← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 2/20

PENDAHULUAN (2)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 1:12-14

Dalam berita ini kita hanya akan melihat tiga ayat, yaitu 1:12-14. Dalam ayat-ayat ini ada sesuatu yang sangat dalam, bukan dalam doktrin, melainkan dalam pengalaman. Jika kita belum memiliki pengalaman yang digambarkan di sini, kita tidak akan dapat memahami apa yang sedang dibicarakan oleh Paulus dalam ayat-ayat ini. Kelihatannya perkataan Paulus di sini sederhana dan mudah dipahami; tetapi sebenarnya Paulus sedang menunjukkan sesuatu yang dalam dan misteri.

IV. KEMEGAHAN PARA RASUL

Dalam ayat 12 Paulus berkata, “(Karena) inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi (milik daging), tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.” Di sini Paulus mengatakan bahwa yang mereka megahkan adalah kesaksian dari hati nurani mereka mengenai cara hidup mereka dan perilaku mereka. Kita memerlukan pengertian yang dalam untuk memahami apa yang Paulus maksudkan.

Kata Yunani yang diterjemahkan “ketulusan” dalam ayat 12 ini juga dapat diterjemahkan “kesederhanaan”. Beberapa naskah kuno menulis “kekudusan”. Pemikiran yang dalam dan pengalaman yang kaya dalam ayat 12 ini terutama berhubungan dengan kata Yunani yang berarti ketulusan, kemurnian. Dalam Perjanjian Baru, kata ini sedikitnya dipakai lima kali. Terjemahan-terjemahan yang berbeda memakai kata-kata yang berbeda: ketulusan, kesederhanaan, kebebasan, kemurahan, rahmat. Tanpa pengalaman yang memadai, akan sulit untuk memutuskan kata manakah yang harus dipakai dalam terjemahan di sini.

Ayat 12 ini dibuka dengan kata, “karena”, yang menunjukkan bahwa ayat ini menjadi penjelasan dari ayat sebelumnya. Jadi, untuk memahami ayat 12, kita perlu mengingat apa yang telah dikatakan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Paulus telah menunjukkan kepada kaum beriman Korintus bahwa ia dan sekerja-sekerjanya berada dalam situasi maut. Dalam ayat 10, ia bersaksi bahwa Allah menyelamatkan mereka dari “kematian yang begitu ngeri”. Setiap kesulitan, masalah, atau situasi yang susah dapat diubah oleh tenaga, kekuatan, hikmat, dan metode manusia, kecuali kematian. Tidak ada seorang manusia pun yang memiliki cara untuk menangani situasi maut. Orang-orang yang kaya dapat memecahkan persoalan dengan menulis sebuah cek untuk sejumlah besar uang. Ada satu pepatah yang mengatakan, “Uang berlaku di mana-mana.” Ini berarti uang dapat memecahkan setiap masalah. Tetapi orang yang paling kaya pun tidak dapat menangani situasi maut. Ketika maut mendatangi seorang jutawan, uang sebanyak apa pun tidak dapat membuat dia terhindar darinya. Sebelum menulis Surat Kiriman ini, Paulus berada dalam satu situasi maut. Secara manusia, tidak ada jalan untuk keluar dari situasi itu. Tetapi bagi rasul dan bagi orang-orang yang percaya kepada kebangkitan, ada jalan keluar. Allah kebangkitan itulah jalannya.

Situasi di Asia di mana Paulus berada, mendesak dia untuk dengan tulus, sederhana membereskannya. Orang-orang yang kaya, kuat, atau yang banyak pengetahuannya tidak tulus dalam membereskan situasi yang sulit. Sebaliknya, mereka menerapkan pengetahuan mereka, hikmat mereka. Jika metode tertentu tidak berhasil, mereka beralih ke metode lainnya. Pikiran mereka sangat rumit; mereka jauh dari sederhana. Karena mereka memiliki banyak pengetahuan dan kemampuan, maka mereka memiliki banyak cara untuk membereskan situasi. Orang yang memiliki banyak cara untuk membereskan situasi, pasti adalah orang yang tidak sederhana.

