← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 9/20

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (2)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 4:1-7

Dalam 2Korintus 3:12-18 kita memiliki aspek pertama dari gambaran tentang para minister Perjanjian Baru. Para minister dari perjanjian yang baru ini disusun oleh dan dengan Tuhan sebagai Roh pemberi hayat dan pengubah. Pasal 4 sampai 7 adalah gambaran yang lebih jauh dari para minister Perjanjian Baru. Menurut 4:1-6, mereka berperilaku untuk memancarkan Injil kemuliaan Kristus. Jadi, aspek kedua mengenai para minister dari perjanjian yang baru ini adalah bagaimana mereka berperilaku, bertindak tanduk.

II. BERPERILAKU UNTUK MEMANCARKAN INJIL KEMULIAAN KRISTUS

Sebelum kita melihat bagaimana para minister dari perjanjian yang baru ini berperilaku, marilah kita melihat sasaran, tujuan, dan maksud dari perilaku mereka. Perilaku mereka dikendalikan dan dikontrol oleh satu tujuan. Tujuan ini adalah untuk memancarkan kemuliaan Injil Kristus. Mereka berperilaku begitu rupa agar Injil Kristus dapat terpancar melalui dan dari dalam mereka. Inilah sasaran dan tujuan kehidupan mereka. Mereka bukan hanya memberitakan Injil mereka juga memancarkan Injil kemuliaan Kristus.

Injil yang diberitakan oleh Paulus adalah Injil kemuliaan, Injil yang penuh dengan terang dan kemuliaan. Kemuliaan ini tidak dapat disampaikan hanya dengan berbicara, atau memberitakan. Kemuliaan ini harus terekspresi melalui pancaran. Selain itu, pancaran ini harus menjadi kehidupan para minister Perjanjian Baru. Kehidupan mereka adalah pancaran dari Injil yang mereka beritakan. Bagi mereka, Injil ini bukan hanya satu doktrin. Doktrin tidak memerlukan pancaran. Tetapi Injil yang mereka beritakan, yaitu Injil kemuliaan, penuh dengan pancaran. Kemuliaan ini adalah Allah itu sendiri, Allah yang terwujud di dalam Injil yang mereka beritakan. Karena itu, Injil yang diberitakan oleh para minister dari perjanjian yang baru ini bukanlah satu teori, satu filsafat, atau doktrin belaka. Injil ini adalah perwujudan Allah Sang mulia. Injil ini tidak dapat dilaksanakan hanya melalui pemberitaan, melainkan harus ada pancaran.

Para minister yang melaksanakan Injil kemuliaan ini adalah benda-benda yang memancarkan cahaya, yakni, orang-orang yang bersinar. Sebagai benda-benda yang memancarkan cahaya, mereka sendiri tidak memiliki cahaya, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk memantulkan cahaya yang berasal dari sumber yang lain, seperti bulan memantulkan cahaya matahari.

Injil ini dapat dibandingkan dengan Kristus yang bercahaya seperti matahari, Allah Sang mulia terwujud di dalam pekerjaan penebusan-Nya. Kita semua perlu memahami Injil dengan cara ini. Jangan menganggap Injil sebagai satu filsafat atau pengajaran. Tidak, Injil adalah perwujudan dari Allah Sang mulia. Injil ini memerlukan orang-orang yang bersinar, benda-benda yang memancarkan cahaya, untuk memantulkan cahayanya. Pantulan cahaya dari Injil kemuliaan ini adalah kehidupan semua minister dari perjanjian yang baru. Pantulan ini adalah perilaku para rasul.

Dalam ayat 4 Paulus memakai kata cahaya. Dalam lubuk rohnya, Paulus menganggap dirinya dan sekerja-sekerjanya sebagai benda-benda yang memancarkan cahaya. Hari ini kita juga perlu menjadi benda-benda yang memancarkan cahaya yang memantulkan kemuliaan Injil Kristus. Sasaran, tujuan, dan maksud dari kehidupan para minister Perjanjian Baru ini adalah untuk bercahaya secara demikian. Sasaran perilaku Paulus adalah memancarkan Injil. Ia dan para sekerjanya, yaitu para minister dari perjanjian yang baru, berperilaku untuk memancarkan Injil kemuliaan Kristus.

