PENGUDUSAN DALAM HAYAT
Sebelum kita meninjau bagian pemuliaan, saya mempunyai beban memberitakan sedikit tambahan tentang pengudusan dalam hayat.
I. KEADILAN, KEKUDUSAN, DAN KEMULIAAN ALLAH
Paulus adalah seorang penulis ulung dan pemikirannya sangat dalam. Dalam surat Roma, pertama-tama Paulus membahas penghukuman, kemudian membahas pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Ketika Allah menanggu-langi kita, Ia selalu memperhatikan ketiga aspek dari atribut ilahi-Nya, yakni keadilan, kekudusan, dan kemuliaan-Nya. Allah itu adil, kudus, dan mulia. Keadilan berkaitan dengan tindakan, jalan, dan aktivitas-Nya. Setiap perkara yang dilakukan Allah itu adil. Kekudusan adalah sifat Allah. Kekudusan bukan perihal perbuatan, melainkan suatu sifat. Sifat atau hakiki meja adalah kayu, hakiki buku adalah kertas; demikianlah, sifat Allah adalah kudus. Perbuatan Allah adalah adil dan sifat Allah adalah kudus. Apakah kemuliaan itu? Kemuliaan ialah terekspresinya diri Allah. Ketika Allah terekspresikan, itulah kemuliaan. Jadi, dalam keadilan kita nampak tindakan Allah, dalam kekudusan kita nampak sifat Allah, dan dalam kemuliaan kita nampak ekspresi Allah. Ketiga bagian dari surat Roma ini pembenaran, pengudusan dan pemuliaan terbentuk seturut ke-tiga atribut Allah: Pembenaran berdasarkan keadilan Allah, pengudusan berdasarkan kekudusan Allah, dan pemuliaan berdasarkan kemuliaan Allah.
Dalam tahap pertama karunia keselamatan Allah, kita menikmati keadilan Allah. Itulah pembenaran yang di da-lamnya kita mendapatkan keadilan Allah. Dalam tahap ke-dua, kita berada dalam proses pengudusan, yang di dalam-nya Allah menggarapkan sifat ilahi-Nya ke dalam kita. Kebenaran Allah diperhitungkan atas kita dalam pembenar-an, tetapi tidak digarapkan ke dalam kita. Namun dalam pengudusan Allah, kekudusan-Nya digarapkan ke dalam diri kita. Walaupun pada lahirnya kita telah memperoleh dan berbagian dalam kebenaran Allah, kita masih perlu kekudusan-Nya digarapkan ke dalam kita. Tahap kedua dari karunia keselamatan Allah adalah Allah menggarapkan sifat kudus-Nya ke dalam diri kita.
Untuk merampungkan hal ini, Allah telah melalui proses menjadi Roh hayat yang tersedia (8:2). Jika Ia belum melalui proses, Ia tidak tersedia secara praktis untuk merampungkan pekerjaan pengudusan yang subyektif. Sebelum Ia melalui proses, Ia dapat menciptakan dunia, tetapi Ia tidak dapat masuk ke dalam ciptaan-Nya. Meski Ia dapat melakukan banyak hal di luar kita, namun Ia tidak dapat masuk ke dalam kita. Setelah Ia mengalami seluruh proses inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan, barulah Ia menjadi Roh hayat yang praktis. Ia kini bagaikan udara yang kita hirup (Yoh. 20:22). Dengan mudah sekali Ia masuk ke dalam kita. Sebagai Roh hayat yang praktis, Allah kini telah masuk ke dalam roh kita, dan membuat roh kita menjadi hayat. Karena Kristus, Roh pemberi-hayat ini ada di dalam kita, roh kita menjadi hayat karena kebenaran (8:10). Demi kelahiran kembali, Tuhan telah membuat roh kita menjadi hayat. Sekarang sebagai Roh hayat yang berada di dalam roh kita, Ia sedang memperluas diri-Nya dari roh kita ke jiwa kita pikiran, emosi, dan tekad kita. Akhirnya, Ia bahkan akan meluas sampai ke tubuh kita yang fana. Dengan demikian, Allah menjenuhi kita dengan diri-Nya. Penjenuhan ini disebut pengudusan. Melalui penjenuhan ini Allah menggarapkan diri-Nya dan sifat kudus-Nya ke seluruh diri kita, ke dalam roh, jiwa, dan tubuh kita (1 Tes. 5:23). Jadi, seluruh diri kita akan sepenuhnya diresapi, dikuduskan dengan sifat kudus-Nya. Sekarang kita sedang mengalami proses pengudusan ini, yakni tahap kedua dari karunia keselamatan Allah.
