← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 14/23

MENANGGULANGI KARUNIA-KARUNIA (4)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 13:1-13

Satu Korintus 13 adalah lanjutan langsung dari pasal 12. Dalam ayat yang terakhir dari pasal 12, yaitu ayat 31, Paulus berkata, ”Jadi, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang lebih penting. Namun, aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.” Jalan yang lebih utama (unggul) ini adalah kasih. Maka, pasal 13 menyajikan jalan yang lebih unggul ini.

Dalam pasal 12 Paulus menekankan berbicara, Roh itu, Tubuh, dan pemerintahan Allah. Sekarang dalam pasal 13 kita memiliki kasih sebagai penekanan yang kelima. Berbicara membawa kita masuk ke dalam Roh itu, Roh itu membawa kita masuk ke dalam Tubuh, dan Tubuh memelihara kita di dalam Roh itu. Selain itu, Tubuh ini adalah bagi pemerintahan Allah. Penekanan Paulus yang kelima ini kasih, adalah jalan untuk menerapkan karunia-karunia, jalan untuk berada di dalam Tubuh, dan jalan bagi Tubuh.

Pasal 13 ini bukanlah satu bagian yang terpisah dari 1Korintus. Sebaliknya, pasal ini berada di antara pasal 12 dan 14, dan bersama pasal-pasal itu membentuk satu bagian dalam Surat Kiriman ini yang menanggulangi karunia-karunia. Karena itu kita tidak boleh melihat pasal 13 ini seolah-olah berdiri sendiri. Tidak, pasal ini merupakan lanjutan dari pasal 12 dan memimpin ke dalam pasal 14. Ayat pertama dari pasal 14 menunjukkan hal ini: ”Kejarlah kasih itu dan berusahalah memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat (bertutur-sabda).” Ayat yang terakhir dari pasal 12 ini membawa kita masuk ke dalam pasal 13, dan ayat pertama dari pasal 14 menyimpulkan pasal 13 serta membawa kita masuk ke dalam pasal 14. Dalam 12:31 Paulus membicarakan jalan yang lebih unggul untuk menerapkan karunia-karunia, dalam pasal 13 ia menyajikan kasih sebagai jalan yang lebih unggul, dan dalam 14:1 ia menasihatkan untuk mengejar kasih dan berusaha untuk memperoleh karunia-karunia rohani, khususnya agar kita dapat bertutur-sabda. Jadi, pasal-pasal ini merupakan satu unit, dengan pasal 13 melanjutkan pasal 12 dan pasal 14 melanjutkan pasal 13.

Apakah kasih itu hanya merupakan jalan, atau juga merupakan satu karunia? Menurut Roma 12, ada dasar Alkitab yang mengatakan bahwa kasih itu merupakan suatu karunia. Dalam Roma 12:6-8 Paulus mengatakan bahwa kita memiliki karunia-karunia yang berbeda-beda menurut kasih karunia (anugerah) yang diberikan kepada kita dan bahwa kita harus menerapkan karunia-karunia itu menurut kasih karunia ini. Menurut ayat 8, Paulus bahkan menunjukkan belas kasihan itu adalah satu karunia. Kemudian dalam ayat 9 dan 10 Paulus selanjutnya berkata, ”Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Kemudian dalam ayat 12 dan 13 ia berkata, ”Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesengsaraan, dan bertekunlah dalam doa! Turutlah menanggung kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!” Semua hal ini, bersama kasih, dibicarakan dalam satu pasal yang berkenaan dengan karunia-karunia. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa kasih sedikitnya serupa dengan karunia-karunia.

Perkataan Paulus dalam 1Korintus 13:8 juga dapat menunjukkan bahwa kasih itu merupakan satu karunia, bukan hanya satu jalan: ”Kasih tidak berkesudahan; tutur-sabda akan berakhir; bahasa lidah akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Di sini Paulus menjajarkan kasih di samping karunia-karunia bertutur sabda, berkata-kata dalam bahasa lidah, dan pengetahuan. Tidak diragukan lagi bahwa bertutur sabda, berkata-kata dalam bahasa lidah, dan mengajar dengan perkataan pengetahuan adalah karunia-karunia. Meskipun tutur sabda akan berakhir, bahasa lidah akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap, tetapi kasih tidak akan berkesudahan.

