← Daftar isi 1 Korintus (3) · bab 11/23

MENANGGULANGI KARUNIA-KARUNIA (1)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 12:1-11

Mengapa Paulus segera menanggulangi masalah karunia-karunia setelah ia membicarakan tentang perjamuan malam Tuhan? Kelihatannya tidak ada hubungan antara perjamuan malam Tuhan dengan karunia-karunia. Banyak pembaca Alkitab merasa sulit memahami alasan Paulus terlebih dahulu menanggulangi perjamuan malam Tuhan kemudian menanggulangi masalah karunia-karunia. Jika kita ingin memahami hubungan di antara kedua perkara ini, kita harus melihat bahwa kedua perkara itu berhubungan dengan pemerintahan Allah. Pemerintahan ilahi adalah rahasia yang membuka lima masalah yang dibahas dalam enam pasal yang terakhir dari 1Korintus. Karena itu, jika kita melihat bagian dari kitab ini berkenaan dengan hal-hal dalam ruang lingkup pemerintahan ilahi, kita akan memiliki kunci untuk memahami pasal-pasal ini.

Perkara pertama yang dibahas dalam bagian ini adalah penudungan kepala yang berhubungan dengan kekepalaan. Kekepalaan adalah butir pertama dalam pemerintahan Allah. Sebagaimana penudungan kepala berhubungan dengan kekepalaan, maka perjamuan malam Tuhan berhubungan dengan Tubuh. Tubuh ini adalah sarana yang olehnya Allah melaksanakan pemerintahan-Nya. Tanpa Tubuh, Kepala tidak akan dapat menggenapkan sesuatu di bumi bagi pelaksanaan pemerintahan Allah ini.

Sekarang kita harus melanjutkan untuk melihat bahwa dalam Tubuh ini perlu ada fungsi-fungsi yang berbeda-beda. Jika tubuh jasmani saya tidak memiliki fungsi apa pun, maka tubuh ini tidak akan dapat melakukan apa-apa. Namun, dalam setiap anggota tubuh saya ada satu fungsi. Fungsi ini berasal dari karunia tiap-tiap anggota. Jari, tangan, lengan, dan bahu semuanya memiliki karunianya masing-masing. Setiap anggota dari tubuh kita, tidak peduli betapa kecil atau kelihatannya tidak penting, memiliki suatu karunia. Selama ia adalah satu anggota tubuh, maka ia memiliki satu karunia, dan karunia ini, ada fungsinya. Melalui sarana fungsi dari semua anggota tubuh, maka tubuh ini dapat bekerja. Totalitas fungsi harmonis dari semua anggota tubuh ini adalah pekerjaan tubuh itu. Ketika saya berbicara, setiap anggota tubuh saya terlibat. Setiap bagian dari tubuh saya, setiap otot, bahkan hidung, dan telinga, semuanya berfungsi.

Allah sedang melaksanakan pemerintahan di alam semesta ini bagi penggenapan tujuan kekal-Nya. Kristus, Sang Kepala memerlukan Tubuh, yaitu gereja. Inilah alasannya Iblis membenci gereja. Hari ini kita ditentang karena kita berdiri bagi gereja. Ada toko-toko buku Kristen yang menjual semua buku yang ditulis oleh Saudara Watchman Nee kecuali bukunya tentang gereja. Beberapa misionaris di Taiwan mengakui bahwa pekerjaan kita di sana baik, tetapi mereka menganggap perkara pelaksanaan gereja ini seperti ”lalat mati di dalam minyak wangi.”

Iblis membenci Tubuh dan menentangnya. Jika gereja hanya merupakan satu kumpulan orang beriman yang datang berkumpul untuk bersekutu saja, Iblis tidak akan membenci gereja begitu rupa. Namun, bagi kita, gereja bukan hanya satu kumpulan saja; melainkan Tubuh bagi pelaksanaan pemerintahan Allah. Untuk menjadi gereja yang demikian, kita semua perlu berfungsi. Namun, misalnya ada gereja yang di dalamnya hanya ada beberapa anggota yang berfungsi dan sisanya hanya duduk di dalam sidang-sidang tanpa berfungsi; gereja yang demikian mungkin ditentang oleh si musuh, tetapi tidak ditentang seperti orang-orang yang berdiri bagi Tubuh sebagai alat Kepala untuk melaksanakan pemerintahan ilahi.

