PEMILIHAN ALLAH, NASIB KITA (1)
Kita telah membahas surat Roma dari pasal 1 hingga pasal 8. Kita boleh menganggap pasal 9-11 sebagai uraian sisipan, dan pasal 12 sebagai lanjutan pasal 8. Dipandang dari proses hayat dan prakteknya, anggapan demikian me-mang benar. Namun saya rasa dalam konsepsi Paulus, ketiga pasal tersebut bukan uraian sisipan, sebab di dalam pasal-pasal itu terkandung unsur-unsur yang merupakan lanjutan pasal 1-8 dan pasal 12-16. Maka pada satu pihak, ketiga pasal itu merupakan uraian sisipan, tetapi di pihak lain, juga merupakan lanjutan antara pasal 8 dan pasal 12.
I. TERGANTUNG PADA ALLAH YANG MEMANGGIL
Pemilihan Allah adalah nasib kita. Nasib kekal kita sepenuhnya didirikan di atas pemilihan Allah. Pemilihan dan nasib itu tergantung pada Allah yang memanggil, bukan pada perbuatan manusia. Kita bisa dipilih mutlak tergantung pada Allah yang memanggil. Untuk memahami masalah ini kita perlu membaca Roma 9:1-13.
“Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus.” Ayat ini membuktikan bahwa suara hati, yaitu hati nurani adalah bagian dari roh manusia. Kita pernah nampak bahwa Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita (8:16). Tetapi dalam ayat ini dikatakan hati nurani bersaksi di dalam Roh Kudus. Jadi, kalau Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan roh kita, sedang hati nurani kita juga bersaksi bersama-sama dengan Roh Kudus, ini berarti hati nurani kita pasti adalah bagian dari roh kita.
Dalam hati nuraninya, Paulus bersaksi bahwa ia “sangat berdukacita dan bersedih hati” (ayat 2). Dukacita Paulus disebabkan harapannya agar saudara-saudara kaum sebangsanya dapat diselamatkan.
“Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (ayat 3). Ini suatu doa yang sangat serius. Doanya demikian tulus, sebab ia menginginkan orang Israel beroleh selamat. Berdoa demi keselamatan orang Israel itu perlu, tetapi agaknya keterlaluan jika sampai dirinya mau terkutuk dan terpisah dengan Kristus. Tak peduli tingkat rohani kita setinggi apa dan hidup di dalam roh sebaik apa, kita mungkin saja mengucapkan doa yang menyimpang dari kehendak Allah. Ketika Paulus berdoa bahwa ia mau terkutuk, terpisah dari Kristus, saya tidak percaya doa Paulus di sini berasal dari Tuhan. Percayakah Anda bahwa Tuhan menyuruhnya berdoa supaya dirinya terkutuk dan terpisah dengan Kristus? Saya yakin Tuhan tidak mungkin menuntut dia demikian. Kalau begitu apa alasan dia berdoa demikian? Itulah tekad dan kedambaannya yang kuat. Rasa kasihnya yang besar terhadap saudara-saudara sebangsanya itulah yang menyebabkan ia berdoa demikian.
Sering kali kita memiliki keinginan yang kuat akan sesuatu sehingga kita berdoa dengan ekstrim. Seorang sau-dara boleh jadi berdoa dengan ngotot dalam berbagai cara, bahkan dengan berpuasa, karena istrinya sakit keras. Doa-nya mungkin dikabulkan oleh Tuhan, tetapi tidak menuruti caranya. Demikian pula doa Paulus dalam ayat 3 tadi. Ia berdoa dengan keinginan yang amat besar; boleh saja Allah menyingkirkan dirinya dan membuatnya menjadi kutuk, asalkan saudara-saudara sebangsanya dapat diselamatkan. Allah mengabulkan doanya, tetapi tidak menuruti caranya itu.
“Mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak (beroleh keputraan), dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji” (ayat 4). Keputraan berarti hak pewaris. Apa artinya kemuliaan yang dikatakan dalam ayat 4? Allah paling sedikit telah dua kali menyatakan kemuliaan-Nya kepada orang Israel. Yang pertama adalah ketika Kemah Pertemuan (tabernakel) dibangun di padang gurun (Kel. 40:34), yang berikutnya adalah ketika diadakan pentahbisan atas selesainya pembangunan Bait Suci di Yerusalem (2 Taw. 5:13, 14). Pada kedua kesempatan itulah orang Israel melihat kemuliaan Allah. Perjanjian-perjanjian adalah perjanjian antara Allah dengan Abraham (Kej. 17:2; Kis. 3:25; Gal. 3:16-17) dan dengan bani Israel, di Sinai (Kel. 24:7; Ul. 5:2) dan di Moab (Ul. 29:1, 14). Perjanjian-perjanjian tersebut sangat dimustikakan oleh orang Israel (Ef. 2:12). Pemberian Taurat mengacu kepada hukum Taurat yang di-mustikakan oleh orang Israel (Ul. 4:13; Mzm. 147:19). Yang disebut ibadah di sini sudah tentu mengacu kepada ibadah imamat atau ibadah suku Lewi, sebab semua urusan yang bersangkutan dengan Kemah Pertemuan ditangani oleh imam dan suku Lewi. Janji-janji di sini adalah janji Allah kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan Daud (Rm. 15:8; Kis. 13:32).
Dikatakan dalam ayat 5, “Mereka adalah keturunan bapak-bapak leluhur, yang menurunkan Mesias (Kristus) secara jasmani, yang ada di atas segala sesuatu. Dialah Al-lah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Bapak-bapak leluhur ditujukan kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan lain-lainnya. Menurut sifat insani-Nya, Kristus berasal dari bangsa Israel. Paulus menjelaskan Kristus “Yang ada di atas segala sesuatu, adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Ketika Paulus menulis sampai di sini, pribadi Kristus yang mulia memenuhi-nya sehingga meluap ke luar dari dalam hatinya. “Kristus ada di atas segala sesuatu, Dialah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Kita harus memiliki kesan yang dalam terhadap fakta ini dan mengerti serta meng-hargai fakta bahwa Tuhan Yesus Kristus kita adalah Allah yang ada di atas segala sesuatu dan yang harus dipuji sam-pai selama-lamanya. Walaupun Ia secara daging berasal dari bangsa Yahudi, Ia adalah Allah yang tidak terbatas. Maka Yesaya 9:5 mengatakan, “Seorang anak telah lahir untuk kita . . . namanya disebutkan orang . . . Allah yang perkasa . . . “ Kita harus memuji-Nya karena ke-Allahan-Nya, dan menyembah-Nya sebagai Allah hingga kekal.
“Akan tetapi, firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (ayat 6). Dalam ayat 3 Paulus mendoakan harapannya agar saudara sebangsanya diselamatkan. Tetapi dalam ayat 6 ia mengatakan tentang ekonomi Allah. Kalau dalam ayat 3 ia dengan gigih berdoa, bahkan berani “terkutuk dan terpisah dari Kristus” demi orang Israel, namun dalam ayat 6 ia berkata, “tidak semua yang berasal dari Israel adalah orang Israel.” Dalam ekonomi Allah memang tidak semua orang yang berasal dari Israel, yaitu yang dilahirkan dari Israel adalah orang Israel sejati. Semua orang Yahudi dilahirkan dari Israel, tetapi tidak semuanya dipilih oleh Allah. Mereka berada dalam agama Yahudi, tetapi tidak semua beroleh selamat, sekalipun dari segi lahiriah mereka memiliki barang-barang yang indah, termasuk Kristus yang dijanjikan Allah dalam sabda kudus-Nya.
“Dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu” (ayat 7). Dalam ayat 6 dan 7 Paulus berada di bawah terang ekonomi Allah, dan melihat segalanya dengan jelas. Hanya yang berada dalam Ishaklah yang disebut keturunan Abraham. Kita tahu selain Ishak, Abraham mempunyai seorang anak lain yang bernama Ismail. Memang Ismail lahir dari Abraham, tetapi ia dengan keturunannya, orang Arab, bukanlah yang dipilih Allah. Mereka adalah anak-anak dalam daging, tidak dapat terbilang sebagai anak-anak Allah. Hanya Ishak dan ketu-runan dalam bagiannya itu yang dipilih Allah dan dianggap anak-anak Allah.
