← Daftar isi 2 Korintus (1) · bab 11/20

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (4)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 4:16-18

Dalam berita ini kita sampai kepada tiga ayat yang terakhir dari pasal 4, yaitu ayat 16 sampai 18. Ayat-ayat ini masih berhubungan dengan perihal menempuh kehidupan yang tersalib untuk mengekspresikan hayat kebangkitan oleh kekuatan yang unggul dari harta yang ada di dalam bejana tanah liat.

Dalam pasal 3 dan 4 kita melihat bahwa pertama-tama rasul disusun dengan Allah itu sendiri. Penyusunan itu adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan dan perilaku mereka. Setiap aspek dari kehidupan dan perilaku mereka berdasar pada penyusunan itu. Tidak hanya demikian, penyusunan itu memberikan suplai hayat dengan kuasa, kekuatan, kekayaan, hikmat, dan bahkan ministri kepada mereka. Mereka meministrikan dengan apa yang telah disusun ke dalam mereka.

Para rasul tidak memberitakan sesuatu yang hanya mereka dengar atau yang telah diajarkan kepada mereka. Apa yang mereka ministrikan bukanlah sesuatu yang hanya diwahyukan dalam satu penglihatan. Apa yang mereka beritakan, ajarkan, dan ministrikan benar-benar adalah apa yang telah disusun ke dalam mereka. Para rasul ini disusun dengan cara tertentu, dan menjadi orang-orang yang telah tersusun. Karena itu, apa yang mereka ministrikan adalah susunan mereka. Mereka meministrikan apa adanya mereka beserta apa jadinya (terbentuknya) mereka. Ini berarti penyusunan ulang mereka menjadi ministri mereka.

Tulisan-tulisan Paulus sangat berbeda dengan tulisan-tulisan orang Kristen pada hari ini. Tulisan-tulisan Paulus adalah catatan dari penyusunannya, sedangkan tulisan-tulisan pada hari ini terutama berkenaan dengan teologi, doktrin, pengajaran, penjelasan, dan penafsiran. Di antara empat belas Surat Kiriman yang ditulis oleh Paulus, pasal 3 dan 4 dari 2Korintus ini adalah yang terkaya bila dihubungkan dengan pengalaman pribadinya terhadap Kristus. Dalam pasal-pasal ini kita memiliki satu catatan yang akurat dan mustika tentang penyusunan rohani Paulus. Jika kita ingin tahu orang yang bagaimanakah Paulus sebagai minister dari perjanjian yang baru ini, kita perlu meluangkan banyak waktu dalam kedua pasal ini, yaitu pasal-pasal yang mewahyukan penyusunan rohani Paulus.

Karena ministri memerlukan penyusunan, Saudara Watchman Nee mengatakan bahwa kita dapat dengan segera menerima satu karunia, tetapi kita tidak akan pernah dapat memiliki satu ministri dalam jangka waktu yang pendek. Untuk disusun diperlukan waktu bertahun-tahun. Hal ini melibatkan pertumbuhan ke dalam kematangan.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan penyusunan ini bersifat organik dan berasal dari hayat. Hayat ini adalah oleh Roh itu, perampungan akhir dari Allah yang telah melalui proses. Paulus adalah orang yang disusun dari Allah. Membicarakan dia sebagai seorang manusia-Allah saja tidaklah cukup, karena ia sebenarnya adalah seorang yang disusun dari Allah. Karena itu, ministri Paulus adalah diri manusianya. Apa yang ia beritakan dan ajarkan adalah apa adanya dirinya. Ia meministrikan ada adanya dirinya kepada orang lain. Sewaktu Paulus meministrikan dengan cara ini, Kristus disalurkan ke dalam orang lain, karena Paulus dan Kristus telah menjadi satu. Paulus adalah orang yang bersatu dengan Kristus dan disusun dari Kristus. Ministrinya adalah ministri Kristus yang telah tersusun ke dalam dirinya. Tanpa ministri semacam ini, tidak mungkin kita mendapatkan gereja yang dibangun dengan memadai atau mendapatkan mempelai perempuan yang berdandan rapi.

