PERAMPUNGAN INJIL
Dalam berita-berita yang lalu, telah kita bahas tujuh bagian dari surat Roma: Pendahuluan, Penghukuman, Pembenaran, Pengudusan, Pemuliaan, Pemilihan, dan Peng-ubahan. Kini kita tiba pada bagian terakhir, yakni penutup (15:14—16:27). Meskipun Paulus telah menguraikan banyak, tetapi pada bagian ini, ia masih ingin mengungkapkan hal-hal yang praktis dan dapat dialami. Ia telah mengungkapkan sepenuhnya perampungan akhir Injil. Saya memakai kata “mengungkapkan” sebab banyak benda yang berharga telah terselubung. Maka dalam berita ini saya ingin menunjukkan mustika-mustika yang tersembunyi dalam bagian akhir dari surat Roma ini.
Surat Paulus yang lain tidak ada yang mempunyai kata penutup yang sepanjang surat Roma ini. Mengapa kata penutup ini begitu panjang? Saya tidak percaya di antara kita ada yang menulis surat dengan cara itu. Tetapi Paulus sangat berhikmat dan berpikiran dalam, ia tahu setelah mem-bahas pengubahan, perlu ditambah dengan perampungan akhir Injil Allah, yaitu hidup gereja yang riil. Lagi pula, ia tidak menulis tentang hidup gereja secara doktrinal, melainkan dengan cara yang sangat riil. Maka dalam kata penutup ini tidak ditemukan doktrin atau ajaran; setiap hal dalam bagian ini adalah pengalaman dan riil. Seperti yang akan kita lihat, Paulus memberitahukan kegairahannya dalam memberitakan Injil dan hasratnya untuk mengunjungi Spanyol. Ia menyatakan bebannya yang berat untuk menyuplai keperluan material bagi kaum beriman di Yudea, dan betapa kaum beriman kafir berniat membantu kaum beriman Yahudi dalam hal tersebut.
Dalam Roma 16, istilah “gereja” dan “gereja-gereja” tercantum sebanyak lima kali. Jika kita dengan cermat membacanya di dalam roh, kita akan paham bahwa Paulus mempunyai satu tujuan tertentu ketika ia menulis pasal ini. Setiap pembicaraan tentang gereja dalam pasal ini dapat dialami dan riil. Dalam 16:1, Paulus menyebut nama Febe, seorang diaken wanita di gereja Kengkrea. Dalam 16:4, ia mengatakan bahwa semua gereja orang kafir berterima ka-sih kepada Priska dan Akwila, sebab mereka berdua telah mempertaruhkan nyawanya bagi Paulus dan bagi gereja-gereja. Dalam 16:5 dikatakan “Gereja di rumah mereka”, ini berarti gereja di Roma bersidang di rumah Priska dan Akwila. Roma 16:16 ia menyebut semua gereja Kristus dan dalam 16:23 ia mengatakan bahwa Gayus adalah tuan rumah dari seluruh gereja. Ayat 20 juga sangat penting, “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera menghan-curkan Iblis di bawah kakimu. Anugerah (kasih karunia) Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” Allah sumber damai sejahtera segera menghancurkan Iblis di bawah kaki siapa? Di bawah kaki setiap orang di gereja-gereja. Allah akan menghancurkan Iblis di bawah kaki orang-orang yang “ber-gereja”, dan kasih karunia Tuhan Yesus akan disalurkan ke dalam mereka. Terakhir, Paulus mengirim salam kepada banyak orang beriman; hampir seluruh pasal mencatat hal ini. Saya benar-benar memuji daya ingat Paulus yang begitu baik, sebab ia bisa menghafalkan banyak nama orang beriman, bahkan bisa menyebutkan ciri-ciri mereka satu per satu.
