PENGUBAHAN DALAM PELAKSANAAN KEHIDUPAN TUBUH (2)
Dalam berita yang lalu, kita telah meninjau hal pengubahan bagi kehidupan Tubuh, persembahan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup bagi kepuasan Allah, dan pembaruan pikiran kita, agar kita dapat menguji kehendak Allah, yaitu menempuh kehidupan gereja. Dalam berita ini kita akan membahas aspek lain dari pengubahan dalam pelaksanaan kehidupan Tubuh.
IV. MELALUI MEMANFAATKAN KARUNIA KITA
A. JANGAN MENINGGIKAN DIRI SENDIRI,
MELAINKAN MEMANDANGNYA
MENURUT UKURAN IMAN
Roma 12:3 mengatakan, “Berdasarkan anugerah yang diberikan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa, sehingga kamu me-nguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” “Memikirkan hal-hal yang lebih tinggi” dalam bahasa aslinya mengacu kepada “menganggap, menilai, atau memandang diri sendiri lebih tinggi”. Ayat ini membawa kita ke dalam butir yang sangat riil. Setiap orang selalu memandang tinggi dirinya sendiri. Mungkin pada luarnya tampaknya Anda rendah hati, tetapi pada batinnya, Anda memandang diri Anda tinggi. Ini adalah satu problema bagi kehidupan gereja. Jika kita ingin menempuh satu kehidupan gereja yang wajar, hal pertama yang harus kita hancurkan adalah rasa tinggi diri. Kita perlu “memandang diri dengan pikiran yang wajar”. Kalau Anda memandang diri sendiri tinggi, itu berarti pikiran Anda tidak wajar dan tidak normal. Dengan kata lain, di dalam pikiran Anda ada unsur yang tidak sewajarnya. Karena itu, pikiran Anda perlu disesuaikan dan diperbarui, dan segala unsur negatif di dalamnya perlu ditelan oleh ha-yat Kristus. Dengan demikian barulah pikiran Anda dapat menjadi wajar, diperbarui.
Lagi pula, kita perlu memandang diri sendiri “menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing”. Kata “ukuran iman” tidak sukar untuk dipahami. Berapa banyak diri Allah yang ditransfusikan dan diinfuskan ke dalam kita, itulah yang menjadi ukuran iman kita. Ukuran iman Anda sama dengan jumlah unsur Allah yang telah ditransfusikan ke dalam Anda. Itulah iman yang Allah karuniakan kepada Anda dan Anda harus memandang diri sendiri dengan sewajarnya menurut ukuran iman itu.
B. MEMAHAMI BAHWA PADA SATU TUBUH
TERDAPAT BANYAK ANGGOTA,
DAN TIAP ANGGOTA MEMILIKI FUNGSI
YANG BERBEDA
“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas (fungsi) yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (ayat 4-5). Kita perlu mengetahui bahwa banyak anggota dari satu tubuh memiliki fungsi yang berbeda. Dua orang saudari remaja mungkin usianya hampir sama, tetapi me-miliki fungsi yang berbeda. Apa yang dapat dikerjakan sau-dari ini, tidak dapat dikerjakan saudari itu. Kalau kita menyadari hal ini, kita tidak akan memandang tinggi diri sendiri, tetapi akan dapat menghormati orang lain. Saya harap saudara-saudara muda dapat berkata kepada satu sama lain, “Saudara, apa yang dapat kulakukan Anda tidak dapat, dan apa yang dapat Anda lakukan aku tidak dapat.” Kita semua mempunyai fungsi yang berbeda.
Perbedaan fungsi anggota-anggota Tubuh dapat tertampak dari wajah manusia. Pandanglah wajah Anda: Anda mempunyai dua mata, dua telinga, satu hidung, dan dua belah bibir. Mata mungkin berkata kepada hidung, “Tahukah kamu bahwa aku tak dapat melakukan apa yang dapat kamu lakukan, dan kamu tidak dapat melakukan apa yang dapat kulakukan?” Hidung akan menjawab, “Ya, saudara Mata. Memang indah sekali. Kita semua harus mengerti, kamu atau aku, tidak dapat mengerjakan apa yang dapat dikerjakan saudara Telinga.” Lalu telinga pun akan menyahut, “Saudara-saudara, kalian memang benar, tetapi sau-dara Bibir dapat mengerjakan hal yang tidak dapat kita kerjakan.” Wajah kita telah menyatakan keadaan sebenarnya dari segenap tubuh kita; kita mempunyai banyak anggota, dan masing-masing anggota memiliki fungsi yang berbeda. Itulah keadaan yang sepatutnya dalam kehidupan gereja. Ketika saya nampak setiap anggota berfungsi dalam sidang, hati saya sungguh girang, sebab mereka dapat melakukan apa yang tidak dapat saya lakukan. Sudah tentu, saya pun dapat melakukan apa yang tak dapat mereka lakukan.
