← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 4/20

PENDAHULUAN (4)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 1:23-2:11

Dalam berita ini kita akan melihat 1:23-2:11. Dalam ayat-ayat ini Paulus memberikan alasan-alasan untuk keterlambatannya datang ke Korintus.

B. Alasan-alasan Keterlambatan

1. Untuk Menyayangkan Orang-orang Korintus

Dalam 1:23 Paulus berkata, “Tetapi aku berseru kepada Allah sebagai saksi yang mengenal isi hatiku bahwa aku tidak datang ke Korintus justru karena aku tidak mau bersikap keras padamu.” Bagi Paulus, menyayangkan orang-orang Korintus adalah menahan diri. Rasul tidak ingin datang kepada kaum beriman di Korintus dengan tongkat untuk mendisiplin mereka, tetapi dalam kasih dan roh yang lemah lembut untuk membangun mereka (1Kor. 4:21). Untuk menghindari perasaan yang tidak nyaman, dia tidak datang. Dia memperlakukan mereka dengan murah hati dan tidak ingin datang kepada mereka dalam kedukaan (2:1). Dia tidak ingin memerintah atas iman mereka, tetapi ingin menjadi kawan sekerja dengan mereka bagi sukacita mereka (1:24). Ini adalah yang sebenarnya. Dia berseru kepada Allah sebagai saksi baginya untuk hal ini.

a. Berseru kepada Allah sebagai Saksi terhadap Jiwanya

Menurut ayat 23, Paulus berseru kepada Allah sebagai saksi terhadap jiwanya (yang berarti melawan jiwanya). Rasul berseru kepada Allah untuk menjadi saksi melawan jiwanya, yaitu terhadap dirinya sendiri, kalau-kalau ia berkata palsu.

Berseru kepada Allah bukan hanya berdoa kepada Allah atau meminta kepada-Nya untuk melakukan sesuatu bagi kita. Mengatakan “Ya Allah,” atau, “Ya Bapa,” ini bukan hanya berdoa; ini juga adalah menyeru kepada Allah. Banyak orang Kristen pada hari ini tidak memiliki roh yang menyeru, roh yang kuat untuk menyeru Allah. Jika keadaan atau situasi mengizinkan, saya ingin berseru, “Ya, Bapaku!” atau “O, Tuhan Yesus!” terus-menerus. Ada perbedaan antara berseru dan berdoa. Misalnya, seseorang mungkin berdoa seperti ini: “Allah Bapa, Engkau adalah setia. Engkau tidak pernah berubah. Tolonglah aku agar menjadi setia dan tidak berubah juga. Aku meminta hal ini dalam nama Tuhan Yesus, Amin.” Meskipun ini adalah doa yang baik, namun tidak begitu hidup. Kita mungkin juga berdoa kepada Tuhan Yesus dengan sikap yang tidak begitu hidup. Kita mungkin berkata, “Tuhan Yesus, aku bersyukur bahwa Engkau mengasihi aku. Tuhan, aku juga mengasihi Engkau. Tetapi, Tuhan Engkau tahu bahwa aku lemah. Tuhan, tolonglah aku dalam kelemahanku.” Banyak orang Kristen berdoa seperti ini, tetapi mereka mungkin berdoa dengan kecil hati dan dengan tidak melatih roh. Mereka mungkin bahkan tidak mengerti apa arti melatih roh dalam doa. Dalam Yohanes 4:24 Tuhan Yesus berkata, “Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Menyembah Allah meliputi berdoa kepada-Nya. Karena berdoa adalah menyembah, dan karena Tuhan Yesus mengatakan bahwa penyembahan kita terhadap Allah harus di dalam roh, maka doa kita juga harus berada di dalam roh. Kata-kata yang kita pakai untuk mengekspresikan diri kita dalam doa itu adalah perkara yang kedua. Perkara yang utama adalah kita melatih roh kita untuk mengontak Allah. Ketika kita berdoa, kita perlu berseru kepada Allah, melatih roh kita, dan berkata, “Ya Bapa! Ya Allahku, Bapaku!” Inilah berseru kepada Allah.

