PEMILIHAN ALLAH, NASIB KITA (2)
V. MELALUI KRISTUS
A. KRISTUS YANG MENGGENAPKAN
HUKUM TAURAT
Roma 10:4 mengatakan, “Sebab Kristus adalah tujuan akhir hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Kristus adalah kegenapan hukum Taurat. Ini berarti Ia telah menggenapkan dan mengakhiri hukum Taurat. Ia datang untuk menggenapkan hukum Taurat (Mat. 5:17). Melalui menggenapkan hukum Taurat itulah, Ia mengakhiri atau menyudahi hukum Taurat. Hasil dari Kristus menggenapkan hukum Taurat, maka setiap orang yang percaya Kristus beroleh kebenaran Allah. Tatkala Ia mati di atas salib, saat itulah Ia menggenapkan dan mengakhiri hukum Taurat. Jadi hukum Taurat digenapkan di dalam diri-Nya. Karena hukum Taurat telah diakhiri di atas salib Kristus, maka kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat. Hanya dengan percaya kepada Kristus, kita dapat menerima kebenaran Allah.
Orang-orang Yahudi memustikakan hukum Taurat dan berusaha mengamalkannya, dengan maksud untuk mendirikan kebenarannya sendiri di hadapan Allah. Mereka tidak nampak bahwa hukum Taurat telah digenapkan dan diakhiri oleh Kristus. Jika mereka nampak hal ini, mereka tentu menghentikan usaha mereka mengamalkan hukum Taurat. Mereka pun selamanya tidak akan mengulangi usaha me-reka untuk mendirikan kebenarannya sendiri di hadapan Allah, melainkan menerima Kristus sebagai kebenaran me-reka.
Prinsip ini juga berlaku pada kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Setelah beroleh selamat, mereka bertekad mengamalkan kebajikan untuk mencari perkenan Allah. Akhirnya mereka dengan sendirinya membuat peraturan-peraturan bagi dirinya sendiri. Peraturan-peraturan itu boleh dianggap sebagai hukum Taurat buatan sendiri, dan mereka berusaha mengamalkannya, supaya dapat diperkenan Allah. Seperti orang Yahudi, mereka juga tidak nampak bahwa Kristus adalah kegenapan segala peraturan, dan mereka hanya perlu menerima Kristus sebagai hayat, supaya mereka dapat hidup dengan benar di hadapan Allah. Lagi pula, mereka perlu nampak bahwa kebenaran yang sejati di hadapan Allah ialah Kristus. Dia telah mengakhiri hukum Taurat dan menjadi kebenaran yang hidup bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Roma 10 sangat banyak mengungkapkan tentang Kristus, agar kita tahu bagaimana kita berbagian dalam Dia dan menikmati-Nya sebagai kebenaran kita yang riil dan hidup di hadapan Allah.
B. KRISTUS YANG BERINKARNASI DAN BANGKIT
Kita perlu membaca ayat 5-7, “Sebab Musa menulis tentang kebenaran berdasarkan hukum Taurat: Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya. Tetapi kebenaran berdasarkan iman berkata demikian: Jangan katakan di dalam hatimu: Siapa yang akan naik ke surga?, yaitu: Untuk membawa Kristus turun, atau: Siapa yang akan turun ke jurang maut?, yaitu: Untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.” Perkataan Paulus ini sangat dalam. Kelihatan-nya ayat-ayat ini tidak menyinggung inkarnasi dan kebang-kitan Kristus, tetapi sesungguhnya kedua hal tersebut telah tercakup dalam bagian ini. Walaupun Paulus tidak meng-gunakan istilah inkarnasi maupun kebangkitan, namun ketika ia menulis bagian ini, kedua hal tersebut terkandung dalam hatinya. Paulus mengutip kitab Ulangan 30:12 yang mengatakan, “Jangan katakan di dalam hatimu: siapa yang akan naik ke surga?” (Tl.). Ia lalu menyatakan maksudnya, yakni: “membawa Kristus turun”. Kata-kata ini menunjuk-kan inkarnasi Kristus, sebab turunnya Kristus dari surga adalah demi inkarnasi-Nya. Selain itu, Paulus mengatakan, jangan pula kita bertanya, “Siapa yang akan turun ke jurang maut? Yaitu: Untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.” Perkataan ini jelas ditujukan kepada kebangkitan Kristus. Turun ke jurang maut berarti mati dan masuk ke dalam alam maut. Ketika Ia mati, Ia turun ke alam maut; dalam kebangkitan, Ia telah dinaikkan, yaitu keluar dari dalam jurang maut. Kristus telah mengalami inkarnasi dan kebangkitan. Karenanya dapat kita katakan bahwa Ia adalah Kristus yang “telah melalui proses” yaitu Kristus yang telah berinkarnasi dan bangkit.
