Berita Pertama
Manusia tersusun dari roh, jiwa, dan tubuh. Alkitab menerangkan bahwa selain tubuh, manusia juga mempunyai roh. Selain kedua unsur itu, manusia juga mempunyai jiwa. Mengapa roh dan tubuh saja tidak cukup? Mengapa manusia juga memerlukan jiwa? Sebab jiwa perlu berada di antara roh dan tubuh serta bertindak sebagai perantara yang menghubungkan keduanya. Kalau Tuhan menghendaki kita mengetahui tentang sesuatu, Dia menyalurkannya kepada kita melalui intuisi roh kita. Roh adalah satu organ kesadaran akan Allah, yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan Allah dan mengenal Allah. Tubuh diberikan Allah kepada kita agar kita dapat berhubungan dengan dunia, agar kita dapat merasakan segala sesuatu yang ada di dalam dunia. Tetapi jiwa diciptakan Allah untuk tujuan kesadaran diri, agar kita dapat merasakan diri kita sendiri. Kita, manusia, berbeda dengan malaikat-malaikat. Malaikat-malaikat adalah rohroh yang tidak bertubuh. Kita masing-masing memiliki satu roh dan satu tubuh, juga satu jiwa yang bertindak sebagai perantara di antara keduanya. Dengan demikian, segala sesuatu yang berasal dari roh dan tubuh kita diekspresikan melalui jiwa kita.
HATI MANUSIA
Menurut Alkitab, hati adalah perpaduan antara hati nurani dalam roh manusia dengan akal budi dalam jiwa manusia. Roh adalah organ untuk berkontak dengan Allah, berkomunikasi dengan Allah, mengenal kehendak Allah, sedangkan hati adalah “pengurus rumah tangga” roh, yang menyatakan dan mengekspresikan segala sesuatu yang ada dalam roh. Apa pun yang ada dalam roh diekspresikan melalui hati. Jadi hati adalah titik komunikasi antara pekerjaan roh dan pekerjaan jiwa. Hati bagaikan pusat operasi sistem telepon di mana kabel-kabel dari berbagai jurusan diarahkan dan dihubungkan. Segala hal yang masuk ke dalam roh, masuk melalui hati. Sebab itu hati adalah penghubung semua komunikasi. Roh mencapai jiwa melalui hati; melalui hati pula jiwa menyalurkan segala sesuatu yang berasal dari luar kepada roh. Hati adalah kediaman personalitas kita, diri kita yang sejati. Karena hati adalah satu mata rantai yang menghubungkan roh dengan jiwa, maka hati juga dianggap sebagai “aku” yang sebenarnya. Setelah kita mengetahui konsepsi Alkitab tentang hati, maka kita dapat melihat pentingnya hati bagi manusia. Kita akan membaca beberapa ayat dalam Alkitab yang berkaitan dengan hati.
Mazmur 4:5b — “Berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” Menurut bahasa aslinya adalah “bersekutulah dengan hatimu sendiri.” Dengan perkataan lain, hati adalah diri kita sendiri. Berkata-kata dalam hati sendiri berarti perundingan antara hati dengan mulut.
Amsal 4:23 — “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Ini berarti kita tidak perlu melakukan yang lain, kecuali menjaga hati kita, karena dari situlah terpancar kehidupan. Buah apa yang kita lihat pada seseorang, itu dihasilkan dari hatinya. Jadi, hati adalah diri kita yang sebenarnya.
Matius 12:34-35 — “Hai kamu keturunan ular berbisa, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” Tuhan Yesus berkata bahwa apa yang diucapkan oleh mulut meluap dari hati; karena hati adalah diri seseorang. Karena itu, orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Jadi, dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang berdosa terbit dari dalam hatinya.
Matius 15:18-19 — “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu, dan hujat.” Apa yang keluar dari hati itulah yang menajiskan orang, karena batin manusia najis adanya.
Satu hal yang sangat mengherankan, walaupun manusia kita tersusun dari roh, jiwa, dan tubuh, tetapi ketika kita dilahirkan kembali, Allah hanya mengaruniakan satu roh dan satu hati yang baru kepada kita. Mengapa Allah tidak memberikan satu jiwa yang baru kepada kita? Allah mengaruniakan kepada kita satu roh yang baru, menghidupkan dan memulihkan daya guna roh kita yang telah mati agar kembali berfungsi di hadapan-Nya, supaya dengan demikian kita dapat berkomunikasi dengan Dia. Allah juga memberi kita satu hati yang baru supaya kita dapat menempuh satu kehidupan yang baru, satu kecenderungan yang baru.
Walaupun hati dan roh mempunyai titik persamaan, namun Alkitab tidak mengacaukan satu dengan lainnya. Alkitab tetap meletakkan mereka pada tempatnya masingmasing. Yehezkiel 36:26 mengatakan, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Allah tidak berkata, “Aku akan memberimu satu roh yang baru dan satu jiwa yang baru,” sebab Allah menganggap bahwa jiwa adalah organ yang tidak perlu dibuat lagi. Personalitas manusia tidak perlu dibuat lagi, tetapi hati manusia harus diciptakan kembali, karena dari hati terpancar kehidupan.
Apakah yang harus dilakukan dengan roh dan hati seorang beriman jika ia jatuh dalam dosa? Mazmur 51:12 mengatakan, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh (lurus)!” Ayat ini menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan memperhatikan hati dan roh orang beriman. Kalau hatinya najis, dia harus mohon agar Allah menjadikan (menciptakan) di dalamnya satu hati yang tahir. Hati kita harus tahir dan roh kita harus lurus.