Allah Bapa senang mendengar kita berseru kepada-Nya. Menurut perkataan Tuhan dalam Yohanes 4, hari ini Bapa sedang mencari orang-orang yang menyembah Dia di dalam roh.

Saya tidak tahu apakah ada jalan yang lebih baik untuk melatih roh daripada berseru kepada Allah. Tidak perlu berseru dengan suara nyaring. Sering kali tidak leluasa, juga tidak tepat untuk berseru dengan nyaring. Misalnya, orang lain mungkin sedang bekerja atau tidur, maka seruan Anda yang nyaring itu akan mengganggu mereka. Bahkan berseru dengan suara yang rendah pun bisa melatih roh kita.

Paulus menulis semua Surat Kirimannya dengan hatihati dan dengan banyak pertimbangan mengenai pemakaian kata-kata. Dalam 1:23 ia tidak berkata, “Aku meminta Allah”; ia juga tidak mengatakan, “Aku berdoa kepada Allah.” Melainkan, Paulus berkata, “Aku berseru kepada Allah.” Seruan kepada Allah ini menunjukkan melatih roh. Paulus adalah seorang yang hidup dalam roh dan yang menyembah Allah dalam roh. Jika kita tidak hidup dalam roh, kita tentu akan sulit menyembah Allah dalam roh.

Dalam ayat 23 Paulus berseru kepada Allah sebagai saksi melawan jiwanya (Tl.). Ini berarti bahwa ia berseru kepada Allah untuk menjadi saksi melawan jiwanya. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Saudara-saudara di Korintus, aku tidak berperilaku dalam jiwa. Jika aku melakukan hal ini, maka Allah akan bersaksi melawan aku. Aku bukanlah orang yang hidup di dalam jiwa dan berperilaku dalam jiwa. Aku tidak membuat rencana di dalam jiwa untuk datang kepadamu. Jika keadaanku demikian, maka Allah akan menjadi saksi melawan aku.”

Adalah menarik bahwa Paulus tidak berkata, “Aku berseru kepada Allah sebagai saksi bagi rohku untuk bersaksi bahwa aku berencana di dalam rohku untuk datang kepadamu.” Sebaliknya, ia berseru kepada Allah untuk bersaksi secara negatif terhadap jiwanya. Paulus berseru kepada Allah untuk bersaksi bahwa ia tidak merencanakan sesuatu berdasarkan ego di dalam jiwa. Allah akan bersaksi melawan perencanaan sedemikian di dalam jiwa. Saksi negatif semacam ini kadang-kadang lebih kuat daripada kesaksian dari aspek yang positif.

Alasan Paulus tidak datang ke Korintus adalah karena ia ingin menyayangkan orang-orang Korintus, bukan karena ia bertindak seenaknya dan mengatakan ya dan tidak pada waktu yang sama. Paulus tidak ingin datang kepada kaum beriman di Korintus dengan tongkat untuk mendisiplin mereka; tetapi dalam kasih dan ia tidak pergi ke Korintus.

b. Tidak Memerintah Iman Kaum Beriman, Melainkan Turut Bekerja bagi Sukacita Mereka

Dalam ayat 24 Paulus selanjutnya berkata, “Bukan karena kami mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, karena kamu berdiri teguh dalam imanmu. Sebaliknya, kami mau turut bekerja untuk sukacitamu.” Bagi kaum beriman, berdiri dalam kepercayaan yang obyektif (1Kor. 16:13), memerlukan iman yang subyektif. Memerintah atas iman mereka yang subyektif akan membuat iman mereka lemah, tetapi menjadi kawan sekerja mereka akan membuat mereka bersukacita, menguatkan iman mereka.

