← Daftar isi Roma (1) · bab 8/15

EKONOMI ALLAH DALAM PEMILIHAN-NYA

Dalam berita ini kita tiba pada butir kedua dari bagian pemilihan Allah, yaitu ekonomi Allah. Allah mempunyai satu ekonomi, satu pengaturan ilahi dalam pemilihan-Nya. Peng-aturan atau administrasi ilahi ini mengendalikan seluruh dunia dan segenap umat manusia. Administrasi yang berada di bawah kedaulatan-Nya ini ialah ekonomi ilahi-Nya.

I. SEJUMLAH SISA YANG TERTINGGAL

OLEH KASIH KARUNIA

Pada pasal 11:1 Paulus bertanya, “Mungkinkah Allah telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak!” Paulus seorang pengacara unggul, dalam satu perkara di aspek mana pun ia berdiri, ia selalu dapat memenangkan perkaranya. Jika tidak ada Roma 11, kita pasti mengira setelah Allah memilih orang Israel, Allah lalu berubah pikiran. Roma 9-10 seolah-olah menunjukkan bahwa Allah telah menolak orang Israel. Karena ada beberapa orang yang mengira demikian, maka Paulus bertanya, “Mungkinkah Allah telah menolak umat-Nya?” Pertanyaan ini kemudian dijawabnya sendiri dengan tegas, “Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Atau tidak tahukah kamu apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku. Tetapi bagaimanakah firman Allah kepadanya? Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal” (11:1-4). Elia nabi Allah, mendakwa orang Israel di hadapan Allah. Na-mun, Allah berkata kepada Elia, jangan mendakwa orang Israel di hadapan-Nya, karena Ia masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Nya yang tidak pernah sujud menyembah Baal. Paulus menyambung, “Demikian juga pada waktu ini terdapat suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia (anugerah). Jika hal itu terjadi berdasarkan kasih karunia, maka bukan lagi berdasarkan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (ayat 5-6 Tl.).

Paulus pandai sekali berdebat, dan ia selalu menang dalam perkara apa saja yang dibelanya. Dalam pasal 10 ia mengatakan orang Israel tidak baik, dan ia membuktikan sejauh mana keburukan mereka. Roma 10:21 mengatakan, “Tetapi tentang Israel ia berkata: Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.” Ya, bangsa yang tidak taat dan yang membantah itu memang bangsa yang paling jahat di dunia ini. Ketika membaca pernyataan demikian, kita dapat ber-kata, “Keadaan orang Israel memang tidak ada harapan, bangsa Israel sudah habis!” Namun, ketika kita membaca pasal 11, kita nampak bagaimana Tuhan berdebat dengan Elia, membela Israel. Kata Elia, “Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuh-kan.” Keadaan itu memang benar. Elia lalu berkata, “Hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Tetapi Tuhan datang kepadanya dan seolah-olah berkata kepadanya, “Elia, dengarkan Aku. Kamu tidak sendirian. Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku. Elia, apa yang kaukatakan?” Di satu aspek, dalam pasal 10, Paulus seolah-olah menentang orang Israel. Tetapi dalam pasal 11, ia berpaling membela orang Israel. Dalam 11:5 dikatakan, “Demikian juga pada waktu ini terdapat suatu sisa, menurut pilihan berdasarkan kasih karunia” (Tl.). Paulus benar-benar tidak dapat dikalahkan. Kata Paulus, “Allah bukan hanya menyisakan tujuh ribu orang dalam zaman Elia, bahkan pada masa sekarang ini, ketika kita masih hidup. Allah masih memiliki pilihan-Nya berdasarkan kasih karunia. Maka hari ini pun terdapat suatu sisa.” Prinsip ini berlaku juga bagi kita dewasa ini. Tak peduli bagaimana merosotnya kekristenan, kita yakin, di tengah-tengah ribuan bahkan jutaan orang Kristen, Allah masih mempunyai orang-orang yang ditinggalkan bagi-Nya.

Saya bukan sombong, tetapi saya merasa bahwa diri saya adalah salah satu yang ditinggalkan bagi Tuhan. Bagaimana pandangan Anda terhadap diri Anda sendiri? Di masa lalu saya sering berpikir seperti Elia. Tetapi puji Tuhan, akhirnya saya mengetahui bahwa Tuhan masih meninggal-kan banyak orang bagi diri-Nya sendiri. Allah telah menyisakan orang-orang bagi kehendak-Nya yang kekal. Maka janganlah kecewa.

