← Daftar isi Roma (1) · bab 15/15

KATA PENUTUP I. ALLAH DALAM SURAT ROMA

Kita telah nampak bahwa Allah diwahyukan setahap demi setahap dalam keseluruhan surat Roma. Dalam surat Roma Allah diwahyukan dalam dua belas keadaan:

Pertama, surat Roma memperlihatkan kepada kita Allah dalam penciptaan (1:19-20). Allah tidak kelihatan, tetapi melalui benda-benda ciptaan-Nya, kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya dapat tampak dan diketahui orang.

Kedua, surat Roma mengungkapkan kepada kita Allah dalam penghukuman (Pasal 2). Sesudah manusia tercipta, ia jatuh dan berdosa sehingga mendatangkan penghukuman Allah.

Sesudah itu, surat Roma menunjukkan kepada kita Allah dalam penebusan (pasal 3). Penghukuman Allah menyatakan keperluan manusia terhadap karunia keselamatan Allah, jika Allah yang adil ingin menyelamatkan manusia yang berdosa, maka perlu ada penebusan.

Setelah penebusan, Allah dinyatakan dalam pembenaran (pasal 3, 4). Allah itu adil, Ia tak dapat membuat diri-Nya tidak benar. Kematian dalam penebusan Kristus telah menjawab dan memuaskan tuntutan keadilan Allah terhadap orang yang berdosa. Maka, penebusan Kristus tidak saja memberikan suatu pendirian bagi Allah untuk membenar-kan orang-orang yang beriman kepada penebusan Allah, bahkan Ia sendiri telah terikat oleh keadilan-Nya sendiri, sehingga Ia tak dapat tidak berbuat demikian.

Kelima, kita nampak Allah dalam pendamaian (pasal 5). Kita tidak saja sebagai orang dosa, tetapi juga sebagai seteru Allah. Pembenaran Allah didasarkan pada penebusan Kristus dan mendatangkan pendamaian-Nya. Di sini kita bersuka-cita di dalam Allah dan menikmati Allah dalam segala hakiki-Nya bagi kita.

Lebih maju lagi, Allah kita pahami dalam kesatuan kita dengan Kristus (Roma 6), Allah tidak saja telah mendamai-kan kita dengan diri-Nya, Ia juga telah mempersatukan kita dengan Kristus. Kita dilahirkan dalam Adam, namun Allah telah memindahkan kita dari Adam ke dalam Kristus. Dalam Roma 6, Allah telah menjadi Allah yang ada dalam kesatuan; Ia telah merampungkan suatu pekerjaan besar yang me-nyebabkan kita menjadi satu dengan diri-Nya. Allah telah mempersatukan kita dengan diri-Nya di dalam Kristus.

Ketujuh, surat Roma juga memperlihatkan kepada kita bahwa Allah telah kita alami di dalam pengudusan (pasal 6-8). Ia telah membuat kita bersatu dengan Kristus, sehingga kita dapat dikuduskan tidak saja pada kedudukan, tetapi juga di dalam sifat (watak). Kesatuan menghasilkan pengu-dusan. Dalam pengudusan, Allah adalah Allah yang berada di dalam roh kita. Allah yang mencipta, menebus, dan mem-benarkan kita kini telah berada di dalam kita! Bagi kita Ia kini tidak lagi bersifat obyektif, tetapi sangat subyektif. Ia tidak lagi berada di surga yang jauh dengan kita; tetapi Ia kini justru ada di dalam kita, yaitu di dalam “roh kita” (8:16).

Kedelapan, surat Roma juga mewahyukan bahwa Allah telah kita nikmati di dalam pemuliaan (Rm. 8). Ia secara dini telah mengetahui kita, menakdirkan kita, memanggil kita dan membenarkan kita. Kini Ia menguduskan kita serta akan memuliakan kita (8:29-30).

Kesembilan, surat Roma lebih maju mewahyukan kepada kita Allah di dalam kasih-Nya yang menjamin nasib kita (8:31-39). Dalam pembenaran, Ia telah membuat kita berbagian dalam keadilan-Nya; dalam pengudusan, Ia menggarapkan kekudusan-Nya ke dalam kita; dan dalam pemu-liaan, Ia akan membawa kita masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Kasih-Nya adalah jaminan atas segalanya itu.

