PENGUBAHAN DALAM PELAKSANAAN KEHIDUPAN TUBUH (1)
Sekarang kita tiba pada bagian yang paling riil dalam surat Roma, yakni bagian pengubahan (transformasi) (12:1— 15:13). Pengubahan adalah untuk pelaksanaan kehidupan. Kita telah nampak bahwa pengudusan adalah untuk proses kehidupan. Sejak kita dibenarkan, kita sudah mengambil bagian dalam proses kehidupan itu. Proses kehidupan itu akan menguduskan kita, dan akhirnya memuliakan kita. Pelaksanaan kehidupan tidak sama dengan proses kehidup-an. Untuk pelaksanaan kehidupan, kita memerlukan peng-ubahan, sebab pelaksanaan kehidupan yang wajar sama sekali tak mungkin dilakukan dalam hayat alamiah kita. Segala sesuatu yang alamiah sama sekali tak berguna bagi pelaksanaan kehidupan. Unsur-unsur alamiah harus diubah menjadi rohani dan kudus. Karena itu, untuk pelaksanaan kehidupan kita perlu pengubahan yang menyeluruh. Selain itu, Alkitab menyatakan bahwa masalah pelaksanaan kehidupan, yang paling utama berkaitan dengan kehidupan gereja, yaitu kehidupan Tubuh. Kehidupan gereja lokal me-rupakan pelaksanaan Kerajaan Allah di bumi hari ini.
Banyak orang yang disebut orang Kristen rohani, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan juga menuntut per-tumbuhan hayat sesuai dengan ajaran Roma 6 dan 8. Namun, setelah pasal 8, bahkan setelah pasal 11, masih ada satu bagian lain, yang menunjukkan bahwa sekali pun kita telah memiliki standar Roma 8, itu masih ada kekurang-annya, sebab masih belum ada kehidupan gereja. Pengalam-an-pengalaman rohani seperti pengudusan, pemuliaan, dan penyerupaan, semuanya tidak dapat berdiri sendiri. Pengu-dusan bukan untuk pengudusan, penyerupaan juga bukan untuk penyerupaan. Kedua pengalaman tersebut adalah untuk pelaksanaan kehidupan gereja. Kita akan nampak, sesudah pasal 8 dan 11, Palus menasihati kita untuk mem-persembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Tujuan persembahan itu bukan supaya kita lebih rohani, melainkan supaya kita dapat melaksanakan kehidupan Tubuh.
Banyak orang Kristen yang menuntut kerohanian tidak senang membicarakan masalah kehidupan gereja. Mereka seolah-olah berkata, “Asal kita rohani, kudus, dan bertum-buh dalam hayat, segalanya sudah baik, dan pada suatu hari, dengan sendirinya kita akan dibangun bersama oleh Tuhan.” Saya hendak menegaskan bahwa surat Roma me-reka hanya ada 8 pasal saja, yaitu hanya separuh. Mereka sepertinya tidak tahu bahwa surat Roma ada 16 pasal, dan di antaranya ada 5 pasal yang khusus membahas masalah gereja. Hayat bukan hanya untuk hayat, melainkan untuk Tubuh. Hayat adalah untuk gereja. Kita patut waspada, sebab hal-hal yang paling baik bisa mengelabui kita. Ter-pujilah Tuhan, dalam surat Roma ada 5 pasal yang mem-bicarakan masalah kehidupan gereja. Untuk membicarakan masalah pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan, seluruhnya memakai lima setengah pasal, tetapi untuk masalah kehidupan gereja saja telah dipakai sebanyak 5 pasal.
Saya akan menunjukkan bahwa masalah gereja adalah perkataan penutup dari Paulus dalam surat Roma. Kalau kita mendengarkan perkataan orang, kita selalu ingin men-dengarkan kata-katanya yang terakhir. Kata-kata terakhir dari surat Roma ialah mengenai gereja. Sebab itu, kalau Anda berhenti di Roma 8, Anda akan rugi besar, dan Anda tak dapat mendengarkan kata-kata terakhir dari Paulus. Kita harus maju terus untuk mendengarkan kata-kata pe-nutup dari Paulus.