Ayat 8 meneruskan, “Artinya: Bukan anak-anak secara jasmani yang adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.” Menurut ekonomi Allah, anak-anak yang berasal dari daging bukanlah anak-anak Allah, melainkan anak-anak janji yang dianggap sebagai keturunan yang benar. Tidak semua keturunan Abraham adalah anak-anak Allah. Kelahiran alamiah tidaklah memadai untuk membuat mereka menjadi anak-anak Allah, mereka perlu dilahirkan kembali (Yoh. 3:7). Kata “anak-anak perjanjian” menunjukkan kelahiran kedua, karena hanya melalui kelahiran kedua barulah mereka dapat menjadi anak-anak perjanjian, dan terhitung sebagai keturunan yang benar.
“Sebab firman ini mengandung janji: Pada waktu se-perti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki. Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapak leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda, seperti ada tertulis: Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau” (ayat 9-13). Ayat-ayat di atas menyingkapkan suatu fakta bahwa pemilihan Allah tidak tergantung pada perbuatan manusia, melainkan mutlak berdasarkan pemilihan Allah. Kita tahu bahwa dari satu orang Ishak, Ribka mengandung dan melahirkan dua anak, yaitu Yakub dan Esau. Sebelum anak-anak itu dilahirkan dan sebelum mereka melakukan hal baik atau jahat, Allah mengatakan kepada Ribka bahwa kelak yang tua akan menjadi hamba yang muda, yaitu Esau akan menjadi hamba Yakub. Ini membuktikan bahwa pemilihan Allah tergantung pada kesukaan atau ketidak-sukaan Allah. Allah berkata, “Aku mengasihi Yakub, tetapi
membenci Esau.” ( Lihat Mal. 1:2-3). Kata-kata ini sangat keras. Kita mengira Allah hanya bisa mengasihi dan tidak bisa membenci, tetapi di sini kita melihat Allah membenci. “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Maka hanya orang-orang yang dikasihi dan dipilih Allah baru terbilang sebagai keturunan yang benar. Pemilihan Allah tergantung pada Ia sendiri yang memanggil menurut kesukaan-Nya, tidak tergantung pada perbuatan manusia. Meskipun Allah berfirman, “Keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak” (Kej. 21:12), tetapi di antara kedua anaknya itu hanya satu yang dipilih Allah. Ini pun mewahyukan fakta bahwa pemilihan Allah bukan tergantung pada kelahiran manusia. Allah tidak memilih orang berdasarkan hal-hal lain selain dari diri-Nya sendiri.
II TERGANTUNG PADA BELAS KASIHAN ALLAH
“Jika demikian, apa yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (ayat 14-15). Ketika Allah berkata, “Aku mau”, kita tak dapat membantahnya. Kita bukan Allah dan kita tidak memiliki kuasa kedaulatan-Nya. Kita mungkin dengan suatu alasan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau mengasihi Yakub tetapi membenci Esau?” Ia akan menjawab, “Jangan berdebat dengan-Ku. Aku berbuat semau-Ku. Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan. Setiap perkara tergantung pada kemauan-Ku.”
Apa perbedaan antara belas kasihan dengan kemurahan hati? Itu sulit dibedakan. Sungguhpun kemurahan hati sangat mirip dengan belas kasihan, saya merasa kemurahan hati lebih mendalam, lebih lembut, dan lebih kaya daripada belas kasihan. Menjajarkan kemurahan hati bersama belas kasihan dalam ayat ini, memperkuat fakta bahwa Allah penuh belas kasihan.
“Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah” (ayat 16). Belas kasihan menjangkau lebih jauh daripada kasih karunia. Kalau keadaan saya baik dan kedudukan saya sepadan dengan Anda, lalu Anda memberi saya sebuah hadiah, itu berarti kasih karunia. Tetapi bila saya dalam keadaan melarat dan kedudukan saya lebih rendah daripada Anda, lalu Anda memberi saya sebuah hadiah, itu berarti belas kasihan. Kalau saya adalah teman baik Anda dan Anda menghadiahkan sejilid Alkitab kepada saya, itu kasih karunia. Tetapi kalau saya adalah seorang pengemis miskin yang kotor, yang tidak mampu mencari nafkah, lalu Anda memberiku 10 dolar, itu bukan kasih karunia, melainkan belas kasihan. Jadi belas kasihan menjangkau lebih jauh daripada kasih karunia. Kasih Karunia hanya berlaku dalam keadaan yang sepadan, tetapi belas kasihan menjangkau dalam keadaan yang tidak layak menerima karunia. Menurut keadaan kita yang semula, kita terpisah jauh dari Allah, sama sekali tidak layak menerima kasih karunia-Nya. Kita hanya layak menerima belas kasihan-Nya. Sebab itu Roma 9:15 tidak mengatakan, “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa Aku mau memberi kasih karunia”, melainkan mengatakan, “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan.” Boleh jadi Anda mengira Yakub tidak memiliki kebaikan, ia licik, penuh tipu muslihat, dan Esau malah lebih baik daripadanya. Anda tidak salah. Memang Yakub kasihan sekali, namun itulah sebabnya Allah menunjukkan belas kasihan-Nya kepadanya. Belas kasihan Allah tidak tergantung pada kebaikan kondisi manusia, sebaliknya malah dinyatakan dalam keadaan manusia yang kasihan. Maka belas kasihan menjangkau lebih jauh daripada kasih karunia.
Justru belas kasihan Allah itulah yang telah menjangkau kita semua. Menurut keadaan kita, tidak seorang pun di antara kita yang layak dan sepadan dengan kasih karunia-Nya. Alangkah miskin dan kasihannya kita ini sehingga perlu ada belas kasihan Allah, untuk menjembatani jurang yang memisahkan kita dengan Allah. Justru belas kasihan-Nya itulah yang membawa kita ke dalam kasih karunia-Nya. Betapa perlunya kita menyadari hal ini dan menyembah Allah atas belas kasihan-Nya itu! Bahkan sekarang, yaitu setelah kita beroleh selamat dan mengambil bagian dalam kelimpahan hayat-Nya, adakalanya kita tetap memerlukan belas kasihan-Nya untuk menjembatani jurang pemisah itu. Itulah sebabnya Ibrani 4:16 mengatakan bahwa pertama-tama kita memerlukan belas kasihan, kemudian baru beroleh kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. Oh, betapa perlunya kita beroleh belas kasihan-Nya! Kita harus memustikakan belas kasihan Allah seperti kita menghargai kasih karunia-Nya. Belas kasihan Allah selalu melayakkan kita berbagian dalam kasih karunia-Nya.
Jadi, “hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah.” Menurut pikiran kita, orang yang berkehendak adalah orang yang akan memperoleh apa yang dikehendakinya, dan orang yang berusahalah yang akan memperoleh apa yang dikejarnya. Jika demikian, maka pemilihan Allah tentulah tergantung pada daya upaya atau usaha kita. Namun tidak demikian, semuanya tergantung pada Allah yang menyatakan belas kasihan. Kita tidak perlu berusaha dan berkehendak, karena Allah telah membelaskasihani diri kita. Jika kita memahami belas kasihan Allah, kita tidak akan mengandalkan usaha kita, kita pun tidak akan kecewa atas kegagalan kita. Dalam kondisi kita yang celaka ini, harapan kita hanya tergantung pada belas kasihan Allah.
“Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: Itulah sebabnya Aku mengangkat engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi” (ayat 17). Atas diri Firaun Allah menyatakan kuasa-Nya, bukan belas kasihan-Nya, supaya nama-Nya dimasyhurkan di seluruh bumi. Hal ini menunjukkan bahwa musuh Allah pun berguna untuk menggenapkan kehendak-Nya. Ayat 18, “Jadi, Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia mengeraskan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Apakah yang hendak kita katakan tentang hal ini? Kita tidak dapat berkata apa-apa, hanya dapat menyembah jalan Allah. Setiap perkara tergantung pada apa yang hendak dilakukan-Nya. Dialah Allah!
