← Daftar isi Kristus dan Orang Kristen · bab 6/6

Berita Kedua

Bagian yang memungkinkan Allah berkomunikasi dengan kita bukanlah jiwa atau tubuh, melainkan roh. Karena itu, untuk memelihara satu komunikasi yang hidup dan lincah dengan Allah, kita harus menjaga agar roh kita selalu terbuka kepada-Nya. Dalam bab ini kita akan membicarakan tentang hubungan antara roh dengan akal budi. Kalau akal budi kita tertutup, maka roh kita juga ikut tertutup; kalau akal budi tertutup, maka terang Allah tidak akan menembus ke dalam roh. Hal ini dikarenakan: jika akal budi tertutup, maka tidak akan ada jalan atau celah bagi terang untuk menembus ke dalam roh kita. Dengan kata lain, kalau angan-angan seorang Kristen itu sakit, maka rohnya sakit juga. Lain halnya dengan tubuh. Seorang Kristen boleh jadi tubuhnya sakit, namun penyakit itu tidak mempengaruhi rohnya. Ada banyak orang Kristen yang terbaring di tempat tidurnya selama bertahun-tahun; walaupun demikian mereka tetap bisa melayani Allah, menaati Allah, dan melakukan pekerjaan berdoa. Akan tetapi, kalau akal budi seorang Kristen bermasalah, maka rohnya juga akan bermasalah; sebab akal budi dapat mempengaruhi roh.

Ada dua tempat dalam Alkitab yang memberi tahu kita tentang perlunya akal budi kita diperbarui. Kalau akal budi kita tidak diperbarui, kita akan sulit maju bersama Tuhan. Sekarang kita akan melihat bagian pertama dari kedua bagian Alkitab tersebut.

Efesus 4:17-24 — “Sebab itu, kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya (nous) yang sia-sia dan pengertiannya (dianoia) yang gelap, jauh dari hidup yang berasal dari Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar. Tetapi bukan dengan demikian kamu belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu (nous), dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Dalam bagian ini akal budi (nous) disebutkan dua kali, dan itulah yang akan kita bahas.

Kata “pengertian” dalam ayat 18 aslinya “dianoia”, yang berasal dari akar kata yang sama dengan nous dalam bahasa Yunani. Jadi ayat-ayat ini adalah “. . . Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya (nous) yang sia-sia dan pengertiannya (dianoia) yang gelap, . . .” Apa perbedaan antara akal budi (nous) dan dianoia? Akal budi adalah organnya, sedangkan dianoia adalah suatu tindakan atau fungsi. Seperti mata adalah organ, dan melihat adalah fungsinya. Jadi ayat 17 melukiskan tentang ciri organ akal budi, sedang ayat 18 menggambarkan keadaan fungsinya.

“Jauh dari hidup yang berasal dari Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka” (ayat 18). “Hati” dalam ayat ini adalah diri kita yang sebenarnya, personalitas kita.

“Perasaan mereka telah tumpul” (ayat 19), artinya telah menjadi mati rasa atau tidak peka lagi. Istilah semacam ini sering dipakai dalam dunia kedokteran. Dokter mengatakan bahwa ada beberapa jenis luka yang karena terlalu sakit sampai tidak terasa sakit lagi. Walaupun luka itu masih membusuk, tetapi si penderita sudah tidak merasa sakit lagi. Demikian pula hati manusia dapat menjadi begitu keras sehingga tidak berperasaan lagi.

“Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan” (ayat 22). Artinya: setelah mendengar kebenaran di dalam Yesus, kita telah menanggalkan manusia lama. Karena itu, kita harus melakukan apa yang dikatakan dalam ayat 25 dan seterusnya.

“Supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu (akal budimu)” (ayat 23). Ayat ini menceritakan tentang apa yang kita (kaum saleh) telah miliki dalam Kristus sesuai dengan kebenaran dalam Yesus. Kita tidak saja telah menanggalkan manusia lama, tetapi juga memiliki roh pikiran yang terus-menerus diperbarui. Roh pikiran kita harus terus-menerus diperbarui sebagaimana manusia lama itu selamanya tetap bobrok.

“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (ayat 24). Ayat ini bertolak belakang dengan ayat 22. Ayat ini juga menunjukkan fakta yang kita miliki dalam Tuhan. Jadi ayat 22-24 membicarakan tentang fakta-fakta yang telah rampung, yang kita miliki dalam Kristus. Berdasarkan ayat ini, ayat 25 dan seterusnya berbicara tentang kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan.

Jadi, bagian ini membicarakan mengenai tiga perkara yang penting: kehidupan rohani kita, hati kita, dan akal budi kita.

HATI TERLEBIH DULU RUSAK

Kita akan terlebih dulu memperhatikan apa yang dikatakan dalam ayat 17 dan 18. Akal budi orang kafir yang tidak mengenal Allah itu sia-sia, dan hatinya keras, rusak, jauh dari hayat (kehidupan) Allah. Bagaimanakah asal mula terjadinya hal-hal seperti itu? Kalau kita tahu bagian mana yang terlebih dulu menjadi rusak, maka kita akan dapat menanggulangi bagian tersebut. Yang menjadi rusak lebih dulu itu akal budi manusia, hayat manusia, ataukah hati manusia? Jika penyebabnya adalah hati, maka pertamatama yang akan kita tanggulangi adalah hati; jika penyebabnya adalah akal budi, maka akal budi yang harus ditanggulangi dulu; dan jika penyebabnya adalah hayat, maka hayat kitalah yang harus kita tanggulangi dulu.