Mengapa Paulus menulis surat Roma? Ia menulis surat ini tidak hanya untuk membahas masalah pembenaran, pe-ngudusan, atau pemuliaan. Target tertinggi dan terakhir dari surat Roma ialah kehidupan gereja. Kesimpulan surat Roma ialah gereja. Puji Tuhan, Paulus begitu kuat dan kaya tentang gereja, sehingga ia menggunakan 5 pasal untuk menguraikannya secara intensif. Dengan ajaib sekali ia menulis 5 pasal yang khusus membicarakan masalah kehi-dupan gereja. Masalah kehidupan gereja dalam surat Roma ini bukan ditulis oleh Paulus secara teoritis, melainkan ditulis dari pengalaman dan pelaksanaannya. Ketika kita membaca Roma 15 dan 16, kita dapat membuktikan bahwa Paulus melukiskan dan menyajikan gereja yang berdasarkan pengalaman dan pelaksanaan, bukan berdasarkan teori atau ajaran belaka.
Jika Anda tidak menyelidiki Roma 12 hingga 16 secara mendalam, Anda akan mengira kelima pasal tersebut hanya merupakan pasal yang penuh nasihat atau pengajaran tentang tingkah laku orang Kristen. Kalau memang pikiran Anda demikian, itu membuktikan bahwa Anda tetap meng-gunakan konsepsi alamiah dalam memahami bagian Alkitab tersebut. Padahal kita tidak boleh memahami firman kudus Allah dengan konsepsi alamiah kita. Kebanyakan guru Kristen mengatakan bahwa apa yang dilukiskan dan yang dituturkan Roma 12-16 ialah masalah tingkah laku atau budi pekerti orang Kristen. Mereka berkata, setelah kita beroleh selamat, kita perlu menampilkan budi pekerti orang Kristen yang baik. Harus saya akui, tahun 1960-an, ketika saya memimpin kurang lebih 1000 orang untuk mempelajari surat Roma secara menyeluruh, saya masih memegang kon-sepsi alamiah yang demikian. Dalam pengkajian saat itu saya juga mengatakan bahwa Roma 12-16 menyinggung masalah tingkah laku orang Kristen. Baru beberapa tahun terakhir ini, setelah membaca surat Roma berkali-kali, saya berkata kepada diri sendiri, “Wahai, manusia! Alangkah alamiahnya engkau dalam memahami wahyu ilahi!”
Kelihatannya kelima pasal terakhir dari surat Roma membicarakan masalah tingkah laku orang Kristen. Akan tetapi, apakah sebenarnya bagian dan aspek utama dari tingkah laku orang Kristen? Itu tak lain adalah kehidupan gereja. Kerangka dari tingkah laku orang Kristen ialah kehidupan gereja, kehidupan Tubuh. Tingkah laku seorang Kristen sesudah ia beroleh selamat terutama berhubungan dengan kehidupan gereja. Tahukah Anda bahwa kehidupan gereja merupakan 90 persen dari kehidupan kita? Karena pentingnya masalah itu, sampai-sampai kita menciptakan sebuah istilah baru, yaitu “churching” atau “bergereja”. Hari demi hari kita bergereja. Kita adalah orang-orang yang selalu bergereja. Saya dapat bersaksi kepada Anda, bahwa saya sendiri bergereja terus siang dan malam. Kita meng-habiskan banyak waktu, uang, dan tenaga untuk dapat ber-gereja terus-menerus. Kita tidak menghiraukan berapa ba-nyak waktu, uang, atau tenaga yang telah kita curahkan, kita hanya memperhatikan gereja. Kita bergereja dari waktu ke waktu. Ketika Paulus menulis surat Roma, dalam hati-nya terkandung konsepsi bergereja. Ia tidak hanya memper-hatikan masalah tingkah laku, perhatiannya terutama ditujukan pada kehidupan gereja. Kita perlu mempraktek-kan hayat yang telah melalui proses, yang sudah dibahas dalam bagian pengudusan (pasal 5-8), dalam kehidupan gereja, dan untuk ini kita perlu pengubahan. Sebab itu, pengubahan hayat adalah untuk pelaksanaan kehidupan, dan pelaksanaan kehidupan terutama diwujudkan dalam kehi-dupan gereja.
