← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 3/20

PENDAHULUAN (3)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 1:15-22

Dua Korintus 1:15-22 adalah bagian dari pendahuluan yang panjang bagi kitab ini. Kita telah menunjukkan bahwa Paulus menulis pendahuluan yang demikian panjang untuk menenangkan kaum beriman Korintus dan menyejukkan mereka. Orang-orang Korintus yang rumit ini membicarakan tentang Paulus dan bahkan mengkritik dia. Beberapa orang mungkin berkata, “Paulus memberi tahu kita bahwa ia akan datang ke Korintus, tetapi ia belum juga datang. Paulus kelihatannya berubah-ubah; ia berkata ya pada satu hari, tetapi tidak pada hari berikutnya. Jadi, Paulus itu tidak setia, tidak dapat dipercaya. Biarlah ia mengatakan apa saja yang ia inginkan. Ia selalu mengubah perkataannya.” Karena ini adalah situasi dari sedikitnya beberapa orang Korintus, maka Paulus memasukkan 1:15-22 dalam perkataan pendahuluannya.

V. MENGENAI KEDATANGAN RASUL

Ayat 15 mengatakan, “Berdasarkan keyakinan ini aku pernah merencanakan untuk mengunjungi kamu dahulu, supaya kamu boleh menerima anugerah (kasih karunia) untuk kedua kalinya.” Berdasarkan “keyakinan ini” Paulus mengacu kepada apa yang baru saja dikatakannya dalam ayat 12 sampai 14: kesaksian dari hati nuraninya bahwa ia dan sekerja-sekerjanya berperilaku dalam ketulusan dan kemurnian Allah, bukan dalam hikmat manusia, melainkan dalam kasih karunia Allah. Dalam keyakinan inilah Paulus bermaksud datang kepada orang Korintus. Maksud dan keputusannya mengunjungi Korintus itu tidak bersifat politis atau berubah-ubah. Paulus dan sekerja-sekerjanya tidak hidup secara begitu. Sebaliknya, mereka hidup dalam ketulusan dan kemurnian Allah. Bila mereka berkata ya itu berarti ya dan bila tidak itu berarti tidak. Mereka tidak mengatakan ya pada satu saat dan tidak pada saat lainnya.

Dalam ayat 15 Paulus membicarakan tentang orang-orang Korintus menerima kasih karunia untuk kedua kalinya. Ini adalah kasih karunia ganda yang didapat karena dua kali kedatangan rasul ke Korintus, sekali dalam ayat ini, dan sekali lagi dalam ayat berikutnya. Karena kedatangan rasul, kasih karunia Allah, yaitu penyaluran Allah sebagai suplai hayat dan kenikmatan rohani, diberikan kepada kaum beriman. Dua kali kedatangannya membawakan kepada mereka bagian yang berlipat akan kasih karunia ini.

Ayat 16 mengatakan, “Kemudian aku mau meneruskan perjalananku ke Makedonia, lalu dari Makedonia kembali lagi kepada kamu, supaya kamu menolong aku dalam perjalananku ke Yudea.” Makedonia adalah suatu propinsi dalam Kekaisaran Romawi, sebelah utara Akhaya. Kota Filipi dan kota Tesalonika terletak di propinsi ini.

Dalam ayat 17 Paulus bertanya, “Jadi, apakah aku bertindak seenaknya saja dalam merencanakan hal ini? Atau apakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri, sehingga padaku serentak terdapat ‘ya’ dan ‘tidak’?” Bertindak seenaknya di sini berarti berubah-ubah, beralih dari satu hal kepada hal lainnya. Di sini Paulus menunjukkan bahwa ia tidak bertindak seenaknya; ia tidak berubah dari ya menjadi tidak dan dari tidak menjadi ya. Lagi pula, ia tidak membuat rencananya menurut daging. Membuat rencana itu lebih kuat daripada memutuskan. Paulus tidak bermuka dua. Ia tidak mengatakan ya dan tidak pada waktu yang sama, karena ia tidak merencanakan sesuatu menurut daging.

