AHLI WARIS KEMULIAAN (1)
Dalam berita ini kita akan melihat masalah pemuliaan. Apa sebenarnya tujuan pemuliaan? Tujuan pemuliaan ialah anak-anak Allah memperoleh keputraan dengan sempurna. Penghukuman memerlukan pembenaran, pembenaran untuk pengudusan, pengudusan untuk pemuliaan, dan pemuliaan untuk keputraan yang sempurna bagi setiap anak Allah.
I. BAGIAN BERKAT KEPUTRAAN
Sebelum 8:14, istilah “anak-anak Allah” dan “putra-putra” tak pernah dipakai dalam surat Roma. Konsepsi “anak-anak Allah” baru dimasukkan pada bagian ini, mem-buktikan bahwa Paulus mempunyai suatu tujuan yang dalam ketika ia menulis surat Roma. Mulai dari 8:14, Paulus baru membicarakan putra-putra Allah dan anak-anak Allah. Namun, pada bagian pemuliaan (8:14-39) bukan masalah putra-putra Allah maupun anak-anak Allah yang menjadi konsepsi utama, melainkan masalah ahli waris. Kita boleh jadi adalah anak-anak Allah, tetapi belum bertumbuh menjadi putra Allah. Atau kita adalah putra Allah, tetapi tidak memiliki persyaratan sebagai ahli waris. Karena itu konsepsi utama dalam bagian surat Roma ini ialah mengenai ahli waris kemuliaan.
Roma 8:14 mengatakan, “Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah putra-putra Allah” (Tl.). Ayat ini adalah kelanjutan bagian depan yang di dalamnya Paulus mengatakan perlunya kita hidup menurut Roh (ayat 4). Dari satu pengertian, hidup menurut Roh adalah hidup di bawah pimpinan Roh Kudus. Maka ayat 14 meneruskan pikiran Paulus dengan mengatakan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Kudus atau Roh Allah, adalah putra-putra Allah. Dengan satu kalimat yang pendek ini, Paulus telah mengalihkan seluruh konsepsi kita dari orang yang dikuduskan kepada putra-putra Allah. Pemikiran akhir ayat 13 masih terletak pada manusia yang dikuduskan, yakni golongan orang-orang yang pernah dihukum, dibenarkan, diperdamaikan, disatukan, dan akhirnya dikuduskan. Namun sampai ayat 14, Paulus memasukkan konsepsi putra-putra Allah. Bagaimana kita dikuduskan? Dengan hidup menurut roh. Pada satu pihak, hidup menurut roh berarti dipimpin oleh Roh Allah; sebab “semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah putra-putra Allah.” Dengan demikian Paulus mengalihkan kita dari pengudusan kepada keputraan. Sekarang baiklah kita melihat masalah putra-putra Allah ini.
Mengenai keputraan ini perlu kita tinjau di dalam roh, bukan di dalam huruf. Kalau di dalam huruf kita akan menjumpai kesulitan. Mengapa? Sebab kalau secara harfiah, semua saudari akan tidak tercakup di dalamnya. Bagaimana saudari dapat menjadi putra? Paulus tidak mengatakan, “Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah putra-putra dan anak-anak Allah.” Kita semua, baik saudara maupun saudari, adalah putra Allah. Membaca Alkitab jangan hanya secara harfiah, tetapi harus di dalam roh. Walaupun di antara kita ada yang pria dan wanita, saudara dan saudari, tetapi di dalam roh kita semua adalah putra Allah. Dalam alam kekekalan, tidak ada putri, hanya ada putra.
