← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 13/20

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (6)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 5:9-15

Dalam pasal 3 dan 4 Paulus membicarakan mengenai kualifikasi-kualifikasi dari para minister Perjanjian Baru. Kualifikasi yang pertama adalah bahwa mereka disusun dengan Allah Tritunggal. Kualifikasi ini bersifat mendasar. Kita menjadi cakap, cukup, diperlengkapi, dan layak menjadi para minister dari perjanjian yang baru dengan disusun sepenuhnya oleh Allah Tritunggal, yang sekarang adalah Roh pemberi hayat yang almuhit. Sewaktu para minister ini disusun dengan Dia yang demikian ini, maka khasiat kematian Kristus yang almuhit bekerja di dalam diri mereka, mengakhiri ciptaan lama dan membunuh daging dan hayat alamiah.

Dalam penyusunan yang diterima oleh para rasul itu ada sejumlah faktor atau unsur. Unsur-unsur ini dilambangkan oleh rempah-rempah yang dipakai untuk membuat minyak urapan dalam Keluaran 30. Salah satu dari faktor ini adalah khasiat kematian Kristus. Setiap hari unsur ini, faktor ini, bekerja di dalam para rasul. Karena alasan ini, dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak ada ciptaan lama: tidak ada ego, daging, dan hayat alamiah. Unsur yang membunuh ini dapat dibandingkan dengan antibiotik yang dipakai untuk membunuh kuman-kuman.

Selain dari faktor mematikan ciptaan lama, juga ada faktor lainnya, yaitu satu faktor yang positif. Ini adalah faktor kebangkitan. Unsur ini bukan hanya meliputi keilahian, tetapi juga keinsanian Kristus yang dibangkitkan dan ditinggikan. Kristus yang bangkit itu sendiri adalah kebangkitan.

Roh pemberi hayat yang almuhit adalah Allah yang telah melalui proses. Allah yang telah melalui proses sebagai Roh pemberi hayat ini mencakup keilahian, keinsanian, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Karena itu, disusun dengan Allah yang telah melalui proses adalah satu perkara yang sangat bermakna. Allah telah melalui proses, dan kita telah disusun. Allah telah diproses melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Hari ini Kristus yang bangkit ini juga adalah Kristus yang naik, yang ditinggikan, dan dinobatkan.

Seseorang dapat ditolong dengan obat tanpa memahami semua unsur dari obat itu. Demikian juga, meskipun mengenal semua unsur dari Roh pemberi hayat yang almuhit ini sangat membantu, tetapi kita dapat dibantu oleh unsur-unsur ini sekalipun kita tidak memahaminya. Kita hanya perlu mengambil “dosis” dari Roh ini. Maka unsur kematian dan kebangkitan akan bekerja di dalam kita. Bila kebangkitan bekerja di dalam kita, maka kita menjadi surgawi, diperkuat, dan diberi kuasa. Unsur kebangkitan ini sering kali bekerja di dalam kita di luar kesadaran kita.

Hal ini dapat dibandingkan dengan cara antibiotik bekerja di dalam kita di luar kesadaran kita terhadapnya. Hari ini unsur kebangkitan ini sedang bekerja di dalam kita.

Dalam kehidupannya, Paulus memiliki keinsanian yang tertinggi. Keinsanian Paulus sebenarnya adalah ekspresi dari kehidupan insani Yesus. Ia telah disusun dengan hayat Yesus dan karena itu ia menjadi manusia yang tepat, yaitu manusia “Yesus.” Ketika kita sampai kepada pasal-pasal lainnya dalam kitab ini, kita akan melihat betapa luar biasanya keinsanian Paulus.

Kita telah menunjukkan bahwa kualifikasi dasar seorang minister dari perjanjian yang baru adalah disusun dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Penyusunan ini adalah dasar, pondasi, dari kualifikasi itu. Hari ini kita juga memerlukan pondasi ini. Dalam melakukan sesuatu atau mempelajari sesuatu, kita memerlukan satu dasar. Jika kita ingin menjadi para minister dari perjanjian yang baru, kita harus memiliki satu susunan sebagai kualifikasi dasar.