Tahap berikutnya kita akan diangkat dan dimuliakan. Itulah saat tubuh kita tertebus. Dimuliakan berarti tubuh kita yang hina ini diubah menjadi tubuh yang mulia (Flp. 3:21). Saat itu dengan mutlak dan sepenuhnya kita di-masukkan ke dalam diri Allah, sebagai kemuliaan kita. Setelah itu kita akan dimuliakan seluruhnya.
Tahap pertama karunia keselamatan Allah pembenaran, bersangkut paut dengan roh kita; tahap kedua pengudusan, terutama membereskan jiwa kita, dan juga sedikit meresapi tubuh kita; tahap ketiga pemuliaan, menyangkut tubuh jasmani kita. Dalam Roma 8:10 Paulus berkata, “Jika Kristus ada di dalam kamu, . . . roh adalah hayat oleh karena kebenaran.” Itu berarti kita beroleh kebenaran dalam pembenaran Allah. Melalui kebenaran ini roh kita telah dihidupkan, bahkan dengan riil akan menjadi hayat. Tetapi dalam jiwa kita belum ada hayat ilahi. Sebab itu, kita perlu bekerja sama dengan Kristus yang berhuni di batin dengan meletakkan pikiran kita di atas roh sehingga Roh hayat dapat meresapi pikiran kita dengan diri-Nya. Sesudah itu pikiran kita akan menjadi hayat. Bila kita terus bekerja sama, Yang meresapi dan meluas itu malah akan memperluaskan diri-Nya dari roh kita kepada tubuh kita yang fana. Setelah itu, kita hanya perlu menantikan saat dibawanya tubuh kita ke dalam kemuliaan-Nya. Itulah pemuliaan kita.
Kini kita bisa memahami mengapa Paulus menulis surat Roma menurut urutan yang demikian, pertama pem-benaran, lalu pengudusan, dan kemudian pemuliaan. Ketiga perkara tersebut mencakup tiga tahap karunia keselamatan yang sempurna, bahkan itu sangat sesuai dengan tiga bagian diri kita. Dalam pembenaran, roh kita dihidupkan; dalam pengudusan, jiwa kita dijadikan hayat; sedang dalam pemuliaan, tubuh kita akan dipenuhi oleh hayat. Bila proses tersebut sudah genap, kita tidak hanya dibenarkan, dikuduskan, bahkan dimuliakan. Hari ini kita masih dalam pro-ses pengudusan. Karena itu saya berbeban untuk menyampaikan berita tentang pengudusan dalam hayat. Walaupun Anda mungkin tak pernah mendengar ungkapan “pengudusan dalam hayat”, hal ini merupakan suatu kenyataan.
Dari permulaan surat Roma hingga 8:13, ada dua hal pokok yang dibahas, yakni pembenaran dan pengudusan. Dalam pembenaran, Allah mengaruniakan kebenaran-Nya kepada kita, yaitu Kristus sendiri. Allah telah membuat Kristus menjadi kebenaran kita. Tetapi itu masih obyektif, sebab kebenaran adalah Kristus menjadi penutup kita, sama halnya seperti sebuah atap rumah yang menudungi kita. Namun dalam tahap kedua, pengudusan, Allah menggarapkan Kristus ke dalam kita, sehingga Ia menjadi kekudusan kita secara subyektif. Seluruh diri kita akan diresapi oleh sifat kudus Alah. Itulah artinya pengudusan dalam hayat.
II. HAYAT DAN PENGUDUSAN
DALAM SURAT ROMA
Dalam tujuh setengah pasal di depan dari surat Roma, istilah “hayat” sering dipakai. Hayat ini terutama untuk pengudusan. Demi hayat ini Kristus meresapi kita, menjenuhi kita, dan menginfuskan sifat kudus Allah ke dalam kita, agar kita dikuduskan dalam sifat kita. Pada kitab lainnya kita pun nampak hal pengudusan demi darah, di mana dikatakan bahwa darah Kristus telah menguduskan kita (Ibr. 13:12). Tetapi dalam surat Roma kita tidak menemukan pengudusan dalam aspek ini. Dalam surat Roma tidak ada pengudusan berdasarkan darah yang obyektif itu, melainkan hanya ada pengudusan dalam hayat yang subyektif. Maka berita ini justru membicarakan pengudusan di dalam hayat. Kini kita perlu membaca dan merenungkan beberapa ayat yang menyebutkan masalah hayat tersebut.