Dari inkarnasi-Nya hingga kebangkitan-Nya, Kristus telah melewati suatu proses panjang. Dalam proses ini Kristus telah menggenapkan segala tuntutan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah, serta setiap perkara yang perlu bagi kita, supaya kita dapat berbagian dalam-Nya. Ia adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Sebagai manusia, Ia berubah rupa melalui kebangkitan, sehingga Ia berubah menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Kini dalam ke-bangkitan, sebagai Roh pemberi-hayat, Ia tersedia bagi kita, sehingga kita dapat menerima dan memperoleh Dia kapan saja dan di mana saja.
Mengenai “jurang maut” yang tercantum dalam ayat 7, perlu kita beri beberapa catatan. Istilah ini dalam Lukas 8:31 mengacu kepada tempat tinggal setan-setan. Dalam Wahyu 9:1-2, 11, kata ini mengacu kepada tempat keluarnya “belalang-belalang” dan raja mereka bernama Apolion (Anti-kristus). Ditunjukkan pula dalam Wahyu 11:7 dan 17:8, bahwa binatang itu, yaitu Antikristus akan keluar dari sana. Akhirnya, dalam Wahyu 20:1, 3, ditunjukkan lagi bahwa pada masa Kerajaan Seribu Tahun, Iblis akan ditawan di tempat tersebut. Terjemahan Septuagint (Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) menggunakan istilah ini untuk samudra raya dalam Kejadian 1:2. Dalam Roma 10:7 ini mengacu kepada tempat yang Kristus kunjungi sesudah mati dan sebelum bangkit. Menurut Kisah Para Rasul 2:24 dan 27, tempat ini disebut “dunia orang mati” atau “alam maut”. Sebab Kisah Para Rasul 2:24 dan 27 mewahyukan bahwa Kristus masuk ke alam maut setelah Ia mati, dan bangkit dari tempat itu dalam kebangkitan-Nya. Maka menurut pemakaian kata dalam Alkitab, istilah ini selalu ditujukan pada alam lingkungan orang mati, dan tempat kuasa kegelapan Iblis berlaku. Setelah Kristus mati, Ia turun ke bagian terbawah dari bumi ini (Ef. 4:9), tetapi Ia telah menang, dan dari sana Ia bangkit serta naik ke surga.
C. KRISTUS YANG DEKAT
Perhatikanlah kata-kata Paulus dalam ayat 8, “Tetapi apa katanya? Demikian: Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu. Itulah firman iman, yang kami beritakan.” Kristus yang bangkit sebagai Firman hidup, dekat kepada kita, yaitu di dalam mulut kita dan di dalam hati kita. Dalam ayat ini Paulus tiba-tiba menggunakan kata “Firman itu”, sebagai kata pengganti Kristus. Maka tak dapat diragukan bahwa Firman ini adalah Kristus sendiri. Dalam kebangkitan-Nya, Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, adalah Firman hidup. Ini berhubungan dengan wahyu Perjanjian Baru bahwa Firman adalah Roh. Kalau Anda membaca Efesus 6:18 dalam bahasa Yunaninya, Anda akan tahu bahwa Roh itulah Firman. Karenanya, dalam kebangkitan, Kristus adalah Roh, juga Firman. Ia adalah Roh itu untuk kita jamah, dan adalah Firman untuk kita pahami. Kita dapat menerima-Nya, baik sebagai Roh maupun sebagai Firman. Kristus yang telah bangkit dan menjadi Roh pemberi-hayat adalah Firman hidup yang begitu dekat dengan kita. Ia ada di dalam mulut kita, dan di dalam hati kita. Mulut untuk menyeru, dan hati untuk percaya. Jadi kita dapat berseru kepada-Nya dengan mulut, dan percaya kepada-Nya dengan hati. Bila kita berseru kepada-Nya, kita akan diselamatkan, bila kita percaya kepada-Nya, kita akan dibenarkan.
