MENANGGULANGI KARUNIA-KARUNIA (5)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 14:1-25
Sewaktu Paulus menulis 1Korintus pasal 12, 13, dan 14, ada satu beban dalam rohnya dan dalam hatinya mengenai perkara-perkara yang penting ini: berbicara, Roh itu, Tubuh, pemerintahan Allah, dan kasih. Lima perkara ini ditekankan dalam pasal 12-13. Dalam pasal 14 Paulus sampai pada butir utama lainnya: keunggulan satu karunia tertentu bagi pembangunan gereja. Di antara banyak karunia rohani, ada satu karunia yang unggul yang bukan untuk pekerjaan kita, kematangan kita, atau kepentingan-kepentingan rohani kita, melainkan bagi pembangunan gereja. Seperti yang akan kita lihat, karunia yang unggul ini adalah bertutur sabda. Karena itu, dalam menanggulangi karunia-karunia, Paulus menekankan enam perkara: berbicara, Roh itu, Tubuh, pemerintahan Allah, kasih, dan karunia yang unggul bagi pembangunan gereja.
Perhatian Paulus yang terakhir bukanlah pada berbicara, Roh itu, Tubuh, pemerintahan Allah, atau kasih sebagai jalan yang terunggul untuk menerapkan karunia-karunia. Perhatian Paulus yang terakhir adalah pada pembangunan gereja. Paulus sangat memiliki perasaan gereja dan memusatkan perhatian pada gereja. Pusat perhatiannya adalah gereja.
Dalam Kolose 1:24 Paulus berkata, ”Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Kristus mati bukan hanya untuk penebusan, tetapi juga untuk gereja. Menurut Efesus 5:25, Kristus memberikan diri-Nya sendiri bagi gereja. Memang, Kristus mati untuk menggenapkan penebusan. Namun, penebusan adalah prosedur, bukan sasaran Alah, bukan tujuan Allah. Penebusan adalah jalan untuk mencapai sasaran itu, sedangkan sasarannya adalah gereja.
Karena gereja adalah sasaran Allah, kita tidak dapat setuju dengan orang-orang Kristen yang mengabaikan gereja dan yang hanya memiliki pemahaman yang dangkal terhadap penebusan Kristus. Bahkan banyak orang yang tidak senang mendengarkan perihal gereja. Tetapi kematian Kristus terutama dan akhirnya adalah bagi gereja.
Dalam kekekalan, kita telah dipilih dan ditetapkan oleh Allah. Namun karena kita telah jatuh menjauhi Allah, maka Kristus perlu menggenapkan penebusan untuk membawa kita kembali kepada Allah. Tetapi penebusan ini bukanlah sasaran Allah; bukanlah maksud akhir-Nya. Sasaran Allah, maksud-Nya adalah mendapatkan umat pilihan-Nya yang secara organik disatukan menjadi Tubuh, yaitu gereja. Sekalipun kita tidak jatuh, Allah tetap perlu melakukan prosedur tertentu untuk mendapatkan gereja.
Ketika saya muda, saya hanya diberi tahu bahwa Kristus datang karena kita telah jatuh ke dalam dosa. Saya menerima ajaran bahwa Allah mengasihi kita dan mengaruniakan Putra tunggal-Nya untuk menyelamatkan kita. Menurut pemahaman ini, jika kita tidak jatuh berdosa, maka Kristus tidak perlu datang. Tetapi adalah satu kesalahan bila kita mengira bahwa maksud Allah hanyalah untuk menebus kita terlepas dari neraka dan masuk ke surga. Maksud Allah adalah mendapatkan gereja, dan kematian Kristus menebus kita supaya kita dapat menjadi Tubuh-Nya. Inilah sebabnya Paulus memiliki perasaan gereja dan memusatkan perhatian pada gereja. Dalam perasaannya, gereja adalah satu perkara yang sangat penting.