Kesepuluh, Allah pun dinyatakan di dalam pilihan-Nya (pasal 9-11). Bukan kita yang memilih Allah, melainkan Allah yang telah memilih kita. Pilihan-Nya itulah yang menjadi nasib kita, yaitu yang menakdirkan kita untuk dapat memperoleh-Nya dan mengambil bagian atas-Nya.

Kesebelas, Allah di dalam tubuh Kristus mendapat kemuliaan (pasal 12). Dalam pasal 12 Allah berada dalam tubuh. Ia tidak saja berada di dalam roh kaum saleh, juga berada dalam tubuh wujud yang korporat.

Terakhir, surat Roma memberitahu kita bahwa Allah diekspresikan di dalam kehidupan gereja (pasal 16). Tubuh Kristus adalah rohani dan universal, yang harus diekspresi-kan secara riil di dalam tiap gereja lokal. Allah mengeks-presikan diri-Nya di dalam Kristus, Kristus mengekspresi-kan diri-Nya di dalam tubuh-Nya, sedang tubuh Kristus diekspresikan di dalam gereja. Ketika kita membaca Roma 16, kita nampak bahwa Allah berada dalam gereja lokal. Pada satu pihak, Allah berada dalam roh kita; pada pihak lain, Ia pun berada dalam setiap gereja lokal.

II. PERAMPUNGAN AKHIR PEKERJAAN ALLAH

Dalam Roma 1, kita jumpai istilah “ciptaan”, sedang dalam Roma 16, kita jumpai istilah “gereja-gereja”. Kita sangat mudah membicarakan masalah penciptaan Allah; Allah mengucapkan sepatah kata saja, makhluk-makhluk sudah tercipta. Namun, jika kita ingin membicarakan bagai-mana Allah mewujudkan gereja, itu sangat sukar. Allah perlu bekerja dengan proses yang panjang dan dalam ber-bagai tahap, dan di antaranya mencakup penebusan, pembenaran, pendamaian, kelahiran ulang, pengudusan, peng-ubahan, penyerupaan dan pemuliaan. Hasil proses yang panjang inilah yang melahirkan gereja. Maka gereja adalah puncak, perampungan akhir dari pekerjaan dan pembangunan Allah. Allah tak dapat mencapai lebih tinggi lagi. Karenanya, surat Roma berakhir pada pasal 16. Pada Roma 16, pekerjaan Tuhan telah mencapai puncaknya. Ketika saya membaca Roma 16, hati saya merasa puas, sebab Allah pun sudah merasa puas. Kita harus berkata kepada Allah, “Tuhan, Engkau tak dapat menempuh lebih jauh lagi, sebab Engkau telah mencapai puncak yang tertinggi.” Dengan terbangunnya gereja-gereja dalam Roma 16, maka pekerjaan Allah yang kekal telah mencapai titik puncaknya, dan Ia telah puas.

Kebanyakan guru Kristen mengatakan, “Pandanglah ke depan, pandanglah pada kemudian hari. Dunia ini penuh dosa dan zaman ini gelap gulita, tidak ada sesuatu yang baik di dunia ini. Maka berharaplah pada hari yang akan datang!” Akan tetapi, sikap Paulus dalam surat Roma tidak demi-kian. Kalau kita menulis surat Roma, kita akan menambah satu pasal lagi, yang dibubuhi kata-kata, “Saudara-saudara yang kekasih, lihatlah situasi kini, alangkah kasihan sekali. Marilah kita berharap pada hari yang akan datang. Kelak kita semua akan diangkat, dan saat itu kita akan tinggal di surga.” Tetapi, dalam surat Roma Paulus tidak mengatakan demikian. Hal itu ada sebabnya. Meskipun semua orang Kristen senang memimpikan surga yang akan datang, tetapi Paulus tahu bahwa Tuhan menghendaki adanya gereja-gereja di atas bumi ini.

