← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 14/20

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (7)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 5:16-21

VI. MENERIMA AMANAT MINISTRI PENDAMAIAN

BAGI CIPTAAN BARU TUHAN

Dalam 2Korintus 5:16-21 kita melihat bahwa para rasul telah menerima amanat ministri pendamaian bagi ciptaan baru Tuhan. Setelah membicarakan mengenai kualifikasi-kualifikasi para minister dari perjanjian yang baru dalam pasal 3 dan 4, Paulus memberi tahu kita tentang kerinduannya untuk diangkat dan ambisinya untuk mencari perkenan Tuhan, bukan dengan bekerja bagi Dia, melainkan dengan hidup kepada Dia. Dengan spontan orang-orang yang demikian memiliki satu ministri untuk membawa orang lain sepenuhnya kembali kepada Tuhan. Ministri ini adalah ministri pendamaian.

Menurut konteksnya, ministri pendamaian adalah satu amanat yang diberikan kepada para rasul. Sebagai orang-orang yang telah matang dan siap untuk diangkat, para rasul diberi amanat oleh Tuhan untuk membawa orang lain sepenuhnya kembali kepada Allah. Ini adalah pendamaian yang lengkap dan menyeluruh.

Dalam 2Korintus 5 kita melihat bahwa pendamaian ini memiliki dua tahap. Manusia yang telah jatuh tidak dapat dibawa sepenuhnya kepada Allah dengan tahap yang pertama saja. Perlu ada tahap kedua. Sewaktu Paulus membicarakan tentang ministrinya membawa orang lain kembali kepada Allah, ia dengan spontan menyajikan satu pandangan yang jelas tentang dua tahap pendamaian ini.

Tahap-tahap ini dilambangkan dengan tirai di dalam Kemah Pertemuan. Ada sebuah tirai di dalam Kemah Pertemuan yang memisahkan tempat kudus dari tempat maha kudus. Ada tirai lainnya, yang disebut tirai yang pertama dalam Ibrani 9, pada pintu masuk Kemah Pertemuan. Fungsi sebuah tirai adalah menahan di luar hal-hal yang negatif (seperti serangga) dan membiarkan hal-hal yang positif masuk. Tirai yang kedua, yaitu tirai yang memisahkan tempat kudus dari tempat maha kudus, disebut tirai atau tabir. Daerah di luar Kemah Pertemuan itu adalah pelataran luar. Menurut perlambangan, pelataran luar melambangkan dunia. Maka, kemah di pelataran luar menandakan tempat kediaman Allah di dunia. Di dunia ini ada satu tempat di mana Allah tinggal, dan tempat itu adalah Kemah Pertemuan.

Seluruh ras manusia berada di dalam dunia, di luar Kemah Pertemuan. Tetapi kapan saja seseorang bertobat dan damba untuk kembali kepada Allah, ia akan datang ke mezbah. Mezbah menandakan salib, di mana Kristus mati untuk menebus kita. Dalam Perjanjian Lama, kurbankurban dipersembahkan kepada Allah untuk mengadakan pendamaian. Tetapi dalam Perjanjian Baru Kristus mati di atas salib bagi penebusan. Dalam perlambangan Perjanjian Lama ada pendamaian, tetapi dalam penggenapan dalam Perjanjian Baru ada penebusan. Di pelataran luar juga ada bejana pembasuhan, dengan air yang dipakai untuk membasuh. Begitu seseorang bertobat, ditebus, dan mengalami pembasuhan, ia dapat masuk ke dalam tempat kudus. Ini adalah didamaikan kepada Allah. Jadi, melewati tirai yang pertama, menandakan langkah pertama dari orang dosa yang memberontak kepada Allah dibawa kembali kepada Allah dan didamaikan kepada Allah.