Kata penutup surat Roma ini mirip sekali dengan sebuah lukisan hutan. Jika dipandang dari jauh, lukisan ini hanya memperlihatkan pepohonan belaka. Segala sesuatu yang tersembunyi di dalamnya tidak kelihatan; segala benda yang berharga tertutup di bawah daun-daunnya. Ketika saya masih muda dan membaca surat Roma, saya sering melon-cati bagian kata penutup ini. Saya mengira bagian yang membicarakan ajaran-ajaran sudah saya baca, dan tidak perlu lagi membaca pasal 16 yang hanya memuat nama-nama orang. Saya pun merasa nama-nama orang di situ aneh-aneh, sukar dibaca. Maka saya membaca surat Roma sampai 15:13 lalu loncat ke tiga ayat terakhir dari pasal 16, sebab itu adalah kata-kata untuk memuji Allah, yang tak dapat diabaikan. Namun, akhir-akhir ini, Roh Kudus mem-bawa saya masuk ke dalam hutan itu, dan menunjukkan mustika-mustika yang tersembunyi di bawah bayang-bayang pepohonan itu kepada saya. Sekarang saya percaya bahwa kata penutup ini merupakan bagian terindah dari seluruh surat Roma. Hidup gereja yang riil tersembunyi di bawah bayang-bayang pepohonan. Dapat kita katakan, ucapan-ucapan salam terhadap kaum beriman perorangan adalah seperti hutannya, sedang gereja-gereja yang ada di bawah pohon-pohon adalah mustikanya — gereja di Kengkrea, ge-reja-gereja di negeri orang kafir, gereja di rumah Priska dan Akwila, gereja-gereja Kristus dan gereja yang menerima pelayanan Gayus. Marilah sekarang kita melihat mustika-mustika yang tersembunyi itu dengan cermat.
I. MEMPERSEMBAHKAN ORANG KAFIR
A. MELALUI MENJADI PELAYAN KRISTUS
Mari kita baca 15:16, “Bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa lain (seperti seorang imam) dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai per-sembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.” Paulus adalah pelayan Kristus yang demi pe-layanannya menyuplaikan Kristus kepada kaum beriman kafir. Ia seolah-olah pelayan yang menyajikan makanan-ma-kanan yang lezat kepada orang. Paulus menyajikan Kristus kepada orang di atas meja makan universal. Semua orang yang berada di meja makan itu telah dikenyangkan dengan Kristus, dan Kristus di dalam mereka telah menjadi unsur yang mengubah. Maka orang-orang kafir itu mengalami pengubahan dengan esens Kristus yang almuhit dan ajaib, yang adalah Roh pemberi-hayat. Lagi pula, ayat ini menyata-kan bahwa Paulus adalah seorang imam, “(seperti seorang imam) dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah.” Sebagai imam ia mempersembahkan orang beriman kafir kepada Allah sebagai persembahan yang harum, yang memuaskan hati Allah. Ia mempersembahkan orang-orang kafir yang telah kenyang memakan Kristus itu sebagai persembahan kepada Allah.
B. DALAM PENYEBARLUASAN INJIL
Hanya demi penyebarluasan Injil, barulah masalah persembahan orang kafir itu dapat dilakukan (15:18-23). Dalam 15:19 Paulus mengatakan, “Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum, aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.” Pada zaman Paulus, Ilirikum terbilang daerah perbatasan terjauh di ujung timur laut benua Eropa. Paulus memberitakan Injil dari Yeru-salem, kota yang beradab, sampai ke daerah perbatasan terjauh yang masih belum beradab. Lagi pula ia berhasrat terus ke Spanyol (ayat 24).
Kita harus mempertinggi pemberitaan Injil kita. Peninjilan kita jangan hanya semacam Injil naik ke surga, tetapi Injil yang melayankan Kristus kepada setiap orang. Kita wajib melayankan Kristus kepada orang, agar mereka dikuduskan dan diubah dengan esens Kristus, sehingga menjadi persembahan bagi Allah. Kapan dan di mana saja gereja memberitakan Injil, kita harus melakukannya dengan keyakinan bahwa kita melayankan Kristus sebagai makanan kepada orang-orang dosa yang lapar. Kita harus melayankan Kristus kepada mereka, supaya Kristus di dalam mereka menjadi unsur pengudus untuk mengubah diri mereka.
C. DISUCIKAN OLEH ROH KUDUS,
DITERIMA OLEH ALLAH
Dalam 15:16 Paulus mengatakan, “Supaya bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Ku-dus.” Disucikan berarti dipisahkan, dikuduskan untuk pengubahan dalam hayat. Paulus mempersembahkan orang ber-iman kafir sebagai persembahan yang harum kepada Allah. Dulu mereka tidak tahir dan najis, tetapi sekarang mereka disucikan dan menjadi persembahan yang diperkenan Allah. Mereka telah diubah dan diserupakan dengan gambar Allah, sehingga mereka sepenuhnya telah diperkenan Allah. Itulah hasil yang dicapai Paulus dalam melayankan Kristus kepada orang-orang kafir. Tatkala Kristus digarapkan ke dalam mereka, menjadi unsur mereka, maka orang-orang kafir menjadi persembahan yang korporat bagi Allah, persembahan yang dijenuhi Kristus dan diresapi oleh esens ilahi-Nya. Karena itu mereka dapat dipersembahkan kepada Allah, menjadi kepuasan Allah.