A. Perilaku Mereka

Dalam 4:1 Paulus berkata, “Oleh rahmat Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu, kami tidak tawar hati.” Dalam 3:12-18 rasul menggambarkan bagaimana para minister dari perjanjian yang baru disusun. Dalam pasal ini, dari ayat 1-6, ia memberi tahu kita bagaimana mereka berperilaku sebagai para minister dari perjanjian yang baru untuk merampungkan ministri mereka, dan dari ayat 7-18, dia menjelaskan hidup macam apa yang mereka tempuh, yang membuat mereka satu dengan ministri mereka.

1. Menerima Ministri Perjanjian yang Baru Ini

Dalam 4:1 Paulus membicarakan tentang menerima “ministri (pelayanan) ini”. Inilah ministri yang diterangkan dalam 2:12 sampai 3:18. “Ministri ini” menunjukkan bahwa kita, semua rasul Kristus, sekalipun banyak, hanya memiliki satu ministri, yakni ministri dari perjanjian yang baru bagi perampungan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Semua pekerjaan rasul adalah untuk merampungkan ministri satu-satunya ini, menyuplaikan Kristus kepada orang bagi pembangunan Tubuh-Nya.

Dalam 4:1 ini Paulus mengatakan tentang ministri ini dalam bentuk tunggal. Ini adalah satu bukti yang kuat bahwa sekerja-sekerja memiliki satu ministri, yaitu ministri yang unik. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru ada satu ministri yang unik. Ministri yang unik dalam Perjanjian Baru adalah ministri kepada pembenaran dan ministri Roh. Dalam ministri ini, Kristus disuplaikan kepada orang lain.

Hari ini pemberita-pemberita sudah biasa membicarakan tentang ministri-ministri yang berbeda. Meskipun saya tidak mengatakan bahwa membicarakan ministri-ministri yang berbeda itu salah, kita perlu hati-hati dalam membicarakan mengenai ministri dengan cara ini. Yang penting di sini adalah apa yang kita maksud dengan kata ministri dan ministri-ministri. Dalam 2Korintus ministri ini unik; kata ini tidak dikatakan dalam bentuk jamak. “Ministri ini” adalah ministri Perjanjian Baru yang unik.

Dalam Kisah Para Rasul 1Petrus menyinggung ministri ini. Perlu ada seorang yang mengisi celah di antara para Rasul, yaitu seorang yang ditambahkan kepada kesebelas Rasul itu dalam mengemban ministri ini. Kedua belas Rasul itu memiliki satu ministri. Ministri ini adalah memberitakan Kristus dalam kebangkitan. Dalam 2Korintus, para rasul juga memiliki satu ministri yaitu menyuplaikan Kristus kepada orang lain.

2. Tidak Tawar Hati

Aspek pertama dari cara para rasul itu berperilaku adalah bahwa mereka tidak tawar hati. Saya dapat bersaksi bahwa karena saya juga mengambil bagian dalam ministri ini, saya tidak tawar hati. Ministri ini adalah satu pendorong dan satu motivasi. Ministri ini menguatkan saya, menopang saya, meneguhkan saya, dan membuat saya tidak tawar hati. Bahkan penentangan adalah satu tanda bahwa ministri ini berada di bawah berkat Tuhan dan bahwa ministri ini berkhasiat. Kita tidak tawar hati, tidak peduli berapa banyak penentangan yang bangkit melawan kita.

3. Menolak Segala Perbuatan Tersembunyi yang Memalukan

Dalam ayat 2 Paulus berkata, “Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya, kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dinilai menurut hati nurani semua orang di hadapan Allah.” Kita perlu memiliki hati nurani yang dapat mengumumkan kepada malaikat-malaikat dan roh-roh jahat bahwa kita tidak memiliki perbuatan tersembunyi yang memalukan, melainkan transparan dan jernih seperti kristal.