C. SEBAGAI ANGGOTA TUBUH SALING
BERKOORDINASI
Ayat 5, “Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” Itu ber-arti, walaupun banyak, kita adalah satu Tubuh. Kita adalah banyak anggota, namun bukan merupakan banyak unit yang terpisah. Sebagai anggota, wajiblah kita saling berkoordinasi, supaya kita bisa menjadi satu Tubuh yang hidup dan berfungsi. Kalau kita tidak saling bekerja sama, kita akan menjadi anggota yang tercerai berai, dan dengan demikian kehidupan Tubuh tidak mungkin terwujud dengan riil. Dalam ayat 5 dikatakan, “Kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain”. “Masing-masing” bukan berarti kita ini terpisah, melainkan berarti kita berbeda. Artinya saya adalah anggota ini, Anda adalah anggota itu. Anda mungkin adalah hidung, saya adalah mata, dan se-orang saudari lain mungkin adalah telinga. Dengan demi-kianlah kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Hal itu memerlukan suatu kerja sama yang sepenuhnya.
D. BERDASARKAN KASIH KARUNIA
YANG DIANUGERAHKAN ALLAH KEPADA KITA,
MENGGUNAKAN KARUNIA KITA
YANG BERBEDA-BEDA
Mari kita baca ayat 6-8, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita menngajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan belas kasihan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita.” Apa arti anugerah atau kasih karunia? Seperti yang telah kita lihat dalam berita sebelumnya, kasih karunia ialah Allah yang menjadi kenikmatan kita di dalam Kristus. Tatkala kasih karunia ini, unsur ilahi ini, yaitu hayat ilahi, masuk ke dalam kita, timbullah suatu kecakap-an atau kemampuan, inilah karunia. Jadi, karunia atau kecakapan rohani itu berasal dari unsur ilahi yang kita nik-mati. Ketika Anda menikmati Allah, menghirup dan men-cerna unsur ilahi-Nya, maka dari unsur ilahi tersebut ter-bitlah karunia, kecakapan, atau kemampuan. Karunia ter-sebut berlain-lainan menurut unsur ilahi yang kita nikmati dan yang kita cerna ke dalam diri kita. Kasih karunia yang diberikan kepada kita mengacu kepada kasih karunia yang kita nikmati dan cerna. Maka, karunia yang dikatakan dalam Roma 12 adalah karunia dari anugerah (kasih karunia) dalam hayat.
Hal itu dapat dibuktikan oleh ayat-ayat lain dalam surat Roma. Roma 5:17, “. . . mereka yang telah menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan berkuasa dalam hayat . . .” (Tl.). Ayat ini menunjukkan adanya kaitan antara kasih karunia dengan hayat. Juga dalam 5:21 Paulus mengatakan, “. . . anugerah akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.” Berdasarkan kedua ayat di atas, terbukti adanya hubungan antara kasih karunia dengan hayat. Apa itu kasih karunia? Hayat ilahi untuk kita nikmati. Ketika kita menikmati hayat kekal Allah, itulah kasih karunia. Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus mengatakan, “. . . aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Kasih karunia Allah yang menyertai Paulus adalah hayat ilahi yang men-jadi kenikmatannya di dalam dirinya. Maka walaupun ia bekerja lebih keras daripada rasul-rasul lainnya, itu bukan Paulus sendiri, melainkan hayat ilahi yang dinikmatinya.