Pada suatu hari orang Saduki datang memperdebatkan masalah kebangkitan dengan Tuhan Yesus (Mat. 22:23-33). Mereka mengira diri sendiri sangat berhikmat. Mereka menyampaikan kepada Tuhan kisah seorang wanita yang pernah menikah dengan tujuh orang kakak beradik, tetapi ketujuh orang laki-laki itu semuanya mati. Perempuan itu sendiri akhirnya mati juga. Orang Saduki lalu bertanya kepada Tuhan, kalau begitu perempuan itu akan menjadi istri siapa, ketika masa kebangkitan tiba kelak? Sebab ketujuh orang itu pernah mengawininya. Tuhan lalu menja-wab, “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.” Lebih lanjut Tuhan mengatakan bahwa dalam kebangkitan kelak, manusia tidak kawin atau dikawinkan, manusia akan sama dengan malaikat Allah. Kelak kita akan menjadi manusia yang ajaib, tanpa perbedaan pria dan wanita. Kita tidak saja akan dibenarkan dan dikuduskan, bahkan akan dimuliakan. Kita akan menjadi manusia yang dimuliakan, yaitu menjadi putra Allah yang kekal. Jika kita hidup menurut roh, tidak akan ada perbedaan pria atau wanita, sebab kita semua adalah putra Allah. Namun, jangan sekali-kali lupa, kini kita masih berada dalam tubuh daging. Dalam tubuh daging kita ada yang pria ada yang wanita, ada suami ada istri. Janganlah kita menerapkan fakta yang akan berlaku pada masa kebangkitan itu ke dalam situasi sekarang. Kalau kita berbuat demikian, pasti akan timbul kesulitan. Namun kita semua, baik saudara maupun saudari, adalah putra Allah.
A. ROH KEPUTRAAN
“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima roh keputraan. Oleh roh itu kita berseru: Ya Abba, ya Bapa!” (8:15 Tl.). Bagaimana kita menerima roh keputraan itu? Demi Roh Putra Allah yang masuk ke dalam roh kita. Galatia 4:6 yang mirip dengan Roma 8:15, mengatakan, “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita yang berseru: Ya Abba, ya Bapa!” Dalam Roma 8:15, kita telah “menerima roh keputraan”; Galatia 4:6 mengatakan, Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita. Karena Roh Putra Allah masuk ke dalam roh kita, maka roh kita menjadi roh ke-putraan. Karenanya ayat 15 mengatakan, “Kamu telah menerima roh keputraan.” Lagi pula ayat 15 mengatakan “roh keputraan” yang olehnya kita berseru, “Ya Abba, ya Bapa!” tetapi dalam Galatia 4:6 dikatakan “Roh Putra-Nya berseru: Ya Abba, ya Bapa!” Di sini terdapat perbedaan. Namun baik kita maupun Dia yang berseru, kita berseru bersama Dia. Tatkala kita berseru, Dia pun berseru di dalam seruan kita. Tatkala Dia berseru, kita pun berseru bersama-Nya. Menurut tata bahasa, subyek yang berseru dalam ayat 15, ialah “kita”; sedang dalam Galatia 4:6, subyeknya ialah “Roh itu”. Kedua ayat tersebut membuktikan kita dengan Dia, roh kita dengan Roh itu, adalah satu. Ketika kita berseru, “Ya Abba, ya Bapa!” Dia menyertai kita berseru. Roh itu pun berseru di dalam seruan kita, sebab Roh Putra Allah tinggal di dalam roh kita. Maka tidak ada rasa takut lagi, melainkan hanya ada seruan manis dan mesra, “Ya Abba, ya Bapa!”
“Abba” ialah istilah bahasa Aram yang berarti bapa. Kalau kedua istilah “Abba” dan “Bapa” itu digabungkan, akibatnya ialah suatu perasaan yang teramat mesra dan manis. Jadi, “Ya Abba, ya Bapa!” merupakan kemesraan yang diintensifkan. Anak-anak setiap bangsa semua menyebut ayahnya dengan sebutan yang manis dan mesra. Anak orang Amerika menyebut, “Daddy”, orang China menyebut, “Papa” dan orang Filipina menyebut, “Papa”. Kita semua tidak hanya mengucapkan satu suku kata seperti “Da” atau “Pa”. Kalau hanya mengucapkan satu suku kata, tentu kurang mesra. Kita perlu mengucapkan dua suku kata, “Daddy,” “Bapa,” atau “Papa.” Kita perlu menyeru “Ya Abba, ya Bapa!” Kalau Anda menyeru demikian, Anda akan menyadari betapa manis dan mesranya hal ini.