II. PERSEKUTUAN DALAM KASIH
A. DI ANTARA KAUM BERIMAN KAFIR
DENGAN YAHUDI
Dari pelayanan yang melayankan Kristus kepada orang kafir dan mempersembahkan mereka kepada Allah, maka berkembanglah suatu persekutuan dalam kasih, yaitu per-sekutuan di antara kaum beriman kafir dengan kaum ber-iman Yahudi (15:25-28, 30, 32). Kaum beriman kafir ber-sekutu dengan kaum beriman Yahudi melalui memberikan benda-benda material. Dulu orang Yahudi memandang orang kafir seperti babi, sekarang orang kafir telah menjadi kaum beriman, suatu persembahan harum yang diperkenan Allah. Sebab itu kaum beriman kafir memiliki kepedulian terhadap kekurangan material yang dialami saudara-saudara Yahudi, dan kemudian mempersembahkan harta benda mereka sebagai penyataan minat mereka untuk membantu kaum beriman di tanah Yudea. Ketika rasul Paulus datang ke tem-pat orang kafir, ia membawakan Kristus, dan melayankan Kristus ke dalam mereka. Ketika ia kembali ke tanah Yudea, ia membawakan harta benda bagi kaum beriman yang kekurangan. Paulus datang dengan membawa Kristus, pulang dengan membawa harta benda dari kasih kaum beriman. Itulah hasil pelayanan Paulus.
Kerohanian kebanyakan orang Kristen dewasa ini terlalu tidak riil. Mereka berkata, “Aku untuk Kristus, aku membawakan Kristus ke setiap tempat; aku tidak memper-hatikan uang atau benda material lainnya.” Kalau Anda berkata demikian, itu membuktikan kerohanian Anda tidak riil. Lihatlah teladan Paulus: Ia datang kepada orang di Akhaya dan Makedonia dan melayankan Kristus kepada mereka. Apakah hasil pelayanannya? Hasilnya ialah orang-orang beriman kafir menyumbangkan harta benda mereka dengan sukarela untuk membantu kekurangan saudara-saudara Yahudi dalam Kristus, yang dulunya menjadi musuh mereka. Setelah orang-orang kafir itu bertobat, dilahir-kan kembali, dikuduskan, dan diubah, hati mereka yang lama telah disingkirkan dan hati baru telah ditanamkan, yaitu sebuah hati yang peduli kepada saudara-saudara Yahudi. Melalui menyumbangkan harta benda, mereka menyatakan kepedulian mereka secara riil. Mereka tidak ber-kata, “Saudara Paulus, kami berdiri di pihakmu, berjalan denganmu, dan doa kami menyertaimu. Tolong sampaikan salam kami kepada kaum beriman di tanah suci.” Paulus menggambarkan hidup gereja yang riil dengan pergi mem-bawa Kristus, dan pulang dengan membawa harta benda. Itulah persekutuan dalam kasih yang sejati dan ekspresi kepedulian yang riil.
