← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 10/20

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (3)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 4:7-15

Dua Korintus 3 dan 4 adalah pasal-pasal yang paling penting dari 1 dan 2Korintus. Tidak ada pasal-pasal lainnya dalam Surat-surat Kiriman ini yang lebih menekankan perihal penyusunan Kristus bagi pengalaman hayat yang lebih dalam. Pengalaman hayat dalam kedua pasal ini sangatlah dalam. Pertama-tama, kedua pasal ini menyingkapkan bagaimana para rasul, sebagai para minister dari perjanjian yang baru, disusun. Mereka ditata ulang, diatur ulang, demikian dijadikan para minister dari perjanjian yang baru.

Paulus menganggap dirinya sebagai yang paling berdosa di antara orang-orang dosa. Bagaimana seorang pemberontak terhadap Allah yang demikian ini dapat menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru, minister Kristus bagi pelaksanaan ekonomi Allah? Membuat seorang pemberontak bertobat kepada Allah menjadi seorang minister Kristus bagi perampungan pemerintahan Allah dalam zaman Perjanjian Baru, benar-benar adalah perkara besar.

Agar Paulus dapat menjadi seorang minister Kristus, pertama-tama ia harus dilahirkan kembali dan kemudian disusun kembali. Kelahiran kembali tidak cukup untuk membuat seseorang menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru; orang itu juga perlu ditata ulang, diatur ulang, disusun ulang. Namun, susunan yang baru ini memerlukan unsur yang baru. Tanpa unsur baru itu sebagai esens penyusunan itu, kita tidak mungkin disusun oleh sesuatu. Penebusan Kristus membawa kita kembali kepada Allah, tetapi penebusan ini tidak mengerjakan pekerjaan penyusunan. Pekerjaan ini memerlukan beberapa unsur selain darah penebusan Kristus. Unsur ini bukan hanya hayat, atau Roh; melainkan Allah yang telah melalui proses.

Saya ingin Anda memperhatikan tahap-tahap dari proses yang dilalui Allah: inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Empat tahap utama dari proses Allah ini juga adalah unsur dari Allah yang telah melalui proses sebagai unsur yang dengannya kita disusun. Unsur ini dilambangkan oleh empat rempah-rempah yang dicampur dengan minyak zaitun untuk membuat minyak urapan dalam Keluaran 30. Minyak zaitun ini adalah elemen dasar, dan empat rempah-rempah ini adalah unsur yang dicampurkan dengan elemen dasar ini. Campuran yang dihasilkan dari proses ini adalah minyak urapan dengan unsur-unsur tersebut.

Allah adalah Roh itu, minyak zaitun, elemen dasar. Keempat rempah-rempah berhubungan dengan inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Inkarnasi membawa keilahian ke dalam keinsanian dan membuatnya menjadi satu kesatuan. Tetapi keilahian dan keinsanian ini tidak berubah sifatnya; keilahian tetap keilahian, dan keinsanian tetap keinsanian. Ini digambarkan oleh perbauran minyak dengan tepung halus dalam kurban sajian. Minyak dan tepung halus ini dibaurkan bersama-sama untuk membentuk satu kesatuan dengan dua sifat. Namun, sifat masing-masing tetap terpisah dan utuh. Minyak tidak kehilangan sifatnya, dan tepung halus juga tidak berubah sifatnya. Meskipun demikian, minyak dan tepung halus ini dibaurkan bersama-sama untuk menghasilkan satu kesatuan. Tetapi kesatuan ini bukan merupakan sifat yang ketiga, sesuatu yang bukan minyak atau tepung halus. Melainkan adalah satu kesatuan yang utuh dengan dua sifat, sifat minyak dan sifat tepung halus. Ini adalah satu ilustrasi dari inkarnasi yang membawa keilahian ke dalam keinsanian, dan membuatnya menjadi satu dan hidup.