Mengapa kita harus menyeru, “Ya Abba, ya Bapa”? Sebab kita memiliki roh keputraan. Kalau si Anu bukan ayahku, saya sukar sekali menyebutnya “ayah”. Menyebutnya “tuan Anu” mudah sekali; tetapi saya tidak dapat menyebut-nya “ayah”, apalagi kalau menyebut “Ya Abba, ya Bapa”. Memang pada hakekatnya itu tidak mungkin. Andaikan ayahku yang tercinta hari ini masih hidup, saya pasti senang menyebutnya “ayah”, menyebutnya demikian sungguh manis; sebab saya dilahirkan olehnya. Kaum remaja, Anda tak perlu meragukan apakah Anda putra Allah. Ketika Anda berkata, “Ya Abba, ya Bapa” apakah batin Anda merasa manis dan mesra? Jika merasa manis, itulah buktinya bah-wa Anda putra Allah, bahkan Anda pun memiliki roh keputraan. Jika Anda merasa Anda sendiri dapat menyebut-Nya “Allah” namun tak dapat menyebut-Nya, “Ya Abba, ya Bapa” itu menyatakan bahwa Anda bukan putra Allah. Namun asalkan Anda dapat berseru dengan mesra, “Ya Abba, ya Bapa!” Anda akan mengetahui dengan pasti, bahwa Anda adalah putra Allah.
B. KESAKSIAN ROH ITU
“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Dalam ayat 14 kita nampak ada “putra-putra Allah”, dan dalam ayat 15 ada “Roh ke-putraan”. Mengapa dalam ayat 16 Paulus mendadak me-nyebutkan “anak-anak”? Sebab Roh itu mempersaksikan sesuatu hal yang mendasar. Ia mempersaksikan hubungan pertama atau awal antara kita dengan Allah. Seperti telah saya katakan, kita mungkin adalah anak-anak Allah, tetapi tidak bertumbuh menjadi putra, dan kita mungkin adalah putra, tetapi tidak memiliki syarat sebagai ahli waris. Ka-rena belum saatnya bagi Roh Kudus untuk mempersaksikan bahwa kita adalah ahli-ahli waris Allah. Kebanyakan dari kita masih belum matang untuk dapat menyatakan kesak-sian yang sedemikian. Karenanya Roh itu mempersaksikan hubungan yang paling dasar dan awal itu, yaitu menjadi anak-anak Allah. Ia bersama-sama dengan roh kita mem-persaksikan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Maka kesaksian Roh Kudus sudah dimulai dari yang paling muda, bahkan dari kelahiran rohani kita. Tidak peduli berapa umur rohani Anda, berapa pendek usia keselamatan Anda, asalkan Anda sebagai anak Allah, Roh Allah pasti bersaksi dengan roh Anda. Perhatikan di sini bukan dikatakan “di dalam roh kita”. Kalau dikatakan “di dalam roh kita” itu berarti hanya Roh Allah yang bersaksi, sedang roh kita tidak bersaksi. Namun di sini dikatakan, Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita. Artinya kedua-duanya bersaksi bersama-sama. Roh Allah bersaksi, dan pada waktu yang sama, roh kita pun bersaksi bersama-Nya. Ini sungguh indah sekali!