Sesudah diproses melalui inkarnasi dan kebangkitan, hari ini Kristus adalah Tuhan yang duduk di atas takhta Allah di surga, Ia pun Roh pemberi-hayat yang bergerak di bumi ini. Ia begitu dekat dan tersedia bagi kita. Ia begitu dekat, bahkan ada di mulut dan di hati kita. Tidak ada sesuatu yang lebih dekat daripada ini. Ia begitu tersedia sehingga siapa saja yang percaya kepada-Nya dengan hati dan berseru kepada-Nya dengan mulut, akan berbagian dalam-Nya. Ia telah menggenapkan setiap hal, Ia pun telah melewati setiap proses. Kini Ia bergerak di bumi, tersedia bagi siapa saja yang mau menerima-Nya.
D. KRISTUS YANG DIPERCAYA
DAN DISERUKAN NAMANYA
Mari kita baca ayat 9-13, “Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: Siapa saja yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan. Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Kata Paulus, “dengan hati orang percaya dan dibenarkan”. Jadi hasil dari percaya dengan hati ialah dibenarkan, hasil dari mengaku dengan mulut ialah diselamatkan. Kalau kita ingin dibenar-kan, yaitu beroleh kebenaran Allah, kita harus percaya kepada Tuhan Yesus. Kalau kita ingin diselamatkan, kita harus mengaku Tuhan Yesus, yakni berseru kepada-Nya.
Roma 9:21 dan 23 mengatakan bahwa berdasarkan pemilihan-Nya, kita yang dipanggil-Nya telah dijadikan bejana belas kasihan-Nya, yang dipersiapkan untuk mendapat-kan kehormatan dan kemuliaan. Tetapi kita masih harus mengerti bahwa bejana-bejana itu sendiri kosong. Bejana perlu diisi. Walaupun Roma 9 mengatakan kita adalah bejana, tetapi tidak diterangkan bagaimana kita bisa diisi hingga penuh. Alangkah baiknya kita bisa menjadi bejana belas kasihan-Nya, yang dipersiapkan untuk kehormatan dan kemuliaan. Namun, alangkah kasihannya jika bejana-bejana itu kosong tanpa isi. Kita perlu dipenuhi. Caranya dapat kita temukan dalam Roma 10. Setiap bejana mem-punyai mulut. Tanpa mulut tidak bisa jadi bejana. Palu, pisau, atau kapak adalah perkakas, tidak bermulut. Namun kita adalah bejana yang bermulut seperti bejana-bejana lazimnya. Tahukah Anda mengapa Anda memiliki mulut? Anda tercipta dengan diberi mulut, agar Anda diisi dan di-penuhi dengan kekayaan Kristus. Mulut kita dibuat untuk menyeru nama Tuhan Yesus. Tuhan sangat kaya! Ia kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Mazmur 81:11 mengatakan, “Bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.” Sebagai sebuah bejana kosong yang bermulut, kita harus membuka mulut kita lebar-lebar, agar kita dipenuhi kekayaan Tuhan.