Dalam ayat 18 Paulus mengumumkan, “Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak ‘ya’ dan ‘tidak’”. Menurut bahasa aslinya, ayat ini lebih tepat diterjemahkan sebagai “Tetapi sebagaimana Allah adalah setia, perkataan kami kepada kamu . . .” Kata “tetapi” menyatakan satu kontradiksi. Dalam ayat sebelumnya rasul menyinggung tuduhan orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang tiba-tiba ya dan tiba-tiba tidak. Dalam ayat ini dia membela diri dengan mengatakan bahwa karena Allah adalah setia, maka perkataan pemberitaan mereka bukanlah ya dan tidak. Karena itu, mereka juga bukan orang-orang yang tiba-tiba ya dan tiba-tiba tidak, bukan orang-orang yang bertindak secara sembarangan. Apa adanya mereka adalah sesuai dengan pemberitaan mereka. Mereka hidup menurut apa yang mereka beritakan. Perkataan rasul dalam ayat 18 kepada orang-orang Korintus mengacu kepada pemberitaan rasul (1Kor. 1:18), adalah berita mengenai Kristus yang mereka sampaikan (ayat 19).

Dalam ayat 18 Paulus menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang bersatu dengan Allah. Paulus tidak bertindak seenaknya, ia tidak mengatakan ya dan kemudian tidak. Sebaliknya, ia sama dengan Allah dalam kesetiaan. Perkataannya terhadap orang-orang Korintus, yaitu perkataan pemberitaannya, bukanlah ya dan tidak. Paulus tidak mengubah nada bicaranya. Sejak kali pertama ia datang ke Korintus sampai ia menulis Surat Kiriman ini, pemberitaannya menyatakan penuturan yang sama. Tidak ada perubahan sama sekali dalam perkataan ministri itu.

Dalam ayat 19 Paulus melanjutkan, “Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah ‘ya’ dan ‘tidak’, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada ‘ya’”. “Karena” menyatakan alasan yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Allah adalah setia, tidak pernah berubah, terutama dalam janji-janji-Nya mengenai Kristus. Karena itu, perkataan pemberitaan rasul mengenai Kristus juga mutlak tidak berubah, karena Kristus yang Allah janjikan dalam perkataan-Nya yang setia dan yang mereka beritakan dalam Injil mereka, tidak serentak ya dan tidak. Sebaliknya, di dalam Dia hanya ada ya. Karena Kristus yang mereka beritakan menurut janji-janji Allah tidak serentak ya dan tidak, maka perkataan yang mereka beritakan mengenai Dia juga bukan serentak ya dan tidak. Bukan hanya pemberitaan mereka, bahkan kehidupan mereka pun menurut apa adanya Kristus. Mereka memberitakan Kristus, bahkan memperhidupkan Dia. Mereka bukan orang-orang yang serentak ya dan tidak, tetapi orang-orang yang sama seperti Kristus.

Dalam ayat 20 Paulus berkata, “Sebab Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh karena Dia kita mengatakan ‘Amin’ untuk memuliakan Allah.” Sekali lagi, kata “sebab” menyatakan alasan yang disebut dalam ayat sebelumnya. Kristus yang dijanjikan oleh Allah yang setia dan yang diberitakan oleh rasul yang tulus, tidak serentak ya dan tidak; Dia tidak berubah, karena di dalam Kristus ini semua janji Allah adalah ya, dan oleh Dialah, para rasul dan kaum beriman berkata “Amin” kepada Allah, bagi kemuliaan-Nya. Kristus adalah “ya”, wujud, jawaban, penggenapan dari semua janji Allah kepada kita. Amin di sini adalah Amin yang kita ucapkan melalui Kristus kepada Allah (cf. 1Kor. 14:16). Kristus adalah “Ya” itu, dan kita di hadapan Allah mengatakan “Amin” kepada “Ya” itu. Ini adalah kemuliaan bagi Allah. Ketika kita mengatakan “Amin” di hadapan Allah terhadap fakta bahwa Kristus adalah “Ya”, adalah penggenapan dari semua janji Allah, Allah dimuliakan melalui kita.

“Kita” dalam ayat 20 ini mengacu tidak hanya kepada para rasul, yang memberitakan Kristus menurut janji-janji Allah, tetapi juga kepada kaum beriman yang menerima Kristus menurut pemberitaan para rasul. Ketika kita mengatakan “Amin” kepada Kristus sebagai “Ya” yang agung dari semua janji Allah, maka melalui keduanya, kemuliaan adalah bagi Allah.