Ayat 17 dan 18 menampakkan kepada kita tentang urutan kejatuhan kita. Para rasul mendorong kaum beriman agar tidak hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan akal budinya yang sia-sia. (Akal budi yang sia-sia ini sering dilukiskan dengan bangunan atau istana di atas awang-awang). Mengapa kita tidak boleh hidup seperti mereka? Sebab pengertian (akal budi) mereka gelap. Mengapa akal budi mereka gelap? Karena mereka jauh dari hidup yang berasal dari Allah. Mengapa mereka jauh dari hidup yang berasal dari Allah? Karena kebodohan dan kekerasan (kedegilan) di dalam hati mereka. Demikianlah kita telah mendapatkan jawabannya, bahwa penyakitnya dimulai dari hati.

Karena hatinya keras, maka mereka jauh dari hidup yang berasal dari Allah; dan karena jauh dari hidup yang berasal dari Allah, maka akal budi mereka menjadi gelap. Saudara saudari, semua sumber penyakit manusia terletak pada hatinya. Saya sering memberi tahu para sekerja saya bahwa hatilah yang rusak, bukan otaknya. Kebanyakan orang menyangka bahwa otak manusialah yang bobrok; tetapi sebenarnya bukan demikian. Hati manusialah yang bobrok.

ORANG KAFIR TIDAK MAU PERCAYA DALAM HATINYA

Tahukah Anda, mengapa orang kafir menolak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan bahkan mengajukan banyak sanggahan? Apakah karena kita tidak mempunyai alasan yang cukup kuat untuk menarik mereka percaya kepada Allah dan Kristus? Tidak! Alasan kita cukup baik. Pemazmur dalam Mazmur 14:1 mengatakan, “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah.” Di sini kita nampak bahwa bukan pikirannya yang bodoh, tetapi hatinyalah yang berkata bahwa tidak ada Allah. Kepada orang-orang Yahudi yang tidak mau percaya kepada-Nya, Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 5:40, “Namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Letak persoalannya ada pada hati, bukan pada alasan. Hatilah yang menolak untuk percaya.

Banyak orang yang dapat menerima dan setuju kalau saya menerangkan kepada mereka tentang mengapa ada Allah dan mengapa Tuhan Yesus adalah Juruselamat, namun demikian mereka tetap tidak percaya kepada Allah dan Tuhan Yesus. Hal ini membuktikan bahwa yang tidak beres itu bukan otaknya, tetapi hatinya. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Dengan hati orang percaya dan dibenarkan” (Rm. 10:10). Dalam Markus 11:23, Tuhan Yesus berkata, “Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (Mrk. 11:23). Otak itu tidak seberapa penting; cukup percaya dalam hati! Hati adalah diri kita yang sebenarnya, personalitas kita. Karena itu Alkitab mengatakan dalam Ibrani 3:12, “Hatinya jahat dan tidak percaya,” Alkitab tidak berkata bahwa otak yang jahat. Yang bobrok itu adalah hati, bukan otak. Karena itulah orang kafir menolak untuk percaya dan diselamatkan. Akal budi manusia itu gelap, sebab hatinya sudah terlebih dulu bobrok.

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN AKAL BUDI ORANG KRISTEN

Bukan hanya orang kafir saja, tetapi orang Kristen pun banyak yang tidak mengenal kehendak Allah, tidak taat kepada-Nya, dan tidak dapat memahami Kitab Suci. Hal ini berkaitan dengan adanya sesuatu yang tidak beres dalam hati mereka. Akal budi yang jelek hanyalah satu gejala, sedangkan hati yang rusak adalah penyebab dari gejala itu. Saya tidak mengatakan bahwa akal budi itu sama sekali bebas dari penyakit, tetapi di sini saya menekankan bahwa hatilah yang menjadi sumber penyakitnya. Kalau hati kita benar, dengan sendirinya fungsi akal budi kita juga benar. Kalau kita hanya menanggulangi gejalanya, tanpa menanggulangi penyebabnya, usaha kita akan sia-sia. Jadi, penyebabnya harus kita tanggulangi, baru usaha kita bisa efektif.