Alkitab menunjukkan bahwa apa yang Allah prakarsai pada mulanya, pasti akan digenapkan. Lagi pula, Allah adalah Allah kebangkitan. Sebagai Allah kebangkitan, tujuan-Nya tidak dapat gagal, dan Dia sendiri tidak dapat digagalkan. Sebaliknya, semua rintangan dan penyimpangan membuktikan keadaan-Nya yang tidak berubah, membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang tidak berubah. Apa yang telah ditentukan-Nya, akan Dia genapkan. Apa yang telah Dia rencanakan untuk dilakukan, akan Dia genapkan pada akhirnya. Dalam Perjanjian Baru Allah memulai dengan sekelompok minister. Paulus termasuk di antara mereka. Pada akhirnya, Allah juga akan memiliki sekelompok minister yang semacam itu. Di sana sini di seluruh dunia, Dia harus memiliki para minister dari perjanjian yang baru. Saya berbeban agar di antara kita akan ada banyak orang yang menjadi para minister dari perjanjian yang baru.

Saya harap berita-berita tentang ministri dan para minister dari perjanjian yang baru ini akan tetap ada bersama-sama dengan kalian. Saya harap terutama para pemimpin, para sekerja, dan semua orang yang memiliki hati bagi pemulihan Tuhan akan bercita-cita menjadi para minister dari perjanjian yang baru pada hari ini. Kita perlu memiliki satu hati yang bukan hanya mengasihi Tuhan secara umum, tetapi juga menjadi para minister Perjanjian Baru. Jika kita memiliki hati yang demikian, kita pasti serius terhadap Tuhan dan memperhatikan dua pasal dari 2Korintus ini, mendoakannya, mempersekutukannya, dan memberi tahu Tuhan bahwa kita rela membuka diri kita bagi penggarapan-Nya di dalam kita. Kita perlu memberi tahu Dia bahwa kita rela diremukkan, digiling, dan disusun; bahwa kita rela menempuh kehidupan yang tersalib; bahwa kita rela meninggalkan diri sendiri, menyangkal diri sendiri, dan setiap hari disusun dengan unsur-unsur Allah Tritunggal yang telah melalui proses; bahwa kita rela menjadi Paulus-Paulus hari ini, bukan menjadi orang besar atau kaum beriman yang terkenal, melainkan seorang manusia kecil, manusia yang tersalib, bahkan seorang Nazaret.

Yesus orang Nazaret tidak menuntut untuk menjadi besar atau terkenal. Sebaliknya, Dia adalah sebutir gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati. Dengan cara ini Yesus menjadi minister perjanjian yang baru yang pertama. Kita juga perlu mengikuti Dia menjadi para minister dari perjanjian yang baru. Mengenai hal ini, kita harus menengadah kepada Tuhan dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada-Nya.

C. Manusia Lahiriah Merosot, Manusia Batiniah

Diperbarui

1. Tidak Tawar Hati

Dalam 4:16 Paulus berkata, “Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari.” Dalam ayat ini Paulus mengatakan, seperti yang dikatakannya dalam 4:1, “Kami tidak tawar hati.” Banyak peristiwa yang terjadi dapat membuat Paulus dan sekerja-sekerjanya putus asa dan tawar hati. Hampir tidak ada sesuatu yang menghibur mereka. Namun, karena mereka berada dalam kebangkitan, maka mereka tidak tawar hati. Sebenarnya, kebangkitan memerlukan kematian, kekecewaan, dan keputusasaan agar dapat diekspresikan. Tanpa kematian, bagaimana mungkin ada pengeskpresian hayat kebangkitan? Kematian membuat kebangkitan itu terekspresikan. Karena itu, sewaktu para rasul melalui kematian, mereka tidak tawar hati. Meskipun banyak hal yang mengecewakan telah terjadi, tetapi mereka tidak tawar hati.

