mutlak tidak. Khususnya seperti yang dipraktekkan pada hari ini, berbahasa lidah itu tidak membantu pemerintahan Allah. Sebaliknya, dalam kasus demi kasus berbahasa lidah merusak gereja, meruntuhkan pemerintahan Allah, dan menjatuhkan pemerintahan ilahi.

TULISAN PAULUS DAN YOHANES

Satu Korintus ditulis di Efesus. Dalam menulis Surat Kiriman ini, maksud Paulus adalah mengoreksi dan membetulkan gereja di Korintus. Saat itu gereja di sana berada dalam kekacauan, baik dalam kehidupan kristianinya maupun dalam hubungannya dengan pemerintahan Allah. Maksud Paulus adalah menata orang-orang Korintus, menyelamatkan mereka dari penyimpangan-penyimpangan mereka, dan membawa mereka kembali kepada garis inti ekonomi Allah. Ketika Paulus menulis Surat Kiriman ini, ia sedang menikmati kehidupan gereja yang sempurna di Efesus.

Kitab Roma ditulis di Korintus. Setelah menulis 1Korintus ini, Paulus akhirnya meninggalkan Efesus dan mengunjungi Korintus. Seperti yang dikatakannya dalam 2Korintus, ia menunda kunjungannya kepada mereka karena ia ingin meluangkan waktu dengan mereka dan tidak ingin datang dalam kesedihan. Tetapi karena mereka bertobat dan menjadi baik setelah menerima Surat Kirimannya yang pertama, maka Paulus sangat gembira lalu pergi ke Korintus untuk melihat mereka. Sewaktu ia berada di Korintus, ia menulis Surat Kirimannya kepada orang-orang Roma.

Kitab Roma adalah satu sketsa dasar, satu sketsa yang mengendalikan kehidupan orang Kristen dan kehidupan gereja. Dalam kitab ini Paulus tidak mengucapkan perkataan tentang berbahasa lidah atau tentang kesembuhan ilahi. Ia tahu dari pengalamannya di Korintus betapa banyaknya kerusakan yang dialami gereja karena berbahasa lidah dan oleh apa yang disebut kesembuhan yang ajaib. Pada waktu itu, Korintus gerah dengan hal-hal yang demikian. Banyak orang sangat antusias terhadap berbahasa lidah dan gembira terhadap hal-hal yang ajaib. Meskipun demikian, oleh hal-hal inilah gereja menjadi rusak dan hancur. Menyadari kerusakan yang disebabkan oleh hal ini terhadap gereja di Korintus, Paulus sangat bijaksana ketika ia menulis Kitab Roma.

Dalam Roma 12 Paulus membicarakan tentang fungsi karunia yang tepat dalam Tubuh Tuhan. Sekali lagi, di sini Paulus tidak mengatakan mengenai berbahasa lidah atau tentang kesembuhan ilahi. Sebaliknya, ia menekankan tentang memiliki belas kasihan, kasih seorang terhadap yang lain, dan memberikan tumpangan. Ini menunjukkan bahwa Paulus memelopori untuk merendahkan perkara berbahasa lidah. Sikap Paulus dalam ministri penggenapannya terhadap perihal berbahasa lidah adalah merendahkannya.

Jika ini adalah sikap Paulus dalam ministri penggenapannya, lalu bagaimanakah sikap Yohanes dalam ministri penambalannya? Apakah Yohanes mengatakan sesuatu tentang berbahasa lidah, kesembuhan ilahi, atau tanda-tanda ajaib dalam Surat Kirimannya yang pertama? Tidak, apa yang ia katakan dalam kitab ini berdasar pada Injil-nya. Dalam Yohanes 7:37-39 Yohanes menunjukkan bahwa semua orang yang percaya kepada Kristus akan menerima Roh itu dan dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Ini bukan mengacu kepada Roh itu dalam berbahasa lidah atau kesembuhan ilahi, melainkan mengacu kepada Roh hayat. Kaum beriman dalam Kristus akan minum Roh hayat ini. Kemudian dari lubuk batin mereka akan mengalir sungai air hidup. Inilah yang dikatakan Yohanes dalam Injilnya. Dalam Surat Kirimannya yang pertama ia melanjutkan dengan membicarakan tentang pengurapan yang kita miliki di dalam kita. Yohanes tidak membicarakan tentang pengurapan di atas kita, melainkan tentang pengurapan yang ada di dalam kita. Di dalam kita, kita memiliki Roh hayat, dan Roh ini adalah minyak urapan yang dengannya kita diurapi. Minyak urapan ini dilambangkan dalam Keluaran 30 oleh minyak yang diramu dengan rempah-rempah. Minyak urapan ini bukan dialami dengan cara yang ajaib, melainkan secara spontan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, dari hal ini kita melihat bahwa Yohanes sama dengan Paulus dalam hal tidak menekankan tentang berbahasa lidah, kesembuhan, atau mujizat-mujizat.

