PENGUBAHAN DALAM MENERIMA KAUM BERIMAN (2)
Dalam berita ini kita ingin membahas beberapa butir lagi tentang pengubahan dalam menerima kaum beriman.
III. DALAM PRINSIP KASIH
Kita wajib menerima kaum beriman dalam prinsip kasih. Dalam Roma 14:13-15 Paulus mengatakan, “Karena itu, janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara seiman kita jatuh atau tersandung! Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. Sebab jika engkau menyakiti hati saudara seiman mu karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudara seimanmu karena makananmu, sebab Kristus telah mati untuk dia.”
Jika kita menerima kaum beriman dalam kasih, kita tidak akan menghakimi orang lain, tidak menaruh suatu sandungan di hadapannya, tidak menyakiti hatinya, dan tidak membinasakan orang yang baginya Kristus telah mati; tetapi sebaliknya hidup menurut kasih. Kita wajib menerima semua orang beriman, yang baginya Kristus telah mati dalam prinsip kasih. Ingatlah, surat Roma ditulis tidak lama setelah surat 1 Korintus, dan surat Roma ditulis di kota Korintus. Dalam 1 Korintus 13, Paulus membahas masalah kasih secara khusus, dan menyisipkannya di antara dua pasal (12 dan 14) yang membahas masalah karunia rohani. Dalam pasal 13, Paulus menyajikan jalan yang terindah untuk memanfaatkan karunia-karunia dengan memberi ba-nyak atribut dan ciri-ciri kasih. Saya percaya, ketika Paulus menulis Roma 14, konsepsi kasih ini masih segar terkan-dung di batinnya. Karena itu dalam surat Roma, Paulus seolah-olah berkata pada kaum beriman demikian, “Hendak-lah kita menerima kaum beriman dalam prinsip kasih. Kasihlah yang harus mengatur kalian. Dalam hal menerima kaum beriman, kasih harus merupakan prinsip yang mengendalikan segala-galanya.”
IV. UNTUK KEHIDUPAN KERAJAAN
Masalah menerima kaum beriman bukan suatu hal yang tidak berarti, melainkan ada hubungannya dengan takhta penghakiman di kemudian hari, dan berkaitan pula dengan kehidupan kerajaan pada masa kini.
A. JANGAN BIARKAN DIRIMU DIFITNAH
TENTANG APA YANG BAIK PADAMU
Menurut konteksnya, ayat 16 ditujukan kepada makanan yang dimakan oleh orang-orang yang beriman kuat. Mempunyai iman yang kuat memang baik, sebab dalam anggapannya tidak ada barang yang najis, semua boleh di-makan. Akan tetapi, jangan biarkan Anda difitnah orang tentang apa yang baik pada Anda, yakni dikatakan bahwa Anda tidak bersimpati kepada mereka yang lemah imannya. Karena mereka, Anda harus berwaspada terhadap makanan-makanan yang Anda anggap boleh dimakan. Maksud Paulus ialah, demi orang yang lemah imannya, lebih baik jangan makan makanan itu.
B. MENEMPUH KEHIDUPAN KERAJAAN ALLAH
1. Gereja — Kerajaan Allah pada Zaman Ini
Gereja adalah Kerajaan Allah pada zaman ini (Mat. 16:18-19; 1 Kor. 6:10; Gal. 5:21; Ef. 5:5). Mengenai Kerajaan Allah ini terdapat banyak perdebatan di antara berbagai aliran ajaran. Ada yang berpendapat, Kerajaan Allah tidak ada di antara kita pada hari ini. Mereka menganggap, Kerajaan Allah telah tertunda pada waktu Matius 13. Mereka menegaskan, pada saat Tuhan Yesus datang, Ia akan mendatangkan Kerajaan Allah untuk orang Yahudi. Karena orang Yahudi menolak Kerajaan Allah, maka Tuhan menundanya hingga pada saat kembali-Nya kelak. Sebab itu, mereka mengajarkan bahwa pada zaman kita ini, tidak ada Kerajaan Allah.