Dulu kaum beriman di Korintus adalah orang-orang dosa dan pemberontak, tetapi mereka telah didamaikan kepada Allah. Namun, mereka masih berada di dalam tempat kudus, bukan berada di dalam tempat maha kudus. Tujuan Paulus dalam 1 dan 2Korintus adalah membawa kaum beriman ini ke dalam tempat maha kudus.

Dalam buku Ekonomi Allah saya menunjukkan bahwa pelataran luar berhubungan dengan Mesir, padang gurun berhubungan dengan tempat kudus, dan tanah permai, tanah Kanaan berhubungan dengan tempat maha kudus. Bagi bangsa Israel keluar dari Mesir dan masuk ke padang gurun itu sama dengan meninggalkan pelataran luar dan masuk ke dalam tempat kudus. Ini mirip dengan situasi kaum beriman Korintus. Sebagaimana bangsa Israel berkelana di padang gurun, demikian juga kaum beriman ini berkelana dalam jiwa, terutama dalam pikiran. Karena mereka berkelana dalam tempat kudus jiwa, Paulus menulis kedua Surat Kiriman ini dengan tujuan untuk membawa mereka masuk ke dalam roh, tempat Kristus berada. Roh ini juga berhubungan dengan tanah permai dan tempat maha kudus.

Kaum beriman di Korintus telah mengalami tahap perdamaian yang pertama, tetapi mereka belum mengalami tahap yang kedua. Mereka belum didamaikan sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana ada tirai di antara tempat kudus dan tempat maha kudus, demikian juga ada tirai yang tetap ada di antara orang-orang Korintus dan Allah. Menurut Ibrani 10:20, tirai ini adalah daging. Daging adalah tirai yang menjauhkan kaum beriman Korintus dari hadirat langsung Allah di dalam tempat maha kudus.

Paulus dan para minister dari perjanjian yang baru lainnya, yaitu orang-orang yang telah disusun dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang telah matang dalam hayat, tidak diragukan lagi berada di dalam tempat maha kudus. Mereka hidup di dalam roh, dan mereka telah matang, siap untuk diangkat. Sasaran mereka satu-satunya adalah mencari perkenan Tuhan melalui hidup kepada Dia. Sebagai orang-orang yang demikian, dengan spontan, mereka dapat membawa orang lain sepenuhnya kembali kepada Allah. Karena alasan ini, pada akhir pasal 5 Paulus menunjukkan bahwa mereka, para minister dari perjanjian yang baru, adalah orang-orang yang bukan hanya menuntut untuk mendamaikan orang-orang dosa kepada Allah, tetapi juga mendamaikan kaum beriman kepada Allah secara penuh. Para minister dari perjanjian yang baru ini layak untuk membawa kembali kepada Allah orang yang belum sepenuhnya didamaikan kepada-Nya.

Selama kita belum sepenuhnya dibawa kembali kepada Allah, kita memerlukan orang-orang seperti para rasul untuk membawa kita kembali kepada-Nya. Apakah jarak antara kita dengan Allah jauh atau dekat itu tidak menjadi masalah. Kita perlu sepenuhnya didamaikan dengan Allah. Ministri perjanjian yang baru ini adalah membawa orang-orang kembali kepada Allah secara penuh dan menyeluruh; ministri ini adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah secara penuh dan menyeluruh.

A. Ciptaan Baru dalam Kristus

1. Tidak Menilai Orang menurut Daging

Dua Korintus 5:16 mengatakan, “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Karena para rasul memutuskan bahwa kematian Kristus membuat kita semua, melalui kebangkitan-Nya, menjadi manusia baru, manusia bukan menurut daging, maka mereka tidak mau lagi mengenal siapa pun menurut daging. Meskipun dulu pernah mengenal Kristus dengan cara itu, tetapi sekarang tidak lagi demikian mengenal Dia.

