← Daftar isi Roma (1) · bab 11/15

PENGUBAHAN DALAM PELAKSANAAN KEHIDUPAN TUBUH (3)

DAN DALAM KEPATUHAN, KASIH,

DAN PEPERANGAN

V. DEMI MENEMPUH KEHIDUPAN YANG NORMAL

Kita telah nampak definisi pengubahan dan ketiga butir yang berkaitan dengan pengubahan dalam pelaksanaan kehidupan Tubuh, yakni: persembahan tubuh, pembaruan pikiran, dan penggunaan karunia. Sekarang kita maju selangkah meninjau masalah kehidupan yang normal (Rm. 12:9-21).

A. TERHADAP ORANG LAIN

1. Kasih

Untuk menempuh suatu kehidupan yang normal, terlebih dulu kita perlu memiliki kasih terhadap orang lain. Dalam ayat 9 Paulus berkata, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!” dan ayat berikutnya, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara.”

2. Memberi Hormat

Ayat 10 juga mengatakan, “Saling mendahului dalam memberi hormat”. Dalam hal memberi hormat, kita wajib melakukannya dengan cepat, dan wajib mendahului orang lain.

3. Persekutuan dan Memberikan Tumpangan

Lagi pula, kita perlu memiliki persekutuan dalam kekurangan kaum saleh dan mencari kesempatan untuk memberikan tumpangan (ayat 13).

4. Bersukacita dengan Orang yang Bersukacita dan Menangis dengan Orang yang Menangis

Dalam ayat 15 Paulus berkata, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.” Sebelum kita dapat bersukacita atau menangis dengan orang lain, kita perlu mengalami pengubahan. Ada beberapa orang sejak dilahirkan tidak dapat menangis atau bersukacita. Bagaimanapun Anda merasa sukacita, mereka tetap tidak mempunyai pernyataan apa-apa, seperti patung yang selamanya tidak berubah ekpresinya. Beberapa saudara atau saudari benar-benar demikian. Mereka tidak tahu bagaimana bersukacita atau menangis dengan orang lain; mereka seperti batu-batu yang tanpa perasaan insani. Akan tetapi kehidupan gereja memerlukan orang-orang yang beremosi. Kita semua perlu memiliki emosi yang wajar, dan harus penuh dengan ekpresi. Saya senang memiliki raut muka yang bisa menyatakan segala emosiku dengan sewajarnya dan memadai. Kita tidak dapat mengumpulkan orang-orang yang berwajah seperti batu, lalu menyebut mereka sebagai kehidupan gereja; kita wajib menjadi batu-batu hidup, yaitu batu-batu yang penuh perasaan. Kita harus belajar bersukacita atau menangis dengan orang lain.

5. Harus Sehati Sepikir

Kemudian Paulus menasihati kita, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada hal-hal yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai” (ayat 16). Paulus sangat riil. Ketika ia mem-beri tahu kita agar kita mengarahkan diri kepada hal-hal yang sederhana, ini mencakup segala manusia dan perkara. Kita perlu belajar mengarahkan diri kepada segala hal yang sederhana. Janganlah memikirkan hal-hal yang tinggi, te-tapi arahkanlah dirimu kepada hal-hal yang sederhana.

B. TERHADAP ALLAH

Ayat 11 menerangkan sikap kita yang seharusnya ter-hadap Allah, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”

1. Jangan Kendor (Malas)

Dalam kehidupan gereja kita perlu rajin. Tidak ada seorang pun yang malas dapat bertahan dalam kehidupan gereja. Demi Tubuh, kemalasan kita harus ditanggulangi.