Kalau Anda mempelajari seluruh kitab Perjanjian Baru, Anda akan menjumpai satu hal, yaitu selain surat Roma, tak ada sejilid kitab pun yang berakhir dengan suatu nya-nyian (melody) indah seperti yang tercantum pada tiga ayat terakhir dari Roma 16. Meskipun beberapa orang menafsir-kan ayat-ayat tersebut sebagai kidung pujian dan ucapan pemberkatan dalam Alkitab, tetapi saya lebih suka menafsir-kannya sebagai suatu melody. Ketika Paulus menulis kata-kata ini, ia merasa gairah, senang, dan puas. Dalam kitab Wahyu saja tidak ada sebuah melody yang seindah itu. Dalam Roma 16 kita memiliki gereja-gereja lokal; kapan kita memiliki gereja-gereja lokal, patutlah kita merasa gairah, senang, dan puas. Kalau Anda sudah memiliki gereja-gereja lokal, apa lagi yang Anda butuhkan? Setelah Paulus meng-ungkapkan kehidupan gereja lokal, yang mencakup berbagai macam kebajikan dan keindahan kaum saleh, hatinya me-rasa girang sekali, maka ia menutup suratnya dengan suatu melody pujian yang begitu indah.

Dalam pujian penutupnya, Paulus berkata, “Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu — menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, se-suai dengan penyingkapan rahasia, yang tersembunyi ber-abad-abad lamanya.” (16:25). Kita tidak membutuhkan lain-nya, kita hanya perlu mengakui bahwa Allah telah menga-runiakan segala sesuatu kepada kita, dan kita harus me-melihara apa yang telah kita miliki itu. Kata Paulus, Dia, Allah yang berkuasa menguatkan kita, menurut Injil yang ia masyhurkan, bukan menurut Injil yang tercantum dalam kitab Injil Markus atau Lukas. Apa bedanya Injil yang tercantum dalam kitab Markus dan Lukas dengan Injilnya Paulus? Dalam Injil Markus dan lukas, kita memiliki ka-runia keselamatan, namun kita tidak nampak gereja. Tetapi dalam Injil Paulus mencakup gereja, bahkan memberi lukisan kepada kita tentang kehidupan suatu gereja lokal. Ia menyebut Febe yang melayani gereja, dan Priska, Akwila yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk gereja. Ja-nganlah kita lupa bahwa Injil Paulus ada 16 pasal, bukan hanya 8 atau 12 pasal.

Saya katakan sekali lagi, Paulus pada akhir surat Roma merasa sangat gembira dan puas. Dari makhluk cip-taan-Nya, Allah mulai bekerja hingga mencapai puncaknya, yakni gereja lokal. Karena itu surat Roma merupakan sari seluruh Alkitab. Alkitab berawal dari penciptaan dalam Kitab Kejadian dan berakhir pada Yerusalem Baru dalam kitab Wahyu. Yerusalem Baru merupakan totalitas gereja-gereja lokal dan kesempurnaan pembangunan Allah. Surat Roma berakhir pada gereja-gereja lokal, sedang seluruh Al-kitab berakhir pada Yerusalem Baru, yaitu totalitas gereja-gereja lokal. Inilah titik pandang dari pihak Allah.

III. TITIK PANDANG YANG RIIL

Sekarang kita harus meninjau dari pihak kita. Pada pasal 1 kita melihat bahwa kita adalah orang berdosa; kebudayaan maupun agama tak berdaya menolong kita. Tak peduli kita sebagai manusia macam apa, kita semua sudah berada di bawah hukuman Allah, tetapi masalah kita mulai mendapat penyelesaian demi penebusan Allah dalam pasal 3. Kemudian disusul dengan pembenaran, pendamaian, penya-tuan, pengudusan, penyerupaan dan pemuliaan. Pada pasal 12 kita nampak diri kita telah mengalami pengubahan di dalam tubuh, sehingga kita menjadi anggota Tubuh. Banyak orang Kristen sudah merasa puas dengan Roma 8. Mereka hanya damba dan puas dengan kesucian dan kerohanian. Ada beberapa yang lebih maju selangkah yaitu yang mem-bicarakan Tubuh dalam pasal 12. Akan tetapi, jika Anda menanyakan masalah tersebut kepada mereka, mereka akan berkata dengan rasa kecewa, “Kami tahu ada masalah Tu-buh, tetapi kami tidak mempunyai jalan untuk mempraktek-kannya. Di manakah Tubuh itu? Bagaimanakah kami boleh memiliki Tubuh secara riil?” Ada sementara orang Kristen mempergunakan istilah-istilah “Kehidupan Tubuh” atau “Pelayanan Tubuh”. Namun pelayanan Tubuh yang mereka maksudkan hanya berarti penggantian pelayanan dari se-orang pendeta kepada sekelompok orang. Itulah pelayanan Tubuh dalam pengertian mereka. Saya ingin bertanya, Di manakah Tubuh? Banyak orang Kristen yang aktif tidak menemukan Tubuh, dan tak mempunyai jalan untuk me-wujudkannya.

