AHLI WARIS KEMULIAAN (3)
II. AHLI WARIS YANG DISERUPAKAN UNTUK
PEMULIHAN
A. BANYAK SAUDARA DARI PUTRA SULUNG
Dalam dua berita yang lalu kita telah melihat tentang berkat keputraan. Dalam berita ini kita akan melihat bahwa ahli waris diserupakan untuk dimuliakan. Ahli waris itu akan diserupakan dengan apa? Dengan gambar Kristus, Putra sulung Allah (Ibr. 1:5, 6). Kristus adalah Putra sulung Allah, dan kaum beriman adalah putra-putra Allah (Ibr. 2:10). Sebagai Putra sulung Allah, Kristus merupakan suatu prototipe, teladan, model, dan pola semula bagi semua saudara-Nya, yakni putra-putra Allah yang akan diserupakan dengan gambar-Nya. Penyerupaan ini adalah untuk pemuliaan yang akan datang. Kita tidak patut mengharapkan pemuliaan tanpa didahului dengan pertumbuhan hayat dan diserupakan dengan gambar Putra Allah. Kalau kita meng-harapkan pemuliaan tanpa diserupakan dengan gambar Putra Allah, kita pasti akan kecewa. Pemuliaan yang akan datang itu tergantung pada penyerupaan kita dengan gambar Putra Allah. Jadi, pemuliaan tergantung pada pertumbuhan hayat kita.
Sekali lagi saya mengambil perumpamaan biji bunga anyelir. Biji-biji itu ditabur ke dalam tanah dan bersemi, itulah kelahiran kembali. Kemudian tanaman anyelir itu bertumbuh, itulah pertumbuhannya dalam hayat, yakni tahap pengubahan. Akhirnya anyelir itu bertumbuh sampai tahap berbunga, itulah pengubahan rupa dan pemuliaan. Jadi tahap pohon anyelir berbunga, adalah tahap pemuliaannya. Kalau dalam tahap bersemi anyelir itu berharap berbunga dan dimuliakan tanpa proses pertumbuhan, saat berbunga itu selamanya takkan kunjung tiba. Jika Anda tidak bertumbuh dalam hayat, tetapi Anda menantikan waktu berbunga, waktu pemuliaan itu sama dengan mimpi. Namun, justru itulah keadaan kebanyakan orang Kristen hari ini.
Baru-baru ini saya makan malam bersama dengan beberapa teman Kristen yang sangat mengetahui situasi dunia luar. Mereka memberi tahu saya bahwa dewasa ini banyak orang Kristen yang sangat tertarik pada dua nubuat utama: nubuat tentang pengangkatan dan kedatangan Tuhan. Namun, jika kita mengharap terangkat tanpa bertumbuh dalam hayat, itu berarti kita adalah tukang mimpi, karena pengangkatan sebenarnya adalah pengubahan rupa dan pemuliaan kita. Biji anyelir tidak bisa dalam semalam bertumbuh dari tunas yang lembut langsung berbunga. Coba pikir, jika sebatang pohon anyelir yang masih berupa tunas lembut bermimpi ingin dalam semalam bertumbuh langsung berbunga, itu hanya mungkin terjadi dalam mimpi, bukan dalam kehidupan yang riil. Sebab pertumbuhan yang abnormal mutlak berlawanan dengan hukum hayat. Menurut hukum hayat, sebatang pohon anyelir harus bertumbuh sedikit demi sedikit, hingga mencapai kematangannya. Setelah itu barulah ia berbunga. Demikian juga, kita harus bertumbuh sedikit demi sedikit, hingga mencapai kedewasaan (Ef. 4:13). Begitu kita mencapai tahap berbunga, kita siap untuk diubah rupa dan dimuliakan. Maka pengubahan rupa dan dimuliakan hanya bisa tercapai apabila kita sudah matang.
Kita pun boleh mengambil contoh dari hal lulus pergu-ruan tinggi. Andaikata seorang mahasiswa baru, bermimpi dalam semalam ia bisa menyelesaikan pendidikannya, dan keesokan harinya sudah bisa lulus, itu hanyalah suatu impian. Kenyataannya ia harus menyelesaikan pelajarannya selama 4 tahun, kemudian ia boleh mengharapkan lulus. Setelah ia menyelesaikan semua mata kuliahnya dan melalui semua ujian, ia baru mempunyai syarat untuk lulus. Lulus dan wisuda takkan terjadi secara mendadak.