Mungkin ada orang berkata, “Aku tidak merasa bahwa Roh Allah bersaksi. Di manakah Roh Allah itu? Aku tidak merasakan-Nya. Aku sedikit pun tak merasakan adanya Roh Allah di dalamku, aku tak pernah melihat-Nya, dan aku pun tak berdaya untuk merasakan-Nya, aku sama sekali tidak merasakan adanya Dia.” Tetapi tidakkah Anda merasa bahwa roh Anda sedang bersaksi? Anda harus tahu asalkan roh Anda bersaksi, itu berarti Roh Kudus juga bersaksi. Anda tidak dapat menyangkal bahwa roh Anda sedang ber-saksi di dalam Anda. Rasul Paulus sangat berhikmat, ia mengatakan bahwa Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita. Ketika roh kita bersaksi, itu berarti Roh Kudus bersaksi, sebab kedua roh itu sudah berbaur menjadi satu roh. Manusia sukar sekali membedakan kedua roh itu.
C. PIMPINAN ROH ITU
Banyak orang Kristen mempunyai konsepsi yang salah dan alamiah terhadap pimpinan Roh itu. Manusia pada umumnya mengira bahwa pimpinan Roh itu datang tiba-tiba dari langit tingkat ke tiga atau dari tempat lain. Ada orang minta agar Tuhan memberi suatu tanda, “O, Tuhan, berikan aku satu tanda, satu bukti, supaya aku tahu patutkah aku membeli barang ini. Tuhan, jika ada kendaraan, itu tan-danya aku boleh membelinya. Kalau tidak, berarti Engkau tidak menghendaki aku membelinya. Tuhan, semoga toko itu buka. Kalau toko itu tutup, berarti aku tidak boleh membelinya.” Itulah suatu contoh dari konsepsi yang keliru ten-tang pimpinan Tuhan.
Pernahkah Anda memperhatikan kata pertama dalam ayat 14, yang membicarakan masalah pimpinan Tuhan? Di situ dimulai dengan kata “sebab” (Tl.) yang menarik kita kembali kepada perkataan Paulus yang terdahulu, dan me-nunjukkan bahwa ayat 14 adalah kelanjutan masalah itu. Maka masalah pimpinan dalam ayat 14 mempunyai kaitan dengan beberapa masalah yang telah dibahas dalam ayat-ayat sebelumnya. Kini titik utama dari beberapa ayat itu ia-lah hidup menurut roh, supaya kita dapat memenuhi tun-tutan keadilan dari hukum Taurat Allah. Bagaimana kita dapat memperoleh pimpinan Roh? Bukan demi berdoa atau tanda-tanda atau petunjuk apa pun, tetapi demi hidup me-nurut roh.
Pimpinan Roh itu sekali-kali bukan berasal dari hal-hal luaran, bukan pula tergantung pada hal-hal lahiriah. Pim-pinan Roh itu berasal dari hayat yang di dalam. Saya dapat mengatakan bahwa pimpinan Roh berasal dari perasaan hayat, dari perasaan hayat ilahi yang ada di dalam kita. Istilah “hayat” dalam Roma 8 paling sedikit dipakai lima kali. Maka, pimpinan Roh itu adalah satu masalah perasaan hayat dan kesadaran hayat. Menaruh pikiran di atas roh adalah hayat (ayat 6 Tl.). Bagaimana kita mengetahui hayat ini? Bukan berdasarkan hal-hal lahiriah, tetapi demi pera-saan batin dan kesadaran hayat. Ada satu perasaan dalam batin yang muncul dengan meletakkan pikiran di atas roh. Kalau kita menaruh pikiran kita di atas roh kita, batin kita segera mendapat kekuatan, dan akan merasa puas. Kita pun akan mendapat pendirisan dan penyegaran. Melalui kesadaran dan perasaan itu, kita dapat mengetahui hayat di dalam kita, sedang demi perasaan hayat ini, kita akan mengetahui bahwa perbuatan kita itu benar. Dengan kata lain, kita mengetahui bahwa kita berada di bawah pimpinan Roh itu. Maka pimpinan Roh itu dalam ayat 14 bukan tergantung pada perkara-perkara lahiriah, melainkan mutlak tergantung pada perasaan hayat di dalam roh kita.