Kualifikasi yang kedua para minister dari perjanjian yang baru adalah berperilaku untuk memancarkan Injil. Perilaku dan tingkah laku mereka berdasar pada penyusunan ini. Karena mereka telah disusun dengan cara tertentu, maka mereka dapat menempuh satu kehidupan yang mengekspresikan kebenaran dan memancarkan kemuliaan Injil. Mereka tidak perlu memutuskan untuk berbuat sesuatu agar diri mereka dapat memancarkan Injil. Tidak, di luar kesadaran mereka dan maksud mereka, hanya dengan cara mereka hidup, ada satu pancaran dari diri mereka. Penyusunan mereka itu menjadi pancaran mereka. Misalnya, arang tidak dapat bersinar, sedangkan koin emas dapat bersinar. Di antara arang dan emas ada satu perbedaan susunan. Karena susunannya, para rasul dapat memancarkan kemuliaan Injil. Mereka tidak perlu memberitakan, karena diri mereka sendiri adalah pancaran Injil itu.

Karena pancaran ini berasal dari diri mereka, dari susunan mereka, maka perilaku mereka itu bukanlah suatu sandiwara. Hari ini orang-orang sering kali berperilaku dengan cara tertentu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Perilaku ini adalah satu sandiwara. Misalnya, pada beberapa peristiwa mereka bertindak tanduk dengan angkuh, seolah-olah mereka adalah orang-orang yang terhormat. Tetapi pada peristiwa lainnya mereka mungkin bertindak tanduk dengan merendahkan diri seperti orang-orang bawahan. Semuanya itu adalah satu sandiwara. Namun, orang-orang yang layak menjadi para minister dari perjanjian yang baru ini tidak berperilaku secara demikian. Sebaliknya, perilaku mereka, berdasarkan susunan mereka, adalah sesuatu yang sejati. Inilah kualifikasi kedua seorang minister dari perjanjian yang baru.

Saya ingin mengikuti teladan Paulus. Oleh belas kasihan Tuhan, saya tidak ingin bersandiwara dengan cara apa pun, tetapi saya ingin memiliki satu perilaku yang berasal dari susunan saya.

Ketiga, para rasul menempuh kehidupan tersalib. Hari demi hari mereka berada di bawah penggilingan. Sebagaimana Yesus orang Nazaret menempuh kehidupan tersalib, demikian juga para rasul menempuh kehidupan semacam ini. Tuhan Yesus disalibkan sepanjang hidup-Nya. Dia menempuh kehidupan tersalib sejak Dia lahir di palungan. Kemudian melalui seumur hidup-Nya, secara berkesinambungan Dia disalibkan. Dia berada di bawah penggilingan, pembunuhan, dan diletakkan pada kematian. Tetapi pembunuhan itu memberi kesempatan kepada-Nya untuk menyatakan hayat kebangkitan dari dalam-Nya. Sebelum Kristus benar-benar dipaku di atas salib, Dia telah menempuh kehidupan tersalib. Demikian juga, sebelum Kristus bangkit, hayat kebangkitan ini telah diekspresikan di dalam-Nya.

Dalam ministri mereka, di satu pihak, para rasul adalah tawanan-tawanan dalam perarakan kemenangan Tuhan. Di pihak lain, mereka adalah orang-orang yang tersalib, orang-orang yang setiap hari menempuh kehidupan tersalib. Mereka diletakkan pada kematian, disalibkan, bukan hanya oleh para penentang mereka, bahkan oleh kaum beriman. Dengan membaca kitab 1Korintus kita dapat melihat bahwa kaum beriman Korintus meletakkan para rasul pada salib. Inilah sebabnya Paulus berkata, “Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut” (1Kor. 15:31). Setiap hari ia diletakkan pada kematian. Inilah menempuh kehidupan tersalib untuk mengekspresikan hayat kebangkitan dan membuat segala sesuatu yang diministrikan oleh para rasul kepada orang lain adalah sejati.

Di bawah penggilingan ini, manusia lahiriah para rasul dihabisi. Tetapi pada saat itu juga manusia batiniah mereka diperbarui. Mereka disusun dengan Allah Tritunggal, mereka berperilaku menurut susunan ini untuk memancarkan kemuliaan Injil, dan mereka menempuh kehidupan tersalib untuk menghabisi manusia lahiriah dan memperbarui manusia baru. Inilah kualifikasi-kualifikasi mereka untuk menjadi para minister dari perjanjian yang baru.

