← Daftar isi Roma (1) · bab 3/15

AHLI WARIS KEMULIAAN (2)

D. BUAH SULUNG ROH ITU

Roma 8:17, “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya ahli waris Allah, dan menjadi ahli waris bersama dengan Kristus; jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Tl.). Di sini kita nampak bahwa kita telah maju dari anak-anak menjadi ahli waris. Kita adalah ahli waris Allah, dan menjadi ahli waris bersama-sama dengan Kristus. Pemikiran Paulus di sini sangat kuat. Ayat ini menunjukkan syarat yang berkaitan dengan menjadi ahli waris. Kita tidak dapat mengatakan, asal kita adalah anak-anak Allah kita pasti adalah ahli waris. Itu terlalu cepat. Untuk menjadi anak-anak Allah tidak ada syarat apa-apa. Pada saat Roh itu bersaksi bersama dengan roh kita, kita sudah menjadi anak-anak Allah. Namun untuk mening-kat dari anak-anak menjadi ahli waris ada syaratnya, yang dikatakan dalam bagian akhir ayat ini.

Syarat untuk menjadi ahli waris Allah dan ahli waris bersama Kristus ialah, “menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Mungkin kita tidak suka menderita, tetapi itu perlu bagi kita. Ingatlah, bahwa penderitaan adalah jelmaan kasih karunia. Jangan bersedih hati karena menderita. Kalau kita menderita bersama-sama dengan Dia, kita pasti akan diper-muliakan bersama dengan Dia. Walau saya tidak dapat mengatakan bahwa tanpa menderita kita tidak akan diper-muliakan, namun ada satu hal yang pasti, bahwa tingkat penderitaan kita akan menentukan tingkat kemuliaan kita. Semakin banyak penderitaan yang kita alami, semakin banyak pula kemuliaan yang kita peroleh, sebab penderitaan meningkatkan kadar kemuliaan kita. Kita semua senang dimuliakan, tetapi tidak senang menderita. Namun penderitaan akan menambah kemuliaan. Dalam 1 Korintus 15:41 Paulus berkata, “Kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain”, menunjukkan bahwa ada bintang-bintang yang lebih terang daripada bintang lainnya. Kita semua akan bercahaya dan akan dimuliakan, tetapi kadar kemuliaan kita tergantung pada kadar penderitaan yang rela kita terima. Pada hari itu, cahaya yang dipancarkan Rasul Paulus pasti lebih terang daripada kita semua. Yakinkah Anda bahwa cahaya Anda sama terangnya dengan Paulus? Kita semua akan dimuliakan, namun kadar kemuliaan itu akan berbeda-beda, tergantung pada penderitaan yang kita terima. Karena itu, dalam Roma 8:18 Paulus berkata, “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Penderitaan sekarang tidak terbilang apa-apa, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang.

Ayat 19 mengatakan, “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan.” Kata “dinyatakan” ini ditujukan pada manifestasi atau penyataan putra-putra Allah. Kita sekalian adalah putra-putra Allah. Seperti pernah saya katakan dulu, kalau kita berkata kepada orang di jalan bahwa kita adalah putra Allah, mereka pasti akan mengira kita gila. Mereka akan berkata, “Pandanglah kamu dengan aku, adakah perbedaan di antara kita? Kita semua sama-sama manusia. Kamu tidak berbeda dengan aku. Kamu hanya salah satu manusia yang lain saja. Mengapa kamu mengatakan bahwa kamu adalah putra Allah?” Namun harinya akan tiba kelak, ketika putra-putra Allah dinyatakan. Pada hari itu tidak perlu berkata, “Sejak kini kita adalah putra-putra Allah”, karena kita semua akan dimuliakan. Kita akan dinyatakan sebagai putra-putra Allah oleh kemuliaan Allah, di dalam kemuliaan. Dengan demikian, semua orang harus mengakui bahwa kita adalah putra-putra Allah. Mereka akan berkata, “Lihatlah orang-orang itu! Siapa sebenarnya mereka? Mereka begitu penuh dengan kemuliaan. Mereka pasti adalah putra-putra Allah.” Pada waktu itu kita tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Kita akan dinyatakan melalui pemuliaan. Segenap makhluk sedang menantikan masa itu dengan penuh harap-an, sebab mereka dengan sangat rindu menantikan saat putra-putra Allah dinyatakan.