Tuhan Yesus, Persona yang ajaib dengan dua sifat, ilahi dan insani, hidup di rumah seorang tukang kayu di Nazaret selama 30 tahun. Setelah menyelesaikan ministri-Nya, Dia disalibkan. Kehidupan insani-Nya menunjukkan bahwa Dia telah melalui segala sesuatu dalam keinsanian yang berhubungan dengan ciptaan yang pertama. Ketika Dia disalibkan, Dia membawa seluruh ciptaan lama ke salib dan mengakhirinya. Karena ciptaan lama ini telah diakhiri, maka kita tidak seharusnya terganggu oleh masalah kita. Dalam pandangan Allah, semua masalah ini telah diakhiri. Allah yang duduk di takhta dapat berkata kepada Iblis, “Iblis kecil, kamu akan berbuat apa? Masihkah kamu akan membuat kesulitan? Aku akan memberikan kepadamu sedikit waktu untuk bermain. Namun, kamu harus sadar bahwa Aku telah mengakhiri kamu. Kamu, bersama ciptaan lama, telah diakhiri.” Iblis dan ciptaan lama telah diakhiri, dan kita juga telah diakhiri oleh kematian Kristus di atas salib. Pengakhiran ini adalah makna penyaliban yang sesungguhnya.

Melalui kebangkitan-Nya Kristus membawa umat pilihan dan tebusan Allah ke dalam Allah. Inkarnasi membawa Allah ke dalam manusia; kebangkitan membawa manusia ke dalam Allah. Hari ini kita, umat tebusan Allah, bukan hanya memiliki Allah di dalam kita; kita juga berada di dalam Allah. Sungguh ajaib memiliki Allah di dalam kita, tetapi lebih ajaib lagi kita berada di dalam Allah.

Mungkin Anda tidak begitu menyadari fakta bahwa Anda berada di dalam Allah. Tetapi oleh belas kasihan Tuhan saya dapat bersaksi bahwa saya benar-benar memiliki perasaan, kesadaran, bahwa saya adalah seorang manusia di dalam Allah. Kelihatannya, saya adalah seorang manusia yang hidup di bumi; tetapi sebenarnya, saya adalah seorang manusia di dalam Allah. Allah ada di dalam saya, dan saya ada di dalam Dia.

Allah telah dibawa masuk ke dalam kita melalui inkarnasi, dan kita telah dibawa masuk ke dalam Allah melalui kebangkitan Kristus. Inilah Allah Tritunggal, Allah yang telah melalui proses. Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini adalah unsur yang dengannya kita telah disusun.

Ada orang mungkin berkata, “Aku tidak merasakan apakah aku telah disusun dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses.” Anda mungkin tidak merasakan hal ini, tetapi Anda perlu mempercayainya. Sebagai orang Kristen, kita perlu hidup oleh iman dan berjalan oleh iman, bukan oleh penglihatan (5:7). Kita adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang yang hidup dan berperilaku berdasarkan penglihatan. Apakah Anda seorang yang beriman atau orang yang hidup dan berperilaku berdasarkan penglihatan? Orang beriman adalah orang yang tidak percaya kepada hal-hal yang dapat dilihat, tetapi mempercayai hal-hal yang tidak terlihat, mengakuinya, dan mewujudkannya demi iman. Orang yang hidup menurut perasaan itu lebih buruk daripada orang yang hidup oleh penglihatan. Anda mungkin tidak merasa bahwa Anda sedang hidup di satu tempat tertentu. Tetapi sebenarnya Anda sedang hidup di sana. Perasaan tidak dapat diandalkan. Anda mungkin merasa bahwa Anda itu baik, tetapi keadaan Anda mungkin sangat kasihan. Jangan percaya kepada perasaan Anda, percayalah kepada fakta. Kita semua telah dibawa masuk ke dalam Allah. Ini adalah satu fakta. Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini adalah unsur yang dengannya kita telah disusun. Anda mungkin tidak merasa disusun atau merasa ada suatu perubahan di dalam Anda. Sekali lagi saya katakan, jadilah orang yang beriman, yaitu orang yang hidup oleh iman, bukan orang yang hidup menurut perasaannya. Ketika Allah mengatakan satu hal tertentu, Anda juga harus mengatakan hal itu karena Alkitab memberi tahu Anda demikian. Alkitab mewahyukan bahwa Allah telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Sekarang dalam kebangkitan, Dia adalah Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam roh kita sebagai unsur penyusun. Alkitab mengatakan hal ini, dan kita harus percaya kepadanya.