Untuk beroleh selamat kita perlu menyeru nama Tuhan, namun menyeru nama Tuhan bukan hanya untuk kesela-matan, tetapi juga jalan bagi kita untuk menerima kekayaan Kristus. “Ia kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” Ketika kita menyeru nama-Nya, kita berbagian dan menikmati kekayaan-Nya. Maukah Anda berbagian dan menikmati kekayaan Kristus? Jika Anda mau, janganlah Anda berdiam diri. Bukalah mulut Anda, serulah nama-Nya. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Tuhan telah mewahyu-kan kepada kita tentang menyeru nama-Nya. Tahun 1970-an kita masih kurang jelas akan hal ini. Syukur kepada Tuhan, kini kita telah jelas. Kita sangat memustikakan Roma 10, khususnya ayat 12 yakni, “Sebab tidak ada per-bedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” Ayat 13 sering kita gunakan dalam pemberitaan Injil, tetapi kita harus menggunakan ayat 12, bukan untuk penginjilan, melainkan untuk mengisikan kekayaan Allah ke dalam semua bejana kosong. Kalau Anda membuka mulut lebar-lebar, menyeru nama Tuhan, segala kekayaan Allah akan menjadi milik Anda. Maka sekarang kita telah memiliki satu jalan untuk mengisi bejana kosong kita. Kita mempunyai satu mulut untuk berseru kepada-Nya, supaya kita dapat dipenuhi-Nya. Kita pun mempunyai satu hati untuk percaya kepada-Nya, mempertahankan-Nya.
Alkitab mewahyukan dengan jelas bahwa menyeru nama Tuhan adalah jalan untuk berbagian dalam Tuhan dan menikmati Tuhan. Ulangan 4:7 mengatakan, “Allah yang demikian dekat kepadanya . . setiap kali kita me-manggil (menyeru) kepada-Nya.” Mazmur 145:18, “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.” Mazmur 18:7 dan 118:5, mencatat betapa Daud berseru kepada Tuhan ketika ia dalam kesesakan. Dalam Mazmur 50:15, Tuhan menyuruh kita berseru kepada-Nya pada waktu kesesakan. Dalam Mazmur 86:7, Daud benar-benar telah melakukan hal itu. Dalam Mazmur 81:8 dan Keluaran 2:23, orang-orang Israel juga telah berseru kepada Tuhan. Tuhan berfirman kepada mereka: “Bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh” (Mzm. 81:11). Dalam Mazmur 86:5 dikatakan bahwa Tuhan baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Mazmur 116:3-4 mencantumkan, “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia or-ang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama Tuhan . . .” Dalam pasal yang sama ayat 13 dikatakan, “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN.” Untuk mengangkat piala keselamatan, yaitu mengambil ba-gian dan menikmati karunia keselamatan Tuhan, kita perlu menyeru nama Tuhan. Yesaya 12:2-6 menunjukkan bahwa Allah itu keselamatan, kekuatan, dan mazmur kita, bahkan kita akan menimba air dengan kegirangan, dari mata air keselamatan. Jalan untuk menimba air dari mata air kesela-matan Tuhan ialah memuji, menyeru nama-Nya, menyanyikan mazmur kepada-Nya, bahkan berseru dengan bersorak-sorai kepada-Nya. Dalam Yesaya 55:1-6, ada panggilan Allah yang indah dan ajaib terhadap umat-Nya, yaitu Ia memanggil semua orang yang haus datang dan minum air, menikmati kekayaan persediaan Tuhan, yaitu anggur, susu, dan makanan yang baik sehingga mereka bersuka cita ka-rena sajian-Nya yang paling lezat. Jalan untuk memperoleh semua itu ialah mencari dan berseru kepada-Nya, bahkan “berserulah kepada-Nya selama Ia dekat”. Yesaya 64:7 menunjukkan bahwa melalui menyeru Tuhan, kita akan terpacu untuk berpegang kepada Tuhan.