Silakan Anda baca isi Roma 12-16. Inti dari Roma 12 sudah pasti adalah kehidupan Tubuh. Mulai pasal 14 hingga bagian depan pasal 15, tercatat uraian yang begitu panjang yang membicarakan masalah menyambut kaum saleh. Masalah menyambut kaum saleh juga untuk kehidupan gereja. Bahkan pasal 15 dan 16 merupakan catatan pelak-sanaan kehidupan gereja; bukan gereja yang berada di surga, melainkan gereja-gereja lokal yang berada di bumi ini. Di tengah-tengah kedua bagian itu terdapat pasal 13. Saya pernah dibuat bingung oleh pasal 13 ini. Saya merasa sukar untuk memutuskan, entah pasal ini bertalian dengan pe-laksanaan kehidupan Tubuh yang tercantum dalam pasal 12, atau sebagai uraian tersendiri mengenai ketaatan, kasih, dan peperangan rohani? Bahkan hingga sekarang, ketika saya menulis sampai di sini, saya masih kurang begitu tegas terhadap kedudukan pasal 13 ini. Roma 13 dapat dianggap sebagai satu sub bagian dari bagian yang membahas masa-lah kehidupan yang normal. Jika demikian halnya, maka dari pasal 12-16 terdapat tiga bagian yang berkaitan dengan masalah pengubahan, dan ketiga bagian itu berkaitan de-ngan kehidupan gereja: pertama, pelaksanaan kehidupan Tubuh; kedua, sambutan kaum saleh; dan ketiga, peram-pungan sempurna Injil, yaitu gereja-gereja lokal. Dengan demikian, setiap aspek dari bagian pengubahan itu berkaitan dengan kehidupan Tubuh. Apakah kehidupan sehari-hari Anda? Kehidupan sehari-hari Anda tepatnya adalah sebagian dari kehidupan gereja Anda. Tanpa kehidupan sehari-hari, Anda tidak mungkin memiliki kehidupan gereja yang sejati. Kehidupan sehari-hari Anda adalah untuk kehidupan gereja. Berdasarkan pengenalan yang demikian, saya lebih suka mengatakan pasal 13 adalah kelanjutan pasal 12, yakni sebagian dari bagian yang membicarakan masalah kehidupan orang Kristen yang normal, bagi kehidupan gereja.
I. PENGUBAHAN UNTUK KEHIDUPAN TUBUH
A. PENGUBAHAN
Sebelum kita meninjau Roma 12:1-2, saya ingin mem-berikan definisi istilah pengubahan (transformasi). Istilah ini adalah istilah yang baik. Dalam bahasa Yunani, istilah ini mencakup arti mengalami perubahan. Tetapi istilah ini tidak saja berarti mengalami perubahan, juga berarti perubahan suatu benda baik dalam sifat maupun corak lahirnya. Istilah ini dalam bahasa Inggris juga berarti perubahan dalam kedua aspek itu. Perubahan itu adalah perubahan metabolis. Jadi bukan perubahan pada lahirnya saja, melainkan per-ubahan pada susunan batinnya ditambah dengan perubahan pada corak lahirnya. Perubahan ini adalah hasil dari proses metabolisme. Dalam proses metabolisme, suatu unsur organik yang penuh dengan gizi masuk ke dalam diri kita, dan menghasilkan suatu perubahan kimia di dalam hayat organik kita. Reaksi kimia yang demikian mengubah susunan diri kita, dari satu rupa ke rupa lain. Itulah artinya pengubahan (transformasi) di sini.
Misalkan ada orang berwajah pucat pasi, dan ada orang ingin mengubah air mukanya yang pucat dengan memberi bedak yang berwarna. Memang hal itu dapat mengubah mukanya secara lahir, tetapi itu bukan suatu perubahan organik, yaitu bukan perubahan hayati. Bagaimana sese-orang baru benar-benar dapat memiliki air muka yang merah dan segar? Caranya ialah memberinya makanan sehat yang mengandung unsur organik yang diperlukan setiap hari. Karena tubuh Anda adalah organisme yang hidup, maka ketika suatu benda organik masuk ke dalam diri Anda, dengan proses metabolisme, terbentuklah suatu sen-yawa kimia. Perlahan-lahan proses batin itu mengubah warna air muka Anda. Perubahan itu bukan pada per-mukaannya saja, melainkan berubah dari dalam, yakni sebagai akibat dari proses metabolisme.
Menurut Alkitab, perubahan metabolis semacam itu ialah pengubahan. Dalam proses pengubahan tersebut, hayat Kristus ditambahkan ke dalam diri kita. Tatkala hayat-Nya yang organik dan penuh dengan gizi itu meresap ke dalam diri kita, terbentuklah suatu “senyawa kimia” rohani. Senyawa itu mengubah susunan sifat dan corak kita. Itulah pengubahan. Pengubahan bukanlah perbaikan lahir atau penyesuaian luaran, melainkan suatu perubahan metabolis batin dalam unsur organik kita, perubahan dalam hayat dan dengan hayat oleh Tuhan Roh (2 Kor. 3:18). Dalam proses pengubahan, unsur-unsur ilahi digarapkan ke dalam kita. Kalau kita ingat apa makna sebenarnya dari pengubahan itu, maka ketika kita membaca Roma 12-16, kita akan memahami bahwa perkataan-perkataan dalam bagian tersebut berlainan sekali dengan konsepsi alamiah kita.