Mengenal orang lain menurut daging adalah mengenal mereka menurut ciptaan lama. Sedangkan mengenal orang lain menurut roh adalah mengenal mereka menurut ciptaan baru. Sebelumnya, sebagai Saulus dari Tarsus, Paulus mengenal Kristus menurut daging. Ia hanya menganggap Dia sebagai orang Nazaret. Semua orang Yahudi mengenal Kristus secara demikian, yaitu menurut daging. Tetapi setelah pengalamannya dalam perjalanan ke Damsyik, konsepsi Paulus berubah dari mengenal Kristus menurut daging menjadi mengenal Dia menurut roh. Ia juga belajar mengenal orang-orang kudus bukan menurut daging, melainkan menurut roh.

2. Siapa yang Ada di dalam Kristus Adalah Ciptaan Baru

Ayat 17 mengatakan, “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ini menegaskan apa yang disebut dalam ayat 16. Para rasul tidak lagi mengenal orang menurut daging, karena siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Perkara lama yang berasal dari daging telah berlalu melalui kematian Kristus, dan semuanya telah menjadi baru dalam kebangkitan Kristus. Berada di dalam Kristus adalah bersatu dengan-Nya dalam hayat dan sifat. Ini berasal dari Allah dan melalui iman kita dalam Kristus (1Kor. 1:30; Gal. 3:26-28).

Ciptaan lama tidak memiliki hayat dan sifat Allah; ciptaan baru, yaitu kaum beriman yang dilahirkan kembali dari Allah, memiliki hayat dan sifat Allah (Yoh. 1:13; 3:15; 2Ptr. 1:4). Karena itu, kaum beriman adalah ciptaan baru (Gal. 6:15), bukan menurut sifat daging yang usang, tetapi menurut sifat hayat Allah yang baru. Kata-kata, “Sesungguhnya yang baru sudah datang,” adalah suatu panggilan untuk melihat perubahan ajaib dari ciptaan baru.

Di satu pihak, Paulus menganggap orang-orang Korintus sebagai ciptaan lama, karena mereka masih hidup di dalam daging mereka. Namun di pihak lain, Paulus menganggap mereka ciptaan baru, karena ia tahu bahwa mereka ada di dalam Kristus. Karena mereka ada di dalam Kristus, maka hal-hal yang lama telah berlalu, dan mereka adalah ciptaan baru.

B. Amanat Ministri Pendamaian

1. Semuanya Berasal dari Allah

Ayat 18 melanjutkan, “Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” “Semua” di sini mengacu kepada semua hal positif yang disebut dalam ayat 14-21, dan Allah adalah Pemula dan Pelopor dari semua ini. Dari Allah, Kristus mati untuk menyelamatkan kita dari maut supaya kita hidup kepada-Nya. Dari Allah, kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Dari Allah, Kristus dibuat menjadi dosa bagi kita, supaya kita bisa menjadi kebenaran Allah di dalam Dia. Dari Allah, manusia dapat berdamai dengan diri-Nya. Dari Allah, para rasul menjadi utusan-utusan Kristus, menerima amanat untuk mewakili Dia mendamai-kan manusia kepada Allah, supaya manusia menjadi kebenaran Allah, dan menjadi ciptaan baru bagi penggenapan ketetapan kehendak kekal Allah.

Paulus yakin bahwa para rasul ini telah sepenuhnya didamaikan dengan Allah. Mereka telah mengalami dua tahap pendamaian itu dan karena itu mereka berada di dalam tempat maha kudus. Allah telah mendamaikan mereka dengan diri-Nya sendiri melalui Kristus dan memberikan ministri pendamaian ini kepada mereka. Karena mereka telah dibawa kembali kepada Allah, mereka memiliki ministri yang mendamaikan orang lain kepada Allah. Dalam Surat Kiriman ini, Paulus tidak menuntut untuk mendamaikan orang-orang dosa dengan Allah, melainkan menuntut untuk membawa kaum beriman ke dalam pengalaman yang penuh akan pendamaian ini. Ia tidak menuntut untuk membawa mereka dari pelataran luar ke dalam kemah, tetapi untuk membawa mereka dari tempat kudus, yaitu tempat mereka tertinggal, ke dalam tempat maha kudus.