Akan tetapi Roma 14:17 mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman.” Ini suatu bukti kuat bahwa Kerajaan Allah sudah ada saat ini. Selain itu, Matius 16:18-19 juga membuktikan bahwa Kerajaan Allah adalah gereja. Dalam bagian ayat tersebut kita nam-pak istilah gereja seolah-olah merupakan sinonim dari istilah kerajaan, bahkan kedua istilah itu dipakai oleh Tuhan secara bergantian. Dalam ayat 18 Tuhan mengatakan, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku”, dan ayat 19 mengatakan, “Kepada-mu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Maka pada hakekatnya, mendirikan gereja adalah mendirikan kerajaan. Lagi pula, dalam surat-surat Paulus, Kerajaan Allah dipan-dang sama dengan gereja (1 Kor. 6:10; Gal. 5:21; Ef. 5:5). Maka ajaran yang mengatakan Kerajaan telah ditunda hingga kembalinya Tuhan, adalah ajaran yang keliru sekali! Jangan menerima konsepsi kerajaan yang sedemikian. Kita harus kembali kepada firman yang murni, yang mengatakan bahwa kehidupan gereja adalah Kerajaan Allah.
2. Masalah Latihan dan Disiplin
Gereja adalah masalah kasih karunia dan hayat, sedang Kerajaan adalah masalah latihan dalam zaman ini dan disiplin dalam zaman yang akan datang (Mat. 25:15-30; 1 Kor. 3:13-15). Gereja, seperti kepala manusia, berbeda-beda penampilannya menurut sudut pandang yang memandang-nya. Andaikata Anda memandang kepala saya dari belakang, tentu tidak ada lubang apa pun yang tertampak; tetapi jika Anda memandang dari depan, Anda akan nampak tujuh lubang. Walaupun bagian belakang kepala saya tidak sama dengan bagian depannya, tetapi itu adalah dua sisi dari keseluruhan kepala saya. Demikian pula gereja. Ditinjau dari satu sisi, gereja adalah masalah kasih karunia dan hayat, tetapi ditinjau dari sisi lain, gereja adalah Kerajaan Allah yang mengandung masalah latihan dan disiplin. Dalam ge-reja, di satu pihak, kita menikmati kasih karunia dan mengalami hayat, sedang di pihak lain, kita mengalami sejumlah latihan.
Jangan mengabaikan latihan-latihan yang demikian. Demi keperluan kita terhadap latihan tersebut, hari ini gereja adalah Kerajaan Allah. Menurut beberapa guru Kaum Saudara (The Brethren), setiap orang beriman akan menjadi raja dalam Kerajaan Seribu Tahun. Akan tetapi, lihatlah diri kita sendiri. Apakah kita sudah seperti raja? Kalau Tuhan Yesus hari ini datang, dan menyuruh Anda menjadi raja, saya khawatir Anda akan kebingungan, sebab Anda tidak tahu bagaimana caranya menjadi raja. Anda sama sekali tidak pernah menerima latihan-latihan untuk menjadi raja. Saya dengar setiap raja Inggris sejak muda sudah dilatih menjadi raja. Dilahirkan sebagai raja masih tidak cukup; seorang raja harus melewati pelatihan dan gemblengan. Walaupun mungkin Anda berpotensi menjadi seorang raja, tetapi jabatan raja tergantung pula pada latihan-latihan. Janganlah kendor atau sembrono. Kalau Anda tidak mau dilatih dalam zaman ini, maka dalam zaman yang akan datang Anda akan didisiplin. Nasib Anda adalah menjadi raja, maka cepat atau lambat, Tuhan pasti akan melatih Anda untuk menjadi seorang raja.
Allah telah mengatur banyak urusan kecil dalam kehidupan sehari-hari Anda, agar Anda terlatih. Setiap pe-ristiwa yang terjadi dalam kehidupan Anda, adalah bagian dari pengaturan Allah yang berdaulat. Tanpa bantuan ke-adaan dan lingkungan sekitar, Anda tidak dapat mengenal diri sendiri. Anda selalu menganggap diri sendiri seperti malaikat, mengira diri sendiri baik dan hebat, padahal Anda sangat kasihan, rendah, dan sangat liar. Anda perlu pasang-an (suami atau istri), anak, saudara saudari dalam gereja, dan berbagai keadaan yang memotret Anda dari setiap sudut, sehingga Anda disingkapkan dari berbagai pihak. Ketika Anda melihat potret itu, Anda akan terkejut dan berkata, “Astaga, beginikah diriku? Aku tidak menyangka diriku begitu jelek.” Saya sendiri pernah mengalami hal ini. Ketika saya ingin mencela orang lain, Tuhan lalu berkata, “Celalah dirimu sendiri.” Tuhan menyuruh saya bersyukur kepada-Nya atas saudara-saudara yang menyingkapkan diri saya sedemikian, dan memberi saya pengenalan yang benar terhadap diri saya. Tanpa saudara-saudara itu, saya tidak dapat disingkapkan. Itulah latihan-latihan yang kita alami dalam kehidupan gereja demi Kerajaan.