Pada akhir Roma 8, proses hayat telah mencapai tahap kesempurnaan. Dalam pasal 1, kita adalah orang dosa, hina, jahat, dan penuh dengan kelaliman. Tetapi setelah lewat beberapa pasal, dan sampai pada akhir Roma 8, kita telah dikuduskan dan diserupakan menjadi anak-anak Allah. Alangkah besarnya perbedaan itu! Pada akhir Roma 8, kita sudah diserupakan menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya, sampai selama-lamanya. Maka kedelapan pasal ter-dahulu dari surat Roma menerangkan proses hayat, yang memroses kita dari orang dosa sampai menjadi anak-anak Allah.
Dalam Roma 9-11, Paulus mengungkapkan pilihan Allah, ekonomi Allah, dan nasib kita. Dalam bagian itu, Paulus membantu kita memahami bagaimana Allah memilih kita, membuat kita menjadi bejana untuk menampung diri-Nya, memenuhi kita dengan segala kekayaan Kristus, dan me-netapkan ekonomi tentang urutan keselamatan manusia. Setelah membicarakan masalah itu, Paulus siap menyam-paikan uraian tentang pelaksanaan kehidupan. Pada awal Roma 12 Paulus sudah siap menerangkan bagaimana me-laksanakan kehidupan di mana kita berada, dan sedang berada dalam proses itu. Pelaksanaan kehidupan yang melalui proses ini adalah kehidupan gereja.
B. KEHIDUPAN TUBUH
1. Pelaksanaan Kehidupan Gereja
Kita telah menjelaskan bahwa inti pemikiran Roma 12 adalah kehidupan Tubuh. Kehidupan Tubuh ialah pelaksana-an kehidupan gereja. Tanpa kehidupan Tubuh, kehidupan gereja hanya merupakan suatu istilah. Kehidupan gereja baru mungkin terwujud dan menjadi riil dalam pelaksanaan kehidupan Tubuh. Orang Kristen hari ini hanya memiliki sebutan gereja, tetapi kurang memiliki kehidupan Tubuh. Menyinggung kehidupan Tubuh, banyak orang Kristen me-rasa kosong melompong dalam pengalamannya. Maka, perlu ada pemulihan kehidupan Tubuh yang riil, agar Tuhan hari ini dapat membangun gereja-Nya secara riil di bumi ini. Itulah sebabnya kita begitu berbeban terhadap kehidupan Tubuh.
2. Kehidupan Korporat
Kehidupan Tubuh adalah korporat. Hal ini dapat kita pahami dengan meninjau tubuh jasmani kita. Tubuh jas-mani kita ialah suatu satuan korporat yang tersusun dari banyak anggota. Setiap anggota dalam tubuh memiliki hayat dan fungsinya. Jika salah satu anggota yang mana pun terpisah dari tubuh, ia akan kehilangan hayat dan fungsi-nya. Tidak ada satu anggota pun yang dapat merdeka ter-hadap tubuh, atau bersikap individualistis. Kita wajib me-ngerti, kalau kita telah menjadi anggota Tubuh, kita tidak dapat menjadi satuan yang lengkap. Setiap kita hanyalah salah satu anggota Tubuh saja. Demi kehidupan dan fungsi kita, maka kita perlu melekat terus di dalam Tubuh. Banyak orang Kristen tidak memiliki kekayaan hayat, dan tidak dapat menyatakan fungsi, karena mereka terpisah dengan Tubuh. Roma 12 menerangkan pentingnya pelaksanaan kehidupan Tubuh, menunjukkan bahwa kita saling menjadi anggota di dalam Tubuh. Kita yang banyak, adalah satu Tubuh, satu satuan. Di dalam Tubuh, kita dapat menyatakan fungsi kita serta mengekspresikan Kristus secara korporat.