Dalam ayat 19 Paulus berkata, “Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” Berita pendamaian ini adalah untuk ministri (ayat 18).

2. Utusan-utusan Kristus

Dalam ayat 20 Paulus selanjutnya berkata, “Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Dalam ayat 19 orang dunia didamaikan dengan Allah; dalam ayat 20 kaum beriman yang telah didamaikan dengan Allah didamaikan lebih lanjut dengan Allah. Ini jelas menunjukkan bahwa dua langkah diperlukan manusia untuk sepenuhnya didamaikan dengan Allah. Langkah pertama adalah orang berdosa terlepas dari dosa dan berdamai dengan Allah. Untuk tujuan ini Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita (1Kor. 15:3), supaya dosa-dosa kita diampuni Allah. Ini adalah aspek obyektif dari kematian Kristus. Dalam aspek ini, Dia memikul dosa-dosa kita di atas salib, menggantikan kita menerima penghakiman Allah. Langkah kedua adalah kaum beriman yang hidup dalam hayat alamiah terlepas dari daging dan berdamai dengan Allah. Untuk tujuan ini, Kristus telah mati bagi kita, manusia, supaya kita dapat hidup kepada-Nya dalam hayat kebangkitan (2Kor. 5:14-15). Ini adalah aspek subyektif dari kematian Kristus. Dalam aspek ini, Dia dijadikan dosa bagi kita, dihakimi dan diakhiri Allah, supaya kita bisa menjadi kebenaran Allah di dalam-Nya. Melalui kedua aspek kematian-Nya ini, Dia telah sepenuhnya mendamaikan umat pilihan Allah kepada Allah.

Kita telah menunjukkan bahwa kedua langkah pendamaian ini secara jelas digambarkan oleh kedua tabir tabernakel. Tabir yang pertama disebut “tirai” (Kel. 26:37). Melalui pendamaian darah pendamaian, orang dosa dibawa kepada Allah, masuk ke dalam tempat kudus melalui tirai ini. Ini melambangkan langkah pertama pendamaian. Namun masih ada tabir kedua (Kel. 26:31-35; Ibr. 9:3) yang memisahkan dia dari Allah yang ada di dalam tempat maha kudus. Tabir ini perlu dikoyakkan sehingga orang dosa bisa dibawa kepada Allah di dalam tempat maha kudus. Ini adalah langkah kedua pendamaian. Kaum beriman Korintus telah didamaikan kepada Allah, telah melalui tabir pertama dan masuk ke dalam tempat kudus. Tetapi mereka masih hidup dalam daging, mereka perlu melalui tabir kedua yang sudah dikoyakkan (Mat. 27:51; Ibr. 10:20) untuk masuk ke dalam tempat maha kudus, hidup bersama Allah di dalam roh mereka (1Kor. 6:17). Tujuan surat ini adalah membawa mereka ke sana, supaya mereka bisa menjadi orang-orang yang di dalam roh (1Kor. 2:15), di dalam tempat maha kudus. Inilah yang dimaksud rasul ketika ia berkata, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Ini berarti mempersembahkan mereka dengan matang dalam Kristus (Kol. 1:28).