Ketika kita menelaah karunia-karunia rohani, kita perlu bertanya untuk apakah karunia-karunia rohani itu. Banyak orang Kristen hanya memperhatikan karunia-karunia, tetapi mereka tidak memperhatikan tujuan dari karunia-karunia itu. Ada beberapa orang yang damba memiliki karunia berkhotbah, dan yang lainnya mendambakan karunia-karunia yang ajaib seperti karunia berbahasa lidah atau karunia penyembuhan. Tetapi mereka mungkin sama sekali tidak memperhatikan untuk apakah karunia-karunia itu. Paulus berbeda. Perhatian dalam lubuk hatinya adalah bagi pembangunan gereja. Ia tahu karunia-karunia apa yang berfaedah bagi pembangunan gereja. Kita perlu belajar dari Paulus untuk memperhatikan pembangunan gereja. Entah kita rohani, matang, atau berkarunia, itu adalah nomor dua. Hal yang utama dalam ekonomi Allah adalah pembangunan gereja. Butir utama penekanan Paulus dalam pasal 14 ini adalah karunia apakah yang terbaik, bukan bagi kita, melainkan bagi pembangunan gereja. Memang, Allah telah memberikan banyak karunia, tetapi tidak semua karunia itu penting dalam hubungannya dengan pembangunan gereja. Karena itu, dalam pasal ini Paulus memperlihatkan kepada kita karunia manakah yang unggul bagi pembangunan gereja.
VI. KEUNGGULAN BERTUTUR-SABDA
A. Lebih Membangun Gereja
Mengejar Kasih dan Berusaha untuk
Memperoleh Karunia-karunia Rohani, Terutama Karunia untuk Bertutur-sabda
Dalam 14:1 Paulus berkata, ”Kejarlah kasih itu dan berusahalah memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat (bertutur-sabda).” Instruksi ini didasarkan atas wahyu dalam 12:31-13:13. Mengejar kasih adalah mengejar pertumbuhan dalam hayat bagi pengembangan karunia-karunia dalam hayat. Karena itu, mengejar kasih harus diimbangi dengan kedambaan akan karunia yang paling berfaedah, yaitu karunia bertutur-sabda.
Paulus sangat bijaksana, dan ia menyusun ayat 1 ini dengan cara yang bijaksana. Dalam ayat ini, pada faktanya ia tidak mendorong orang-orang Korintus untuk menuntut karunia-karunia seperti penyembuhan, tanda-tanda ajaib, dan berkata-kata dengan bahasa lidah. Sebaliknya, maksud Paulus adalah agar mereka mau menuntut karunia untuk bertutur-sabda. Namun, Paulus tidak menyuruh orang-orang Korintus melupakan semua karunia rohani selain karunia bertutur-sabda. Ia menyuruh mereka berusaha untuk memperoleh karunia-karunia rohani, tetapi terutama karunia bertutur-sabda. Ia menghendaki mereka mengejar yang terbaik, yang paling berharga. Ia tahu bahwa ada kekacauan di antara orang-orang Korintus dan bahwa mereka perlu ditenangkan. Karena alasan ini, ia memakai hikmatnya memberi tahu mereka bahwa kasih adalah jalan yang terbaik untuk melatih karunia-karunia itu dan kemudian berpesan kepada mereka untuk mengejar kasih dan mendambakan karunia-karunia rohani, tetapi terutama mengejar karunia bertutur-sabda.
Karena bertutur-sabda adalah berbicara bagi Tuhan dan mengutarakan Tuhan, yaitu menyuplaikan Kristus kepada orang-orang, maka ini adalah perkara utama dalam sidang gereja. Bertutur-sabda ini memerlukan pemenuhan hayat ilahi sebagai isi. Kasih adalah jalan terunggul untuk mengalami hayat ilahi dan menjadikannya isi dari karunia bertutur sabda bagi pembangunan gereja. Karena itu, kita harus mengejar kasih dan sungguh-sungguh mendambakan karunia yang lebih besar ini.