Saudari-saudari, ketika Anda ingin berbelanja, Anda tidak perlu berdoa, “Tuhan, bolehkah aku pergi berbelanja? Kalau tidak boleh, berilah aku suatu tanda.” Anda tidak perlu berdoa demikian. Jangan berkata, “O, Tuhan, jika Engkau tidak menghendaki aku berbelanja, cegahlah aku.” Jangan sekali-kali berdoa atau berpikir demikian. Jangan mengira jika Tuhan tidak menghalangi Anda pergi berarti ada pimpinan Tuhan. Boleh jadi semua urusan di luar lan-car, tetapi bagaimana batin Anda? Mungkin ketika Anda memarkir mobil Anda, lalu menuju ke pintu toserba, batin Anda segera merasa tidak enak. Batin Anda tidak saja tidak bertambah kuat, sebaliknya malah merasa kecewa. Meski-pun demikian, karena semua urusan di luar lancar, maka Anda tetap berjalan terus. Tetapi bagaimana Anda? Semakin mendekati pintu toserba, Anda semakin merasa hampa. Mungkin karena hal-hal lahiriah Anda mengira diri sendiri benar. Misalnya, Anda membawa uang cukup, suami Anda, yang takut kepada Anda, sudah setuju, cuaca cerah, lalu lintas lancar. Anda berkata kepada diri sendiri, “Tidakkah kamu percaya bahwa Allah berdaulat? Segala perkara bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan.” Saya tidak bertanya tentang perkara lahir, tetapi saya ingin bertanya bagaimana perasaan batin Anda? Sekalipun pada lahir semuanya tampak positif, tetapi pada batin terasa hampa dan lemah. Anda tidak memiliki pengurapan, pendirisan, atau damai sejahtera di batin.
Apakah artinya ini? Ini berarti pimpinan Roh itu ada di dalam Anda yaitu di dalam hayat batini Anda. Orang yang tidak percaya Tuhan tidak memiliki hayat ilahi seperti yang terdapat di dalam kita. Hayat ilahi di dalam kita tak henti-hentinya memimpin kita, bukan demi petunjuk-petunjuk atau tanda-tanda, melainkan memberikan suatu perasaan atau kesadaran batin. Maka Paulus berkata, “Sebab semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah putra Allah.” Kalau Anda mendapat pimpinan demi perkara lahir, itu membuktikan bahwa Anda bukan putra Allah. Jika Anda di-pimpin oleh perasaan hayat ilahi dalam batin, itu mem-buktikan Anda adalah putra Allah. Kita adalah putra Allah, sebab di dalam kita ada hayat Allah. Mengapa orang dunia bukan putra Allah? Sebab mereka tidak memiliki hayat Allah.
Coba renungkan, keledai yang ditunggangi Bileam, nabi kafir itu. Keledai itu dipimpin untuk berbicara seperti ma-nusia. Tetapi pimpinan itu bukan berasal dari hayat, melainkan dari suatu karunia ajaib. Pimpinan yang berasal dari karunia semacam itu, tidak menandakan bahwa ia adalah putra Allah. Memang keledai itu dipimpin hingga bisa berbicara seperti manusia, tetapi itu tidak berarti ia memiliki hayat manusia, lebih-lebih lagi, tak dapat dikatakan bahwa ia adalah putra Allah.
Saudari-saudari, ketika Anda ingin pergi ke toserba, walau setiap perkara di luar lancar dan beres, tetapi Anda perlu menaati perasaan hayat yang di dalam. Pada saat Anda mendekati pintu toserba, mungkin dalam batin Anda ada sesuatu yang menyuruh Anda pulang. Anda tidak mendengar kata-kata yang terdengar, tetapi Anda merasa kelam, lemah, dan gersang. Karena Anda adalah putra Allah, Anda memiliki suatu bukti dari hayat batin. Anda memiliki satu benda yang tidak dimiliki orang dunia. Karena Anda memi-liki hayat Allah, Anda memiliki pimpinan yang berasal dari hayat itu. Pimpinan itu membuktikan bahwa Anda adalah putra Allah. Itulah alasan Paulus dalam ayat 14 mengata-kan bahwa, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah putra Allah.”