Dikatakan jelas dalam Ratapan 3:55-57, bahwa ketika kita menyeru Tuhan, Ia akan menghampiri kita; dan seruan kita kepada-Nya adalah nafas dan teriakan kita. Karena itu kita bisa memahami bahwa berseru kepada Tuhan tidak saja berteriak kepada-Nya, bahkan melakukan pernafasan rohani (Kel. 2:23), yaitu menghembuskan segala kesesakan, ke-sakitan, tekanan, dan yang lain-lain yang ada pada kita. Ini telah dilakukan Yeremia ketika ia berada di dalam penjara bawah tanah. Setiap kali kita berada dalam lembah rohani yang dalam, atau merasa tertekan, kita dapat berseru ke-pada Tuhan, menghembuskan keberatan beban dalam hati kita, dan dengan demikian kita akan dibebaskan dari jurang yang dalam. Berseru kepada Tuhan semacam itu, tidak saja membuat kita dapat menghembuskan sesuatu yang negatif, juga menghirup Tuhan sendiri dengan segala kekayaan-Nya sebagai kekuatan, kenikmatan, penghiburan, dan perhentian kita. Dengan jalan ini kita dapat mengambil bagian dalam kekayaan Tuhan. Karena itu dalam Roma 10:12 Paulus mengatakan, “Tuhan kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” Hari ini, dalam kebangkitan, Tuhan siap dan tersedia bagi kita dan Ia kaya untuk kita nikmati. Asalkan kita mau berseru kepada-Nya dari waktu ke waktu, kita pasti mengambil bagian dan menikmati seluruh kekayaan-Nya.
Berseru kepada Tuhan berbeda dengan berdoa biasa. Istilah “menyeru” atau “berseru” dalam bahasa Yunani ber-arti memohon dengan sangat kepada seseorang dan memang-gil namanya. Walaupun kita dapat berdoa kepada Tuhan di dalam hati, tetapi berseru kepada Tuhan menuntut kita berteriak kepada-Nya dengan suara yang dapat didengar. Istilah ini dalam bahasa Ibrani pertama-tama terdapat dalam Kejadian 4:26, yang mengandung arti berteriak atau memanggil lantang. Yesaya 12:4, 6 menerangkan bahwa me-nyeru nama Tuhan adalah seruan yang diteriakkan. Begitu pula yang tercantum dalam Ratapan 3:55-56. Maka kata Daud, “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berseru” (2 Sam. 22:7). Jadi berseru kepada Tuhan berarti berteriak memanggil nama-Nya.
Menurut catatan Alkitab, hal menyeru nama Tuhan dimulai dari generasi ke tiga umat manusia, yakni mulai dari Enos. “Waktu itulah orang mulai memangil (menyeru) nama Tuhan” (Kej. 4:26). Kemudian Abraham (Kej. 12:8), Ishak (Kej. 26:25), Ayub (Ay. 12:4), Musa (Ul. 4:7), Yabes (1 Taw. 4:10), Simson (Hak. 16:28), Samuel (1 Sam. 12:18), Daud (2 Sam. 22:4; 1 Taw. 21:16), Yunus (Yun. 1:6), Elia (1 Raj. 18:24), Elisa (2 Raj. 5:11), Yeremia (Rat. 3:55) mereka semua mempraktekkan hal menyeru nama Tuhan. Selain itu, dalam Yoel 2:32, Zefanya 3:9, dan Zakharia 13:9, dinubuatkan bahwa sekalian orang akan menyeru nama Tuhan.
Pada hari Pentakosta, kaum beriman Perjanjian Baru juga menyeru nama Tuhan untuk menerima Roh itu dicurahkan sebagai penggenapan nubuat kitab Yoel (Kis. 2:17-21). Allah mencurahkan Roh-Nya, dan kaum beriman membuka mulut mereka lebar-lebar untuk menerima Roh itu dengan menyeru nama Tuhan. Roh itu telah dicurahkan oleh Allah, tetapi kita harus menerima-Nya. Jalan untuk me-nerima-Nya ialah membuka mulut kita dan berseru kepada-Nya. Jadi, orang-orang beriman dalam Perjanjian Baru, seperti Stefanus, mempraktekkan hal ini (Kis. 7:59). Dengan berbuat demikian, mereka dikenal sebagai pengikut-pengikut Tuhan Yesus (Kis. 9:14). Ketika Paulus masih bernama Saulus, ia menganiaya gereja, menangkapi orang-orang beriman berdasarkan perbuatan orang-orang itu menyeru nama Tuhan. Setelah Paulus bertobat, ia dianjuri untuk menyeru nama Tuhan guna beroleh penyucian atas dosa-dosanya. (Terutama dosa menganiaya orang-orang yang menyeru nama Tuhan) (Kis. 22:16). Tak dapat kita sangkal bahwa praktek menyeru nama Tuhan bagi kaum saleh sebermula adalah hal yang biasa.