Saudara Watchman Nee sering mengatakan bahwa pertama-tama kita memiliki fakta, lalu iman, dan kemudian pengalaman. Urutannya bukan pengalaman, iman, dan kemudian fakta. Fakta selalu yang pertama. Tetapi bagaimana kita mengetahui tentang fakta ini? Fakta-fakta ini tercatat dalam Perjanjian Baru. Perjanjian yang baru ini adalah satu wasiat, sesuatu yang lebih tegas dan lebih baik daripada sekadar perjanjian. Perjanjian adalah satu persetujuan yang mirip dengan kontrak. Tetapi perjanjian yang baru, wasiat ini, mengacu kepada sesuatu yang telah digenapkan. Misalnya satu wasiat menyatakan bahwa seseorang mendapatkan satu juta dolar. Penyataan, bukti, dari hal ini adalah wasiat.

Perjanjian Baru adalah satu wasiat. Wasiat ini mengatakan bahwa Allah yang telah melalui proses ini sekarang ada di dalam kita, bahwa Dia adalah bagian kita, dan bahwa Dia adalah unsur yang dengannya kita disusun. Ya, kita telah disusun. Kita perlu percaya kepada fakta ini, sebagaimana kita percaya bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kadang-kadang Iblis berkata, “Lihatlah dirimu sendiri. Apakah kamu adalah anak Allah? Bagaimana kamu dapat mengatakan bahwa kamu adalah anak Allah ketika kamu marah-marah pada pagi ini?” Bahkan ketika kita marah, kita harus percaya bahwa kita adalah anak-anak Allah. Jadi, kita harus berkata, “Iblis, sekalipun aku sering marah-marah, aku tetap adalah anak Allah. Marah-marah tidak mengubah fakta bahwa aku adalah anak Allah. Iblis, dengan deklarasi fakta ini, aku mengusir kamu.”

III. MEMPERHIDUPKAN KEHIDUPAN TERSALIB,

MENGEKSPRESIKAN HAYAT KEBANGKITAN

OLEH KEKUATAN DARI HARTA

DALAM BEJANA TANAH LIAT

A. Harta di dalam Bejana Tanah Liat

Dua Korintus 4:7 dibuka dengan kata-kata, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat.” Kata “tetapi” menunjukkan satu perbandingan dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.” Frase “harta ini” mengacu kepada ayat 6. Karena pencahayaan Allah di dalam hati kita, maka kita memiliki harta ini, harta yang ajaib, berharga, dan menakjubkan. Namun, kita memiliki harta ini di dalam bejana tanah liat, di dalam sesuatu yang sama sekali tidak berharga. Harta ini ada di dalam bejana tanah liat, karena itu Paulus membuka ayat 7 ini dengan “tetapi”.

Seluruh ayat 7 ini mengatakan, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Kata Yunani untuk “melimpah-limpah” juga dapat berarti unggul, melampaui, luar biasa. Fakta bahwa kita adalah bejana tanah liat membuktikan bahwa kekuatan yang unggul atau melimpah-limpah ini berasal dari Allah, bukan dari diri kita. Maksud Paulus di sini ialah, “Aku hanyalah bejana tanah liat, yang hina dan tidak bernilai. Dalam diriku, aku penuh dosa, jatuh, dan hina. Bagaimanakah orang yang demikian dapat menyatakan kebenaran dan memancarkan kemuliaan Injil? Aku tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal ini. Kekuatan yang unggul ini bukan berasal dari diriku, melainkan berasal dari Allah. Meskipun aku adalah satu bejana tanah liat yang tidak bernilai, tetapi Allah telah memancarkan harta yang mustika ini ke dalamku. Sekarang harta ini menjadi sumber kekuatan yang menguatkan aku dan membuatku dapat memancarkan kemuliaan Allah dan menyatakan kebenaran.”

Apakah Anda tidak memiliki motor ilahi di dalam Anda? Harta yang ajaib ini sekarang adalah satu motor surgawi yang menguatkan kita dari dalam. Motor ini mungkin tidak menyulitkan kita sewaktu kita tidur, tetapi selama waktu-waktu selebihnya, motor ini tidak akan melewatkan kita. Para pengkhotbah sering kali memberi tahu orang lain bahwa Kristus akan memberikan damai sejahtera. Dalam pengalaman saya, Dia sering kali tidak memberikan damai sejahtera kepada saya. Bukannya memberikan sukacita dan damai sejahtera kepada saya, Dia malah “mengganggu” saya. Jika saya tidak menuruti gangguan batini-Nya, saya tidak dapat memiliki damai sejahtera. Kadang-kadang saya bekerja sama dengan gangguan-Nya dan memiliki sukacita, tetapi tetap tidak ada damai sejahtera.