2. Tidak Datang dalam Dukacita

Dalam 2:1 Paulus berkata, “Aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita.” Di satu pihak, Paulus berseru kepada Allah sebagai saksi terhadap jiwanya; di pihak lain, ia memberi tahu kita bahwa ia telah memutuskan sesuatu di dalam dirinya. Bukankah ini perkara di dalam jiwanya? Dalam 2:1 ego Paulus adalah ego yang rohani, satu jiwa yang rohani, jiwa yang berada di bawah kendali dan petunjuk roh. Secara manusia, Paulus memutuskan untuk tidak datang lagi ke Korintus dalam dukacita di dalam dirinya sendirinya. Keputusan ini bukan diilhami oleh Roh itu; ini adalah perkara insani yang diputuskan oleh Paulus di dalam dirinya sendiri. Namun, kita perlu ingat bahwa hal ini diputuskan oleh seorang yang berada di bawah kendali dan petunjuk roh. Ini adalah contoh lainnya dari prinsip inkarnasi. Prinsip ini ditemukan dalam Galatia 2:20. Prinsip inkarnasi selalu bekerja dengan cara ini. Tuhan Yesus, sebagai seorang manusia, mengadakan mujizat-mujizat, tetapi sebenarnya Allah sendiri yang melakukan mujizat-mujizat itu, bukan Tuhan Yesus sendiri. Inilah yang kita maksud dengan prinsip inkarnasi.

Dalam ayat 2 Paulus bertanya, “Sebab, jika aku mendukakan hatimu, siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira kalau bukan orang yang kubuat berdukacita itu.” Kalimat ini sangat filosofis, logis, dan rohani.

Dalam ayat 3 Paulus melanjutkan, “Justru itulah maksud suratku itu, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita karena mereka yang seharusnya membuat aku menjadi gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu.” Kata “suratku” mengacu kepada apa yang ditulis oleh Paulus kepada orang-orang Korintus dalam Surat Kiriman yang pertama.

Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan pedih dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.” Di sini Paulus menyinggung tentang dirinya sendiri. Beberapa orang yang disebut orang-orang yang rohani bersikukuh agar kita tidak membicarakan tentang diri sendiri. Selama tahun-tahun saya bersama-sama dengan Kaum Saudara (the Brethren), saya diberi tahu bahwa kaum beriman tidak boleh mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri. Saya mengadopsi praktek ini selama bertahun-tahun. Kemudian saya mempelajari bahwa hal ini tidak selalu benar. Apakah kita membicarakan tentang diri kita sendiri atau tidak itu tergantung pada motivasi kita. Dalam 2Korintus Paulus berkata banyak tentang dirinya sendiri. Dalam pendahuluan ini ia bukan hanya membicarakan tentang dirinya sendiri, ia juga berargumentasi untuk dirinya dan membela dirinya. Kadang-kadang kita perlu membicarakan tentang diri kita sendiri. Kristus memerlukan saksi-saksi. Kristus adalah realitas, dan kita adalah saksi-saksi dari realitas ini. Sebagai saksi-saksi, kita tidak boleh sombong atau rendah diri. Bila waktunya tiba, kita perlu bersaksi bagi Tuhan dengan jujur dan berani. Inilah sebenarnya yang sedang dikatakan Paulus di sini, ketika ia memberi tahu orang-orang Korintus bahwa dalam Surat Kiriman yang pertama ia menulis dengan hati yang sangat cemas dan pedih kepada mereka, dan bahwa ia menulis dengan banyak cucuran air mata. Ia menulis kepada orang-orang Korintus dengan cara ini, bukan agar mereka menjadi sedih, tetapi agar mereka mengenal kasihnya terhadap mereka.

Ayat 5 mengatakan, “Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya hati beberapa orang di antara kamu. Aku tidak melebih-lebihkan hal ini.” Paulus berhati-hati agar tidak melebih-lebihkan. Ia menulis dengan hati-hati, dengan memakai frase “beberapa orang”. Kata “melebih-lebihkan” di sini dalam bahasa aslinya adalah menambah beban; berarti menekan terlalu berat, mengatakan terlalu banyak. Paulus berkata bahwa adanya orang yang berbuat dosa menyebabkan beberapa orang di dalam gereja berdukacita. Dia mengatakan “beberapa” agar jangan menekan terlalu berat atau berkata terlalu banyak. Ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang lembut, berhati-hati, dan penuh pertimbangan.

Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Bagi orang yang demikian cukuplah sudah hukuman oleh sebagian besar dari kamu.” Ini menunjukkan bahwa setelah membaca Surat Kiriman Paulus yang pertama, kebanyakan orang beriman di Korintus menegur dan menghukum orang yang melakukan perbuatan sumbang. Di sini Paulus menunjukkan bahwa penghukuman oleh kebanyakan dari kaum beriman ini sudah cukup. Karena itu, dalam ayat 7 ia berkata selanjutnya, “Sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa karena kesedihan yang terlampau berat.” Mengampuni di sini juga berarti memperlakukan dengan murah hati. Bukannya menegur, sekarang malah perlu adanya penghiburan dan pengampunan, juga perlu penyejukan dan pembalutan luka-luka. Karena itu, dalam ayat 8 Paulus berkata, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.”

Ayat 9 melanjutkan, “Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu.” Penerimaan adalah satu kualifikasi yang layak, satu karakter yang teruji. Sasaran Paulus dalam menulis Surat Kiriman yang pertama kepada orang-orang Korintus adalah untuk mengetahui penerimaan mereka. Ia menulis agar ia dapat menguji mereka untuk melihat apakah mereka mau taat atau tidak. Sekarang Paulus tahu bahwa orang-orang Korintus taat dan menerimanya. Ketaatan mereka kepada Surat Kiriman yang pertama menyatakan bahwa mereka bagi Paulus.

Ayat 10 mengatakan, “Sebab siapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni seandainya ada yang harus kuampuni maka hal itu kulakukan karena kamu di hadapan Kristus.” Beberapa orang mengira bahwa mengampuni dalam persona Kristus itu berarti mengampuni mewakili Kristus. Orang-orang yang memegang pandangan ini mungkin mengacu kepada perkataan Tuhan dalam Yohanes 20:23 tentang murid-murid memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa. Menurut penafsiran ini, mengampuni seorang saudara yang berdosa berarti mengampuni dia mewakili Tuhan dan sebagai wakil Tuhan. Pemahaman ini tidak salah, tetapi juga bukan satu penafsiran yang akurat dari apa yang dikatakan Paulus dalam ayat 10 ini.

Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan “hadapan” berarti wajah, seperti dalam 4:6. Ini mengacu kepada bagian sekitar mata; pandangan sebagai penyataan pikiran dan perasaan batin, yang menyatakan dan memani-festasikan keseluruhan diri seseorang. Ini menunjukkan bahwa rasul adalah orang yang yang hidup dan berperilaku di hadirat Allah, menurut petunjuk keseluruhan diri-Nya yang dinyatakan dalam pandangan mata Kristus. Bagian yang pertama, 2Korintus 1:1 sampai 2:11, merupakan pendahuluan yang panjang dari surat ini, yang menyusul surat rasul yang pertama kepada kaum beriman yang kacau di Korintus. Begitu menerima kabar bahwa mereka telah bertobat (7:6-13) setelah mereka menerima teguran-tegurannya dalam surat yang pertama, rasul terhibur dan terdorong. Karena itu, kemudian dia menulis surat ini untuk menghibur dan mendorong mereka dengan cara yang sangat pribadi, lembut, dan intim, bahkan sedemikian rupa sehingga surat ini sampai taraf tertentu dapat dianggap sebagai otobiografinya. Dalam buku ini kita nampak orang yang memperhidupkan Kristus menurut apa yang ditulisnya mengenai Kristus dalam suratnya yang pertama, dalam kontak terdekat dan terintim dengan-Nya, berperilaku menurut petunjuk mata-Nya; juga nampak orang yang satu dengan Kristus, penuh dengan Kristus, dan dijenuhi dengan Kristus; hayat alamiahnya telah diremukkan dan bahkan telah diakhiri, tekadnya lembut dan luwes, emosinya membara namun terbatasi, pikirannya bijak, jernih, dan terkuasai, rohnya murni polos terhadap kaum beriman bagi faedah mereka, supaya mereka dapat mengalami dan menikmati Kristus seperti dirinya, demi perampungan kehendak Allah dalam membangun Tubuh Kristus.