Tubuh memiliki banyak anggota, dan setiap anggota memiliki satu karunia. Inilah sebabnya setelah kekepalaan dan Tubuh, Paulus menyinggung perkara karunia rohani. Karunia rohani adalah untuk fungsi dari setiap anggota Tubuh. Maka, pasal 12 adalah kelanjutan langsung dari pasal 11. Setelah membedakan Tubuh, kita perlu melihat pentingnya semua karunia dari anggota-anggota Tubuh. Dalam 12:4-11 Paulus menyinggung sembilan karunia. Ini bukan berarti hanya ada sembilan karunia rohani. Paulus menulis sembilan karunia ini sebagai satu contoh.

I. PRINSIP YANG MENGENDALIKAN

Dalam 12:1-3 kita memiliki prinsip yang mengendalikan karunia-karunia rohani. Dalam ayat 1 Paulus berkata, ”Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, Saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.” Dalam pasal 12-14 Paulus menanggulangi masalah kesembilan di antara orang-orang Korintus, yaitu masalah karunia-karunia rohani sehubungan dengan pemerintahan dan operasi Allah.

Dalam ayat 2-3 Paulus melanjutkan,”Kamu tahu bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu dipikat dan ditarik kepada berhala-berhala yang bisu. Karena itu, aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata, ’Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorang pun, yang dapat berkata, ’Tuhan Yesus’, selain di dalam Roh Kudus” (Tl.). Pemikiran rasul di sini ialah berhala-berhala yang bisu, tak bersuara dalam ayat 2 membuat para penyembahnya bisu dan tak bersuara. Tetapi Allah yang hidup menyebabkan para penyembah-Nya berbicara di dalam Roh-Nya. Berkata-kata semacam ini berhubungan dengan karunia-karunia rohani. Tidak ada seorang pun yang berbicara di dalam Roh Allah akan berkata, ”Terkutuklah Yesus!” Dia mau berkata dan dapat berkata, ”Tuhan Yesus”. Orang yang menyembah Allah tidak patut bungkam, tetapi harus di dalam Roh Allah bersuara mengatakan, ”Tuhan Yesus”. Berkata ”Tuhan Yesus” ini adalah fungsi utama semua karunia rohani.

Prinsip yang mengendalikan karunia-karunia ini adalah berbicara oleh roh kita bersama Roh itu, yaitu mengucapkan sesuatu dengan Roh itu di dalam roh kita. Pembicaraan semacam ini dipusatkan pada Tuhan Yesus. Karena itu, apa yang kita katakan harus difokuskan pada Kristus. Kristus harus menjadi substansi, unsur, esens, pusat, dan lingkungan pembicaraan kita.

Ketika Paulus menulis tentang karunia-karunia dari anggota-anggota Tubuh ini, ia memulai dengan membicarakan berhala-berhala yang bisu. Tentunya, karunia-karunia ini tidak berhubungan dengan berhala-berhala itu. Tetapi apa yang Paulus katakan mengenai karunia rohani ini di ucapkan kepada orang-orang Korintus yang memiliki latar belakang menyembah berhala. Dalam ayat 2 Paulus mengingatkan mereka bahwa pada waktu mereka masih belum mengenal Allah, yaitu masih menjadi orang kafir, mereka ”ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.” Di sini Paulus tidak mengatakan bahwa mereka ditarik kepada dosa-dosa, hawa nafsu, atau dunia; melainkan ia mengatakan bahwa mereka ditarik kepada berhala-berhala yang bisu, mereka ditarik dalam segala cara. Tidak peduli dengan cara bagaimana mereka ditarik, mereka telah tertarik kepada berhala-berhala yang bisu. Pemakaian kata sifat ”bisu” oleh Paulus ini menyiratkan bahwa berhala-berhala dan orang-orang yang menyembahnya itu bisu, tidak dapat berbicara. Pada waktu orang-orang Korintus ini belum percaya Tuhan, mereka juga bisu; mereka adalah penyembah bisu dari berhala-berhala yang bisu. Ini berarti ketika mereka menyembah berhala, mereka tidak berbicara. Sebaliknya, karena berhala-berhala itu bisu, mereka juga bisu, berdiam diri. Tetapi setelah percaya kepada Kristus, sekarang mereka adalah penyembah-penyembah Allah yang hidup.

