← Daftar isi Roma (1) · bab 12/15

PENGUBAHAN DALAM MENERIMA KAUM BERIMAN (1)

Injil dalam surat Roma sangat indah. Dalam kesebelas pasal yang di depan, Paulus telah menguraikan masalah pembenaran, pengudusan, pemuliaan, dan pemilihan secara sempurna. Jika kita membaca keempat bagian utama ter-sebut, kita akan nampak bahwa segala sesuatu yang hendak Allah lakukan boleh dikata telah rampung seluruhnya. Da-lam Roma 1—11, kita nampak penciptaan Allah, kejatuhan manusia, penebusan Kristus, pembenaran Allah, dan pen-damaian Allah. Selain itu, Paulus juga mengungkapkan masalah penyatuan Allah, proses hayat pengudusan, dan pe-muliaan. Paulus juga membimbing kita memasuki sumber segala perbuatan Allah — hati kasih-Nya. Ia pun membim-bing kita memasuki kamar rahasia pemilihan Allah, di mana kita nampak ekonomi-Nya. Panorama yang kita lihat sungguh indah! Renungkanlah butir-butir yang telah kita baca: penciptaan Allah, kejatuhan manusia, penebusan Allah, pembenaran, pendamaian, penyatuan, pengudusan, pemuliaan, kasih, dan pemilihan. Walaupun butir-butir ini indah, semuanya itu belum merupakan perampungan akhir pekerjaan Allah.

Perampungan akhir pekerjaan Allah ialah kehidupan gereja. Iblis itu licik dan ia telah membuat banyak orang Kristen yang terkasih dan mencari Tuhan, membenci istilah “gereja”. Banyak orang Kristen menjunjung tinggi pengudusan dan hayat rohani, tetapi mereka seolah-olah menyingkir-kan, mengabaikan, bahkan menentang gereja. Sebagian besar dari mereka berpegang pada satu konsepsi yang ironis, yaitu mengira masalah gereja bukan untuk sekarang, melainkan untuk waktu yang akan datang. Karena itu, setiap kali menyinggung soal gereja, kita terbentur pada kesulitan. Inilah kelicikan musuh. Hampir dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus berjanji akan segera kembali, namun hingga saat ini Ia belum juga kembali, sebab gereja masih belum siap. Di manakah gereja yang terbangun dengan wajar seperti yang disebutkan dalam Matius 16:18? Tanpa gereja yang siap, Tuhan Yesus tidak mempunyai jalan untuk kembali. Ada dua hal yang menjadi syarat kembalinya Tuhan: Pemulihan negara Israel dan pemulihan kehidupan gereja. Kalau Anda memahami nubuat, Anda akan tahu bahwa ke-dua hal ini merupakan tanda terbesar bagi kembalinya Tuhan. Demi kembalinya Tuhan, Israel perlu dipulihkan dan gereja juga perlu dipulihkan. Tanpa kedua hal tersebut, Tuhan mustahil kembali.

Dalam pemulihan Tuhan, kita sedang mempersiapkan jalan bagi kembalinya Tuhan. Setiap hari kita baca dari ko-ran peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Tengah. Se-mua itu adalah persiapan bagi pembangungan kembali ne-gara Israel. Walaupun saya yakin Tuhan sedang bekerja di Timur Tengah, saya prihatin terhadap pekerjaan Tuhan di antara kita. Pekerjaan Tuhan atas Israel harus sejalan dengan pekerjaan-Nya dalam gereja. Karena itu, kita harus mencurahkan seluruh perhatian kita pada kehidupan gereja.