Sangat disayangkan, hari ini jarang sekali orang Kristen yang nampak kehidupan korporat, atau yang mau memperhatikan masalah ini. Banyak orang Kristen yang menuntut rohani hanya mencurahkan perhatian sepenuhnya dalam pasal 8, yaitu menuntut kerohanian dalam Roh hayat, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa pengalaman keroha-nian atas Roma 8 itu justru untuk kehidupan korporat yang dimaksud dalam pasal 12. Tujuan Allah ialah menghendaki kita menempuh kehidupan Tubuh, yakni kehidupan korporat. Penebusan, pembenaran, dan pengudusan-Nya adalah untuk sasaran ini. Bila kita tidak memperhatikan kehidupan Tubuh, kita akan kehilangan sasaran Allah. Ditebus, dibe-narkan, dikuduskan, dan diserupakan dengan Kristus — semuanya adalah agar kita menempuh kehidupan korporat yang wajar. Kita tidak boleh berhenti pada pengalaman-pengalaman atas pengudusan dan penyerupaan dalam Roma 8. Kita perlu nampak bahwa pengalaman rohani tersebut, bertujuan membawa kita maju ke Roma 12, yaitu agar kita dapat melaksanakan kehidupan korporat. Pengudusan yang hanya bersifat individual dan kerohanian yang menyendiri bukanlah jalan Allah menguduskan kita atau merohanikan kita. Pengudusan dan kerohanian yang sejati adalah untuk kehidupan Tubuh. Kita percaya, pada tahun-tahun terakhir ini, dalam pemulihan-Nya, Tuhan telah membawa kita dari Roma 8 ke Roma 12. Inti pemulihan Tuhan hari ini bukan pengudusan atau kerohanian perseorangan, melainkan ke-hidupan Tubuh, yaitu kehidupan gereja secara korporat. Semoga Tuhan, membelaskasihani kita, agar kita nampak butir ini; dan melaksanakannya demi pengalaman pengudus-an dalam Roh hayat.
II. MELALUI MEMPERSEMBAHKAN TUBUH KITA
A. PERMINTAAN RASUL
Roma 12:1 mengatakan, “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati (wajar).” Di sini Paulus berbicara dengan nada memohon, menunjukkan pentingnya kata-kata yang hendak disampaikannya kepada kita. Hal itu mengungkapkan kehendak dan tujuan Allah. Berabad-abad lamanya Allah mempunyai satu hasrat yang khusus, yaitu memper-oleh satu Tubuh bagi Kristus. Karena itu, Paulus berkata, “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu.” Perhatikanlah, istilah “kemurahan” dalam bahasa aslinya berbentuk jamak, bukan tunggal. Dalam Roma 9:15, kita nampak bagaimana kemurahan lebih dalam dan kaya daripada belas kasihan. Allah tidak saja mempunyai satu macam kemurahan, tetapi banyak macam kemurahan yang ditujukan kepada kita. Ia telah mengaruniakan kemurahan-Nya kepada kita dalam hal memilih kita. Ia pun mengaruniakan kemurahan-Nya dalam hal memanggil, menyelamatkan, dan membawa kita ke dalam hayat-Nya. Seperti yang dikatakan Roma dalam pasal-pasal terdahulu, di masa yang lampau Ia pernah menyatakan banyak kemu-rahan-Nya kepada kita. Kini demi kemurahan Allah, rasul Paulus minta kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah. Apabila kita menyadari kemurahan Allah itu dan tergerak oleh kemurahan-Nya, kita pasti melakukan apa yang diminta rasul.
B. MEMPERSEMBAHKAN TUBUH KITA
SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP
1. Banyak Tubuh, Satu Persembahan
Dalam ayat 1 Paulus juga minta kepada kita, agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Dalam 6:13, 19, Paulus menganjurkan kita mempersembahkan anggota tubuh kita sebagai senjata untuk perang dan sebagai hamba untuk melayani, karena Roma 6 membicarakan peperangan dan pelayanan. Akan tetapi, dalam kehidupan gereja, terdapat masalah persembahan, yaitu mempersembahkan diri agar Allah dipuaskan. Walaupun yang dipersembahkan adalah banyak tubuh, tetapi persebahannya hanya satu. Mengapa terdapat banyak tubuh, namun persembahannya hanya satu? Karena banyak anggota itu adalah satu Tubuh, dan banyak orang beriman adalah satu gereja.
Apa sebabnya Paulus memakai istilah “hidup”? Karena ia membandingkan persembahan ini dengan persembahan dalam Perjanjian Lama. Persembahan dalam Perjanjian Lama disembelih lebih dulu, tetapi gereja bukan satu persembahan yang tersembelih, melainkan persembahan yang hidup, yang dipenuhi Kristus sebagai hayat. Dalam pasal 8 kita nampak bahwa kaum beriman dipenuhi dengan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Tatkala mereka tiba pada pasal 12, yakni ketika mereka mempersembahkan diri kepada Allah sebagai suatu persembahan, mereka adalah persembahan yang hidup, yang dipenuhi dengan Roh hayat.