Maksud Alkitab demikian menitikberatkan hati ialah agar kita nampak betapa pentingnya tempat yang didudukinya dalam Alkitab. Hati sangatlah penting, karena hati adalah diri kita yang sebenarnya. Bagaimana hati kita, itulah keadaan kita yang sebenarnya. Hati adalah sumber kehidupan. Hati meliputi hati nurani dalam roh dan pikiran dalam jiwa kita. Kita berkomunikasi dengan Allah melalui roh, tetapi yang Allah lihat adalah hati kita. Hati adalah faktor yang sangat penting dalam hidup kita. Kita berkata bahwa kita sudah beroleh selamat, tetapi bagaimana kita beroleh selamat? Yaitu karena kita percaya dalam hati. Bagaimana kita melayani Allah sekarang? Kita harus melayani dengan sepenuh hati. Siapakah yang diberkati Allah? Mereka yang murni hatinya. Apakah yang akan dihakimi pada masa yang akan datang? Allah akan menghakimi perkara-perkara yang tersembunyi dalam hati manusia. Untuk itulah kita harus mempunyai hati yang baik ketika datang menghadap Tuhan. Tetapi untuk memiliki hati yang baik, terlebih dulu harus memiliki akal budi yang baik. Karena itu, dalam pembahasan kali ini, kita akan khusus melihat masalah akal budi.
“AKAL BUDI” DALAM ALKITAB PERJANJIAN BARU
Kata “akal budi” dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, adalah “nous”. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi beberapa istilah berbeda. Kata ini dalam seluruh Perjanjian Baru dipakai sebanyak 24 kali. Kita akan mendaftarnya sebagai berikut:
Lukas 24:45 — Lalu Ia membuka pikiran (akal budi) mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
Roma 1:28 — Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran (akal budi) yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas.
Roma 7:23 — Tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku, aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.
Roma 11:34a — Sebab siapakah yang mengetahui pikiran (akal budi) Tuhan?
Roma 14:5 — Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya (akal budinya) sendiri.
1 Korintus 1:10 — Supaya kamu seia sekata (memiliki akal budi yang sama).
1 Korintus 2:16 — Siapakah yang mengetahui pikiran (akal budi) Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia? Tetapi kami memiliki pikiran (akal budi) Kristus.
Efesus 4:17 — Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya (akal budi) yang sia-sia.
Kolose 2:18 — Membesar-besarkan diri oleh pikirannya (akal budi) yang duniawi.
2 Tesalonika 2:2 — Supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah (dalam akal budi).
Wahyu 17:9 — Yang penting di sini ialah akal (akal budi) yang mengandung hikmat.
Roma 7:26 — Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah.
Roma 12:2 — Tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (akal budi).
1 Korintus 14:14 — Tetapi akal budiku tidak menghasilkan apa-apa.
1 Korintus 14:15 — Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.
1 Korintus 14:19 — Tetapi dalam pertemuan Jemaat, aku lebih suka mengucapkan 5 kata yang dapat dimengerti (dengan akal budi) untuk mengajar orang lain.
Efesus 4:23 — Supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu (akal budi).
Filipi 4:7 — Memelihara hati dan pikiranmu (akal budi) dalam Kristus Yesus.
1 Timotius 6:5 — Percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran (akal budi) sehat dan kehilangan kebenaran.
2 Timotius 3:8 — Akal (akal budi) mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.
Titus 1:15 — Karena baik akal budi maupun suara hati mereka najis.
Wahyu 13:18 — Siapa yang bijaksana (memiliki akal budi), baiklah ia menghitung bilangan binatang itu.
HUBUNGAN ANTARA AKAL BUDI DENGAN ORANG KRISTEN
Apakah kaitan antara akal budi (nous) dengan kehidupan, pekerjaan pelayanan, penempuhan, dan aspek lain dari orang Kristen? Setiap orang di antara kita yang percaya kepada Tuhan Yesus, masing-masing memiliki satu roh yang baru dan satu hati yang baru. Fakta ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Tidak peduli apakah orang beriman itu sangat lemah atau sangat kuat, ia sudah dilahirkan dari Allah dan mempunyai satu roh yang baru dan satu hati yang baru. Karena itu, ia dapat mengasihi orang-orang dari lubuk hatinya, juga melayani Allah dengan sepenuh hati. Ia dapat melakukan segala sesuatu dari hati. Namun, walaupun hati itu baru, akal budi yang merupakan bagian dari hati itu belum tentu selalu baru. Menurut logika manusia, kalau hati manusia diperbarui, maka hati nurani dan pikiran yang tercakup di dalamnya juga turut menjadi baru. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Misalnya, bagian hati nurani dari hati menjadi baru pada saat seseorang menerima keselamatan, tetapi setelah itu belum tentu selalu baru sepanjang hari. Seperti sehelai kemeja adalah baru pada saat dibeli, tetapi setelah itu ia tidak tetap tinggal baru. Orang harus melakukan pekerjaan tambahan untuk memeliharanya agar ia selalu baru. Demikian pula dengan akal budi. Pada waktu diselamatkan ia adalah baru, tetapi sejangka waktu kemudian, ia menjadi tidak baru lagi.