Dengan berbicara inilah kita membuktikan bahwa kita hidup. Allah kita itu hidup. Alkitab mewahyukan bahwa Allah kita yang hidup ini adalah Allah yang berbicara. Sepanjang abad, khususnya dalam zaman Perjanjian Baru, Allah telah berbicara. Untuk membuktikan bahwa kita adalah anggota Kristus yang hidup, kita juga harus berbicara. Tentunya, maksud kita bukanlah bahwa kita harus berbicara secara sembarangan atau kita harus bergosip. Sebaliknya, kita harus membicarakan sesuatu bagi Tuhan dan bahkan mengutarakan Tuhan. Kita perlu membicarakan hal-hal yang dipusatkan pada Kristus. Lagi pula, Kristus harus menjadi pembicaraan kita, tutur kata kita. Dia harus menjadi pusat dan lingkungan pembicaraan kita. Membicarakan Kristus secara demikian adalah satu bukti yang kuat bahwa kita hidup. Karena Allah yang kita sembah itu hidup dan berbicara, maka kita juga berbicara dan dengan demikian membuktikan bahwa kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus yang hidup.

Saya dapat bersaksi dari pengalaman bahwa semakin saya berbicara, semakin hidup diri saya. Berbicara sebenarnya adalah bernafas. Ketika saya berbicara dengan melatih roh saya, maka saya menghirup Kristus masuk. Hari demi hari kita perlu membicarakan Kristus kepada suami atau istri kita, kepada anak-anak kita, dan kepada tetangga-tetangga kita. Kita perlu membicarakan Kristus, dengan mengambil Dia sebagai inti kita. Pembicaraan ini adalah prinsip yang mengendalikan karunia-karunia rohani.

Menurut ayat 3, pembicaraan kita harus dikendalikan oleh Tuhan Yesus. Dalam ayat ini Paulus berkata, ”Karena itu, aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah dapat berkata, ’Terkutuklah Yesus!’” Kata ”Terkutuklah Yesus!” secara harfiah berarti ”Anathema Yesus.” Anathema berarti suatu benda atau orang yang dikutuk; yaitu dipisahkan, diserahkan kepada celaka. Mengatakan ”Terkutuklah Yesus!” berarti membicarakan Kristus secara negatif. Kapan saja seseorang membicarakan Kristus secara negatif, maka itu adalah suatu kutukan.

Dalam ayat 3 Paulus juga berkata, ”Tidak ada seorang pun, yang dapat berkata, ’Tuhan Yesus’, selain di dalam Roh Kudus” (Tl.). Ayat ini menunjukkan ketika kita berkata dengan roh yang tepat, ”Tuhan Yesus”, kita berada di dalam Roh Kudus. Karena itu, menyeru Tuhan Yesus adalah jalan untuk mengambil bagian, menikmati, dan mengalami Roh Kudus.

Kita telah menunjukkan bahwa terjemahan harfiah bahasa Yunaninya dalam ayat 3 ini adalah ”Tuhan Yesus”. Bila kita berkata, ”Yesus adalah Tuhan,” kita mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan. Tetapi bila kita berkata, ”Tuhan Yesus”, maka kita bukan hanya membuat pengakuan yang demikian, melainkan kita juga berseru kepada-Nya. Mengatakan ”Tuhan Yesus” itu lebih manis daripada mengatakan ”Yesus adalah Tuhan.” Perbedaan ini dapat digambarkan dalam hal kita berbicara tentang bapa kita. Misalnya, mengatakan, ”Ini adalah bapaku,” tidaklah semanis dan seintim mengatakan, ”Bapaku!” Dalam kehidupan sehari-hari Anda apakah Anda berkata, ”Yesus adalah Tuhan,” atau apakah Anda lebih sering berseru, ”Tuhan Yesus?” Kebanyakan dari antara kita akan bersaksi bahwa kita lebih sering berseru, ”Tuhan Yesus”, daripada mengumumkan, ”Yesus adalah Tuhan.”