Bukanlah satu perkara yang sangat penting memutuskan untuk pergi ke tempat tertentu, tentu ini tidak dapat dibandingkan dengan keputusan besar seperti keputusan untuk menikah. Namun, orang-orang Korintus justru mengkritik Paulus atas perkara kecil demikian. Beberapa orang dari mereka mungkin berkata, “Paulus mengatakan bahwa ia akan datang ke Korintus, tetapi ia belum datang juga. Ini membuktikan bahwa ia adalah seorang yang serentak ya dan tidak.” Paulus membela dirinya terhadap tuduhan ini. Maka, dalam Surat Kiriman yang menghibur ini, ada aspek argumentasi dan pembelaan.

A. Bersatu dengan Kristus

Dalam ayat-ayat ini Paulus seolah-olah akan berkata, “Kalian salah, hai orang-orang Korintus. Ketika aku berencana untuk datang ke Korintus, aku tidak membuat rencana itu berdasarkan diriku atau di dalam diriku sendiri; aku membuat rencana bersama dengan Kristus Allah yang setia yang tidak berubah-ubah.” Dalam pembelaannya Paulus membicarakan tentang Allah dan Kristus, yang menunjukkan kepada orang-orang Korintus yang rumit itu bahwa ia mutlak esa dengan Allah dan dengan Kristus. Allah itu setia, maka Paulus juga setia. Kristus, Putra Allah, tidak berubah-ubah, dan Paulus seorang yang bersatu dengan Kristus, juga tidak berubah-ubah. Paulus membuat rencana bukan menurut hikmat manusia, melainkan dalam keesaan dengan Allah yang setia dan Kristus yang tidak berubah-ubah. Dalam ayat-ayat ini kita memiliki satu petunjuk yang kuat bahwa Paulus mutlak hidup dalam Kristus dan dalam Allah. Ia adalah seorang yang bersatu dengan Allah dan dengan Kristus.

Surat 1Korintus mewahyukan tentang apa yang sedang dicari Allah pada hari ini. Allah sedang mencari orang-orang yang memperhidupkan Kristus dan yang bersatu dengan Dia. Orang-orang yang demikian pada akhirnya akan menjadi gereja. Tahukah Anda apakah gereja itu? Gereja adalah kumpulan orang yang memperhidupkan Kristus dan yang bersatu dengan Allah. Mendapatkan orang-orang yang demikian adalah kedambaan hati Allah, dan ini adalah tujuan yang ditetapkan-Nya dalam kekekalan. Hal ini diwahyukan dengan singkat dalam 1Korintus, di mana Paulus mendesak kaum beriman untuk melupakan Yudaisme, filsafat Yunani, hikmat dan kebudayaan manusia, dan menyadari bahwa yang didambakan Allah adalah sekelompok orang yang memperhidupkan Kristus dan yang bersatu dengan Allah. Kemudian dalam 2Korintus Paulus memperlihatkan kepada mereka bahwa ia sendiri dan sekerja-sekerjanya adalah orang-orang yang demikian. Semua rasul adalah orang-orang yang bersatu dengan Allah dan memperhidupkan Kristus. Karena itu, dalam perkara yang tidak bermakna seperti berencana untuk pergi ke tempat tertentu, Paulus juga tidak merencanakan di dalam dirinya sendiri, melainkan dalam Kristus dan bersama Kristus. Ia tidak memiliki maksud yang di luar Allah atau yang terpisah dari Dia. Tidak, Paulus adalah seorang yang bersatu dengan Allah yang setia, dan ia memperhidupkan Kristus yang tidak berubah-ubah. Ketetapannya datang ke Korintus direncanakan dalam keesaan dengan Kristus Allah yang setia yang tidak berubah-ubah.

1. Dilekatkan kepada Kristus

Dalam ayat 21 Paulus melanjutkan berkata, “Sebab (Tetapi) Dia yang telah meneguhkan (melekatkan) kami bersama-sama dengan kamu di dalam (kepada) Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi.” Rasul-rasul, yang memberitakan Kristus menurut janji-janji Allah dan memperhidupkan Kristus menurut pemberitaan mereka, dan kaum beriman, yang menerima Kristus menurut pemberitaan rasul, keduanya dilekatkan kepada Kristus, menjadi satu dengan-Nya, dan oleh-Nya mereka mengatakan “Amin” di hadapan Allah kepada janji-janji Allah, “Ya” yang agung itu, yaitu Kristus sendiri. Tetapi yang melekatkan mereka semua kepada Kristus bukan diri mereka sendiri, melainkan Allah. Bersatunya mereka dengan Kristus adalah berasal dari Allah dan oleh Allah, bukan dari dan oleh mereka sendiri.