1. Terhadap Ketaatan

Misalnya, mengenai baptisan. Alkitab telah memberikan satu wahyu yang jelas dan tegas mengenai baptisan. Namun, mengapa banyak orang beriman yang tidak bertindak sesuai dengan ajaran Alkitab, malahan mengemukakan bermacam-macam opini yang bertentangan? Penyebab utamanya terletak dalam hati, bukan dalam kepala! Ketika seorang yang percaya mendengarkan berita yang menunjukkan bahwa baptisan itu Alkitabiah dan merupakan sesuatu yang dengan jelas diperintahkan oleh Allah untuk dilaksanakan, ia menundukkan kepala kepada Tuhan dan berdoa, “Tuhan, kalau memang ini berasal dari-Mu, dengan rela aku menaatinya.” Dengan demikian, ketika ia menyelidiki Kitab Suci, ia akan mengenal kehendak Allah dan menaati-Nya. Tetapi apa yang terjadi pada diri orang Kristen yang menolak dan menganggapnya sebagai hal yang tidak berarti setelah mereka mendengar berita itu? Mereka tidak akan dapat mengerti, walaupun setelah itu mereka membaca Alkitab. Karena ketika mendengarkan suatu kebenaran, reaksi mereka seperti ahli hukum di pengadilan. Pikiran pertama yang timbul pada seorang ahli hukum adalah bagaimana menyangkal pihak lain. Dia tidak mempedulikan apakah pihak lawan itu mempunyai alasan yang baik. Dia hanya berusaha memaksakan alasan-alasannya sendiri. Karena itu banyak pertanyaan yang timbul melalui motivasi hati yang tidak lurus.

2. Terhadap Mendengarkan Berita

Pada waktu mendengarkan satu berita, kalau kita mendengar sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita percayai, maka kita harus bertanya kepada Tuhan, apakah berita itu benar atau salah, atau di mana letak kesalahan kita. Hati kita benar, kalau kita dapat merendah dan mudah diajar di hadapan Allah. Walaupun pikiran kita bisa salah, tetapi ia akan segera dibetulkan. Tetapi kalau hati kita tidak lurus, hanya ingin berbantahan, maka kita akan mencari beberapa ayat Alkitab untuk menyanggah berita yang kita dengar. Banyak orang Kristen membaca Alkitab dengan gaya seorang ahli hukum yang sedang mempelajari hukum. Tujuan mereka hanya untuk melindungi kepentingannya sendiri. Di sini kita melihat bahwa hatilah yang tidak lurus, bukan kepala. Bukan karena mereka tidak dapat berpikir, tetapi karena hati mereka tidak lurus. Dengan demikian, mereka menyeret pikiran dan juga seluruh keberadaannya masuk ke dalam bahaya.

3. Terhadap Membaca Alkitab

Adakah di antara kita, baik saudara atau saudari, yang mempunyai kepala (otak) namun ia tidak mengenal Alkitab? Ketahuilah, kalau kita tidak mengenal Alkitab, itu karena ada penyakit dalam hati kita. Roh Kudus akan memimpin kita memasuki segala kebenaran. Saya heran mengapa ada orang-orang yang tidak dapat memahami Alkitab. Ini disebabkan oleh hati mereka yang tidak benar, tidak lurus. Boleh jadi karena mereka terlalu subyektif, akal budi mereka tidak bisa mendapatkan terang firman Allah. Namun demikian hatilah yang terlebih dulu rusak, sebab akal budi hanya mengikutinya. Hati yang penuh prasangka mencemari otaknya. Seseorang berkata bahwa kejatuhan Hawa bukan terjadi pada saat ia memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat; melainkan karena motivasi hatinya telah serong. Ketika ia berbicara dengan Iblis, hatinya telah memendam rasa tidak puas terhadap Allah, hatinya telah rusak. Itulah sebabnya Kejadian 6:5 mengatakan, “Ketika dilihat Tuhan bahwa kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Akal budi menjadi jahat karena hati rusak lebih dulu.

Seorang saudara menunjukkan bahwa sebelum Hawa makan buah itu, ia sudah jatuh. Sebab dalam percakapannya dengan Iblis, ia menambahkan kata-kata “ataupun raba buah itu” pada firman TUHAN. Hal itu menyatakan bahwa hatinya sudah serong. Allah tidak mengatakan bahwa kecenderungan hati manusia jahat sebelum Kejadian 6. Karena hatilah yang terlebih dulu serong, kemudian manusia jauh dari hidup yang berasal dari Allah, dan akhirnya kecenderungan hati dan pikirannya bobrok. Orang Kristen yang hatinya lurus dapat menerima terang Allah dari Alkitab, ia dengan mudah dapat mengenal kehendak Allah, dan mendapat karunia yang sangat berlimpah dari Allah.

4. Terhadap Mendengarkan Orang Lain

Melalui percakapan kita dapat mengetahui apakah hati seseorang lurus atau tidak, otaknya benar atau tidak. Orang yang bisa mendengar, otaknya pasti baik. Banyak orang Kristen yang otaknya seperti roda, tidak henti-hentinya berputar sepanjang hari. Mereka tidak dapat mendengarkan dan menyerap apa yang dikatakan orang lain kepadanya, juga tidak menerima kebenaran, malahan mengajukan berbagai macam pertanyaan. Keadaan seperti ini membuktikan kalau otaknya tidak benar, dan otaknya yang tidak benar itu menunjukkan adanya penyakit dalam hatinya. Ada juga, orang yang suka menyela dan memutus pembicaraan orang lain. Ini pun menunjukkan bahwa ada penyakit dalam hatinya. Walaupun adakalanya boleh menyela dan menambahkan sepatah atau dua patah kata dalam percakapan yang menyatakan setuju atau tidak setuju, tetapi jika sering kali melakukannya, maka hal ini membuktikan adanya masalah yang serius dalam hati.