Menurut pengalaman Anda, dapatkah Anda duduk dengan tenang di rumah dan menikmati damai sejahtera? Bukankah Tuhan sering kali mengganggu Anda secara batini? Kristus adalah Dia yang mengganggu. Harta ini adalah harta yang hidup dan aktif bekerja di dalam kita. Bahkan harta ini mendesak kita melakukan hal-hal tertentu. Menurut 2Korintus 5, kasih Kristus mendesak kita. Kristus bukan hanya mengganggu kita, Dia juga mendesak kita, mendorong kita. Inilah kekuatan, sumber kekuatan, bagi para rasul untuk berperilaku sedemikian guna memancarkan Injil dan menyatakan kebenaran.

B. Kehidupan yang Tersalib untuk

Mengekspresikan Hayat Kebangkitan

Mulai 2Korintus 4:8 kita akan melihat bahwa para rasul ini tidak menempuh satu kehidupan yang mulia, melainkan satu kehidupan yang tersalib. Menempuh kehidupan yang tersalib adalah menempuh kehidupan di bawah penggilingan. Ini seperti gandum yang berada di bawah batu gilingan. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia menempuh satu kehidupan di bawah penggilingan. Ibu-Nya, saudara-saudara-Nya, semua murid-Nya, juga penentang-penentang dan penganiaya-penganiaya-Nya berfungsi sebagai batu-batu gilingan. Setiap hari Tuhan Yesus berada di bawah pengilingan.

Dalam penggilingan gandum ada dua batu yang dipakai: batu yang tidak bergerak pada dasarnya dan batu yang dapat bergerak di atasnya. Kita dapat mengatakan bahwa orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki adalah batu dasar bagi Tuhan Yesus, dan batu gilingan yang di atasnya, yang dapat bergerak, adalah ibu-Nya, saudara-saudara-Nya, dan murid-murid-Nya. Untuk menggiling, batu dasar ini memerlukan batu atas yang sesuai dengannya dan bekerja sama dengannya. Ini berarti ibu, saudara-saudara, dan murid-murid Tuhan membantu orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki untuk menggiling Tuhan Yesus.

Pengalaman kita pada hari ini sama prinsipnya. Orang-orang yang menentang pemulihan Tuhan adalah batu dasar, batu gilingan yang tidak bergerak. Tetapi suami atau istri kita, para penatua dalam gereja, para sekerja, dan orang-orang kudus, adalah batu atasnya. Karena itu, anggota-anggota keluarga kita, dan orang-orang kudus dalam gereja bekerja sama dengan para penganiaya dan penentang untuk menaruh kita di bawah penggilingan. Saudara-saudara, bukankah Anda mengalami istri Anda menggiling Anda jauh lebih banyak daripada para penentang Anda? Kritikannya adalah satu penggilingan. Jika bukan untuk orang-orang yang terkasih yang mengelilingi kita, para penentang itu tidak akan dapat menggiling kita. Penggilingan yang sesungguhnya berasal dari orang-orang yang dekat dengan kita. Para penentang itu hanyalah meletakkan pondasi supaya penggilingan itu terjadi. Begitu pondasi itu diletakkan, maka suami atau istri Anda atau orang-orang kudus tertentu akan melaksanakan penggilingan yang sesungguhnya.

Jika Anda membaca kembali keempat kitab Injil, Anda akan melihat bahwa yang membuat Tuhan Yesus mengalami penggilingan adalah orang-orang yang dekat dengan Dia. Ketika Tuhan Yesus dianiaya, Dia tetap bersukacita. Tetapi pada suatu hari, sewaktu Dia memberitakan Injil kepada orang banyak, sahabat-sahabat-Nya berpikir bahwa Dia tidak waras lagi (Mrk. 3:21). Pada satu pihak Tuhan Yesus bahkan bertanya, “Siapakah ibu-Ku, dan siapakah saudara-saudara-Ku?” (Mat. 12:48). Kemudian Dia berkata, “Sebab siapa saja yang melakukan kehendak BapaKu yang di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku?” (Mat. 12:50). Hari ini kita juga mengalami penggilingan dari orang-orang yang dekat dengan kita, orang-orang yang mengasihi kita dan memperhatikan kita secara alamiah.