Dengan pemakaian kata “tetapi” dalam ayat 21 ini, Paulus menunjukkan satu kontradiksi. Paulus baru saja menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang bersatu dengan Allah yang setia dan bahwa ia memperhidupkan Kristus yang tidak berubah-ubah. Lalu, mengapa ia memulai ayat selanjutnya dengan kata “tetapi”? “Tetapi” yang dipakai dengan cara ini sering kali melibatkan satu perbedaan yang tidak disukai. Paulus memakai “tetapi” untuk menunjukkan bahwa ia bersatu dengan Allah dan memperhidupkan Kristus itu pun bukan berasal dari atau oleh dirinya sendiri. Karena alasan ini, maka Paulus seolah-olah akan berkata, “Ya, aku adalah orang yang bersatu dengan Allah dan aku memperhidupkan Kristus. Tetapi ini bukan berasal dari aku; ini berasal dari Allah, yang melekatkan kami bersama kamu kepada Kristus dan yang telah mengurapi kami. Aku bersatu dengan Allah dan memperhidupkan Kristus adalah berasal dari Allah, bukan berasal dari diriku sendiri. Aku tidak memiliki dasar untuk bermegah tentang hal ini. Kemegahan itu haruslah terhadap Allah sendiri.”

a. Bersama Kaum Beriman

Dalam ayat 21 Paulus membicarakan tentang dengan teguh dilekatkan bersama kaum beriman kepada Kristus, Sang Terurap (Dan. 9:26; Yoh. 1:41). Kata Yunani yang diterjemahkan “meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu” juga dapat diterjemahkan “melekatkan kami bersama-sama dengan kamu.” Secara harfiah, kata meneguhkan berarti mendirikan. Allah mendirikan para rasul bersama kaum beriman di dalam Kristus. Ini berarti Allah dengan teguh melekatkan para rasul bersama kaum beriman kepada Kristus, Yang Diurapi itu. Karena itu, para rasul dan kaum beriman bukan hanya bersatu dengan Kristus, Yang Diurapi itu, tetapi juga bersatu dengan sesamanya, sehingga sama-sama berbagian dalam pengurapan yang diterima Kristus dari Allah. Karena kita telah dilekatkan oleh Allah kepada Kristus, Yang Diurapi itu, dengan sendirinya kita telah diurapi bersama Dia oleh Allah.

Ayat 21 dan 22 ini dalam dan misteri. Meskipun kata Yunani yang diterjemahkan meneguhkan dalam ayat 21 berarti mendirikan, tetapi arti sebenarnya dari kata ini di sini bukanlah mendirikan, melainkan melekatkan. Di sini Paulus mengatakan bahwa Allah melekatkan kita kepada Kristus; ia tidak mengacu kepada didirikan di dalam Kristus.

Kita tidak boleh menerima ayat ini begitu saja atau menganggap bahwa kita memahaminya. Apakah yang Paulus maksudkan ketika ia mengatakan bahwa Allah “dengan teguh melekatkan kami bersama-sama dengan kamu kepada Kristus”? Kata “kami” mengacu kepada para rasul dan “kamu” mengacu kepada kaum beriman. Allah melekatkan para rasul bersama-sama dengan kaum beriman bukan di dalam Kristus, melainkan kepada Kristus. Kelihatannya tidak ada perbedaan dalam mengatakan bahwa Allah melekatkan kita bagi (attach to) Kristus atau kepada (attach unto) Kristus. Sebenarnya kata depan “kepada” yang dipakai di sini lebih kuat daripada kata depan “bagi”, karena “kepada” menyiratkan satu hasil, satu akhir yang khusus. Misalnya, kita telah dibenarkan kepada hayat. Ini berarti pembenaran menghasilkan hayat, pembenaran itu adalah untuk mendapatkan hayat. Di sini Paulus mengatakan bahwa Allah melekatkan para rasul bersama-sama dengan kaum beriman dengan satu hasil. Hasil ini ialah kita dilekatkan kepada Kristus.

b. Diurapi Allah

Dalam bahasa Yunani, “Kristus” berarti “Yang diurapi”. Kristus, Yang diurapi ini, penuh dengan minyak urapan, penuh dengan pengurapan. Haleluya, Allah melekatkan para rasul bersama-sama dengan semua orang beriman kepada Dia yang diurapi ini! Karena kita telah dilekatkan kepada-Nya, maka minyak urapan ini mengalir ke atas kita.