Ayat 6 mengatakan, “Jika hal itu terjadi berdasarkan kasih karunia, maka bukan lagi berdasarkan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.” Jangan lupa, kita ditinggalkan berdasarkan kasih karunia. Bukan karena perbuatan, melainkan seluruh-nya berdasarkan kasih karunia. Jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

“Jadi, bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memper-olehnya. Dan orang-orang yang lain telah dikeraskan hati-nya” (ayat 7). Pada prinsipnya, situasi hari ini pun serupa. Apakah yang dapat kita megahkan? Hanya kasih karunia Tuhan semata.

Ayat 8, “Seperti ada tertulis: Allah membuat mereka seperti tertidur, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai pada hari ini juga.” Apakah keadaan kita demikian? Ada orang yang mempunyai mata, tetapi matanya telah kehilangan daya lihat; ada orang mempunyai telinga, tetapi telinga mereka kehilangan fungsinya. Ini persis seperti keadaan di zaman kita ini. Tahun 1937, saya diutus melakukan pekerjaan Tuhan yaitu menjelajahi China bagian utara, dengan tujuan menyam-paikan (sharing) kepada kekristenan semua kebenaran yang Tuhan berikan kepada kita. Oleh Saudara Watchman Nee saya dipesan untuk tidak tinggal di gereja lokal mana pun, tetapi hanya mengunjungi daerah utara China itu. Pada masa itu, saya mengadakan pengkhotbahan keliling di ba-nyak denominasi. Melalui hal itu saya nampak keadaan kekristenan sungguh kasihan. Tidak banyak yang berminat, kebanyakan orang tidak memiliki mata untuk melihat dan tidak memiliki telinga untuk mendengar. Kemudian saya mengakhiri perjalanan dan tinggal di kampung halaman saya, yaitu Cheefoo. Tuhan memberi saya suatu beban yang jelas, supaya saya tidak berkeliling lagi, tetapi tinggal di kota itu bersama gereja lokal. Setelah saya tinggal di sana empat tahun, terjadilah satu kebangunan di sana.

Izinkan saya mengatakan sebuah kisah lainnya. Tahun 1934, saya tinggal di Shanghai bersama saudara Watchman Nee. Pada suatu hari, ketika kami berkendaraan menuju kota lain, ia berkata kepada saya, “Saudara, denominasi telah menolak kita.” Dengan mengutip kata-kata Paulus dalam Kisah Para Rasul 13:46 ia berkata, “Kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain (orang kafir).” Sejak saat itu pekerjaan pemulihan Tuhan telah beralih kepada orang kafir secara meyakinkan. Dari tahun 1933 sejak saya bersama dengan saudara Watchman Nee untuk kali pertama, sampai tahun 1950 saat kami berpisah, ia tidak pernah mendapat undangan sekali pun dari denominasi di China. Walaupun denominasi tidak mengundangnya berkhotbah, namun buku-buku karyanya sangat populer. Tidak peduli bagaimana keadaannya, hari ini Tuhan tetap memiliki orang-orang yang ditinggalkan bagi-Nya.

Mari kita lanjutkan dengan ayat 9, “Lagi pula Daud berkata: Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perang-kap, batu sandungan dan pembalasan bagi mereka.” Kita telah nampak bahwa peristiwa yang serupa telah terjadi pada masa ini.

Ayat 10, “Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk.” Bukankah situasi kekris-tenan hari ini juga demikian? Banyak orang yang matanya menjadi gelap dan punggungnya menjadi bungkuk. Mereka kekurangan daya lihat dan tidak dapat berdiri tegap.

II. BANGSA-BANGSA KAFIR BEROLEH SELAMAT

KARENA TERSANDUNGNYA ISRAEL

Ekonomi Allah dalam pilihan-Nya, pertama-tama di-tujukan kepada orang-orang yang ditinggalkan bagi-Nya berdasarkan kasih karunia, kedua kepada bangsa-bangsa kafir yang beroleh selamat, karena tersandungnya orang Israel. Dalam ayat 11 Paulus mengatakan, “Karena itu, aku bertanya: Apakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi karena pelanggaran mereka, kesela-matan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, untuk mem-buat mereka cemburu.” Dalam 9:32 Paulus berkata,” Mereka tersandung pada batu sandungan.” Sedang dalam 11:11 ia mengatakan bahwa tersandungnya mereka bukan supaya mereka jatuh. Paulus membeberkan pembelaannya dengan sangat hati-hati, dengan mengatakan bahwa Israel telah tersandung, namun tidak jatuh. Dalam bagian bawah ayat 11 dilukiskan bahwa tersandungnya mereka hanya semacam pelanggaran saja. Akibat pelanggaran karena ketidakpercayaan mereka, maka keselamatan beralih kepada bangsa-bangsa kafir. Alangkah hebat kasus yang dibentangkan Paulus, dan alangkah unggul Paulus sebagai seorang peng-acara. Tidak seorang pun dapat menundukkannya, sebaliknya setiap orang harus tunduk kepadanya. Dalam ayat 12 Paulus mengatakan, “Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kegagalan mereka berarti kekaya-an bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka.” Tersandungnya Israel menyebabkan dunia kaya, dan kerugian mereka menyebabkan orang kafir kaya. Selain Paulus, siapa lagi yang dapat berdebat seperti ini?