Setelah Paulus mengakhiri ulasan-ulasannya dalam 11 pasal, ia sampai pada butir terakhir, yakni kehidupan gereja dalam Roma 12. Kita sudah melihat, Paulus membicarakan kehidupan gereja dengan menggunakan 5 pasal. Permulaan bagian tentang kehidupan gereja sangat istimewa. Kata Paulus, “Saudara-saudara . . . aku menasihatkan kamu . . .” (12:1). Paulus menasihati kita supaya mempersembahkan tubuh jasmani kita secara riil untuk kehidupan gereja. Selesai mengatakan itu, Paulus maju menampilkan bagian kedua dari diri kita, yaitu jiwa kita. Dikatakannya bahwa kita harus berubah oleh pembaruan pikiran kita (12:2). Jiwa kita memerlukan perubahan yang tuntas, mendasar, dan metabolis, baik dalam sifat maupun dalam coraknya. Demi kehidupan gereja, seluruh diri kita perlu diubah. Sebab segala yang alamiah, awam, duniawi, atau modern, tidak cocok untuk kehidupan Tubuh. Kita memerlukan pengubahan melalui pekerjaan batiniah unsur hayat ilahi. Kita perlu meng-alami suatu revolusi yang mutlak dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Setelah seluruh diri kita mengalami pengubahan metabolis yang demikian, barulah kita sesuai dengan kehi-dupan gereja. Tidak saja demikian, ketika tubuh kita telah dipersembahkan, dan jiwa kita telah diubah demi pemba-ruan pikiran, roh kita pun perlu menyala-nyala. Roh kita perlu membara. Jika kita sudah memiliki semua ciri ini, kita akan nampak bahwa oleh pertumbuhan hayat, ternyatalah karunia-karunia dari kasih karunia dalam hayat. Berbagai jenis karunia dan fungsi akan mulai bermunculan. Jangan seperti orang-orang yang menjadi anggota organisasi gereja, yang hanya hadir duduk di kursi sebagai anggota yang mati tanpa menyatakan fungsi apa pun. Orang-orang yang demi-kian selamanya tidak mungkin mengambil bagian dalam kehidupan gereja. Setiap orang dalam kehidupan gereja, wa-jib mempersembahkan tubuhnya, mengalami pengubahan jiwa melalui pembaruan pikiran, dan memiliki roh yang membara. Dengan demikian, barulah karunia-karunia yang diperlukan itu dapat diterapkan, dan kita dapat menempuh kehidupan gereja.

Untuk kehidupan gereja yang normal, kita perlu memi-liki kehidupan orang Kristen yang normal. Maka mulai 12:9—13:14 Paulus membahas masalah kehidupan orang Kristen yang normal. Dalam bagian ini Paulus membahas banyak butir penting, antara lain: sikap dan perilaku kita terhadap Allah, terhadap sesama anggota, terhadap diri sen-diri, dan terhadap orang yang menganiaya kita; sikap kita terhadap pemerintah dan otoritas yang ditetapkan, penerap-an prinsip kasih; dan peperangan terhadap daging. Demi kehidupan gereja, kita perlu memiliki kehidupan sehari-hari yang normal sebagai orang Kristen. Kehidupan ini adalah kehidupan yang serasi dengan kehidupan gereja. Tubuh kita perlu dipersembahkan, jiwa kita perlu diubah; pikiran kita perlu diperbarui, roh kita perlu menyala-nyala, dan karunia-karunia kita perlu diterapkan. Demikianlah pada akhir pasal 13 terlukislah kehidupan gereja, dan kehidupan orang Kristen pun dijelaskan secara memadai.

Akan tetapi di sini masih ada suatu kebutuhan yang besar, yakni kita wajib berhati-hati dalam menerima kaum beriman. Dalam hal menerima kaum beriman, kita perlu memakai daya pembedaan yang tajam, yang kita peroleh melalui pelaksanaan kehidupan gereja dan kehidupan orang Kristen yang normal. Kalau kita tidak jelas dalam hal me-nerima kaum beriman, kita akan merusak kehidupan gereja dan mencabik-cabiknya. Kita akan seperti orang yang mem-perhatikan bagian-bagian kecil dari tubuh jasmani kita, tetapi mengabaikan satu perkara yang dapat menyebab-kannya mati. Bila kita tidak berhati-hati dalam menerima kaum beriman, gereja akan terpecah-belah. Sejak 1940-an saya sudah menempuh kehidupan gereja, dan saya pernah melihat banyak orang beriman yang terkasih yang mengata-kan bahwa mereka telah nampak Tubuh, namun tidak la-ma kemudian, mereka malah terpecah belah karena perbeda-an pendapat dalam hal ajaran, merusak gereja, dan mereka sendiri memutuskan hubungan dengan persekutuan gereja. Pada waktu mereka baru berhubungan dengan gereja, mereka berkata, “Haleluya, aku telah nampak gereja”, tetapi beberapa bulan kemudian mereka menjadi orang yang membelot. Karena itulah, saya berkata bahwa kita harus sangat hati-hati dalam hal menerima kaum beriman dengan tepat.