Banyak orang membicarakan Tubuh dalam Roma 12, tetapi mereka mengabaikan pelaksanaan yang tercantum dalam pasal 14. Padahal, tanpa pelaksanaan yang wajar, tak mungkin menghasilkan realitas dari pasal 12. Tanpa Roma 14, mustahil Tubuh itu dapat terwujud. Sebab jika tanpa penerimaan terhadap kaum saleh seperti yang dikatakan dalam pasal 14, maka orang Kristen akan tetap berada da-lam perpecahan konsepsi ajaran. Ajaran selalu mengakibat-kan perpecahan; hanya hayat yang dapat mempertahankan kesatuan. Hal ini telah nyata sekali terbukti dalam sejarah agama Kristen. Jadi, ajaran sama sekali tak dapat mem-bangun; setiap ajaran adalah perpecahan. Tak peduli ajaran itu sesuai atau tidak sesuai dengan Alkitab, benar atau salah, selalu mengakibatkan perpecahan. Ajaran-ajaran itu-lah yang menyebabkan perpecahan kekristenan, sehingga menjadi ribuan golongan dan sekte. Setiap ajaran melahir-kan sekte dan perpecahan, satu pun tidak ada yang terke-cuali. Jangankan ajaran-ajaran atau teori-teori sekte, bah-kan ajaran-ajaran yang disebut ajaran sehat, murni, fonda-mental yang rohani dan yang sesuai dengan Alkitab, semua-nya dapat menyebabkan perpecahan. Karena itu, kita tidak seharusnya terlalu mementingkan teori dan ajaran, namun kita harus berdoa, “Tuhan, selamatkanlah kami, agar kami terlepas dari segala macam konsepsi ajaran. Pimpinlah kami masuk ke dalam-Mu. Engkaulah satu-satunya konsepsi kami. Konsepsi kami adalah Kristus.” Memang, Kristus hanya satu, tetapi ajaran atau teori banyak. Maka Kristus harus menjadi satu-satunya konsepsi kita.