Dalam ayat 16 Paulus mengatakan bahwa manusia lahiriah kita merosot. Manusia lahiriah terdiri atas tubuh sebagai organnya dengan jiwa sebagai hayat dan pribadinya. Manusia batiniah terdiri atas roh yang dilahirkan kembali sebagai hayat dan pribadinya dengan jiwa yang telah diperbarui sebagai organnya. Hayat jiwa harus disangkal (Mat. 16:24-25), tetapi fungsi jiwa pikiran, tekad, dan emosi, harus diperbarui dan dipertinggi melalui penaklukan (2Kor. 10:4-5) supaya dapat digunakan oleh roh; roh adalah pribadi dari manusia batiniah.

Kata Yunani yang diterjemahkan merosot juga berarti habis, aus, terkikis. Melalui pembunuhan, pekerjaan kematian yang terus-menerus, manusia lahiriah kita, yaitu tubuh jasmani kita dengan hayat jiwanya (1Kor. 15:44) semakin dihabiskan, dikikis.

Dalam ayat 16 saya lebih suka kata “habis” daripada kata “merosot”. Merosot menunjukkan hancur dengan sendirinya tanpa ada sesuatu yang bertindak atasnya. Di sini Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa rasul-rasul itu merosot. Menurut konteksnya, mereka diletakkan kepada kematian itu bukan atas prakarsa mereka sendiri. Jika mereka yang mengambil inisiatif, maka kita dapat mengatakan bahwa mereka merosot. Tetapi karena inisiatif itu diambil oleh para penganiaya dan oleh keadaan dan lingkungannya, maka lebih baik bila mengatakan bahwa mereka dihabiskan. Mereka dikikis. Arti bahasa Yunaninya meliputi merosot, dihabiskan, dan diauskan.

Para penganiaya dan lingkungan itu bekerja di atas diri para rasul. Ini bukan pekerjaan yang diletakkan oleh rasul-rasul itu atas diri mereka sendiri. Penggilingan itu tidak pernah diprakarsai oleh gandum. Sebaliknya, pekerjaan penggilingan itu dilakukan oleh orang yang melakukan penggilingan itu. Rasul-rasul bukanlah para penggiling; mereka adalah orang-orang yang berada di bawah penggilingan itu. Manusia lahiriah mereka dihabiskan, dihancurkan, diletakkan kepada kematian.

Para guru Alkitab memiliki penafsiran dan penjelasan yang berbeda-beda tentang istilah “manusia lahiriah” ini. Orang-orang tertentu yang disebut aliran hayat batini menganggap manusia lahiriah ini sebagai manusia jiwani, manusia alamiah; dan mereka menganggap manusia rohani, yaitu orang yang hidup di dalam roh, sebagai manusia batiniah. Dalam 1Korintus 2 dan 3, Paulus memang membicarakan manusia rohani, manusia jiwani, dan manusia daging. Manusia daging (karnal) adalah orang yang hidup dalam hawa nafsu daging, sedangkan seorang yang jiwani adalah orang yang hidup di dalam jiwa. Orang-orang yang jiwani adalah orang-orang yang memecah-belah. Dalam kehidupan gereja mereka memiliki kesukaan dan pilihan mereka sendiri. Manusia rohani, seperti Paulus dan para rasul, hidup dan berjalan di dalam roh. Menurut beberapa guru aliran hayat batini, kita mungkin sebagai orang-orang jiwani yang hidup di dalam manusia lahiriah, juga mungkin sebagai orang-orang rohani yang hidup di dalam manusia batiniah.