Ayat 21 mengatakan bahwa Allah dengan teguh melekatkan kita dan mengurapi kita. Bagaimanakah Allah mengurapi kita? Dia mengurapi kita dengan melekatkan kita kepada Dia yang telah diurapi itu. Sekali lagi kita dapat memakai listrik dan alat-alat listrik sebagai satu ilustrasi. Pembangkit tenaga listrik tidak perlu menyuplaikan listrik secara langsung ke lampu. Begitu lampu itu dilekatkan dengan tepat dengan memakai steker yang dimasukkan ke dalam soketnya, listrik akan mengalir ke dalamnya. Demikian juga, kita diurapi dengan dilekatkan kepada Kristus, Yang diurapi itu. Sebagai kaum beriman, kita semua telah menerima Roh itu secara demikian. Jika seseorang bertanya apakah Anda telah menerima Roh itu, Anda boleh menjawab, “Aku telah dilekatkan kepada Dia yang diurapi itu, dan setiap hari aku menerima Roh itu. Aku diurapi hari demi hari.”

Paulus menyadari bahwa ia dapat bersatu dengan Allah yang setia dan memperhidupkan Kristus karena ia telah dilekatkan kepada Kristus dan diurapi oleh Allah. Karena Allah telah mengurapi dia dengan melekatkan dia kepada Kristus, maka ia dapat bersatu dengan Kristus dan bersatu dengan Allah yang setia. Mengumumkan perkataan yang demikian adalah pemberitaan yang tepat dari Injil yang penuh.

Puji Tuhan, kita telah dilekatkan kepada Dia yang diurapi itu! Karena kita telah dilekatkan kepada Dia yang diurapi yang universal ini, maka kita juga telah diurapi. Di alam semesta ini hanya ada Satu yang telah diurapi Allah. Dia ini adalah Kristus, Yang diurapi. Sekarang kita semua berada di dalam Dia yang diurapi ini. Kita telah diurapi dengan dilekatkan kepada-Nya. Sekarang karena kita telah dilekatkan kepada Dia yang diurapi ini, maka kita dapat bersatu dengan Allah kebangkitan dan menempuh kehidupan kebangkitan.

Dalam 1Korintus 6 Paulus membicarakan tentang menjadi anggota-anggota Kristus. Apakah arti menjadi anggota Kristus? Ini berarti kita adalah bagian dari Dia yang diurapi. Haleluya, kita semua adalah bagian dari Dia yang diurapi, karena Allah telah melekatkan kita kepada-Nya!

Saya ingin Anda memperhatikan bahwa “melekatkan” dalam ayat 21 ini berbentuk kala kini (present tense), sedangkan “telah mengurapi” adalah kala purna (perfect tense). Ini sangat tidak lazim. Ini menunjukkan bahwa pengurapan itu terjadi sebelum pelekatan. Hal ini seharusnya membuat kita mengajukan pertanyaan ini: “Kapan kita diurapi?” Jawabannya adalah: kita diurapi ketika Kristus diurapi. Ketika Kepala diurapi, Tubuh juga diurapi. Mazmur 133 menggambarkan hal ini. Minyak urapan yang dicurahkan ke atas kepala Harun mengalir ke janggutnya dan kemudian ke jubahnya. Demikian juga, pengurapan itu dari atas Kepala mengalir turun ke Tubuh. Karena kita telah diurapi ketika Kristus diurapi, maka kita diurapi bahkan sebelum kita lahir. Namun, selama hidup kita, Allah melekatkan kita kepada Kristus. Allah melekatkan kita pada zaman sekarang ini, tetapi Dia mengurapi kita jauh sebelum kita lahir, yaitu ketika Kristus sendiri diurapi. Sekali lagi, sebagai anggota-anggota Tubuh, kita diurapi pada waktu yang sama ketika Kepala diurapi. Jika kita memahami hal ini, kita akan memahami mengapa kata kerja “melekatkan” dan “telah mengurapi” ini berbeda bentuk kalanya.

c. Meterai dan Jaminan

Dalam ayat 22, yaitu firman yang dalam dan misteri lainnya, Paulus selanjutnya berkata tentang Allah, “Memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan.” Pengurapan di dalam ayat sebelumnya adalah pemeteraian. Karena Allah telah mengurapi kita bersama Kristus, maka Ia juga telah memeteraikan kita di dalam Dia.