Inilah pengalaman yang umum dimiliki oleh banyak orang Kristen. Pada waktu seseorang beroleh selamat, hati nuraninya menjadi baru dan dipulihkan pada fungsi yang seharusnya; membenci dan menolak dosa. Tetapi, apakah hati nurani ini terus-menerus dalam keadaan baru? Belum tentu! Jika orang ini berbuat dosa dan sekali demi sekali membiarkan dosa, jika ia menolak mendengarkan suara hati nuraninya, dan jika hal ini terjadi berulang-ulang, maka hati nuraninya tidak akan menegurnya lagi. Hati nuraninya telah kehilangan fungsinya. Seperti hati nurani dapat dipulihkan dan kemudian kehilangan kepekaannya, demikianlah pula dengan akal budi. Itulah sebabnya kita perlu membahas sedikit mengenai hal ini, karena hal ini sangat berkaitan dengan kedudukan dan kehidupan orang Kristen.
APAKAH AKAL BUDI ?
Apakah akal budi yang dikatakan dalam Perjanjian Baru? Kita dapat melihatnya dari tiga aspek yang berbeda. Pertama, secara jasmaniah; ia adalah otak. Kedua, secara psikologis; ia adalah akal budi. Ketiga, secara rohani; ia adalah intuisi.
Yang mengacu kepada benda fisik, disebut otak; yang mengacu kepada intelektual atau pemikiran, disebut akal budi. Namun, saya tidak berani berkata bahwa akal budi adalah pikiran; walau bagian terbesar dari pikiran termasuk dalam akal budi. Roh kita mendapatkan perasaan dari Allah melalui intuisi kita. Kemudian, jiwa kita menerjemahkan dan menyatakannya kepada kita melalui akal budi, demikianlah kita dapat mengenal kehendak Allah. Meskipun kita mengenal kehendak Allah melalui intuisi, tetapi karena intuisi itu tidak memiliki rasio dan sistem, maka kita memerlukan akal budi untuk menerjemahkan dan menyatakannya.
Saya tegaskan lagi, manusia memiliki tiga organ yang berbeda untuk fungsi pengenalan. Di aspek tubuh, ada otak; di aspek roh, ada intuisi; dan di aspek jiwa, ada akal budi. Namun, akal budi juga terkendali oleh intuisi. Kita tahu, andaikata kita membedah otak, kita tidak akan menemukan apa-apa kecuali benda yang berwarna putih dan abu-abu. Inilah otak; sedangkan intuisi adalah sesuatu yang kadang-kadang dapat dirasakan, kadang-kadang tidak. Adakalanya ia mendesak, tetapi adakalanya ia mencegah. Ia berada jauh di lubuk kita. Inilah intuisi. Tetapi akal budi berada di antara intuisi dan otak. Akal budi menerjemahkan maksud intuisi dan menyuruh otak untuk menyatakannya, mengekspresikannya. Kalau akal budi seorang beriman bermasalah, walaupun ia mempunyai intuisi yang kuat dan otak yang baik, ia tetap tidak dapat menempuh satu kehidupan yang memenuhi standar. Sekalipun ia berkhotbah, juga tidak bisa menyatakan apa yang ada di dalam batinnya. Sepanjang hari ia akan menempuh hidup dengan ceroboh. Hal ini dikarenakan akal budinya yang belum diperbarui.
AKAL BUDI ORANG DOSA
Kini kita akan melihat akal budi orang dosa. Roma 1:28 mengatakan bahwa orang dosa mempunyai akal budi yang terkutuk. Efesus 4:17 mengatakan bahwa mereka mempunyai akal budi yang sia-sia. Kolose 2:18 mengatakan bahwa mereka mempunyai akal budi yang duniawi atau kedagingan. Dua Timotius 3:8 mengatakan bahwa mereka mempunyai akal budi yang bobrok. Titus 1:15 mengatakan bahwa mereka mempunyai akal budi yang najis. Berbagai macam keadaan di atas adalah keadaan akal budi orang dosa.
Sekarang Anda telah beroleh selamat. Namun kalau Anda mengenang kembali pengalaman-pengalaman Anda sebelum diselamatkan, apa yang dapat Anda saksikan tentang sikap Anda terhadap Allah? Bagaimana keadaan akal budi dari orang dosa di hadapan Allah?
Andaikata di sini ada seorang dosa yang sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang Allah. Namun ketika Anda mulai berbicara kepadanya tentang Allah, dia akan membantah dengan berbagai macam dalih. Dia akan bersikeras berkata bahwa Allah itu tidak ada. Mungkin Anda akan merasa sangat heran, mengapa orang yang demikian bodoh pun berkata demikian. Sebab hatinya telah digelapkan. Akal budinya gelap dan mati; rohnya mutlak gelap. Dia tidak bisa mengenal Allah. Ia sama sekali tidak mengerti kebenaran tentang Allah, namun mengapa ia justru memiliki banyak perbantahan terhadap Allah? Ini dikarenakan akal budinya terkutuk dan bobrok, sia-sia, dan najis. Demikianlah keadaan orang yang paling bodoh di dunia ini.
Sebaliknya, bagaimana jika kita membicarakan tentang Allah kepada orang yang sangat pintar, yang mengerti tentang filsafat? Dia mungkin memiliki segudang pengetahuan, namun dia juga tidak percaya kepada Tuhan. Dia juga mencari banyak alasan untuk berdebat. Dia menolak Allah seperti halnya orang bodoh. Walaupun hikmat dan kebodohan adalah dua hal yang sangat berbeda bagaikan langit dan bumi, namun dalam hal tidak percaya kepada Allah, mereka seiring sejalan. Ini dikarenakan akal budi kedua macam orang itu gelap, rohnya mati. Akal budi mereka mati, karena itu mereka tidak bisa menerima terang Allah. Angan-angan mereka tidak teratur dan liar. Itulah sebabnya tentang orang-orang yang akan binasa, Tuhan berkata, “Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah” (2 Kor. 4:4). Meskipun mereka mengenal filsafat, mengenal banyak hal lainnya, namun mereka tidak tahu sama sekali tentang Allah. Meskipun mereka mungkin bisa secara harfiah mengenal ajaran Alkitab, namun mereka tidak bisa dengan jelas masuk ke dalam kebenaran dan dengan tegas mengenal Allah.