2. Perbandingan antara Berbahasa Lidah dan Bertutur-sabda
Dalam ayat 2-3 Paulus berkata, ”Siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengertinya, oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Tetapi siapa yang bernubuat (bertutur sabda), ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati, dan menghibur.” Perkataan rasul dalam ayat 2-6 membuat orang nampak dengan jelas dan pasti bahwa berbahasa lidah jauh di bawah bertutur-sabda. Rasul dengan kuat merendahkan karunia berbahasa lidah, sebaliknya meninggikan karunia bertutur-sabda, karena perhatiannya yang utama adalah gereja, bukan orang beriman secara individu. Berbahasa lidah, kalaupun itu yang sejati dan tepat, hanya membangun si pembicara sendiri, tetapi bertutur-sabda membangun gereja. Bertutur-sabda dalam wahyu atau mengajar dalam pengetahuan dengan kata-kata yang jelas dan dapat dimengerti lebih berfaedah daripada berbahasa lidah dengan kata-kata yang tidak dimengerti. Karena bertutur-sabda adalah mengutarakan Tuhan, menyuplaikan Kristus kepada orang, maka bertutur-sabda membangun orang, memberikan dorongan dan hiburan kepada orang.
Saya ingin menekankan fakta bahwa dalam Perjanjian Baru bertutur-sabda ini terutama bukanlah untuk meramal, melainkan terutama untuk berbicara bagi Tuhan dan mengutarakan Tuhan. Bahkan dalam Kitab Yesaya dan Yeremia pun perkara bertutur sabda ini terutama bukanlah perkara nubuat (meramal), melainkan berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah. Tentunya, unsur nubuat termasuk di dalamnya. Di seluruh Alkitab, bertutur-sabda itu berarti berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah, dan yang kedua, mengucapkan nubuat. Bertutur-sabda adalah memberi tahu, mengutarakan, dan menubuatkan sesuatu. Inilah pemahaman yang tepat tentang bertutur-sabda dalam Alkitab.
Bertutur sabda dalam hal berbicara dan mengutarakan ini memerlukan banyak pertumbuhan dalam hayat. Untuk ini, kita perlu mengenal Allah dan kita perlu mengalami Kristus. Jika kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai terhadap Allah dan pengalaman terhadap Kristus, kita tidak akan memiliki apa-apa untuk mengatakan sesuatu bagi-Nya, dan kita tidak dapat mengutarakan Dia. Bertutur sabda dalam hal memberitahukan sesuatu sebelumnya, yaitu menubuatkan sesuatu sebelum hal itu terjadi, adalah tanda ajaib dan tidak memerlukan pertumbuhan dalam hayat.
Sekali lagi, dalam 1Korintus 12 dan 14 kata benda tutur sabda (nubuat) dan kata kerja bertutur-sabda (bernubuat) terutama bukan mengacu kepada nubuat (meramal/ramalan), melainkan terutama menekankan berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah. Meskipun demikian, banyak dari antara orang-orang aliran Pentakosta dan pergerakan Kharismatik hari ini yang sangat menekankan unsur ramalan dan mengabaikan perkara yang lebih penting yaitu berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah.
Dalam ayat 4 Paulus melanjutkan, ”Siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bertutur sabda, ia membangun jemaat.” Bertutur-sabda, berbicara bagi Tuhan, dan mengutarakan Tuhan tidak hanya membangun orang-orang kudus secara perorangan, lebih-lebih membangun gereja. Sebaliknya, berbahasa lidah tidak membangun gereja.
Dalam ayat 5 Paulus melanjutkan, ”Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa lidah, tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bertutur sabda. Sebab orang yang bertutur-sabda lebih berharga daripada orang yang berkata-kata dengan bahasa lidah, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga jemaat dapat dibangun.” Maksud hati Paulus bukanlah agar orang-orang Korintus itu menuntut karunia berbahasa lidah; melainkan mendorong mereka untuk bertutur sabda supaya gereja dapat terbangun. Beban Paulus adalah pembangunan gereja. Inilah perhatian yang ada di dalam hatinya.