Menurut ayat sebelumnya, Paulus dan sekerja-sekerja-nya berada dalam satu situasi yang membatasi mereka sedemikian rupa sehingga tidak ada cara manusia yang dapat membantunya. Hanya ada satu jalan yang tersedia bagi mereka: Allah kebangkitan. Mereka bukan hanya ber-ada dalam penderitaan atau kesengsaraan, dan mereka bukan hanya memiliki banyak masalah, bahkan berada dalam maut. Tidak peduli kita banyak pengetahuan, kemampuan, atau kaya, tidak ada satu pun yang dapat kita lakukan terhadap situasi maut. Bagi Paulus dan sekerja-sekerjanya, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah Allah kebangkitan.

Orang yang mati selalu sederhana. Namun, orang yang hidup tidak sederhana; ia selalu memiliki jalan untuk menghadapi suatu situasi. Kita, manusia ini, tidak sederhana; kita semua memiliki bermacam-macam cara. Tetapi berbahagialah orang yang sederhana. Orang macam apakah yang dapat menjadi sederhana? Hanya orang yang mati. Ketika Paulus dan sekerja-sekerjanya menderita sengsara di Asia, mereka ditekan sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai orang mati. Mereka tidak memiliki jalan untuk membereskan situasi mereka. Mereka tidak bersandar kepada diri mereka sendiri; melainkan hanya bersandar kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.

A. Kesaksian Hati Nurani Mereka

Dalam ayat 12 Paulus mengacu kepada kesaksian hati nurani. Kita harus memiliki hati nurani yang murni (2Tim. 1:3), hati nurani yang tidak bercela (Kis. 24:16), yang mempersaksikan apa adanya kita dan apa yang kita lakukan. Hati nurani Paulus bersaksi bahwa ia tulus, setia, dan jujur. Terutama, ia memiliki kesaksian dari hati nuraninya bahwa ia tulus. Ia tidak memakai cara manusia untuk membereskan situasi. Ia tidak menggunakan pengetahuannya, kemampuannya, kekuatannya, atau hikmatnya. Ia tidak memakai kebijaksanaan apa pun, dan ia tidak bermain politik. Sebaliknya, ia tulus, sederhana. Hati nuraninya bersaksi mengenai hal ini. Kesaksian ini adalah kemegahannya. Maka, Paulus dapat berkata, “Kami hidup, berperilaku, bertindak tanduk, dan bekerja hanya di dalam Allah, bukan di dalam cara apa pun yang berasal dari diri kami sendiri. Satu-satunya jalan kami ialah Allah kebangkitan. Allah yang membangkitkan orang mati adalah satu-satunya jalan kami. Karena itu, kami tidak bermain politik, dan kami tidak menggunakan hikmat kami. Kami mutlak sederhana, sesederhana orang yang telah mati. Kami tidak bersandar apa pun selain kepada Persona hidup yang adalah Allah kebangkitan. Inilah kemegahan kami, inilah juga kesaksian hati nurani kami.”

B. Perilaku Mereka di Dunia

1. Dalam Ketulusan dan Kemurnian dari Allah

Mengapa Paulus berbicara kepada orang-orang Korintus tentang ketulusan? Karena orang-orang Korintus itu sangat rumit. Mereka memiliki banyak cara. Inilah sebabnya ada orang yang lebih suka kepada Apolos, dan yang lainnya lebih suka kepada Kefas atau Paulus. Sebenarnya, 1Korintus adalah surat yang menanggulangi kerumitan kaum beriman di Korintus.

Sumber kekacauan dan perpecahan di antara orang-orang Kristen hari ini adalah kerumitan yang ada di dalam kaum beriman. Jika semua orang Kristen sederhana, tidak akan ada masalah di antara mereka. Masalah di dalam satu gereja lokal selalu berasal dari kerumitan. Jika ada masalah di lokal Anda, masalah itu pasti berasal dari orang yang tidak sederhana, tetapi yang rumit. Karena alasan ini, saya selalu berusaha untuk tidak terlibat dengan orang yang rumit. Kapan kala Anda bertemu dengan orang yang rumit, Anda tidak seharusnya berusaha untuk berdebat dengannya atau mengoreksinya. Usaha berdebat atau mengoreksi akan membuat Anda terperangkap dalam kerumitan.