Jadi, kasih karunia yang dikatakan dalam surat Roma ialah masalah hayat. Karunia dalam Roma 12 tergantung pada kasih karunia, ini berarti karunia itu diberikan me-nurut ukuran hayat. Jika kenikmatan Anda terhadap hayat Allah telah mencapai tingkat yang tinggi, maka karunia yang Anda peroleh akan tinggi juga. Kalau kenikmatan Anda itu terbatas, karunia Anda pun terbatas. Sebab besar kecilnya karunia tergantung pada tingkat kenikmatan Anda terhadap hayat ilahi, sebagai kasih karunia di dalam Anda. Karunia-karunia yang tercantum dalam Roma 12 bukanlah karunia yang ajaib yang diperoleh secara mendadak. Karunia-karunia dalam Roma 12 adalah seperti berbagai macam kecakapan pada anggota tubuh seseorang. Besar kecilnya kecakapan sepenuhnya tergantung pada jumlah hayat dalam tubuh seseorang. Bila tubuh telah tumbuh dewasa, pasti kekayaan hayatnya akan meluap keluar, dan dengan demikian terbitlah kecakapan-kecakapan dari dalamnya. Kecakapan-kecakapan itulah yang disebut karunia dalam Roma 12. Semua jenis karunia yang disebut dalam ayat 6-8 adalah karunia dari kasih karunia dalam hayat. Kita boleh menyebutkan tujuh di antaranya: bernubuat (bertutur-sabda), melayani, mengajar, menasihati, membagi-bagikan, memimpin, dan menunjukkan belas kasihan. Kita perlu ingat bahwa ketujuh hal tersebut, termasuk menunjukkan belas kasihan, adalah karunia.
Banyak orang Kristen mengira bahwa yang disebut karunia hanyalah berbahasa lidah, menerjemahkan bahasa lidah, menyembuhkan penyakit, dan melakukan mujizat-mujizat. Namun sangat mengherankan, dalam Roma 12 tidak disebutkan satu pun dari karunia-karunia di atas. Dalam Roma 12 Paulus tidak menyinggung tentang bahasa lidah, menerjemahkan bahasa lidah, penyembuhan, dan mujizat, tetapi ia mengatakan tentang karunia-karunia yang dibutuhkan bagi kehidupan Tubuh. Perhatikanlah ayat 6, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlainlainan menurut kasih karunia yang diberikan kepada kita.” Di sini Paulus tidak mengatakan menurut apa yang disebut baptisan Roh. Saya perlu mengulangi sekali lagi definisi kasih karunia. Kasih karunia ialah unsur ilahi yang masuk ke dalam kita, menjadi hayat kita, dan kita nikmati. Kasih karunia bukan sesuatu yang lahiriah; melainkan unsur hayat ilahi yang tergarap ke dalam kita, dan yang memberi kita suatu kecakapan atau kemampuan. Sekarang baiklah kita tinjau dengan lebih seksama karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat.
1. Bertutur-sabda Sesuai dengan Iman
Jika Anda membaca beberapa terjemahan dari surat Roma, Anda akan nampak bahwa sebagian besar di antara mereka menyetujui bahwa bernubuat (bertutur-sabda) yang tercantum dalam Roma 12 ini terutama bukan ditujukan pada mengucapkan ramalan. Bahkan dalam seluruh Alkitab, istilah nubuat terutama bukan ditujukan pada meramal. Dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, bernubuat berarti: 1) Berbicara bagi orang lain; 2) Mengucapkan perkataan, atau mengatakan sesuatu; dan 3) Menubuatkan sesuatu sebelum terjadi, meramalkan. Seluruh kitab Yesaya adalah kitab nubuat, tetapi bukan hanya berisi ramalan, tetapi juga perkataan-perkataan untuk orang lain dan mengatakan suatu perkara. Memang benar dalam kitab Yesaya terdapat ramalan, namun sebagian besar kata-kata dalam kitab Yesaya adalah pembicaraan nabi bagi Allah. Maka arti yang terpenting dari istilah “bernubuat” ialah “berbicara untuk Allah” dan “mengatakan sesuatu”. Apa artinya bernubuat? Berbicara bagi Allah di bawah ilham atau wahyu Allah secara langsung. Dalam karangannya yang berjudul Word Studies in the New Testament vol. III halaman 156, Marvin Vincent menjelaskan kata bernubuat itu demikian: “Pemikiran yang terutama mengenai bernubuat dalam kitab Perjanjian Baru tidak berbeda dengan kitab Perjanjian Lama, yaitu bukan berarti meramal, melainkan mengutarakan kata-kata peringatan, nasihat, pengajaran, penghakim-an, dan menyatakan keadaan isi hati orang yang tersembunyi melalui ilham roh. Silakan baca 1 Korintus 14:3, 24, dan 25. Para nabi Perjanjian Baru berbeda dengan pengajar-pengajar pada umumnya.” Jadi arti utama dari istilah ber-nubuat dalam Alkitab bukan meramal, melainkan berbicara bagi Allah di bawah ilham Allah secara langsung.