Dalam Roma 1:4 Paulus membicarakan Kristus, me-gatakan bahwa “Menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa.” Di sini “Roh kekudusan” berlawanan dengan “daging” (jasmani) dalam 1:3. Kalau daging dalam 1:3 ditujukan kepada esens insani Kristus, maka Roh di sini bukan ditujukan kepada persona Roh Kudus, tetapi kepada esens ilahi Kristus, yang merupakan “kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Esens ilahi Kristus adalah Allah Roh itu sendiri (Yoh. 4:24), adalah keilahian Kristus, yang kudus, penuh dengan sifat dan mutu kudus. Kristus memiliki dua sifat: ilahi dan insani. Setiap sifat-Nya itu memiliki satu esens. Esens sifat insani-Nya, keinsanian-Nya adalah daging; esens sifat ilahi-Nya adalah Roh kekudusan. Karena itu, Roh kekudusan di sini adalah esens ilahi dari persona Kristus. Esens ini adalah kekudusan.
Bagian akhir 1:17 mengumumkan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” “Akan hidup” boleh diterjemahkan “akan memiliki hayat dan hidup”. Apakah tujuan kita memiliki hayat? Tujuan utamanya adalah agar kita dapat dikudus-kan. Meskipun kita telah dibenarkan, kita masih perlu memiliki hayat agar dapat dikuduskan, yaitu agar sifat ku-dus Allah tergarap ke dalam diri kita. Itulah pengudusan.
Dalam Roma 5:10 Paulus berkata, “Kita akan diselamat-kan dalam hayat-Nya” (Tl.). Diselamatkan di dalam hayat-Nya ini bukan untuk pembenaran; sebab kita telah dibenarkan melalui kematian-Nya. Namun meskipun kita telah dibenarkan demi kematian Kristus, kita masih perlu dikuduskan dalam hayat-Nya yang menyelamatkan. Sebab itu, beroleh selamat dalam hayat-Nya terutama bukan untuk pembenaran, melainkan untuk pengudusan.
Roma 5:17 mengatakan tentang berkuasa dalam hayat. Paulus mengatakan, “Maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan anugerah (kasih karunia) dan karunia kebenaran, akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Kita telah beroleh kebenaran secara obyektif; tetapi kita belum beroleh kekudusan secara subyektif. Kita perlu berkuasa dalam hayat, agar kita memiliki kekudusan yang subyektif sebagai pengudusan kita. Karena itu dalam ayat ini hayat adalah untuk tahap lanjutan dari karunia keselamatan Allah, terutama tahap pengudusan.
Dalam 5:21 Paulus mengatakan, “Demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita” (Tl.). Kasih karunia berkuasa melalui kebenaran untuk hidup yang kekal. Apakah tujuannya? Karena ayat ini terdapat dalam bagian pengudusan, maka kita harus mengatakan bahwa hal ter-sebut terutama untuk pengudusan.
Roma 6:4 mengatakan, “. . . supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam kebaruan hayat” (Tl.). Hidup dalam kebaruan hayat bukan untuk pembenaran, melainkan untuk pengudusan. Sama seperti “pengudusan” yang dinyatakan dalam ayat 19 dan 22. Kemudian Roma 6:5 melanjutkan, “sebab jika kita telah bertumbuh bersama Dia dalam rupa kematian-Nya, kita juga akan bertumbuh bersama Dia dalam rupa kebangkitan-Nya” (Tl.). Ayat ini mengatakan tentang bertumbuh, dan bertumbuh adalah perkara hayat. Kita telah bertumbuh bersama Kristus dalam rupa kematian-Nya, dan kini kita sedang bertumbuh bersama-Nya dalam rupa kebangkitan-Nya, yak-ni di “dalam kebaruan hayat”. Bertumbuh bersama Kristus dalam kebaruan hayat terutama untuk pengudusan.