Dalam 11:13-14 Paulus mengatakan bahwa ia memegah-kan pelayanannya di antara orang kafir. “Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan kecemburuan di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamat-kan beberapa orang dari mereka” (Tl.). Walaupun Paulus memegahkan pelayanannya di antara orang kafir, sebenar-nya ia membela orang Israel juga.

Kita perlu membaca ayat 15 dengan cermat, “Sebab jika dikesampingkannya mereka berarti pendamaian bagi dunia, dapatkah diterimanya mereka mempunyai arti lain daripada hidup dari antara orang mati?” (Tl.). Perhatikanlah Paulus tidak berkata “ditolak”. Ditolak adalah satu hal, sedang dikesampingkan adalah satu hal lain. Dalam 11:1 Paulus bertanya, “Mungkinkah Allah telah menolak umat-Nya?” Jawabnya sendiri ialah, “Sekali-kali tidak!” Maka ditolak berbeda dengan dikesampingkan. Ditolak berarti ditinggalkan selama-lamanya, sedang dikesampingkan berarti disingkirkan untuk sementara waktu. Jadi, maksud Paulus adalah orang Israel telah dikesampingkan oleh Allah, bukan ditolak untuk selama-lamanya.

Mari kita baca ayat 16-18, “Jikalau roti sulung kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar kudus, maka cabang-cabang juga kudus. Karena itu, apabila be-berapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan sebagai gantinya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu” (Tl.). Siapa akar pohon zaitun? Siapa pula roti sulung? Saya percaya jawaban yang tepat ialah Abraham, Ishak, dan Yakub. Dalam 11:28 Paulus berkata, “Mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” Nenek moyang ialah Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketiga nenek moyang itu ialah akar pohon zaitun dan juga roti sulung.

Kita perlu jelas bahwa roti sulung berbeda dengan adonan. Andaikata Anda mempunyai tepung untuk dijadikan roti dan Anda terlebih dulu mengambil sebagian darinya, itulah yang dimaksud roti sulung. Dalam Alkitab, roti su-lung bukanlah untuk dimakan, melainkan untuk dipersebahkan kepada Allah, lalu diberikan kepada para imam untuk dimakan. Menurut Bilangan 15:18-21, Allah menyuruh orang Israel, setelah mereka memasuki negeri Kanaan, mereka harus mempersembahkan adonan pertama kepada Allah. Adonan itulah yang disebut roti sulung; dan itulah yang disinggung dalam Roma 11:16. Rasul Paulus memakai roti sulung ini untuk menggambarkan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketika kita membaca kisah Abraham, Ishak, dan Yakub dalam Pelajaran-Hayat Kejadian, kita akan menge-tahui bahwa ketiga nenek moyang itu harus dipandang sebagai satu orang dan pengalaman rohani ketiga orang ini adalah pengalaman satu orang. Ketiga nenek moyang itu hingga sekarang tetap menjadi roti sulung yang dipersem-bahkan kepada Allah dan keturunan mereka adalah seluruh adonan. Demikian pula, ketiga nenek moyang itu dari dulu sampai sekarang tetap adalah akar pohon zaitun yang Allah tanam (Yer. 11:16), sedang keturunan mereka ialah cabang-cabangnya. Karena itu, dalam pembelaannya Paulus menga-takan, kalau roti sulung yang dipersembahkan itu kudus, maka seluruh adonannya pun kudus. Ini berarti bahwa seluruh orang Israel itu kudus. Begitu pula, kalau akar, nenek moyang itu kudus, maka cabang-cabangnya, yakni keturunannya pun kudus. Walaupun orang Israel pernah tersandung, namun tidak jatuh. Mereka telah dipotong untuk sementara waktu, tetapi kemudian akan tetap diokulasi-kan kembali pada pokok yang semula.