2. Roh Menyala-nyala

Demi menempuh kehidupan Tubuh, kita perlu satu tubuh yang telah dipersembahkan, satu pikiran yang diperbarui di dalam pengubahan jiwa, dan satu roh yang menyalanyala. Seluruh diri kita — roh, jiwa, dan tubuh — telah ter-cakup dalam kehidupan gereja. Untuk menempuh kehidupan gereja, tubuh kita perlu dipersembahkan, jiwa kita perlu diperbarui, pikiran kita perlu mengalami perubahan meta-bolis. Pikiran kita harus diperbarui bukan hanya melalui pengajaran, tetapi juga melalui pengubahan, yaitu demi tersebarnya unsur Kristus di dalam kita, sehingga terjadi suatu perubahan metabolis. Pengubahan jiwa terutama ter-gantung pada pembaruan pikiran. Jika kita benar-benar ingin melaksanakan kehidupan gereja, kita perlu memper-sembahkan tubuh kita, mengalami pengubahan jiwa, dan menyala-nyala di dalam roh. Bila kita berminat menempuh kehidupan gereja, tetapi tidak mau mempersembahkan tu-buh kita kepada gereja, itu tidak riil. Namun, andaikata tubuh kita sudah menempuh kehidupan gereja, tetapi pikiran kita masih penuh dengan konsepsi, angan-angan, dan tradisi yang usang; andaikata pikiran kita penuh dengan kepan-daian, imajinasi, dan konsepsi alamiah kita; kita bisa datang ke gereja dengan tubuh kita, tetapi kita membawa kesulitan besar bagi gereja karena pikiran-pikiran yang belum diper-barui itu. Karena itu, tubuh kita perlu dipersembahkan, dan pikiran kita perlu diperbarui. Andaikata, demi belas kasihan Tuhan, tubuh kita telah dipersembahkan dan pikiran kita telah diperbarui, tetapi roh kita tetap dingin, kita tetap tidak dapat menempuh kehidupan gereja. Setelah tubuh dipersem-bahkan dan pikiran diperbarui, roh kita pun perlu mem-bara. Kita benar-benar berharap dapat nampak ketiga ciri-ciri ini pada diri setiap orang saleh dalam pemulihan Tuhan: Persembahan tubuh yang mutlak bagi kehidupan gereja; pembaruan pikiran yang sempurna demi pengubahan meta-bolis dalam jiwa, agar kita terlepas dari pikiran duniawi, alamiah, dan agamawi, dipenuhi dengan pikiran Tuhan, sehingga kita hidup murni bagi Tuhan; dan roh yang me-nyala-nyala. Bila keadaan kaum saleh dalam pemulihan Tuhan demikian, maka kehidupan gereja pasti menjadi sangat indah!

3. Melayani Tuhan Bagaikan Budak

Dalam kehidupan gereja, kita harus melayani Tuhan bagaikan seorang budak. Budak adalah yang telah dibeli oleh tuannya, dan yang tidak memiliki kebebasan lagi. Untuk kehidupan Tubuh, kita harus menjadi orang yang demikian, yakni melayani Tuhan seperti budak, tidak berbuat sesuatu menurut diri sendiri. Karena itu, kita tidak boleh malas ter-hadap Allah, roh kita harus menyala-nyala, dan melayani Tuhan bagaikan seorang budak.

C. TERHADAP DIRI SENDIRI

Dalam Roma 12, kita pun nampak empat aspek dari kehidupan yang normal terhadap diri sendiri.

1. Bersukacita dalam Pengharapan

Orang Kristen seharusnya merupakan orang yang senantiasa bersukacita, sebab kita senantiasa menikmati Tuhan. Bila kita menikmati kelimpahan Tuhan, bukan batin kita saja yang merasa sukacita, lahir kita pun bersukacita. Bahkan ketika menjumpai kesukaran, kita harus dan dapat bersukacita dalam pengharapan. Kita bukan orang-orang yang tanpa Allah, tanpa Kristus, dan tanpa pengharapan (Ef. 2:12). Kita memiliki Allah dan Kristus. Maka, tidak peduli bagaimana keadaannya, kita tetap memiliki pengharapan dan kita dapat bersukacita dalam pengharapan.

2. Sabar dalam Kesengsaraan

Sebagai orang Kristen, kita juga harus bisa sabar dalam kesengsaraan. Kita harus menjadi orang yang sabar. Dengan bersukacita dalam pengharapan, kita dapat sabar dalam kesengsaraan apa pun. Roma 5:3 mengatakan bahwa kita dapat bermegah dalam kesengsaraan. Jadi kita tidak saja dapat sabar bahkan dapat bermegah dalam kesengsaraan.

