← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 1/20

PENDAHULUAN (1)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 1:1-11

Kitab 2Korintus ini unik karena kitab ini memiliki satu pendahuluan yang sangat panjang. Surat Kiriman ini berisi tiga belas pasal, dan satu setengah pasal yang pertama adalah pendahuluannya. Tidak ada kitab lainnya dalam Alkitab yang memiliki satu pendahuluan yang sepanjang ini.

Pendahuluan dari 2Korintus ini panjang karena latar belakang kitab ini cukup rumit. Dalam 1Korintus Paulus menanggulangi kaum beriman Korintus dalam banyak hal. Ia berargumentasi dengan mereka dan menegur mereka. Karena latar belakang ini, maka 2Korintus ini perlu memiliki pendahuluan yang panjang.

Pendahuluan ini sebenarnya adalah perkataan penghiburan. Paulus menyadari, karena ia telah mendisiplinkan orang-orang Korintus dalam Surat Kiriman yang pertama, maka ia perlu membalut luka-luka mereka dalam Surat Kiriman ini. Apa yang Paulus lakukan di sini mirip dengan penghiburan yang diberikan orang tua kepada seorang anak setelah anak itu didisiplinkan. Misalnya seorang anak berbuat salah dan dengan serius didisiplinkan oleh orang tuanya. Setelah anak itu bertobat, orang tuanya akan meluangkan waktu untuk menghibur anak itu. Dalam satu setengah pasal yang pertama dari 2Korintus ini, Paulus mengoleskan minyak pada luka-luka orang-orang Korintus, luka-luka yang disebabkan oleh pendisiplinannya.

Alasan lain untuk pendahuluan yang panjang ini ialah karena Paulus adalah seorang yang sangat emosional. Ia adalah seorang yang beremosi kuat dalam arti yang wajar. Meskipun ia dibatasi oleh Roh itu ketika ia menegur kaum beriman Korintus, ia masih tetap kuat. Misalnya dalam 1Korintus 4:21 ia bertanya, “Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan lemah lembut?” Kata-kata ini menunjukkan bahwa ia sangat kuat dalam emosi. Ketika Paulus mengoleskan minyak pada luka-luka mereka dan membalutnya, ia menggunakan emosinya dan melakukannya dengan sangat positif. Karena itu, ia memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengekspresikan emosinya.

Ayat 3 menyingkapkan emosi Paulus: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan”. Paulus menyebutkan penderitaan, kesengsaraan, dan penghiburan dalam ayat 4 dan 5. Ini juga menunjukkan bahwa ia emosional. Bagi saya, seolah-olah Paulus dapat menyingkat tiga ayat ini menjadi satu kalimat dan berkata, “Kaum beriman Korintus yang terkasih, karena aku telah dihibur oleh Allah, maka sekarang aku ingin menghibur kamu.” Tetapi karena Paulus itu sangat emosional, maka ia menulis dengan cara berulang-ulang. Dalam ayat 6, 7, dan 8, ia melanjutkan untuk membicarakan tentang penderitaan, kesengsaraan, dan penghiburan. Karena Paulus itu emosional, maka ia memerlukan kesempatan untuk melepaskan emosinya secara positif.

Alasan lain untuk pendahuluan yang panjang ini adalah karena orang-orang Korintus itu sangat rumit. Di satu pihak, mereka menyukai Paulus; di pihak lain, mereka agak tidak senang terhadapnya. Paulus menggunakan pendahuluan yang panjang ini untuk memecahkan keru-mitan mereka dan menenangkan mereka supaya mereka dapat menerima perkataannya.

I. PENULIS DAN PENERIMA

Dalam pendahuluan yang panjang ini kita dapat melihat persona Paulus. Saya sangat mengasihi Paulus. Dia dapat menjadi emosional, simpatik, dan lemah lembut. Dia juga dapat menjadi kuat dan bahkan tegar. Ia jujur, sederhana, dan tulus. Kadang-kadang ia mungkin sopan, tetapi ia tidak pernah berpolitik. Saya telah belajar banyak hal dari Paulus. Sepanjang hidup saya, saya telah banyak belajar dari dua orang: pertama adalah Paulus; dan yang kedua adalah Watchman Nee.