Inilah yang dimaksud Paulus dalam Roma 15:5, “mengaruniakan kerukunan kepada kamu sesuai dengan Kristus Yesus.” Istilah “kerukunan” di sini dalam bahasa aslinya berarti “saling memiliki pikiran yang sama”. Kaum saleh Yahudi kuno berpegang pada berbagai macam ajaran, sedang kaum saleh kafir berpegang pada konsepsi filsafat yang beraneka ragam. Dari sejarah gereja kita nampak bagai-mana latar belakang agama orang Yahudi dan bagaimana pula latar belakang kebudayaan orang kafir pada zaman rasul Paulus. Semua itu telah mendatangkan kesulitan bagi kehidupan gereja. Walaupun sejumlah orang Yahudi dan orang kafir telah menjadi orang-orang yang beriman kepada Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, tetapi mereka me-masukkan konsepsi latar belakang mereka ke dalam kehi-dupan gereja. Orang Yahudi membawa kepercayaan agama-nya, sedang orang kafir membawa konsepsi filsafatnya. Ada sebagian orang saleh kafir menganggap bahwa filsafat me-reka sangat sepadan dengan ajaran-ajaran Alkitab. Dengan demikian, akhirnya kaum saleh tak dapat bersatu. Maka Paulus menganjurkan mereka untuk membuang segala konsepsi ajaran-ajaran, agar kesatuan Tubuh dapat terpe-lihara. Paulus memberi tahu kaum saleh Yahudi dan kafir, supaya mereka datang kepada Kristus, yakni menerima Kristus sebagai hayat dan konsepsi mereka. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah untuk orang-or-ang yang bersunat, juga untuk orang-orang kafir. Kristus adalah akar Isai, yaitu sumber suplai bagi orang Yahudi, dan Ia pun yang dibangkitkan Allah sebagai Pemerintah orang kafir. Pemerintahan atau pengaturan Kristus tentu sangat manis, penuh kasih, dan penuh kuasa penyembuhan. Kristus telah merangkum orang Yahudi dan orang kafir, sehingga mereka bersatu, dan menjadi satu Tubuh. Maka kita harus melupakan latar belakang orang Yahudi maupun kafir, latar belakang agama maupun filsafat, dan berpegang pada Kristus sebagai satu-satunya konsepsi kita. Kecuali Kristus, kita tidak seharusnya memiliki yang lain. Bila ada orang menanyakan kepada Anda tentang filsafat. Anda harus menjawabnya, “Aku tidak mengerti filsafat, yang kutahu ha-nya Kristus.” Dan bila orang bertanya tentang agama, Anda juga menjawabnya, “Aku tidak mempunyai agama. Aku ha-nya mempunyai Kristus. Kristus adalah hayat dan segalaku. Aku hanya memiliki Kristus saja.” Kristus adalah akar Isai, yaitu Yang dibangkitkan untuk memerintah orang kafir.

Dalam surat Roma kita nampak rasul Paulus mutlak untuk gereja-gereja lokal. Dalam Roma 16:1, ia memperke-nalkan Febe, seorang diaken wanita di gereja Kengkrea. Yang pertama-tama diperkenalkan Paulus adalah seorang saudari yang memiliki pelayanan di suatu gereja lokal. Ja-nganlah kita memperkenalkan orang beriman yang tidak memiliki gereja lokal apa pun. Jangan berkata, “Aku mem-perkenalkan kepada kalian seorang saudari anu yang men-jadi milik Tubuh Kristus; ia adalah seorang yang berkeliling dunia.” Saya tidak meragukan bahwa seorang saudari yang begitu, memang milik Tubuh Kristus. Tetapi di manakah gerejanya? Kalau saya sudah tahu gerejanya, saya senang mengetahui pula bagaimana keadaannya di gereja itu? Apa-kah ia seorang yang hanya hadir dalam sidang pada hari Minggu saja? Atau ia seorang saudari yang mempunyai pelayanan? Bagaimana pelayanannya? Gereja itu sangat riil, gereja tidak seharusnya hanya menjadi suatu istilah atau teori belaka. Karena itu kita harus menempuh kehidupan gereja secara riil, yaitu berpartisipasi dalam fungsi tertentu dalam gereja lokal, seperti halnya dengan Febe di gereja lokal Kengkrea. Pada pasal 1 kita adalah orang dosa yang berada di bawah hukuman Allah. Setelah melalui proses dari pasal 3 hingga pasal 15, maka dalam pasal 16 kita telah menjadi kaum saleh yang berguna bagi pembangunan gereja lokal. Kita memuji Allah, karena penebusan, pengudusan, peng-ubahan, dan pekerjaan pembangunan-Nya! Inilah karya agung Allah.