Banyak orang Kristen hidup dalam mimpi. Walau banyak orang Kristen yang berharap akan diangkat ke angkasa, namun pada akhirnya mereka malah masuk ke dalam tanah. Dalam satu setengah abad terakhir, banyak nubuat yang aneh-aneh mengenai kedatangan Tuhan kali kedua. Bahkan ada banyak orang yang disebut guru nubuat yang berani memastikan hari turunnya Tuhan ke angkasa. Akan tetapi, setahun demi setahun telah berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Semua ramalan mereka tidak terwujud.
Saya diselamatkan ketika masih berumur belasan tahun, tak lama setelah berakhirnya Perang Dunia I. Saya senang membaca Alkitab dan mengetahui kebenarannya. Maka meskipun saya seorang pelajar yang miskin, saya berusaha membeli buku-buku rohani. Banyak orang yang mengajar dan mengarang buku tentang nubuat membuat banyak ramalan. Buku-buku itu kebanyakan telah hilang ketika Perang Dunia II dimulai. Semua ramalan itu tidak ada yang tergenap. D.M. Panton, seorang guru Alkitab terkenal, menerbitkan sebuah buletin berjudul “Dawu” (berarti Fajar). Pada pertengahan tahun 1930, ia mencetak sebuah karangan yang di dalamnya dilampirkan dua buah foto, satu foto Kaisar Nero, satunya lagi foto Mussolini. Panton ber-kata, “Lihatlah foto-foto ini, mereka berdua mirip sekali. Mussolini tentu adalah Antikristus”. Setelah saya tahu per-kara ini, saya berkata dalam sebuah sidang, “Kaum saleh yang kekasih, tuan Panton telah menerbitkan sebuah ka-rangan yang mengatakan bahwa Mussolini adalah Anti-kiristus. Kalau hal itu benar, tentu Tuhan segera datang, dan kita pun akan diangkat. Saudara, dalam batin roh saya, saya mengenal satu prinsip bahwa diangkat adalah hasil dari kematangan. Dalam Perjanjian Baru, pengangkatan diibaratkan seperti penuaian; penuaian hanya mungkin terjadi apabila tanaman sudah masak. Kalau belum masak, masih hijau, bagaimana bisa dituai? Itu tidak mungkin terjadi. Saudara saudari, lihatlah keadaan umat Tuhan hari ini. Lihatlah ladang, sudah masakkah? Percayakah Anda menurut keadaan pertumbuhan sekarang penuaian bisa dilakukan dalam waktu dekat ini? Tidak mungkin! Pandanglah ladang-ladang, tidak ada tempat yang benar-benar sudah masak. Meskipun di seluruh pelosok dunia ini terdapat puluhan juta orang Kristen sejati, hasil penginjilan selama dua abad terakhir ini, hasil para misionaris menginjil ke pelosok-pelosok bumi, namun sedikit sekali yang matang. Di manakah pertumbuhan hayat yang sesungguhnya? Hampir-hampir tidak ada pertumbuhan, pun tidak ada yang masak. Kalau demikian halnya, bagaimana kita bisa mengharapkan penuaian? Saya berani mengatakan bahwa penuaian tidak bisa dilakukan, kecuali tanaman sudah masak! Saya me-ngatakan kata-kata ini sekitar tahun 1944 yang lalu; memang nyatanya tidak terjadi pengangkatan. Mussolini telah terbunuh mati dan telah dikubur, namun orang Kristen tidak melihat Antikristus itu.
Janganlah menyelidiki nubuat dengan cara yang aneh. Banyak penulis telah berbuat demikian, dan akhirnya semua dipermalukan. Kita wajib tahu bahwa pemuliaan dan peng-ubahan rupa tergantung pada pertumbuhan hayat kita yang mencapai kematangan. Bila kita ingin dimuliakan, kita harus bertumbuh, sebab pemuliaan adalah hasil dari kematangan. Pada saat kita memasuki tahap kematangan, kema-tangan itu akan menghasilkan pemuliaan. Pemuliaan bukan tiba dengan sekonyong-konyong, seolah terjadi dalam satu malam, melainkan hasil dari pertumbuhan hayat. Saudara saudari, kita perlu bertumbuh. Sebagai tanaman Allah, kita perlu matang, hingga tiba masa penuaian, yakni saat kita berubah rupa dan dimuliakan.