2. Melayani dalam Pelayanan
Istilah “melayani” dalam ayat 7 ditujukan pada pelayan-an diaken atau diaken wanita dalam gereja lokal (Baca Rm. 16:1; 1 Tim. 3:8-13; dan Flp. 1:1). Para diaken dan diaken wanita adalah orang-orang yang melayani dalam gereja lokal. Mereka harus memiliki suatu roh yang melayani dan sikap melayani. Mereka harus memelihara dirinya senantiasa da-lam pelayanan. Pelaksanaan kehidupan Tubuh memerlukan pelayanan yang demikian.
3. Mengajar dalam Pengajaran
Apakah perbedaan mengajar dengan bertutur-sabda? Seperti telah kita ketahui bahwa bertutur-sabda ialah berbicara bagi Tuhan di bawah ilham-Nya secara langsung, yakni berbicara menurut apa yang diwahyukan Tuhan. Lain halnya dengan pengajaran. Mengajar adalah berbicara ber-dasarkan tutur-sabda nabi. Beberapa saudara dapat meng-ambil kata-kata yang ditutur-sabdakan oleh orang lain, lalu mengajarkannya kepada orang lain, itulah artinya mengajar. Orang-orang yang mengajar wajib memelihara dirinya dalam melaksanakan karunia mengajar tersebut.
4. Menasihati dalam Nasihat
Apakah artinya nasihat? Apa pula perbedaannya dengan bertutur-sabda dan mengajar? Baik bertutur-sabda, mengajar, maupun menasihati adalah karunia berbicara. Akan tetapi, nasihat disampaikan berdasarkan tutur-sabda dan pengajaran. Boleh jadi dalam suatu sidang istimewa, atau sidang pelatihan ada seorang saudara bertutur-sabda di bawah ilham Allah secara langsung, ada pula saudara yang setelah menerima kata-kata yang berwahyu itu lalu mebawanya pulang ke tempatnya dan mengajarkannya kepada orang-orang di tempatnya, itulah pengajaran. Setelah itu berdasarkan pembicaraan langsung di bawah ilham Allah dan pengajaran menurut ilham itu, orang memberikan nasihat. Ketiga jenis pembicaraan di atas adalah untuk membangun Tubuh. Mereka menyuplaikan suplai hayat kepada kaum saleh, supaya mereka semua bertumbuh bersama demi firman Allah. Orang-orang yang menasihati juga wajib selalu menggunakan karunianya itu.
5. Membagi-bagikan Sesuatu dengan Hati yang Ikhlas
Membagikan sesuatu dengan hati yang ikhlas juga merupakan suatu karunia dari kasih karunia di dalam hayat. Ini ditujukan kepada mereka yang memberi bantuan kepada orang-orang yang kekurangan. Dalam gereja memang perlu ada orang yang membagi-bagikan sesuatu. Kita perlu orang-orang yang mampu membagi-bagikan barang-barang material untuk membantu orang-orang yang kekurangan, guna mempercepat pekerjaan Tuhan dan memperhatikan kebutuhan gereja yang riil. Karena itu, kita perlu banyak orang saleh yang memiliki kadar hayat seperti itu, agar mereka dapat membagi-bagikan sesuatu dengan ikhlas.
6. Memberi Pimpinan dengan Rajin
“Siapa yang memberi pimpinan” ini ditujukan pada saudara-saudara yang memimpin dalam gereja. Siapa pun yang ingin menjadi pemimpin, pertama-tama perlu belajar menjadi orang yang rajin. Kalau Anda orang yang kotor dan malas, Anda tidak bisa menjadi pemimpin. Saya minta semua saudara yang memimpin memperhatikan satu perkara: syarat pertama bagi seorang pemimpin ialah rajin. Seorang saudara pemimpin, yaitu yang menjadi penatua, perlu senantiasa rajin dalam setiap perkara dan setiap bidang. Kecakapan, fungsi, dan karunia seorang penatua dalam memberi pimpinan sangat tergantung pada kerajinannya.