Selanjutnya ayat 20 mengatakan, “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya.” Kita perlu memperhatikan kata “kesia-siaan”. Seluruh makhluk berada di bawah kesia-siaan. Se-gala sesuatu di bawah matahari adalah kesia-siaan. Raja Salomo yang berhikmat berkata, “Kesia-siaan belaka. Segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2). Seluruh makhluk takluk kepada kesia-siaan.

Kemudian ayat 21 mengatakan, “Tetapi dalam peng-harapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdeka-kan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam ke-merdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah.” Kita perlu memperhatikan dua istilah, yaitu “perbudakan” dan “kebina-saan”. Dalam alam semesta hanya ada kesia-siaan dan kebinasaan. Kebinasaan ini ialah semacam cengkeram, per-budakan yang mencengkeram semua makhluk. Seluruh makhluk dipaksa tunduk kepada kesia-siaan, dan menanti-kan kelepasan agar bebas dari perbudakan kebinasaan untuk kemudian masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Suatu hari kelak, anak-anak Allah akan dimuliakan, akan dibawa masuk ke dalam kemuliaan. Ada kemuliaan pasti ada kemerdekaan, dan kemerdekaan itu akan menjadi suatu kerajaan, suatu wilayah, atau suatu alam lingkungan. Seluruh kemuliaan akan menjadi suatu kerajaan, wilayah, dan alam lingkungan, dan kita akan dibawa ke sana. Tatkala kita dimasukkan ke dalam kemerdekaan, atau kerajaan yang mulia itu, segenap makhluk akan dibebaskan dari dalam kesia-siaan, kebinasaan, dan perbudakan. Inilah sebabnya seluruh makhluk menantikan saat itu. Kita sangat mempengaruhi makhluk ciptaan, sebab nasib semua makhluk terkait pada diri kita. Kalau kita lambat matang, semua makhluk akan bersungut-sungut dan mencela kita. Mereka akan berkata, “Hai, anak-anak Allah yang terkasih! Pertumbuhan kalian terlalu lambat. Kami sedang menanti-nantikan saat kematangan kalian, dan saat kalian masuk ke dalam kemuliaan, itulah saat kami terlepas dari kesia-siaan, kebinasaan dan perbudakan.” Kita harus setia kepada semua makhluk, tidak membuat mereka kecewa.

Ayat 22, “Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Sepertinya bintang mengeluh kepada bintang, bulan mengeluh kepada planet lainnya. Mereka sama-sama mengeluh. Segala makhluk tidak saja sama-sama mengeluh, mereka pun sama-sama merasa sakit bersalin. Segenap makhluk sampai sekarang sama-sama mengeluh dan menanggung susah.

Ayat 23 meneruskan, “Bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia (buah) sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan (penebusan) tubuh kita.” Walaupun kita telah dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah dan telah memiliki Roh itu sebagai buah sulung, namun kita juga mengeluh, karena kita masih berada dalam tubuh daging yang berhubungan dengan ciptaan lama. Harus kita akui bahwa tubuh daging kita masih tetap menjadi milik ciptaan lama. Karena tubuh kita dimiliki ciptaan lama dan belum ditebus, maka seperti makhluk lainnya, kita pun mengeluh di dalam tubuh. Namun, ketika kita mengeluh, kita memiliki buah sulung Roh di dalam kita. Buah sulung Roh adalah untuk kita nikmati; adalah pencicipan dari tuaian yang akan datang itu. Buah sulung Roh itu ialah contoh pencicipan sepenuhnya atas Allah sebagai kenikmat-an kita, atas segala hakiki Allah bagi kita. Allah begitu kaya bagi kita. Pengecapan penuh akan tiba pada hari kemuliaan. Namun sebelum pengecapan penuh itu tiba, Allah telah mengaruniakan pencicipan kepada kita hari ini. Pencicipan ini adalah Roh ilahi-Nya sebagai buah sulung dari penuaian kenikmatan yang penuh atas segala hakiki Allah bagi kita.