Menurut konteks dari 2Korintus 4, manusia lahiriah ini terutama mengacu kepada tubuh dalam ayat 10 dan kepada tubuh yang fana dalam ayat 11. Istilah-istilah ini digunakan secara bergantian, karena tubuh kita yang telah jatuh telah menjadi daging yang fana. Manusia lahiriah dalam ayat 16 ini tentu mengacu kepada tubuh yang telah jatuh, yaitu daging yang fana ini. Namun, tidaklah memadai bila mengatakan bahwa manusia lahiriah ini hanya mengacu kepada tubuh. Pemahaman ini tidak lengkap, karena tubuh itu sendiri tidak dapat menjadi seorang manusia, satu persona. Tubuh hanyalah satu organ. Dalam 1Korintus 15:44 Paulus membicarakan tentang tubuh jiwani, tubuh alamiah yang dengan jiwa sebagai hayatnya, tubuh yang di dalamnya jiwa berkuasa. Karena itu, manusia lahiriah memiliki tubuh sebagai organnya dan jiwa sebagai hayat dan pribadinya. Jadi, manusia lahiriah meliputi tubuh dan jiwa. Tubuh bukanlah pribadi. Pribadinya adalah jiwa, dan tubuh adalah satu organ. Demikian juga, tubuh itu bukanlah hayat; hayat manusia lahiriah adalah jiwa. Jiwa adalah pribadi dan hayat manusia lahiriah. Memang, tubuh adalah bagian utama dari manusia lahiriah ini. Namun, tubuh hanyalah satu organ yang dikendali oleh jiwa, dengan jiwa sebagai hayat, dan dipakai oleh jiwa.

Manusia batiniah adalah roh kita yang telah dilahirkan kembali dengan jiwa sebagai organnya. Roh adalah hayat dan personanya, dan jiwa yang diperbarui adalah organnya. Hayat jiwa, yaitu hayat yang jiwani harus disangkal. Tetapi fungsi jiwa pikiran, tekad, dan emosi harus diperbarui. Dalam kehidupan gereja, kita sedang mengalami pembaruan pikiran dan peninggian pikiran. Bila pikiran kita ditundukkan oleh Tuhan, pikiran itu diperbarui. Kemudian pikiran ini dapat dipakai oleh roh kita, yang adalah persona manusia batiniah. Manusia lahiriah dihabiskan, dikikis, dan diletakkan pada kematian. Sedangkan manusia batiniah diperbarui dari hari ke hari. Dihabiskan menunjukkan pengurangan, sedang diperbarui menunjukkan pertumbuhan. Jadi, manusia lahiriah kita berkurang, sedang manusia batiniah kita bertumbuh. Secara lahiriah tubuh saya menjadi semakin tua, tetapi manusia batiniah saya menjadi semakin muda dan baru. Secara lahiriah kita semua sedang menjadi semakin tua, tetapi secara batiniah kita menjadi semakin baru.

Manusia batiniah ini diperbarui melalui dirawat dengan suplai segar dari hayat kebangkitan. Sewaktu tubuh fana kita, manusia lahiriah kita, dihabiskan oleh pekerjaan pembunuhan kematian, manusia batiniah kita, yaitu roh kita yang telah dilahirkan kembali dengan bagian-bagian batin kita (Yer. 31:33; Ibr. 8:10; Rm. 7:22, 25) diperbarui secara metabolis dari hari ke hari dengan suplai hayat kebangkitan.

Diperbarui mirip dengan disusun. Dalam kedua kasus ini perlu ada unsur yang khusus. Agar kita dapat diperbarui, beberapa unsur harus ditambahkan kepada kita. Unsur pembaruan ini adalah harta yang tersembunyi di dalam kita (ayat 7). Namun, untuk diperbarui, tidaklah memadai bila kita hanya memiliki harta yang di dalam saja. Juga perlu ada pembunuhan, penghancuran, penamatan, dan penggilingan. Karena alasan ini, secara batiniah kita memiliki harta ini, dan secara lahiriah kita memiliki lingkungan. Melalui lingkungan, Allah dengan berdaulat menempatkan kita di bawah batu-batu penggilingan.

Kita tidak mungkin melarikan diri dari tangan Allah. Sudah matangkah Anda? Sudahkah Anda diremukkan? Anda mungkin masih memakai kepintaran Anda untuk melarikan diri dari peremukan dan penggilingan ini. Tidak ada seorang pun yang dapat membereskan Anda. Namun, orang-orang yang berusaha keras untuk melarikan diri dari peremukan itu akhirnya justru paling banyak menderita. Dihabiskan adalah nasib kita. Saudara-saudara, Tuhan mungkin akan memakai istri Anda untuk menggiling Anda. Bahkan istri yang terbaik pun akan demikian dipakai oleh Tuhan.