7. Menunjukkan Belas Kasihan dengan Sukacita
Kecakapan dalam hayat untuk menunjukkan belas kasihan juga merupakan satu karunia. Menunjukkan belas kasihan dengan sukacita bukanlah suatu perkara kemurahan alamiah. Ada orang memiliki karakter murah hati yang alamiah; sejak dilahirkan sudah demikian. Tetapi menun-jukkan belas kasihan dengan sukacita adalah suatu sifat yang terbentuk di dalam kita melalui pengubahan. Tatkala Anda bertumbuh dalam hayat Kristus dan lebih mengasihi-Nya, maka ada satu sifat yang akan terbentuk di dalam Anda, dan akan berbeban untuk memperhatikan orang lain, serta menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang tidak layak. Ini bukan karakter Anda yang alamiah, melainkan berasal dari pertumbuhan hayat Anda melalui proses pengubahan. Maka menunjukkan belas kasihan juga merupakan salah satu karunia dalam hayat. Menunjukkan belas kasihan berarti memberi bantuan kepada orang lain dengan rasa simpati. Kapan saja Anda membantu seseorang karena rasa simpati, itu berarti Anda telah menunjukkan belas kasihan kepadanya. Misalnya seorang saudara mengalami suatu problem atau kesulitan dan Anda bersimpati kepadanya serta memberikan bantuan kepadanya, itu adalah suatu perbuatan menunjukkan belas kasihan.
Jika Anda menjajarkan ketujuh karunia dalam Roma 12, Anda akan menemukan, bahwa semuanya ini adalah karunia-karunia yang diperlukan bagi gereja lokal untuk melaksanakan kehidupan Tubuh. Dalam gereja lokal, pertama-tama kita perlu berbicara bagi Allah di bawah ilham-Nya secara langsung. Atas dasar pembicaraan ilham itu, kita menyampaikan pengajaran, dan atas dasar tutursabda dan pengajaran, kita juga memberikan nasihat. Seiring dengan itu, kita ada pimpinan penatua dan pelayanan diaken. Selain itu, ada pula yang mempersembahkan harta bendanya untuk gereja, memperhatikan orang-orang miskin, dan memajukan pekerjaan Tuhan. Terakhir, ada orang-orang yang menunjukkan belas kasihan, yang memberikan bantuan kepada orang lain dengan simpati, dalam zaman yang penuh dengan kesulitan ini. Jadi, ketujuh karunia ini cukup memadai untuk melaksanakan kehidupan gereja. Paulus sungguh mengagumkan. Ia sungguh ahli dalam kehidupan gereja; ia menampilkan beberapa perkara ini secara seder-hana namun mencakup semuanya. Kita benar-benar harus menyembah Tuhan atas seorang rasul yang demikian!
Kita perlu memiliki kesan yang mendalam atas fakta tidak dibicarakannya karunia berbahasa lidah, penerjemah-an bahasa lidah, penyembuhan, dan mujizat-mujizat lainnya dalam Roma 12 ini. Karunia-karunia itu bersifat ajaib, tetapi dalam Roma 12, kita hanya menemukan karunia-karunia dari kasih karunia di dalam hayat. Salah satu contoh dari karunia yang ajaib adalah keledai Bileam yang berbicara dalam bahasa manusia. Walaupun tidak memiliki hayat manusia, keledai itu dapat mengucapkan perkataan mansia. Itu jelas merupakan satu karunia yang ajaib. Karunia-karunia yang dikatakan dalam Roma 12 bukan karunia-karunia yang ajaib, melainkan karunia-karunia dari kasih karunia di dalam hayat. Ketika Anda menikmati Allah sebagai hayat dan bertumbuh di dalam hayat, Anda akan menemukan, bahwa seiring dengan pertumbuhan hayat Anda, Anda memperoleh suatu kecakapan dan kemampuan. Itulah karunia dari kasih karunia dalam hayat yang kita bicarakan. Untuk berbicara seperti manusia, seekor keledai tidak perlu pertumbuhan hayat. Tidaklah masalah keledai itu kecil atau besar, muda atau tua. Karena itu adalah karunia ajaib, karunia itu tidak tergantung pada pertumbuhan keledai itu. Namun seorang yang menjadi penatua dalam gereja bukan tergantung pada karunia yang ajaib. Jangan mengira tidak lama setelah Anda beroleh selamat, Anda dapat berdoa beberapa jam, menerima apa yang disebut baptisan Roh, lalu tiba-tiba Anda menjadi penatua. Jika ada orang dapat men-jadi penatua secara demikian, itu berarti jabatan penatua merupakan satu karunia ajaib. Padahal untuk menjadi penatua tidak perlu karunia ajaib, tetapi perlu bertumbuh dalam hayat hingga memiliki karunia dari kasih karunia. Anda perlu bertumbuh setiap hari dan dari tahun ke tahun. Kalau Anda tidak dapat menyatakan pertumbuhan hayat, Anda tidak dapat menjadi penatua. Kalau Anda kekurangan kadar hayat, Anda tidak dapat menjadi seorang penatua. Saya harap setiap orang yang membaca berita ini, kini dapat membedakan kedua macam karunia ini — karunia ajaib dan karunia dari kasih karunia di dalam hayat.