Jika Anda bercakap-cakap dengan orang yang belum percaya, mereka akan mengakui, di satu pihak mereka memang bisa menikmati hiburan seperti berdansa dan berjudi. Namun pada pihak lainnya mereka dapat mengatakan kepada Anda bahwa mereka tidak gembira. Anda boleh bertanya kepada mereka, “Mengapa Anda harus pergi berdansa atau berjudi?” Mereka akan menjawab, “Karena hatiku sangat gundah dan tertekan. Aku perlu melakukan sesuatu.” Mereka juga mengeluh, tetapi hanya mengeluh, lainnya tidak ada. Lain dengan kita, ketika kita mengeluh, kita memiliki Roh itu sebagai buah sulung di dalam kita, menjadi pencicipan atas diri Allah sendiri. Bahkan, sekalipun kita menderita, kita memiliki kenikmatan. Kita mengecap penyertaan Tuhan. Penyertaan Tuhan tidak lain Roh itu sebagai buah sulung untuk kita nikmati. Maka kita berbeda dengan orang dunia. Mereka berkeluh kesah tanpa kenikmatan di dalam batin. Tetapi kita, walaupun di luar mengeluh, di dalam bersukacita. Mengapa kita bersukacita? Sebab kita memiliki buah sulung Roh itu. Roh ilahi di dalam kita adalah pencicipan atas diri Allah yang membawa kita kepada pengecapan penuh atas kenikmatan terhadap Allah. Inilah satu butir yang sangat besar dalam berkat keputraan.

Ketika kita sedang mengeluh dan menikmati buah sulung Roh itu, kita pun sedang mengharapkan keputraan. Keputraan di sini ditujukan kepada keputraan yang sepenuhnya. Walau di dalam kita sudah ada keputraan, tetapi keputraan ini masih belum sempurna. Sampai hari itu, kita akan mengetahui keputraan yang sepenuhnya. Apakah keputraan yang sepenuhnya? Itulah penebusan tubuh kita. Melalui kelahiran kembali, di dalam roh kita mendapatkan keputraan; melalui pengubahan, jiwa kita pun beroleh ke-putraan, namun kita masih belum melalui pengalihragaman tubuh kita mendapatkan keputraan di dalam tubuh kita. Di kemudian hari tubuh kita pun akan beroleh keputraan. Itulah keputraan yang sempurna, yang menjadi harapan kita.

Pada saat menunggu, kita perlu bertumbuh. Kita tidak perlu banyak mengeluh, namun kita perlu banyak bertumbuh. Walau kita wajib bersukacita senantiasa, tetapi selagi bersukacita kita perlu bertumbuh. Banyak orang di antara kita terlalu muda, tidak matang. Kita semua perlu bertumbuh dan matang. Tibanya hari yang mulia itu tergantung pada pertumbuhan hayat kita. Semakin cepat bertumbuh, hari itu pun akan semakin cepat tiba.

Dalam ayat 24 Paulus berkata, “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Apa maksud pengharapan di sini? Pengharapan kemuliaan. Kita telah diselamatkan dalam pengharapan, yaitu pada suatu hari kita akan masuk ke dalam kemuliaan. Paulus berkata, “Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Lalu apa artinya? Itu berarti perkara yang kita harapkan itu sangat ajaib, sebab kita belum pernah nampak. Jadi, ini adalah pengharapan sejati. Kalau kita telah nampak sedikit saja, tentu ia bukan lagi suatu pengharapan yang luar biasa. Kalau Anda bertanya kepada saya tentang kemuliaan yang akan datang, saya akan berkata bahwa saya tidak mengetahuinya sedikit pun, sebab saya tidak pernah melihatnya. Saya tidak bisa membicarakan kemuliaan itu, sebab saya tidak pernah melihatnya. Pengharapan kemuliaan itu adalah suatu pengharapan yang ajaib.

Ayat 25 meneruskan, “Tetapi, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Banyak orang saleh bertanya kepada Tuhan, “Ya, Tuhan, berapa lamakah? Sepuluh tahun lagikah? Satu generasi lagikah? Berapa lama lagi ya, Tuhan?” Ini sungguh suatu ujian bagi ketekunan dan kesabaran kita.