Saya ingin menekankan fakta bahwa kata-kata, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah,” dalam 5:20 ini bukan dikatakan kepada orang-orang yang memberontak dan orang-orang dosa yang ada di pelataran luar, melainkan kepada kaum beriman di dalam tempat kudus. Maksud Paulus ialah, “Hai orang-orang Korintus, kaum beriman yang terkasih dalam Kristus, kamu perlu didamaikan dengan Allah lebih lanjut. Kamu mungkin mengatakan bahwa kamu telah didamaikan dengan Dia. Memang, kamu telah didamaikan, tetapi kamu hanya didamaikan sebagian. Kamu memiliki langkah pertama pendamaian. Sekarang kamu harus melanjutkan ke langkah yang kedua dan didamaikan sepenuhnya dengan Allah. Kamu telah didamaikan dengan Allah dari pelataran luar ke tempat kudus. Tetapi Allah tidak berada di tempat kudus; Dia ada di dalam tempat maha kudus. Kamu telah didamaikan dengan Allah melalui satu tirai, tetapi masih ada tirai lainnya yang memisahkan kamu dari Allah. Tirai ini adalah dirimu sendiri, dagingmu, dan hayat alamiahmu. Seperti yang telah aku katakan kepadamu, kamu, orang-orang Korintus, masih bersifat karnal. Selama kamu berada di dalam daging, tirai hayat alamiah ini, tetap ada bersama-sama dengan kamu, kamu belum berada di dalam tempat maha kudus. Hai orang-orang Korintus, aku berbeban untuk membantu menyadarkan kamu bahwa tirai yang kedua ini telah dikoyakkan dan kamu harus menyangkal dagingmu dan menyalibkannya. Jadi bagi kamu yang telah didamaikan sebagian dengan Allah, aku katakan: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah sepenuhnya.”

C. Kedudukan Pendamaian

1. Kristus Tidak Mengenal Dosa

Ayat 21 mengatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Paulus dengan berani berkata bahwa Allah telah membuat Kristus menjadi dosa karena kita. Bagi Kristus, segala sesuatu dikenal-Nya; lalu, bagaimana Paulus dapat mengatakan bahwa Dia tidak mengenal dosa? Kristus tidak mengenal dosa dalam pengalaman melalui berkontak dengan dosa, atau secara pribadi mengenal dosa (cf. Yoh. 8:46; 1Ptr. 2:22; Ibr. 4:15; 7:26). Dalam Alkitab kata “mengenal” sering kali memiliki arti yang lebih dalam daripada sekadar mengenal sesuatu dalam mental. Menurut Matius 7:23, pada satu hari Tuhan akan mengatakan kepada orang-orang yang melakukan kejahatan, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Tentunya, ini bukan berarti Tuhan tidak memiliki pengetahuan tentang mereka. Begitu pula dengan 2Korintus 5:21. Secara pengalaman dan kontak secara langsung, Tuhan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dosa, Dia tidak mengenal dosa.

2. Allah Membuat Kristus Menjadi Dosa Karena Kita

Dosa datang dari Iblis, yang memberontak melawan Allah (Yes. 14:12-15). Dosa ini, yang datang dari si jahat, masuk ke dalam manusia (Rm. 5:12), dan membuat manusia di bawah penghakiman Allah tidak hanya sebagai orang dosa, tetapi juga dosa itu sendiri. Karena itu, ketika Kristus menjadi manusia di dalam daging (Yoh. 1:14), Dia dijadikan dosa (bukan berdosa) untuk dihakimi Allah (Rm. 8:3) karena kita, supaya kita dapat menjadi kebenaran Allah di dalam Dia.

Untuk memahami apa artinya mengatakan bahwa Allah telah membuat Kristus menjadi dosa karena kita, kita perlu membaca Yohanes 1:14 dan Roma 8:3. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman, yang adalah Allah itu sendiri, menjadi daging. Daging mengacu kepada manusia yang telah jatuh. Ketika Kristus menjadi manusia, manusia itu telah jatuh. Manusia yang telah jatuh ini adalah daging. Maka, ketika Kristus menjadi manusia, Dia menjadi daging. Bila kita menjajarkan Yohanes 1:14 dengan 2Korintus 5:21, kita akan melihat bahwa ketika Kristus menjadi daging, Dia dijadikan dosa. Dalam pandangan Allah, kita, sebagai daging yang telah jatuh, sebenarnya adalah dosa. Kita bukan hanya penuh dengan dosa dan bukan hanya orang-orang dosa, kita bahkan adalah dosa itu sendiri. Karena Kristus menjadi daging, dalam hal ini Dia dijadikan dosa karena kita.