Di satu aspek, gereja adalah rumah dan keluarga Allah (Ef. 2:19; 1 Tim. 3:15). Dalam rumah ini kita menikmati kasih karunia dan menerima suplai hayat. Namun, di aspek lain, gereja juga Kerajaan. Apakah arti istilah kerajaan? Ini berarti pemerintahan. Banyak orang Kristen berkata, “Aku senang bersidang, tetapi aku tidak mau diperintah. Para penatua itu mengira dirinya siapa? Mengapa harus mereka yang memimpin kita?” Di satu pihak, gereja adalah keluarga Allah, rumah yang penuh dengan kasih karunia dan hayat; tetapi di pihak lain, gereja adalah Kerajaan, yakni suatu pemerintah yang berkuasa. Dalam gereja sebagai Kerajaan, kita berada di bawah pimpinan dan kuasa Kristus sebagai kepala. Itu adalah masalah latihan. Untuk menempuh kehi-dupan gereja, kita perlu mendapat latihan-latihan Kerajaan. Sebab itu, gereja adalah rumah dan Kerajaan kita. Di dalam rumah kita memiliki kenikmatan atas kasih, suplai kasih karunia, dan kekayaan hayat. Di dalam Kerajaan, kita me-miliki kekuasaan, pemerintahan, pelatihan, dan pendisiplin-an. Puji Tuhan atas kedua aspek dari gereja ini. Saya sering mendengar banyak orang beriman mengumumkan tentang gereja dengan mengatakan, “Puji Tuhan, aku berada di ru-mah!” Namun, kita pun perlu berseru, “Haleluya, aku juga berada di dalam Kerajaan!”
3. Kehidupan Kerajaan
Roma 14:17 mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukan-lah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Ketika Anda menerima kaum beriman, Anda harus sadar bahwa kaum beriman tidak boleh diterima berdasarkan konsepsi doktrinal atau praktek agamawi mengenai masalah makan-an dan minuman, sebab Kerajaan Allah bukanlah soal ma-kanan dan minuman. Kerajaan Allah adalah soal kebenaran terhadap diri sendiri, damai sejahtera terhadap orang lain, dan sukacita bersama Allah dalam roh Anda. Anda makan penyu atau kol tidaklah penting, namun kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita adalah soal yang sangat penting, karena hal-hal ini merupakan ekspresi Kristus. Tatkala Kristus diekspresikan, Dialah kebenaran kita bagi diri kita sendiri, damai sejahtera kita bagi orang lain, dan sukacita kita bersama Allah.
Kita harus ketat terhadap diri sendiri, dan jangan membuat alasan untuk memaafkan diri sendiri. Kita harus benar, disiplin, dan adil dalam segala hal yang kita lakukan. Terhadap orang lain, kita harus berusaha mengejar damai sejahtera dan senantiasa berusaha hidup rukun dengan orang lain. Namun beberapa saudara tidak rukun (damai) dengan istrinya, dan beberapa saudari tidak rukun dengan suaminya. Kita wajib baik-baik memelihara kerukunan dengan setiap orang yang berkumpul dengan kita. Damai sejahtera adalah ekspresi Kristus yang dinyatakan dari dalam kita. Selain itu, kita juga harus bersukacita. Kita harus ber-sukacita setiap hari. Jika kita tidak dapat berkata, “Hale-luya, puji Tuhan!” setiap hari, berarti kita telah gagal dan tidak berada dalam Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh sukacita. Kita harus selalu bersukacita bersama Allah, me-muji-Nya, dan berkata, “Haleluya!” Kebenaran, damai sejah-tera, dan sukacita adalah ciri-ciri Kerajaan Allah pada hari ini. Kerajaan Allah adalah latihan kehidupan gereja. Ke-hidupan gereja adalah untuk kehidupan Kerajaan, sedang kehidupan Kerajaan ialah latihan kehidupan orang Kristen.