Jika kita menginjil kepada orang dengan wajar dan hidup, Kristus yang hidup akan tersalur ke dalam mereka. Mereka tidak saja menerima kemampuan untuk percaya, tetapi juga telah menerima benih hayat. Ketika kita membaptis orang yang baru bertobat, dalam pembaptisan itu, benih hayat di dalam mereka bertumbuh bersama Kristus. Inilah yang dimaksud Paulus dengan Roma 6:5. Sewaktu kita membaptis orang yang baru bertobat, benih hayat yang telah ditaburkan di dalam mereka bertumbuh bersama Kristus dalam rupa kematian-Nya, yakni pembaptisan. Setelah itu, mereka masih harus bertumbuh bersama Kristus dalam rupa kebangkitan-Nya, yakni dalam kebaruan hayat. Karena itu, sejak Kristus tertabur ke dalam orang yang baru bertobat, ia harus bertumbuh di dalam hayat. Pertumbuhan ini terutama bukan untuk pembenaran, melainkan untuk pengudusan.
Sekarang kita perlu membaca 6:11, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Kita wajib memandang diri sendiri hidup bagi Allah dalam Kristus. Ini berarti setelah kita dibenarkan, kita hidup, supaya kita dikuduskan.
Roma 6:19 mengatakan, “Sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Kalau dulu kita menyerahkan anggota tubuh kita menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kita kepada kedurhakaan, sekarang kita perlu menyerahkan anggota tubuh kita menjadi hamba kebenaran yang membawa kita kepada pengudusan. Pengudusan bukan semata-mata hal kedudukan, yakni memisahkan kita dari kedudukan yang umum dan duniawi kepada kedudukan bagi Allah, seperti yang digambarkan dalam Matius 23:17, 19 (di sana dikatakan emas dikuduskan karena bait suci, dan persembahan dikuduskan karena mezbah, sebab kedudukannya telah berubah), dan dalam 1 Timotius 4:3-5 (makanan menjadi kudus karena doa orang saleh). Pengudusan juga merupakan hal sifat, yakni dari sifat alamiah berubah menjadi sifat rohani, seperti yang dikatakan dalam Roma 12:2 dan 2 Korintus 3:18. Ini adalah suatu proses jangka panjang, yang dimulai dari kelahiran kembali (1 Ptr. 1:2-3; Tit. 3:5), melalui seluruh kehidupan orang Kristen (1 Tes. 4:3; Ibr. 12:14; Ef. 5:26), dan mencapai kesempurnaannya pada kematangan hayat ketika kita diangkat (1 Tes. 5:23).
Beberapa istilah Yunani yang dipakai dalam surat Roma antara lain: hagios, hagiosune, hagiazo, dan hagiasmos ada-lah memiliki akar kata yang sama, yang pada dasarnya ber-arti dipisahkan, disisihkan. Hagios dalam terjemahan ba-hasa Indonesia ialah “kudus” dalam 1:2 (suci); 5:5; 7:12: 9:1: 11:16; 12:1; 14:17; 15:13,16; 16:16, juga diterjemahkan sebagai “orang kudus” dalam 1:7; 8:27; 12:13; 15:25,26,31; 16:15. “Hagiosune” diterjemahkan sebagai “kekudusan” (1:4). “Hagiazo” adalah kata kerja, dipakai dalam bentuk lampau dan diterjemahkan “disucikan” (15:16). “Hagiasmos” diterjemahkan menjadi “pengudusan” (6:19, 22). Maka kudus berarti dipisahkan, disisihkan (untuk Allah). Orang kudus berarti orang-orang yang dipisahkan, disisihkan (untuk Allah). Kekudusan mengacu kepada sifat dan mutu kudus. Pengudusan adalah hasil riil, tindakan khusus, dan keadaan terakhir dari dikuduskan (untuk Allah).
Sekarang mari kita membaca 6:22, “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup (hayat) yang kekal.” Di sini tidak dikatakan, “Kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pembenaran dan sebagai kesudahannya ialah naik ke surga.” Melainkan “ber-oleh buah yang membawa kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hayat yang kekal.” Ini ditujukan kepada pengudusan di dalam hayat. Buah atau hasil pengudusan adalah kelimpahan hayat. Pengudusan membawa kita ma-suk ke dalam kenikmatan kelimpahan hayat ilahi itu.
Kemudian dikatakan dalam 6:23, “Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Hayat kekal telah diberikan kepada kita sebagai karunia Allah yang gratis, dan hal itu terutama untuk menguduskan kita, dan pengudusan membawa kita ke dalam kenikmatan kelimpahan hayat itu.