Selain itu, persembahan ini pun kudus, terpisah dari hal-hal umum, dan memiliki sifat ilahi. Allah kita kudus. Ia mutlak berbeda dan terpisah dari segala hal. Sifat kudus Allah telah digarapkan ke dalam segenap anggota Tubuh. Karenanya Tubuh ini kudus dan unik, berbeda dengan ber-bagai macam perkumpulan, asosiasi, dan setiap macam organisasi kemasyarakatan. Tubuh ini kudus dan segala hal yang umum tidak dapat dimasukkan ke dalamnya. Karenanya, persembahan ini adalah satu-satunya perkara yang diperkenan Allah, dan bagi Tubuh Kristus. Demi pelaksanakan kehidupan Tubuh, persembahan ini sangat diperlukan. Kita perlu mempersembahkan tubuh kita bagi Tubuh Kristus.
2. Pelayanan Imamat yang Paling Wajar
Mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai per-sembahan yang hidup adalah suatu ibadah (pelayanan) yang paling wajar. Dua istilah yang disebut di atas: “memper-sembahkan” dan “persembahan” menunjukkan bahwa pelayanan yang wajar itu adalah pelayanan imamat. Jika kita memiliki pikiran yang jernih, dan jika kita ingin mempunyai pelayanan yang wajar, adil, dan logis, kita perlu menempuh kehidupan gereja. Orang yang tidak suka menempuh kehidupan gereja adalah orang yang paling bodoh. Melaku-kan perkara apa saja yang bukan kehidupan gereja adalah bodoh; tetapi mengesampingkan segala perkara bagi kehi-dupan gereja adalah yang logis dan wajar. Tidak ada satu perkara yang lebih wajar daripada bergereja. Memakai 2 dolar untuk membeli barang duniawi atau mencari hiburan itu bodoh, tetapi memakai 2 juta dolar untuk kehidupan gereja itu wajar. Kalau saya mempunyai 100 jiwa, akan saya serahkan seluruhnya untuk kehidupan gereja. Namun, saya tidak mau memberikan hidup saya walau sedikit saja untuk urusan duniawi, sebab berbuat demikian adalah bodoh. Mempersembahkan diri kita untuk kehidupan gereja adalah pelayanan yang paling wajar! Saya dapat bersaksi bahwa saya melayani pekerjaan Tuhan sudah lebih dari 40 tahun dan saya tidak menyesal sedikit pun. Setiap kali saya ter-ingat pada gereja, saya merasa gembira. Setiap kali saya teringat pada kehidupan gereja serta pelayanan saya bagi kehidupan gereja, saya merasa seperti berada di surga. Ini benar-benar suatu pelayanan yang wajar!
Ketika Paulus mulai membahas masalah kehidupan gereja, ia minta kaum beriman mempersembahkan tubuh mereka, karena sebagai manusia, tidak ada perkara lain yang lebih riil dan praktis daripada tubuh kita. Kalau tubuh Anda tidak ada dalam kehidupan gereja, jangan berkata bahwa Anda adalah untuk kehidupan gereja. Pada tahun-tahun yang lampau, banyak orang berkata kepada saya, “Saudara, aku berdiri bersamamu, hanya saja karena pekerjaanku terlalu berat, maka aku tak bisa menempuh hidup gereja. Tetapi apa yang Anda lakukan, aku selalu mengaminkan.” Ada pula yang berkata, “Aku terlalu letih, tak dapat menghadiri sidang. Kalian saja yang pergi, aku di rumah mendoakan kalian. Tubuhku tidak bisa menghadiri sidang karena letih, tetapi hati dan rohku menyertai kalian.” Kata-kata semacam ini kedengarannya manis, tetapi sebetulnya menipu orang. Kita harus tahu bahwa kita berada di dalam tubuh. Di mana tubuh kita berada, di situ pula manusia kita berada. Andaikata semua orang saleh mengata-kan mereka terlalu letih untuk menghadiri sidang, bayang-kan sidang itu akan menjadi sidang macam apa? Karena itulah, Paulus minta agar saudara-saudara mempersembah-kan tubuh mereka. Jika Anda benar-benar hidup untuk ke-hendak dan tujuan Allah, Anda perlu mempersembahkan tubuh Anda.
Lebih baik Anda bersidang walaupun sebagian besar waktu Anda dihabiskan dengan tidur. Sekalipun Anda ter-tidur dalam sidang, itu lebih baik daripada Anda sama sekali tidak hadir. Boleh jadi dalam sidang Anda terus tertidur, hanya beberapa menit terakhir saja Anda tidak tidur; mung-kin justru pada lima menit terakhir itu Anda menerima ilham, dan memperoleh bantuan besar. Keadaan yang demi-kian pernah saya temukan.