Tidak diragukan lagi, ungkapan ”Tuhan Yesus” dalam ayat 3 ini menunjukkan menyeru nama Tuhan Yesus. Hari ini ada orang-orang yang menentang praktek berseru kepada nama Tuhan. Tetapi dalam 12:3 Paulus dengan tegas menunjukkan perkara berseru kepada Tuhan dengan ber-suara. Terjemahan ”Yesus adalah Tuhan” tidak menunjukkan suatu seruan. Tetapi terjemahan harfiahnya ”Tuhan Yesus” ini bukan hanya menunjukkan satu pengakuan, tetapi juga satu panggilan, satu seruan kepada Tuhan.

Banyak dari antara kita yang dapat bersaksi bahwa berseru kepada nama Tuhan Yesus membuat kita menjadi hidup. Bila kita merasa agak tertekan, kita perlu berseru, ”O, Tuhan Yesus”. Kita akan dikuatkan dan ditinggikan. Ada berita yang mengatakan kepada kita bahwa sejumlah orang kudus di satu tempat telah mendapat bantuan melalui berseru kepada nama Tuhan dan melalui doa-baca. Ada seorang saudara bersaksi bahwa Tuhan telah memberikan firman-Nya, Roh-Nya, dan nama-Nya kepada kita. Kita dapat menikmati firman-Nya melalui doa-baca; kita dapat menikmati Roh-Nya dengan mengikuti pengurapan; dan kita dapat menikmati nama-Nya dengan berseru kepada nama Tuhan.

Sebagai orang-orang yang menyembah Allah yang hidup, kita harus berbicara. Namun, banyak orang Kristen yang bisu. Pergerakan Pentakosta muncul sebagai reaksi terhadap kebisuan ini. Dulu pada zaman yang berbeda-beda, juga telah ada reaksi terhadap kebisuan agama yang formal ini. Misalnya, pada zaman John Wesley, pemberitaan firman itu hanya terbatas di tempat ibadah saja. Tidak ada seorang pun yang diizinkan untuk memberitakan di tempat yang sekuler. Tetapi John Wesley bereaksi terhadap pembatasan itu dan memberitakan Injil di luar ruang ibadah, di jalan-jalan, dan bahkan di tambang-tambang, sewaktu orang pulang bekerja dari tambang batu bara. Ada beberapa orang yang bertobat dan menangis oleh pemberitaan John Wesley ini. Yang lainnya, ada yang lupa diri karena sukacita, dan berseru kepada Tuhan.

Kristus adalah Firman Allah, pembicaraan Allah. Jadi ketika kita menikmati Kristus, kita juga perlu berbicara. Kita akan mengutarakan Kristus, dan bahkan sering kali menyerukan Kristus. Dalam perjalanan kita ke sidang-sidang gereja, kita tidak seharusnya membisu. Bahkan sewaktu kita dalam perjalanan, kita harus membicarakan Kristus dan kemudian membawa Kristus ke dalam sidang melalui pembicaraan kita.

Mengatakan bahwa Yesus terkutuk adalah mengucapkan hal-hal negatif mengenai Dia. Tetapi berkata, ”Tuhan Yesus”, itu berarti membicarakan Dia secara positif. Selain itu, dalam 12:3 Paulus memberi tahu kita bahwa tidak ada seorang pun dapat berkata, ”Tuhan Yesus”, selain di dalam Roh Kudus. Suatu perkataan yang sangat menghibur! Selama kita berkata, ”Tuhan Yesus”, dengan roh yang tepat, kita berada di dalam Roh Kudus. Apakah Anda merasa bahwa Anda tidak berada di dalam Roh? Jika demikian serulah nama Tuhan Yesus. Dengan berseru kepada nama-Nya, Anda akan menghirup udara surgawi, yaitu Roh Kudus, dan Anda akan berada di dalam Roh. Namun, jika Anda diam saja, tidak berseru kepada Tuhan, Anda tidak akan menghirup udara rohani ini. Hal ini akan membuat kerohanian Anda tidak sehat dan tidak gembira. Tetapi semakin Anda berbicara bagi Kristus dan bahkan membicarakan Kristus, Anda akan semakin gembira. Kita yang berada dalam pemulihan Tuhan memiliki banyak hal positif untuk dibicarakan. Kita memiliki Kristus, kita memiliki kehidupan gereja, dan kita memiliki tujuan kekal Allah. Marilah kita semua belajar membicarakan Kristus. Pembicaraan ini adalah prinsip yang mengendalikan karunia-karunia rohani.