AKAL BUDI DAN BEROLEH SELAMAT
Apa arti beroleh selamat? Secara sederhana, beroleh selamat berarti mengenal Allah. Yohanes 17:3 mengatakan, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Hidup kekal adalah kemampuan untuk mengenal Allah. Diselamatkan tidak berarti bahwa orang dapat berbicara tentang suatu doktrin Alkitab, tetapi ini berarti mempunyai satu pengenalan yang hidup tentang Allah. Kalau kita minta seseorang yang pandai dan berpendidikan tinggi untuk berbincang-bincang dengan seorang beriman yang masih muda (yaitu yang baru diselamatkan), orang yang berpendidikan tinggi itu mungkin akan mengajukan beratus-ratus dalih yang menyangkal Allah, sehingga orang Kristen muda itu tidak dapat menjawab. Namun demikian, orang beriman muda ini dapat berkata, “Aku tahu bahwa aku telah diselamatkan dan aku mempunyai hidup yang kekal.” Inilah bedanya! Akal budi orang yang tidak percaya Tuhan itu terselubung, tidak memiliki terang. Tetapi ketika ia diselamatkan, akal budinya menerima terang sehingga dapat mengenal Allah. Banyak orang tercelik matanya kali pertama mereka mendengar Injil yang berkuasa itu. Mereka mengenal bahwa dirinya adalah orang dosa dan tahu bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat mereka. Walaupun mereka belum dapat menguraikan pengalaman mereka secara ilmiah, namun mereka sudah mempunyai pengalaman bahwa sekarang mereka telah mendapatkan terang dan telah diselamatkan. Pengenalan seperti ini adalah pekerjaan akal budi.
Apa yang diberikan Allah pada intuisi disalurkan kepada otak melalui akal budi. Bagi orang yang rohani di hadapan Allah, ketika ada gerakan Allah dalam intuisinya, dia segera merekamnya dalam akal budinya dan memahaminya dalam otak. Setelah kita beroleh selamat, segera kita mempunyai satu pengenalan yang khusus, yaitu kita dapat mengenal Allah. Intuisi, akal budi, dan otak bekerja bersama secara serempak. Namun di sini kita memisahkannya dan menguraikannya satu per satu demi memudahkan kita untuk memahaminya.
PENTINGNYA PEMBARUAN AKAL BUDI
Pada waktu beroleh selamat, akal budi kita diterangi. Kita sering menyangka mempunyai satu hati yang baru itu sudah cukup. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa akal budi juga perlu diperbarui. Meskipun pada saat kelahiran kembali akal budi kita telah diperbarui, namun apakah setelah itu ia selalu dalam keadaan baru? Saya khawatir, banyak orang beriman yang akal budinya telah menjadi usang. Segala sesuatunya sama seperti sebelum ia percaya kepada Tuhan.
Terus terang saya katakan, banyak orang beriman yang pikiran otaknya tidak jauh berbeda dari pikiran orang-orang dosa. Saya sering menemukan bahwa walaupun roh dan hati banyak orang beriman sudah diperbarui, namun akal budi mereka tidak selalu baru, kerena itu mereka berperilaku seperti dulu sebagai orang dosa. Bagaimana mungkin orang yang akal budinya tidak diperbarui bisa dipakai oleh Allah? Akal budi kita tidak cukup hanya diperbarui sekali; ia harus senantiasa diperbarui dari hari ke hari.
Di sinilah letak penyakitnya: pada saat beroleh selamat, kita menerima satu wahyu besar, namun setelah itu, akal budi kita tidak diperbarui lagi. Memang beroleh selamat adalah wahyu yang paling besar dalam seumur hidup kita, tetapi apakah kita senantiasa mendapat wahyu besar lainnya? Saya khawatir, banyak orang yang tidak menerima wahyu-wahyu besar yang lebih maju setelah beroleh selamat. Wahyu keselamatan adalah wahyu paling besar dalam hidup kita, karena ia membawa kita masuk ke dalam kekekalan, tetapi kita juga harus mengalami wahyu-wahyu baru lainnya.
Kali pertama kita mendapat terang dan kita percaya Tuhan, kita dapat mengaku dosa, berani menderita penganiayaan, menderita tentangan dari sanak keluarga kita, dari dunia, kita juga rela membuang dunia. Mengapa bisa demikian? Oh, ini dikarenakan pada saat itu akal budi kita membuat kita mengenal keselamatan dan menempuh satu hidup yang baru. Kalau terang akal budi ini selalu menyoroti dalam kehidupan kita sehari-hari, maka setiap saat kita akan menempuh satu kehidupan yang benarbenar dalam terang.
Ada seorang wanita yang sangat mencintai dunia. Pada suatu hari, ia mendengarkan seseorang berkhotbah di gedung gereja. Khotbahnya biasa-biasa saja, ayat yang dikutipnya terdapat dalam 1 Yohanes 5:4, “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita.” Firman ini telah menawan hati wanita ini. Dia mendengar pengkhotbah itu menyebut-nyebut firman ini sampai 7 atau 8 kali. Sebelumnya wanita ini tidak mengerti tentang apakah dunia itu. Tetapi pada hari itu ia nampak dengan jelas apakah dunia itu. Pada hari itu juga ia mencampakkan dunia dan bertobat. Pengenalan semacam inilah yang disebut pengenalan akal budi.