Sekarang kita lihat pasal 8. Meskipun kita sudah sangat hafal dengan ayat-ayat mengenai hayat dalam pasal 8 ini, saya masih mempunyai beban agar hal ini mengesankan Anda lebih dalam, agar Anda tidak lupa sampai selamanya. Roma 8:2 mengumumkan, “Karena hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus Yesus dari hukum dosa dan hukum maut.” Hukum Roh hayat telah memerdekakan kita, bukan untuk pembenaran, tetapi untuk pengudusan.
Roma 8:6, “Meletakkan pikiran di atas roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat, terutama untuk pengudusan, yakni penjenuh-an dalam hayat oleh sifat kudus Allah.
Perhatikan 8:10, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.” Kita perlu mem-perhatikan kata-kata “memang” dan “tetapi”. Jika Kristus ada di dalam kita, “tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan (hayat) oleh karena kebenaran.” Tat-kala Kristus masuk ke dalam kita, tubuh kita tetap mati karena dosa. Tetapi, karena kita telah beroleh kebenaran Allah, maka roh kita adalah hayat. Ayat ini tidak mewakili hayat rohani kita yang lebih lanjut, tetapi merupakan per-mulaan hayat rohani kita. Ayat ini menunjukkan saat kita dibenarkan dan Kristus masuk ke dalam kita. Pada saat kita dibenarkan, kita beroleh kebenaran Allah, dan Kristus pun masuk ke dalam kita. Walaupun tubuh kita tetap mati karena dosa, tetapi roh kita menjadi hayat karena kebenaran Allah. Dalam 8:11, dalam bahasa aslinya kita nampak sebuah istilah “tetapi” yang sangat berarti. “Tetapi, jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah mem-bangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Begitu Ia masuk ke dalam kita, Ia perlu tinggal dan berumah di dalam kita. Bila kita membiarkan-Nya berbuat demikian, Ia akan mengaruniakan hayat kepada tubuh kita yang fana. Tubuh kita yang dulunya mati akan dihidupkan kembali demi Roh Kudus yang berhuni di dalam kita. Ketika Roma 8:10 mengatakan bahwa Kristus ada di dalam kita, hal itu ditujukan kepada tahap pertama pengalaman rohani kita. Ketika ayat 11 mengatakan Roh Kudus tinggal di dalam kita, itu merupakan tahap yang lebih lanjut. Pada waktu Kristus masuk ke dalam kita, Ia menghidupkan roh kita dan membuatnya menjadi hayat. Tetapi ketika Kristus tinggal dan berumah di dalam kita, Ia menghidupkan tubuh kita dan meresapinya dengan hayat. Ingatlah bahwa Roma 8:10 menunjukkan tahap pertama atas masuknya Kristus ke dalam kita, dan saat itu roh kita adalah hayat, sedang tubuh kita tetap mati. Akan tetapi, bila mulai saat itu kita membiarkan Kristus berumah di dalam kita, yakni membiarkan-Nya memperluas diri-Nya ke dalam pikiran, emosi, dan tekad kita, Ia bahkan akan menyalurkan diri-Nya ke tubuh kita sebagai hayat. Pada saat ini tubuh kita pun akan dijenuhi oleh hayat, terutama untuk pengudusan.
Roma 8:13 melanjutkan, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Jika kita mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita oleh Roh, kita akan hidup, ini terutama untuk pengudusan, agar kita diresapi oleh Kristus secara tuntas dan sepenuhnya. Ayat 11 mengatakan bahwa jika Roh itu tinggal di dalam kita, Ia akan menyalurkan hayat kepada tubuh kita yang fana. Ayat 13 mengatakan bahwa jika kita mematikan segala perbuatan tubuh kita, kita akan hidup. Ini berarti Ia meminta kita bekerja sama dengan Dia. Secara batiniah, kita perlu membiarkan Kristus, Roh pemberi-hayat itu berumah di dalam hati kita, supaya Dia dapat menyalurkan hayat-Nya ke dalam tubuh kita. Secara lahiriah, kita perlu mematikan segala perbuatan tubuh, supaya kita hidup. Ini adalah penerapan salib Kristus secara riil atas segala perbuatan tubuh kita. Jika kita berbuat demikian, kita akan hidup dan menikmati Kristus sebagai hayat. Kita pun akan memasuki kelimpahan Kristus sebagai hayat. Setelah itu hayat ini akan meresapi diri kita dengan segala hakiki Allah. Ia akan meresapi kita dengan sifat kudus Allah, dan kita pun dikuduskan. Dalam 15:16 Paulus bahkan mengatakan, “Supaya bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang di-sucikan oleh Roh Kudus.” Bangsa-bangsa lain termasuk mereka yang dulunya menyembah berhala dan berzinah, semuanya akan dikuduskan dalam sifatnya berdasarkan sifat Allah. Itulah pengudusan di dalam hayat. Seperti yang telah kita nampak, istilah pengudusan dan hayat dalam bagian pengudusan ini dipakai beberapa kali. Kita semua harus mengenal hubungan di antara keduanya itu.