Saya harap bukan hanya para pemimpin dalam gereja-gereja, tetapi juga semua orang kudus, termasuk orang-orang muda, akan terkesan dengan perkara-perkara ini. Jangan mengira Anda terlalu muda untuk mengalami perkara-perkara ini. Ya, saya memang menunjukkan bahwa untuk disusun oleh Tuhan itu memerlukan waktu bertahun-tahun. Meskipun demikian, Tuhan juga dapat memakai orang-orang muda. Saya dapat bersaksi bahwa tidak lama setelah saya diselamatkan, Tuhan mulai memakai saya, karena ada beberapa susunan ilahi di dalam saya. Susunan ini adalah dasar, pondasi, bagi kita untuk dipakai oleh Tuhan sebagai seorang minister dari perjanjian yang baru. Penyusunan ini mempengaruhi perilaku kita. Ketika saya diselamatkan, ada satu perubahan di dalam susunan batiniah saya. Dengan spontan saya mulai berperilaku menurut susunan ini. Meskipun saya tidak pernah diajar untuk menempuh kehidupan tersalib, tetapi secara otomatis saya mulai menempuh kehidupan semacam ini. Hasilnya, dalam permulaan kehidupan kristiani saya, saya menjadi seorang minister kecil dari perjanjian yang baru ini.

Menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru adalah masalah kadar atau tingkatan. Kita semua dapat menjadi para minister dari perjanjian yang baru selama kita memiliki susunan dan bertingkah laku menurutnya dan menempuh kehidupan tersalib dengan unsur kebangkitan dan kenaikan. Kemudian, kita semua, saudara dan saudari, dapat dipakai oleh Tuhan menjadi para minister kecil dari perjanjian yang baru ini.

Sampai akhir pasal 4 ini, Paulus telah mencatat semua kualifikasi dari para minister Perjanjian Baru. Dalam 5:1 ia menyatakan keinginannya, kedambaannya, dan kerinduannya, untuk diangkat. Paulus telah matang dan siap untuk diangkat. Ia seperti gandum yang telah matang di ladang dan siap untuk dituai. Gandum ini berwarna emas, bukan lagi gandum yang masih hijau. Maka, siap untuk dituai.

Pemahaman tentang pengangkatan ini sangat berbeda dengan doktrin umum berlapis gula pada hari ini. D. M. Panton pernah menunjukkan bahwa para pengkhotbah pada hari ini sering memberikan “tiket masuk” yang tidak akan dapat diterima oleh para penjaga “pintu gerbang.” Ya, Anda mungkin memiliki “tiket” tertentu, tetapi pada akhirnya tiket ini terbukti tidak berlaku dan tidak dapat diterima. Orang-orang Kristen pada hari ini diberi “tiket” yang mereka kira dapat mengantarkan mereka untuk diangkat. Akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah tertipu. Pengangkatan adalah perkara kematangan. Petani manakah yang mau menuai gandum yang masih lembut, muda, dan hijau? Tidak ada petani yang mau melakukan hal ini. Sebaliknya, ia akan membiarkan gandum yang belum ma-tang itu di ladang dan bertumbuh sampai waktunya siap untuk dituai. Paulus adalah seorang yang matang dalam Kristus, matang dalam hayat. Karena itu, ia benar-benar siap untuk diangkat. Namun, pada zaman Paulus, tidak banyak orang beriman yang matang. Karena alasan ini, maka tuaian itu tidak dapat terjadi. Bahkan lebih dari seribu sembilan ratus tahun kemudian, Tuhan Yesus masih belum datang. Penyebab keterlambatan ini adalah karena tidak banyak orang yang telah matang dalam hayat.

Banyak orang beriman yang tidak memiliki kedambaan atau kerinduan yang sungguh-sungguh untuk diangkat. Alasan mereka kekurangan kedambaan yang demikian adalah karena mereka tidak matang. Anak-anak kecil, misalnya, hanya ingin bermain dan bersenang-senang. Tetapi sewaktu mereka bertumbuh semakin dewasa dan matang, mereka damba lulus dari sekolah, memiliki pekerjaan yang baik, menikah, dan membangun satu keluarga. Kedambaan selalu berhubungan dengan kematangan. Seorang bayi hanya memiliki kedambaan yang sangat sederhana, karena pada bayi itu tidak ada pertumbuhan dan pasti tidak ada kematangan. Tetapi semakin kita bertumbuh dan matang, kedambaan kita akan semakin dalam dan tinggi. Jika Anda menyatakan bahwa Anda memiliki kedambaan untuk diangkat, untuk mengenakan bangunan surgawi, Anda harus melalui 2Korintus 4. Hanya setelah mengalami pasal ini barulah kita dapat memiliki kedambaan ini. Jika tidak, kita akan menjadi seperti anak-anak di taman kanak-kanak yang mengatakan bahwa mereka memiliki kedambaan untuk lulus dari perguruan tinggi.