B. MENJADI AHLI WARIS BERSAMA KRISTUS
Mulai dari sini kita akan membaca lebih banyak ayat-ayat Roma 8, termasuk ayat-ayat yang pernah kita baca dalam dua berita yang lalu, dan akan ditambah dengan beberapa penjelasan. Mari kita mulai dengan ayat 17, “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, ahli waris Allah dan ahli waris bersama Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Tl.). Anak-anak tidak dapat menjadi ahli waris yang sah. Untuk menjadi ahli waris yang sah, anak-anak harus bertumbuh menjadi putra-putra, dan putra-putra harus pula bertumbuh menjadi ahli waris. Bila kita mencapai tahap pertumbuhan yang demikian, kita akan dimuliakan. Walau kita sudah membahas ayat ini dalam berita yang lalu, namun kini saya akan meninjaunya dari sudut lain. Kita harus paham, bahwa pertumbuhan yang sejati dari setiap jenis hayat tergantung pada kesusahan dan penderitaan. Tanpa kesusahan dan penderitaan, hayat apa pun sukar bertumbuh. Dalam ayat 17 ada masalah penderitaan. Saya pernah menandaskan bahwa semakin banyak kita menderita, semakin besar kadar kemuliaan kita. Namun, penderitaan yang dikatakan dalam ayat 17 ini tidak hanya berkaitan dengan pemuliaan secara lahiriah, tetapi juga untuk pertumbuhan hayat yang di batin. Lebih banyak kita menderita, lebih cepat pula pertumbuhan dan kedewasaan kita. Seandainya tanaman di ladang bisa bicara, ia mungkin akan berkata bahwa ia bisa bertumbuh bukan hanya mengandalkan tanah, air, pupuk, udara, dan cahaya matahari; juga mengandalkan penderitaan. Bahkan cahaya matahari itu sendiri adalah suatu sumber penderitaan, sebab terik matahari “membakar” tanaman hingga matang. Maka apabila Anda berharap dapat bertumbuh, Anda perlu berkata kepada Tuhan demikian, “Tuhan, aku tidak menolak segala macam penderitaan. Penderitaan justru membantu aku untuk bertumbuh.” Kita tidak dapat mengharapkan suatu kehidupan yang tanpa penderitaan.
Saya sering mengambil contoh hal pernikahan. Sebagai seorang pemuda, tentu Anda mengharapkan mendapatkan seorang saudari muda yang sangat cocok dengan Anda sebagai istri. Namun, akhirnya Anda menemukan bahwa keadaan istri Anda sama sekali berlawanan dengan harapan Anda. Jangan mengira pernikahan Anda direncanakan untuk mencincang Anda. Anda wajib berkata, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu atas istri yang baik ini. Istriku tidak mencincang aku, melainkan membantuku bertumbuh.” Ti-dak ada suami yang senang mendengar perkataan “tidak” dari mulut istrinya. Kita semua senang mendengar istri kita berkata “ya”. Itu sangat manis! Tetapi kebanyakan istri justru berkata “tidak”. Kata “tidak” itulah yang membantu para suami mereka bertumbuh. Saudara-saudara muda, ketika istri Anda yang terkasih berkata, “Tidak”, Anda harus terhibur. Jangan merasa keberatan atau tersinggung, katakan saja, “O, Tuhan, aku berterima kasih atas segala “Tidak” itu.” Penderitaan itu membantu kita bertumbuh dan matang. Bagaimanapun, seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat 18, “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan kelak yang akan dinyatakan kepada kita” (Tl.). Penderitaan pada aspek ini telah kita bahas dalam berita yang lampau.