1. Dalam Segala Hal Ditindas, namun Tidak Hancur Terjepit

Dalam ayat 8 Paulus berkata, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.” Kata “ditindas” dapat juga diterjemahkan dibuat menderita. Kata tidak hancur terjepit berarti tidak terbatasi. Ayat ini hingga ayat 18 menggambarkan kehidupan para rasul menyatakan bahwa para rasul menempuh kehidupan tersalib dalam kebangkitan, atau memperhidupkan hayat kebangkitan di bawah pembunuhan salib, untuk menggenapkan ministri mereka.

2. Habis Akal, namun Tidak Putus Asa

Secara harfiah, habis akal di sini berarti tidak dapat menemukan jalan keluar. Kata putus asa secara harfiah berarti sama sekali tidak dapat menemukan jalan keluar; yaitu, jalan itu sudah tertutup sepenuhnya. Di sini rasul mengatakan mereka habis akal, tidak dapat menemukan jalan keluar, namun tidak putus asa, karena bukan sama sekali tidak dapat menemukan jalan keluar.

3. Dianiaya, namun Tidak Ditinggalkan

Ayat 9a mengatakan, “Kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian.” Kata dianiaya juga berarti dikejar-kejar (oleh musuh). Ditinggalkan adalah dibiarkan, sendirian; secara harfiah, ini berarti ditinggalkan dalam musibah yang mengenaskan.

4. Dihempaskan, namun Tidak Binasa

Ayat 9b mengatakan, “Kami dihempaskan, namun tidak binasa.” Dihempaskan juga berarti dipukul, dijatuhkan; dan binasa juga berarti dibunuh, sama dengan binasa dalam ayat 3.

5. Senantiasa Membawa Kematian Yesus di dalam Tubuh

Ayat 10 melanjutkan, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Membawa kepada kematian di sini berarti membunuh, mematikan; mengacu kepada pekerjaan maut, pekerjaan salib, yang diderita dan dilalui Tuhan Yesus. Ketika Tuhan di bumi, setiap hari Dia berada di bawah pembunuhan ini; hari demi hari Dia mengalami diletakkan di bawah kematian. Para rasul juga mengalami hal ini. Setiap hari mereka berada di bawah pembunuhan; setiap hari mereka diletakkan di bawah kematian.

Para rasul mengalami pekerjaan pembunuhan ini “supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Kata “supaya” di sini juga berarti agar, hasil. Pembunuhan salib menghasilkan penyataan hayat kebangkitan. Pembunuhan sehari-hari ini adalah untuk melepaskan hayat ilahi dalam kebangkitan. Hayat dalam ayat 10 ini adalah hayat kebangkitan, yang Tuhan Yesus tempuh dan tampilkan melalui pekerjaan salib.

Penggilingan setiap hari yang terus-menerus bekerja untuk satu tujuan khusus: supaya kehidupan Yesus dapat ternyata di dalam tubuh kita. Hayat ini adalah hayat kebangkitan. Tuhan Yesus memperhidupkan hayat kebangkitan bahkan sebelum Dia tersalib. Hayat yang Dia tempuh di bumi adalah satu hayat kebangkitan. Hayat kebangkitan ini adalah satu hayat yang dapat melawan pembunuhan kematian.

Dalam ayat 11, Paulus selanjutnya berkata, “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” Sebutan Yesus dalam ayat 10 dan 11 menyiratkan bahwa penempuhan hidup para rasul sama seperti penempuhan hidup Tuhan Yesus di bumi, satu kehidupan yang berada di bawah pembunuhan salib untuk menyatakan hayat kebangkitan. Penggunaan kata “daging” dan “tubuh” secara bergantian dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwa daging kita yang fana adalah tubuh kita yang jatuh.

6. Maut Giat di dalam Diri Mereka, tetapi Hayat Giat di dalam Kaum Beriman

Ayat 12 mengatakan, “Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup (hayat) giat di dalam kamu.” Ketika kita berada di bawah pembunuhan kematian Tuhan, hayat kebangkitan-Nya disalurkan ke dalam orang lain melalui kita. Penyaluran hayat ke dalam orang lain selalu merupakan hasil dari kita menerima pembunuhan salib.

7. Memiliki Roh Iman

Dalam ayat 13 Paulus berkata, “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” “Roh iman yang sama” mengacu kepada roh yang sama seperti yang dinyatakan dalam perkataan-perkataan yang dikutip dalam ayat ini (Mzm. 116:10).