Pemikiran Paulus sangat dalam. Dalam diri Paulus ada pemikiran tentang keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Semua atribut ilahi ini harus menjadi milik kita: Keadilan Allah harus menjadi keadilan kita; kekudusan-Nya harus menjadi kekudusan kita; kemuliaan-Nya pun harus menjadi kemuliaan kita. Dalam 1 Korintus 1:30 Paulus menyinggung ketiga hal ini, dengan mengatakan bahwa Allah telah membuat Kristus menjadi hikmat bagi kita: yaitu kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita. (Kata “penebusan” dalam 1 Kor. 1:30 ditujukan kepada “pemuliaan”). Jadi, dalam 1 Korintus 1:30, dengan satu kalimat Paulus menerangkan tiga hal, sedang dalam surat Roma ia membahasnya dalam delapan pasal. Jadi Roma 1 sampai Roma 8 adalah penjelasan dari 1 Korintus 1:30.
Bagaimana kita bisa memiliki kebenaran Allah? Untuk memiliki kebenaran Allah kita memerlukan empat perkara: Perujukan, penebusan, pembenaran, dan pendamaian. Keempat hal tersebut menandakan usaha Allah dalam menyalurkan kebenaran-Nya kepada kita. Dengan demikian, Allah telah melakukan banyak hal untuk menyalurkan kebenaran-Nya kepada kita, ini bukan pekerjaan yang mudah. Allah harus menggenapkan perujukan, penebusan, pembenaran, dan pendamaian. Kita wajib ingat definisi keempat istilah dan perbedaan antara satu dengan lainnya, seperti yang telah kita bahas dalam berita kelima.
Setelah bekerja secara obyektif untuk memberikan kebenaran-Nya kepada kita, kini Allah sedang bekerja secara subyektif untuk menyalurkan kekudusan-Nya ke dalam kita. Allah akan mentransfusi dan menginfuskan sifat kudus-Nya ke dalam kita, agar di dalam diri kita terdapat esens-Nya yang ilahi dan kudus itu. Kita akan diresapi dan dijenuhi sepenuhnya dengan sifat kudus Allah. Itulah pengudusan yang tercantum dalam surat Roma. Walaupun pengudusan mempunyai aspek kedudukannya, tetapi yang kita lihat da-lam surat Roma bukan aspek ini. Pengudusan yang terdapat dalam surat Roma bersifat subyektif, dan pada aspek sifat-nya, karena sifat Allah akan digarapkan ke dalam sifat kita. Bahkan sifat-Nya akan dimasukkan ke dalam sifat kita, agar seluruh diri kita diubah.
III. TUJUAN ALLAH DALAM PENGUDUSAN
Apakah tujuan pengudusan sifat itu? Tujuannya ialah Allah ingin melahirkan banyak putra (Rm. 8:29). Yohanes 1:12 memberi tahu kita bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah, kita telah dilahirkan sebagai anak-anak Allah. Akan tetapi, saya ingin bertanya kepada Anda, yakinkah Anda bahwa Anda sudah benar-benar serupa dengan putra Allah? Anda nampak seperti anak siapa? Walau ada beberapa orang Kristen akan memperdebatkan teorinya, namun saya ingin juga bertanya kepada mereka, manusia macam apakah mereka. Ya, semua orang Kristen yang sejati sudah terlahir sebagai anak-anak Allah, tetapi mereka perlu bertumbuh ke dalam pengudusan supaya mereka mirip dengan putra Allah. Banyak sekali orang Kristen sejati setelah dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah, masih tetap menempuh hidup secara duniawi. Mereka perlu dikuduskan dalam hayat ilahi, supaya mereka dapat bertumbuh hingga mencapai kema-tangan keputraan ilahi.