B. UNTUK BERBAGIAN DALAM BERKAT KRISTUS YANG MELIMPAH
Kita sudah melihat hubungan Paulus dengan kedua kelompok orang: orang kafir, yang dilayaninya dengan melayankan Kristus; dan orang Yahudi, yang dilayaninya de-ngan membawakan harta benda untuk kekurangan mereka. Akan tetapi Roma 15:29 mengungkapkan hubungan Paulus dengan kelompok ketiga, yaitu kaum beriman di Roma, yang akan dikunjunginya dalam perjalanannya ke Spanyol di kemudian hari. Dari ayat ini kita nampak, betapa rindunya Paulus untuk datang ke tengah-tengah kaum beriman di Roma. “Dan aku tahu bahwa jika aku datang mengunjungi kamu, aku akan melakukannya dengan penuh berkat Kristus.” Dalam surat Paulus lainnya, tidak pernah ia berkata demikian. Paulus pergi kepada orang-orang kafir dengan membawa Kristus, lalu kembali kepada saudara-saudara Yahudi dengan membawa harta benda, dan ia pun berharap mengunjungi Roma dengan penuh berkat Kristus. Itulah hidup gereja. Hidup gereja penuh dengan Kristus, penuh dengan kasih dalam persekutuan harta benda, bahkan penuh dengan berkat Kristus. Saya benar-benar mengharap-kan dalam gereja-gereja pemulihan, Kristus dapat dilayan-kan kepada semua orang di mana saja, sehingga orang-orang akan menanggapi dengan ketulusan dan kasih dalam mem-persembahkan harta benda mereka, serta saling berbagian dalam kenikmatan atas berkat Kristus yang melimpah. Jangan menjadi orang yang ke mana-mana hanya memberitakan kebenaran yang doktrinal. Ke mana saja kita pergi, kita wajib membawakan berkat Kristus yang melim-pah. Tetapi kalau kita ingin membawakan berkat Kristus, kita sendiri harus lebih dahulu mengalami berkat itu. Paulus dapat membawakan berkat Kristus yang melimpah ke berbagai tempat, karena ia sendiri telah memiliki pengalaman yang melimpah terhadap berkat Kristus itu. Ketika kita mengunjungi gereja-gereja di mana saja, hendaklah kita membawa berkat Kristus yang melimpah, jangan membawa ajaran-ajaran maupun karunia-karunia. Ini bukan hanya ditujukan kepada memberikan benda-benda material, walau-pun persekutuan semacam itu merupakan ekspresi sejati dari realitas Kristus. Kalau kita memiliki realitas Kristus, kita akan mencurahkan diri kita sebagai ekspresi kasih terhadap kaum beriman yang kekurangan. Paulus sangat berhikmat dengan memberikan sebuah lukisan tentang hi-dup gereja yang normal, yang dapat dialami, bukan yang teoritis. Pada diri Paulus kita nampak pengalaman atas segala kelimpahan Kristus. Tatkala ia datang dan membawakan berkat Kristus yang melimpah kepada orang-orang, itu berarti ia melayani mereka dengan menyuplaikan kelimpahan Kristus.
III. PERSEKUTUAN KEPEDULIAN
A. DI ANTARA KAUM BERIMAN,
DI ANTARA GEREJA-GEREJA
Saya percaya, dalam hal persekutuan kepedulian antara kaum beriman dan gereja-gereja, Paulus adalah orang yang terkemuka (16:1-19, 21-23). Paulus telah memprakarsai persekutuan kepedulian itu. Ia peduli terhadap kaum ber-iman, hamba-hamba Tuhan, dan gereja-gereja. Ia adalah seorang saudara yang benar-benar terbenam dalam perse-kutuan kepedulian. Ucapan salam khusus yang tercantum dalam Roma 16, cukup membuktikan kepeduliannya yang luas. Saya sangat menyukai pasal ini, sebab pasal ini me-wahyukan bahwa dalam persekutuan kepedulian tercakup pula gereja-gereja. Persekutuan kepedulian ini ada di antara orang beriman dalam gereja-gereja, serta di antara gereja-gereja.
Saya sudah mengatakan bahwa dalam Roma 16, masalah gereja dan gereja-gereja telah disinggung sebanyak lima kali. Baiklah sekarang kita meneliti setiap pemunculannya. Dalam Roma 16:1 Paulus mengatakan, “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari seiman kita yang melayani jemaat (gereja) di Kengkrea.” Febe adalah seorang diaken wanita yang melayani gereja. Paulus sangat menghargainya. Maka selanjutnya dikatakan, “Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.”
Istilah “bantuan” dalam bahasa Yunani berarti pelindung, istilah yang agung, yang berarti orang yang me-nolong, menunjang dan menyuplai orang lain. Seorang pelindung berarti orang yang mendampingi Anda, melayani Anda, merawat dan mengasuh Anda, serta memperhatikan segala kebutuhan Anda. Paulus memakai istilah itu bagi Febe, membuktikan bahwa Febe sangat dikasihi dan dihormati. Febe adalah seorang saudari yang melayani orang lain tanpa menghitung harga dan pengorbanan. Kalau kita bersikap sungguh-sungguh kepada Tuhan dalam hidup gereja, kita pun wajib melayani gereja dan memperhatikan gereja tanpa menghitung-hitung harga. Kalau kita kekurangan kasih un-tuk memperhatikan gereja, kita tidak layak menempuh hidup gereja. Keperluan yang pertama untuk hidup gereja ialah melayani gereja. Saudari Febe adalah pengayom gereja. Demikian pula, kita semua harus menjadi orang-orang yang melayani dalam hidup gereja.