III. TERGANTUNG PADA KEDAULATAN ALLAH
Paulus melanjutkan, “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?” Kita sekalian wajib mengerti siapa kita ini. Kita adalah makhluk ciptaan Allah dan Dia adalah Pencipta kita. Sebagai makh-luk ciptaan-Nya, kita tidak patut mengatakan apa-apa kepada Allah, Sang Pencipta. Maka Paulus bertanya, “Dapat-kah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: Mengapa engkau membentuk aku demikian? Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu bejana untuk tujuan yang mulia dan yang lain untuk tujuan yang biasa?” (ayat 19-21). Allah adalah Tukang periuk dan kita adalah tanah liat. Sebagai Tukang periuk, Allah memiliki wewenang atas tanah liat itu. Kalau Dia menghendaki, Dia dapat membuat satu bejana untuk maksud yang mulia dan bejana lain untuk maksud yang kurang mulia. Hal ini tidak tergantung pada pemilihan kita, melainkan pada kedaulatan-Nya.
Roma 9:21 menyingkapkan maksud tujuan Allah dalam menciptakan manusia. Ayat ini dengan unik mewahyukan tujuan Allah tersebut. Tanpa ayat ini kita sulit memahami bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah membuatnya menjadi bejana untuk menampung diri-Nya sendiri. Kita sekalian wajib memahami sejelas-jelasnya bahwa kita adalah wadah Allah, dan Allah adalah isi kita. 2Korintus 4:7 menerangkan, “Tetapi harta (mustika) ini kami miliki dalam bejana tanah liat.” Kita adalah bejana tanah liat, dan harta atau isinya adalah Allah sendiri. Allah dengan kedaulatan-Nya menciptakan kita menjadi bejana-Nya menurut penen-tuan-Nya.
Dalam 2Timotius 2:20-21 mengetengahkan pemikiran yang serupa, di mana dilukiskan bahwa kita adalah perabot rumah untuk maksud yang mulia. Karenanya kita harus menyucikan diri kita dari hal-hal yang jahat atau hina, agar kita menjadi kudus dan layak dipakai Tuhan. Akan tetapi bisa menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia bukan hasil pilihan kita sendiri, melainkan dari kedaulatan-Nya. Demi kedaulatan-Nya, Allah menyatakan kemuliaan-Nya dengan membentuk bejana belas kasihan-Nya untuk menampung diri-Nya sendiri. Kalimat ini sangat dalam. Kedaulatan Allah adalah dasar dari pemilihan-Nya. Pemilihan-Nya tergantung pada kedaulatan-Nya.
“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap bejana-bejana kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan” (ayat 22). Apa yang dapat kita katakan tentang ini? Tak dapat mengatakan apa-apa. Dialah Tukang periuk, Dia berkuasa. Manusia hanya tanah liat be-laka.
“Justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiap-kan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya, bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain” (ayat 23-24). Segalanya tergantung pada kuasa kedaulatan Allah. Allah berkuasa membuat kita, yang dipilih dan bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara orang kafir, menjadi bejana belas kasihan-Nya, guna menampung-Nya agar ke-kayaan kemuliaan-Nya dapat dinyatakan. Menurut kuasa kedaulatan-Nya itu, Ia sejak dini telah mempersiapkan kita untuk kemuliaan-Nya ini. Kita telah ditentukan sejak semula oleh kedaulatan-Nya menjadi bejana, yaitu bejana mulia untuk mengekspresikan hakiki-Nya dalam kemuliaan. Ini bukan masalah belas kasihan melulu, melainkan juga masalah kedaulatan-Nya.