Saya telah menunjukkan bahwa ada saudara dan saudari tertentu yang kelihatannya tidak memiliki karunia apa pun. Namun, mereka mutlak bagi Tubuh. Bagi Tubuh adalah perkara kasih, dan memperhatikan anggota-anggota Tubuh itu memerlukan kasih. Jika kita tidak memiliki kasih, bagaimana kita dapat memperhatikan orang lain? Kasih diperlukan untuk memperhatikan anggota-anggota supaya Tubuh dapat dibangunkan. Maka, kasih adalah karunia yang paling besar. Tidak ada satu pun yang dapat mendidik orang sebanyak kasih. Kasih adalah antibiotik rohani. Jika ada kasih di dalam satu gereja lokal, maka tidak perlu kuatir akan penyakit-penyakit rohani. Kasih adalah obat yang paling baik untuk mengobati penyakit-penyakit itu. Kasih adalah satu karunia, bahkan karunia yang paling besar.

Tidaklah sulit untuk mendapatkan karunia kasih ini. Tidak perlu berpuasa untuk kasih ini atau berdoa untuk menerimanya. Selain itu, tidak perlu meniru, atau berpura-pura. Kasih ini ada di dalam kita. Asalkan Anda memiliki hayat ilahi melalui kelahiran kembali, maka Anda juga memiliki kasih, karena kasih adalah ekspresi hayat, bentuk lain dari hayat.

V. JALAN YANG PALING UNGGUL UNTUK MENERAPKAN KARUNIA-KARUNIA

A. Perlunya Kasih

Paulus memakai seluruh pasal untuk menekankan pentingnya perkara kasih. Penekanannya yang pertama, yaitu tentang berbicara, hanya menduduki 3 ayat; penekanannya yang kedua, tentang Roh itu, menduduki 9 atau 10 ayat; dan penekanannya yang ketiga dan keempat, yaitu Tubuh dan pemerintahan, menduduki 16 ayat dan 3 ayat yang berbeda. Tetapi ketika Paulus sampai kepada pentingnya perkara kasih, ia menggunakan seluruh pasal untuk perkara ini. Ini memperlihatkan betapa pentingnya kasih ini.

Kasih adalah perkara hayat. Ada karunia-karunia ter-tentu yang juga berhubungan dengan hayat, karena karunia-karunia itu dikembangkan dari karunia-karunia yang mula-mula: yaitu Roh Kudus dan hayat ilahi. Namun, karunia-karunia lainnya, khususnya karunia-karunia yang ajaib seperti berkata-kata dalam bahasa lidah, menafsirkan bahasa lidah, pekerjaan-pekerjaan kuasa atau tanda-tanda ajaib, dan penyembuhan, tidak dikembangkan dari hayat. Karena alasan ini, maka Paulus membuka pasal 13 ini dengan berkata, ”Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” Gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing mengeluarkan suara tetapi tanpa hayat. Ini merupakan ilustrasi yang sesungguhnya dari bahasa lidah. Dalam pasal 12 dan 14 Paulus menempatkan bahasa lidah dan menafsirkan bahasa lidah di tempat yang terakhir. Tetapi di sini ia pertama-tama menyinggung bahasa lidah, namun secara negatif dengan menunjukkan bahwa bahasa lidah itu bukanlah perkara hayat.