Banyak orang yang tidak mampu membuang suatu barang, karena akal budi mereka kekurangan terang sehingga tidak nampak. Selain itu, kalau akal budi kita tidak bekerja sama, maka firman yang masuk ke dalam telinga atau semua pelayanan kita adalah sia-sia belaka. Setiap kali mendengarkan firman Tuhan, kita perlu kerja sama akal budi. Sebelum beroleh selamat, kita menolak untuk percaya walaupun didorong-dorong. Tetapi pada suatu hari, kita bisa percaya, karena akal budi kita telah tahu. Mengenal Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus adalah Yang dari Allah, adalah hidup kekal (Yoh. 17:3). Apakah fungsi akal budi? Fungsi akal budi meliputi kemampuan untuk berpikir, untuk menghakimi, untuk mengamati.
KEADAAN AKAL BUDI YANG TIDAK DIPERBARUI
Bagaimanakah keadaan akal budi yang tidak diperbarui? Kita dapat memandangnya dari tiga sisi: terhadap manusia, terhadap Allah, dan terhadap diri sendiri. Kita akan melihat bagaimana pengaruh akal budi yang tidak diperbarui terhadap manusia dalam sikap dan reaksinya dalam ketiga sisi ini.
1. Akal Budi yang Tidak Diperbarui terhadap Manusia
Orang yang akal budinya tidak diperbarui akan memiliki pandangan yang tidak akurat terhadap orang lain. Satu sikap aneh yang muncul adalah tidak dapat mempercayai orang lain. Ia selalu merasa curiga. Pengamatan-pengamatannya selalu bersifat kritis dan rumit, cenderung tidak menghargai orang lain. Kita dapat menentukan bagaimana akal budi kita sendiri dengan jalan bertanya kepada diri sendiri mengenai bagaimana pendapat kita terhadap orang lain. Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa Tuhan Yesus tidak pernah menghakimi siapa pun berdasarkan apa yang dapat dilihat dan didengar-Nya. Dia selalu memutuskan segala sesuatu dengan indra rohaninya. Kaum beriman hari ini menghakimi orang lain berdasarkan apa yang dilihat dan didengar! Betapa baiknya kalau kita mau menguji segala sesuatu seperti yang dilakukan oleh Paulus. Filemon ayat 5 adalah satu ayat yang indah, “Karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.” Kalau ada orang beriman yang meremehkan orang lain, akal budinya pasti tidak beres. Sebab itu bertanyalah kepada diri sendiri: Setiap kali aku berhadapan atau berbicara dengan orang lain, apakah aku meremehkan orang itu?
Saya mengenal seorang saudara yang selalu menilai pemberian-pemberian yang diterimanya lebih rendah dari harga yang sebenarnya. Misalkan, kalau ada seseorang yang memberinya satu pemberian seharga 2 dolar, dia akan menaksirnya kurang dari 2 dolar. Atau kalau ada orang yang memberinya kado seharga 30 dolar, ia akan menghargainya hanya 10 dolar lebih sedikit. Banyak orang beriman yang berpikir secara demikian. Mengapa bisa demikian? Sebab akal budi mereka usang dan duniawi. Orang-orang dunia selalu menilai orang lain jelek. Mereka mencurigai orang lain seolah-olah mereka itu menyembunyikan maksud-maksud tertentu di balik kata-kata yang diucapkannya, seperti udang di balik batu. Orang Kristen tidak boleh berpikir secara demikian. Kalau mereka berbuat demikian, itu menandakan bahwa akal budi mereka usang dan Iblis bekerja di balik mereka, sebab akal budi yang usang akan menjadi tumpuan bagi pekerjaan Iblis. Segala yang menjadi milik Adam bisa menjadi tumpuan bagi pekerjaan Iblis.
2. Akal Budi yang Tidak Diperbarui terhadap Allah
Akal budi yang tidak diperbarui tidak bisa percaya atau mengenal Allah sebagaimana ia mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Ia memiliki banyak keraguan. Dia meragukan kuasa, hikmat, dan juga kasih Allah. Ketiga hal ini menunjukkan sikapnya terhadap Allah. Dia meragukan kuasa Allah, merasa ragu apakah Allah mampu; dia meragukan hikmat Allah, kalau-kalau Allah salah; dan meragukan kasih-Nya, tidak yakin bahwa Allah mau.
Lagi pula, orang semacam ini tidak dapat mengerti Alkitab atau ajaran Allah. Akal budinya terhalang, tidak bisa menerima terang Allah. Jika setelah ia menerima terang Allah pada waktu beroleh selamat, kemudian dilanjutkan dengan akal budinya yang setiap hari terbuka terhadap Allah, tentu keadaannya tidak akan tak berdaya dan lemah seperti saat ini. Kalau kita mempunyai akal budi yang setiap hari terbuka terhadap Alah, kita akan menerima banyak terang. Kalau kita hanya dapat meneruskan apa yang kita dapatkan dari orang lain tanpa kita sendiri mendapat wahyu yang baru dari Tuhan, ini berarti akal budi kita tidak beres. Jika kita hanya bersandar suplai dari orang lain yang membuat kita mendapatkan sesuatu (sedikit), diri sendiri tidak langsung menerima dari Allah, lalu kita menyampaikan juga yang sedikit itu kepada orang lain lagi, itu tidaklah berarti. Saya tidak berkata bahwa kita tidak memerlukan bantuan orang lain. Yang saya maksudkan ialah kalau kita tidak dapat menerima sesuatu yang langsung dari Allah, berarti akal budi kita tidak beres. Akal budi kita perlu diterangi Allah, setelah itu barulah berita-berita yang kita bawakan bisa menerangi akal budi orang lain dan benar-benar membantu mereka. Itulah sebabnya setiap orang di antara kita harus menerima sesuatu dari Allah secara pribadi dalam akal budinya.