C. MELAYANI KRISTUS DENGAN CARA INI
Dalam ayat 18 Paulus berkata, “Karena siapa saja yang melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.” Dari kata-kata ini kita dapat melihat bahwa apa yang dikatakan dalam ayat 17 adalah untuk pelayanan kita kepada Kristus. Ini berarti, menerima orang beriman adalah melayani Kristus. Hal ini harus kita lakukan seperti dalam Kerajaan Allah, dan dengan cara melayani Kristus seperti seorang budak dalam kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus, bukan dengan mementingkan konsepsi doktrinal. Perbuatan yang demikian tentu diperkenan Allah, juga dihormati oleh ma-nusia. Dengan berbuat demikian, kita tidak akan menimbulkan perpecahan, melainkan senantiasa memelihara kesatuan Roh bagi pelaksanaan kehidupan tubuh.
D. MENGEJAR HAL YANG MENDATANGKAN DAMAI SEJAHTERA DAN PEMBANGUNAN
Selain itu, dalam ayat 19 Paulus mengatakan, “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Apa yang mendatangkan damai sejahtera justru adalah perkara memelihara kesatuan Tubuh. Perkara yang saling membangun adalah perkara yang menyuplaikan hayat kepada setiap anggota Tubuh, supaya dapat saling dibangunkan. Kedua perkara ini patut kita kejar. Kita harus mengejar perkara yang memelihara kesatuan Tubuh dan perkara-perkara yang menyuplaikan hayat kepada orang lain. Untuk melakukan kedua perkara ini, kita perlu membuang seluruh konsepsi doktrinal, dan mengatasi segala hambatan yang berasal dari pengetahuan otak. Iblis sungguh licik, selama berabad-abad ia selalu memperalat konsepsi doktrinal dan pengetahuan otak untuk menghambat pelayanan hayati itu, dan untuk memecah belah Tubuh Kristus. Karena itu, kita harus mengatasi kelicikannya dengan mengejar perkara-per-kara yang mendatangkan damai sejahtera untuk memeli-hara kesatuan kita, dan perkara-perkara yang menyuplaikan hayat kepada orang lain, untuk pembangunan Tubuh Kristus.
E. JANGAN MERUSAK PEKERJAAN ALLAH
Ayat 20-21 mengatakan, “Janganlah engkau merusak pekerjaan Allah karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau melakukan sesuatu yang menyebabkan saudara seimanmu tersandung.” Pada diri setiap orang yang telah beroleh selamat pasti ada pekerjaan Allah. Allah telah memanggil dan menyelamatkan mereka. Paling sedikit Allah telah melakukan pekerjaan-pekerjaan itu pada diri mereka. Jika kita membuat orang beriman yang mana pun tersandung karena konsepsi doktrinal, itu berarti kita telah merusak, menghancurkan pekerjaan kasih karunia Allah di atas diri mereka. Kita harus memperhatikan pekerjaan Allah, bukan konsepsi doktrinal kita. Demi pekerjaan kasih karunia Allah di atas diri orang lain, kita harus membuang segala praktek agamawi kita. Kita bebas makan atau minum apa saja, dan kita boleh melakukan apa saja asal tidak mengandung dosa. Akan tetapi, janganlah makan, minum, atau melakukan perbuatan lainnya yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kita harus memperhatikan masalah pembangunan dalam hayat dari saudara-saudara kita, jangan mempertahankan konsepsi agamawi dalam pengeta-huan kita.