Sama prinsipnya, kesembuhan ilahi mungkin bukan perkara hayat. Ada kesembuhan yang berasal dari karunia dan ada kesembuhan yang berasal dari kasih karunia. Jenis yang kedua ini berasal dari hayat, bahkan dari hayat kebangkitan. Selama kehidupan kristiani saya, saya telah mengalami karunia kesembuhan ini. Tetapi saya ingin bersaksi bahwa sering kali saya mengalami kesembuhan oleh kasih karunia. Selama dua setengah tahun, yaitu dari September tahun 1943 sampai musim semi tahun 1946, saya menderita penyakit TBC yang parah. Berbulan-bulan lamanya saya berbaring di tempat tidur. Setiap hari saya berdoa kepada Tuhan dan ditanggulangi oleh-Nya. Saya tidak berdoa bagi gereja, atau bagi pekerjaan, tetapi saya berdoa bagi keadaan saya sendiri. Pada akhirnya, perkara yang paling penting bukanlah saya disembuhkan, tetapi saya sepenuhnya dibersihkan dan dimurnikan. Saya dapat bersaksi bahwa selama jangka waktu itu, motivasi saya, maksud saya, dan setiap bagian batin saya ditanggulangi. Kemudian Tuhan menyembuhkan saya bukan dengan karunia dalam kuasa, melainkan oleh kasih karunia dalam hayat. Kesembuhan itu tuntas dan mutlak. Saya mengisahkan pengalaman saya ini untuk menunjukkan bahwa menerima kesembuhan melalui sarana karunia itu tidak berhubungan dengan hayat. Namun, ada satu kesembuhan oleh kasih karunia dalam hayat.

Saya lebih mengapresiasi karunia dalam hayat daripada karunia-karunia yang ajaib. Saya telah melihat beberapa orang beriman yang benar-benar menerima karunia-karunia ajaib tertentu yang justru memalingkan orang dari Tuhan dan akhirnya tidak percaya dan meninggalkan Tuhan. Yang kita perlukan adalah hayat dan kasih, karunia yang paling baik, yang melayankan hayat kepada orang lain.

Sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan, yang mutlak bagi-Nya, dan yang menuntut pembangunan Tubuh-Nya, supaya Dia dapat memiliki sarana untuk melaksanakan pemerintahan Allah di bumi bagi penggenapan tujuan kekal Allah, kita harus mengejar kasih. Para penatua dan sekerja, kalian memerlukan kasih. Saudara-saudara dan saudari-saudari, kalian semua memerlukan kasih. Hanya kasih yang akan membangun Tubuh. Selain itu, menurut pasal 13, karunia kasih ini bersifat kekal, karena karunia ini tersusun dari hayat ilahi dan adalah ekspresi Allah, ekspresi hayat yang kekal. Karena itu, kita semua harus mengejar kasih ini.

Dalam 13:2-3 Paulus berkata, ”Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” Menyerahkan tubuh dalam ayat 3 ini adalah mati sebagai seorang martir.

B. Definisi Kasih

Dalam 13:4-7 Paulus memberikan definisi kasih kepada kita. Definisi ini mencakup lima belas kebajikan kasih: sabar, baik hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, bersukacita karena kebenaran, menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Dalam ayat 4 Paulus berkata, ”Kasih itu sabar; kasih itu baik hati.” Hayat adalah unsur Allah, kasih adalah ekspresi Allah Sang hayat. Karena itu, Allah adalah kasih (1Yoh. 4:16). Allah Sang hayat terekspresikan dalam kasih. Kelima belas kebajikan kasih yang dicantumkan dalam ayat 4-7 merupakan kebajikan-kebajikan ilahi dari hayat Allah. Hayat yang sedemikian berbeda dengan karunia di luar yang dicantumkan dalam pasal 12. Orang-orang Korintus mengejar karunia-karunia yang di luar, tetapi mereka mengabaikan kasih yang adalah ekspresi hayat Allah. Karena itu, mereka masih bersifat daging, milik daging, atau jiwani (3:1, 3; 2:14). Mereka perlu bertumbuh dalam hayat (ternyata dari kasih mereka dalam merawat Tubuh Kristus), mengejar kasih, bukan mengejar karunia yang di luar, supaya mereka dapat menjadi rohani (2:15).

Dalam ayat 4 Paulus mengatakan bahwa kasih itu tidak memegahkan diri. Memegahkan diri agak berbeda dengan membanggakan diri. Memegahkan diri adalah membanggakan diri dengan cara merusak orang lain. Ini adalah membanggakan diri dengan merendahkan dan menginjak orang lain. Kasih tentunya tidak memegahkan diri.

Dalam ayat 5 Paulus menunjukkan bahwa kasih ”tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Bahasa Yunaninya di sini menunjukkan bahwa kasih itu tidak menyimpan catatan seperti pemegang buku. Ini berarti jika Anda mengasihi orang lain, Anda tidak akan menyimpan catatan kesalahan-kesalahan orang lain.