Dalam ayat 6 Paulus mengajukan satu pertanyaan: ”Jadi, Saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa lidah, apa gunanya itu bagimu, jika aku tidak berbicara kepadamu dengan penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat (tutur sabda) atau pengajaran?” Hal ini menyiratkan bahwa berbahasa lidah tidak mendatangkan faedah bagi seorang pun kecuali bagi si pembicara. Di sini sekali lagi kita melihat hikmat Paulus dalam menulis kepada orang-orang Korintus. Ia tahu bahwa mereka sedang berada dalam kekacauan, dan ia berbicara dengan hati-hati untuk menenangkan mereka. Ia menunjukkan kepada mereka bahwa ia tidak akan menguntungkan mereka kalau ia tidak berbicara kepada mereka dalam wahyu atau pengetahuan atau tutur sabda atau pengajaran.
Dalam ayat 7 Paulus melanjutkan, ”Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa tetapi berbunyi seperti seruling dan kecapi bagaimana orang dapat mengetahui lagu apa yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda?” Ilustrasi rasul dalam ayat 7-11 menunjukkan bahwa kaum beriman Korintus menyalahgunakan berbahasa lidah dengan cara yang tidak masuk akal, mengeluarkan bunyi-bunyi yang tidak berbeda dalam nada (ayat 7) dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang tidak menentu (ayat 8). Mereka juga berlebihan menggunakannya dengan mempraktekkannya di mana pun, dengan cara apa pun, dan dalam situasi apa pun. Karena itu, rasul membetulkan dan membatasi mereka dari penyalahgunaan dan penggunaan yang berlebih-lebihan atas karunia kecil dengan faedah terkecil itu, agar mereka dapat mengejar karunia yang lebih besar, dengan demikian dapat lebih banyak menggenapi orang-orang kudus dan membangun gereja.
Dalam ayat 7 ini Paulus dengan tepat menunjukkan bahwa orang-orang Korintus seharusnya berhenti mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak berarti. Hari ini banyak orang mempraktekkan berbahasa lidah secara tidak berarti. Dalam banyak kasus, orang-orang yang berbicara itu malah tidak tahu apa yang sedang mereka katakan.
Dalam ayat 8 Paulus bertanya, ”Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapa yang menyiapkan diri untuk berperang?” Di antara banyak orang Pentakosta hari ini, tidak ada seorang pun yang dapat bersiap-siap untuk berperang, karena tidak ada arah yang tepat.
Dalam ayat 9 Paulus berkata, ”Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa lidah: Jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!” Bahasa lidah di sini mengacu kepada lidah secara fisik, bukan kepada bahasa atau dialek. Sesungguhnya dalam ayat ini Paulus tidak mendorong praktek berbahasa lidah.
Ayat 10 mengatakan, ”Ada banyak entah berapa banyak macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti.” Kata ”bahasa” dalam bahasa Yunaninya sama dengan bunyi dalam ayat 7-8. Di sini kata ini berarti
suara-suara, yaitu bahasa-bahasa.
Ayat 11 melanjutkan, ”Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku.” Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan ”arti” itu berarti kuasa, kekuatan. Kata Yunani yang diterjemahkan orang asing, yaitu barbaros, adalah orang-orang bukan Yunani, yang tidak berbicara dalam bahasa Yunani. ”Pada mulanya dianggap sebagai kata yang menerangkan orang-orang yang mengeluarkan suara yang merusak telinga, kasar. Kemudian kata ini beralih arti menjadi asing atau primitif” (Vincent).
Dalam ayat 12 Paulus mengumumkan, ”Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat.”