Apakah yang Yohanes katakan mengenai Roh itu dalam Kitab Wahyu? Ia tidak mengatakan apa pun tentang berbahasa lidah atau tentang kesembuhan ilahi, tetapi ia membicarakan tentang tujuh Roh. Menurut Wahyu 4:5, tujuh Roh ini adalah tujuh obor yang menyala dengan sesuatu di dalamnya. Tujuh obor ini tidak menyala secara ajaib. Sebaliknya, tujuh obor ini menyala secara normal.

Dalam Wahyu 4 kita memiliki tujuh Roh Allah sebagai tujuh obor, tetapi dalam pasal 22 kita memiliki Roh itu yang dilambangkan oleh sungai yang mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba untuk mengairi Yerusalem Baru. Sekali lagi, tidak ada satu pun yang mengatakan tentang berbahasa lidah. Jika berbahasa lidah itu begitu penting, begitu berharga, tentunya Paulus dan Yohanes akan menekankan hal itu.

ALASAN-ALASAN TIDAK MENDORONG PRAKTEK BERBAHASA LIDAH

Kedambaan saya adalah berbicara bagi Kristus dan mengutarakan Kristus. Meskipun demikian, khususnya sebagai bantuan bagi orang muda, saya berbeban untuk menjelaskan mengapa saya tidak mendorong praktek berbahasa lidah. Meskipun saya tidak menentang perihal berbahasa lidah, tetapi saya tidak mendorongnya. Alasan saya berdasar pada pengalaman saya dan penyelidikan saya.

Saya tidak mendorong Anda untuk berbahasa lidah pada hari ini karena hal itu dapat dibandingkan dengan opium atau morfin. Dokter-dokter medis tahu bahwa opium dan morfin dapat berfaedah dalam menanggulangi rasa sakit atau penyakit-penyakit tertentu, tetapi dosisnya harus dibatasi dan pemakaiannya terbatas. Dengan pemakaian yang tepat dan pembatasan yang memadai, opium dan morfin ini barulah berfaedah. Bahayanya adalah menjadi ketagihan dengan obat-obat ini. Begitu seseorang ketagihan opium atau morfin, akibatnya sangat fatal. Banyak orang mungkin mempraktekkan berbahasa lidah untuk sejangka waktu dan kemudian berhenti. Namun, yang lainnya ada yang menjadi ketagihan dengan berbahasa lidah. Mereka mungkin menjadi ketagihan sedemikian rupa sehingga ketika mereka berkumpul bersama-sama, mereka tidak memperhatikan yang lainnya lagi. Mereka habis-habisan bagi berbahasa lidah sehingga mereka tidak memperhatikan lagi entah bahasa lidah itu sejati atau tidak.

Kedua, untuk jangka panjang, berbahasa lidah tidak membantu kaum beriman bertumbuh dalam hayat. Sebaliknya, ketagihan berbahasa lidah akan mengarah kepada pengumbaran hawa nafsu. Benar, ada beberapa yang bersaksi bahwa berbahasa lidah merangsang sesuatu di dalam mereka untuk menuntut Kristus. Ini adalah akibat yang tepat dari berbahasa lidah. Tetapi orang-orang yang ketagihan berbahasa lidah hanya memperhatikan kegembiraan mereka. Mereka tidak peduli dengan ketenangan hati. Akibatnya, ada banyak kasus perzinahan di antara mereka.