Roma 9 mengatakan, manusia yang dipilih Allah seperti tanah liat, sedang Roma 11 mengatakan, mereka seperti adonan tepung untuk dijadikan roti. Coba Anda pikir, mana-kah yang lebih baik? Anda senang menjadi segumpal tanah atau menjadi adonan? Sekalipun saya lebih suka jadi adon-an, tetapi menjadi tanah liat juga baik, sebab tanah diper-gunakan untuk membuat bejana belas kasihan untuk me-nampung Kristus. Maka dalam 2 Korintus 4:7 dikatakan, “Tetapi harta (mustika) ini kami punyai dalam bejana tanah liat.” Selain itu 2 Timotius 2:20 mengatakan, “Perabot dari emas dan perak, . . untuk maksud yang mulia.” Kita tahu, bejana tanah liat dalam Roma 9, telah dipenuhi, karena menyeru nama Tuhan seperti yang diwahyukan dalam Roma 10. Begitu pula dengan perabot dalam 2 Timotius 2:20. Dalam ayat 22 dikatakan orang-orang yang mencari Tuhan perlu berseru kepada-Nya dengan hati yang murni. Maka jalan kepenuhan bagi bejana yang mulia ialah menyeru nama Tuhan.

Dalam Roma 9 dikatakan bahwa kita adalah tanah liat, yang dijadikan wadah untuk menampung Kristus. Ini sangat indah! Namun, saya lebih senang menjadi adonan. Tanah tidak berhayat, tetapi adonan mengandung hayat, karena terbuat dari tepung halus. Walau tanah berguna untuk membuat wadah yang dapat menampung Kristus dan memuliakan Allah, tetapi adonan adalah untuk memuaskan Allah; yaitu dipersembahkan sebagai makanan Allah. Tanah liat yang tak berhayat tak dapat memuaskan Allah; sedang dalam adonan ada unsur-unsur hayat yang dapat memuaskan Allah.

Kalau adonan untuk memuaskan Allah, maka akar untuk memuaskan kita. Roma 11:17 mengatakan, “Karena itu, apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan (diokulasikan) sebagai gantinya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah.” Ketika kita membahas hidup Abraham, Ishak, dan Yakub dalam Pelajaran-Hayat Kejadian, kita nampak bahwa mereka adalah akar pohon zaitun yang penuh getah, dan seluruh pohon zaitun bersandar pada getah mereka itu. Puji Tuhan, kita, pohon zaitun liar ini, telah diokulasikan di atas pohon zaitun yang ditanam Allah dan turut menikmati akar yang penuh getah itu! Itulah kenikmatan kita. Allah menikmati adonan, kita menikmati akar. Adonan maupun akar berasal dari hayat tumbuh-tumbuhan, hayat yang memuaskan Allah dan manusia. Gandum dan zaitun adalah untuk kenikmatan dan kepuasan Allah dan manusia. Puji Tuhan! Sekali lagi kita nampak alangkah dalamnya Paulus, penulis ini. Dalam surat Roma tak ada satu hal yang dangkal.

Dalam ayat 17 Paulus berkata, “Karena itu, apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah diokulasikan sebagai gantinya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah.” Okulasi adalah suatu perkara hayat. Sebatang cabang pohon liar diokulasikan ke pohon yang baik agar cabang itu dapat menerima hayat pohon yang baik. Maka bagi kita, orang kafir, yang penting bukanlah berganti agama, melainkan menerima hayat dari akar, dan hayat itu tak lain ialah Kristus. Banyak orang kafir yang beragama lain beralih ke “agama” Kristen, namun tanpa menerima hayat Kristus. Mereka tidak pernah diokulasikan ke pohon zaitun yang ditanam Allah dengan Kristus sebagai hayatnya. Akan tetapi kita te-lah diokulasikan, dan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub turut menikmati kekayaan hayat Kristus. Puji Tuhan!

Mengenai orang kafir, Paulus mengatakan dalam ayat 19, “Mungkin kamu akan berkata: Ada cabang-cabang yang dipatahkan supaya aku dicangkokkan (diokulasikan) sebagai tunas.” Boleh jadi orang kafir mempunyai pikiran demikian. Jawab Paulus, “Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidak-percayaan mereka, dan kamu tegak dalam iman. Janganlah sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Allah tidak menya-yangkan cabang-cabang yang asli, Ia juga tidak akan menya-yangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga tindakan-Nya yang keras, yaitu tindakan yang keras atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi kemurahan-Nya atas kamu, asalkan kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga” (ayat 20-22). Betapa hikmatnya perkataan Paulus ini.