Kata Yunani yang diterjemahkan memalsukan berarti menjerat; dirusak, seperti dalam pencampuran emas atau anggur yang tidak murni. Arti ini lebih sempit daripada memalsukan dalam 2:17, di sana mengandung arti untuk mencari keuntungan. Memalsukan emas adalah mencampurnya dengan logam rendahan dengan tujuan untuk menjualnya dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang sebenarnya. Demikian juga, memalsukan anggur adalah mencampurnya dengan larutan lainnya dengan tujuan untuk menyajikannya seolah-olah anggur yang memiliki kualitas yang baik. Pada abad pertama pun, orang-orang tertentu yang disebut pemberita-pemberita Injil memalsukan firman Allah secara demikian. Mereka menambahkan hal-hal yang rendahan kepada firman itu.

Hari ini ada beberapa pengkhotbah yang memalsukan firman Allah. Dalam khotbah-khotbah mereka, mereka mungkin memakai ayat-ayat dari Alkitab, tetapi mereka menambahkan unsur-unsur yang palsu. Mereka menyatakan bahwa apa yang mereka beritakan adalah firman Allah. Sebenarnya, mungkin hanya sebagian kecil yang merupakan firman, sisanya adalah unsur-unsur palsu yang ditambahkan kepada firman itu. Dengan demikian mereka memalsukan emas ilahi dan anggur ilahi dalam Alkitab. Cara Paulus berperilaku mutlak bertentangan dengan hal ini. Ia jelas tidak memalsukan firman Allah, melainkan menyajikan emas murni, emas yang telah dimurnikan dari firman itu.

Dengan menyatakan kebenaran, Paulus dan sekerja-sekerjanya menyerahkan diri mereka untuk dinilai menurut hati nurani semua orang di hadapan Allah. Di sini kebenaran adalah ungkapan yang lain bagi firman Allah (Yoh. 17:17 dan catatan). Ini berarti realitas, mengacu kepada segala perkara riil yang diwahyukan dalam firman Allah, terutama Kristus sebagai realitas segala hal tentang Allah. Menyatakan kebenaran mengacu kepada rasul memperhidupkan Kristus. Ketika mereka memperhidupkan Kristus yang adalah kebenaran (Yoh. 14:6), mereka menyatakan kebenaran. Ketika Kristus diperhidupkan dari diri mereka, kebenaran dinyatakan atas mereka. Dengan demikian mereka menyerahkan diri mereka kepada hati nurani setiap orang di hadapan Allah. Rasul berperilaku tidak dengan memalsukan firman Allah, tetapi dengan menyatakan kebenaran untuk pancaran Injil kemuliaan Kristus, melalui kekuatan yang unggul dari harta yang tidak ternilai, yaitu Kristus yang masuk ke dalam mereka dan menjadi isi mereka (2Kor. 4:7) melalui pancaran cahaya Allah (ayat. 6).

B. Memancarkan Injil Kemuliaan Kristus

1. Injil Mereka Tertutup untuk Mereka yang akan Binasa

Dalam ayat 3 Paulus selanjutnya berkata, “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka Injil itu tertutup untuk mereka yang akan binasa.” Untuk orang-orang tertentu, Injil ini tertutup oleh konsep-konsep usang, terutama konsep tentang hukum Taurat (3:14-15). Pada prinsipnya, apa pun yang menghalangi orang memahami Injil Kristus, seperti filsafat, agama, atau tradisi-tradisi kebudayaan, dan sebagainya, adalah suatu selubung. Karena itu, memberitakan Kristus haruslah membuka selubung tersebut, sama seperti di dalam fotografi, tutup lensa kamera perlu dibuka agar dapat memotret pemandangan.

Dalam ayat 4 Paulus melanjutkan, “Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah.” Ilah zaman ini adalah Iblis, si penipu, penguasa zaman ini, yang menguasai dunia hari ini dan memburu penyembahan manusia dengan membutakan pikiran dan pemikirannya. Dalam ayat ini dibutakan berarti menyelubungi pengertian manusia. Lagi pula, pikiran di sini menekankan pemahaman atau pemikiran.

Kristus sebagai gambar Allah adalah cahaya kemuliaan-Nya (Ibr. 1:3). Karena itu, Injil Kristus adalah Injil kemuliaan-Nya yang bercahaya dan bersinar. Iblis, ilah zaman ini, telah membutakan pemikiran-pemikiran (angan-angan) dan pikiran-pikiran orang-orang yang tidak percaya, sehingga cahaya Injil kemuliaan Kristus tidak dapat bersinar ke dalam hati mereka. Ini seperti lensa kamera yang ditutup sehingga terang tidak dapat masuk ke dalam kamera.