Dalam 5:1 Paulus mengatakan “kemah tempat kediaman kita di bumi,” satu ekspresi yang agak khusus. Dalam Alkitab kemah adalah satu istilah khusus yang menunjukkan tempat kediaman Allah. Pemakaian kata ini dalam 5:1 oleh Paulus menunjukkan bahwa tempat kediaman kita juga adalah tempat kediaman Allah. Lagi pula, kemah ini bukan hanya tempat kediaman bagi Allah dan kita, tetapi juga satu tempat bagi kita untuk menyembah Allah. Hari ini tubuh jasmani kita adalah sebuah kemah, sebuah bait. Tubuh jasmani kita, yang di dalamnya pribadi manusia kita berhuni, bukan hanya bagi hidup kita, tetapi juga bagi penyembahan kepada Allah. Inilah alasan Paulus menyebut tubuh kita sebagai satu “kemah tempat kediaman.”

Pemikiran Paulus di sini sangat dalam. Pemikirannya sepenuhnya dijenuhi dengan Allah. Dia benar-benar matang dan masak. Karena itu, ia rindu untuk diangkat. Ia tidak ingin tidak berpakaian; ia rindu mengenakan tubuh yang telah ditransfigurasi. Bila Anda memiliki kerinduan yang demikian, kedambaan yang demikian, Anda adalah seorang beriman yang matang, yang siap untuk dituai, siap untuk dipanen.

V. BERAMBISI MENCARI PERKENAN TUHAN MELALUI HIDUP KEPADA-NYA

A. Ambisi Mereka

Selain damba diangkat, kita juga perlu satu ambisi untuk mencari perkenan Tuhan. Paulus membicarakan tentang hal ini dalam ayat 9: “Sebab itu juga kami berusaha, supaya kami berkenan kepada-Nya, baik kami tinggal di dalam tubuh ini, maupun kami tinggal di luarnya.” Setelah menggambarkan kerinduannya untuk mengenakan tubuh yang telah ditransfigurasi dalam 5:1-8, Paulus selanjutnya membicarakan mengenai ambisi untuk mencari perkenan Tuhan melalui hidup kepada Dia (5:9-15). Ambisi dalam ayat 9 ini berarti bergairah untuk sasaran yang besar, berusaha sekuat tenaga, untuk mencari perkenan Tuhan. Baik “tinggal di dalam tubuh ini, maupun tinggal di luarnya,” ini adalah ambisi Paulus. Frase “di dalam tubuh” dan “di luar tubuh” berarti hidup dan tetap tinggal dalam tubuh, atau mati dan tinggal bersama Tuhan.

Dalam ayat 9 ini Paulus seolah-olah berkata, “Aku berambisi untuk mencari perkenan Tuhan. Aku telah matang dan siap diangkat. Tidak ada lagi yang perlu aku lakukan. Tetapi sewaktu aku menantikan hal ini, aku memiliki satu hal di dalam hatiku mencari perkenan Tuhan. Aku tidak memiliki ambisi, tujuan, atau sasaran lainnya. Satu-satunya ambisiku adalah mencari perkenan Tuhan melalui hidup kepada Dia.”

Mengapa dalam 5:9 Paulus membicarakan tentang hidup kepada Tuhan dan bukan hidup oleh Dia, untuk Dia, atau bersama Dia? Untuk menjawab pertanyaan ini, akan sangat membantu bila kita membaca Galatia 2:19: “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk (kepada) Allah.” Meskipun frase “hidup untuk (kepada) Allah” ini sulit untuk didefinisikan, tetapi kaya dalam implikasinya. Dalam Galatia 2:19 Paulus mengatakan bahwa ia hidup kepada Allah, bukan hidup kepada hukum Taurat. Hidup kepada hukum Taurat berarti kita berada di bawah hukum Taurat, dipimpin oleh hukum Taurat, dikendalikan oleh hukum Taurat, dan bertanggung jawab untuk memenuhi hukum Taurat. Hidup kepada Allah, atau kepada Tuhan, berarti kita berada di bawah pimpinan dan pengendalian Tuhan, kita mau memenuhi tuntutan-tuntutan-Nya, memuaskan kedambaan-kedambaan-Nya, dan menyelesaikan apa yang Dia inginkan.