Ayat 6 mengatakan, ”Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” Totalitas ketidakadilan adalah Iblis, dan totalitas kebenaran adalah Allah. Kasih sebagai ekspresi hayat ilahi tidak bersukacita atas ketidakadilan Iblis, tetapi bersukacita karena kebenaran Allah. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan seseorang, tetapi bersukacita karena kebenaran.

Menurut ayat 7, kasih itu menahan segala sesuatu. Kata Yunani yang sama dengan ”menanggung” dalam 9:12. Secara harfiah, ini berarti (1) mewadahi, menampung (seperti sebuah bejana), dan (2) menutupi (seperti atap) kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi juga (3) menudungi dan melindungi dengan menutup (seperti atap). Kata ini dipakai dalam kitab-kitab Injil mengenai peristiwa di mana ada beberapa orang membuka atap rumah untuk membawa orang sakit kepada Tuhan Yesus. Mereka membuat lubang di atap itu dan kemudian menurunkan orang yang sakit itu ke tempat Yesus berada (Mrk. 2:4). Kata Yunaninya berarti membuat sebuah lubang di atap rumah seseorang. Kita mungkin melakukan ini dengan bergunjing tentang orang lain. Sewaktu kita membicarakan mereka, maka kita sedang membuat lubang di atap yang menutupi mereka; yaitu, kita membongkar rahasia mereka. Namun, kasih menutupi segala sesuatu; kasih tidak membuat lubang di atap rumah seseorang.

Jika kita melihat lima belas kebajikan kasih yang dituliskan di dalam ayat-ayat ini, maka kita akan sadar bahwa kasih itu tidak lain adalah Allah itu sendiri. Selain Allah, siapa yang memiliki semua kebajikan ini? Kita tidak dapat sabar untuk menanggung segala sesuatu atau percaya segala sesuatu. Kita juga tidak dapat benar-benar memiliki ketekunan kesabaran. Hanya Allah yang memiliki semua kebajikan ini. Maka, kasih yang digambarkan di sini adalah Allah itu sendiri. Lagi pula, di tempat lainnya dalam Alkitab dengan jelas dikatakan bahwa Allah itu kasih (1Yoh. 4:16). Allah juga hayat. Hayat adalah esens Allah, dan kasih adalah ekspresi Allah. Dalam diri-Nya sendiri, Allah itu hayat, tetapi Allah yang terekspresikan adalah kasih. Kasih yang adalah Allah itu sendiri dengan esens ilahi-Nya sebagai hayat memiliki lima belas kebajikan ini. Inilah alasannya dalam 1Korintus Paulus berpesan kepada kaum beriman untuk bertumbuh dalam hayat. Mereka kekurangan hayat, kekurangan kasih. Dengan kata lain, mereka kekurangan Allah dan perlu bertumbuh dalam hayat.

C. Keunggulan Kasih

Dalam 13:8-13 Paulus membicarakan keunggulan kasih. Dalam ayat 8 ia mengumumkan, ”Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa lidah akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Kasih tidak berkesudahan berarti kasih ini bertahan lebih lama daripada segala sesuatu, tetap berpegang pada tempatnya. Kasih tak berkesudahan, tidak akan pudar, tidak akan berakhir. Ini sama seperti hayat kekal Allah. Semua karunia, baik nubuat-nubuat, atau bahasa lidah, atau pengetahuan, adalah sarana operasi Allah, bukan hayat yang mengekspresikan Allah. Karena itu, semuanya akan berhenti dan menjadi tidak berguna. Semua ini bersifat sezaman. Hanya hayat yang diekspresikan oleh kasih adalah kekal. Menurut ayat-ayat berikutnya, semua karunia adalah bagi anak-anak yang belum matang pada zaman ini; semua itu akan menjadi tidak berguna pada zaman yang akan datang. Hanya kasih yang dimiliki orang-orang yang matang akan bertahan sampai kekal. Karena itu, ketika kita hidup dan bertindak berdasarkan kasih, kita mencicipi zaman yang akan datang dan zaman kekekalan.