Kedua, Paulus menunjukkan bahwa kita perlu mem-pertaruhkan nyawa kita untuk gereja. Dalam 16:4 Paulus mengatakan tentang Akwila dan Priska, “Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.” Kita perlu mempertaruhkan nyawa kita untuk gereja. Priska dan Akwila tidak menyayangi nyawa mereka, demi gereja mereka rela mempertaruhkan nyawa. Sebab itu, gereja-gereja orang kafir berterima kasih kepada mereka. Jangan mengira Paulus sembarangan me-nyinggung Priska dan Akwila. Dia menulis tentang mereka dengan tujuan tertentu, menunjukkan bahwa jika kita be-nar-benar mengasihi gereja Tuhan, kita perlu memper-taruhkan nyawa kita bagi gereja. Kita harus membayar harga itu dengan sukarela, bukan untuk satu gereja, tetapi juga untuk semua gereja. Ada beberapa orang Kristen yang terkasih hanya memperhatikan gereja di tempatnya sendiri, itu sama sekali keliru. Priska dan Akwila adalah untuk seluruh gereja. Memang benar kita ditetapkan oleh Tuhan di satu tempat, tetapi hati kita harus luas, sehingga kita dapat menjangkau semua gereja.
Untuk kali ketiga, gereja disinggung dalam 16:5. Di sana Paulus berkata, “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka.” Yang dimaksud adalah rumah Priska dan Akwila. Di satu pihak, sepasang suami istri ini adalah untuk semua gereja, di pihak lain, mereka juga untuk gereja setempat. Ketika mereka tinggal di Efesus (Kis. 18:18-19), gereja di Efesus berada di rumah mereka (1 Kor. 16:19). Ketika mereka tinggal di Roma, gereja di Roma bersidang di rumah mereka. Maka “jemaat di rumah mereka” dalam ayat 5 adalah gereja di Roma. Membuka rumah Anda untuk gereja adalah satu beban yang sangat berat. Kalau Anda mencoba berbuat demikian, Anda akan merasakan betapa beratnya beban tersebut. Namun, Priska dan Akwila adalah orang yang mutlak bagi hidup gereja, maka mereka tidak peduli bagaimana pun beratnya beban tersebut.
Dalam 16:16 Paulus mengatakan, “Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.” Di sini Paulus tiba-tiba me-ngatakan “semua jemaat Kristus”. Di mana pun gereja berada, baik di kota Anda, maupun di kota kecil saya, semua adalah gereja Kristus. Gereja di tiap lokal harus merupakan gereja Kristus. Jangan mengatakan ini gereja saudara Anu. Perkataan itu salah. Kita harus belajar berkata, “semua gereja Kristus.”
Penyebutan gereja yang terakhir dalam surat Roma berhubungan dengan soal memberi tumpangan. “Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat” (ayat 23). Tanpa memberi tumpangan kepada para tamu, berarti ada sesuatu yang kurang dalam hidup gereja. Kalau suatu gereja tidak dapat memberi tumpangan, maka gereja itu adalah gereja yang kasihan. Namun, semakin banyak Anda memberi tumpangan kepada orang, hidup gereja Anda akan semakin kaya. Gayus tidak saja memberi tumpangan kepada satu rasul, juga kepada seluruh gereja. Saya tidak percaya ia dapat sekaligus memberi tumpangan kepada seluruh gereja, tetapi mungkin ada beberapa orang beriman yang berkunjung ke kotanya lalu tinggal sejangka waktu dan menerima tumpangan di rumahnya beberapa hari. Rumahnya terbuka bagi kaum beriman, dan tersedia bagi kaum beriman. Hidup gereja yang sejati tergantung pada pemberian tumpangan yang demikian. Bila suatu ru-mah terbuka untuk memberi tumpangan, niscayalah rumah itu akan dipenuhi berkat Kristus. Terpujilah Tuhan, sema-kin banyak kita memberi tumpangan kepada orang lain, kita akan semakin banyak mengalami hidup gereja. Hal ini sangat riil.