Di manakah sebenarnya pimpinan yang Paulus bicarakan dalam ayat 14 itu? Dalam ayat 4 dan 6. Pimpinan Roh itu datang bila Anda hidup di dalam roh dan meletakkan pikiran di atas roh. Jika Anda hidup di dalam roh, dan me-letakkan pikiran di atas roh, Anda akan nampak bahwa pimpinan Roh itu ada pada diri Anda. Anda akan merasakan bahwa Anda hidup di dalam roh dan berperilaku di dalam roh. Anda tidak boleh melanggar atau tidak menaati pera-saan batin ini, sebab perasaan batin ini benar-benar pimpinan Roh itu. Bila Anda dalam batin memiliki perasaan ini, berarti Anda sedang dipimpin oleh Roh itu. Maka menaruh pikiran di atas roh, berarti meletakkan diri di bawah pimpinan Roh itu. Hayat batin memberi Anda perasaan; bahkan di dalam perkara kecil pun ia memberi perasaan, apakah Anda berada di bawah pimpinan Tuhan atau tidak. Jadi kita menerima pimpinan Roh itu berdasarkan hidup menurut roh dan meletakkan pikiran di atas roh. Maka pimpinan Roh yang dikatakan dalam ayat 14 bukan berasal dari keadaan sekitar di luar, melainkan dari perasaan hayat ilahi di batin. Pimpinan ini membuktikan bahwa kita adalah putra Allah. “Sebab semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah putra Allah.”
Saya hendak menyampaikan beberapa patah kata khususnya kepada kaum remaja, yang berusia belasan tahun, yang mungkin membaca berita ini. Ketika teman sekolah kalian berbicara secara duniawi, kalian akan menemukan, sampai suatu tingkat kalian tidak bisa lagi melibatkan diri ke dalam percakapan itu. Walaupun pada lahirnya tidak ada apa-apa yang bisa membuat kalian jemu, tetapi kalian merasa ada suatu larangan dalam batin kalian. Pengendalian batin ini berasal dari hayat Allah, yaitu hayat Allah yang membuat kalian menjadi putra Allah. Boleh jadi teman sekolah kalian sangat senang dan asyik sekali membicarakan hal-hal tentang dosa. Namun hayat yang ada dalam kalian itu tidak mengizinkan kalian mengucapkan sepatah kata pun, malahan mendesak kalian untuk meninggalkan mereka. Itulah pimpinan Roh itu. Pimpinan Roh itu menan-dakan bahwa kalian adalah putra Allah. Karena tanda yang timbul dari pimpinan Roh itu, teman-teman sekolah kalian akan merasa heran, apakah yang terjadi atas diri kalian. Mereka akan heran, mengapa kalian tidak mau bercakap-cakap lagi. Antara kalian dengan mereka terdapat suatu kelainan. Mereka merasa heran sebab mereka adalah anak-anak Iblis, sedang kalian adalah putra Allah. Di dalam ka-lian ada pimpinan Roh itu.
Saya juga ingin menyinggung sedikit tentang mode atau gaya busana. Hari ini anak-anak Iblis mempunyai mode dan gaya sendiri. Sudah tentu semua busana modern berada di bawah pimpinan Iblis. Busana modern adalah tanda dari anak-anak si jahat itu. Tidak seorang Kristen pun yang patut menghias dirinya seperti itu. Walaupun gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan tidak memasang peraturan-per-aturan tentang mode busana luaran itu, namun di dalam Anda ada hayat ilahi, yang membuat Anda menjadi putra Allah. Ketika teman-teman, sanak keluarga, dan teman se-kolah Anda berbusana seperti Iblis, di dalam batin Anda ada suatu perasaan yang tidak mengizinkan Anda berbusana seperti mereka. Itulah pimpinan Roh itu, suatu tanda bahwa Anda adalah putra Allah.