Mengenai roh dalam ayat 13 ini, Alford berkata, “Tidak secara khusus Roh Kudus, juga bukan sekadar watak manusia, melainkan Roh Kudus yang berhuni menjenuhi dan menjadi ciri-ciri khas dari keseluruhan manusia yang telah diperbarui.” Vincent berkata, “Roh iman, bukan dengan tegas Roh Kudus, juga bukan indra atau watak manusia, melainkan perbauran keduanya.” Ini berarti bahwa roh iman adalah perbauran Roh Kudus dengan roh manusia. Kita harus melatih roh ini untuk percaya dan mengucapkan (seperti pemazmur) hal-hal yang telah kita alami tentang Tuhan, terutama pengalaman atas kematian dan kebangkitan-Nya. Iman ada di dalam roh kita yang berbaur dengan Roh Kudus, bukan di dalam pikiran kita. Keraguraguan ada di dalam pikiran kita. Di sini roh menunjukkan bahwa dengan roh perbauran inilah para rasul menempuh hidup yang tersalib di dalam kebangkitan untuk menggenapkan ministri mereka.

Ayat 14 mengatakan, “Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.” Ini menunjukkan bahwa para rasul menganggap diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang telah mati (1:9), karena untuk tujuan Tuhan, mereka selalu diserahkan kepada kematian (4:11). Satu-satunya harapan mereka ada di dalam Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus dan yang juga akan membangkitkan mereka. Mereka hidup dengan iman yang demikian.

Dalam ayat 15 Paulus mengumumkan, “Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah (kasih karunia), yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.” Kasih karunia, menurut konteksnya, adalah Kristus yang hidup di dalam rasul sebagai hayat dan suplai hayat mereka agar mereka menempuh kehidupan salib bagi penyataan hayat kebangkitan, sehingga mereka bisa menggenapkan ministri mereka bagi perjanjian Allah yang baru. Sewaktu para rasul senantiasa berada di bawah pembunuhan ini, maka hayat senantiasa disalurkan kepada orang lain, dan kasih karunia melimpah-limpah karena makin banyaknya orang yang percaya. Hasilnya, ucapan syukur pun semakin melimpah. Paulus tidak mempedulikan penderitaan-penderitaan, karena ia menyadari bahwa dengan berada di bawah pembunuhan ini, maka hayat disalurkan kepada banyak orang dan hayat ini menjadi kasih karunia bagi mereka. Akibatnya, semua orang akan mengucapkan syukur kepada Allah. Inilah kehidupan yang ditempuh oleh para rasul, kehidupan yang tersalib untuk mengekspresikan hayat kebangkitan oleh kekuatan yang unggul dari harta yang ada di dalam bejana tanah liat.

Lambat atau cepat, kita semua akan mengalami penggilingan. Kita akan digiling di antara batu atas dan batu dasar. Dalam perkara ini kita tidak ada pilihan, karena kita semua memerlukan penggilingan ini. Penggilingan inilah yang membuat hayat kebangkitan terekspresikan.

Memang, dalam pandangan Allah kita semua telah disusun. Tetapi kita masih memerlukan pengujian untuk menentukan berapa banyak kita telah disusun, dan kita juga memerlukan penggilingan untuk mengerjakan penyusunan ini secara riil dalam pengalaman. Meskipun kita telah disusun, kita masih memerlukan penyusunan ini terus dilaksanakan. Hal ini terutama dikerjakan melalui penentangan dan penggilingan dari orang-orang yang terkasih yang dekat dengan kita.

Setiap gereja adalah satu pabrik penggilingan. Mungkin Anda tidak suka dengan gereja di lokal Anda dan ingin pindah ke tempat lain. Jika Anda pindah untuk melarikan diri dari penggilingan ini, Anda akan menemukan bahwa di tempat ke mana Anda pergi itu, Anda akan mengalami penggilingan lebih banyak. Karena itu, jika Anda pindah untuk melarikan diri dari penggilingan ini, Anda harus siap menerima penggilingan yang lebih banyak lagi. Kita tidak dapat menghindari hal ini. Ini telah ditentukan bagi kita; inilah nasib kita. Puji Tuhan untuk penggilingan yang membuat hayat kebangkitan dapat diekspresikan!