Secara ringkas dapat kita simpulkan bahwa hidup ge-reja mencakup lima aspek: 1) Melayani gereja; 2) Memper-taruhkan nyawa untuk gereja; 3) Gereja di rumah kita; 4) Tidak menganggap gereja menjadi milik orang tertentu, tetapi milik Kristus, dan 5) Memberi tumpangan dengan ramah kepada setiap warga gereja, dan menjadi tuan rumah bagi semua gereja. Dalam kata-kata salam Paulus yang tercatat pada pasal 16, ia telah mengungkapkan petunjuk-petunjuk yang penting bagi hidup gereja yang normal, baik dalam gereja lokal tertentu atau di antara gereja-gereja. Salamnya pun mempertinggi kwalitas banyak orang ber-iman. Karena itu, dalam Roma 16 kita nampak gereja-gereja di berbagai tempat dan seluk beluk hidup gereja sejati, yang terlihat pada atribut dan kebajikan kaum beriman. Itulah suatu lukisan hidup gereja sebermula yang sempurna. Saya katakan sekali lagi, dalam surat Roma tidak ada teori-teori tentang gereja, yang ada ialah hidup gereja yang riil. Sebab itu, perampungan akhir Injil ialah hidup gereja.
Alangkah besar perbedaan Roma 1 dengan Roma 16. Dalam pasal 1 kita nampak orang dosa, orang jahat, najis dan terhukum, sedang dalam pasal 16 kita nampak gerejagereja yang kudus dan mulia. Keduanya tidak dapat diban-dingkan. Bagaimanakah orang dosa yang keji bisa berubah menjadi gereja yang mulia? Melalui proses panjang yang dimulai dari Roma 1 hingga Roma 16, yakni: penebusan, pembenaran, pengudusan, pemuliaan, pemilihan, dan peng-ubahan. Proses yang panjang itu membuat orang-orang dosa menjadi gereja yang mulia, gereja yang kudus, tetapi juga begitu riil.
B. UNTUK MENGHANCURKAN IBLIS
Setelah menyampaikan salam yang menyatakan persekutuan kepedulian di antara kaum beriman dan antar gereja-gereja, rasul lalu mengumumkan bahwa “Allah sumber damai sejahtera, segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu” (16:26). Hal ini menunjukkan bahwa penghancuran Iblis oleh Allah berhubungan dengan hidup gereja. Bila kita tidak berada dalam gereja, tidak menempuh hidup gereja, sukarlah bagi Allah untuk menghancurkan Iblis di bawah kaki kita. Hidup gereja merupakan senjata ampuh bagi Allah untuk menaklukkan Iblis. Bila kita memisahkan diri dari gereja, kita segera menjadi makanan Iblis, sebab kita sukar berperang melawan Iblis secara pribadi. Tetapi puji Tuhan, ketika kita berada dalam gereja dan bersatu dengan Tubuh, Iblis berada di bawah kaki kita, dan kita pun menikmati Allah sebagai Allah sumber damai sejahtera dalam hidup gereja. Melalui menaklukkan Iblis, si pengacau itu, kita akan mengalami dan menikmati damai sejahtera Allah. Asalkan Iblis, si pengacau itu belum dihancurkan di bawah kaki kita, sukarlah kita menikmati damai sejahtera. Dalam hidup gereja, setelah Iblis dihancurkan di bawah kaki kita, barulah kita segera mendapatkan damai sejahtera Allah, dan ini membuktikan bahwa kita telah mengalahkannya. Karena itu, baik penghancuran Iblis maupun damai sejahtera Allah, semua harus dialami dalam hidup gereja.
C. SUPAYA KASIH KARUNIA KRISTUS DISALURKAN KEPADA SEMUA ORANG BERIMAN
Setelah mengumumkan bahwa Allah akan menghancur-kan Iblis di bawah kaki orang-orang yang menempuh hidup gereja, rasul memberi berkatnya kepada mereka dengan mengatakan, “Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” (16:20). Ini membuktikan bahwa kasih karunia Tuhan Yesus disalurkan kepada semua orang beriman dalam hidup gereja. Banyak orang beriman kehilangan kasih ka-runia ini, karena mereka terpisah dari hidup gereja. Kita semua dapat bersaksi, bila kita hidup dalam gereja dan melaksanakan kehidupan Tubuh bersama kaum beriman, kita akan menikmati kasih karunia Tuhan yang melimpah. Gereja adalah tempat Tuhan menyalurkan kasih karunia-Nya dan tempat kita menikmati kasih karunia-Nya. Gereja tidak saja merupakan tempat Iblis dihancurkan di bawah kaki kita, dan tempat kita mengalami Allah sumber damai sejahtera, bahkan tempat kita menikmati kasih karunia Tuhan yang melimpah.