Ketika kita berada di Elden Hall di Los Angeles pada tahun 1970, sidang-sidang selalu dimulai jauh sebelum jam sidang. Orang-orang kudus berkumpul berbicara, bernyanyi, dan memuji lama sebelum sidang itu dimulai. Tetapi hari ini di tempat-tempat tertentu ada kecenderungan orang-orang kudus berdiam diri. Kelihatannya banyak orang yang telah kehilangan fungsi dan karunia mereka. Hal ini membuka jalan untuk kembali kepada keadaan yang jatuh, di mana ada sidang-sidang dengan bentuk dan sistem kependetaan. Dalam gereja, semua anggota harus hidup dan berbicara. Maka sepanjang waktu akan dipenuhi dengan pengutaraan Kristus dan berbicara bagi Kristus.

II. PENYATAAN ROH

A. Ada Berbagai Karunia, tetapi Satu Roh

Dalam ayat 4 Paulus selanjutnya berkata, ”Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh.” ”Tetapi” di sini menunjukkan perbedaan antara ayat 3 dengan ayat 4. Ayat 3 mengatakan bahwa ketika kita melaksanakan pelayanan dengan berkata-kata dalam Roh Allah, kita semua berkata, ”Tuhan Yesus” meninggikan Yesus sebagai Tuhan. ”Tetapi” ada perbedaan-perbedaan dalam karunia-karunia untuk penyataan Roh ini; ada keanekaragaman di dalam karunia-karunia ini.

Kata ”berbagai” juga dapat diterjemahkan tidak sama, bermacam-macam, berbeda. Demikian juga dalam ayat 5, 6.

Karunia-karunia dalam 12:4 ini mengacu kepada karunia-karunia yang di luar, kemampuan atau kecakapan untuk pelayanan. Beberapa dari karunia itu bersifat mujizat, dan beberapa merupakan perkembangan dari karunia-karunia awal yang disinggung dalam 1:7. Semua karunia ini berbeda dari karunia-karunia awal.

B. Ada Berbagai Pelayanan, tetapi Satu Tuhan

Dalam ayat 5 Paulus melanjutkan, ”Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan.” Di sini ministri adalah pelayanan. Karunia-karunia dalam ayat 4 adalah untuk pelayanan-pelayanan ini, dan pelayanan-pelayanan ini adalah untuk menyatakan perbuatan-perbuatan ajaib dalam ayat 6.

C. Ada Berbagai Perbuatan Ajaib,

tetapi Allah yang Sama juga yang Mengerjakan Semuanya dalam Semua Orang

Ayat 6 mengatakan, ”Ada pula berbagai perbuatan (pekerjaan) ajaib, tetapi Allah yang sama juga yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” Perbuatan ajaib di sini mengacu kepada hasil yang ditimbulkan oleh kekuatan ilahi yang menggerakkan karunia-karunia dalam aktivitas mereka. Hasil ini adalah daya guna (Ef. 4:16) yang dinyatakan oleh karunia-karunia.

Karunia adalah berdasarkan Roh itu; ministri, pelayanan adalah dimulai oleh Tuhan dan bagi Tuhan; perbuatan adalah berasal dari Allah. Di sini Allah Tritunggal berkaitan dengan tiga perkara karunia, ministri-ministri, dan perbuatan. Karunia yang berdasarkan Roh itu adalah untuk melaksanakan ministri bagi Tuhan, dan di dalam ministri bagi Tuhan ternyatalah perbuatan karunia yang dihasilkan dari pergerakan, pekerjaan Allah. Inilah Allah Tritunggal bergerak di dalam kaum beriman bagi perampungan kehendak kekal-Nya untuk membangun gereja, yaitu Tubuh Kristus, bagi ekspresi Allah.

Dalam ayat-ayat ini Paulus membicarakan tentang Trinitas. Dia membicarakan tentang Roh itu dalam ayat 4, Tuhan dalam ayat 5, dan Bapa dalam ayat 6. Karunia-karunia adalah berdasarkan Roh itu, ministri-ministri adalah bagi Tuhan, dan perbuatan-perbuatan adalah dari Allah. Karunia-karunia ini memberi talenta kepada manusia. Ketika kita menggunakan karunia-karunia kita, maka pelayanan-pelayanan itu akan muncul. Jadi, karunia-karunia adalah bagi pelayanan-pelayanan.