3. Tekun dalam Doa

Untuk sabar dalam kesengsaraan, kita perlu bertekun dalam doa. Kita perlu berdoa dengan tekun. Ini tidak saja membuat kita dapat sabar dalam kesengsaraan, juga dapat membuat kita tinggal dalam kenikmatan akan Tuhan, tinggal dalam hadirat-Nya, dan dalam kehendak-Nya.

4. Membenci dan Mengalahkan Kejahatan, Melakukan Kebaikan

Selain itu semua, sebagai umat Allah yang kudus, kita harus membenci dan mengalahkan kejahatan, dan melakukan kebaikan. Kita, orang-orang Kristen yang telah disisihkan untuk Allah, wajib mempertahankan standar tingkah laku yang tertinggi, yakni standar yang melampaui standar orang-orang yang bermoral dan yang beretika.

D. TERHADAP PENGANIAYA DAN SETERU

Kita juga harus menyatakan kehidupan yang normal terhadap penganiaya dan seteru.

1. Memberkati dan Jangan Mengutuk

Terhadap penganiaya dan seteru, kita hanya memberkati jangan mengutuk (ayat 14). Tak peduli betapa jahatnya orang terhadap kita, mulut kita hanya patut mengucapkan kata-kata yang memberkati, jangan mengutuk. Ketika kita menjadi seteru Tuhan, kita sudah begitu diberkati-Nya, maka patut pula kita berbuat demikian terhadap siapa yang menganiaya dan memusuhi kita. Hal ini pun merupakan salah satu aspek dari kehidupan kita sebagai pengikut-pengikut Tuhan.

2. Jangan Membalas Kejahatan dengan Kejahatan

Terhadap siapa pun kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan (ayat 17). Berdasarkan hukum Taurat, mata ganti mata, gigi ganti gigi, membalas mata dengan mata. Tetapi hari ini kita bukan di bawah hukum Taurat, melainkan di bawah kasih karunia. Kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi harus menaklukkan kejahatan dengan kebaikan, sebagaimana yang dilakukan Tuhan terhadap kita.

3. Jangan Menuntut Pembalasan Sendiri

Tambahan pula, kita tidak seharusnya menuntut pembalasan sendiri, melainkan memberi tempat kepada murka Allah; karena pembalasan adalah hak Tuhan (ayat 19). Tatkala kita melaksanakan kehidupan gereja dalam keadaan normal, jangan sekali-kali menuntut pembalasan sendiri. Kita harus rela menerima perlakuan buruk dari orang lain, dan rela menderita segala kerugian. Kita harus menyerahkan segala keadaan ke dalam tangan Tuhan yang berdaulat, dan membiarkan-Nya melakukan sesuatu seturut kedaulatan-Nya.

4. Melalui Memberi Makan dan Minum kepada Mereka, Menumpukkan Bara Api di Atas Kepalanya

Dalam ayat 20 Paulus berkata, “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya” (Tl.). Ini berarti mengasihi seteru dengan sesungguhnya. Kasih kita harus menjadi bara api yang di-tumpuk di atas kepala mereka, agar mereka berpaling pada Tuhan. Cara terbaik untuk menenangkan seteru adalah memberi makanan atau minuman kepada mereka. Karena itu Paulus berpesan kepada kita, “Janganlah kamu dikalah-kan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (ayat 21).

5. Hidup Damai dengan Semua Orang

Terakhir, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang!” (ayat 18). Adakalanya kita tidak mungkin hidup damai dengan semua orang, karena pihak lain tidak mau hidup damai dengan kita. Dalam keadaan demikian, kita pun tidak dapat berbuat apa-apa. Maka kata Paulus, “Sedapat-dapatnya”, hiduplah dalam damai dengan semua orang.

E. SECARA UMUM: SIAP SEDIA MELAKUKAN APA YANG BAIK BAGI SEMUA ORANG

Secara umum, kita harus siap sedia “melakukan apa yang baik bagi semua orang” (ayat 17). Kita wajib memper-hatikan perkara-perkara yang baik bagi semua orang, bah-kan harus mempersiapkan terlebih dulu. Agar tidak menja-tuhkan orang lain, kita tidak seharusnya menentang segala perkara yang baik. Namun, jangan melakukannya secara membabi buta, supaya kita tidak menyimpang dari jalan Tuhan. Karena kita tidak saja hidup di hadapan Allah, tetapi juga di hadapan manusia, kita perlu memperhatikan perkara-perkara yang baik bagi semua orang. 2Korintus 8:21 mengatakan, “Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.”