E. BANTUAN ROH ITU

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan untuk kita kepada Allah, dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (ayat 26 Tl.). Apakah arti kata-kata “demikian juga”? Mengapa Paulus mengatakannya? Sulit sekali untuk mengerti kalimat ini. Saya percaya, kalimat ini memiliki arti yang almuhit. “Demikian juga” mencakup banyak hal yang tercantum dalam beberapa ayat sebelumnya menantikan, mengharapkan, mengeluh, tekun, dan lain sebagainya. Kata-kata “demikian juga” ini berkaitan dengan hal-hal tersebut. Tatkala kita mengeluh, Roh Kudus pun mengeluh; kita menantikan, Ia pun menantikan; kita mengharapkan, Ia pun mengharapkan. Kita bagaimana, Ia pun bagaimana. Demikian juga, Roh itu membantu kita. Sungguh indah penghiburan ini! Setiap kali kita mengeluh, menantikan, mengharapkan, Ia pun melakukan hal yang sama. Ia sama seperti kita. Bila kita menjadi lemah, Ia kelihatannya lemah juga, walau sebenarnya Ia tidak lemah. Ia menaruh simpati atas kelemahan kita. Karena kelemahan kita, Ia pun kelihatannya menjadi lemah. Dengan demikian Ia baru bisa turut menanggung kelemahan kita. Ketika kita berdoa dengan keras, “Ya Bapa!” Ia pun berdoa sekeras itu. Ketika kita berdoa dengan suara lembut, Ia pun berdoa dengan suara lembut. Boleh jadi kita berdoa, “Ya Bapa, aku sangat kasihan, belas kasihanilah aku.” Ketika kita berdoa de-mikian, Ia “demikian juga” berdoa untuk kita. Tidak peduli kita berdoa dengan cara bagaimana, Ia pun berdoa dengan cara bagaimana. Bagaimana keadaan kita, keadaan-Nya juga demikian. Kalau kita berdoa dengan cepat, riang, dan keras, Ia pun berdoa seperti itu. Corak kita adalah corak-Nya. Jangan mengira Roh Kudus sangat berbeda dengan kita, sehingga kalau kita menerima Roh Kudus, kita akan menjadi manusia yang luar biasa. Itu bukan pemikiran yang terkandung dalam Roma 8. Roma 8 mewahyukan bahwa Roh Kudus menuruti corak kita. Saudari-saudari, apakah kalian kecewa? Ada beberapa saudari berkata, “Kami tidak dapat berteriak, kami tidak bisa berdoa keras seperti yang dilakukan saudara. Kami merasa seolah-olah diabaikan.” Saudari-saudari, legakanlah hatimu. Roh itu berdoa menuruti cara atau keadaan Anda. Bagaimana cara dan keadaan Anda, begitu pula Ia. Terpujilah Tuhan!

Paulus juga berkata bahwa Roh itu membantu kita. Ia mengambil bagian dalam kelemahan kita dengan maksud membantu kita. Roh itu tidak meminta agar kita bersatu dengan Dia, melainkan Ia datang bersatu dengan kita. Roh itu tidak berkata, “Mari naik ke atas standar tertinggi untuk bersatu dengan Aku.” Tidak seorang pun di antara kita dapat melakukannya. Karenanya, Roh itu bersatu dengan corak kita. Jika corak Anda cepat, Ia pun cepat, jika Anda lambat, Ia pun lambat. Cobalah berdoa. Baik Anda berdoa dengan kuat atau lemah, dengan suara keras atau lembut, semua bukan masalah bagi-Nya. Anda berdoa, Ia pun berdoa di dalam Anda “demikian juga”. Dengan cara yang sama Ia akan membantu sambil bersatu dengan Anda.

Kalau ada seorang timpang dan saya ingin membantunya berjalan, saya harus memakai cara dan keadaannya. Demikian pula kalau saya ingin mendekati seorang anak kecil, saya harus berbuat seperti anak itu. Saya tidak seharusnya berkata, “Hai bocah, aku adalah seorang raksasa yang akan membantumu.” Kalau saya berbuat begitu, anak itu akan memandang saya dan berkata, “Aku tidak menyukai engkau, engkau terlalu berbeda dengan aku.” Jika saya ingin membantu anak kecil itu, saya harus menciutkan diriku menjadi serupa dengannya dan berkata, “Bolehkah aku bermain denganmu?” Bila saya berkata demikian, anak kecil itu pasti dengan senang hati menjawab, “Baik sekali! Marilah kita bermain bersama.” Itulah artinya saya membantu dia dengan bersatu dalam keadaannya.