Dalam ayat 12 Paulus membicarakan tentang ketulusan dan kemurnian Allah. Kemurnian Allah adalah satu kebajikan ilahi, kebajikan dari apa adanya Allah. Berperilaku dalam kebajikan yang demikian berarti mengalami Allah sendiri. Karena itu, berperilaku dalam kebajikan yang demikian berarti berada dalam kasih karunia Allah seperti yang disebut dalam ayat ini.

Allah itu bijaksana dan mahakuasa. Tetapi dalam satu aspek, Dia juga tulus, Dia sangat sederhana. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia itu bijaksana; namun Dia juga sederhana dan tulus. Saya sangat menikmati berkontak dengan Tuhan Yesus karena ketulusan dan kesederhanaan-Nya. Namun, ketika Anda berbicara kepada saudara-saudara tertentu, Anda menemukan bahwa mereka itu sangat rumit. Tetapi Allah kita sederhana. Kapan kala kita berbicara kepada-Nya, kita akan menemukan bahwa Dia tidak rumit. Bila Dia mengatakan ya, itu berarti ya, dan bila Dia mengatakan tidak, itu berarti tidak. Demikian juga, bila Dia mengatakan putih atau hitam, itu berarti putih atau hitam, bukan abu-abu. Tidak peduli bagaimana perasaan Allah terhadap kita pada waktu tertentu, Dia selalu tulus. Dia mungkin tidak senang terhadap kita atau Dia mungkin senang, tetapi Dia sendiri sederhana.

Dari pengalaman kita tahu bahwa orang yang sederhana dan tulus tentu murah hati dan lapang dada. Orang-orang yang sederhana adalah orang-orang yang memberi dengan leluasa. Misalnya, seorang saudara mendekati orang yang tulus dan memberi tahu dia bahwa ia kekurangan uang untuk membayar sewa rumahnya. Orang yang sederhana itu akan segera bersedia memberikan apa yang saudara itu perlukan. Ini menggambarkan fakta bahwa sederhana adalah murah hati. Tetapi orang-orang yang rumit tidak murah hati. Bukannya dengan rela memberi, mereka mungkin malah mempertimbangkan perkara itu secara rumit dan kemudian memberikan sejumlah uang yang lebih sedikit daripada yang diperlukan. Paulus tulus, sederhana, dan murah hati.

Hanya orang yang tulus adalah orang yang murah hati. Jika Anda kekurangan tulus, Anda tidak mungkin menjadi murah hati atau penuh rahmat terhadap orang lain. Allah kita penuh rahmat terhadap kita karena Dia itu tulus. Bayangkan, apa yang akan terjadi atas kita jika Allah tidak tulus, sebaliknya memikirkan tentang kita secara rumit. Dia mungkin tidak akan memperhatikan kita lagi. Apakah Anda rela membiarkan Allah memeriksa situasi Anda dan menguji Anda secara teliti? Apakah Anda rela bila Allah mengamati Anda dari kepala sampai ke kaki dan memeriksa apa adanya Anda secara batiniah dan secara lahiriah? Tidak akan ada satu pun dari antara kita yang akan diperkenan Allah, jika Dia memeriksa kita secara demikian. Tetapi karena ketulusan dan kemurahan Allah, kita menerima banyak berkat dari Dia.

Saya persilakan Anda membandingkan Paulus dengan orang-orang Korintus. Paulus seperti Allah yang sederhana, sedangkan orang-orang Korintus itu sangat rumit. Jika Paulus tidak tulus dan sederhana, mungkin ia akan melupakan orang-orang Korintus dan tidak lagi rela melayani di antara mereka. Hati nurani Paulus bersaksi bahwa terhadap orang-orang Korintus ia dan sekerja-sekerjanya berperilaku dalam ketulusan Allah. Karena itu, mereka dapat menjadi murah hati terhadap orang-orang Korintus dan rela memberikan apa saja kepada mereka. Terhadap kaum beriman itu, Paulus dan sekerja-sekerjanya murah hati dan penuh dengan rahmat.

Kata Yunani yang diterjemahkan “ketulusan” ini limpah artinya. Tulus atau sederhana masih belum merupakan terjemahan yang memadai. Kata ini menyiratkan kemurahan, lapang, rahmat, dan kerelaan untuk memberi. Jika seorang saudara yang sudah menikah itu sederhana, ia akan sangat murah hati terhadap istrinya, tidak peduli apa yang istrinya lakukan atau bagaimana istrinya mem-perlakukannya. Namun, jika saudara itu rumit, ia akan memperlakukan istrinya dengan keras.

