AHLI WARIS KEMULIAAN (4)
2. Demi Bekerjasamanya Semua Perkara yang di Luar
Kita tak mungkin mengelak dari proses yang dikatakan dalam berita yang lalu, sebab itu adalah tujuan dari syafaat Roh Kudus yang disertai keluhan. Allah Bapa mengetahui maksud keluhan Roh itu, dan karenanya Ia mengatur segala perkara untuk bekerja sama (ayat 28). Dalam ayat 26-27 dikatakan tentang syafaat Roh itu, lalu dalam ayat 28 dikatakan, “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roh Kudus mengeluh di dalam kita sambil bersyafaat bagi kita, dan Allah Bapa menjawab syafaat ini dengan mengatur segala perkara yang bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan. Istilah “segala sesuatu” dalam bahasa Yunani berarti segala manusia, urusan, benda, dan segala-galanya. Allah Bapa berdaulat dan mengatur segala sesuatu. Dia tahu Anda membutuhkan berapa helai rambut (Mat. 10:30), dan Anda perlu mempu-nyai berapa anak. Janganlah mengeluh tentang anak-anak Anda, karena Allah tidak memberikan anak-anak itu lebih banyak atau lebih sedikit daripada yang Anda butuhkan. Dialah yang berdaulat. Dia tahu Anda memerlukan anak yang penurut atau yang nakal. Dia pun tahu Anda perlu anak laki-laki atau perempuan. Sekali lagi saya katakan, Dia tahu. Dia mengatur segala manusia, segala urusan, dan segala benda, bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda. Allah seakan-akan mengurbankan segala sesuatu untuk Anda. Bagi seorang suami, istrinya adalah suatu kurban. Bagi seorang istri, suaminya adalah suatu kurban. Bagi anak-anak, orang tua mereka adalah suatu kurban, dan bagi orang tua, anak-anak mereka sebagai suatu kurban. Siapa yang dapat melakukan pekerjaan semacam ini? Allah sendiri. Saya pernah berkata demikian kepada Tuhan, “Ya, Tuhan, mengapa Engkau mengurbankan semua orang bagiku?” Batin saya merasa bahwa semua saudara yang berkoordinasi dengan saya, bahkan seluruh gereja, adalah suatu kurban bagi saya. Namun, ketika Anda menderita, saya menderita lebih banyak. Ketika sang istri menderita kerugian, sang suami menderita lebih banyak. Ketika anak-anak menderita, orang tua menderita lebih banyak. Terpujilah Tuhan! Allah telah mengatur segala perkara, segala manusia, dan segala benda, supaya bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya, yaitu mereka yang terpanggil oleh-Nya sampai kesudahannya agar Ia dapat menggenapkan kehendak-Nya.
Allah sejak dini sudah menetapkan nasib kita. Tetapi nasib ini tidak dapat tergenap tanpa pengaturan ilahi yang membuat segala perkara bekerja sama untuk kita. Nasib kita ialah diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Sekarang kita masih belum memiliki gambar Putra Sulung Allah dengan sepenuhnya. Namun Allah Bapa sedang merencanakan, membentuk, dan melaksanakan hal itu dengan membuat segala sesuatu bekerja sama agar kita beroleh kebaikan. Terpujilah Tuhan! Ketika kita bertumbuh dewasa, Dia membentuk kita.
Kita semua harus terhibur. Kalau Anda mempunyai seorang istri yang baik, pujilah Tuhan untuk istri Anda yang baik itu. Kalau Anda mempunyai seorang istri yang kurang baik, Anda malah harus lebih banyak memuji Tuhan atas istri Anda yang kurang baik itu. Tak peduli Anda mempunyai istri yang baik atau yang kurang baik, suami yang baik atau yang kurang baik, anak-anak yang penurut atau yang bandel, Anda harus terhibur. Anda harus berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, aku bisa salah, dan sering salah, tetapi Engkau selamanya tidak pernah salah. Bahkan semua kesalahanku ada dalam tangan-Mu. Kalau Engkau tidak mengijinkan aku salah, asal Engkau menggerakkan jari-Mu dan mengubah keadaan, pasti aku tidak sampai berbuat kesalahan. Segala sesuatu ada dalam tangan-Mu”. Karena itulah kita semua harus terhibur.