Di antara karunia-karunia yang dikatakan dalam 1 Korintus 12, banyak yang tergolong karunia-karunia yang ajaib. Tetapi di situ juga ada beberapa karunia yang bukan bersifat ajaib, antara lain, berkata-kata dengan hikmat dan berkata-kata dengan pengetahuan. Kita telah nampak, da-lam Roma 12, tidak ada satu pun karunia yang ajaib, se-muanya adalah karunia dari kasih karunia dalam hayat yang memerlukan pertumbuhan hayat. Pertumbuhan Anda dalam hayat akan memberi Anda suatu kadar hayat dan demi kadar hayat itu, kecakapan Anda atau karunia Anda akan dinyatakan. Hal ini akan membuat Anda bersyarat untuk menunaikan suatu tugas atau pelayanan dalam ke-hidupan gereja.
Karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat dibutuhkan dalam pelaksanaan kehidupan gereja. Bila Anda mengabaikan karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat, dan hanya memperhatikan karunia yang ajaib, tidak lama lagi gereja akan terpecah-belah. Camkanlah baik-baik, kita tidak bisa bersatu dengan menekankan karunia-karunia yang ajaib. Karunia-karunia yang ajaib bisa menyebabkan perpecahan, tetapi karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat dapat membangun orang. Paulus sangat berpengalaman dalam kehidupan gereja. Ia tahu bahwa karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat dibutuhkan dalam pembangunan gereja. Karena itu, dalam Roma 12 ia tidak menyinggung karunia-karunia yang bersifat ajaib di antara hal-hal yang diperlukan bagi kehidupan gereja. Tidak seorang pun dapat menyangkal hikmat Paulus. Meskipun ia menyinggung tentang berbahasa lidah dalam 1 Korintus, ia tidak menyinggungnya dalam surat Roma. Ini pasti ada se-babnya. Dari tulisannya, yakni 1 Korintus, dapat diketahui bahwa karunia-karunia yang ajaib itu menyebabkan gereja di Korintus terpecah-belah. Dalam 1 Korintus, kita dapat melihat fakta bahwa berkata-kata dengan bahasa lidah dan karunia-karunia ajaib lainnya bisa mempengaruhi gereja sehingga terpecah-belah. Itulah sebabnya Paulus tidak men-cantumkan karunia-karunia ajaib itu dalam surat Roma. Paulus bijaksana dan berhati-hati. Ia mengakui bahwa ka-runia-karunia ajaib berfaedah bagi orang Kristen perorang-an. Dalam 1 Korintus 14:4 dikatakan bahwa berkata-kata dengan bahasa lidah dapat membangun orang yang bersang-kutan, tetapi tidak membangun gereja. Paulus menganjuri orang-orang di Korintus supaya memperhatikan pembangun-an gereja (1 Kor. 14:12, 26). Dalam surat Roma, yang diper-hatikan Paulus bukan pembangunan perorangan, melainkan pembangunan Tubuh. Maka ia tidak mencantumkan karu-nia-karunia ajaib dalam surat ini. Saya tahu kata-kata ini akan membuat orang-orang yang mempunyai latar belakang berkata-kata dengan bahasa lidah kurang senang. Tetapi saya minta Anda sabar sebentar, dan merenungkan, apakah yang terbaik bagi kehidupan gereja dalam jangka panjang? Jika kalian benar-benar ingin melaksanakan kehidupan gereja, janganlah memberi penilaian terlampau tinggi terhadap karunia-karunia yang ajaib itu. Lebih baik Anda mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada karunia dari kasih karunia dalam hayat yang benar-benar dapat membangun gereja.