Ayat 1 mengatakan, “Dari Paulus, yang atas kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara seiman kita. Kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.” Akhaya berlokasi di sebelah selatan Makedonia. Satu propinsi dalam Kekaisaran Romawi, yang merupakan bagian utama dari Yunani hari ini. Kota Korintus ada di propinsi ini. Para penulis kitab 2Korintus adalah Paulus dan Timotius; para penerima suratnya adalah gereja Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.

II. SALAM

Salam Paulus tercantum dalam ayat 2: “Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Salam ini biasa dikatakan oleh Paulus dalam Surat Kirimannya.

III. PENGHIBURAN ALLAH

A. Dihibur untuk Menghibur

Dalam ayat 3 dan 4 Paulus berkata, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” Kata “kemurahan” menurut bahasa aslinya adalah “belas kasihan”, juga berarti rahmat, iba, simpati. Penghiburan menyiratkan pendorongan semangat. Di sini Allah disebut Bapa yang penuh belas kasihan (kemurahan) dan Allah sumber segala penghiburan, karena surat ini adalah surat yang menghibur dan mendorong, yang ditulis oleh rasul setelah dia dihibur dan didorong oleh pertobatan kaum beriman Korintus.

Dalam ayat 4 Paulus mengatakan bahwa kita sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kita terima dari Allah. Kita harus terlebih dulu mengalami penghiburan Allah, kemudian baru dapat menghibur orang lain dengan penghiburan dari Allah yang telah kita alami. Maka, kita dihibur dulu supaya kita dapat menghibur orang lain. Ini memerlukan pengalaman. Bila kita memiliki pengalaman, kita memiliki modal rohani yang diperlukan untuk menghibur orang lain.

Jika Anda belum pernah menderita dan belum pernah dihibur oleh Allah, Anda tidak akan dapat menghibur orang lain. Kata-kata penghiburan Anda akan menjadi kosong. Anda akan menjadi seperti seseorang yang menulis cek untuk sejumlah besar uang tanpa mempunyai dananya di bank untuk mendanai cek itu. Anda tidak memiliki realitas, pengalaman, dan modal rohani. Pertama-tama kita sendiri harus menderita demi kepentingan Tuhan dan kemudian dihibur dan didorong oleh Allah. Kemudian pengalaman ini akan menjadi modal rohani untuk menghibur orang lain. Dengan cara ini, kita dihibur dan kemudian kita dapat menghibur orang lain.

Surat yang pertama kepada orang-orang Korintus merupakan argumentasi rasul, argumentasi itu mengalahkan dan menaklukkan orang-orang Korintus yang kacau dan tertipu. Sekarang surat yang kedua membawa mereka kembali kepada pengalaman akan Kristus, yang merupakan pokok argumentasinya dalam surat yang pertama. Karena itu, surat yang kedua lebih bersifat pengalaman, lebih subyektif, dan lebih dalam daripada yang pertama. Pokok-pokok dalam surat yang pertama adalah Kristus, Roh itu bersama dengan roh kita, gereja, dan karunia-karunia. Dalam surat yang kedua, Kristus, Roh itu bersama dengan roh kita, dan gereja dikembangkan lebih lanjut, tetapi karunia-karunia bahkan tidak disebutkan. Dalam kitab ini, karunia-karunia digantikan oleh ministri, yang disusun, dihasilkan, dan dibentuk oleh pengalaman akan kekayaan Kristus, melalui penderitaan, tekanan-tekanan yang mengauskan, dan pekerjaan salib yang mematikan. Surat ini menampakkan kepada kita suatu teladan, contoh, tentang bagaimana pembunuhan salib bekerja, bagaimana Kristus tergarap ke dalam kita, dan bagaimana kita menjadi ekspresi Kristus. Semuanya ini menyusun para minister Kristus dan menghasilkan ministri bagi perjanjian Allah yang baru. Surat yang pertama menanggulangi karunia-karunia secara negatif; surat yang kedua dengan positif membicarakan tentang ministri. Gereja lebih memerlukan ministri daripada karunia-karunia. Ministri menyuplaikan Kristus yang telah dialami; karunia-karunia hanya mengajarkan doktrin-doktrin mengenai Kristus. Bukan karunia-karunia, melainkan ministri yang dihasilkan dan dibentuk oleh pengalaman terhadap penderitaan-penderitaan, kesusahan-kesusahan Kristus, yang adalah bukti bahwa para rasul adalah minister-minister Kristus.