PENGUBAHAN DALAM KEPATUHAN,

KASIH, DAN PEPERANGAN

I. DALAM KEPATUHAN

Roma 13:1 mengatakan, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada peme-rintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Karakter alamiah manusia selalu bersifat memberontak, tetapi karak-ter yang telah mengalami pengubahan bersifat takluk atau patuh. Patuh kepada pemerintah yang ditetapkan oleh Allah, memerlukan sejumlah pengubahan. Saudari-saudari, kalau Anda ingin mematuhi suami kalian, kalian perlu mengalami pengubahan. Jika kita dapat mematuhi pemerintah yang ditetapkan oleh Allah, itu membuktikan bahwa kita telah memiliki kadar pengubahan yang lumayan, sebab karakter alamiah kita bersifat pemberontak. Kita adalah pemberontak sejak dilahirkan. Reaksi kita terhadap pemerintah atau penguasa selalu mengatakan, “Tidak”. Karena itu jika kita ingin memiliki kepatuhan terhadap pemerintah, kita memer-lukan pengubahan yang berasal dari pertumbuhan hayat. “Sebab itu siapa yang melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (ayat 2). Tidaklah berfaedah melawan pemerintah. Ia akan dihukum oleh pemerintah, atau akan langsung dihukum oleh Allah.

Dalam ayat 5 Paulus berkata, “Sebab itu perlu kita me-naklukkan diri, bukan saja oleh karena murka Allah, tetapi juga oleh karena suara hati (hati nurani) kita.” Karena hati nurani kita, kita perlu belajar melalui pengubahan mema-tuhi pemerintah.

“Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak . . . Bayarlah kepada semua orang apa yang wajib kamu bayar: Pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Berbuat demikian, menunjukkan bahwa kita mematuhi pemerintah.

II. DALAM KASIH

Ayat 8-10, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab siapa saja yang mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena perintah: Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan meng-ingini, dan perintah lainnya, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sen-diri. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”

Perintah untuk mengasihi telah mencakup segala perintah hukum Taurat. Kita memerlukan Roh Kudus bekerja di dalam kita dan mengaruniakan pengubahan dalam hayat ki-ta, agar kita dapat menyatakan kasih kepada semua orang. Kasih adalah ekspresi hayat; bukan sekadar perbuatan la-hiriah, tetapi ekspresi hayat yang di dalam. Hanya ingin mengasihi, tanpa suplai hayat, tidak mungkin berhasil. Untuk mengasihi sesama manusia dan dengan spontan me-menuhi hukum Taurat, kita memerlukan suplai hayat dan pengubahan dalam hayat. Hayat alamiah kita bukanlah hayat kasih Allah. Kita perlu memiliki pengubahan dalam hayat agar dapat memiliki sifat kasih Allah untuk mengasihi sesama kita. Bila kita tidak memperhatikan masalah menga-sihi sesama manusia, tentu kita tidak perlu pengubahan dalam hayat. Akan tetapi, jika kita ingin mengasihi sesama manusia, kita perlu mengalami pengubahan dalam hayat.

III. DALAM PEPERANGAN

Kini kita akan melihat pengubahan untuk peperangan, yaitu peperangan rohani. Ayat 11 mengatakan, “Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya.” Keselamatan di sini mengacu kepada langkah terakhir ke-selamatan, yaitu penebusan tubuh kita. Keselamatan mencakup roh, jiwa, dan tubuh kita. Dalam keselamatan lang-kah pertama, Tuhan melahirkan kembali roh kita; dalam langkah kedua, Ia mengubah jiwa kita, dan dalam langkah ketiga, yang terakhir, ketika Tuhan datang, Ia akan mengubah tubuh kita yang hina menjadi mulia (Flp. 3:21). Maka perkataan, “Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya” dalam ayat 11, berarti keselamatan langkah ketiga, yakni diubahnya tubuh kita. Dengan kata lain, tubuh kita akan ditebus, atau dapat juga dikatakan beroleh bagian dalam keputraan secara sempurna, sesuai dengan yang diwahyukan dalam Roma 8:19, 21, 23.