Roma 8:3 mengatakan, “Allah mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Ya, Kristus telah dijadikan dosa. Tetapi dalam ayat ini dikatakan bahwa Dia berada dalam rupa daging dosa. Ini berarti Dia dijadikan bentuk dosa. Inilah yang dilambangkan dengan lambang ular tembaga. Ketika bangsa Israel digigit oleh ular, mereka menerima sifat ular yang berbisa. Dalam pandangan Allah, mereka semua menjadi ular. Karena itu, Allah menyuruh Musa meninggikan ular tembaga di atas tiang. Ular tembaga ini adalah lambang Kristus yang mati di atas salib sebagai pengganti kita. Seperti yang dengan jelas ditunjukkan oleh Yohanes 3:14, ular yang di atas tiang itu adalah lambang Kristus yang ditinggikan bagi kita. Sebagaimana ular tembaga itu ditinggikan di padang gurun, demikianlah Kristus ditinggikan di atas salib. Selain itu, sebagaimana ular tembaga ini memiliki bentuk ular tetapi tidak memiliki sifat ular yang berbisa, demikian juga Kristus memiliki bentuk, rupa, daging dosa, tetapi sebenarnya Dia tidak memiliki sifat dosa. Dia memiliki bentuk ular, tetapi tidak memiliki sifat ular.

Agar kita dapat mengalami langkah pertama pendamaian ini, Kristus perlu mati karena dosa-dosa kita. Dalam 1Korintus 15:3 Paulus mengumumkan, “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita.” Tetapi agar kita diperdamaikan dengan Allah lebih lanjut, bahkan sepenuhnya, Kristus juga perlu mati karena kita, bukan hanya karena dosa-dosa kita. Kristus mati karena dosa-dosa kita adalah satu hal, dan Dia mati karena kita adalah hal lainnya lagi. Kristus mati karena dosa-dosa kita supaya dosa-dosa kita dapat diampuni dan dihapus oleh Allah. Kristus juga mati karena kita supaya kita dapat diakhiri. Kematian Kristus karena dosa-dosa kita menggenapkan langkah pertama pendamaian, dan kematian-Nya karena kita menggenapkan langkah yang kedua.

Paulus memikirkan langkah kedua ini ketika ia berkata, “Satu orang sudah mati untuk semua orang” (5:14). Menurut ayat ini, Kristus tidak mati untuk dosa-dosa; Dia mati untuk semua orang. Aspek obyektif kematian Kristus melibatkan kematian-Nya karena dosa-dosa kita. Tetapi aspek subyektif kematian Kristus melibatkan kematian-Nya bagi kita. Aspek yang subyektif ini membuat kaum beriman didamaikan dengan Allah sepenuhnya. Selain itu, dalam aspek obyektif dari kematian-Nya, Kristus menanggung dosa-dosa kita; namun, dalam aspek subyektif, Dia menjadi dosa. Hari ini ada banyak pengajaran di antara orang-orang Kristen tentang Kristus mati karena dosa-dosa kita dan menanggung dosa-dosa kita, tetapi tidak banyak yang mengatakan tentang Kristus dijadikan dosa karena kita.

Karena kita, sebagai manusia yang telah jatuh, adalah dosa, maka Kristus dijadikan dosa sebenarnya berarti Dia menjadi kita. Aspek subyektif kematian Kristus meletakkan kita pada kematian. Menurut Roma 8:3, Allah menghakimi dosa di dalam daging. Ini berarti Dia menghakimi kita; Dia menghakimi manusia alamiah. Selain itu, tirai, manusia alamiah, hayat alamiah, dan daging, telah terbelah melalui aspek subyektif kematian Kristus. Ketika dosa dihakimi dan ketika tirai itu terkoyak, kita diakhiri. Hasilnya, tirai yang kedua dihapus dan kita dapat didamaikan sepenuhnya dengan Allah. Karena itu, kita tidak boleh tetap tinggal di dalam tempat kudus; kita harus maju ke dalam tempat maha kudus. Lagi pula, kita tidak boleh mengenal satu sama lain menurut daging lagi; melainkan harus mengenal satu sama lain menurut roh.