Akan tetapi, jangan terlampau rohani, sehingga terjerumus ke dalam keadaan ekstrim, dan berdoa kepada Bapa untuk minta penderitaan. Kita tidak boleh berdoa minta penderitaan. Anda harus berdoa demikian, “Ya Bapa, lepaskanlah aku dari godaan, lepaskanlah aku dari segala penderitaan. Jauhkanlah aku dari berbagai gangguan.” Walau Anda berdoa demikian, kesukaran dan penderitaan masih mungkin menimpa Anda. Tetapi ketika semua itu menimpa Anda, Anda jangan mengeluh, jangan bingung, melainkan katakanlah, “Ya Bapa, aku bersyukur atas penderitaan ini! Ya Bapa, jika Engkau berkenan, biarlah cawan ini Kau singkirkan dari diriku. Tetapi ya Bapa, jangan menurut kehendakku, melainkan kehendak-Mu.” Itulah sikap yang wajar. Jangan berdoa meminta penderitaan datang, tetapi berdoalah agar Bapa menjauhkan Anda dari segala penderitaan. Namun tatkala penderitaan datang, jangan putus asa, tetapi terimalah, dan lanjutkan berdoa, “Ya Bapa, jika boleh, singkirkanlah ini. Lindungilah aku di hadapan-Mu, supaya aku dijauhkan dari segala kesukaran dan penderitaan.” Di satu pihak kita harus berdoa demikian, di pihak lain kita harus bersukacita atas segala sesuatu yang Bapa berikan kepada kita; karena kita tahu, segala perkara ada di dalam tangan-Nya, dan perbuatan-Nya itu tak lain agar kita diserupakan dengan gambar Putra sulung-Nya. Penyerupaan ini adalah persiapan untuk pemuliaan kita.
Baiklah sekarang kita melihat ayat 31, “Sebab itu, apa yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Kita tidak boleh menerima kata-kata ini menurut konsepsi alamiah kita. Allah tidak membantu kita menurut cara kita, me-lainkan menurut cara Dia.
Ayat 32 mengatakan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Istilah “segala sesuatu” di sini dalam bahasa Yunaninya adalah panta yang berarti segala manusia, urusan, dan benda. Semuanya itu telah dikaruniakan dengan cuma-cuma kepada kita. Kita harus percaya bahwa segala sesuatu bekerja sama untuk memberi manfaat bagi kita. Bahkan musuh kita pun akan mendatangkan kebaikan bagi kita.
“Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (ayat 33). Hanya Allahlah yang layak menggugat kita, tetapi Dia telah mem-benarkan kita.
“Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus yang telah mati, bahkan lebih lagi, yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang juga bersyafaat bagi kita” (Tl.). Dalam ayat 10 kita tahu bahwa Kristus ada di dalam kita, tetapi dalam ayat 34 ini kita tahu Kristus ada di sebelah kanan Allah. Maka dalam satu pasal ini kita diberi tahu bahwa Kristus ada di dua tempat di dalam kita dan di sebelah kanan Allah. Di manakah Kristus? Karena Dialah Roh itu (2 Kor. 3:17) Dia mahahadir. Dia di surga juga di bumi, di sebelah kanan Allah, juga di dalam roh kita. Menurut ayat 26, Roh itu bersyafaat bagi kita di dalam kita, sedang menurut ayat 34, Kristus di sebelah kanan Allah bersyafaat bagi kita. Kalau begitu apakah kita memiliki dua Pensyafaat, satu di dalam kita dan satu di sebelah kanan Allah? Tidak, keduanya itu sebenarnya satu. Itu serupa dengan listrik. Dalam rumah kita ada listrik, di pembangkit tenaga listrik juga ada listrik, namun listriknya hanya satu. Demikian pula, Kristus bersyafaat bagi kita, di sebelah kanan Allah juga di dalam roh kita.