Apa yang digambarkan Paulus dalam ayat 4 ini adalah semacam fotografi rohani. Kita seperti kamera-kamera dengan lensa dan tombol pemotret. Bila tombol pemotret ini ditekan maka cahaya dengan obyek, bentuk, dan gambar, bisa masuk ke dalam kamera itu dan tercetak pada film. Cahaya ini membawa bentuk gambar itu kepada film dan membentuk satu gambar padanya. Namun, jika lensa kamera itu tertutup, cahaya itu tidak bisa masuk ke dalam kamera. Kadang-kadang ketika kita memberitakan Injil kepada orang lain, mereka seperti kamera dengan lensa yang tertutup. Cahaya tidak dapat masuk ke dalamnya. Puji Tuhan, olah belas kasihan dan kasih karunia-Nya, selubung setani itu telah disingkapkan dari pikiran kita! Kita bukan hanya memiliki muka yang tidak berselubung, tetapi juga memiliki pikiran yang tidak berselubung.

Muka yang tidak berselubung dalam 3:18 adalah pikiran yang tidak berselubung dalam pasal 4. Menurut konsep Paulus, dua hal ini adalah satu. Karena itu, memiliki muka yang tidak berselubung adalah memiliki pikiran yang tidak berselubung. Ini seperti sebuah kamera yang terbuka kepada sorotan cahaya.

Sewaktu cahaya ini masuk ke dalam kita, maka cahaya ini membawa masuk gambar Kristus. Cahaya ini bersinar ke dalam roh kita melalui pikiran kita. Roh kita dapat dibandingkan dengan film. Ketika cahaya itu masuk ke dalam kita melalui pikiran kita yang terbuka, maka cahaya itu akan mencapai roh kita dan membawa bentuk Kristus, gambar Kristus, ke dalam kita. Dalam gereja kita sedang mempraktekkan fotografi rohani dan surgawi yang demikian ini.

Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan cahaya dalam ayat 4 ini berarti (1) melihat dengan jelas, membedakan; (2) menyinari. Karena ilah zaman ini telah membutakan pikiran-pikiran orang-orang yang tidak percaya, maka mereka tidak dapat melihat cahaya Injil, seperti orang buta, atau orang yang matanya terselubung, yang tidak dapat melihat cahaya matahari.

2. Tidak Memberitakan Diri Mereka Sendiri, Melainkan Kristus sebagai Tuhan

Ayat 5 mengatakan, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.” “Sebab” menunjukkan apa sebabnya Injil rasul, yaitu Injil kemuliaan Kristus, seharusnya tidak berselubung: mereka tidak memberitakan atau meninggikan diri mereka sendiri, tetapi memberitakan dan meninggikan Kristus Yesus sebagai Tuhan segala sesuatu, dan mereka sendiri berperilaku sebagai hamba kaum beriman demi Yesus, seperti yang dilakukan Yesus, yang adalah Tuan, namun datang untuk melayani seperti seorang hamba (Mat. 20:26-28).

Kristus Yesus sebagai Tuhan meliputi: Kristus yang ada di atas segala sesuatu, Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya (Rm. 9:5), Firman kekal yang telah menjadi daging, menjadi manusia (Yoh. 1:14), Yesus yang tersalib sebagai manusia untuk menjadi Juruselamat kita (Kis. 4:10-12), dan yang bangkit menjadi Anak Allah (Kis. 13:33); Kristus ditinggikan menjadi Tuhan (Kis. 2:36), yaitu Tuhan semua manusia (Kis. 10:36; Rm. 10:12; Yoh 20:28; 1Kor. 12:3), Dia adalah gambar Allah, cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3). Inilah isi Injil. Karena itu, Injil adalah Injil kemuliaan Kristus yang bercahaya, memancar, dan bersinar dalam hati manusia (ayat 6). Jika hati manusia tidak diselubungi oleh apa pun, juga tidak dibutakan oleh Iblis, ilah zaman ini, ia dapat melihat cahaya Injil (ayat 4).