F. MELAKUKAN SETIAP PERKARA BERDASARKAN IMAN, JANGAN BIMBANG
Dalam ayat 22-23 Paulus berkata, “Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Tetapi siapa saja yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasar-kan iman. Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Jika kita kuat di dalam iman, haruslah kita memelihara iman kita itu di hadapan Allah. Jika kita tidak menghukum diri sendiri dalam perkara yang kita anggap baik untuk dilakukan, kita berbahagia, sebab hal itu kita lakukan berdasarkan iman. Namun, orang yang imannya lemah, yaitu tidak memiliki iman seperti kita, merasa terhukum jika ia makan sesuatu dengan rasa bimbang, se-bab ia makan tidak berdasarkan iman. Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. Karenanya kita wajib memperhatikan orang yang imannya lemah, supaya mereka tidak melakukan sesuatu yang atasnya mereka tidak ber-iman.
V. MENURUT KRISTUS
Paulus sangat bijaksana. Kalau kita tidak membaca bagian Roma ini di dalam roh, kita akan kehilangan kedalaman tulisan Paulus, dan hanya memahaminya secara dangkal. Bagian ini dimulai dengan penerimaan kaum beriman yang dilakukan orang Yahudi yang agamawi menurut konsepsi doktrinal, dan diakhiri dengan penerimaan kaum beriman menurut Kristus. Kita tidak boleh menurut kon-sepsi doktrinal, melainkan menurut Kristus semata.
A. MENANGGUNG KELEMAHAN
ORANG YANG LEMAH
Roma 15:1 mengatakan, “Kita, yang kuat, wajib menang-gung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” Dalam hal menerima kaum beriman, kita wajib menanggung kelemahan orang yang lemah, dan tidak mencari kesenangan sendiri. Tuhan Yesus senantiasa menanggung kelemahan setiap orang ber-iman-Nya (2 Kor. 12:9) dan tidak mencari kesenangan-Nya sendiri. Maka dalam menerima kaum beriman kita pun wajib seperti Tuhan, tidak mencari kesenangan diri sendiri, melainkan menanggung kelemahan orang lain.
B. MENYENANGKAN SESAMA KITA,
SUPAYA IA DIBANGUNKAN,
SEPERTI YANG DILAKUKAN KRISTUS
“Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku” (ayat 2-3). Kita harus membuat orang lain senang supaya mereka terbangun di dalam Tubuh. Kita tidak perlu menyenangkan orang untuk tujuan yang lain. Tetapi untuk sasaran ini kita harus membayar harga. Kristus tidak mencari kesenangan-Nya sendiri; Ia menyenangkan Bapa dengan menanggung segala cercaan orang yang ditujukan kepada Allah. Demikian juga, kita tidak boleh mencari kesenangan diri sendiri; kita harus mencari kesenangan sesama kita melalui menanggung kelemahan mereka, agar mereka dapat dibangun di dalam Tubuh kristus.
C. SALING SEPIKIR MENURUT KRISTUS
“Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus” (ayat 4-5). Frase “segala sesuatu yang ditulis dahulu” ditujukan pada perkara Kristus yang dikutip dalam ayat 3, dan itu adalah untuk mengajar kita supaya kita memiliki ketekunan dan penghiburan dengan pengharapan. Dalam Alkitab, semua catatan yang membicarakan Kristus tentu penuh dengan ajaran. Jika kita menerima ajaran itu, kita akan beroleh suplai ketekunan dan penghiburan Kristus, sehingga kita beroleh pengharap-an. Dalam menerima kaum beriman, kita perlu ketekunan dan penghiburan dengan pengharapan seperti itu. Kita harus sabar menanggung kelemahan orang yang kita terima. Kita juga perlu terdorong dengan pengharapan, supaya mereka bertambah baik dan diteguhkan dalam iman oleh kasih karunia Tuhan. Dalam menerima kaum beriman yang lemah, kita harus sadar bahwa Allah kita adalah sumber ketekunan dan penghiburan, yang dapat membuat kita bisa menerima kelemahan orang lain dengan segala kesabaran, dan terdorong (terhibur) dengan apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri orang lain, oleh kasih karunia-Nya. Jika kita memperoleh penghiburan Allah yang demikian, kita pun dapat rukun (saling sepikir) sesuai dengan Kristus Yesus, bukan sesuai dengan yang lain. Karena hanya ada satu Kristus Yesus, jika kita semua berbuat menurut Kristus, kita pasti dapat saling sepikir. Tetapi, kalau pikiran kita me-nuruti ajaran-ajaran, konsepsi-konsepsi, karunia-karunia, praktek-praktek agamawi, atau perkara-perkara lain yang semacam itu, kita akan terpecah belah. Satu-satunya jalan agar kita saling sepikir ialah menurut Kristus. Kalau kita menerima kaum beriman menurut ajaran, konsepsi, karu-nia, atau praktek-praktek agamawi lainnya, kita tidak perlu ketekunan atau penghiburan dengan pengharapan. Akan tetapi, jika kita ingin menerima semua orang beriman menurut Kristus, kita perlu ketekunan dan penghiburan dengan pengharapan yang akan disuplaikan oleh Allah sumber ketekunan dan penghiburan dengan pengharapan, asalkan kita memelihara kesatuan dan pembangunan Tubuh.