B. Tertekan Sampai Putus Asa

Dalam ayat 5 Paulus berkata, “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.” Di sini kesengsaraan bukanlah kesengsaraan-kesengsaraan untuk Kristus, melainkan kesengsaraan-kesengsaraan Kristus sendiri, sebagaimana para murid-Nya juga turut mengambil bagian (Mat. 20:22; Flp. 3:10; Kol. 1:24; 1Ptr. 4:13). “Kristus” di sini adalah penunjuk akan keadaan Kristus; bukan suatu nama (Darby). Di sini mengacu kepada Kristus yang menderita, yang menderita sengsara bagi Tubuh-Nya menurut kehendak Allah. Para rasul mengambil bagian dalam kesengsaraan Kristus yang sedemikian, dan melalui Kristus yang demikian ini menerima penghiburan. Menurut ayat 6 dan 7, kesengsaraan dan penghiburan ini semuanya adalah bagi penghiburan kaum beriman.

Ayat 8 mengatakan, “Sebab kami mau, Saudara-sau-dara, supaya kamu tahu tentang penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga mengenai hidup kami.” Kata beban di sini, kata Yunani yang sama seperti dalam 5:4, berarti dibebani, ditekan. Paulus berada di Asia ketika ia menulis Surat 1Korintus. Pada waktu itu ia dan sekerjanya berada dalam penderitaan. Penganiayaan dan penyerangan terhadap mereka sangat berat. Mereka dibebani sangat berat, dibebani jauh melampaui kekuatan mereka. Mereka dibebani sedemikian rupa hingga mereka tidak dapat menanggungnya oleh kekuatan alamiah mereka. Mereka bahkan putus asa untuk hidup. Menurut keadaan mereka, mereka tidak memiliki harapan untuk hidup. Mereka yakin bahwa mereka akan mati, bahwa mereka akan dibunuh oleh para penganiaya itu.

Dalam ayat 9 Paulus melanjutkan, “Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Secara harfiah kata dijatuhi hukuman mati berarti mendapatkan jawaban kematian atau reaksi kematian. Ketika rasul berada di bawah tekanan kesengsaraan, bahkan telah putus asa akan hidupnya, mereka mungkin bertanya kepada diri sendiri, apakah hasil kesengsaraan mereka. Jawaban atau reaksinya, adalah mati.

Sewaktu para rasul itu dianiaya, mereka tidak tahu bagaimana hasil akhirnya. Menurut pendapat mereka, mereka akan mati. Ini adalah pendapat mereka sendiri; dan kali ini membawa mereka kepada keputusan yang sangat penting, yaitu tidak bersandar kepada diri mereka sendiri. Ditinjau dari diri mereka, telah tidak ada jalan keluar. Yang mereka sandari adalah Allah yang membangkitkan orang mati.

Pengalaman kematian membimbing kita masuk ke dalam pengalaman kebangkitan. Kebangkitan adalah Allah yang membangkitkan orang mati. Pekerjaan salib mengakhiri ego kita, supaya kita dapat mengalami Allah di dalam kebangkitan. Pengalaman salib selalu mendatangkan kenikmatan akan Allah kebangkitan. Pengalaman demikian menghasilkan dan membentuk ministri (ayat 4-6). Ini dijelaskan lebih lanjut dalam 4:7-12.

Pada akhir 1Korintus Paulus membicarakan tentang kebangkitan. Sekarang pada permulaan 2Korintus, Paulus membawa kembali kaum beriman kepada perkara kebangkitan ini. Seperti yang akan kita lihat, ini berhubungan dengan ministri. Ministri bukanlah masalah perbuatan kita; melainkan masalah kehidupan kita. Ministri dan kehidupan yang diwahyukan dalam Surat Kiriman ini berasal dari hayat kebangkitan.