C. DISERUPAKAN DENGAN GAMBAR
PUTRA SULUNG ALLAH
Ayat 26 dan 27 mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus” (Tl.). Di sini kita mempunyai simpati, bantuan, dan syafaat Roh. Apa tujuan kita mempunyai se-mua itu? Tujuannya tercantum dalam ayat 28-30. Pada permulaan ayat 28 Paulus berkata, “Kita tahu sekarang”, frase yang menghubungkan ayat ini dengan ayat di depannya. “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Apakah tujuan panggilan Allah? “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Paulus tidak mengatakan bahwa Allah memilih dan menentukan kita dari semula, supaya kita pergi ke suatu tempat yang senang atau mengaruniakan suatu hidup yang berlangsung sampai selamanya. Itu bukan nasib kita. Allah menentukan kita untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya. Nasib ini sudah ditentukan sebelum kita diciptakan. Sebelum dunia dijadikan, Allah sudah menentukan nasib yang de-mikian bagi kita. Inilah ketentuan yang semula.
Putra sulung Allah adalah pola semula (prototipe), sedang kita adalah produksi massal-Nya. Kristus ialah prototipe, cetakan, dan model. Allah meletakkan kita ke dalam-Nya, supaya kita dicetak ke dalam gambar Putra sulung-Nya. Akhirnya kita semua akan diserupakan dengan model atau pola itu. Ada kalanya ketika membuat kue, saudari-saudari menaruh adonan ke dalam cetakan kue. Karena ditaruh ke dalam cetakan, maka kue itu akhirnya menjadi bentuk yang serupa dengan cetakannya. Selain itu, adonan itu harus dipanggang di dalam oven, agar kue itu menjadi bentuk yang tidak berubah. Andaikata kue itu dapat berbicara, mungkin ia akan berseru, “Saudari, kasihanilah aku! Jangan menekanku begitu kuat, aku tidak tahan. Lepas-kanlah tanganmu!” Tetapi, saudari akan berkata, “Kalau aku melepaskan tanganku, bagaimana engkau dapat menjadi bentuk cetakan itu? Oh, adonan yang terkasih, sesudah aku mencetakmu, aku masih perlu memasukkanmu ke dalam oven. Engkau mungkin mengira tekanan cukup menyusahkanmu, tetapi engkau masih perlu dioven pula. Setelah melalui tekanan yang kuat dan suhu yang tinggi, barulah engkau menjadi serupa dengan cetakan.” Demikian pula, Kristus, Putra sulung Allah adalah model, dan cetakannya, sedang kita adalah segumpal adonan. Kita semua telah dimasukkan ke dalam cetakan ini, dan kini kita membiarkan tangan Allah mengolah kita.
Kita telah ditentukan dari semula untuk diserupakan dengan gambar Putra Allah, agar Ia dapat menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Itulah tujuan Allah. Tujuan Allah adalah memproduksi banyak saudara bagi Putra sulung-Nya. Tatkala Kristus menjadi Anak tunggal, Ia hanya seorang diri, namun Allah mengharap memperoleh banyak putra untuk dijadikan saudara-saudara bagi Putra-Nya, dengan demikian Anak tunggal Allah akan menjadi Putra sulung di antara banyak saudara. Ia adalah Putra sulung, dan kita adalah saudara-saudara-Nya. Apa maksud-nya? Maksudnya ialah agar kita mengekspresikan Allah secara korporat. Kerajaan Allah dibangun dengan banyak putra, dan Tubuh Kristus dibangun dengan saudara-saudara-Nya. Tanpa banyak putra, Kerajaan Allah takkan terwujud; tanpa banyak saudara, Kristus pun takkan dapat memperoleh Tubuh. Jadi banyak putra Allah adalah untuk Kerajaan Allah, dan saudara-saudara Kristus adalah untuk Tubuh Kristus. Kerajaan Allah ialah kehidupan Tubuh, dan kehidupan Tubuh dalam gereja adalah Kerajaan Allah, tempat Allah diekspresikan dan tempat kuasa Allah dilaksanakan di bumi. Inilah tujuan Allah.
Karena itu ayat 30 mengatakan, “Mereka yang ditentu-kan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Kita ditentukan-Nya dalam kekekalan, dan di-panggil-Nya dalam waktu.