Dalam ayat ini kita sekali lagi melihat kata-kata ”berusaha mempergunakannya untuk membangun gereja”, menyatakan bahwa rasul sepenuhnya memperhatikan pembangunan gereja. Dia penuh dengan perasaan gereja, mutlak berpusat pada gereja, sama sekali berbeda dengan orang-orang Korintus yang berpusat pada diri sendiri. Masalah mereka terhadap karunia-karunia rohani disebabkan mereka menuntut untuk diri sendiri, tidak memperhatikan pembangunan gereja. Ketika menanggulangi keenam masalah pertama, dalam ruang lingkup hidup manusia, rasul menekankan Kristus adalah satu-satunya bagian yang Allah berikan kepada kita; ketika menanggulangi kelima masalah terakhir, dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi, rasul menekankan gereja adalah satu-satunya sasaran yang Allah berikan kepada kita. Orang-orang Korintus tidak hanya kekurangan Kristus, tetapi juga tidak mengenal gereja. Ministri penggenapan rasul (Kol. 1:25) terdiri atas Kristus sebagai rahasia Allah (Kol. 2:2) dan gereja sebagai rahasia Kristus (Ef. 3:4). Namun, walaupun orang-orang Korintus berada di bawah ministri rasul, mereka telah kehilangan keduanya. Dengan kasihan sekali mereka berada di dalam diri mereka sendiri, buta dan tidak berpengetahuan.
Dalam ayat 13-14 Paulus melanjutkan, ”Karena itu, siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, ia harus berdoa, supaya ia dapat menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa lidah, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak menghasilkan apa-apa.” Kata ”akal budi” dalam bahasa aslinya adalah ”pikiran”. Menggunakan dan melatih roh kita dalam doa, sangatlah sehat bagi kehidupan rohani kita. Tetapi jika pikiran kita tidak berfungsi dan juga tidak digunakan, ini mutlak tidak sehat. Ketika kita berdoa kepada Tuhan, kita harus menggunakan roh kita yang telah dilahirkan kembali beserta pikiran kita yang telah diperbarui. Pikiran kita harus diletakkan di atas roh kita (Rm. 8:6), dan seharusnya tidak pernah terlepas darinya, sekalipun dalam hidup kita sehari-hari, terlebih lagi dalam doa kita. Doa kita seharusnya bermula dari roh kita yang telah berkontak dan sedang berkontak dengan Roh Allah, dan melalui pikiran kita yang jernih dan memahami, diutarakan dengan kata-kata yang jelas dan dapat dimengerti, demikian doa kita dapat menjamah Allah, dapat merawat, menguatkan diri sendiri, dan membangun orang lain.
Ayat 15 mengatakan, ”Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku (pikiranku); aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” Perkataan Paulus tentang ”berdoa dengan pikiranku” menyiratkan bahwa rasul mendorong para penerima suratnya berdoa tidak hanya dengan bahasa yang tidak dimengerti, tetapi juga dengan kata-kata yang jelas dan dapat dimengerti.
Frase ”dengan pikiran” ini bukan berarti hanya berdoa dengan pikiran dan sama sekali tidak dengan roh. Dalam Efesus 6:18 rasul menyuruh kita berdoa setiap waktu di dalam roh. Doa adalah penyembahan dan penyembahan harus di dalam roh (Yoh. 4:24). Ketika kita berdoa dengan roh, bukan dengan bahasa yang tidak dimengerti tetapi dengan kata-kata yang dapat dipahami, dengan sendirinya kita akan menggunakan pikiran untuk menerjemahkan dan menyatakan pemikiran roh. Maksud rasul di sini ialah di dalam sidang gereja, untuk faedah semua hadirin, kita harus berdoa dengan menggunakan pikiran kita, dengan kata-kata yang dapat dimengerti (ayat 19) untuk menyatakan beban dalam roh kita. Dalam sidang gereja, doa kita tidak seharusnya hanya didengar oleh Tuhan dan diperkenan-Nya, tetapi juga dapat dimengerti oleh semua hadirin bagi faedah mereka. Untuk tujuan ini, kita harus belajar menggunakan pikiran kita dalam doa bersama, sama seperti kita menggunakan roh kita, melatih agar pikiran kita bekerja sama dengan roh kita, bahkan menjadi satu dengan roh kita, sehingga roh kita dapat menjadi roh pikiran (Ef. 4:23).