Kita tidak boleh menganggap bahwa pemeteraian itu sebagai sesuatu yang terpisah dari pengurapan. Sebenar-nya, pengurapan menyiratkan pemeteraian. Sewaktu kita diurapi, pengurapan ini menjadi pemeteraian. Dengan demikian kita menjadi berbeda dengan orang lain. Lagi pula, meterai ini membuat kita mengemban penampilan Allah. Misalnya, saya melekatkan satu tanda tertentu di atas selembar kertas dengan stempel karet dan tinta. Maka kertas itu segera dimeteraikan dan mengemban gambar stempel itu. Meterai itu adalah gambarnya. Sama prinsipnya, ketika Allah mengurapi kita, pengurapan itu adalah pemeteraian. Pengurapan membawa esens ilahi ke dalam kita, sama seperti stempel karet itu menerapkan elemen tinta kepada kertas itu. Pertama-tama Allah melalui pengurapan ini menambahkan esens diri-Nya sendiri kepada kita. Kemudian pengurapan ini memeteraikan kita dengan esens Allah dan membuat kita menjadi gambar Allah.

Dalam ayat 22 Paulus juga mengatakan bahwa Allah telah memberikan jaminan Roh itu di dalam hati kita. Jaminan Roh itu berarti Roh itu sendiri sebagai jaminan. Meterai adalah tanda bahwa kita adalah warisan Allah, harta Allah, milik Allah. Jaminan adalah satu garansi bahwa Allah adalah warisan kita atau milik pusaka kita. Roh itu di dalam kita adalah jaminan, garansi, dari Allah sebagai bagian kita dalam Kristus.

Allah melekatkan kita kepada Kristus menghasilkan tiga hal: pertama, pengurapan yang menyalurkan elemen Allah ke dalam kita; kedua, pemeteraian, supaya elemenelemen ilahi terbentuk menjadi satu meterai, mengekspresikan gambar Allah; ketiga, jaminan, yang memberi kita pencicipan sebagai satu contoh dan garansi terhadap kenikmatan yang penuh akan Allah. Melalui ketiga pengalaman terhadap Roh yang mengurapi ini, bersama pengalaman salib, ministri Kristus dihasilkan.

Tiga perkara ini pengurapan, pemeteraian, dan jaminan sebenarnya adalah satu. Ketiganya adalah satu hal dengan tiga aspek. Pertama-tama kita diurapi, lalu kita dimeteraikan, dan kemudian kita memiliki jaminan sebagai garansi. Haleluya, kita memiliki esens, gambar, dan garansi! Semuanya ini adalah Allah yang telah melalui proses yang sekarang menjadi Roh itu. Roh itu adalah minyak yang dengan-Nya kita diurapi, esens yang dengannya kita dimeteraikan, dan jaminan yang menggaransi bahwa Allah adalah milik kita dan bahwa Dia adalah bagian kita. Karena kita telah diurapi dan dimeteraikan dan telah menerima jaminan, maka kita dapat bersatu dengan Allah yang setia dan memperhidupkan Kristus. Sekarang kita layak dan juga diperlengkapi untuk memperhidupkan Kristus yang tidak berubah-ubah.

Menurut perkataan Paulus dalam ayat 22, jaminan dari Roh itu ada di dalam hati kita. Roh itu, jaminan dari Allah sebagai bagian kita adalah pencicipan bagi kita; karena itu, di sini dikatakan bahwa Dia ada di dalam hati kita. Roma 5:5 dan Galatia 4:6 menyinggung tentang kasih, karena itu, di sana dikatakan bahwa Roh itu ada di dalam hati kita. Tetapi Roma 8:16 menyinggung tentang pekerjaan Roh itu, sebab di sana dikatakan bahwa Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita. Hati kita adalah organ untuk mengasihi, dan roh kita adalah organ untuk bekerja.