Surat Roma ditulis tidak lama sesudah 1 Korintus. Kedua surat itu ditulis ketika Paulus berada dalam per-jalanan ministrinya kali ketiga. Ketika ia tinggal di Efesus, tersiarlah kabar bahwa di gereja di Korintus terjadi keka-cauan dan perselisihan. Karena itu, dari Efesus Paulus me-nulis surat pertamanya kepada gereja di Korintus, dengan tujuan mengoreksi mereka dalam hal penyalahgunaan karunia-karunia ajaib itu. Setelah surat itu ditulis, ia sendiri kemudian pergi ke Korintus. Ketika ia tinggal di Korintus, ia menulis surat Roma. Semua ini adalah fakta sejarah. Surat 1 Korintus ditulis sekitar tahun 59 dan surat Roma ditulis sekitar 1 tahun sesudah itu. Dalam surat 1 Korintus, Paulus mengoreksi penyalahgunaan bahasa lidah dan ka-runia-karunia ajaib lainnya. Tak lama sesudah itu, ketika ia menulis surat Roma, masalah karunia ajaib itu sedikit pun tidak disinggungnya. Mungkin hal ini disebabkan ia melihat kekacauan yang terjadi dalam gereja di Korintus. Kita tak dapat mengabaikan sejarah, sebab sejarah memberi banyak pelajaran bagi kita. Sungguh berarti, Paulus menulis surat Roma ketika ia berada di Korintus. Pada saat itu, gereja di Korintus sedang ramai membicarakan karunia-karunia yang ajaib, tetapi dalam surat Roma; Paulus tidak berkata apa-apa tentang karunia ajaib. Ini sangat berarti, dan patut kita perhatikan.
Mengenai karunia-karunia yang muncul dari pertumbuhan hayat, saya ingin berkata sedikit lagi. Sebelum Paulus membicarakan karunia-karunia dalam 1 Korintus 12 dan 14, dalam pasal 3 ia berbicara dengan tegas tentang pertum-buhan hayat, “Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (1 Kor. 3:9). Seperti telah sering kali kita katakan dahulu, ladang adalah tempat mempertumbuhkan bahan untuk pembangunan. Semua bahan yang diperlukan bagi pembangunan rumah Allah dihasilkan dari yang tumbuh di ladang itu. Kemudian Paulus mengatakan bahwa ia sendiri seperti seorang ahli bangunan yang cakap, telah meletakkan dasar, lalu kita sekalian harus memperhatikan bagaimana membangun di atasnya (1 Kor. 3:10). Kita harus membangun dengan emas, perak, dan batu permata, bukan dengan kayu, rumput kering, atau jerami (ayat 12). Kalau Anda mengga-bungkan ayat-ayat dalam 1 Korintus 3 ini, Anda akan nampak bahwa Paulus memberi petunjuk kepada orang-orang di Korintus untuk membangun gereja di tempat mereka secara wajar. Cara yang wajar untuk membangun gereja bukanlah demi karunia-karunia yang ajaib, melainkan demi pertumbuhan hayat yang sejati, agar kaum saleh berubah menjadi bahan-bahan yang mustika, untuk bait Allah. Selain itu Paulus juga berkata bahwa ia merawat dan menanam dan Apolos menyiram (1 Kor. 3:2-6). Merawat, menanam, dan menyiram semua adalah untuk pertumbuhan; sedang bertumbuh dapat menghasilkan kecakapan dan karunia yang berguna dalam pembangunan rumah Allah dengan bahan yang tepat, yang telah mengalami pengubahan.
Lihatlah bayi yang baru dilahirkan. Pada waktu dilahirkan ia telah memiliki organ-organ yang lengkap. Akan tetapi, sedikit sekali organ-organnya yang dapat berfungsi, sebab ia kekurangan pertumbuhan hayat. Semakin ia diberi makan oleh ibunya, ia akan semakin bertumbuh. Setelah beberapa waktu, ia bisa berjalan, dan lewat beberapa waktu lagi, ia bisa berbicara. Akhirnya ia bertumbuh sepenuhnya dan seluruh kecakapannya berkembang, serta memiliki fungsi yang riil. Setelah ia menjadi dewasa, ia memiliki kecakapan-kecakapan. Kecakapan-kecakapannya itu adalah karunia yang timbul dari pertumbuhan hayatnya. Inilah arti karunia-karunia yang dikatakan Paulus dalam Roma 12.