Pemilihan Allah mempunyai satu sasaran, yakni memperoleh banyak bejana guna menampung Allah dan mengekspresikan Dia sampai kekal. Banyak sekali orang di antara kita yang telah kehilangan sasaran Allah ini, mengira Allah hanya menyatakan kasih-Nya untuk menyelamatkan kita. Memang betul, Allah mengasihi kita. Namun kasih-Nya bukan hanya untuk menyelamatkan kita, tetapi juga membentuk kita menjadi bejana-Nya. Allah menciptakan kita sedemikian rupa supaya kita dapat menerima dan me-nampung Dia ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat kita, agar tercapai satu tujuan, yakni kita bisa bersatu dengan Dia, untuk mengekspresikan hakiki-Nya, sehingga Dia dimuliakan di dalam kita dan bersama kita. Inilah sasar-an kekal pemilihan Allah, juga nasib kekal kita.
Bagian firman ini juga menunjukkan puncak dari kegunaan kita bagi Allah, yaitu bukan sekadar menjadi hamba, imam, dan raja, lebih-lebih menjadi bejana yang diisi oleh-Nya dan mengekspresikan Dia. Bila kita mau dipakai sebagai bejana Allah, tentu Dia harus menjadi satu dengan kita. Kita adalah bejana-Nya dan ekspresi-Nya, Dialah isi kita dan hayat kita. Dia hidup di batin kita, agar kita boleh hidup oleh Dia. Akhirnya Dia dan kita, kita dan Dia menjadi satu dalam hayat dan sifat. Itulah sasaran pemilihan-Nya menurut kedaulatan-Nya. Itu juga nasib kita menurut pemilihan-Nya yang akan ternyata sepenuhnya di dalam Yerusalem Baru.
Ayat 25-26 adalah kutipan kata-kata kitab Hosea, yang memperkuat fakta bahwa ada sebagian orang kafir juga terpilih menjadi umat Allah.
Ayat 27-29 adalah kutipan dari kitab Yesaya, yang memperkuat fakta bahwa tidak semua orang Israel dipilih oleh Allah, hanya sejumlah sisa dari antara mereka sebagai benih-benih yang dipelihara oleh Tuhan, itulah yang diselamatkan.
IV. BERDASARKAN KEBENARAN IMAN
Pemilihan Allah juga dilakukan demi kebenaran iman. “Jika demikian, apa yang hendak kita katakan? Ternyata, bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran berdasarkan iman” (ayat 30). Bangsa-bangsa lain, yaitu orang kafir, telah beroleh kebenaran, walaupun mereka tidak mengejarnya. Kebenaran ini bukan kebenaran Taurat, melainkan kebenaran berdasarkan iman. Bangsa-bangsa kafir ini telah berbagian dalam pemilihan Allah berdasarkan kebenaran Allah yang berasal dari iman.
“Sedangkan Israel, sungguh pun mengejar hukum (Taurat) yang akan mendatangkan kebenaran, tidak sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejar-nya bukan berdasarkan iman, tetapi berdasarkan perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada ter-tulis: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang per-caya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan” (ayat 31-32). Kita selamanya takkan beroleh kebenaran berdasarkan me-ngejar hukum kebenaran. Orang Israel ingin membangun kebenarannya sendiri, maka mereka jatuh tersandung “batu sandungan”, yaitu Kristus. “Batu karang yang menjatuhkan orang”. Namun, “siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan”.
Karena ada sangkut pautnya dengan masalah ini, kita juga perlu membaca Roma 10:1-3, “Saudara-saudara, ke-inginan hatiku dan doaku kepada Allah ialah, supaya me-reka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran oleh Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran diri mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Tl.). Kita bisa jadi sangat bergairah terhadap Allah, tetapi kita tidak mengenal jalan-Nya. Orang-orang Yahudi telah dan terus-menerus tersesat dari sasaran pemilihan Allah itu. Karena mereka tidak mengenal kebe-naran Allah, dan ingin mendirikan kebenarannya sendiri melalui memelihara hukum Taurat, mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah, yaitu Kristus sendiri. Maka mereka kehilangan karunia keselamatan Allah. Setiap usaha me-melihara hukum Taurat atau berbuat baik untuk mencari perkenan Allah, sebagai usaha manusia untuk mendirikan kebenarannya sendiri, akan mengakibatkan dia tersesat dari jalan karunia keselamatan Allah.