Untuk menerima kaum beriman dalam Tuhan, kita harus mengalami pengubahan. Jika kita tetap dalam keada-an alamiah, tidak mungkin kita hidup bersama orang lain. Menurut tabiat alamiah kita, dengan diri sendiri pun kita tidak bisa cocok. Kita semua sering kontradiksi dengan diri sendiri. Maka kalau orang Kristen tetap berada dalam tabiat alamiah sendiri, ia pasti sukar berkumpul dengan orang lain. Menerima kaum beriman memerlukan pengubahan. Saya percaya bahwa pengubahan yang berasal dari pem-baruan pikiran yang dikatakan Paulus dalam Roma 12:2, tidak saja mendominasi bagian tentang pelaksanaan kehidupan Tubuh, tetapi juga mendominasi semua pasal yang berhu-bungan dengan kehidupan gereja. Pengubahan mendominasi berbagai butir dalam pasal 13, juga beberapa aspek dari pasal 14 dan 15. Jika kita tidak mengalami pengubahan hingga suatu tingkat, kita tidak mungkin dapat bersatu dengan kaum beriman lainnya. Kita mungkin saja bersidang bersama mereka, tetapi tidak dapat bersekutu dengan me-reka, atau terbuka kepada mereka. Jika kita terpaksa mem-buka diri kepada mereka, akhirnya kita akan bertengkar dengan mereka, karena konsepsi, perilaku, hakiki, dan perbuatan kita, masih bersifat alamiah, belum mengalami pengubahan. Karena itu, untuk menerima orang-orang yang seiman, kita perlu mengalami pengubahan. Seluruh pasal 14 dan sebagian dari pasal 15 membicarakan hal ini. Ada 5 butir dalam hal menerima kaum beriman yang dikatakan Paulus, yaitu:

I. BERDASARKAN PENERIMAAN ALLAH, BUKAN BERDASARKAN KONSEPSI AJARAN

Kita harus menerima kaum beriman berdasarkan penerimaan Allah terhadap mereka. Siapa saja yang telah diterima Allah, harus kita terima. Kita tidak ada pilihan. Perhatikanlah satu keluarga yang mempunyai banyak anak. Ada anak yang baik, ada pula yang tidak baik. Ada yang manis, ada pula yang nakal. Dalam suatu keluarga besar, boleh jadi ada anak yang tidak suka berkumpul dengan saudaranya. Tetapi anak-anak itu harus tahu bahwa mereka tidak dapat menentukan sendiri orang-orang yang akan menjadi saudara mereka. Itu tergantung pada orang tua mereka. Seandainya salah seorang anak dalam keluarga itu merasa jengkel karena adiknya jelek, ia tidak seharusnya langsung marah kepada adiknya, tetapi ia harus marah kepada orang tuanya yang melahirkan adiknya itu. Bapa kita yang di surga telah melahirkan banyak anak, banyak orang Kristen, dan Ia telah menerima mereka semua. Karena itu, kita pun harus menerimanya; itu bukan menurut selera atau pilihan kita, melainkan berdasarkan penerimaan Allah.

Akan tetapi, masalah penerimaan kaum beriman dalam kekristenan sebagian besar tidak berdasarkan penerimaan Allah, melainkan berdasarkan konsepsi doktrinal. Misalkan soal baptisan. Pendapat orang mengenai hal ini berbeda-beda. Ada yang mempertahankan baptisan percik, ada yang berpendapat harus mencelup seluruh tubuh ke dalam air. Ada lagi yang berselisih tentang dalam nama siapa kita membaptis orang. Yang lain lagi menentang pembaptisan tubuh, karena mereka berpendapat bahwa baptisan murni urusan rohani. Coba lihat, hanya dalam soal baptisan saja sudah banyak perbedaan pendapat! Ini benar-benar menakutkan. Ini hanya untuk satu ajaran. Kalau semua konsepsi doktrinal yang berbeda-beda itu dibicarakan (seperti keselamatan kekal, penetapan, kehendak bebas, keterangkatan dan lain-lain), mungkin kita harus menghabiskan waktu selama ber-bulan-bulan. Bahkan masalah penudungan kepala pun per-nah menimbulkan perpecahan. Ada beberapa organisasi Kristen yang menaruh perhatian istimewa terhadap penudungan kepala bagi saudari. Bahkan soal besar kecilnya kain penu-dung, warnanya, tebal tipisnya dan bahannya, itu pun per-nah menimbulkan perdebatan. Saya mengenal satu kelompok organisasi yang memaksakan pemakaian kain penudung putih, warna lain tidak diperbolehkan. Perkara yang kecil ini saja bisa menimbulkan perpecahan.

Tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan itu bidah. Kita percaya bah-wa Alkitab adalah firman Allah, dan setiap kata-katanya adalah wahyu Allah. Kita percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah. Ia berinkarnasi menjadi manusia, hidup di bumi, mati di atas salib karena dosa-dosa kita, lalu bangkit secara jas-mani, jiwani, dan rohani, naik ke surga, menjadi Tuhan atas segala sesuatu di sebelah kanan Allah, kini Ia tinggal di da-lam kita. Kita percaya kepada Allah Yang Maha Esa, Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh. Kita percaya Tuhan Yesus akan kembali lagi, dan Ia akan membangun Kerajaan-Nya di bumi. Semuanya itu tidak ada yang bidah. Akan tetapi, ada orang mengritik dan mencari-cari kesalahan kita, ka-rena mereka mempunyai perbedaan pendapat dengan kita dalam suatu ajaran. Ada orang menganggap perlu dibaptis tiga kali, dan meminta gereja berbuat demikian. Andaikata kita melakukan hal itu, kita akan disebut “gereja baptis tiga kali”. Ada pula orang yang berpendapat perlu berbicara dengan bahasa lidah. Memang jelas dalam Alkitab ada ba-hasa lidah, tetapi kita tidak dapat mendirikan satu “”gereja bahasa lidah”. Gereja harus bersifat umum. Banyak orang beriman yang terkasih berniat membuat gereja Tuhan men-jadi gereja istimewa menurut konsepsi mereka terhadap suatu ajaran, tetapi kita sama sekali tidak menyetujui hal tersebut. Karena itu, ada sebagian orang yang memisahkan diri dari kita, karena mereka mempunyai perbedaan pen-dapat dan perbedaan pelaksanaan.

Sejarah kekristenan yang kasihan adalah sejarah perpecahan dan kekacauan. Perpecahan itu kebanyakan disebabkan oleh ketidak-seragaman konsepsi tentang ajaran. Kita tahu hal ini setelah mempelajari sejarah gereja, dan kita tidak ingin mengulangi sejarah kekristenan yang menyedihkan. Karena itu, kita selalu menolak perdebatan mengenai penu-dungan kepala, pembaptisan, hari-hari suci, atau jenis ang-gur yang dipakai untuk pemecahan roti. Kita tidak mau bertengkar tentang masalah-masalah yang sepele seperti ca-wan dan roti yang digunakan dalam pemecahan roti, air untuk pembaptisan, dan cara pembaptisan, semua itu tidak berhubungan dengan pemulihan Tuhan. Yang berhubungan dengan pemulihan Tuhan adalah Kristus sebagai hayat, dan gereja menjadi ekspresi Kristus dalam keesaan di tiap tem-pat. Ada beberapa orang beriman walau mengakui telah nampak gereja, tetapi tetap mempertahankan pemahaman yang khusus terhadap suatu ajaran, dan menimbulkan ba-nyak kesulitan. Mereka ingin memecah belah gereja, akhir-nya membuat diri sendiri sengsara, dan terkerat dari pemu-lihan Tuhan. Maka kita harus berhati-hati, jangan mene-rima orang menurut konsepsi ajaran tertentu, tetapi harus berdasarkan penerimaan Allah.

Paulus menyadari betapa pentingnya hal menerima kaum beriman itu, maka ia dengan khusus menguraikannya dalam Roma 14 hingga sebagian dari Roma 15. Dalam Roma 12 kita nampak Tubuh. Dalam Roma 14 kita diberi peringat-an. Jika kita tidak memperhatikan peringatan itu, kita akan menggunakan doktrin seperti sebilah pedang, yang mencin-cang Tubuh yang diwahyukan dalam Roma 12. Banyak orang Kristen dapat membicarakan Tubuh Kristus atas dasar Roma 12, namun mereka harus bertanggung jawab atas per-buatan membunuh Tubuh dan mencincangnya dengan pisau perbedaan doktrinal. Itulah sebabnya Tubuh yang diwahyu-kan dalam Roma 12, harus diperhidupkan menurut Roma 14. Tanpa Roma 14, kita tidak dapat melaksanakan Tubuh yang diwahyukan dalam Roma 12. Banyak orang Kristen memper-hatikan Roma 12, tetapi mengabaikan Roma 14. Mereka membicarakan Tubuh, tetapi perbuatan mereka memecah belah Tubuh, karena mereka mempertahankan konsepsi doktrinal mereka. Mereka tidak mau melepaskan konsepsi itu, maka mereka tidak mungkin mengalami kehidupan Tubuh. Itulah sebabnya, setelah Paulus membahas masalah kehidupan gereja yang tepat dan kehidupan orang Kristen yang normal, ia segera menekankan masalah penerimaan kaum beriman. Apabila kita tidak memperhatikan butir ini, dalam kehidupan gereja kita akan melakukan bunuh diri rohani. Untuk menempuh kehidupan Tubuh, kita harus me-nerima kaum beriman menurut penerimaan Allah yang ber-sifat umum, bukan menurut konsepsi doktrinal kita yang khusus.