Dalam suratnya yang pertama yang ditujukan kepada gereja di Korintus, Paulus berkata, “. . . dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Kor. 1:2). Ini menunjukkan bahwa kaum beriman sebermula mempraktekkan hal berseru kepada Tuhan. Dalam 2 Timotius 2:22, Paulus menyuruh Timotius, “bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Karena itu, kita pun harus mempraktekkan hal ini. Kaum saleh Perjanjian Lama setiap hari berseru kepada Tuhan (Mzm. 88:10) bahkan berseru kepada-Nya seumur hidup (Mzm. 116:2). Bagaimana dengan kita? Kita patut melaksanakannya lebih banyak, yaitu berseru kepada Tuhan dengan “hati yang murni” (2 Tim. 2:22) dengan “bibir yang bersih” (Zef. 3:9). Kalau kita mem-praktekkan hal ini, kita pasti akan berbagian dan menik-mati kekayaan Tuhan. Berseru kepada Tuhan bukan hanya untuk beroleh selamat, juga untuk menikmati Tuhan dengan segala kekayaan-Nya.
Satu Korintus diawali dengan menyeru nama Tuhan, menunjukkan bahwa kitab ini adalah kitab kenikmatan terhadap Tuhan. Kitab ini menunjukkan bahwa Kristus adalah hikmat dan kekuatan kita (1 Kor. 1:24), dan Ia telah dibuat menjadi kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita (1:30), serta banyak hal lain lagi untuk kenikmatan kita. Akhirnya dalam kebangkitan, Ia menjadi Roh pemberi-hayat yang dapat kita minum (1 Kor. 15:45; 12:13). Jalan untuk minum Dia sebagai Roh pemberi-hayat ialah menyeru nama-Nya. Maka, 1 Korintus 12:3 menunjukkan, kalau kita me-ngatakan, “Tuhan Yesus,” kita segera berada dalam Roh. Mengatakan, “Tuhan Yesus,” berarti menyeru nama Tuhan. Yesus ialah nama Tuhan, dan Roh ialah pribadi-Nya. Tatkala kita menyeru nama Tuhan, kita akan memperoleh pribadi-Nya. Ketika kita berseru, “Oh Tuhan Yesus!” kita akan menerima Roh. Menyeru nama Tuhan untuk menerima Roh itu tidak saja merupakan nafas rohani, tetapi juga merupakan minum rohani. Kita menyeru nama Tuhan, berarti kita menghirup-Nya sebagai nafas hayat, dan memi-num-Nya sebagai air hayat. Bait kedua dari kidung No. 65 mengatakan,
Yesus sayang! P’nolong kuat,
nama-Mulah kuperlu,
asal hirup nama Yesus,
air hayat kuminum.
Inilah jalan untuk mengambil bagian dalam Tuhan dan menikmati Tuhan. Kita semua perlu melaksanakan hal ini. Semoga Tuhan memberkati kita atas hal ini. Semoga hal ini dapat dipulihkan sepenuhnya di masa ini.