A. BANGUN DARI TIDUR

Kita perlu sadar bahwa sekarang adalah saatnya bagi kita untuk bangun dari tidur. Meskipun malam adalah wak-tu untuk tidur, tetapi “Hari sudah jauh malam” (13:12). Ma-ka kita harus bangun, dan berjaga-jaga, jangan tidur lagi.

B. MENANGGALKAN PERBUATAN KEGELAPAN

DAN MENGENAKAN PERLENGKAPAN

SENJATA TERANG

Zaman sekarang adalah malam hari. Tatkala Tuhan Yesus kembali, barulah fajar tiba. Zaman yang akan datang adalah siang hari. Karena hari sudah larut malam, dan telah hampir siang; kita tidak saja harus bangun dari tidur, tetapi juga harus menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan senjata terang (ayat 12). Ini ditujukan kepada peperangan.

C. HIDUP DENGAN SOPAN

SEPERTI PADA SIANG HARI

“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam

perselisihan dan iri hati” (ayat 13). Semua perbuatan seperti itu harus dibuang. Semua itu adalah perbuatan kegelapan, sedang kita adalah anak-anak siang.

D. MENGENAKAN KRISTUS

Ayat 14 sangat penting. “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menuruti daging untuk me-muaskan keinginannya” (Tl.). Dalam ayat 12 dikatakan kita harus mengenakan “perlengkapan senjata terang”, sedang dalam ayat 14 dikatakan kita harus mengenakan “Tuhan Yesus Kristus”. Jika kedua ayat itu digabungkan, kita nam-pak bahwa senjata terang itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Bahkan frase “janganlah menuruti daging” berhu-bungan dengan Roma 8:12, yang dikatakan Paulus, “Kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.” Peperangan yang tercantum dalam Roma 13:14 merupakan peperangan antara hawa nafsu de-ngan Roh Kudus, sama dengan apa yang dikatakan dalam Galatia 5:17. Kristus adalah Roh Kudus (2 Kor. 3:17). Karena itu kita harus mengenakan Kristus untuk berperang melawan hawa nafsu kita. Peperangan di sini berbeda dengan melawan penguasa di udara dan Iblis dalam Efesus 6:12, melainkan melawan hawa nafsu daging. Karena itu kita harus mengenakan Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang. Peperangan ini pun berbeda dengan peperangan dalam 7:23. Peperangan dalam 7:23 adalah pergumulan antara hukum dosa dalam daging dengan hukum kebaikan dalam pikiran kita; itu tidak ada hubungannya dengan Roh Kudus. Peperangan di sini adalah melawan perbuatan-perbuatan kegelapan dari daging; dengan mengena-kan Kristus sebagai perlengkapan senjata.

Apa artinya mengenakan Kristus? Kita telah dibaptis ke dalam Kristus dan kita telah berada di dalam Kristus (Rm. 6:4; Gal. 3:27). Mengapa kita masih perlu mengenakan Kristus? Makna sebenarnya dari mengenakan Kristus ialah hidup bersandar Kristus dan mengekspresikan Kristus. Sungguhpun kita berada dalam Kristus, kita masih perlu hidup bersandar Kristus, dan dengan riil mengekspresikan Kristus. Kita wajib menempuh hidup sehari-hari bersandar Kristus dan mengekspresikan Kristus, yang merupakan senjata kita untuk mengalahkan daging. Karena peperangan dalam ayat 14 bukan ditujukan untuk mengganyang Iblis dan roh-roh jahat, melainkan untuk menumpas daging dengan segala hawa nafsunya, kita perlu hidup bersandar Kristus. Semakin kita hidup bersandar Kristus, maka Kristus semakin menjadi perlengkapan senjata kita untuk melawan hawa nafsu daging.

E. JANGAN MENURUTI DAGING

Paulus menasihati kita, “Janganlah menuruti daging.” Kita tidak boleh menuruti atau menyuplai daging kita dengan apa saja. Ini membuktikan bahwa daging kita masih terus ada. Tidak peduli betapa rohaninya kita, daging kita masih dapat bangkit. Daging itu lapar dan menginginkan makanan, tetapi kita harus membiarkannya mati kelaparan, jangan sekali-kali menuruti dengan maksud memenuhi hawa nafsunya.