Konsepsi Paulus dalam 2Korintus 5 ini memperlihatkan kepada kita bahwa para rasul, sebagai para minister dari perjanjian yang baru, adalah orang-orang yang dapat dengan spontan membawa orang lain sepenuhnya dan secara menyeluruh kembali kepada Allah. Saya ingin meminta Anda membandingkan situasi para minister dari perjanjian yang baru dengan orang-orang Kristen pada hari ini. Ada sejumlah orang yang telah dibawa kembali kepada Allah hanya secara luaran; mereka berada di pelataran luar. Keadaan sejumlah orang lainnya lebih baik; mereka telah dibawa kembali kepada Allah di dalam tempat kudus. Orang-orang Kristen yang sejati, beroleh selamat, yang dibasuh dengan darah, dan yang telah dilahirkan kembali oleh Roh itu, semuanya telah dibawa masuk ke dalam tempat kudus. Namun, banyak orang yang masih berada di dalam daging, di dalam hayat alamiah, dan ada juga yang hidup dalam dosa yang kotor. Orang-orang yang berada di pelataran luar dapat membawa orang lain masuk ke pelataran luar, tidak bisa lebih. Demikian juga, orang-orang Kristen sejati yang berada di tempat kudus, telah dibawa ke sana oleh beberapa orang yang telah berada di tempat kudus. Mereka telah didamaikan dengan Allah sampai tahap ini, tetapi belum sepenuhnya. Berapa jauhkah Anda dapat membawa orang lain? Berapa dekat Anda membawa orang lain kepada Allah? Ini tergantung pada berapa banyak Anda telah didamaikan dengan Dia. Orang-orang yang telah dibawa kepada Allah oleh Anda tidak dapat maju melebihi kemajuan Anda. Jika Anda telah masuk ke tempat kudus, Anda dapat membawa orang lain ke sana. Jika Anda berada di pintu masuk tempat kudus, Anda dapat membawa orang lain ke pintu masuk itu. Tetapi jika Anda berada di pusat tempat kudus, Anda dapat membawa orang lain ke sana. Yang penting di sini adalah kita dapat membawa orang lain sampai sejauh mana kita berada.

Inilah konsepsi Paulus dalam pasal 5. Maksud Paulus ialah, “Kami, para rasul, telah dibawa ke tempat maha kudus. Allah telah mendamaikan kami dengan diri-Nya sepenuhnya dan menyeluruh. Karena itu, Dia dapat dengan spontan memberikan amanat kepada kami untuk mendamaikan orang lain dengan Allah sepenuhnya dan menyeluruh. Karena kami telah didamaikan dengan Allah sampai tingkat ini, kami dapat membantu orang lain untuk didamaikan sampai pada tingkat yang sama.”

Para minister dari perjanjian yang baru telah didamaikan dengan Allah sampai pada puncaknya. Semua tirai telah tiada, dan tidak ada sekatan di antara mereka dengan Allah. Mereka telah didamaikan dengan Allah secara lengkap dan juga disusun dengan Allah Tritunggal secara menyeluruh. Mereka berperilaku menurut susunan mereka. Mereka menempuh kehidupan tersalib untuk menyatakan kebenaran dan memancarkan Injil, dan mereka telah matang, masak, dan siap untuk diangkat. Sasaran mereka satu-satunya, ambisi mereka satu-satunya, adalah mencari perkenan Tuhan melalui hidup kepada Dia. Inilah orang-orang yang dapat membawa kembali orang lain kepada Allah secara menyeluruh. Karena mereka berada di dalam tempat maha kudus, maka mereka juga dapat membawa orang lain ke sana.