Kata hamba dalam ayat 5 ini berlawanan dengan Tuhan. Rasul meninggikan Kristus sebagai Tuhan, tetapi menganggap diri sendiri sekadar hamba untuk melayani kaum beriman. Mereka bukan hanya hamba-hamba bagi Kristus, tetapi juga bagi kaum beriman.

3. Allah Bercahaya di dalam Hati Mereka

Ayat 6 mengatakan, “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.” Ini menerangkan apa yang disinggung dalam ayat sebelumnya. Para rasul memberitakan Kristus sebagai Tuhan dan mereka sendiri sebagai hamba kaum beriman karena Allah yang berfirman “dari dalam gelap akan terbit terang” telah bercahaya dalam hati mereka. Pencahayaan-Nya dalam alam semesta menghasilkan ciptaan lama; kini Allah bercahaya di dalam hati mereka, menjadikan mereka ciptaan baru. Karena itu, mereka dapat meninggikan Kristus sebagai Tuhan di dalam pemberitaan mereka, dan merendahkan diri sendiri sebagai hamba kaum beriman dalam ministri mereka. Apa yang mereka lakukan bagi Kristus dan apa adanya mereka bagi kaum beriman adalah hasil pencahayaan Allah. Pencahayaan Allah menghasilkan para minister dari perjanjian yang baru dan ministri mereka.

Di dalam hati kita jauh lebih dalam daripada di kulit muka Musa (3:7; Kel. 34:29-30). Ini memperlihatkan kepada kita perbandingan antara kemuliaan ministri Injil rasul dan kemuliaan ministri hukum Taurat Musa. Di dalam hati berhubungan dengan hayat batiniah; di kulit muka tidak ada hubungannya dengan hayat batiniah. Kemuliaan perjanjian yang lama berada di permukaan, tetapi kemuliaan dari perjanjian yang baru memiliki kedalaman yang sungguh. “Hati kita” mengacu kepada hati para rasul. Mereka mewakili semua orang beriman dari perjanjian yang baru.

Pencahayaan Allah di dalam hati kita menghasilkan terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus, yaitu penerangan yang membuat kita mengenal kemuliaan Injil Kristus. Cahaya, penerangan yang membuat kemuliaan Injil Kristus dikenal oleh kita berasal dari pencahayaan Allah di dalam hati kita.

Wajah Kristus dibandingkan dengan wajah Musa (3:7). Kemuliaan Injil pada wajah Kristus jauh lebih unggul daripada kemuliaan hukum Taurat pada wajah Musa. Kemuliaan Injil bercahaya pada wajah Dia, yang oleh-Nya kasih karunia dan relitas datang, menghasilkan kebenaran dan Roh itu hayat (3:8-9); kemuliaan hukum Taurat bercahaya pada wajah dia yang olehnya hukum Taurat diberikan (Yoh. 1:17), menghasikan penghakiman dan maut (3:7, 9). Allah bercahaya dalam hati kita, menerangi kita supaya kita bisa mengenal kemuliaan pada wajah Kristus, bukan kemuliaan pada wajah Musa; juga agar kita mengenal Injil Kristus dari perjanjian yang baru, bukan hukum Taurat Musa dari perjanjian yang lama.

Allah memiliki dua ciptaan: ciptaan lama dan ciptaan baru. Ciptaan lama datang melalui pencahayaan Allah dari luar ke dalam kegelapan. Ciptaan baru digenapkan melalui pencahayaan Allah yang batini di dalam hati kita. Oleh pencahayaan Allah di dalam hati kita, kita telah menjadi ciptaan baru. Pencahayaan ini adalah pada wajah Kristus. Untuk mengalami hal ini, kita perlu memiliki kontak yang langsung, pribadi, dan intim dengan Kristus. Kontak ini akan membuat Allah bercahaya di dalam hati kita. Allah mungkin menyoroti kita, tetapi jika kita ingin Dia bercahaya di dalam kita, kita perlu memiliki kontak yang langsung dan intim dengan Dia. Inilah sebabnya kita berseru kepada-Nya dan berkata, “O Tuhan Yesus.” Saulus dari Tarsus pun diselamatkan melalui berseru kepada nama Tuhan. Dengan berseru kepada nama Tuhan, Paulus dibawa ke dalam kontak muka dengan muka dengan Tuhan. Ketika Saulus berkata, “Siapakah Engkau Tuhan?” Tuhan segera menjawab: “Akulah Yesus.” Jawaban ini intim dan pribadi. Ini bukanlah satu seruan dari jarak jauh; ini adalah percakapan muka dengan muka. Saulus dari Tarsus mengalami pencahayaan Allah di dalam hatinya.