Jika otak Anda tidak henti-hentinya berputar sepanjang hari, tentu akal budi Anda tidak beres. Dalam keadaan seperti ini, Anda tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Allah, atau apa yang dikatakan orang lain kepada Anda. Penyebab penyakit ini terdapat dalam hati. Yaitu, karena hati Anda merasa puas diri, percaya diri, atau merasa diri pintar. Karena sudah mempunyai pandangan dalam pikiran Anda, maka dengan sendirinya Anda tidak dapat mendengarkan perkataan orang lain. Tidak dapat mendengarkan orang lain adalah gejala dari akal budi yang tidak beres, dan akal budi yang tidak beres ini berkaitan erat dengan hati yang tidak lurus.

Kita tahu bahwa apa yang kita dengar dari luar itu akan kita salurkan ke dalam. Dengan demikianlah kita dapat memahami apa yang kita dengar. Pekerjaan penyaluran ini mirip dengan pekerjaan penerjemahan. Kalau ada orang yang tidak dapat berbahasa Inggris, ia membutuhkan orang yang dapat menerjemahkannya ke dalam bahasa sasaran. Pekerjaan penerjemahan ini berlangsung dengan sangat cepat di dalam kita. Orang yang tidak dapat memahami apa yang dia dengar, ini sangat berkaitan dengan akal budinya yang tidak dapat menerjemahkan. Kalau dia sudah mendengar dan mendengar secara salah, itu menunjukkan bahwa akal budinya telah menerjemahkan secara salah.

Suatu kali, saya berkhotbah di suatu tempat. Saya berkata kepada para pendengar bahwa manusia diselamatkan bersandar pada apa yang telah dirampungkan Kristus, bukan bersandar pada kelakuan diri sendiri. Di antara para pendengar itu, ada dua orang penganut Taoisme. Setelah selesai, kedua orang penganut Taoisme ini mengatakan kepada orang lain bahwa khotbah saya adalah berusaha menganjuri orang untuk berbuat baik! Banyak orang tidak dapat menerima perkataan Allah karena kapasitas batinnya sudah penuh. Mereka tidak akan pernah dapat memahami firman Allah, kalau apa yang sudah ada di dalam mereka itu tidak disingkirkan dulu. Di hadapan Tuhan, hati kita harus seperti hati seorang bayi — rendah hati dan mudah untuk diajar. Kita harus berdoa demikian, “Tuhan, aku tidak tahu apakah yang dikhotbahkan orang ini baik atau buruk, benar atau salah. Mohon Allah memberiku satu keputusan, agar aku tahu mana yang benar, mana yang salah.” Dengan demikian, kita akan dapat melihat apa yang Tuhan inginkan agar kita nampak. Banyak orang mengira kalau mereka tidak dapat memahami kebenaran, itu karena otaknya yang tidak memadai; mereka tidak menyadari bahwa sumber penyebabnya tidak lain adalah hati yang rusak.

5. Terhadap Pikiran

Ada orang yang otaknya terlalu banyak berpikir, sementara yang lainnya terlalu menganggur pikirannya. Adakalanya mereka terlalu gairah untuk berpikir, tetapi adakalanya mereka terlalu malas untuk berpikir dan sama sekali tidak mau berpikir. Pada umumnya keadaan mentalitas orang Kristen berada pada salah satu dari kedua keadaan ini. Kalau tidak berpikir dengan tidak henti-hentinya, ya tidak berpikir sama sekali. Beberapa orang beriman terlalu lemah daya ingatnya sehingga mereka terpaksa mengandalkan buku catatan. Saya tidak anti buku catatan atau memo, tetapi kalau orang Kristen harus bergantung pada catatan semacam itu supaya dia dapat ingat, maka ini berarti ada sesuatu yang tidak beres dalam otaknya. Orang beriman tidak boleh menjadi budak dari catatan hariannya, demikian kata Jessie Penn-Lewis. Tentunya kita semua adakalanya lupa. Ada hal-hal tertentu yang tidak memberikan kesan yang cukup dalam pada otak kita dan karena itulah kita melupakannya. Ini biasa! Tetapi kalau kesan-kesan itu cukup dalam namun kita masih lupa juga, berarti ada yang tidak beres.

Tidak dapat ingat dan terlalu pikun, keduanya adalah keadaan abnormal. Kalau ada orang yang tidak bisa berpikir, itu berarti pikirannya ada penyakitnya. Kita dapat menggunakan tangan dan kaki kita kecuali kalau kita lumpuh. Demikian juga kalau pikiran kita tidak sakit, maka kita harus dapat menggunakannya. Kalau seseorang tidak bisa dengan aktif menggunakan pikirannya, tidak dapat berpikir dengan kehendaknya sendiri, melainkan harus digerakkan oleh orang lain dari luar, ia menjadi orang yang pasif pikirannya. Pikiran orang Kristen tidaklah seharusnya sakit. Pikiran seorang Kristen disebut sakit, kalau ia tidak dapat berpikir; tetapi ia juga sakit, kalau ia selalu berpikir. Ketidakmampuan untuk berpikir dan ketidakmampuan untuk menghentikan pikiran, keduanya tidak wajar. Ada orang yang otaknya terlalu dungu karena terbelenggu sehingga ia tidak dapat memikirkan apa-apa; sementara ada orang lain yang terlalu aktif sehingga mereka tidak dapat mengikutinya. Keduanya adalah penyakit.