IV. PUJI-PUJIAN PENUTUP
Mari kita baca 16:25-27, “Bagi Dia, yang berkuasa me-nguatkan kamu, — menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penying-kapan rahasia, yang tersembunyi berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman — bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” Puji-pujian penutup ini mirip sebuah lagu. Kata Paulus, Allah adalah Yang ber-kuasa menguatkan kamu. Yang kita perlukan dalam pasal 16, bukan lagi keselamatan atau pengudusan, tetapi pengu-atan atau peneguhan. Setiap perkara telah rampung, kita hanya perlu dikuatkan. Kita dikuatkan bukan berdasarkan ajaran atau kebenaran zaman, melainkan berdasarkan Injil, pemberitaan mengenai Kristus, dan penyataan dari rahasia itu. Oh, kaum beriman dewasa ini benar-benar perlu dibebas-kan dari ajaran-ajaran yang memecah belah dan praktek-praktek yang memecah belah, dan dikuatkan melalui Injil yang murni dan sempurna, melalui memberitakan dan melayankan Kristus yang hidup dan almuhit, dan melalui wahyu dari rahasia Allah. Hanya Injil murni, Kristus yang hidup, dan rahasia Allah yang diwahyukan yang dapat menguatkan kita dan memelihara kita dalam kesatuan bagi hidup gereja.
Rahasia yang tersembunyi berabad-abad lamanya dan belum diwahyukan itu terutama ada dua aspek: yang kesatu, ialah rahasia Allah (Kol. 2:2) yaitu Kristus, yang ada di dalam kaum beriman (Kol. 1:26, 27), menjadi hayat dan segala sesuatu mereka, hingga mereka menjadi anggota Tubuh Kristus. Yang kedua, ialah rahasia Kristus (Ef. 3:46) yakni gereja, Tubuh-Nya yang mengekspresikan kelimpahan-Nya (Ef. 1:22-23). Karena itu, Kristus dan gereja adalah rahasia besar (Ef. 5:32). Surat Roma pertama-tama memberi tahu kita bagaimana kaum beriman telah dibaptis ke dalam Kristus (6:3), bagaimana Kristus digarapkan ke dalam kaum beriman (8:10), dan bagaimana kaum beriman mengenakan Kristus (13:14). Kemudian, surat Roma mewahyukan bagaimana kaum beriman dibangun bersama menjadi satu Tubuh (12:4-5), untuk mengekspresikan Kristus. Dengan demikian, gereja-gereja terwujud secara riil di ba-nyak kota. Semua orang beriman di semua gereja saling mengasihi dan bersekutu untuk mengekspresikan Tubuh Kristus, bagi penggenapan rahasia Allah. Itulah peram-pungan akhir dari Injil Allah yang sempurna. Melalui hal ini, Iblis akan dihancurkan di bawah kaki segenap kaum beriman (16:20), kasih karunia Kristus pun disalurkan kepada segenap kaum beriman (16:20), dan Allah dipermuliakan dari zaman ke zaman sampai selama-lamanya (16:27). Allah yang kekal telah memperlihatkan rahasia itu kepada segala bangsa, supaya mereka taat kepada iman.
Dalam Roma 15 dan 16, Allah disebut Allah sumber ketekunan dan penghiburan (15:5), Allah sumber pengharap-an (15:13), Allah sumber damai sejahtera (16:20), Allah yang abadi (16:26), dan satu-satunya Allah yang penuh hikmat (16:27). Allah kita memang kaya dan memiliki banyak as-pek: ketekunan, penghiburan, pengharapan, damai sejah-tera, hikmat, dan abadi dan Injil dalam surat Roma ada-lah Injil Allah yang demikian. Injil Allah yang kaya itu terampung dalam hidup gereja yang riil. Haleluya!