Dalam 1Korintus Paulus mengumumkan fakta kebangkitan. Kebangkitan harus menjadi kehidupan kita sehari-hari; kebangkitan harus menjadi kekuatan bagi kita untuk mengatasi dosa dan maut dan hidup dalam hari pertama dalam satu minggu. Sekarang dalam 2Korintus Paulus memberikan satu kesaksian tentang bagaimana para rasul hidup dalam hari pertama dalam satu minggu. Mereka tidak hidup dalam hari ketujuh, mereka tidak hidup dalam ciptaan lama. Ini berarti mereka tidak dapat hidup dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak bersandarkan diri mereka sendiri. Tidak bersandarkan diri sendiri itu berarti tidak ada lagi jalan bagi kita untuk hidup dalam ciptaan lama. Karena para rasul hidup dalam hari pertama dalam satu minggu, maka mereka hanya bersandar kepada Allah kebangkitan, yaitu Allah yang membangkitkan orang mati. Mereka menganggap diri mereka sendiri seperti telah mati. Ini menunjukkan bahwa Paulus bukan hanya menulis tentang kebangkitan, melainkan memperhidupkan kebangkitan ini.

Dalam ayat 10 Paulus selanjutnya berkata, “Ia telah dan akan menyelamatkan kami dari kematian yang begitu ngeri: Kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi.” Kata-kata “akan menyelamatkan” mengacu kepada waktu segera di masa yang akan datang, sedangkan kata-kata “akan menyelamatkan lagi” mengacu kepada masa yang akan datang secara umum. Di sini Paulus tidak mengatakan bahwa Allah akan menyelamatkan mereka dari sejumlah kesengsaraan, melainkan menyelamatkan dari “kematian yang begitu ngeri.” Allah menyelamatkan mereka dari situasi kematian.

Ayat 11 mengatakan, “Karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.” Kata Yunani yang diterjemahkan “turut membantu” juga dapat diterjemahkan “bekerja bersama.” Karunia dalam ayat ini mengacu kepada kasih karunia yang diberikan (ayat 12), yaitu Kristus yang bangkit, yang merupakan kasih karunia yang dinikmati para rasul dalam pengalaman kebangkitan yang keluar dari kematian. Secara harfiah, “banyak orang” berarti “wajah-wajah”, menyiratkan mengucap syukur dengan wajah yang gembira.

Karunia (tunggal) dalam ayat 11 ini berbeda dengan karunia-karunia (jamak) dalam 1Korintus. Karunia ini adalah kasih karunia Allah, dan kasih karunia ini adalah hayat kebangkitan, Kristus yang bangkit. Kristus yang bangkit diberikan kepada para rasul sebagai kasih karunia. Inilah yang membuat rasul-rasul dapat menikmati pengalaman akan kebangkitan keluar dari kematian.

Paulus memberikan satu kesaksian tentang hidup dalam hayat kebangkitan. Para rasul hidup dalam kebangkitan. Allah telah menaruh mereka ke dalam situasi tertentu, satu situasi yang sebenarnya adalah maut. Tidak ada jalan bagi manusia untuk menyelamatkan diri dari situasi maut demikian atau memiliki kekuatan untuk mengatasinya. Hanya Allah kebangkitan, Allah yang adalah kebangkitan itu sendiri, yang dapat menyelamatkan mereka. Dia datang untuk menyelamatkan para rasul keluar dari situasi maut itu. Allah membangkitkan mereka keluar dari kematian dan pengalaman mereka adalah pengalaman terhadap Allah sebagai kebangkitan. Selain itu, ini adalah pengalaman terhadap Kristus yang bangkit sebagai kasih karunia, karunia yang diberikan Allah kepada mereka.

Dalam ayat-ayat ini, Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bagaimana para rasul dihibur dan karena itu, mereka bersyarat untuk menghibur orang lain. Kemudian ia selanjutnya membicarakan pengalamannya terhadap Kristus yang bangkit dan terhadap Allah kebangkitan. Karena Paulus dan sekerja-sekerjanya mengalami kasih karunia ini, maka mereka memiliki kapasitas rohani yang diperlukan untuk menghibur orang lain. Pengalaman semacam ini menyusun mereka menjadi minister-minister dari perjanjian yang baru, minister-minister kasih karunia. Karena itu, apa yang kita miliki dalam 2Korintus ini bukanlah karunia melainkan ministri. Selain itu, ministri ini sebenarnya adalah perkara disusun dengan kasih karunia melalui pengalaman terhadap penderitaan.