E. KRISTUS YANG DIBERITAKAN DAN DIDENGAR
Dalam ayat 14-15 Paulus berkata, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Berseru kepada Tuhan perlu percaya kepada-Nya, per-caya kepada-Nya perlu mendengar tentang Dia, dan mendengar tentang Dia perlu pemberitaan kabar baik. Kalau menghendaki Injil diberitakan, perlu ada orang yang diutus Allah. Orang-orang yang diutus Allah itulah yang mem-beritakan Injil, supaya orang dapat mendengar Injil, lalu percaya, berseru kepada Tuhan, dan beroleh selamat. Setelah kita percaya Tuhan dan berseru kepada-Nya, kita pun perlu memberitakan-Nya. Kristus telah diberitakan dan didengar di seluruh dunia ini. Dia telah diberitakan oleh orang-orang yang diutus Allah itu, dan telah didengar oleh orang Yahudi maupun orang kafir. Banyak dari antara mereka yang telah dibenarkan karena percaya dan telah diselamatkan karena berseru kepada-Nya.
F. KRISTUS YANG DITERIMA
ATAU YANG DITOLAK
Dari ayat 16 hingga ayat 21, kita nampak Kristus yang diterima atau yang ditolak. Di satu pihak Kristus diterima oleh bangsa-bangsa, tetapi di pihak lain Ia ditolak oleh orang Israel.
Roma 9 dan 10 sama-sama membahas masalah pemilihan Allah. Pemilihan Allah adalah nasib kita. Pemilihan ini tergantung pada Allah yang memanggil, yaitu berdasarkan belas kasihan serta kedaulatan-Nya, berdasarkan kebenaran iman, juga berdasarkan Kristus.
Dalam seluruh surat Roma, pasal 10 paling banyak memperkenalkan Kristus. Dalam 10:4 Kristus disebut “tuju-an akhir hukum Taurat.” Dalam seluruh Alkitab tidak ada satu pasal yang menerangkan Kristus dengan sebutan ini. Roma 10 telah memberi sebutan yang sangat penting bagi Kristus yakni, “tujuan akhir hukum Taurat”. Kristus ini berinkarnasi dengan turun dari surga dan bangkit dengan keluar dari jurang maut. Setelah mengalami proses ini, Kristus, yang menggenapkan hukum Taurat, telah menjadi Firman yang hidup. Ia dekat dengan kita, bahkan di mulut kita dan di hati kita. Di mulut dan di hati mengisyaratkan Kristus seperti udara. Hanya udara dapat berada di dalam mulut kita dan di dalam hati kita. Kristus yang bangkit ada-lah Firman yang hidup, yaitu Roh. Ia serupa dengan udara, atau nafas yang dapat kita hirup ke dalam diri kita. Yang perlu kita lakukan ialah menggunakan mulut kita meng-hirup-Nya dan menggunakan hati kita menerima-Nya, bah-kan menggunakan roh kita mempertahankan-Nya. Kalau kita berbuat demikian, kita akan beroleh selamat dan demi menyeru nama-Nya kita akan disuplai dengan segala keka-yaan-Nya. Kita pun masih perlu memberitakan-Nya. Tatkala kita memberitakan-Nya dan semua orang mendengar Dia, tentu ada yang mau percaya dan ada pula yang menolak.
Roma 10 memberikan lukisan dan definisi yang paling indah atas Kristus sebagai kenikmatan kita. Kita tidak saja harus percaya kepada-Nya dengan hati, juga harus berseru kepada-Nya dengan mulut. Kita perlu berseru kepada-Nya, tidak saja untuk keselamatan, tetapi juga untuk menikmati kekayaan-Nya. Kita dibuat menjadi bejana untuk menam-pung Dia. Kita telah dipilih dan ditentukan menjadi wadah-Nya. Hal ini memerlukan kerja sama kita dengan menerima Dia. Untuk ini, kita perlu dari dalam batin membuka diri kita dan dari dalam roh dengan mulut berseru kepada-Nya. Jadi dalam pasal 9 kita adalah bejana; dalam pasal 10, kita beroleh satu jalan untuk memenuhi bejana kita dengan ke-kayaan Kristus. Inilah ekonomi pemilihan Allah, dan inilah tujuan keinginan hati-Nya.