Orang yang akal budinya tidak diperbarui, tidak akan dapat mengenal kehendak Allah. Meskipun dengan bantuan logika dia dapat menarik suatu kesimpulan, namun dia tetap tidak dapat mengenal kehendak Allah dalam akal budinya. Dia seharusnya mengenal kehendak Allah seperti ketika ia beroleh selamat dan mengenal Yesus Kristus sebagai Putra Allah, dan juga mengenal dirinya sendiri sebagai orang yang diselamatkan. Mengenal kehendak Allah adalah satu hal yang bersifat batiniah. Adakalanya kita mengenal kehendak Allah hanya sebatas mengenal itu adalah kehendak Allah, tanpa dapat mengutarakan alasannya. Seperti seorang petani desa yang lugu yang baru beroleh selamat dihadapkan pada seorang terpelajar yang tidak percaya, mungkin dia akan diserang habis-habisan sampai tidak dapat menjawab sepatah kata pun, namun demikian, petani desa yang telah percaya ini tetap dapat berkata bahwa dia telah beroleh selamat. Inilah mengenal kehendak Allah.
Hari ini banyak orang yang tidak mengenal kehendak Allah. Saya boleh berkata bahwa hal ini terjadi dikarenakan ketidakberesan dalam akal budinya, organ untuk mengenal kehendak Allah. Setiap hari Tuhan (Minggu) boleh dikatakan merupakan satu hari yang paling sibuk bagi industri radio di seluruh dunia. Di negera-negara Eropa dan Amerika, banyak kelompok kekristenan yang gencar menyiarkan khotbah mereka. Siaran-siaran langsung dipancarkan ke segala penjuru dunia dan diusahakan mencapai jarak yang paling jauh. Tetapi mengapa di daratan China, kita tidak dapat menangkap siaran-siaran itu? Karena kita kekurangan radio-radio penerima yang kuat. Demikian pula, kehendak Allah sudah sangat jelas, namun karena ketidakberesan organ penerima, maka banyak orang yang tidak dapat mengenal kehendak Allah. Saya sudah menerangkan di atas bahwa seorang beriman bisa mengenal kehendak Allah seperti orang memisahkan gandum dan ilalang. Tetapi mengapa banyak orang yang tidak mengenal kehendak-Nya? Sebab mereka tidak memiliki akal budi yang diperbarui. Ketika mereka beroleh selamat, akal budi mereka baru, bisa mendapatkan wahyu Allah. Akan tetapi selang beberapa lama, akal budi mereka menjadi usang, tidak terus-menerus diperbarui.
Bagaimanakah dengan pikiran (angan-angan) kita? Pikiran kita itu bobrok. Setelah kita beroleh selamat, kita lalu berpikir bahwa sebagai orang Kristen, kita harus menjadi orang yang baik hati. Kita berpikir bahwa jika ada kebencian atau dosa dalam diri kita, itu berarti bersalah terhadap Allah. Karena itu, kita beranggapan bahwa kita harus selalu menjaga hati kita dari kesalahan-kesalahan. Tetapi kita lupa bahwa pikiran kita juga harus baik. Apakah otak kita, tutur kata, perilaku, pemikiran, dan pandangan kita masih sama seperti sebelum kita beroleh selamat?
Saya tidak bermaksud membicarakan masalah motivasi dan tujuan hati seseorang. Saya hanya menanyakan, setelah kita beroleh selamat, sudahkah pikiran kita mengalami perubahan? Betapa janggal jika pikiran kita masih kacau-balau seperti keadaan kita belum beroleh selamat; tutur kata dan pikiran kita tidak ada perubahan. Kalau kita tidak dapat menang atas pikiran, kita telah gagal sama sekali.
Pernah sekali Miss Barber menulis surat kepada Saudari Dora Yu; di antaranya terdapat kata-kata demikian: “Kalau Iblis bisa merebut pikiran kita, berarti dia telah menawan seluruh kehidupan kita.” Ini adalah satu fakta. Jangan mengira bahwa perkataan ini diucapkan secara ringan dan sembarangan. Ia telah memiliki pengalaman yang dalam di hadapan Tuhan lebih dari lima puluh tahun, dan berdasarkan pengalamannya ia mengatakan demikian. Oh, saudara-saudara, jangan mengira asal mempunyai motivasi yang baik itu sudah cukup. Kalau pikiran dan pandangan kita terhadap manusia dan peristiwa yang terjadi itu tetap seperti ketika kita belum beroleh selamat, ini berarti kita masih berada dalam cengkeraman musuh dan tidak berdaya mengalahkan musuh.