Bagaimana kita mengetahui bahwa kita adalah putra Allah? Kita mengetahuinya demi pimpinan Roh, sebab pimpinan Roh telah membubuhkan suatu tanda pada diri kita. Hayat batini itu senantiasa memberikan suatu perasaan atau kesadaran, agar kita jangan bertingkah laku seperti orang dunia. Kita harus berbeda dengan sanak keluarga, sahabat, teman sekolah, dan tetangga kita. Bila kita mematuhi perasaan hayat batin, dengan sendirinya kita bisa menyatakan suatu ciri-ciri, yang menunjukkan kepada orang bahwa kita berbeda dengan anak-anak Iblis, bahwa kita memiliki hayat Allah, yang membuat kita menjadi putra Allah. Ini adalah pimpinan Roh itu. Jangan sekali-kali mengira pimpinan Roh dalam ayat 14 itu merupakan perkara yang di luar. Itu mutlak suatu perasaan batin, yang berasal dari hayat ilahi di dalam roh kita.
Pimpinan Roh itu yang berasal dari perasaan hayat ilahi dalam batin ini bukan suatu kejadian yang kebetulan, me-lainkan adalah perkara yang terus-menerus terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya bernafas. Bernafas yang normal ialah yang terus-menerus. Bila bernafas menjadi suatu perkara yang kebetulan, itu menandakan bahwa kesehatan kita tidak beres. Karena pimpinan Roh itu adalah masalah hayat, maka hal ini harus berlaku terus- menerus secara normal dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari kita. Inilah pimpinan Roh itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita, pimpinan Roh itu membuktikan bahwa kita adalah putra Allah.
Jika kita tidak hidup menurut pimpinan Roh itu, kita mungkin adalah anak-anak Allah berdasarkan apa yang disaksikan bersama-sama oleh Roh itu dengan roh kita yang berseru, “Ya Abba, ya Bapa”, namun pada diri kita tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa kita adalah putra Allah. Boleh jadi kita adalah anak-anak Allah, tetapi kita tidak memiliki pertumbuhan dalam hayat yang berasal dari hidup menurut pimpinan Roh itu. Pimpinan Roh itu, dalam pertumbuhan hayat, menunjukkan bahwa kita adalah putra Allah.
Kita perlu mengenal perbedaan antara anak-anak Allah yang tercantum dalam ayat 16 dengan putra Allah dalam ayat 14. Anak-anak Allah adalah tahap permulaan hayat ilahi. Tahap ini terutama berkaitan dengan kelahiran; sedang putra Allah berkaitan dengan tahap yang lebih dewasa, yaitu mengenai pertumbuhan hayat. Untuk menjadi anak-anak Allah kita perlu kesaksian yang dilakukan bersama oleh Roh itu dengan roh kita. Tetapi untuk menjadi putra Allah, kita perlu memiliki pimpinan Roh berdasarkan perasaan hayat ilahi itu. Asalkan kita telah memiliki ke-saksian Roh itu bersama roh kita, kita sudah terjamin men-jadi anak-anak Allah. Namun untuk memiliki tanda atau bukti sebagai putra Allah, kita perlu pimpinan Roh itu, dan perlu hidup menurut perasaan hayat ilahi di dalam batin. Setiap orang Kristen sejati adalah anak-anak Allah, dan memiliki kesaksian bersama dari Roh itu dengan roh me-reka, tetapi tidak semua orang memiliki tanda atau bukti yang menerangkan bahwa mereka adalah putra Allah, yang bertumbuh dewasa dalam hayat ilahi, dan yang hidup me-nurut pimpinan Roh itu. Karenanya kita semua perlu maju dan bertumbuh di dalam hayat; dari tahap pertama sebagai anak-anak Allah meningkat ke tahap yang lebih dewasa, yang menunjukkan bahwa kita adalah putra Allah melalui tanda khas pimpinan Roh dalam hayat.