Sekarang saya meminta Anda memperhatikan satu fakta, bahwa semua kata kerja dalam ayat 30 adalah berbentuk lampau. Baiklah kita membaca lagi ayat 30 ini, “Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Kalau perihal pemuliaan terjadi di kemudian hari, mengapa Paulus berkata, “Mereka juga (telah) dimuliakan (glorified)” bukan “mereka akan dimuliakan-Nya”? Walaupun pemuliaan tersebut belum terjadi, namun Paulus memakai bentuk lampau. Apakah maksudnya? Sekali lagi kita nampak, dalam membaca Alkitab, kalau kita hanya membaca huruf-huruf hitam yang tercetak di atas kertas putih, kita pasti akan menjumpai kesulitan. Sudahkah perihal pemuliaan itu rampung? Mengapa rasul Paulus berkata “telah dimuliakan”? Sudahkah Anda dimuliakan? Alkitab mengatakan bahwa kita telah dimuliakan. Setiap perkara dalam ayat 30 adalah fakta yang telah genap telah ditentukan, telah dipanggil, telah dibenarkan, telah dimuliakan. Tidaklah salah mengatakan bahwa kita “telah ditentukan” sebab hal ini adalah suatu perbuatan yang telah selesai. Kita pun bisa mengatakan bahwa kita “telah dipang-gil”; namun masih banyak orang yang belum dipanggil, maka kita perlu memberitakan Injil kepada orang-orang itu, supaya mereka bisa dipanggil. Selain itu, walaupun kita telah dibenarkan, masih banyak pula orang yang baru bertobat akan dibenarkan. Tidak saja demikian, di tengah-tengah kita tidak ada seorang pun, termasuk Paulus sendiri, yang telah dimuliakan. Namun Paulus mengatakan semua perkara itu dalam bentuk kala lampau.
Kita harus ingat, bahwa kita terbatas oleh waktu. Seorang guru besar pernah berkata bahwa di surga tidak ada jam, sebab Allah adalah Allah yang kekal. Dialah Allah yang kekal, Dia melampaui waktu. Kapan Anda dimuliakan? Anda telah ditentukan, dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan dalam kekekalan yang lampau. Dalam pandangan Allah dan menurut konsepsi-Nya, segala sesuatu telah genap. Coba beri tahu saya, jika pemuliaan belum terlak-sana, mengapa rasul Yohanes dapat nampak Yerusalem Baru pada 1900 tahun yang lalu? Ia bukan bermimpi, ia benar-benar nampak (Why. 21:2). Pernahkah Anda perhatikan bahwa dalam kitab Wahyu yang penuh catatan nubuat tentang perkara yang akan terjadi kelak itu, kata-kata kerja yang dipakai hampir semua berbentuk lampau, yang membuktikan bahwa segala perkaranya telah terjadi? Mengapa saya menyinggung hal ini? Karena hal ini menjelaskan mengapa ayat 31 melanjutkan ayat 30. Penentuan kita telah dijamin dan kita tidak perlu asuransi. Pembenaran dan pemuliaan kita telah mendapat jaminan dalam Allah yang kekal. Tidak ada kantor asuransi dunia yang bisa dibandingkan dengan Dia. Dia sendiri adalah perusahaan asuransi yang terbesar. Karunia keselamatan, pembenaran, dan pemuliaan kita telah diasuransikan, sebab Ia telah merampungkan segala sesuatu. Menurut perasaan kita, pemuliaan akan terjadi di kemudian hari, namun menurut konsepsi Allah, hal tersebut telah terjadi. Bagi Allah, setiap perkara tidak tergantung pada waktu. Penentuan, pemanggilan, pembenaran, dan pemuliaan adalah hal yang kekal, bukan hal yang terjadi dalam waktu. Karenanya, kita telah diasuransikan.