BAHAYA TIDAK DIPERBARUINYA AKAL BUDI

Saya sudah menerangkan dengan singkat beberapa gejala dari akal budi yang sakit. Kalau kita urutkan, semua itu berasal dari hati. Banyak orang yang otaknya tumpul dan apatis oleh karena hati mereka malas. Hal ini serupa dengan seorang pasien yang senang terus terbaring di ranjang. Dia lebih suka sakit daripada sehat dan harus bekerja. Kalau seseorang otaknya letih karena terlalu keras bekerja sehingga ia tidak dapat berpikir lagi, ia perlu istirahat yang cukup. Tetapi kalau ada orang yang tidak pernah menyukai pekerjaan, berarti hatinya malas. Terlalu banyak pikiran atau tidak ada pikiran sama sekali adalah satu bukti dari akal budi yang tidak beres, yang merupakan akibat dari hati yang tidak lurus.

Dalam Efesus 4, Rasul Paulus menyatakan bahwa oleh karena kekerasan hati mereka, maka orang-orang kafir itu jauh dari hidup yang berasal dari Allah, sehingga terang Allah tidak dapat menyoroti akal budi mereka. Tanpa terang hayat Allah, akal budi mereka menjadi sia-sia dan fungsi akal budi mereka menjadi gelap. Akal budi mereka menjadi sedemikian menyedihkan oleh karena hati mereka yang degil. Inilah situasi orang kafir. Bahaya yang dihadapi oleh orang beriman di hadapan Allah adalah jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan seperti orang kafir.

PEMBARUAN AKAL BUDI

Bagaimana akal budi dapat diperbarui? Kita sudah mengalami kelahiran baru, mempunyai hati yang baru; akal budi kita juga sedikitnya sudah pernah satu kali diperbarui dan diterangi oleh Tuhan. Keperluan kita saat ini adalah akal budi yang senantiasa terbuka kepada Allah untuk menerima segala sesuatu yang dari Dia, mengenal kehendak-Nya, memahami isi hati-Nya dan mengerti ajaran-ajaran-Nya. Saudara-saudara, inginkah kalian mengenal kehendak Allah, isi hati Allah, dan mengenal pengajaran Alkitab? Kalau kalian benar-benar mendambakan hal ini, kalian harus mempunyai akal budi yang diperbarui.

Dalam Surat Efesus Rasul Paulus mengajarkan kepada kita, agar setelah mendengar dan setelah diajar tentang kebenaran dalam Yesus, kita harus mempraktekkannya dalam hidup kita. Karena itu, nasihat-nasihat yang terdapat dalam ayat 25 dan seterusnya berdasar pada pengajaran dari ayat 20-24. Dengan kata lain, ayat 20-24 menunjukkan kepada kita fakta yang dimiliki oleh orang Kristen di dalam Tuhan, sedangkan ayat 25 dan seterusnya memberi tahu kita tentang perilaku yang harus dimiliki oleh orang Kristen di atas kedudukan itu. Menurut faktanya, memang di dalam Tuhan kita sudah menanggalkan manusia lama, tetapi hal ini tidak berarti bahwa di dalam pengalaman kita tidak lagi melihat bayang-bayang manusia lama. Secara kedudukan, akal budi kita sudah diperbarui, tetapi hal ini tidak berarti bahwa pikiran kita sudah tidak perlu diperbarui senantiasa. Kita perlu pembaruan akal budi yang terus-menerus.

MENANGGALKAN MANUSIA LAMA DALAM PERILAKU

Efesus 4:22-23 mengatakan, “Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu diperbarui di dalam roh pikiranmu” (Tl.). Roh pikiran menunjukkan adanya hubungan khusus antara roh dengan pikiran (akal budi). Kita perlu menanggalkan manusia lama agar roh pikiran kita diperbarui. Kalau dalam pengalaman kita tidak menanggalkan manusia lama, kita tidak dapat mengalami pembaruan pikiran secara berkesinambungan.

Menanggalkan manusia lama merupakan satu perkara yang khusus, satu pos, bukan seperti sebuah jalan yang di atasnya kita terus berjalan. Orang Kristen harus pernah satu kali menanggulanginya secara spesifik, khusus. Pos dan jalan itu berbeda. Seorang murid mengikuti ujian masuk ke suatu sekolah, itu suatu pos; setelah diterima dan selanjutnya bersekolah, itu suatu jalan. Jadi, kalau orang Kristen ingin tahu apakah akal budinya sudah diperbarui atau belum, cukup bertanya apakah pernah secara khusus menanggalkan manusia lama dengan segala perilakunya dan mengenakan manusia baru? Dengan demikian bagian ini menunjukkan kepada kita bahwa kalau kita ingin mengalami pembaruan akal budi dan pikiran kita, kita harus menanggalkan manusia lama. Untuk menjamin adanya pembaruan yang terus-menerus, kita perlu menyangkal manusia lama kita dengan tekun. Segala sesuatu yang termasuk manusia lama, apakah itu perkataan, perbuatan, atau pikiran-pikiran, harus terus-menerus ditolak. Apakah itu dosa, kenajisan, atau ego, harus disangkal. Selain itu, kita juga harus mohon dengan sungguhsungguh dan percaya dengan segenap hati bahwa Roh Kudus mau memperbarui akal budi kita. Kalau kita menyingkirkan halangan dengan menanggalkan manusia lama dan mempercayakan pekerjaan pembaruan ini pada Roh Kudus, Dia akan mengerjakannya bagi kita.