3. Akal Budi yang Tidak Diperbaruiterhadap Diri Sendiri
a. Tidak dapat Mengendalikan Pikirannya Sendiri
Orang yang akal budinya tidak diperbarui, ia akan kehilangan kendali atas pikiran-pikirannya sendiri. Betapa banyak orang Kristen yang telah memboroskan daya pikiran mereka. Jika tangan kita hanya dapat bekerja selama 8 jam sehari, tetapi pada jam-jam itu kita menghamburkannya untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya, maka kita bukan hanya membuang-buang tenaga kita, tetapi juga mengabaikan kewajiban pekerjaan kita. Demikian juga, kalau kita memboroskan tenaga mentalitas kita untuk hal-hal yang sia-sia, maka kita tidak akan dapat berpikir tentang perkara-perkara yang benar. Ada seseorang bertanya kepada saya, “Mengapa aku tidak dapat berkonsentrasi. Setelah berdoa selama lima menit, pikiranku mulai berkelana.” Saya balik bertanya kepadanya, “Apakah sepanjang hari pikiran Anda berkelana demikian atau hanya pada saat berdoa?” Saya boleh menjawab bagi Anda. Saya tahu bahwa pikiran-pikiran Anda sepanjang hari tidak terkonsentrasi, selalu berkelana keliling dunia. Pikiran Anda melanglang buana. Sepanjang hari selama dua belas jam pikiran Anda kacau-balau, kalau demikian, mana mungkin Anda dapat berkonsentrasi dalam doa? Kalau sepanjang hari pikiran Anda begitu kacau, bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa Anda tidak dapat berkonsentrasi hanya pada saat berdoa atau membaca Alkitab? Karena itu, seorang beriman yang akal budinya usang, tidak diperbarui, ia tidak dapat mengendalikan otaknya sendiri. Saudara saudari, sekali lagi saya tegaskan: Jika orang Kristen tidak dapat mengendalikan pikirannya sendiri, ia tidak akan berguna di tangan Tuhan.
b. Merenungkan Diri Sendiri
Satu penyakit yang paling berbahaya pada orang Kristen ialah merenungkan keadaan diri sendiri. Banyak orang Kristen mengira bahwa melakukan introspeksi itu baik, tetapi sebenarnya introspeksi tidak dapat membuat kita sungguh-sungguh mengenal diri sendiri. Tidak ada seorang Kristen pun yang dapat mengenal dirinya sendiri dengan cara introspeksi. Pengenalan diri sendiri hanya didapat melalui terang Allah. Kalau ada terang Allah, baru bisa mengenal diri sendiri. Mazmur 36:10 mengatakan, “Di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Segala macam bentuk mengkritik diri sendiri, menganalisis diri sendiri, baik itu merasa diri sendiri betapa baik atau betapa buruk, semua tindakan ini hanya membuat pikiran tidak tenang. Kita tidak seharusnya secara diam-diam membandingkan diri sendiri dengan orang lain; siapa pun orang itu. Setiap kali orang Kristen memandang ke dalam dirinya sendiri, ia tidak akan bisa maju. Coba bayangkan, mungkinkah seseorang dapat berjalan maju jika ia ingin melihat dirinya sendiri? Tentunya ia harus berhenti jika ia ingin melihat dirinya sendiri. Ia tidak dapat berjalan sambil melihat dirinya sendiri. Karena itu, setiap orang yang berpaling kepada dirinya sendiri, kalau ia tidak mundur, ia akan berhenti; ia tidak bisa maju. Demikian juga dalam hal rohani. Jika Anda terus merenungkan diri Anda sendiri, akibatnya Anda akan kecil hati. Kalau tidak ada orang yang membimbing Anda untuk maju, Anda telah menaruh diri sendiri dalam bahaya. Bahkan mungkin Anda akan berpikir bahwa diri Anda belum beroleh selamat, atau Anda telah melakukan satu dosa yang tidak dapat diampuni, mengira Allah tidak mau Anda lagi, Allah telah meninggalkan Anda. Keadaan ini adalah akibat dari merenungkan diri sendiri. Inilah keadaan akal budi yang tidak diperbarui.
c. Tidak Bisa Menyampaikan Firman Allah dengan Baik
Kalau akal budi kita tidak diperbarui, kita tidak akan dapat memberikan apa yang kita terima dari Allah kepada orang lain. Banyak orang beriman yang pandai berbicara, mereka bisa menguraikan bermacam-macam hal yang mereka sukai dan mereka senang menerangkannya. Mereka sangat berpetah lidah. Tetapi kalau pembicaraan itu beralih kepada masalah-masalah rohani, mereka sama sekali tidak mampu untuk menerangkannya. Mengapa bisa demikian? Ini disebabkan oleh pikiran mereka yang tidak cukup syarat untuk dipakai Allah. Pikiran mereka lemah bagaikan lengan seorang anak kecil yang tidak kuat mengangkat beban lima kilogram. Akal budinya terlalu lemah. Walaupun mereka mempunyai banyak pikiran, tetapi pikiranpikiran mereka kacau, sehingga mereka tidak tahu mana yang berasal dari Allah dan mana yang bukan berasal dari Allah. Mereka sendiri mengerti apa yang telah mereka terima secara intuitif, tetapi mereka tidak mampu mengutarakan pengenalan intuitif mereka serta menceritakannya kepada orang lain. Semua ini dikarenakan akal budi mereka yang belum diperbarui. Tentu Allah akan memberikan kata-kata kalau Ia menyuruh orang untuk berbicara; namun demikian tanpa akal budi yang diperbarui, tetap tidak ada seorang pun yang dapat menyatakan apa yang telah diterimanya di dalam batin.
Jadi, orang Kristen perlu memiliki satu akal budi yang diperbarui untuk memimpinnya dalam penempuhan hidupnya sehari-hari. Kalau tidak, ia akan menderita satu kerugian yang cukup besar dalam seumur hidupnya. Terhadap orang, ia akan menyalahpahami orang-orang di sekitarnya; terhadap Allah, ia tidak mengenal kehendak Allah; dan terhadap diri sendiri, ia akan memikirkan yang salah akan dirinya sendiri dan tidak dapat hidup dengan baik. Karena itu, kita semua harus mencari pengalaman pembaruan akal budi. Manusia di dunia ini digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu yang sudah beroleh selamat dan yang belum beroleh selamat; yang sudah dilahirkan kembali dan yang belum; yang berada di dalam Kristus dan yang berada di dalam Adam. Perbedaan ini sangat mutlak dan mencolok. Demikian pula akal budi semua orang beriman terbagi menjadi dua, yaitu yang sudah diperbarui dan yang usang. Perbedaan ini juga tegas. Setelah beroleh selamat, kita perlu mempunyai akal budi yang diperbarui, bukan hanya diperbarui sekali, tetapi setiap hari.