D. DIMULIAKAN
1. Penyataan Putra-putra Allah dalam Kemerdekaan Kemuliaan
Sekarang marilah kita lihat soal pemuliaan, dan kita baca dahulu ayat 19, “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan”. (Istilah “dinyatakan” lebih tepat diterjemahkan “diwahyu-kan”). “Diwahyukan” berarti dibuka selubungnya. Ada suatu benda terselubung, pada suatu hari selubung itu disingkirkan, sehingga benda tersebut terwahyukan. Walaupun kita adalah putra-putra Allah, tetapi kita masih terselubung, belum diwahyukan. Tatkala Tuhan Yesus di bumi, Ia adalah Putra Allah, namun Ia tertutup oleh daging insani-Nya. Pada suatu hari Ia telah menyingkirkan selubung-Nya dan mewahyukan diri-Nya di gunung (Mat. 17:1-2). Kita pun demikian. Walaupun kita kini adalah putra-putra Allah, tetapi kita berada di balik selubung. Suatu hari kelak, selubung itu akan disingkirkan itulah saat kita dimuliakan. Putra-putra Allah akan ke luar dari selubungnya dan diwahyukan. Pada waktu itu, alam semesta akan nampak putra-putra Allah.
Semua makhluk dengan sangat rindu menantikan diwahyukannya putra-putra Allah. “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (ayat 20-21). Kita sudah nampak bahwa segenap makhluk ditaklukkan di bawah kesia-siaan, belenggu, dan perbudakan kebinasaan. Satu-satunya harapan mereka ialah dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah, ketika putra-putra Allah dinyatakan. Pada saat itulah mereka baru akan beroleh kemerdekaan dari perbudakan kebinasaan, serta memasuki kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Meskipun seluruh makhluk ciptaan saat ini berada di bawah kesia-siaan dan kebinasaan, Allah akan mendatangkan satu kerajaan untuk menggantikan keadaan ini. Keadaan dewasa ini adalah kondisi di bawah kesia-siaan dan kebinasaan, sedang kerajaan yang akan datang adalah satu kerajaan yang dipenuhi dengan kemuliaan Allah, yang terbentuk dari putra-putra Allah yang telah diwahyukan itu. Pada saat kerajaan itu diwahyukan, segenap makhluk akan beroleh kemerdekaan. Karenanya segenap makhluk sangat merindukan dan menantikan tibanya kerajaan tersebut. Maka “Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (ayat 22). Alam semesta sama-sama mengeluh dan merasa sakit bersalin, sambil menantikan diwahyukannya putra-putra Allah. Tidak saja demikian, bahkan kita sendiri yang telah menerima buah sulung Roh itu juga bersama-sama mengeluh, yaitu mengharapkan keputraan, yakni penebusan tubuh kita (ayat 23).
Dalam ayat 24 Paulus melanjutkan, “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Pengharapan yang dikatakan di sini ialah pengharapan kemuliaan. Oleh karena tidak seorang pun di antara kita yang pernah melihat pengharapan ini, maka pengharapan ini adalah pengharapan yang lengkap dan sejati. Ada beberapa peng-harapan yang hanya sebagian saja, sebab kita sudah melihatnya sedikit. Namun pengharapan kemuliaan di sini adalah yang sempurna, karena belum pernah kita lihat sedikit pun. Karena itu, kita sedang menantikan pengharapan ini, “menantikan dengan tekun” (ayat 25).
2. Bersama Menikmati Kemuliaan Allah
Roma 5:2 mengatakan, “Kita bermegah dalam peng-harapan akan menerima kemuliaan Allah.” Pasal 9:23 mengatakan bahwa kita adalah “bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan.” Kemuliaan ini adalah kemuliaan yang terwujud ketika kerajaan yang akan tiba itu diwahyukan, dan juga yang akan kita miliki pada saat diwahyukan sebagai putra-putra Allah kelak. Allah telah memanggil kita memasuki kemuliaan ini (1 Tes. 2:12; 2 Tes. 2:14; 1 Ptr. 5:10). Kristus sendiri adalah pengharapan kemuliaan ini (Kol. 1:27), yang kita harapkan dan nantikan. Pengharapan kita tidak lain, Kristus sendiri yang akan diwahyukan sebagai kemuliaan kita. Sekarang kita bersukacita dan bermegah dalam pengharapan kemuliaan ini. Pada saat pemuliaan, kita akan bersama menikmati kemuliaan ini. Ketika Kristus dinyatakan, kita pun akan menyatakan diri bersama-Nya dalam kemuliaan (Kol. 3:4). Inilah nasib kita.