D. SATU HATI SATU SUARA MEMULIAKAN ALLAH
Ayat 6 mengatakan, “Sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” Kita harus mempunyai satu pikiran, yaitu pikiran yang sama. Jika demikian tentu kita dapat seia se-kata dan sekonsepsi. Walau ada banyak orang beriman, namun hanya ada satu suara. Kapan saja kita sehati, tentu dapat seragam dalam berkata-kata. Karena itu kita dapat dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah, Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.
Roma 9:5 mengatakan bahwa Kristus adalah Allah yang ada di atas segala sesuatu, dan Allah yang harus dipuji sam-pai selama-lamanya. Hal ini adalah menurut ke-Allahan-Nya. Tetapi di sini dikatakan bahwa Allah adalah Allah Tuhan kita Yesus Kristus, hal ini ialah menurut keinsanian Kristus. Menurut ke-Allahan-Nya, Ia adalah Allah yang ada di atas segala sesuatu, dan Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya; sedang menurut keinsanian-Nya, Allah adalah Allah-Nya. Dalam perkara menerima kaum beriman, jika kita bersikap menurut Tuhan Yesus, kita akan memu-liakan Allah seperti yang dilakukan-Nya.
E. SALING MENERIMA SEPERTI KRISTUS
TELAH MENERIMA KITA
Ayat 7, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” Kalau ayat ini dijajarkan bersama-sama dengan 14:3, terbuktilah bahwa penerimaan Kristus adalah juga penerimaan Allah. Yang diterima Kristus, juga diterima Allah. Kristus menerima kita, sehingga Allah dipermuliakan. Maka penerimaan kita terhadap kaum beriman harus berdasarkan penerimaan Allah dan Kristus, jangan berdasarkan hal-hal lainnya. Siapa saja, yang telah diterima Allah dan Kristus, harus kita terima, tidak peduli bagaimana besarnya perbedaan konsepsi ajaran dan praktek-praktek agamawi mereka dengan kita. Hal itu adalah untuk memuliakan Allah.
F. KRISTUS, PELAYAN ORANG-ORANG BERSUNAT DAN ORANG KAFIR
Kita perlu membaca ayat 8-11, “Yang aku maksudkan ialah: Demi kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa memuliakan Allah karena rah-mat-Nya, seperti ada tertulis: Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. Selanjutnya: Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya. Dan lagi: Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia.” Dalam ayat-ayat di atas kita nampak Kristus adalah yang almuhit. Mengapa Ia telah menjadi pelayan or-ang-orang yang bersunat (orang Yahudi)? Ia menjadi pelayan orang-orang yang bersunat karena kebenaran Allah, yaitu untuk mengokohkan janji-Nya kepada nenek moyang me-reka. Akan tetapi, dalam ayat 9 dikatakan, Kristus tidak saja menjadi pelayan orang-orang yang bersunat, Ia pun memungkinkan bangsa-bangsa kafir memuliakan Allah ka-rena rahmat-Nya. Jadi, karena kebenaran Allah, Kristus menjadi pelayan orang-orang yang bersunat, orang Yahudi; dan Ia pun menjadi pelayan orang kafir, agar orang kafir dapat memuliakan Allah karena rahmat-Nya. Kristus itu al-muhit. Ia untuk orang Yahudi, juga untuk orang kafir.