3. Menjadi Kebenaran Allah dalam Kristus

Akhirnya, orang-orang yang telah dibawa kembali kepada Allah di dalam tempat maha kudus ini akan menikmati Kristus sampai pada puncaknya dan bahkan menjadi kebenaran Allah dalam Dia. Paulus membicarakan tentang hal ini dalam 5:21 di mana ia berkata, “Supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah” (Tl.). Kebenaran berasal dari Allah bagi pemerintahan-Nya (Mzm. 89:15; 97:2; Yes. 32:1).

Kebenaran ini adalah Kristus menjadi kebenaran kita (1Kor. 1:30), membuat kita menjadi kebenaran Allah di dalam Dia (bukan membuat kita benar di hadapan Allah). Melalui penebusan Kristus, manusia yang adalah orang dosa bahkan dosa itu sendiri dijadikan kebenaran Allah, didamaikan dengan Allah yang benar, dan dijadikan ciptaan baru yang hidup kepada Allah bagi ketetapan kehendak kekal-Nya. Para rasul menerima amanat untuk menyuplaikan Kristus yang demikian, dengan segala hasil yang mulia dari penggenapan-Nya yang ajaib, kepada kaum beriman-Nya, yaitu anggota-anggota yang membentuk Tubuh-Nya. Puji dan mulia bagi Dia selama-lamanya!

Frase “dalam Dia” berarti dalam kesatuan dengan-Nya, bukan hanya secara kedudukan, tetapi juga secara organik dalam kebangkitan. Dulu kita adalah musuh-musuh Allah (Kol. 1:21) karena kita menjadi dosa (dosa ini berasal dari Iblis yang memberontak melawan Allah). Kristus dijadikan dosa bagi kita melalui bersatu dengan kita lewat inkarnasi di dalam daging. Melalui kematian Kristus, Dia di dalam daging dihakimi oleh Allah sebagai dosa bagi kita, supaya kita dapat menjadi satu dengan Dia dalam kebangkitan-Nya dan menjadi kebenaran Allah. Dengan kebenaran ini, kita yang dahulu adalah musuh-musuh Allah, dapat dan telah didamaikan dengan Allah (2Kor. 5:18-20; Rm. 5:10).

Dalam kesatuan yang organik dengan Kristus, orang-orang yang telah dibawa kembali secara menyeluruh kepada Allah dijadikan kebenaran Allah. Mereka bukan hanya menjadi benar; mereka adalah kebenaran Allah. Ini berarti mereka bukan hanya menjadi orang-orang yang benar, tetapi juga menjadi kebenaran itu sendiri.

Allah damba mendapatkan satu umat di bumi yang bukan hanya adalah orang-orang yang benar; Dia ingin satu umat yang dalam pandangan Allah, Iblis, malaikat-malaikat, dan setan-setan, adalah kebenaran Allah. Dijadikan benar di hadapan Allah adalah satu hal; menjadi kebenaran Allah adalah hal lain lagi. Menjadi kebenaran Allah adalah kenikmatan yang paling tinggi terhadap Allah Tritunggal di dalam Kristus.

Dalam Adam kita telah jatuh begitu rendahnya sehingga kita menjadi dosa. Kita bukan hanya penuh dengan dosa di hadapan Allah kita bahkan menjadi dosa itu sendiri. Tetapi sekarang dalam Kristus, setelah dibawa kembali sepenuhnya kepada Allah, kita dapat menikmati Kristus sedemikian rupa sehingga di dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah. Keselamatan yang luar biasa! Pendamaian yang luar biasa! Memiliki kenikmatan ini berarti berada di puncak keselamatan Allah, berada di puncak Sion kudus kita.