Tidak ada satu pun yang dapat menggoyahkan kasih atau menyingkirkannya. Semua karunia lainnya termasuk tutur sabda, pada akhirnya akan berakhir, tetapi kasih tetap ada. Kasih tidak akan pernah runtuh. Pada zaman yang akan datang akan ada kasih, tetapi tidak akan ada bahasa lidah, penafsiran bahasa lidah, maupun tutur sabda. Baik bahasa lidah, yaitu karunia yang paling kekanak-kanakan, dan tutur sabda, karunia yang lebih matang, akan berakhir.

Dalam ayat 9-10 Paulus melanjutkan, ”Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan tutur sabda kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.” Pada zaman ini kita hanya tahu dan bertutur sabda secara sebagian saja, tidak sepenuhnya. Kata ”jika” dalam ayat 10 mengacu kepada zaman yang akan datang, zaman kerajaan. Kata ”sempurna” juga berarti matang, berlawanan dengan kanak-kanak dalam ayat berikutnya. Selain itu, ”yang tidak sempurna” itu mengacu kepada hal-hal seperti nubuat (tutur sabda), pengetahuan, dan sebagainya seperti yang disinggung dalam ayat 8.

Ayat 11 mengatakan, ”Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” Dalam zaman ini kaum beriman adalah kanak-kanak, memiliki semua karunia kanak-kanak. Kata ”kanak-kanak” di sini berarti orang yang belum matang. Berpikir seperti kanak-kanak itu berarti memperhitungkan hal-hal seperti kanak-kanak. Pada zaman yang akan datang, kaum beriman yang matang akan menjadi dewasa, dan semua karunia kanak-kanak, terutama karunia-karunia yang terkecil bahasa lidah dan penafsirannya akan lenyap. Namun, dalam zaman ini kita dapat memiliki pencicipan akan zaman yang akan datang melalui memperhidupkan kehidupan kasih. Kasih mematangkan kita dalam hayat; karunia menahan kita terus dalam kekanak-kanakan.

Dalam ayat 12 Paulus melanjutkan berkata, ”Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Kata ”sekarang” mengacu kepada zaman ini. Mengenai kalimat ”melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar”, beberapa sumber mengatakan bahwa ini adalah melihat melalui jendela. J.N. Darby mengatakan dalam New Translationnya, ”Yaitu melalui suatu sarana yang dalam tingkat tertentu menghalangi penglihatan.” Kata ini juga berarti ”sebuah kaca”, tetapi digunakan untuk jendela, yang dibuat bukan dengan kaca yang transparan seperti sekarang, tetapi dengan bahan-bahan yang semi transparan.”

Kata ”nanti” dalam ayat 12 mengacu kepada zaman yang akan datang. Dalam ayat 13 Paulus menyimpulkan, ”Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Kata ”demikianlah” di sini menunjukkan perbedaan yang kontras antara ayat 13 dengan ayat-ayat sebelumnya.

Iman menerima hal-hal rohani (Yoh. 1:12) dan mensubstansiasikan hal-hal rohani dan yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1). Pengharapan menuai dan mengambil bagian atas hal-hal yang disubstansiasikan oleh iman (Rm. 8:24-25). Kasih menikmati hal-hal yang diterima dan disubstansiasikan oleh iman, serta hal-hal yang didapatkan oleh pengharapan, untuk merawat diri kita sendiri, membangun orang lain (8:1), dan mengekspresikan Allah, dengan demikian memenuhi seluruh hukum Taurat (Rm. 13:8-10). Kasih yang sedemikian membuat kita bertumbuh dalam hayat melalui perkembangan dan kegunaan karunia-karunia rohani, dan merupakan jalan terunggul untuk memiliki karunia yang lebih besar. Karena itu, kasih adalah yang terbesar di antara ketiga kebajikan yang tetap ada ini. Maka kita harus mengejar kasih (1Kor. 14:1).

Kasih merawat Tubuh dan membangun Tubuh. Pertama-tama kasih menyatukan Tubuh dan kemudian membangunnya. Karena itu, kita memfokuskan perhatian kita pada kasih yang akan membangun Tubuh ini. Kita harus mengejar kasih dan tetap tinggal di dalam Tubuh untuk menikmati Roh itu.