III. AHLI WARIS YANG TIDAK DAPAT
DIPISAHKAN DARI KASIH ALLAH
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan” (ayat 35-36). Walaupun di sini disinggung tentang penderitaan, namun ayat-ayat berikutnya diumumkan demikian, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (ayat 37-39). Kita tidak terkalah-kan, kita lebih daripada orang-orang yang menang, sebab Allah mengasihi kita. Mengapa Allah begitu memperhatikan kita, dan melakukan begitu banyak bagi kita? Tidak lain karena kita adalah kekasih-Nya. Tidak seorang pun dapat memisahkan kita dari kasih-Nya itu. Sekali Ia mengasihi kita, Ia akan mengasihi kita selama-lamanya dengan kasih yang kekal. Tidak ada satu hal pun yang dapat memisahkan kita dengan Dia. Karena Ia mengasihi kita, karena kita adalah kekasih-Nya, lambat atau cepat kita pasti akan dikuduskan, diubah, diserupakan, dan dimuliakan.
Paulus sangat berhikmat dan berpikiran dalam. Seperti yang telah saya kemukakan di depan, berdasarkan tiga atribut Allah keadilan-Nya, kekudusan-Nya, dan kemuliaan-Nya ia menyusun tiga bagian surat Roma. Tetapi pada akhirnya, ia membawa kita memasuki kasih Allah. Jadi pada kesudahannya, jaminan kita bukan hanya keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah, tetapi juga kasih Allah. Apakah kasih Allah? Kasih adalah hati Allah. Kasih Allah terbit dari hati Allah. Keadilan ialah cara Allah, kekudusan ialah sifat Allah, kemuliaan ialah ekspresi Allah, dan kasih adalah hati Allah. Sesudah membicarakan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah, Paulus membawa kita memasuki hati kasih Allah. Mengapa Allah menyatakan keadilan-Nya? Sebab manusia telah jatuh. Manusia telah bermasalah dengan Allah, dan memerlukan keadilan-Nya. Mengapa Allah harus menerapkan kekudusan-Nya? Sebab manusia telah menjadi duniawi atau awam. Allah harus menguduskan setiap orang awam yang telah dipilih-Nya itu. Mengapa Allah harus mengaruniakan kemuliaan-Nya kepada kita? Karena seluruh manusia pilihan-Nya dalam keadaan yang hina, buruk, dan rendah. Maka, Ia perlu menggunakan kemuliaan-Nya untuk mengubah rupa kita. Akan tetapi apakah yang terkandung dalam hati Allah sejak mula? Kasih. Sebelum Allah menyatakan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan-Nya, Ia telah mengasihi kita. Kasih adalah pancaran, akar, dan sumber dari semuanya itu. Allah mengasihi kita sebelum Ia menentukan kita, Allah mengasihi kita sebelum Ia memanggil, membenarkan, dan memuliakan kita. Ia sudah mengasihi kita sebelum terjadinya segala perkara ter-sebut. Karunia keselamatan kita bersumber dari kasih Allah. Kasih adalah sumber dari segala perkara yang Allah laku-kan bagi kita. Kasih ini ialah hati-Nya. Kasih ialah sumber keselamatan kekal Allah yang mencakup penebusan, pem-benaran, perujukan, pengudusan, pengubahan, penyerupaan, dan pemuliaan. Karunia keselamatan berasal dari kasih Allah.