Dalam 5:15 Paulus berkata, “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Orang-orang dunia hidup kepada dirinya sendiri. Tetapi kasih Kristus mendesak kita untuk hidup kepada Dia dan bukan kepada diri kita sendiri. Hidup kepada diri kita sendiri berarti kita berada di bawah kendali, arahan, dan pemerintahan kita sendiri dan bahwa kita memperhatikan tujuan dan sasaran kita sendiri. Ini bukan hanya hidup untuk diri kita sendiri, melainkan juga hidup kepada diri sendiri. Tetapi para rasul, yang telah matang dan siap untuk diangkat, hanya memiliki satu ambisi untuk mencari perkenan Tuhan melalui hidup kepada Dia. Mereka mutlak berada di bawah Tuhan. Mereka berada di bawah arahan, kendali, dan pemerintahan-Nya. Segala sesuatu yang mereka lakukan adalah untuk memenuhi tujuan dan kedambaan Tuhan. Sebagai orang-orang yang demikian, mereka tidak hidup kepada hukum Taurat, atau kepada diri mereka sendiri, atau kepada sesuatu selain dari Tuhan.

Orang-orang yang bekerja untuk satu perusahaan mungkin hidup kepada perusahaan itu untuk mendapatkan promosi. Dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, mereka mungkin memikirkan apa yang akan dipikirkan oleh pimpinannya tentang mereka. Karena itu, dalam perilaku, pakaian, dan tata rambut mereka, mereka hidup kepada perusahaan itu. Bahkan dalam memilih sepatu yang baru pun mereka hidup kepada perusahaan itu. Dengan berbuat demikian, mereka mencari perkenan pimpinannya supaya mereka dapat naik pangkat. Tidak diragukan lagi, dengan hidup kepada satu perusahaan, seorang pegawai akan maju dan sukses. Demikian pula, seorang pendeta dari jemaat tertentu mungkin hidup kepada jemaat itu. Segala sesuatu yang ia lakukan, termasuk cara ia berpakaian, mungkin kepada gereja itu. Ia sadar bahwa jika ia tidak hidup dalam segala hal yang berhubungan dengan orang-orang yang ada di dalam gereja itu, ia akan diberhentikan dari jabatan pendetanya.

Paulus tidak hidup kepada dirinya sendiri atau kepada sesuatu selain dari Majikannya, Kristus. Ia selalu berlatih untuk melakukan apa yang akan menyenangkan Tuhan. Ia sangat berbeda dengan rabi (guru) yang hidup kepada hukum Taurat dan melakukan apa saja dengan memandang hukum Taurat. Sebagai orang yang telah matang, dewasa, dan siap untuk diangkat, satu-satunya sasaran Paulus adalah mencari perkenan Majikannya, yaitu yang kedatangan-Nya sedang dinanti-nantikannya. Paulus men-cari perkenan Tuhan bukan dengan melakukan satu pekerjaan, melainkan melalui hidup kepada Dia dalam setiap aspek dari kehidupannya sehari-hari. Demikian juga, hari ini kita tidak boleh mencari perkenan diri kita sendiri, melainkan mencari perkenan Tuhan melalui hidup kepada Dia. Semua yang kita lakukan harus kepada Dia. Ini adalah perkara yang vital dalam bagian dari 2Korintus 5 ini.

Saya telah menunjukkan bahwa ada beberapa pegawai yang hidup kepada perusahaan mereka. Saya juga ingin menggambarkan perkara hidup kepada Kristus dengan mengatakan bahwa ada beberapa istri yang mencari perkenan suami mereka melalui hidup kepada suami mereka. Segala sesuatu yang mereka katakan dan lakukan adalah kepada suami mereka. Istri mana pun yang hidup kepada suaminya secara demikian pasti akan menyenangkan suaminya. Cara untuk menyenangkan orang lain adalah hidup kepada orang itu.

Pada tahun 1934 saya mengunjungi beberapa orang beriman di China Selatan. Berdasarkan kasih mereka terhadap saya, mereka berusaha membuatkan roti bagi saya. Sebenarnya saya lebih suka semangkok nasi, karena orang-orang dari China Selatan itu tidak tahu bagaimana menyediakan roti semacam itu dengan tepat dan baik. Meskipun demikian, mereka mendesak saya untuk makan roti yang telah mereka sediakan itu. Dalam hal ini mereka melakukan sesuatu bagi saya, tetapi apa yang mereka lakukan itu bukan dilakukan kepada saya. Saya memakai ini sebagai satu ilustrasi dari fakta bahwa banyak orang Kristen yang mengasihi Tuhan tidak hidup kepada Tuhan. Sebaliknya, mereka hidup kepada diri mereka sendiri. Mereka berbeda dengan Paulus yang berambisi untuk mencari perkenan Majikannya bukan dengan melakukan sesuatu bagi-Nya, melainkan melalui hidup kepada Dia.