Mengapa Allah mengatur keadaan sekitar, lingkungan, atau peristiwa sehingga kita mengalami penderitaan? Kita tidak patut menafsirkan ini menurut konsepsi alamiah, “Seluruh dunia penuh penderitaan dan setiap manusia pasti mengalami kesukaran, masakan kita terkecuali?” Itu adalah konsepsi alamiah yang tidak patut kita terima. Kita harus paham bahwa tujuan Allah adalah menghendaki kita men-jadi putra-putra yang bertumbuh dewasa, bukan terus menerus menjadi anak-anak kecil. Jangan puas hanya menjadi anak-anak yang menikmati kasih sayang dan asuhan-Nya. Allah menghendaki kita menjadi putra yang dewasa, yang bertumbuh besar, sehingga kita menjadi ahli waris yang sah, supaya kita dapat mewarisi segala hakiki-Nya dalam alam semesta, dapat mengekspresikan-Nya dan berkuasa bagi-Nya di bumi ini. Karena kehendak Allah ialah membawa kita ke dalam keputraan yang sepenuhnya, maka kita perlu ber-tumbuh. Tak dapat disangkal, pertumbuhan berasal dari pemeliharaan batiniah, namun pemeliharaan ini perlu di-lengkapi dengan lingkungan lahiriah. Menurut perasaan kita, kebanyakan lingkungan lahiriah kita tidak menyenang-kan. Maka lingkungan lahiriah yang berhubungan dengan kita menjadi suatu penderitaan. Saya tidak mengatakan bahwa lingkungan lahiriah itu tidak baik, ia selalu baik, hanya dalam perasaan Anda mungkin ia tidak terlalu baik.
Adakalanya menurut perasaan anak-anak, perlakuan orang tua mereka terhadap mereka tidak terlalu baik. Akibatnya anak-anak mungkin menangis dan meratap, membayangkan diri mereka menderita. Namun orang tua yang baik tidak akan tertipu oleh air mata anak-anaknya. Ada beberapa ibu muda tertipu oleh tangisan anaknya, lalu mengubah sikapnya ketika mereka melihat air mata anak-anak mereka. Membohongi orang tua dengan air mata, sebenarnya bukan suatu faedah bagi anak-anak. Sang ibu harus memberi tahu anak-anaknya, “Aku tidak peduli kalian menangis. Aku tahu aku sedang menaruh kalian dalam lingkungan yang sangat baik, dan itu adalah yang paling baik bagi kalian. Kalian boleh mengatakannya sebagai penderitaan, tetapi aku tahu, betapa baiknya hal ini bagi kalian.”
Allah memakai cara yang sama dalam memperlakukan diri kita. Ia tahu keadaan dan lingkungan macam apa yang bisa membuat kita bertumbuh paling baik. Dialah Bapa kita dan segala perkara ada di bawah pengaturan-Nya, Dia tidak akan melakukan perkara yang salah. Segala sesuatu yang Ia lakukan bagi kita adalah yang paling baik, paling indah, walaupun dalam perasaan kita belum tentu baik. Namun kita tidak seharusnya menghiraukan perasaan kita, melain-kan harus mengindahkan pengaturan Allah. Siapa yang menetapkan Anda lahir pada abad ke 20? Siapa pula yang merencanakan Anda dilahirkan dalam keluarga ini dan me-nentukan Anda memiliki orang tua macam apa, saudara saudari macam apa? Siapa yang merancang wajah Anda? Yang melakukan semua itu bukan Anda. Allahlah yang menentukan tempat kelahiran Anda dan merancang wajah Anda. Allah telah memilih kita, menentukan kita dari semula, dan membuat kita dilahirkan pada waktu dan tempat yang paling tepat. Ia tahu apa yang paling baik bagi kita. Segala sesuatu berada dalam pengaturan-Nya.
Saya ulangi lagi, menurut perasaan kita, boleh jadi lingkungan kita merupakan suatu penderitaan, tetapi sebenarnya itu adalah suatu berkat. Itulah penyediaan Allah yang berdaulat. Segala keperluan kita untuk pertumbuhan hayat, sudah disediakan oleh Allah dalam kedaulatan-Nya. Segala perkara sudah beres. Jadi, tatkala kita mengalami penderitaan dan kepedihan, kita harus menyangkal dan ber-kata, “Iblis, engkaulah pendusta! Hal ini bukan suatu penderitaan atau kepedihan bagiku, tetapi pengaturan Allah. Itulah berkat, agar aku dapat bertumbuh dan beroleh keputraan dengan penuh.” Kita semua perlu lingkungan yang tepat untuk menyediakan unsur-unsur yang menjadi kebutuhan bagi pertumbuhan hayat kita. Tetapi pada saat perkara-perkara yang tidak menyenangkan itu menimpa diri kita, mungkin kita tidak tahu kalau itu berasal dari tangan Bapa kita untuk pertumbuhan kita.