Tuhan telah membawa kita ke dalam pemulihan-Nya, dan pemulihan-Nya adalah untuk realitas dan pelaksanaan. Kiranya kita menengadah kepada Tuhan, mohon belas kasihan-Nya, agar Ia melepaskan kita dari pengetahuan yang hampa. Yang kita perlukan ialah realitas dan pelaksana-annya. Apa yang Paulus tulis dalam surat Roma adalah hal-hal yang berkaitan dengan realitas dan pelaksanaan. Allah telah menggenapkan satu karya besar, agar kita bisa memiliki kebenaran-Nya. Sekarang Ia bekerja di dalam kita, supaya kita dapat dikuduskan, sehingga sifat-Nya yang kudus dapat sepenuhnya tergarap ke dalam diri kita. Kita akan dikuduskan bukan hanya secara lahiriah dan obyektif, tetapi juga secara batiniah dan subyektif. Pada akhirnya kita akan dipenuhi dengan sifat kudus-Nya. Dalam berita-berita ini, saya tidak bermaksud hanya memberikan uraian lain atas surat Roma. Apa yang Tuhan lakukan di tengah-tengah kita hari ini adalah mencelikkan mata kita, supaya kita nampak bahwa kita memerlukan karya pengudusan-Nya. Kita memerlukan hayat-Nya yang mampu menguduskan kita. Kita memerlukan hayat kekal-Nya untuk menggarapkan diri-Nya yang kudus ke dalam sifat kita, agar kita dapat sungguh-sungguh, dengan riil menjadi putra-putra-Nya, bukan dalam perkataan saja, melainkan dalam realitasnya. Sekali-pun kita telah terlahir sebagai anak-anak Allah, namun kita tidak mirip putra Allah. Karena itu, kita memerlukan pengudusan subyektif di dalam hayat itu.
Pengudusan menghasilkan pengubahan. Kita perlu diubah dari satu corak ke corak lain. Tidak hanya corak lahir yang perlu diubah, tetapi juga sifat batin dan esens batin harus diubah. Pengubahan substansi batin ini memerlukan proses pengudusan. Terpujilah Tuhan, Ia bekerja di dalam kita! Kita telah dibenarkan, kini kita sedang dalam proses pengudusan. Allah menggarapkan kekudusan-Nya ke dalam kita, dan kita akan dikuduskan di dalam hayat.
Kristus yang tersalib adalah untuk pembenaran kita, sedang Kristus yang bangkit adalah untuk pengudusan kita. Kristus mati tersalib terutama untuk pembenaran kita. Kristus di dalam daging sebagai Penebus terutama untuk pembenaran kita, tetapi sekarang Ia di dalam roh kita menjadi Roh pemberi-hayat, hidup di dalam kita untuk pengudusan kita. Ia adalah Yang tersalib, kini Dia adalah Yang bangkit. Ia pernah menjadi Penebus kita di dalam daging, kini Ia di dalam roh kita sebagai Roh pemberi-hayat. Sebagai Roh pemberi-hayat, Dia adalah hayat kita, dan sedang meresapi kita dengan sifat kudus-Nya, sampai kita menjadi ku-dus di dalam sifat kita secara tuntas. Itulah sebabnya dalam surat Roma, tidak seperti kitab-kitab lainnya dalam Perjan-jian Baru, pengudusan yang ditampilkannya bukan pengudusan kedudukan melalui darah, melainkan pengudusan sifat melalui hayat, yakni melalui diri Tuhan yang hidup. Tuhan bekerja di dalam roh kita, dan dari pusat diri kita terus meluas ke setiap bagian kita, hingga mencapai ling-karan sekitarnya. Kemudian kita akan diresapi sepenuhnya oleh sifat kudus-Nya itu. Jadi, seluruh diri kita akan dikuduskan oleh Kristus, Roh pemberi-hayat dan oleh hayat-Nya yang empat ganda. Kita telah nampak bahwa hayat-Nya adalah empat ganda: hayat dalam Roh ilahi, hayat dalam roh manusia kita, hayat dalam pikiran kita, dan hayat dalam tubuh fana kita. Maka sebagai Roh pemberi-hayat, Ia telah menguduskan kita melalui hayat-Nya yang kaya. Ia benar-benar kaya! Ia cukup kaya untuk menyuplai tubuh kita yang fana dengan hayat-Nya.
Pembenaran adalah untuk pengudusan, dan pengudusan adalah untuk pemuliaan. Dalam berita berikutnya kita akan meninjau tujuan pemuliaan.