Maka demi pelanggaran orang Israel dan demi tersandungnya mereka, keselamatan telah diterima orang kafir.

Namun orang Israel tidak jatuh, mereka hanya tersandung. Itulah ekonomi Allah dalam pilihan-Nya.

III. ORANG KAFIR MENDAPAT BELAS KASIHAN,

ORANG ISRAEL DIPULIHKAN

“Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. Sebab jika kamu sebagai cabang pohon zaitun liar telah di-potong, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, sebagai cabang-cabang yang asli, mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri” (ayat 23-24). Walau kelihatannya Paulus membicarakan masalah orang kafir, tetapi sebenarnya ia lebih menyukai orang Yahudi, sebab ia sendiri adalah orang Yahudi. Di balik perkataannya yang menyangkut orang kafir itu, tersirat beban-nya terhadap orang Yahudi.

“Saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi keras hatinya sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain masuk” (ayat 25). “Jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk”, ini mengacu kepada orang-orang kafir yang bertobat. Sekarang adalah saatnya orang-orang kafir bertobat. Maka “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain” belum tercapai; dewasa ini masih terus bertambah. Kata “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain” tidak sama dengan “sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu” yang tercantum dalam Lukas 21:24. Beberapa orang Kristen menyamakan kedua perkataan tersebut. Kata “sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu”, berarti tamatnya kekuasaan orang-orang kafir, sedang kata “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain” berarti jumlah orang-orang kafir yang bertobat telah genap.

Dalam ayat 26 Paulus berkata, “Dengan demikian, seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari Yakub.” Pada saat itu semua sisa orang Is-rael akan beroleh selamat. “Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka. Berkaitan dengan Injil, mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi berkaitan dengan pilihan, mereka adalah kekasih Al-lah oleh karena nenek moyang” (ayat 27-28). Perhatikan kedua istilah “karena” dalam ayat 28, yaitu “karena kamu” dan “karena nenek moyang”. Karena kita, mereka adalah seteru Allah; tetapi karena nenek moyang, mereka adalah kekasih Allah. “Sebab Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya” (ayat 29). Karunia-karunia dan pang-gilan Allah bersifat kekal, tidak disesali, tidak akan berubah. Begitu karunia Allah diberikan, selama-lamanya karunia itu diberikan. Begitu Allah memanggil kita, Ia memanggil kita sampai selama-lamanya. Ia tidak pernah menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya. Maka betapa kita harus bersyukur kepada Allah, sebab “pada-Nya tidak ada perubahan” (Yak. 1:17). “Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh belas kasihan oleh karena ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh belas kasihan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh belas kasihan. Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan belas kasihan-Nya atas mereka semua” (ayat 30-32). Di sini kita nampak Paulus menggunakan ungkapan ketidaktaatan dan belas kasihan sebagai cara perdebatannya. Ketidaktaatan manusia memberikan satu kesempatan bagi belas kasihan Allah, sedang belas kasihan Allah mendatangkan keselamatan bagi manusia. Sekali lagi kita nampak Paulus menang dalam setiap perkara. Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menyatakan belas kasihan-Nya kepada semua orang. Itulah ekonomi Allah. Apakah yang dapat kita katakan? Kita hanya dapat berkata, “Haleluya, atas belas kasihan-Nya!” Ia bahkan memakai ketidaktaatan kita sebagai satu kurungan, untuk mengurung kita sebagai suatu wadah, agar belas kasihan-Nya dinyatakan kepada kita.

IV. PUJIAN UNTUK PILIHAN ALLAH

Sampai di sini Paulus memuji Allah atas pilihan-Nya, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah mem-berikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus mengganti-kannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (ayat 33-36).

Dalam Roma 9-11, Paulus seolah-olah memberi kita sebuah peta, sehingga dengan peta ini kita dapat menyusuri jejak-jejak Allah. Allah menerima pujian dan kemuliaan dalam tiga masa. Dalam masa lampau, sebab segala sesuatu berasal dari Dia; dalam masa kini, sebab segala sesuatu oleh Dia; dan dalam masa yang akan datang, sebab segala se-suatu kepada (untuk) Dia. Segala sesuatu ada dari Allah pada masa lalu, eksis oleh-Nya pada masa kini, dan akan disembahkan kepada-Nya pada masa yang akan datang. Pilihan Allah adalah menurut diri-Nya sendiri, menurut kesukaan-Nya, bukan menurut perkara yang lain. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan kepada (untuk) Dia. Maka “Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”