Pada suatu hari, D.L. Moody sedang berjalan di sebuah jalan. Tiba-tiba ia meminta izin kepada seorang pemilik rumah di pinggir jalan itu agar ia diperbolehkan menggunakan ruang atas rumah orang itu. Pemilik rumah itu memberinya izin. Moody lalu naik ke lantai atas rumah itu dan berdoa, “Tuhan, hentikanlah tangan-Mu, sudah cukup, aku tidak dapat menampungnya lagi.” Kalau akal budi kita diperbarui setiap hari, kita akan merasakan bahwa apa yang diberikan Allah kepada akal budi kita itu lebih daripada apa yang dapat kita tampung. Kita harus berusaha mencari pembaruan akal budi seperti kita dulu berusaha untuk mencari kelahiran kembali. Sama seperti kelahiran kembali telah mengubah hidup kita, demikian juga akal budi kita harus mendapatkan terang dengan sangat jelas, dan mendapatkan pembaruan setiap hari.
Jangan mengira bahwa orang yang mempunyai kecerdasan tinggi itu lebih cepat maju dalam hal mengenal Allah daripada orang yang bodoh. Kalau kemajuan rohani itu diukur menurut hikmat alamiah manusia, maka segalanya akan jatuh dalam dunia daging. Kemajuan rohani tidak ada sangkut-pautnya dengan hikmat alamiah Anda. Kalau akal budi Anda sudah diperbarui, barulah Anda dapat mengenal Allah dan perkara-perkara ilahi. Orang yang paling cerdas sekalipun tidak akan dapat mengerti apa yang telah Anda pahami. Karena itu berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan pembaruan akal budi Anda. Kalau tidak, Anda tidak akan dapat maju secara rohani. Sekali lagi saya katakan, Anda harus sungguh-sungguh menuntut hal ini di hadapan Allah.
Sebelum beroleh selamat, Anda tidak mengasihi orang. Setelah percaya Tuhan Yesus, Anda nampak ada kemajuan dalam hal mengasihi orang. Kalau gejala semacam ini tidak terjadi dalam hidup Anda, saya meragukan keselamatan Anda. Kalau Anda benar-benar sudah beroleh selamat, Anda akan nampak bahwa dalam hal mengasihi sesama, bersabar, dan melayani sesama, dari dalam hati Anda telah ada suatu perubahan; yang pasti, ada kemajuan. Dulu, Anda ingin menjadi besar dan terpandang, tetapi sekarang Anda rela menderita dengan sabar. Semua ini dikarenakan adanya hati yang baru, yang Anda miliki. Orang lain akan melihat perubahan ini. Mereka akan nampak bahwa sekarang Anda telah lain dari yang dulu. Namun demikian, apakah pikiran Anda juga mengalami kemajuan? Apakah sekarang Anda lebih mudah untuk berkonsentrasi atau berpikir secara teratur? Atau Anda tetap tidak berubah? Kalau pikiran Anda masih sulit berkonsentrasi atau berpikir secara teratur, berarti akal budi Anda belum diperbarui.
Tidak peduli seorang Kristen itu bodoh atau pintar, ia harus tahu bahwa ia wajib memiliki hati yang baik sebagaimana ia wajib memiliki otak yang baik. Demikian juga ia wajib memiliki akal budi yang mengalami kemajuan. Allah tidak pilih kasih terhadap orang. Dia akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan merendahkan kepandaian orang-orang pandai. Dia meletakkan yang pandai dan yang bodoh pada tingkatan yang sama. Akal budi orang berhikmat perlu diperbarui, akal budi orang bodoh juga perlu diperbarui. Anda dapat mengenal Allah, mengenal kehendak-Nya, dan mengutarakan apa yang telah diwahyukan Allah kepada Anda sesudah akal budi Anda diperbarui, sekalipun hal-hal itu dulu tidak Anda ketahui, tidak Anda pahami, tidak Anda tampak, tidak dapat Anda utarakan, dan tidak dapat Anda uraikan. Demikianlah Anda dapat menempuh jalan yang di depan.
Perbedaan antara akal budi yang usang dan yang diperbarui itu sama seperti perbedaan jendela kaca yang kotor berdebu dengan jendela kaca yang bersih, bening. Akal budi yang usang tidak mampu memikirkan atau melakukan hal-hal yang dapat dilakukan atau dipikirkan oleh akal budi yang diperbarui. Akal budi yang diperbarui akan meningkatkan kemampuan orang Kristen untuk berpikir sampai sepuluh kali lipat, atau sedikitnya beberapa kali lipat. Daya berpikirnya akan makin hari makin maju. Jika seseorang belum beroleh selamat, ia tidak bisa mengalami ini; karena pikirannya mati. Betapa jauhnya perbedaan antara hidup dan mati. Demikian juga perbedaan akal budi yang diperbarui dengan akal budi yang usang, bagaikan perbedaan antara hidup dan mati. Perbedaan ini juga bagaikan perbedaan antara langit dan bumi. Kalau kita menanggulangi akal budi kita dengan sungguh-sungguh, seperti dulu ketika kita menuntut keselamatan, kita akan nampak bahwa langit kita akan terbuka dan senantiasa cerah.