Konsepsi doktrinal yang paling menakutkan ialah yang dipertahankan pemeluk agama Yahudi yang agamawi, yang dapat dibagi dalam dua kategori: makanan dan memelihara hari. Mereka berpendapat ada semacam makanan yang suci dan ada yang tidak suci; ada hari yang suci, ada pula yang tidak suci. Semua itu membuat peraturan-peraturan tentang makanan berdasarkan Imamat 11. Dalam pandangan me-reka, orang kafir hanya lebih baik sedikit daripada binatang-binatang haram pemakan segala. Kisah Para Rasul 10 menunjukkan, bahkan Petrus, rasul terkemuka, bersikap agamawi dalam hal makanan. Sifat agamawinya itu memak-sa Allah memberinya visi yang sama sebanyak tiga kali, yakni menerangkan kepadanya apa yang kudus, apa pula yang najis atau haram (Kis. 10:9-16). Tatkala Tuhan ber-kata kepada Petrus, “Sembelihlah dan makanlah!” Petrus menjawab, “Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis” (Kis. 10:13-14). Tuhan lalu berkata, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram” (Kis. 10:15). Dari kisah ini kita bisa membuktikan bahwa Petrus sama seperti orang Yahudi lainnya yang mempertahankan konsepsi doktrinal karena ia agamawi. Ketika orang-orang itu mempertahankan konsepsi mereka, mereka mengira mereka sedang berperang bagi kebenaran Allah. Padahal mereka justru merusak gerakan Allah dalam pembangunan Tubuh Kristus. Konsepsi doktrinal tidak boleh dijadikan dasar penerimaan kaum beriman. Satu-satunya dasar kita untuk menerima kaum beriman ialah penerimaan Allah sendiri.

A. MENERIMA ORANG YANG LEMAH IMANNYA

Dalam Roma 14:1 Paulus berkata, “Terimalah orang yang lemah imannya.” Ada beberapa orang saleh yang lemah imannya, sebab unsur Allah belum cukup banyak diterima di dalamnya. Tetapi mereka telah memiliki kapasitas iman, karena itu, harus kita terima.

Ada orang saleh karena lemah imannya, tidak berani memakan segala jenis makanan, juga tidak menganggap hari-hari itu sama. Tetapi mereka telah memiliki iman pada tingkat tertentu, dan adalah orang Kristen sejati. Maka ber-dasarkan imannya yang sedikit itu, dan berdasarkan fakta mereka adalah kaum saleh, haruslah kita menerima mereka.

B. JANGAN MENGHAKIMI

APA YANG DIPERDEBATKAN

Kita perlu membaca Roma 14:1-5, “Terimalah orang yang lemah imannya, tanpa mempercakapkan pendapatnya. Yang seorang yakin bahwa ia boleh makan segala jenis mekanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, ja-nganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. Siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Yang seorang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.” Dalam Roma 14, Paulus sendiri adalah satu teladan yang paling baik, ia tidak meng-hakimi berdasarkan ajaran-ajaran, sebab ia tidak memberikan pendapatnya tentang benar tidaknya suatu ajaran. Ia pasti tahu, doktrin yang benar tentang makanan dan memelihara hari. Namun, ia tidak memihak pada satu golong-an. Ia hanya menyuruh kita semua bersikap umum, tidak mengritik orang lain. Biarkan orang-orang makan dan me-melihara hari sesukanya. Ada yang menganggap hari yang satu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi ada yang imannya lebih kuat, sehingga menganggap semua hari sama saja.

Kita juga harus belajar tidak menghakimi berdasarkan ajaran. Andaikata ada orang menanyakan tentang cara pembaptisan atau membaptis dengan air apa kepada Anda, jangan terperosok ke dalam perdebatan ajaran. Dengan kata lain, jangan menghakimi perkara itu. Jawaban yang paling baik bagi orang yang bertanya tentang ajaran adalah me-malingkan orang itu dari konsepsi ajaran kepada Kristus yang adalah hayat kita. Menurut sifat alamiah, kita semua cenderung meyakinkan orang lain dan berdebat dengan orang lain menurut konsepsi kita, tetapi kita harus menghindari hal yang demikian.

C. MENERIMA DIA, SEBAB ALLAH SUDAH MENERIMA-NYA

Dalam 14:3 Paulus berkata, “Sebab Allah telah me-nerima orang itu.” Ini adalah dasar kita menerima orang lain. Asalkan Bapa kita telah menerima seseorang, kita ha-rus menerima dia, kita tidak ada pilihan. Tidak peduli be-tapa lemah atau anehnya seorang beriman itu, kita wajib menerimanya.

D. SEMUA ADALAH MILIK TUHAN

DAN HIDUP BAGI TUHAN

Mari kita membaca Roma 14:6-9, “Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa yang ti-dak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan dia juga mengucap syukur kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.”