Dalam bahasa Yunani, kata ministri ini berarti pelayanan. Ministri berasal dari akar kata yang sama dengan kata yang berarti diaken, orang-orang yang melayani. Diaken adalah orang-orang yang melayani, dan ministri adalah pelayanan mereka. Bila kita memakai karunia kita untuk berfungsi, maka secara spontan fungsi itu menjadi pelayanan.

Pelayanan-pelayanan ini berasal dari Tuhan, sedangkan Roh itu membagikan karunia-karunia. Ketika karuniakarunia ini berfungsi, kita memiliki pelayanan, yang berasal dari Tuhan dan bagi Tuhan. Kemudian pelayananpelayanan ini menggenapkan pekerjaan-pekerjaan tertentu bagi Allah. Karena itu, karunia-karunia adalah bagi ministri-ministri, dan ministri-ministri ini adalah bagi pekerjaanpekerjaan.

Allah adalah Pengatur (Pengelola), yaitu Dia yang menjalankan pemerintahan melalui pekerjaan. Perbuatan-perbuatan ini, pekerjaan-pekerjaan ini, adalah untuk melak-sanakan pemerintahan ilahi. Perbuatan-perbuatan ini, pekerjaan-pekerjaan ini, digenapkan oleh pelayanan-pelayanan, oleh ministri-ministri. Tuhan Yesus Kristus, Yang diurapi itu, merawat semua ministri ini. Maka, ministri-ministri ini adalah milik-Nya dan bagi-Nya. Tetapi bagaimana Tuhan memperoleh pelayanan-pelayanan ini? Melalui karunia-karunia Roh. Selain itu, pemakaian karunia-karunia ini tergantung kepada kerja sama kita. Jika kita tidak berbicara, jika kita tidak mengucapkan apa-apa dari Tuhan dan bagi Tuhan, Roh itu tidak memiliki jalan. Penerapan karunia-karunia ini melaksanakan ministri-ministri, dan ministri-ministri menggenapkan pekerjaan-pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan ini adalah bagi pelaksanaan pemerintahan Allah, yang adalah bagi penggenapan tujuan kekal-Nya.

Pernah kita tunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru hanya ada satu ministri, dan sekarang kita berbicara tentang ministri-ministri. Bila kita mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru hanya ada satu ministri, maksud kita adalah bahwa semua orang yang berkarunia harus meministrikan hal yang sama, yaitu Kristus dan gereja. Inilah satu-satunya ministri itu. Namun, ministri-ministri dalam 12:5 ini mengacu kepada pelayanan-pelayanan dari berbagai anggota Tubuh. Anggota-anggota Tubuh yang bermacam-macam ini memiliki ministri mereka yang berbeda-beda, pelayanan mereka yang berbeda-beda.

D. Kepada Tiap-tiap Orang Dikaruniakan

Penyataan Roh untuk Kepentingan Bersama

Dalam ayat 7 Paulus berkata, ”Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” Semua karunia yang berbeda-beda adalah penyataan dari Roh itu, yaitu Roh itu dinyatakan di dalam kaum beriman yang telah menerima karunia. Penyataan Roh sedemikian adalah untuk faedah gereja, Tubuh Kristus. Untuk kepentingan bersama adalah untuk pertumbuhan anggota-anggota Tubuh Kristus dalam hayat dan untuk pembangunan Tubuh Kristus.

Dalam ayat 8 Paulus melanjutkan berkata, ”Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” Menurut konteks kitab ini, perkataan hikmat adalah perkataan mengenai Kristus sebagai hal yang dalam dan rahasia dari Allah, yang telah ditentukan Allah untuk menjadi bagian kita (1:24, 30; 2:6-10). Perkataan pengetahuan adalah perkataan yang membagikan pengetahuan umum akan hal-hal mengenai Allah dan Tuhan (8:1-7). Perkataan hikmat terutama berasal dari roh kita melalui wahyu; perkataan pengetahuan terutama berasal dari pengertian kita melalui pengajaran. Perkataan hikmat lebih dalam daripada perkataan pengetahuan. Namun keduanya (bukan berkata-kata dalam bahasa lidah atau karunia mujizat lainnya) dicantumkan sebagai karunia-karunia utama dan penyataan-penyataan tertinggi dari Roh itu. Karena keduanya merupakan ministri-ministri, atau pelayanan-pelayanan yang paling berfaedah bagi penggenapan kaum saleh dan pembangunan gereja untuk melaksanakan operasi Allah.