Ayat 16 melanjutkan, ”Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ’amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?” Ini menyatakan bahwa dalam sidang-sidang gereja pada zaman rasul, ketika seseorang berdoa, semua yang lain mengatakan, ”Amin”, bahkan ”Amin” dengan penekanan.
Dalam ayat 17 Paulus sekali lagi menunjukkan betapa besar perhatiannya bagi pembangunan gereja: ”Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.” Ini menunjukkan bukan hanya tutur sabda dan pengajaran kita dalam sidang-sidang gereja harus membangun orang lain, tetapi juga doa-doa dan ucapan-ucapan syukur kita kepada Tuhan harus membangun orang lain. Ini menyatakan betapa rasul memperhatikan pembangunan gereja dan orang-orang kudus. Perkataannya dalam ayat ini bukan hanya mengoreksi tetapi juga memberi instruksi.
Orang-orang yang membela praktek berbahasa lidah mengapresiasi perkataan Paulus dalam ayat 18: ”Aku mengucap syukur kepada Allah bahwa aku berkata-kata dengan bahasa lidah lebih dari pada kamu semua.” Namun, mereka kelihatannya seringkali melupakan bahwa pemikiran Paulus di dalam ayat 18 ini belum lengkap, melainkan dilanjutkan di dalam ayat 19, di mana ia berkata, ”Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.” Ini menunjukkan berbicara dengan kata-kata yang dapat dimengerti sangat diperlukan dalam sidang-sidang gereja bagi pembangunan gereja, dan bahwa berkata-kata dalam bahasa lidah sedikit pun tidak diperlukan. Sungguh, di dalam ayat-ayat ini Paulus tidak mendorong kita untuk berbahasa lidah.
B. Lebih Meyakinkan Orang-orang
Dalam ayat 20 Paulus selanjutnya berkata, ”Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” Orang-orang beriman Korintus bukan hanya bayi-bayi dalam hayat (3:1), tetapi juga anak-anak dalam pemikiran. Mereka perlu bertumbuh dalam hayat juga dalam pemahaman pemikiran mereka. Inilah tujuan rasul dalam menanggulangi masalah-masalah mereka, yaitu supaya mereka dapat matang dalam segala hal.
Kata ”pemikiran” di sini juga berarti angan-angan, nalar, pikiran. Dalam bahasa Yunani kata ini berbeda dengan kata untuk akal budi dalam ayat 15 dan 19. Kata ini ”menekankan perbedaannya dengan sangat gembira” (Vincent). Ini dikatakan dalam hubungannya dengan pemaham-an dan pemikiran orang-orang beriman Korintus terhadap berkata-kata dalam bahasa lidah. Mereka sangat bergairah terhadap berbahasa lidah, karena itu menjadi seperti kanak-kanak dalam pemahaman mereka akan hal ini, tidak menggunakan pikiran mereka secara tepat sebagaimana seharusnya kaum beriman yang matang. Rasul menasihati mereka untuk bertumbuh dan menjadi dewasa dalam pemahaman mereka, yaitu, menjadi seperti rasul yang dapat dengan tepat menggunakan pikiran dalam hal berbahasa lidah (ayat 19). Kaum beriman Korintus yang kekanakkanakan perlu menjadi dewasa dalam pemahaman mereka, supaya mereka dapat mengetahui hal-hal yang disebutkan dalam ayat 21-25.