Setiap orang beriman yang sejati adalah milik Tuhan. Tidak peduli ia dibaptiskan dengan cara apa, makan apa, atau memelihara hari apa, ia dilahirkan dari Tuhan yang satu. Ayat 6-9 menunjukkan kepada kita, mana yang penting dan mana yang tidak penting. Hidup untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan adalah yang penting. Asalkan seseorang adalah milik Tuhan dan hidup untuk Tuhan, ia sudah benar. Jangan sekali-kali kita menuntut hal yang lain terha-dapnya menurut konsepsi doktrinal kita. Jika kita mulai berdebat tentang ajaran dengan mereka, kita akan segera terpecah belah menurut perbedaan konsepsi tersebut. Kita harus memperhatikan hal-hal yang penting. Asalkan Allah Bapa telah menerima kita dan asalkan kita telah percaya kepada Tuhan dan hidup untuk-Nya, kita harus menerima satu sama lain.

II. DALAM TERANG TAKHTA PENGHAKIMAN

Kecuali itu, kita pun wajib menerima kaum saleh dalam terang takhta penghakiman. Mari kita baca ayat 10-12, “Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seiman-mu? Atau mengapa engkau menghina saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: Demi Aku hidup! demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.” Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Takhta pengadilan Allah dalam ayat 10 adalah sama dengan takhta pengadilan Kristus dalam 2 Korintus 5:10. Penghakiman pada takhta pengadilan Allah akan dilaksanakan sebelum Kerajaan Seribu Tahun, yang segera tiba sesudah kembalinya Kristus (1 Kor. 4:5; Im. 16:27, 25:19; Luk. 19:15). Pekerjaan dan kehidupan orang beriman akan dihakimi pada saat itu (Why. 22:12; Mat. 16:27; 1 Kor. 4:5; 3:13-15; Mat. 25:19; Luk. 19:15). Penghakiman ini tidak berhubungan dengan keselamatan kaum beriman, sebab setiap orang yang tampil di hadapan takhta pengadilan Allah adalah orang yang telah beroleh selamat. Penghakiman ini akan menghakimi kehidupan dan pekerjaan orang beriman selama ia beroleh selamat. Penghakiman ini akan menentukan pahala orang beriman dalam Kerajaan Seribu Tahun (Mat. 25:21, 23; Luk. 19:17, 19; 1 Kor. 3:14-15; Mat. 16:27; Why. 22:12; Luk. 14:14; 2 Tim. 4:8). Setiap orang beriman akan berdiri di ha-dapan takhta penghakiman ini untuk memberi pertanggung-jawaban kepada Allah atas kehidupan dan pekerjaannya. Jalan pemikiran Paulus adalah sebagai berikut: Kita tidak seharusnya bertengkar dengan orang lain dan jangan menge-cam orang lain, tetapi hendaklah kita memperhatikan diri kita sendiri, sebab pada suatu hari kelak, kita akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah, untuk memberikan per-tanggungjawaban atas kehidupan maupun pekerjaan kita kepada Allah, setelah kita beroleh selamat. Karena pengha-kiman itu berkaitan dengan kehidupan orang beriman di hadapan Tuhan, dan pekerjaannya bagi Tuhan setelah ia beroleh selamat, dan karena pengubahan kaum beriman ada hubungannya dengan penghakiman ini, maka masalah ini dimasukkan dalam bagian pengubahan.

Karena kebenaran tentang penghakiman kaum beriman ini hampir sama sekali tersembunyi bagi kaum beriman, maka kita perlu membaca beberapa ayat referensi dan memberi sedikit penjelasan. Pertama mari kita baca 2 Korintus 5:10, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Ini bukan penghakiman kekal Allah yang dikatakan dalam Roma 2:2, 3, 5, 16 dan 3:8, yang terutama dilaksanakan pada takhta putih sesuai dengan Wahyu 20:11-15. Penghakiman kekal di takh-ta putih terjadi setelah Kerajaan Seribu Tahun, dan ditujukan kepada orang-orang yang tak percaya yang telah mati, yang berhubungan dengan penghukuman kekal di telaga api. Penghakiman pada takhta penghakiman Kristus adalah untuk menghakimi kehidupan dan pekerjaan kaum beriman, yang akan menentukan apakah mereka beroleh pahala karena “kebaikan” atau menderita kerugian karena “kejahatan”. Kemudian 1 Korintus 4:5 mengatakan, “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Kelak tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Ayat ini juga mengatakan penghakiman di takhta penghakiman Allah atau Kristus. Jika kita berbuat benar, maka kita akan menerima pujian dari Allah. Matius 16:27 juga mengatakan masalah panghakiman bagi kaum beriman, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Ayat ini memberi tahu kita, tatkala Tuhan datang, Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Dalam Matius 25:19 tercantum pula pemikiran yang sama, “Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.” Apa artinya? Itu berarti Tuhan akan memeriksa catatan kita, kita wajib menyerahkan semua hasil kehidupan dan pekerjaan kita sesudah kita beroleh selamat. Hal itu akan terjadi di depan takhta penghakiman Kristus. Lukas 19:15 mempunyai hubungan erat dengan hal ini, “Setelah dinobat-kan menjadi raja, ketika ia kembali, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.” Ini pun ditujukan kepada perhitungan rugi-laba di hadapan takhta penghakiman Kristus.