Paulus adalah seorang yang berperilaku dalam ketulusan Allah. Ia adalah peniru Allah yang sejati dan orang yang memperhidupkan Allah. Allah itu sederhana, Paulus juga sederhana. Allah itu murah hati, Paulus juga murah hati. Ia berperilaku dalam ketulusan Allah.

Bila kita tulus dan murah hati, kita juga akan murni. Adalah satu praktek yang umum dalam bahasa Inggris menutup surat dengan kata-kata “sincerely yours” (dengan setulus-tulusnya). Sebenarnya, ini berarti “politically yours” (sekadar basa-basi), atau yang lebih halus adalah “politely yours” (hormat kami). Seseorang mungkin menulis sebuah surat yang panjang yang penuh dengan kerumitan, dan kemudian pada akhirnya menulis “sincerely yours.” Itu tidaklah murni. Bila Anda memperlakukan orang lain dengan tulus dan dengan murah hati, barulah Anda dapat berkata “sincerely yours.” Karena Paulus berperilaku dalam ketulusan Allah dan karena ia murah hati, ia benar-benar murni.

Saya tidak berkata bahwa diri saya adalah peniru Paulus yang mutlak dan setia. Tetapi saya dapat bersaksi bahwa sepanjang tahun, saya telah dilatih, diajar, dan dibantu oleh belas kasihan Tuhan dan kasih karunia Tuhan untuk berperilaku dalam kesederhanaan, ketulusan, kemurnian, dan kemurahan. Saya dapat bersaksi kepada Anda di hadapan Tuhan bahwa saya tidak bermain politik. Selain itu, saya dapat mengatakan di hadapan Dia bahwa saya adalah seorang yang sederhana. Bila ya adalah ya dan bila tidak adalah tidak.

2. Bukan dalam Hikmat Daging, melainkan dalam Kasih Karunia Allah

Dalam ayat 12 Paulus menyinggung hikmat daging dan kasih karunia Allah. Hikmat daging adalah hikmat manusia dalam daging. Ini sama dengan diri kita sendiri, sebagaimana kasih karunia Allah sama dengan Allah itu sendiri. Kasih karunia Allah adalah Allah bagi kenikmatan kita. Kasih karunia dalam ayat 12 adalah karunia dalam ayat 11, yang diterima oleh para rasul bagi pengalaman terhadap kebangkitan di dalam penderitaan mereka.

Menjadi sederhana dan tulus adalah satu aspek dari ekspresi hayat dalam kebangkitan. Bila kita hidup dalam kebangkitan dan oleh Allah kebangkitan, bukan oleh diri sendiri, barulah kita menjadi sederhana. Bila kita hidup dalam kebangkitan, barulah kita menjadi peniru-peniru Allah. Meskipun orang lain dapat bermain politik dengan kita, tetapi kita tidak akan berpolitik dengan mereka. Hal yang harus kita lakukan adalah berusaha menyingkirkan diri kita sendiri dari jerat kerumitan. Saya ingin meniru Paulus berperilaku dalam ketulusan dan kemurnian dari Allah. Ini adalah satu aspek dari manifestasi kebangkitan.

Dengan menempuh kehidupan dalam ketulusan dan kemurnian Allah, barulah kita dapat disusun menjadi pelayan-pelayan Kristus dan pelayan-pelayan kasih karunia. Orang-orang yang disusun secara demikian diperlukan dalam kehidupan gereja hari ini. Para penatua dan semua orang yang melayani harus menjadi orang-orang yang demikian. Jika Anda melihat sejarah pemulihan Tuhan, Anda akan melihat bahwa orang-orang yang bermain politik dan yang tidak hidup dalam ketulusan Allah menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi pemulihan Tuhan dan juga bagi diri mereka sendiri. Hanya orang-orang yang benar-benar hidup dalam ketulusan Allah baru mendatangkan faedah bagi pemulihan Tuhan. Mengenai hal ini, kita telah mempelajari beberapa pelajaran penting. Hidup dalam kebangkitan adalah hidup dalam ketulusan Allah. Dalam 2Korintus 1:12-14 kita melihat bagaimana hidup dalam kebangkitan, sebagai satu kelanjutan dari 1Korintus.