Tidaklah mudah untuk membedakan perkataan hikmat dengan perkataan pengetahuan. Menurut 1Korintus, perkataan hikmat adalah perkataan mengenai Kristus. Jika kita ingin membicarakan Kristus, maka kita memerlukan perkataan hikmat ini. Dalam pasal 1 dan 2 Paulus menekankan bahwa Kristus adalah hikmat Allah dan bahwa inilah hikmat yang kita bicarakan. Untuk perkataan hikmat ini, kita memerlukan wahyu, bukan sekadar pengajaran. Ini berarti kita memerlukan sesuatu yang diperlihatkan kepada kita oleh Roh itu di dalam roh kita kita memerlukan visi tentang Kristus sebagai hal-hal yang dalam dan rahasia dari Allah. Perkataan mengenai Kristus sebagai hal-hal yang dalam dan rahasia dari Allah adalah perkataan hikmat. Perkataan ini terutama diberikan kepada para rasul dan para nabi. Mereka telah melihat visi, wahyu, tentang Kristus, dan apa saja yang mereka katakan mengenai Kristus adalah perkataan hikmat.

Perkataan pengetahuan adalah perkataan mengenai halhal rohani, khususnya perkataan mengenai hakiki Allah dan pekerjaan Allah. Perkataan ini terutama diberikan kepada guru-guru.

Dalam ayat 9 Paulus berkata, ”Kepada yang seorang, Roh yang sama memberikan iman.” Iman di sini sama seperti iman yang dapat memindahkan gunung, seperti yang disinggung dalam 13:2 dan Markus 11:22-24.

Dalam ayat 9 Paulus juga membicarakan tentang ”karunia untuk menyembuhkan.” Karunia-karunia ini adalah kuasa mujizat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dalam ayat 10 Paulus berkata, ”Kepada yang seorang, Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat.” Pekerjaan-pekerjaan kuasa ajaib, mujizat-mujizat, selain penyembuhan, seperti Petrus membangkitkan Dorkas dari kematian (Kis. 9:36-42).

Dalam ayat 10 Paulus juga menyinggung tentang bernubuat. Ini adalah untuk berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah, termasuk bernubuat dan meramal. Berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah berasal dari karunia hayat, yaitu yang berkembang oleh karena pertumbuhan hayat. Kita tidak boleh memahami kata nubuat di sini terutama berarti meramal. Ini terutama berarti berbicara bagi Tuhan, dan mengutarakan Tuhan. Tentunya, kadang-kadang mencakup unsur meramal, berbicara bagi, mengutarakan, dan bernubuat.

Paulus juga memberi tahu kita dalam ayat 10 bahwa kepada yang lainnya diberikan karunia untuk membedakan roh-roh. Ini adalah untuk membedakan Roh yang berasal dari Allah dengan roh-roh yang bukan berasal dari Allah itu (1Tim. 4:1; 1Yoh. 4:1-3). Hal ini memerlukan kematangan dalam hayat.

Paulus menyimpulkan ayat 10 dengan berkata, ”Kepada yang seorang, Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa lidah, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa lidah itu.” Bahasa lidah di sini mengacu kepada bahasa atau dialek yang wajar (Kis. 2:4, 6, 8, 11) dari manusia atau aspek penyataan Roh itu (ayat 7). Ada orang berkata, ”Berkata-kata dalam bahasa lidah adalah bukti awal dari baptisan Roh, yang kemudian menjadi karunia Roh. Setiap orang beriman harus berkata-kata dalam bahasa lidah sebagai bukti awal, tetapi tidak setiap orang beriman perlu memiliki karunia berkata-kata dalam bahasa lidah.” Pengajaran semacam itu tidak ada aspek penyataan Roh itu (ayat 7). Ada orang berkata, ”Berkata-kata dalam bahasa lidah adalah bukti awal dari baptisan Roh, yang kemudian menjadi karunia Roh. Setiap orang beriman harus berkata-kata dalam bahasa lidah sebagai bukti awal, tetapi tidak setiap orang beriman perlu memiliki karunia berkata-kata dalam bahasa lidah.” Pengajaran semacam itu tidak ada dasarnya dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengatakan dengan jelas bahwa berkata-kata dalam bahasa lidah hanyalah salah satu dari banyak karunia Roh, dan tidak semua orang beriman mempunyai karunia ini.