Kita perlu menaruh perhatian serius pada 1 Korintus 3:13-15, “Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan tampak, karena hari Tuhan akan menyatakannya. Sebab hari itu akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang, akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Kata “menderita kerugian” dalam ayat 15, bukan berarti “binasa”. Karunia keselamatan kita bersifat kekal, maka kita tidak akan binasa. Namun, apabila Anda menderita ke-rugian, maka keselamatan Anda akan seperti melewati api. Banyak orang Kristen mengabaikan ayat ini. Hampir semua orang Kristen mengira asalkan dirinya telah beroleh selamat, maka penghakiman yang akan datang itu tidak menjadi persoalan lagi. Kalau Anda berkata kepada mereka, bahwa mereka masih ada kemungkinan menderita kerugian, mereka akan mengatakan itulah pikiran bidah. Namun, kita harus mendengarkan apa yang diucapkan Paulus dalam 1 Korintus 3:15 yang sangat jelas itu. Paulus mengatakan dengan tegas, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian.” Pekerjaan apakah yang akan terbakar? Yang akan terbakar ialah kayu, rumput kering, dan jerami yang disebut dalam ayat 12. Apakah yang dimaksud kerugian itu? Kita tidak dapat mengatakan dengan pasti, tetapi yang jelas, itu adalah sesuatu yang sangat merugikan. Itu bukan berarti kita akan kehilangan keselamatan, sebab Paulus mengatakan tentang terbakarnya pekerjaan orang, “Tetapi ia sendiri akan diselamatkan.” Tetapi janganlah kita merasa puas diri, sebab Paulus menyimpulkan ayat itu de-ngan mengatakan, “Tetapi seperti dari dalam api.” Setelah mendengar kata-kata ini, mungkin ada orang yang berkata bahwa itu adalah yang diajarkan aliran kekristenan tertentu sebagai purgatori (tempat api penyucian dosa). Saya tahu ajaran purgatori dari aliran itu, dan memang ajaran itu mereka dasarkan pada 1 Korintus 3:15. Menurut ajaran aliran itu, Anda bisa memperpendek masa penderitaan ke-rabat Anda yang menjalani api penyucian, dengan menyum-bangkan sejumlah uang. Namun ketika kita menyinggung firman Alkitab yang murni, kita tidak memiliki konsepsi purgatori itu. Seperti Paulus, kita hanya menyuruh orang berhati-hati, sebab ketika Tuhan datang, Ia akan menyuruh kita mengadakan perhitungan atas seluruh kehidupan dan pekerjaan kita. Ia akan berkata, “Aku telah menyerahkan karunia tertentu kepadamu, apakah yang telah kaulakukan untuk-Ku? Sejak kamu beroleh selamat, apakah yang telah kaurampungkan bagi-Ku? Pekerjaan apakah yang telah kau-bangun? Kayu, rumput kering, dan jerami, atau emas, pe-rak, dan batu-batu permata?” Hal inilah yang akan menen-tukan dapat tidaknya Tuhan memberi pahala kepada kita. Dalam 1 Korintus 3 Paulus mengatakan dengan jelas, jika pekerjaan kita tahan uji, kita akan mendapat upah, jika pekerjaan kita terbakar, kita akan menderita kerugian, tetapi kita sendiri akan diselamatkan. Saya tidak berani mengatakan apa yang dimaksud dengan kerugian itu, tetapi saya tahu itu pasti sesuatu yang tidak menyenangkan. Saya hanya membentangkan firman Allah yang murni di hadapan Anda. Itulah keadaan di hadapan takhta penghakiman Kristus. Itulah firman Alkitab yang jelas, yang selamanya tidak akan salah. Beroleh selamat adalah satu hal, beroleh pahala karena hasil pekerjaan Anda adalah hal lain; dan menderita kerugian karena pekerjaan Anda tidak baik, itu pun hal lain. Namun semua itu sangat serius, dan tidak dapat kita remehkan.