Kadangkala saudara-saudara yang tua bersikap terlalu tinggi dan terlalu besar dalam kehidupan gereja. Walau mereka mencoba membantu kaum saleh, tetapi mereka tidak membantu menurut corak kaum saleh. Pada hari kebang-kitan, Tuhan Yesus mendatangi dua orang murid yang sedang berjalan ke Emaus (Luk. 24:13-33). Ketika itu Tuhan bersatu dengan mereka menurut corak mereka. Tatkala mereka sedang bercakap-cakap, Tuhan Yesus berbuat seperti tidak tahu apa-apa. Ia seolah-olah bertanya, “Apakah yang sedang kalian bicarakan?” Kedua murid itu menegur-Nya, “Masakan kamu tidak tahu peristiwa yang terjadi beberapa hari ini?” “Peristiwa apa?” tanya Tuhan. Mereka berkata, “Peristiwa Yesus orang Nazaret, Ia seorang nabi yang ber-kuasa dalam perbuatan maupun perkataan-Nya, tetapi Ia telah dihukum mati di kayu salib.” Tuhan Yesus tidak menegur mereka, juga tidak mewahyukan diri kepada mereka. Ia membuat diri-Nya secorak dengan mereka, berjalan bersama mereka hingga tiba di sebuah kampung. Mereka lalu memohon supaya Ia mau tinggal bersama mereka, Ia pun mengabulkan permohonan itu. Ketika mereka duduk di ruangan itu, Tuhan mengambil roti dan memecah-mecah-kannya. Ketika itu barulah mata mereka terbuka, mereka nampak itu Tuhan. Namun begitu mereka mengenali-Nya, Ia pun lenyap dari pandangan mereka.

Dalam kehidupan gereja, saudara saudari yang senior, harus membantu saudara saudari muda menurut corak mereka. Kita perlu membantu sambil bersatu dalam kelemahan mereka. Kita semua tidak ada yang begitu kuat. Kita semua sedang mengeluh dan mengharapkan, “Oh Tuhan, sampai kapan kami menantikan-Mu?” Kita menderita dari hari ke hari. Namun, Roh Kudus menyertai kita dan selalu membantu kita sambil bersatu dalam corak kita.

F.SYAFAAT ROH ITU

Paulus selanjutnya mengatakan, “Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roh itu berdoa syafaat untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan menurut corak kita. Keluhan-keluhan itu kelihatannya seperti keluhan kita, padahal di dalam keluhan kita terkandung keluhan Roh itu. Itulah sebabnya keluhan-keluhan-Nya persis seperti keluhan-keluhan kita. Ia ada di dalam kita dan keluhan-keluhan-Nya juga ada di dalam keluhan kita. Ia berkeluh kesah bersama kita “dengan cara yang sama”. Ini adalah doa terindah yang dapat kita lakukan untuk pertumbuhan hayat kita. Kebanyakan doa kita merupakan doa yang kita sampaikan dengan lantang dan lancar. Tetapi itu bukan terbit dari roh kita. Namun ketika kita mempunyai beban yang sungguh-sungguh untuk berdoa, sedang kita tidak tahu bagaimana mengucapkannya, dengan sendirinya kita hanya bisa berkeluh kesah seturut beban itu, tanpa mengeluarkan kata-kata. Inilah suatu doa yang paling indah. Dalam doa yang demikian, Roh itu bersyafaat bagi kita melalui mengeluh bersama kita.

Doa yang tidak terucapkan itu terutama adalah untuk pertumbuhan hayat; mengenai keperluan yang sesungguhnya dari hal ini, kita tidak begitu paham. Kita sangat paham tentang kebutuhan dan urutan materi, dan mempunyai kata-kata yang dapat kita ucapkan dalam doa. Akan tetapi tentang pertumbuhan hayat, kita kurang mengerti akan kekurangan kata-kata untuk mendoakannya. Namun, jika kita mencari Tuhan demi pertumbuhan hayat, di dalam roh kita sering timbul beban doa, sedang terhadap doa itu kita tidak mengerti dengan jelas dan tidak dapat kita ucapkan, sehingga kita terpaksa harus berkeluh kesah. Setiap kali kita mengeluarkan keluhan-keluhan dari dalam roh, Roh yang tinggal dalam roh kita mengeluh pula bersama kita, bersyafaat bagi kita, terutama agar kita mengalami pengubahan dalam hayat, sehingga kita mencapai kematangan keputraan.