Saya ingin Anda memperhatikan satu perkara. Apa yang dibicarakan Roma 6 tentang manusia lama berbeda dengan apa yang dikatakan di sini. Roma 6 berbicara tentang fakta yang telah rampung di dalam Tuhan. Roma 6:6 mengatakan bahwa manusia lama kita telah disalibkan. Jadi yang kita perlukan adalah menghitung, yaitu percaya. Tetapi di sini tidak berkenaan dengan fakta “telah disalibkan”, melainkan mengenai fakta menanggalkan. “Telah disalibkan” adalah sesuatu untuk dipercaya, jadi itu adalah masalah iman. Sebaliknya, menanggalkan adalah tindakan tekad. Untuk menanggalkan sesuatu, kita perlu melatih tekad. Kita tidak hanya percaya bahwa manusia lama kita sudah disalibkan, tetapi juga mengesampingkan manusia lama kita ini dengan kekuatan tekad kita. Kalau kita hanya mengandalkan iman saja, kita tidak akan berhasil menanggalkan manusia lama. Kita juga perlu tekad.

MENANGGULANGI DOSA DALAM HATI

Hal lain yang perlu mendapat perhatian ialah adanya masalah dalam hati. Karena semua penyakit dalam akal budi berasal dari hati manusia, maka hati yang bermasalah harus dibenarkan dulu, barulah akal budi dapat diperbarui. Hati yang abnormal dapat menghalangi cahaya terang Allah. Sama seperti sehelai daun dapat menghalangi cahaya, demikian juga dosa kecil saja sudah cukup menghalangi cahaya terang Allah. Banyak orang yang menyimpan dosa dalam hatinya. Kalau dosa-dosanya itu ditanggulangi dengan baik, maka hatinya akan menjadi benar dan orang itu akan dapat mengenal kehendak Allah. Semua orang yang tidak mengenal kehendak Allah, tentu hatinya telah rusak terlebih dulu.

Siapakah orang yang dapat menerima pengajaran Tuhan? Orang yang dapat berkata demikian kepada-Nya, “Tuhan, terima kasih karena Engkau mau mengajarku sekarang. Kalau Engkau tidak mengajarku sekarang, aku pun rela.” Orang yang menerima pengajaran di hadapan Tuhan, ketika mendengarkan suatu berita dia akan bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, salahkah aku? Apakah yang diberitakan itu benar?” Dengan mendengarkan suatu berita, kita dapat menguji benar atau tidaknya hati kita.

Hal yang paling berharga dalam satu akal budi yang sudah diperbarui adalah bahwa ia bisa membuka atau menutup pikiran Anda. Akal budi yang sudah diperbarui, di pihak Allah bisa mengenal kehendak Allah. Di pihak diri sendiri bisa mengendalikan pikiran diri sendiri. Sedangkan di pihak orang lain bisa membedakan, menerima, dan memahami perkataan orang lain.

MENGENAKAN MANUSIA BARU

“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (ayat 24). Ayat ini mengacu kepada perilaku yang positif. Kalau kita ingin mendapatkan akal budi yang diperbarui, atau yang dikatakan sebagai akal budi yang senantiasa diperbarui, kita perlu mengenakan manusia baru dalam pengalaman kita. Hal ini juga merupakan satu tindakan tekad. Apa yang dimaksud dengan mengenakan manusia baru? Manusia baru kita diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan menurut gambar Allah. Singkatnya, sifat-sifat manusia baru ini adalah benar dan kudus. Kebenaran mengacu kepada jalan Allah, sedangkan kekudusan mengacu kepada sifat Allah.

Allah dikenal dalam tiga aspek yang berbeda: mulia, kudus, dan benar. Mulia mengacu kepada diri Allah sendiri; kudus mengacu kepada sifat Allah; dan benar mengacu kepada cara Allah melakukan sesuatu. Kita memang diciptakan menurut gambar Allah, tetapi yang dimaksud di sini terbatas pada kebenaran dan kekudusan Allah saja. Kita tidak dapat mengambil bagian dalam kemuliaan Allah, sebab kemuliaan-Nya adalah keilahian-Nya. Walaupun demikian, kita harus memiliki kekudusan dan kebenaran Allah. Bagi kita, menjadi serupa dengan Dia adalah membiarkan sifat Allah bekerja di dalam kita dan bekerja menurut cara-Nya.

Hari ini, ada berapa banyak orang Kristen yang peka terhadap dosa? Dengan malu saya terpaksa mengakui bahwa kepekaan saya terhadap dosa tidak cukup tajam. Miss Barber adalah seorang yang benar-benar mengenal apakah dosa dan apakah kekudusan Allah itu. Sebelum Anda bertemu dengan dia, mungkin Anda sombong dan iri hati tanpa Anda tahu apakah sombong dan iri hati itu. Setelah Anda bertemu dengan dia, Anda baru sadar tentang adanya dosa mengenai kesombongan dan iri hati yang sebelumnya tidak Anda sadari. Dia adalah orang yang sangat membenci dosa dan juga pandai menanggulanginya. Karena dia sangat ketat dan keras terhadap dirinya sendiri, maka dia dapat berterus-terang terhadap orang lain. Tidak lama setelah Anda berada di dekatnya, Anda akan segera nampak apakah sebenarnya kesombongan dan iri hati itu. Saudari ini benar-benar mengenal Allah. Sering kali kita tidak dapat mempelajari kebenaran melalui khotbah orang, tetapi kita dapat mempelajari kebenaran melalui kebenaran yang diperhidupkan oleh orang.