Apa artinya menuruti daging? Karena hal ini sukar dimengerti khususnya oleh kaum remaja, saya ingin mem-beri sedikit perumpamaan. Masyarakat dewasa ini gelap dan jahat, dan penuh dengan benda-benda pemuas daging. Perhatikan, misalnya koran-koran dengan iklan-iklan dan gambar-gambarnya. Saya tidak percaya seorang yang rohani sekalipun, ketika melihat gambar-gambar yang jahat dalam surat kabar, tidak akan terpengaruh olehnya. Pengalaman Anda bisa bersaksi, ketika Anda melihat iklan-iklan dan gambar-gambar dalam koran, daging Anda akan dibangkit-kan. Maka, iklan-iklan bioskop itu merupakan suatu suplai bagi daging. Tambahan pula, musuh pun telah memperalat televisi yang selalu mensuplai makanan bagi daging Anda yang lapar. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menonton bioskop atau televisi, tetapi saya katakan, lebih baik kita menghindarinya jauh-jauh. Jangan mengira Anda kuat. Andaikata di sana ada sebuah sumur yang dalam, kalau saya tidak mau jatuh ke dalam-nya, saya harus menjauhinya, jangan berjalan-jalan di sekitarnya. Kalau saya terus berjalan-jalan di tepi sumur itu, mungkin hari ini saya tidak jatuh, tetapi pada suatu ketika saya bisa jatuh ke dalamnya. Maka, pencegahan yang ter-baik ialah menjauhkan diri dari sumur itu. Demikian pula, menonton bioskop atau televisi juga merupakan satu hal yang berbahaya. Kalau Anda ingin menontonnya, Anda wajib berdoa, “Tuhan, menontonlah bersamaku. Di dalam rohku menonton bersamaku.” Kalau Anda dapat berdoa demikian, mungkin Anda tidak salah menontonnya. Kalau tidak, lebih baik Anda tidak menonton. Bagaimanapun, bioskop maupun televisi, telah diperalat musuh untuk memuaskan hawa nafsu daging manusia; dan banyak hal yang jahat terjadi akibat pengaruh bioskop dan televisi.

Seperti pernah saya katakan dahulu, kita sukar sekali menentukan kedudukan Roma 13. Mungkin Roma 13 adalah kelanjutan dari Roma 12. Kalau bukan bagian yang mem-bahas bagaimana menempuh kehidupan yang normal, paling sedikit ia sangat erat berhubungan dengan bagian tersebut. Maka dari 12:9 hingga 13:14 boleh dianggap sebagai bagian yang menyeluruh yang membahas bagaimana menempuh kehidupan yang normal. Roma 12:1-8 sudah jelas membahas pelaksanaan kehidupan Tubuh. Menyusul pelaksanaan ini, kita perlu menempuh kehidupan yang normal, sesuai dengan yang dilukiskan dalam 12:9-21, mungkin juga mencakup keseluruhan pasal 13. Kita tidak dapat mengabaikan bagian surat Roma ini. Setiap ayat dari bagian ini sangat jelas, tidak perlu dibicarakan lebih banyak lagi. Andaikata kaum remaja dapat menghafalkan beberapa ayat dari ayat-ayat itu, pasti besar faedahnya. Misalnya, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura.” “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara.” Ayat-ayat tersebut boleh dikatakan mirip peribahasa. Jika kaum remaja dapat menghafal ayat-ayat itu, mereka akan lebih mudah mengalami pengubahan, yang membuat mereka da-pat menempuh kehidupan yang normal, untuk mempraktekkan kehidupan gereja yang wajar. Kalau kita tidak me-nempuh kehidupan yang normal, kita tidak memiliki dasar untuk menempuh kehidupan gereja. Saya percaya, inilah alasan Paulus mengajukan syarat-syarat menempuh kehidupan yang normal langsung setelah menguraikan masalah pelaksanaan kehidupan gereja. Dalam seluruh Alkitab, ayat-ayat yang terindah yang membicarakan masalah kehidupan yang normal adalah yang tercatat di sini. Karena itu kita perlu berdoa berdasarkan ayat-ayat ini, dan saling bersekutu dengan ayat-ayat ini.