1. Di Batin demi Pekerjaan Roh Itu
Sekalipun kita tahu, kita masih berkata, “Bagaimana aku harus menghadapi peristiwa ini? O, aku tidak tahu bagaimana harus berdoa.” Karena itu, kita mulai mengeluh, dan ketika kita mengeluh, Roh itu pun mengeluh di dalam keluhan kita. Sewaktu saya masih muda, setelah membaca kata-kata ini, saya bertanya, “Aku tak pernah mendengar keluhan Roh itu, kapan Ia mengeluh bagiku?” Akhirnya saya nampak bahwa dalam pasal ini, apa saja yang kita perbuat, Roh itu pun berbuat yang sama. Sewaktu kita berseru, “Ya Abba, ya Bapa!” Roh itu pun berseru demikian. Ketika roh kita bersaksi di dalam kita, Roh itu pun ikut bersaksi. Demikian juga, ketika kita mengeluh, Roh itu pun mengeluh.
Mengapa kita mengeluh? Karena kita merasa menderita dan tidak tahu harus bagaimana berdoa. Seolah-olah Roh Kudus tidak memberi perkataan yang dapat Anda utarakan. Anda tidak tahu, Roh itu pun seolah-olah tidak tahu. Anda tidak tahu bagaimana berdoa, Roh itu pun seolah-olah tidak tahu. Roh itu berdoa di dalam keadaan Anda. Anda mengeluh, Ia pun mengeluh. Anda mengeluh tanpa tujuan, tetapi Roh itu mengeluh dalam keluhan Anda dengan tujuan yang pasti. Tujuan itu tidak dapat Anda utarakan, tetapi diutarakan oleh Roh itu. Namun jika Ia mengutarakannya, Anda pun tidak akan mengerti, sebab itu adalah suatu bahasa ilahi dan surgawi. Karena Anda sulit mengerti, maka Roh itu tidak mengatakannya. Ia bersyafaat bagi kita dengan keluhan yang tidak terucapkan. Tetapi semua itu ada tujuannya.
Apakah tujuannya? Roh Kudus mengeluh di dalam keluhan Anda, dengan tujuan agar Anda seluruhnya dicetak dan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Itulah tujuannya. Sewaktu mengalami kesukaran, banyak orang kudus berkata, “Aku tidak mengerti mengapa peristiwa ini bisa terjadi atas diriku, apa maksudnya?” Saya yakin kita semua pernah mengatakan perkataan yang demikian, dan boleh jadi sering kali bertanya demikian. Mungkin pula Anda yang baru beroleh selamat pernah mengucapkan kata-kata yang demikian. Mengapa peristiwa itu bisa menimpa Anda? Sebab Roh yang mengeluh itu telah berdoa untuk peristiwa itu. Meski Anda tidak mengerti tujuannya, Dia tahu dan Dia berdoa menurut kehendak Allah. Kristus adalah teladan dan Roh itu berdoa agar setiap perkara yang Anda alami membuat Anda serupa dengan model ini, yakni gambar Putra sulung itu.