Izinkan saya menyampaikan suatu peristiwa yang ter-jadi di kampung halaman saya, di propinsi Shantung. Ketika itu saya mengunjungi suatu gereja bersama seorang saudara muda yang belajar melayani Tuhan, bernama Chao. Istri saudara pemimpin gereja kecil itu sangat mengasihi Tuhan dan dialah yang memasakkan kami makanan, tiga kali se-hari. Karena itu ia menjadi letih sekali. Namun, ia tidak bisa absen dalam sidang. Pada suatu kali ia duduk di baris terdepan. Saudara Chao malam itu diminta berbicara. Ketika ia berbicara, saudari itu tertidur. Saudara Chao terus ber-khotbah dengan sabar. Tetapi ketika khotbahnya hampir selesai, ia tak dapat menahan dirinya dan berkatalah ia kepada saudari tersebut, “Jika kamu tidur terus akan ku-tendang keluar!” Tindakan itu membuat saya sangat kha-watir. Setelah sidang usai, saya memberi tahu dia agar jangan mengulangi perbuatan itu lagi. Sewaktu kami pulang ke tempat saudari itu, hati saya merasa malu sekali. Akan tetapi tak disangka, saudari itu malah menyambut kami dengan mesra. Saudari itu menghadiri sidang dan hampir-hampir tertidur dari awal sampai akhir, tetapi pada menit-menit terakhir ia menerima bantuan. Maka, kita harus da-tang sendiri ke dalam sidang. Jangan berkata roh Anda saja yang menghadiri sidang, tubuh Anda boleh absen. Anda perlu mempersembahkan tubuh Anda.
III. DEMI PEMBARUAN PIKIRAN KITA
A. JANGAN MENJADI SERUPA DENGAN ZAMAN INI
Roma 12:2 mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia (zaman) ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (pikiranmu), sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Paulus meng-anjuri kita, janganlah menjadi serupa dengan zaman ini. Apakah artinya zaman ini? Zaman adalah kehidupan dunia yang riil pada saat ini, yang bertentangan dengan dan meng-gantikan kehidupan gereja. Seluruh dunia ini merupakan sistem yang disusun oleh Iblis. Istilah dunia dalam bahasa Yunani, “kosmos”, menunjukkan semacam organisasi, sistem. Iblis telah mensistematiskan setiap manusia dan setiap hal dari kehidupan umat manusia. Sistem dunia ini tersusun dari banyak zaman, sama seperti gereja universal tersusun dari banyak gereja lokal. Setiap gereja lokal merupakan bagian dari gereja universal itu. Begitu pula setiap zaman adalah bagian dari dunia ini. Setiap zaman memiliki model-nya sendiri. Kata “modern” dalam bahasa Inggris, memiliki arti yang sama dengan istilah “zaman” dalam bahasa Yu-nani. Jadi “janganlah menjadi serupa dengan zaman ini”, boleh diterjemahkan, “Janganlah menjadi modern”. Moder-nisasi berarti bermode, dan menjadi serupa dengan zaman sekarang. Karena zaman, kehidupan dunia masa kini yang riil, adalah bagian dari sistem dunia, Anda tidak mungkin hidup dalam dunia ini tanpa berada dalam salah satu zaman. Anda tidak bisa menghubungi dunia kalau Anda tidak menghubungi salah satu zaman. Maka kalau Anda ingin menanggalkan dunia, Anda pun harus menanggalkan zaman.
Perubahan-perubahan dalam zaman sistem dunia dapat kita gambarkan dari perubahan potongan rambut wanita. Tahun 1920-an, khususnya di dunia Barat, gaya rambut wanita pada umumnya adalah gaya menara tinggi; makin tinggi makin baik. Saya mengetahui hal itu, sebab harnet kaum wanita Barat itu adalah barang yang diimpor dari China bagian utara (tempat tinggal saya di masa kecil). Tiba-tiba order mereka berubah, yaitu memesan harnet-harnet kecil. Saya tidak tahu apa sebabnya mereka mengubah pe-sanan mereka. Akhirnya saya mengerti, zaman sudah ber-ubah dan setiap zaman mempunyai mode dan gaya ter-sendiri. Tahun 1920-an wanita Barat merias rambut mereka dengan model menara, lalu berubah menjadi model pendek dan rambut model “bob” menjadi terkenal. Akhir-akhir ini anak-anak muda menerima mode rambut zaman ini, yaitu yang disebut “gaya hipis”. Kalau seorang pria memelihara rambutnya sepanjang-panjangnya, itu membuktikan bahwa dia modern.