Kalau Anda memaafkan dosa sekali, dua kali, dan berkali-kali, Anda akan kehilangan perasaan terhadap dosa. Kalau Anda menyebut dosa sebagai dosa dan menanggulanginya dengan tuntas untuk kali pertama, Anda akan mampu untuk menanggulanginya pada kali yang lain. Akan tetapi kalau pada kali pertama Anda tidak menyebut dosa sebagai dosa, tidak menanggulangi dosa, malahan berkata bahwa marah-marah adalah perkara yang sering terjadi pada diri orang Kristen, Anda pasti akan berbuat dosa pada kali lain. Setiap orang yang tidak mengenal apakah dosa itu, ia juga tidak mengenal apakah kekudusan itu, sebab kekudusan adalah mengenal dosa. Sebelum Adam dan Hawa berdosa, status mereka netral, tidak kudus. Hanya dengan mengenal dosa, maka mereka menjadi paham tentang makna kekudusan.

Apakah ketidakbenaran itu? Segala sesuatu yang tidak boleh dilakukan adalah tidak benar. Sebelum saya membaca suatu kisah dalam sebuah bacaan, saya tidak tahu apakah ketidakbenaran itu. Dalam bacaan itu dikatakan, ada seorang laki-laki yang datang mendengarkan khotbah dari seseorang. Setelah pengkhotbah itu turun dari mimbar, ia menuju tempat duduk di dekatnya. Sementara ia berjalan ke tempat duduknya, dengan tidak sengaja si pengkhotbah itu menginjak jas hujan milik seorang ibu yang duduk di bangku depan. Pengkhotbah itu kemudian menyepak jas hujan itu ke samping tanpa mau membersihkan bagian yang kotor, juga tidak mau meminta maaf kepada pemilik jas hujan itu. Laki-laki pendengar tadi protes, alangkah tidak benar sikap pengkhotbah itu. Jadi, apakah “tidak benar” itu? “Tidak benar” adalah berhutang (bersalah) kepada orang lain. Kalau Anda tidak memberi ganti rugi kepada ibu itu, setidak-tidaknya Anda harus membersihkan bagian jas hujan yang terinjak itu. Jika tidak, di hadapan Allah Anda adalah seorang yang berhutang.

Melalui contoh di atas, kita dapat mengambil suatu pelajaran bahwa akal budi kita berhubungan erat dengan hidup kita di hadapan Allah. Kapan saja kita memaafkan dosa, saat itu juga kita tidak benar, kita tidak dapat bersekutu dengan Allah, dan akal budi kita menjadi gelap. Karena itu, orang Kristen harus di pihak negatifnya mengesampingkan kenajisan, motivasi yang bengkok, menanggalkan ketidakbenaran; dan di pihak positifnya mengenakan manusia baru! Saudara-saudara, kita harus dapat melalui pos ini. Pembaruan akal budi adalah sesuatu yang harus kita tangani secara khusus. Jangan berpikir bahwa kita akan berangsur-angsur bertumbuh dalam hal ini.

HUBUNGAN ANTARA AKAL BUDI DENGAN ROH

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca dalam sebuah majalah kata-kata yang ditulis oleh Jessie Penn-Lewis: “Kalau roh Anda tertutup, tentu itu disebabkan karena akal budi Anda tertutup.” Dengan kata lain, roh yang tertutup berkaitan erat dengan akal budi yang tertutup. Pada saat itu saya nampak dan tahu betapa berharganya kata-kata ini. Namun saat itu saya belum memahami dengan tuntas karena taraf rohani saya masih dangkal; di kemudian hari baru saya mengalami betapa tepatnya perkataan ini. Memang benar, roh seseorang tertutup apabila akal budinya tertutup, sebab roh menyatakan maksudnya melalui akal budi. Kalau akal budi tertutup, roh tidak akan mempunyai jalan keluar.

Sebagai contoh, kita akan memakai arus listrik. Walaupun arusnya sangat kuat, ia tidak dapat memberi kita terang kalau kawat wolfram di dalamnya putus. Ia tidak menghasilkan terang, bukan karena perusahaan listriknya bermasalah, tetapi karena arus itu tidak dapat menyatakan dirinya melalui bola lampu. Demikian juga kalau akal budi kita tertutup, itu akan menyebabkan roh tidak mempunyai jalan untuk menyatakan maksudnya. Saya tidak tahu bagaimana saya harus berkata agar dapat membantu kita semua masuk ke dalam kebenaran yang dalam ini, sehingga kita dapat mengalami pembaruan akal budi kita.