Roh Kudus tidak hanya mengeluh demikian di dalam kita, kita juga dapat mendoakan orang lain demikian. Dalam pelayanan saya, saya telah mengalami hal itu berkali-kali. Saya ingat seorang saudara yang terkasih yang sangat mengasihi Tuhan, tetapi ia mempunyai watak yang sangat antik, yang sukar diterima oleh siapa pun. Maka kami mendoakannya, “Ya Tuhan, di sini ada seorang saudara ter-kasih yang sangat berpotensi. Ia benar-benar suatu bahan yang baik. Ya Tuhan, ia mengasihi Engkau. Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menahan watak antiknya. Tuhan, perhatikanlah hal ini. Engkau tahu keadaan saudara kami.” Karena kita tahu doa yang demikian sangat serius, maka kita hanya berkata, “Tuhan, perhatikanlah hal ini. Tuhan, Engkau tahu keadaan saudara kami ini.” Setelah lewat beberapa waktu, saudara itu jatuh sakit, dan mulai mengeluh, “Aku tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada diriku.” Ia segera menyuruh istrinya mencari penatua, dan mohon mereka menjenguknya dan bersekutu dengannya. Kami lalu pergi ke rumahnya. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Saudara, kalian tahu keadaanku. Aku tidak mengerti mengapa hal ini terjadi pada diriku?” Dalam batin kami, sama seperti Roh Kudus, tahu mengapa ia sampai menderita. Namun kami tidak berani mengatakan apa-apa. Kami hanya berkata seperti yang dikatakan saudara itu, “Oh, saudara, mengapa hal itu terjadi pada dirimu?” Kami hanya bisa berkata demikian. Ketika saudara itu meminta kami mendoakannya, kami tidak tahu harus berdoa bagaimana. Kami hanya berkata, “Ya, Tuhan Yesus, mengapa hal ini terjadi pada saudara kami?” Walaupun dalam lubuk batin kami tahu alasannya, kami hanya dapat mengatakan, “Tuhan, berbuatlah apa yang Kau anggap paling baik!” Ini tidak menyinggungnya, sebab ia pun mengharapkan yang paling baik dari Tuhan. Bahkan ia berkata, “Amin!” Pengertiannya terhadap doa kami tidak serupa dengan pengertian kami. Kami semua berpikir, “Ya Tuhan, tanggulangilah saudara ini, taklukkan dan bakarlah dia sedapat-dapatnya!” Walaupun kami tidak berani berkata demikian, tetapi dalam batin kami terkandung maksud itu, yang saat itu tidak dapat kami nyatakan. Akan tetapi, Allah yang menyelidiki hati manusia menjawab doa yang sesuai dengan diri-Nya. Kesukaran saudara itu belum berakhir dan sakitnya berlangsung terus sejangka waktu lagi. Ia merasa sangat resah, dan meminta istrinya mengundang kami lagi. Kami pun pergi lagi dan bertanya kepadanya, “Saudara, mengapa sakitmu lama tidak sembuh?” Dalam batin kami cukup jelas, tetapi kami tidak berkata apa-apa. Sewaktu berdoa kami berkata, “Ya Tuhan, kami tetap mohon Engkau melakukan yang paling baik baginya!” Puji Tuhan! Sejangka waktu setelah itu, keadaan saudara ini berubah. Pertama, ia mengalami kelepasan dari wataknya; kemudian sakitnya mendapat kesembuhan. Akhirnya ia dapat berseru, “Haleluya! Sekarang aku sudah mengerti. Sekarang aku sudah mengerti.”
Mengapa Roh itu di dalam kita mengeluh dengan per-kataan yang tidak terucapkan? Dia mengeluh agar kita dapat dicetak, diserupakan dengan gambar Putra Allah. Mengatakan pengudusan dalam hayat sangat mudah, na-mun selanjutnya ada perihal penyerupaan. Kita tidak saja perlu dikuduskan, dijenuhi oleh hakiki Allah, tetapi juga perlu dicetak. Mungkin kita telah dipisahkan dari segala perkara yang umum, dan dijenuhi oleh sifat kudus Allah, tetapi kita tetap kekurangan penyerupaan. Pengudusan mungkin tidak memerlukan penderitaan, tetapi penyerupaan memerlukan penderitaan. Dalam hal pengudusan tidak perlu model, hanya perlu pengubahan watak atau sifat. Tetapi, dalam hal penyerupaan ada satu cetakan, yang akan me-nyerupakan kita dengan gambar Putra Allah. Seiring dengan cetakan ini ada pula tekanan, pencetakan, pencampuran air, dan pembakaran api. Andaikata adonan itu, tepung yang baik dan halus, dapat berbicara, ia akan berkata, “Betapa menderita aku ini. Anda mencampur aku dengan benda lain, Anda menekan aku, dan membakar aku dalam oven. Semua proses pemasakan adalah suatu penderitaan.” Itu memang benar, sebab tanpa penderitaan, kita tidak dapat tercetak ke dalam cetakan atau model itu.