Ketiga, orang-orang yang ketagihan dengan berbahasa lidah tidak memiliki telinga untuk mendengar perkataan tentang salib dan hal-hal yang dalam dan rahasia mengenai Kristus. Mereka tidak tertarik dengan bagaimana salib Kristus membereskan daging dan ego. Mereka tidak peduli dengan perkataan kebenaran yang sehat. Mereka seperti sepotong kayu yang telah rusak oleh tukang kayu yang bodoh dan tidak dapat dipakai untuk membuat perabot yang lebih baik. Mereka tidak memiliki hati terhadap hal-hal yang dalam dan rahasia tentang Kristus atau hayat dalam kebangkitan. Misalnya, mereka tidak memiliki telinga untuk mendengar semua berita yang telah kita sampaikan tentang 1Korintus dan tentang empat kitab yang merupakan jantung wahyu ilahi yaitu Galatia, Efesus, Filipi, Kolose. Sebaliknya, mereka senang memperhatikan Kisah Para Rasul 2, dan 1Korintus 12 dan 14. Namun, mereka menyalahgunakan bagian-bagian Firman ini. Mereka tidak memiliki hati untuk mendengarkan perkataan yang sehat.

Menurut beban yang telah saya terima dari Tuhan dan bagi amanat-Nya, saya prihatin karena aliran Pentakosta mungkin merayap masuk ke dalam pemulihan Tuhan. Jika hal ini terjadi, maka pemulihan ini akan rusak. Namun, ini bukan berarti saya menentang perihal berbahasa lidah yang sejati. Berbahasa lidah yang sejati berasal dari Allah, dan saya tidak menentangnya. Meskipun demikian, saya tidak mendorong Anda untuk berbahasa lidah pada hari ini. Selain itu, sepanjang tahun para pemimpin pergerakan Pentakosta pun telah mengadakan perbaikan-perbaikan. Mereka sadar bahwa tanpa perbaikan-perbaikan itu mereka tidak akan dapat melaksanakan pekerjaan mereka. Saya dengar bahwa di sekolah Alkitab Sidang Jemaat Allah di Springfield, Missouri, murid-murid diajarkan dalam sidang-sidang jemaat untuk menekankan pengajaran, bukan berbahasa lidah, dan mendorong orang-orang yang berbahasa lidah untuk berbahasa lidah secara pribadi. Meskipun demikian, praktek berbahasa lidah masih tetap menghalangi orang-orang kudus yang terkasih dalam perkara pertumbuhan hayat.

Keempat, tidak ada orang Kristen lainnya yang merdeka dan terpecah-belah seperti orang-orang yang mempromosikan praktek berbahasa lidah. Setiap orang yang berbahasa lidah itu merdeka, individualistis, dan terpecah-belah. Setiap orang hanya memperhatikan dirinya sendiri. Melalui hal ini kita melihat bahwa musuh merayap masuk untuk memakai sesuatu yang mungkin berasal dari Allah untuk merusak pemerintahan Allah. Dalam aliran Pentakosta dan dalam pergerakan kharismatik tidak ada pembangunan, tidak ada kehidupan Tubuh, tidak ada perhatian untuk keesaan, dan tidak ada pemerintahan ilahi.

Sekarang kita dapat memahami konsepsi Paulus dalam 1Korintus dan mengetahui beban yang ada di dalam rohnya dan hatinya ketika ia menulis kitab ini. Paulus sangat memperhatikan Tubuh Kristus dan pemerintahan Allah. Ia tahu hati Allah dan rencana Allah. Ia tahu bahwa tujuan Allah adalah mendapatkan satu Tubuh untuk menumbuhkan Kristus dan mengekspresikan Kristus, juga mendapatkan gereja untuk melaksanakan pemerintahan ilahi. Hari ini berbahasa lidah telah dipakai oleh musuh untuk menghalangi pertumbuhan Tubuh dan merusak pembangunan gereja bagi pemerintahan Allah. Karena itu, saya tidak mendorong praktek ini. Tetapi saya ingin mengatakan sekali lagi bahwa saya tidak menentang perihal berbahasa lidah yang sejati. Saya tidak mengikuti J. N. Darby dalam mengatakan bahwa berbahasa lidah itu telah berlalu masanya. Tidak, berbahasa lidah ini masih ada, tetapi ini harus dipraktekkan dengan tepat.

Berbahasa lidah lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan. Tiga kali kita pernah berusaha mempraktekkan hal ini dalam kehidupan gereja, tiga kali pula kita menderita kerugian. Kita berharap pemulihan Tuhan ini akan terpelihara dari kerusakan yang disebabkan oleh berbahasa lidah pada hari ini, dan senantiasa berada dalam cara hayat yang murni, serta tidak dirusak oleh percampuran apa pun.