Karena itu, setelah karunia keselamatan Allah genap, kasih-Nya tetap menjadi jaminan kita. Kasih Allah bukan hanya sumber karunia keselamatan kita, tetapi juga jaminan karunia keselamatan kita. Banyak orang Kristen membicarakan tentang jaminan kekal. Jaminan kekal adalah kasih Allah. Allah tidak dapat keliru dalam atribut-atribut-Nya. Jaminan kita adalah kasih-Nya. Dalam ayat 31 Paulus bertanya, “Sebab itu, apa yang akan kita katakan?” Apa yang akan kita katakan mengenai masalah penentuan, pemanggilan, pembenaran, dan pemuliaan? Kita tidak dapat berkata apa-apa, selain berkata, “Haleluya! Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Sekarang kita bisa memahami kata-kata ini lebih mendalam. Allah adalah untuk kita, sebab sejak kekekalan hati Allah telah mengasihi kita. Karena itu, kasih Allah adalah jaminan kita.
Dalam Roma 5:8 Paulus telah menjamah kasih Allah ini, ketika ia berkata, “Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.” Ini benar-benar suatu pengantar dan rekomendasi kasih Allah. Ketika kita percaya Tuhan Yesus, Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (5:5). Walau dalam Roma 5 tadi Paulus sudah menjamah kasih Allah, tetapi ia belum membicarakannya secara memadai. Namun ia telah memilih waktu dan tempat yang tepat, yaitu setelah ia membicarakan semua masalah tentang penentuan, pemanggilan, pembenaran, dan pemuliaan yang begitu luas, pada akhirnya barulah dinyatakannya kasih Allah kepada kita dengan sepenuhnya. Paulus yakin, tiada apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, sebab ia tahu bahwa kasih ini bukan ber-asal dari kita dan bukan tergantung pada kita, melainkan pada Allah. Kasih ini bukan diawali oleh kita, melainkan diawali Allah dalam kekekalan. Sebab itu, Paulus dapat mengatakan bahwa kita dapat mengalahkan segala sesuatu. Paulus percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat “memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Istilah “Di dalam Kristus Yesus” mengandung arti yang sangat dalam. Mengapa Paulus berkata begitu? Sebab ia tahu, bila kasih Allah ditampilkan di luar Kristus, akan timbul persoalan. Di luar Kristus Yesus, dosa yang kecil saja, seperti marah, bisa memisahkan kita dari kasih Allah. Namun kasih Allah bukan saja kasih Allah itu sendiri, tetapi kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus. Karena kasih Allah ada di dalam Kristus Yesus, maka segala perkara telah terjamin dan kita dijamin bahwa tidak akan ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Paulus percaya sepenuhnya bahwa dalam segala perkara “kita lebih daripada menang, melalui Dia yang mengasihi kita.” Ini tidak berarti kita bisa menang di dalam diri kita sendiri, melainkan berarti Allah adalah kasih dan Kristus adalah pemenang. Allah mengasihi kita dan Kristus telah merampungkan segala sesuatu bagi kita. Karena kasih Allah itu kekal dan kasih-Nya di dalam Kristus Yesus adalah jaminan kita. Kita tidak hanya berada di bawah kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah, kita pun ada di dalam hati kasih Allah. Sekarang kita dapat mengerti 2 Korintus 13:14 yang me-ngatakan “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Kasih Allah (anugerah) adalah sumbernya. Karena itulah Paulus membawa kita melalui keadilan Allah, kekudusan Allah, dan kemuliaan Allah ke dalam hati Allah yang pengasih. Inilah tempat kita berada. Haleluya! Inilah bukti asuransi kekal kita. Sekarang Anda tahu bagaimana harus menjawab bila orang bertanya kepada Anda, apakah Anda sudah ikut asuransi. Anda dapat berkata, “Aku sudah diasuransikan. Asuransiku adalah Roma 8:31-39. Aku telah diasuransikan dengan kasih dalam hati Allah.” Kita sekalian telah diasuransikan dengan kasih kekal Allah dalam Kristus Yesus.