Misalnya Anda memberitakan Injil kepada orang yang tidak percaya. Ia mengangguk-angguk dan mengatakan bahwa ia percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia sebagai Juruselamat. Jangan beranggapan ia benar-benar telah beroleh selamat. Anda perlu menanyakan apakah ia telah berseru kepada Tuhan, sehingga memiliki kontak langsung dengan-Nya. Jika orang yang tidak percaya itu mau berseru kepada nama Tuhan Yesus, ia akan dibawa ke hadapan Kristus dan segera memiliki kontak pribadi dengan-Nya.

Bila kita memiliki kontak yang demikian langsung, pribadi, dan intim dengan Tuhan, barulah kita memiliki pencahayaan yang batini. Ini berlaku bagi kita, juga bagi orang yang tidak percaya yang datang kepada Tuhan untuk kali pertama. Jika kita ingin mendapatkan pencahayaan Tuhan lagi, kita perlu memiliki kontak yang intim dengan Tuhan. Kapan saja kita berseru kepada Tuhan dengan mesra dan intim, kita berada di hadapan wajah-Nya, dan pencahayaan Allah ada di dalam hati kita. Dengan cara inilah para rasul menerima pencahayaan batini. Kemudian mereka memancarkan apa yang telah mereka terima. Inilah cara mereka berperilaku untuk memancarkan kemuliaan Injil Kristus. Kekuatan pencahayaan ini adalah yang dibicarakan dalam ayat 7.

4. Allah Bercahaya di dalam Hati Mereka Membawa

Masuk Harta ke dalam Mereka,

Bejana-bejana Tanah Liat

Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Pencahayaan Allah dalam hati kita membawakan harta ke dalam kita, yaitu Kristus yang mulia sebagai perwujudan Allah, untuk menjadi hayat dan segala kita. Tetapi kita yang berisikan harta ini adalah bejana-bejana tanah liat yang tidak berharga dan getas. Harta tak ternilai ini tersimpan dalam bejana-bejana tak berharga! Ini membuat bejana-bejana tak berharga itu menjadi para minister dari perjanjian yang baru dengan ministri yang tak ternilai. Ini digenapkan oleh kekuatan ilahi di dalam kebangkitan. Kekuatan yang berlimpah-limpah ini pasti berasal dari Allah, bukan dari diri kita.

Ketika para rasul membicarakan penunaian ministri mereka bagi perjanjian Allah yang baru, lima kiasan yang sangat bermakna dan sangat dalam digunakan untuk mengilustrasikan bagaimana mereka sebagai minister dari perjanjian yang baru dan ministri mereka disusun, bagaimana mereka berperilaku dan hidup, dan bagaimana ministri mereka digenapkan: (1) Tawanan-tawanan dalam perarakan kemenangan untuk merayakan kemenangan Kristus (2:14a); (2) Pembawa ukupan untuk menyebarkan bau harum Kristus (2:14b-16); (3) Surat-surat yang ditulis dengan Kristus sebagai isinya (3:1-3); (4) Cermin yang memandang dan memantulkan kemuliaan Kristus agar diubah ke dalam gambar-Nya yang mulia (3:18); (5) Bejana-bejana tanah liat yang diisi dengan Kristus yang mulia sebagai harta yang unggul (ayat. 7). Bejana-bejana ini seperti kamera hari ini, yang ke dalamnya Kristus sebagai sasaran masuk melalui terang penyorotan Allah (4:4, 6).

Harta ini, Kristus yang berhuni di dalam kita, bejanabejana tanah liat, adalah sumber suplai ilahi bagi kehidupan kristiani. Berdasarkan kekuatan unggul dari harta inilah para rasul sebagai para minister dari perjanjian yang baru mampu menempuh kehidupan tersalib, supaya hayat kebangkitan Kristus yang mereka suplaikan dapat terwujud. Demikianlah mereka menyatakan kebenaran sehingga Injil dapat terpancar.