Menafsirkan bahasa lidah adalah menerjemahkan bahasa yang tidak dimengerti orang sehingga dapat dimengerti dan dipahami (14:13). Ini adalah butir kesembilan dari penyataan Roh yang dicantumkan di sini. Namun ada lebih dari sembilan butir penyataan Roh melalui kaum beriman. Kerasulan, membantu, dan mengatur yang dihasilkan oleh Roh itu tercantum dalam ayat 28; penglihatan visi-visi dan mimpi-mimpi oleh Roh yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 2:17; tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang disinggung dalam Ibrani 2:4, dan tiga dari kelima mujizat yang dinubuatkan dalam Markus 16:17-18 tidak dicantumkan di sini. Di sini rasul hanya mencantumkan sembilan butir dari penyataan Roh itu sebagai suatu gambaran. Dalam sembilan butir ini, berbahasa lidah dan menafsirkan bahasa lidah dicantumkan sebagai butir-butir terakhir, ini karena kedua hal itu tidak begitu mendatangkan faedah seperti butir-butir lainnya bagi pembangunan gereja (14:2-6, 18-19). Dari kesembilan karunia dan karunia-karunia yang tercantum dalam ayat 28-30, nubuat sebagai ramalan, iman, karunia penyembuhan, perbuatan ajaib, berbahasa lidah, dan menafsirkan bahasa lidah adalah bersifat mujizat. Karunia lainnya seperti perkataan hikmat (seperti perkataan rasul), perkataan pengetahuan (seperti perkataan pengajar), dan berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah dalam nubuat oleh para nabi, membedakan roh-roh, membantu dan mengatur adalah karunia-karunia yang berkembang dari pertumbuhan hayat (3:6-7), seperti karunia-karunia yang dicantumkan dalam Roma 12:6-8, berasal dari dalam, karunia-karunia awal yang disinggung dalam 1:7 (lihat catatan 1 di sana). Karunia-karunia ajaib, khususnya berbahasa lidah dan menafsirkan bahasa lidah, tidak memerlukan pertumbuhan hayat. Orang-orang Korintus banyak berbahasa lidah, tetapi mereka masih bayi-bayi dalam Kristus (3:1-3). Namun karunia-karunia yang dikembangkan dalam hayat bagi pembangunan gereja memerlukan pertumbuhan hayat, bahkan menuntut kematangan hayat. Untuk tujuan inilah Surat Kiriman ini ditulis kepada mereka.

Kadang-kadang orang-orang aliran Pentakosta bertanya apakah kita memiliki karunia-karunia Roh di dalam sidang-sidang kita. Beberapa orang kudus, yang mengira kita tidak memiliki karunia-karunia ini, mungkin tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini. Tetapi kita memiliki karunia-karunia yang paling baik, karunia-karunia yang paling top, yaitu karunia-karunia ”kepala” yang berbeda dengan karunia-karunia ”ekor.” Kita memiliki perkataan hikmat dan perkataan pengetahuan. Karunia-karunia ini adalah ”kepalanya,” sedangkan berbahasa lidah dan menafsirkan bahasa lidah itu adalah ”ekornya.” Seperti yang akan kita lihat, Paulus sedikitnya tiga kali menyebut karuniakarunia ini di bawah daftar karunia itu.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam ayat-ayat ini Paulus memberikan sembilan gambaran tentang penyataan Roh. Karunia-karunia Roh itu tidak terbatas. Bila kita memiliki karunia-karunia ini, maka kita memiliki penyataan-penyataannya; bila kita menerapkan karunia-karunia ini, kita akan memiliki ministri-ministri Tuhan; dan kemudian ministri-ministri ini akan menggenapkan pekerjaan Allah untuk melaksanakan pemerintahan-Nya.