IV. POS-POS DALAM SURAT ROMA

Dalam surat Roma kita nampak banyak pos. Banyak orang Kristen berhenti pada pos pembenaran, yaitu Roma 4. Ada yang berjalan lebih jauh sedikit, mereka berhenti di pos pengudusan, Roma 8. Ada pula yang berjalan lebih jauh lagi, yakni mencapai pasal 12, mereka membicarakan Tubuh; namun mereka kekurangan pengalaman Tubuh yang sejati. Maka Roma 12 juga merupakan satu pos, yang dapat disebut pos membicarakan Tubuh. Apabila Anda merasa puas dan berhenti pada Roma 12, Anda tak mungkin memiliki Tubuh yang sejati dan riil, sebab manifestasi Tubuh yang sempurna terdapat dalam gereja lokal. Bila Anda tidak berada dalam gereja lokal, Anda tak mungkin berhubungan dengan Tubuh, dan kalau demikian, istilah “Tubuh” bagi Anda tetap me-rupakan istilah yang kosong melompong. Jika Anda ingin berada dalam Tubuh, Anda harus berada dalam gereja lokal. Jadi pos kita adalah di Roma 16, yakni pos terakhir dari seluruh surat Roma. Di manakah pos Anda? Kita telah me-lewati pos-pos pembenaran, pengudusan, dan pos membicara-kan Tubuh. Puji Tuhan! Kita kini berhenti di pos terakhir, yaitu gereja lokal. Di sini kita mewujudkan kehidupan Tubuh yang sejati. Ketika Anda berhenti di pos ini, Anda pasti dapat menyanyikan nyanyian (melody) pujian bersamasama dengan Paulus.

V. PERINGATAN TENTANG PERPECAHAN

Meskipun Roma 16 mengungkapkan perampungan akhir dari pekerjaan Allah, tetapi Paulus juga membicarakan suatu hal yang bersifat negatif, sebab di sini Iblis, musuh Allah, masih bekerja terus. “Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka yang menimbulkan perpecahan dan batu sndungan, berten-tangan dengan pengajaran yang telah kamu terima. Hindari-lah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dengan kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya” (ayat 17-18). Ketika kita menikmati kehidupan gereja, kita harus waspada terhadap orang-orang yang menyebabkan perpecah-an. Pada ayat 17 Paulus mengatakan, “pengajaran” yang telah kamu terima. Pengajaran apakah itu? Itulah pengajaran yang diberitakan rasul, seperti yang tercantum dalam seluruh surat Roma. Setiap ajaran yang bertentangan dengan ajaran rasul, akan menyebabkan perpecahan. Kita harus waspada, membedakannya. Manurut ayat 17, kita harus menghindari orang-orang yang membuat perpecahan dan yang menentang pengajaran itu.

Bahkan pada zaman Paulus sudah ada orang yang memberitakan ajaran-ajaran yang bertentangan, yang menimbulkan perpecahan. Karena itu, kita harus waspada. Jika tidak, kehidupan gereja kita mungkin akan dirusak oleh mereka yang berbicara dengan kata-kata yang muluk-muluk dengan bahasa yang manis. Sebagian besar orang yang menempuh hidup gereja adalah orang-orang yang tulus hatinya. Memang, kita harus menjadi orang-orang yang tulus hati, agar kita dapat menempuh hidup gereja. Namun, boleh jadi ada orang yang datang di antara kita dengan kata-kata yang muluk-muluk dan dengan bahasa yang manis, mereka ingin memecah-belah dan menyandung kita. Jangan mengira bah-wa Anda tidak mungkin tertipu. Kita wajib selalu waspada!

Bagaimana kita dapat membedakan orang-orang yang demikian? Caranya hanya satu, yakni kita harus bertanya, apakah itu dapat menimbulkan perpecahan? Janganlah kita menerima kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa yang manis yang dapat menyebabkan perpecahan. Kita harus menolak segala perkataan yang bertentangan dengan ajaran surat Roma. Kita harus dengan tegas menolaknya. Ber-samaan dengan itu kita juga harus menghindarinya. Kalau pada zaman Paulus kesukaran-kesukaran itu bisa menimpa-nya, apalagi pada zaman sekarang ini, sebab musuh kita luar biasa liciknya. Maka ketika kita sedang gairah, dan bersukacita menempuh hidup gereja dengan memuji-muji Tuhan, kita perlu pula waspada terhadap orang-orang yang akan menimbulkan perpecahan di antara kita. Janganlah kita sampai tertipu oleh kata-kata mereka yang muluk-muluk, tetapi hendaklah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kata-kata mereka itu bertentangan dengan ajaran rasul? Apakah itu akan mengakibatkan perpecahan? Kita wajib memperhatikan peringatan yang dikatakan oleh Paulus pada pasal terakhir dalam surat Roma ini.

?