Tuhan dengan berdaulat memakai lingkungan kita untuk menghabiskan kita. Jangan mengira karena Anda salah maka Anda perlu dihabiskan. Sebenarnya, karena Anda benar, maka Anda perlu dihabiskan. Semakin Anda benar, Anda semakin perlu dihabiskan. Paulus sangat benar. Inilah sebabnya ia memerlukan ditanggulangi sampai habis. Namun, ini bukan berarti Anda harus sengaja berusaha melakukan sesuatu yang salah. Jika Anda salah, Anda akan dihukum.

Anda mungkin bingung memikirkan apa yang harus Anda lakukan, karena Anda akan dihabiskan jika Anda benar dan dihukum jika Anda salah. Jawabannya adalah Anda tidak boleh melakukan sesuatu. Lambat atau cepat, Tuhan akan meletakkan Anda di bawah batu penggilingan.

Karena kita mengasihi Tuhan, maka kita rela digiling. Tetapi ini bukan berarti kita harus menempatkan diri kita di antara batu-batu penggilingan itu. Itu adalah bunuh diri, bukan penggilingan. Biarlah Tuhan secara berdaulat menempatkan Anda di bawah penggilingan itu. Tidak perlu melakukan sesuatu mengenai hal itu; itu akan terjadi dengan spontan.

Hanya dengan menghabiskan manusia lahiriah, barulah Kristus dapat diperhidupkan dan diministrikan kepada orang lain. Inilah jalan Tuhan. Hanya dengan jalan inilah mempelai perempuan baru dapat dipersiapkan bagi-Nya.

2. Penderitaan Ringan yang Sekarang Ini, Mengerjakan

bagi Mereka Kemuliaan Kekal yang

Melebihi Segala-galanya

Dalam ayat 17 Paulus berkata, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan (mengerjakan) bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.” Penderitaan di sini mengacu kepada ditaruh ke dalam kematian, pekerjaan salib. Secara harfiah melebihi segala-galanya berarti secara unggul mencapai keunggulan. Kemuliaan yang kekal sangat berlawanan dengan penderitaan yang sekarang ini. Di sini kemuliaan adalah ekspresi Allah sebagai hayat kebangkitan dan berlawanan dengan penderitaan.

Penderitaan yang ringan dan sementara ini mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya. Kemuliaan yang melebihi segala-galanya ini akan menjadi kecantikan mempelai perempuan yang berdandan rapi.

3. Tidak Memperhatikan Hal-hal yang Kelihatan,

yang Sementara, Melainkan yang Tidak Kelihatan, yang Kekal

Ayat 18 mengatakan, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.” Hal-hal yang kelihatan adalah penderitaan yang sementara, sedangkan hal-hal yang tidak kelihatan adalah kemuliaan yang kekal. Paulus tidak mempedulikan penderitaan, lingkungan, kemiskinan, penentangan, penganiayaan, atau penggilingan. Hal-hal itu, yang kelihatan, adalah yang sementara. Ia hanya memperhatikan hal-hal yang kekal. Ia tahu bahwa sewaktu ia berada dalam keadaan digiling, penderitaan itu akan mengerjakan sesuatu yang unggul, indah, dan kekal. Dengan cara inilah kita akan didandani sebagai mempelai perempuan yang cantik dan cemerlang bagi Kristus pada kedatangan-Nya kembali.

Dalam pasal-pasal ini kita melihat para minister dengan ministri; dan kita juga melihat hasil dari ministri ini. Di sini kita memiliki satu gambaran tentang para minister dari perjanjian yang baru dengan satu ministri yang indah dan ajaib yang membangun gereja dan mempercantik (mempersiapkan) mempelai perempuan.