Karena orang Kristen tidak jelas akan firman Allah yang murni, maka timbullah dua aliran besar, Calvinisme dan Armenianisme. Menurut ajaran Calvinisme, begitu Anda beroleh selamat, Anda sudah diselamatkan selamanya, dan kelak selamanya tidak ada persoalan lagi. Menurut ajaran Armenianisme, setelah beroleh selamat, bila Anda tidak hi-dup dan bekerja dengan baik, Anda masih bisa binasa. Kedua aliran itu mewakili dua ekstrim, dan mereka semua tidak menemukan jembatan dalam Alkitab, yang dapat menghu-bungkan kedua ajaran tersebut. Jembatan itu ialah takhta penghakiman Allah. Begitu kita beroleh selamat, kita se-lamat hingga kekal, tidak akan binasa lagi. Ini berbeda de-ngan ajaran Pentakosta, yang berpendapat bahwa manusia tidak beroleh selamat selamanya, tetapi selama hidupnya mungkin ia beroleh selamat atau binasa beberapa kali. Keselamatan yang mereka katakan mirip sekali dengan lift, yang naik turun. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa keselamatan Allah itu kekal. Yohanes 10:28-29 menjelaskan, begitu kita memiliki hidup kekal, kita tidak akan binasa. Namun, ada ayat yang mengatakan, kelak kita masih mungkin menderita kerugian; misalkan 1 Korintus 3:15. Ketika Tuhan kembali, Ia akan mengumpulkan hamba-hamba-Nya di hadapan-Nya, dan menghendaki mereka meng-adakan perhitungan atas kehidupan dan pekerjaan masing-masing. Meskipun kita selamanya beroleh selamat, kita tetap harus memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan dan pekerjaan kita di depan takhta penghakiman Kristus. Tuhan akan memeriksa catatan kita, untuk kemudian menetapkan apakah kita berhak mendapat pahala atau menderita kerugian. Dalam 2 Timotius 4:8, Paulus berkata, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya.” Ini bukan berarti setiap orang beriman akan menerima mahkota itu. Dapat tidaknya Anda menerima mahkota itu tergantung pada hasil penghakiman di hadapan takhta penghakiman Kristus nanti. Terakhir dikatakan Tuhan Yesus sendiri dalam Wahyu 22:12, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalas-kan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” Saya yakin, masalah penghakiman di hadapan takhta penghakiman Kristus sudah cukup jelas. Kita harus berhati-hati dalam menghakimi orang lain, sebab kita sendiri akan dihakimi oleh Allah.

Kita wajib menerima kaum saleh dalam terang takhta penghakiman Allah. Jangan mengritik orang lain, tetapi ha-kimilah diri sendiri. Jika kita tidak menghakimi diri sendiri, kita tetap akan menyerahkan perhitungan kita di depan takhta penghakiman Kristus. Ada beberapa orang saleh yang mengecam orang lain yang ingin menanggalkan keusangan demi penguburan dalam air, tetapi ia tidak menghakimi diri sendiri atas seleranya pergi ke bioskop. Jika Anda mengritik orang lain, tanpa menghakimi diri sendiri karena pergi ke bioskop, kelak di hadapan takhta penghakiman-Nya, Tuhan akan mengadakan perhitungan dengan Anda atas hal itu. Beberapa saudari di suatu organisasi memakai tudung ke-pala panjang berwarna putih, dan biasa mengecam saudari lain yang berdoa tanpa menudungi kepalanya, atau hanya memakai sebuah topi kecil. Walaupun saudari-saudari itu dalam sidang menudungi kepalanya dengan tudung putih, tetapi di rumah mereka telah merebut kedudukan suaminya sebagai kepala keluarga. Mereka wajib menghakimi diri sendiri dalam hal ini. Jangan menghakimi orang lain, ha-kimilah diri sendiri. Kapan saja kita ingin menerima kaum saleh dalam Tuhan, kita harus melakukan pembedaan dalam terang takhta penghakiman dan berdoa demikian, “Oh, Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku tidak layak menghakimi saudaraku. Oh Tuhan, tutupilah aku. Aku mau dihakimi oleh-Mu. Aku mau menghakimi diriku, kehidupanku, dan pekerjaanku.” Itulah sikap kita yang seharusnya.

Janganlah menghakimi orang lain, tetapi hakimilah diri sendiri. Jika sekarang kita tidak berbuat demikian, kelak di depan takhta penghakiman Allah kita harus berbuat demikian. Kita semua harus menerima sorotan dari takhta penghakiman Allah. Ketika seorang saleh yang baru datang kepada kita, kita harus menerimanya dengan daya pem-bedaan yang tajam. Namun dalam terang penghakiman Allah, kita harus lebih banyak menghakimi diri sendiri. Pemikiran Paulus dalam Roma 14:10-12 ialah kita tidak boleh meng-hakimi orang lain, melainkan membiarkan Tuhan yang mengurus mereka. Kita wajib menghakimi diri sendiri. Ketika kita ingin menghakimi orang lain, kita harus ingat, Tuhan akan datang dan mengadakan perhitungan dengan kita ketika Ia kembali. Ini adalah perkara yang serius!