Dalam ayat 10 Paulus berkata, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” “Sebab” menyatakan alasan ambisi dalam ayat 9. Takhta pengadilan adalah tempat Kristus menghakimi kaum beriman-Nya pada kedatangan-Nya kembali. Penghakiman itu bukan mengenai keselamatan kekal mereka, tetapi mengenai pahala mereka yang bersifat sezaman (1Kor. 4:4-5; 3:13-15). Kata “memperoleh” di sini adalah istilah ilmiah untuk menerima upah (Alford). Ketika kita masih berdiam dalam tubuh, kita harus melakukan perkara-perkara dengan tubuh untuk mencari perkenan Tuhan, supaya Tuhan dapat memberi kita pahala pada saat kedatangan-Nya.

Dalam ayat 11 Paulus selanjutnya berkata, “Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian menurut penilaian hati nuranimu.” Tahu apa artinya takut akan Tuhan berarti sadar tentang takut akan Tuhan. “Karena itu” menunjukkan bahwa kesadaran ini disebabkan oleh takhta penghakiman Kristus yang disebut dalam ayat 10. Selain itu, takut akan Tuhan seperti yang disinggung di sini bukanlah berarti Tuhan itu menakutkan; melainkan mengacu kepada rasa takut kita kepada Tuhan. Para rasul sadar tentang takut akan Tuhan, lalu meyakinkan orang tentang ketulusan mereka, tentang orang-orang macam apakah mereka, baik terhadap Allah maupun terhadap manusia. Tetapi mereka tidak perlu meyakinkan Allah, karena apa adanya mereka ternyata bagi Allah; namun para rasul berharap supaya mereka juga ternyata di dalam hati nurani kaum beriman.

Ayat 12 melanjutkan, “Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah.” Kata “menghadapi” menunjukkan memiliki kata-kata untuk menjawab mereka yang bermegah. Secara harfiah kata lahiriah adalah muka, penampilan luar para penganut agama Yahudi. Hati adalah tempat beradanya ketulusan dan realitas berbagai macam kebajikan.

Ayat 13 mengatakan, “Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah demi Allah dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah demi kamu.” Tidak menguasai diri demi Allah adalah menjadi gila, seperti orang bodoh, bagi kemuliaan Allah (Kis. 26:24-25). Kegilaan rasul bukanlah suatu kegilaan dari kebodohan, melainkan kegilaan kepada Allah dan bersama dengan Allah bagi kemuliaan-Nya. Menguasai diri di sini adalah penguasaan diri dalam kasih untuk kebaikan orang lain.

B. Kasih Kristus Menguasai Mereka untuk Hidup kepada-Nya

Dalam ayat 14 Paulus menjelaskan, “Sebab kasih Kris-tus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” Kasih Kristus terhadap kita telah dinyatakan di atas salib melalui kematian-Nya bagi kita (Gal. 2:20). Kasih ini menguasai kita. Secara harfiah, berarti menekan dari semua sisi, menekan ke satu sisi, dengan paksa membatasi, dalam suatu batasan dibatasi untuk sasaran tertentu, dibatasi pada satu garis dengan satu tujuan (seperti berada pada jalan sempit yang bertembok). Bahasa Yunaninya sama dengan yang digunakan dalam Lukas 4:38; 12:50; Kisah Para Rasul 18:5; Filpi 1:23. Demikianlah para rasul dikuasai oleh kasih Kristus untuk hidup kepada-Nya.

Frase “telah mengerti” berarti telah mengambil kesimpulan, mungkin pada saat bertobat dan percaya. Paulus menyimpulkan bahwa karena Dia telah mati untuk kita semua, maka kita semua telah mati. Kematian Kristus karena kasih adalah faktor penggerak sehingga para rasul dikuasai untuk menempuh hidup yang mengasihi Kristus. Karena Kristus telah mati menggantikan kita, menderita hukuman mati bagi kita semua, maka dalam pandangan Allah, kita semua telah mati. Karena itu, kita tidak perlu mati sebagaimana telah ditetapkan bagi manusia (Ibr. 9:27).

Seperti yang telah kita tunjukkan, Kristus telah mati untuk kita semua supaya kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, melainkan hidup kepada-Nya. Kematian Kristus bukan hanya menyelamatkan kita dari kematian supaya kita tidak perlu mati, tetapi juga membuat kita, melalui kebangkitan-Nya, tidak hidup untuk diri kita sendiri lagi, melainkan hidup kepada-Nya.