Dunia ini berlawanan dengan gereja, dan zaman ber-lawanan dengan gereja-gereja. Kalau kita ingin mempunyai kehidupan gereja dengan sungguh-sungguh, kita harus me-nanggalkan zaman. Karena zaman sekarang ini berlawanan dengan kehidupan gereja, kita tidak dapat mengikuti zaman dan bermode menuruti zaman, sambil mengalami kehidupan Tubuh yang sejati. Orang yang dikuasai oleh zaman modern mungkin menghadiri sidang hari Minggu, tetapi tidak dapat melaksanakan kehidupan gereja. Kalau kita ingin menik-mati kehidupan Tubuh, kita tidak seharusnya mengikuti zaman ini, juga tidak diserupakan dengannya. Itulah sebab-nya Paulus menganjuri kita agar jangan menjadi serupa dengan zaman ini.
B. BERUBAH OLEH PEMBARUAN PIKIRAN
Kita tidak boleh menjadi serupa dengan zaman ini, tetapi harus berubah oleh pembaruan pikiran kita (Ef. 4:23; Tit. 3:5). Menjadi serupa dengan zaman ini berarti menerima mode modern pada lahirnya; sedang berubah ialah menerima suatu unsur organis ke dalam diri kita, yang mendatangkan suatu perubahan metabolis. Kita perlu berubah melalui pembaruan pikiran. Pikiran dalam Roma 12 berbeda dengan pikiran dalam Roma 7 dan 8. Dalam Roma 7, pikiran itu bersikap menyendiri, dan beraksi dengan bebas. Dalam Roma 8 pikiran telah memiliki sandaran, yakni terletak di atas roh. Meskipun demikian, saya tidak berani mengatakan pikiran dalam Roma 8 sudah berubah, atau sudah diperbarui. Meletakkan pikiran kita di atas roh, masih tidak cukup. Pikiran tidak saja harus memiliki sandaran, juga harus di-perbarui. Roma 12:2 memberi tahu kita bahwa kita memerlukan pembaruan pikiran. Pikiran diperbarui tidak hanya melalui pengajaran-pengajaran di luar, melainkan melalui bertambahnya unsur-unsur Kristus di dalamnya. Bila Tuhan Yesus memperluas diri-Nya dari roh kita ke pikiran kita, maka pikiran kita akan diperbarui. Melalui pikiran yang telah diperbarui itu, jiwa kita berubah secara metabolis. Dengan demikianlah, kita mengalami pengubahan dalam jiwa kita. Pengubahan jiwa merupakan kebutuhan bagi kehidupan gereja. Kalau kita ingin melaksanakan kehidupan gereja, kita perlu mengalami pengubahan dalam jiwa kita melalui pembaruan pikiran kita.
C. MEMBEDAKAN KEHENDAK ALLAH
Kita perlu pembaruan pikiran dan pengubahan jiwa, supaya kita dapat “membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Apakah kehendak Allah? Kehendak Allah adalah memiliki kehidupan Tubuh, kehidupan gereja. Jangan Anda menerapkan kehendak Allah dalam Roma 12:2 untuk keadaan insani pribadi Anda, misalnya dalam hal pernikahan, mencari pekerjaan, atau mencari rumah. Ada beberapa orang berdoa demikian, “O, Tuhan, aku ingin membeli sebuah rumah baru, bagaimana kehendak-Mu? Harus ada berapa kamar tidur dan kamar mandi? Seharga berapa? O, Tuhan, aku ingin mengetahui kehendak-Mu.” Lupakanlah doa-doa semacam itu! Sebab semakin Anda berdoa demikian dan mencari kehendak Tuhan, Anda akan semakin berada di luar kehendak-Nya, dan terperosok ke dalam kegelapan. Kehen-dak yang dikatakan dalam Roma 12:2, adalah menempuh kehidupan gereja. Rumah yang Anda beli, pekerjaan yang Anda cari, dan orang yang Anda nikahi, semuanya harus tergantung pada kehidupan gereja. Bahkan pakaian yang hendak Anda pakai juga harus tergantung pada kehidupan gereja. Kalau sikap Anda benar terhadap kehidupan gereja, Anda akan tahu apakah yang harus Anda perbuat. Setiap perkara haruslah bagi kehidupan gereja, sebab menempuh kehidupan gereja adalah kehendak Allah yang unik. Itulah yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna, dan hal itu untuk kehidupan Tubuh. Jadi, persembahan tubuh kita, pengubahan jiwa kita, dan pembaruan pikiran kita, semuanya adalah untuk kehidupan Tubuh.