Kita telah menunjukkan bahwa kata “hadapan” di sini mengacu kepada bagian wajah sekitar mata, bagian yang merupakan pernyataan pikiran dan perasaan batin yang menyatakan keseluruhan diri seseorang. Jika Anda ingin tahu bagaimana perasaan seseorang terhadap Anda, apakah ia senang atau sedih, puas atau tidak puas, jangan memandang wajahnya secara sekilas saja, tetapi pandanglah bagian sekitar mata, yang adalah pernyataan pikiran dan perasaan batin seseorang. Ketika Paulus melupakan saudara yang berdosa itu, ia melakukannya dengan melihat petunjuk dari mata Tuhan Yesus. Jika petunjuk dari mata Tuhan menunjukkan bahwa Dia tidak senang dengan pengampunan Paulus terhadap saudara itu, maka Paulus tidak akan mengampuni dia. Ia akan sadar bahwa Tuhan tidak senang dengan apa yang sedang dilakukannya. Sewaktu Paulus mengampuni saudara itu, ia memandang kepada Tuhan Yesus dan menyadari bahwa Tuhanlah yang mendorongnya. Karena itu, Paulus dapat mengatakan bahwa ia mengampuni di hadapan Kristus. Ini menunjuk-kan bahwa Paulus adalah seorang yang hidup dan bertindak di hadirat Kristus.

Pada tahun 1940, Saudara Watchman Nee menunjukkan bahwa kitab Ulangan dapat dianggap sebagai otobiografi Musa dan 2Korintus adalah otobiografi Paulus. Dalam 2Korintus Paulus membicarakan banyak hal tentang dirinya sendiri. Pada kenyataannya, ia lebih banyak membicarakan dirinya daripada membicarakan tentang Kristus. Dalam tulisan otobiografi ini, Paulus bersaksi tentang Kristus. Dalam kitab ini kita melihat satu persona yang memperhidupkan Kristus menurut apa yang ia tuliskan mengenai Dia dalam 1Korintus. Paulus hidup dalam kontak yang sangat dekat dan sangat intim dengan Kristus, dan bertindak menurut petunjuk mata-Nya. Ia benar-benar adalah seorang yang bersatu dengan Kristus, penuh dengan Kristus, dan dijenuhi dengan Kristus.

Dalam ayat 11 Paulus berkata, “Supaya Iblis jangan memperdaya kita, sebab kita tahu apa maksudnya.” Ayat ini menyingkapkan bahwa si jahat, Iblis, berada di belakang layar dari setiap hal dan bekerja di dalam setiap hal. Kata Yunani yang diterjemahkan maksud di sini berarti rencana, rancangan, upaya, desain, tipu muslihat, maksud, tujuan. Bahkan dalam kehidupan gereja pun, Iblis bisa berada di belakang layar. Jangan mengira bahwa perkara mengampuni seorang saudara hanya melibatkan gereja dan tidak melibatkan tipu muslihat Iblis. Bahkan di belakang perkara seperti ini pun, Iblis mungkin mendekam, mencari jalan untuk melaksanakan rencana jahatnya dan menelan orang-orang yang lemah.

Dalam ayat-ayat ini kita melihat bahwa Paulus itu sangat akrab, rohani, juga sangat hati-hati. Ia memperhatikan orang-orang kudus dengan akrab, ia hidup dalam petunjuk diri Kristus, dan ia berhati-hati terhadap tipu muslihat musuh yang ada di belakang layar dalam kehidupan gereja. Kita semua harus belajar dari Paulus untuk memperhatikan orang-orang kudus, memperhidupkan Kris-tus, dan berhati-hati terhadap kelicikan si jahat.