Ayat 21 mengatakan, ”Dalam hukum Taurat ada ter-tulis: ’Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’” Hukum Taurat dalam ayat ini mengacu kepada Perjanjian Lama. Kata ini dalam Yesaya 28:9-13 menunjukkan bahwa berkata-kata dalam bahasa yang aneh merupakan hukuman bagi orang-orang Israel, karena mereka tidak percaya perkataan Allah yang dapat dimengerti. Karena itu, kutipan rasul ini menyiratkan bahwa orang-orang Korintus belum menerima wahyu Allah yang dapat dimengerti secara tepat yang disampaikan oleh rasul.
Ayat 22 melanjutkan, ”Karena itu karunia bahasa lidah adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.” ”Karena itu” pada permulaan ayat ini menunjukkan bahwa menurut kata dalam ayat 21 yang dikutip dari Yesaya 28, bahasa lidah adalah tanda negatif bagi orang-orang yang tidak percaya, menyatakan keadaan yang kasihan dari ketidakpercayaan mereka. Ini menyiratkan bahwa kapan bahasa lidah dilakukan, ketidakpercayaan orang ada di sana. Maksud rasul di sini adalah untuk mengendalikan orang-orang Korintus dari praktek berbahasa lidah yang berlebih-lebihan. Tetapi bertutur sabda adalah tanda positif bagi mereka yang percaya, yang menunjukkan keadaan percaya mereka yang tepat. Ini merupakan dorongan terhadap praktek bertutur sabda. Fakta bahwa bahasa lidah adalah tanda bagi orang-orang yang tidak percaya dapat menunjukkan bahwa orang-orang yang ingin menerima karunia berbahasa lidah mungkin memiliki satu hati yang tidak percaya.
Ayat 23 mengatakan, ”Jadi, kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa lidah, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, bukankah mereka akan katakan bahwa kamu gila?” Perkataan Paulus tentang semua orang berkata-kata dalam bahasa lidah itu mengacu kepada semua orang yang memiliki fungsi itu, bukan mengacu kepada semua orang yang hadir di dalam sidang itu. Jika di dalam suatu perhimpunan seluruh gereja, semua orang berbahasa lidah, orang luar akan menganggap bahwa semua hadirin itu gila. Karena itu, mendorong semua orang berbahasa lidah dalam sidang gereja adalah tidak benar; ini berlawanan dengan perkataan rasul Paulus.
Kata ”gila” di sini juga berarti sakit ingatan, orang yang berbicara tak karuan. Perkataan ini merupakan pencegahan yang kuat terhadap berbahasa lidah yang berlebihan.
Dalam ayat 24 Paulus berkata, ”Tetapi kalau semua bernubuat (bertutur sabda), lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua.” Frase ”semua bertutur sabda” menyiratkan bahwa semua hadirin memiliki tanggung jawab dan kemampuan untuk bertutur-sabda. Jika semua bertutur-sabda di dalam sidang gereja, orang-orang akan diyakinkan. Bertutur-sabda semacam ini terutama bukan mengucapkan kata-kata nubuat, tetapi berbicara bagi Tuhan dan mengutarakan Tuhan.
Perkara diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua, tidak akan dihasilkan dari perkataan nubuat, tetapi dari penuturan sabda, yang berbicara bagi Tuhan dan mengutarakan Tuhan. Penuturan-sabda semacam ini memerlukan pertumbuhan sampai taraf tertentu dalam hayat. Perkataan ini juga merupakan dorongan terhadap praktek bertutur-sabda.
Dalam ayat 25 Paulus menyimpulkan, ”Segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ’Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’” Ini menyiratkan bahwa bertutur-sabda, berbicara bagi Allah, dan mengutarakan Allah dengan Allah sebagai isi, adalah menyuplaikan Allah kepada para pendengar dan membawa mereka kepada Allah. Ini juga menunjukkan bahwa sidang-sidang gereja seharusnya dipenuhi dengan Allah, dan bahwa semua kegiatannya seharusnya menyampaikan dan mentransmisikan Allah kepada orang-orang, supaya mereka dapat diinfus dengan Allah.