Ayat 27 mengatakan, “Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus.” Roh itu mendoakan kita sesuai dengan kehendak Allah. Apa artinya? Itu berarti, Roh yang bersyafaat itu mendoakan kita, supaya kita dapat diserupakan dengan gambar Allah. Masalah ini akan kita bahas lebih jauh dalam berita berikutnya.

G. KEPUTRAAN YANG SEPENUHNYA

Kita telah nampak bahwa kita adalah putra-putra Allah yang menikmati segala berkat dari keputraan. Kita boleh menghitung berkat-berkat itu: Roh keputraan, kesaksian Roh, pimpinan Roh, buah sulung Roh, bantuan Roh, dan syafaat Roh. Pada akhirnya kita akan beroleh seluruh keputraan itu, dan akan dinyatakan di dalam kemerdekaan kemuliaan kelak (8:19, 21).

Ada tiga istilah istimewa yang dipakai dalam ayat tersebut: anak-anak, putra, dan ahli waris. Ketiga istilah ini berhubungan dengan ketiga tahap dari keputraan. Hayat Allah bekerja dalam ketiga tahap itu, agar kita menjadi putra Allah. Hayat Allah melahirkan kita kembali dalam roh, mengubah kita dalam jiwa, bahkan akan mengalihragamkan tubuh kita. Maka kita mengalami kelahiran kembali, pengubahan, dan pengalihragaman. Semuanya memberi kita keputraan yang penuh. Hasil dari ketiga langkah tersebut, putra-putra Allah menjadi benar-benar matang.

Bagian surat Roma ini memberi tahu kita bahwa Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah (8:16). Dalam ayat 16 tidak dikatakan tentang putra dan ahli waris, sebab pada tahap pertama keputraan kita hanya anak kecil yang dilahirkan kembali melalui hayat Allah. Setelah itu kita akan bertumbuh. Kemudian ayat 14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah putra Allah.” Dalam ayat 14 tidak lagi dibicarakan tentang bayi atau anak-anak, melainkan putra. Ketika kita dipimpin oleh Roh itu, itu menandakan pertumbuhan hayat kita telah mencapai suatu tingkat. Kita telah bertumbuh dari tingkat anak-anak menjadi putra, yang dapat menerima pimpinan Roh itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita berada pada tahap kedua tahap pengubahan. Terakhir, kita akan menjadi ahli waris. Menurut hukum-hukum kuno, setiap ahli waris harus mencapai usia tertentu, dan harus dinyatakan secara resmi sebagai ahli waris, barulah ia dapat menuntut warisannya. Maka dalam bagian surat Roma ini, kita memiliki anak-anak yang dilahirkan kembali, putra yang diubah, dan ahli waris yang berubah rupa atau dimuliakan. Kita dilahirkan sebagai anak-anak Allah, bertumbuh sebagai putra Allah, dan kita menantikan saat tiba di mana kita akan matang sepenuhnya, dan dinyatakan menurut hukum sebagai ahli waris yang sah, yakni pengalihragaman tubuh kita, tertebusnya tubuh kita (8:23). Pengalihragaman tubuh kita inilah yang membuat kita bersyarat untuk menjadi ahli waris atas warisan ilahi. Pengalihragaman ini akan dirampungkan melalui pemuliaan.

Bagian surat Roma ini mengandung kelimpahan yang amat besar, maka untuk membahasnya kita memerlukan beberapa pemberitaan. Dalam berita ini kita nampak garis besar dari ketiga tahap untuk menjadi putra Allah: kelahiran kembali, pengubahan, dan pemuliaan. Hasil dari ketiga tahap tersebut, kita akan memperoleh keputraan dengan sepenuhnya. Ketiga tahap itu berhubungan dengan ketiga tahap keselamatan Allah: Pertama, pembenaran, menghasilkan anak-anak Allah. Kedua, pengudusan, membuat anak-anak bertumbuh menjadi putra. Ketiga, pemuliaan, menghasilkan pengalihragaman tubuh, sehingga kita menjadi ahli waris yang sah atas warisan ilahi.