Terhadap orang Yahudi, itu adalah masalah kebenaran Allah, sebab Allah pernah berjanji kepada nenek moyang mereka. Maka Kristus menjadi pelayan mereka adalah un-tuk mengokohkan segala janji yang telah Allah berikan kepada nenek moyang mereka. Untuk hal ini, Allah adalah Allah yang benar. Sedang terhadap orang kafir, itu adalah masalah rahmat Allah. Kristus menjadi pelayan orang kafir, adalah untuk memungkinkan mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya. Di antara orang kafir, Kristus mem-beritakan Allah dan memuji nama Allah. Ia menghendaki orang kafir bersukacita dan memuji Allah karena rahmat-Nya. Bagi orang Yahudi, Allah adalah Sang benar; tetapi bagi orang kafir, Allah penuh rahmat. Karena itu, kita orang kafir wajib memuji Allah, agar Allah memperoleh kemuliaan dalam rahmat-Nya.
G. KRISTUS, AKAR ISAI BAGI ORANG KAFIR
Ayat 12 mewahyukan kealmuhitan Kristus lebih banyak lagi, “Selanjutnya kata Yesaya: Taruk dari pangkal (akar) Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.” Meskipun Kristus adalah akar Isai, sumber leluhur orang Yahudi, Ia akan memerintah bangsa-bangsa dan mereka akan menaruh harapan kepada-Nya. Di sini kita nampak kealmuhitan Kristus. Ia adalah akar Isai, berarti Ia menjadi suplai orang Yahudi. Menurut Roma 11, Ia menjadi akar berarti Ia adalah sumber dan suplai orang Yahudi. Di kemudian hari, akar Isai ini akan bangkit untuk meme-rintah bangsa-bangsa. Maka, Ia menyuplai orang Yahudi dan menaungi orang kafir. Oleh karena Ia menjadi akar orang Yahudi dan pemerintah, penaung orang kafir, maka kedua bangsa itu telah dipersatukan-Nya. Saya percaya, inilah pikiran terdalam dari Paulus ketika ia menulis bagian surat Roma ini. Karena Kristus adalah akar orang Yahudi, dan menaungi orang kafir, maka kedua bangsa itu telah dirang-kul-Nya sehingga menjadi satu Tubuh, satu manusia baru, yakni gereja.
Kristus adalah yang almuhit dan yang merangkul segala-galanya. Oleh karena Kristus adalah yang merangkul segala-galanya dan yang menyatukan orang Yahudi dan orang kafir, maka wajiblah kita menerima segala macam kaum beriman menurut Kristus. Jangan berkata, “Itu orang Amerika, itu orang Inggris, itu orang Jerman, itu orang Jepang, itu orang Filipina, dan itu orang Korea. Aku tidak dapat menerima orang yang begitu banyak ragamnya itu.” Lihatlah Kristus, yang adalah akar dari segolongan orang, juga pemerintah dan penaung dari golongan lainnya; Dia adalah yang almuhit. Dalam hal menerima orang beriman, hendaklah kita merangkul setiap orang, entah ia dari Timur, Barat, Selatan, maupun dari Utara. Tidak peduli siapa mereka dan apa jabatan mereka, semua harus kita rangkul di dalam satu Tubuh. Saya percaya, inilah makna menerima kaum beriman menurut Kristus.
Dalam berita ini dan berita terdahulu, telah kita bahas lima aspek pengubahan dalam menerima kaum beriman: Berdasarkan penerimaan Allah, dalam terang takhta peng-hakiman Allah, dalam prinsip kasih, demi kehidupan Ke-rajaan, dan menurut Kristus. Kita perlu mengingat dan melaksanakan semua aspek ini. Bila kita menerima kaum beriman secara demikian, kita akan diberkati Tuhan dengan pengharapan, sukacita, dan damai sejahtera karena iman. Maka Paulus menyimpulkan bagian ini dengan mengatakan, “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (ayat 13).
Asalkan kita menerima kaum beriman menurut ajaran-ajaran bagian surat Roma ini, kita akan mengalami Allah sebagai sumber ketekunan, penghiburan, dan pengharapan. Dalam kehidupan gereja yang normal kita akan dipenuhi dengan sukacita, damai sejahtera dengan iman. Dalam kehidupan gereja yang demikian, kita pun akan mengalami kuasa Roh Kudus dan penuh pengharapan. Kehidupan gereja sangat berarti bagi kita, karena itu kita semua perlu berada di dalam gereja dan hidup di dalamnya.