Saya tidak berkata bahwa otak dapat membantu pekerjaan Allah, sebab ia hanyalah kekuatan jiwani. Tetapi saya berkata, kalau akal budi orang Kristen tidak diperbarui, maka rohnya tidak akan dapat memperoleh jalan keluar, dan dengan demikian ia tidak dapat dipakai oleh Allah. Petrus menjelaskan bahwa pada hari Pentakosta murid-murid sama sekali tidak mabuk. Jika mereka mabuk, otak mereka tidak akan jelas; dan kalau otak mereka tidak jelas, mereka tidak akan mempunyai roh yang terbuka dan tidak dapat dipakai oleh Allah. Setahu saya, orang-orang yang sangat dipakai oleh Allah adalah orang-orang yang rohnya, akal budinya, pengertiannya, anganangannya, dan pemikirannya semuanya jelas. Apakah mereka mempunyai banyak pengetahuan atau tidak, itu bukan masalah. Tidak semua orang yang dipakai Tuhan mempunyai banyak pengetahuan.

Kalau akal budi kita diperbarui, pengertian kita akan menjadi tajam. Kita akan mengenal kehendak Allah, maksud hati Allah, dan firman Allah.

PERSEMBAHAN DIRI DAN PEMBARUAN AKAL BUDI

Sekarang kita tiba pada bagian kedua dari Alkitab yang memberi tahu kita tentang perlunya akal budi yang diperbarui.

Roma 12:1-2 — “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (akal budimu), sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.”

Istilah “budi” di sini dalam bahasa aslinya adalah nous, akal budi. Sekali lagi, di sini terdapat pembaruan akal budi. Paulus memberi nasihat kepada kaum beriman untuk mempersembahkan tubuhnya kepada Allah untuk melayani Dia. Pembaruan akal budi adalah berdasarkan persembahan diri.

Saudara-saudara, adakah sesuatu yang menahan Anda, menekan Anda, membebani Anda? Jika Anda dapat menyerahkan segala sesuatu dan meletakkannya di atas mezbah, maka pembaruan akal budi Anda akan dikuatkan beberapa kali lipat oleh Allah sehingga Anda bisa memahami maksud hati Allah, mengenal kehendak Allah, bisa memikirkan dan mengerti hal-hal yang dari Allah. Bersamaan dengan ini, Anda juga bisa memberikannya kepada orang lain. Atas hal ini Anda harus secara khusus melaksanakannya. Hasilnya, Anda dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan sempurna.

Banyak orang dengan ceroboh berkata bahwa mereka rela menaati Allah dalam segala sesuatu. Padahal, mereka jauh dari faktanya, mereka tidak tahu apa yang mereka katakan, mereka masih jauh dari ketaatan yang sempurna seperti tersebut di atas. Saat menjelang penyaliban Tuhan, dengan ceroboh Petrus berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau” (Mat. 26:35). Banyak orang yang seperti Petrus. Karena tidak mengenal apa yang Allah tuntut dari dirinya, sama sekali tidak tahu permintaan Allah, itulah sebabnya mereka tidak dapat bertumbuh dalam kerohanian. Untuk menentukan taraf kerohanian seorang beriman, kita perlu bertanya kepada Tuhan, apakah yang saat ini Tuhan tuntut darinya. Misalnya, pada orang yang baru beroleh selamat, tuntutan Allah atasnya mungkin adalah berhenti merokok, berjudi, dan hal-hal luaran lainnya. Kita tahu bahwa hal-hal ini adalah langkah pertama dalam kehidupan rohani. Dengan berangsur-angsur, orang beriman baru akan dituntun lebih maju dan diperlihatkan bahwa iri hati, kesombongan, dan hal-hal semacam itu juga buruk; dengan demikian dia membuat langkah-langkah yang makin maju. Setelah itu Allah menunjukkan bahwa dia harus meletakkan opininya sendiri dalam pekerjaan Tuhan. Hal ini menunjukkan langkah kemajuan lagi.

Singkatnya, permintaan Allah makin hari makin dalam. Ada orang Kristen yang tahu bahwa mereka tidak boleh merokok atau berjudi; orang Kristen lain tahu bahwa mereka tidak boleh sombong atau iri hati, selain itu mereka tidak tahu apa-apa lagi. Kita harus mempersembahkan kepada Tuhan sesuai dengan apa yang kita ketahui, dengan demikian akal budi kita akan diperbarui. Bersamaan dengan ini, akal budi kita yang telah diperbarui itu akan memberi tahu kita tentang apa yang harus kita persembahkan kepada Allah lebih lanjut.

AKAL BUDI SETELAH PEMBARUAN

Banyak orang Kristen yang akal budinya seperti jendela kaca dapur yang diliputi oleh kotoran-kotoran berminyak. Setelah diperbarui, akal budi itu berubah menjadi seperti jendela kaca yang bening, sehingga dapat meneruskan cahaya matahari untuk menyorot masuk ke dalam ruangan. Dengan demikian, orang Kristen ini dapat lebih memahami apa yang diminta Allah dari dirinya. Akal budinya telah menjadi sangat tajam dan peka. Dia dapat mengenal tuntutan Allah secara langsung. Banyak orang Kristen tidak dapat mengenal kehendak Allah karena mereka tidak mempunyai perangkat penerima yang memadai. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menduga-duga dan merabaraba apakah kehendak Allah itu. Tetapi kalau akal budi mereka diperbarui, mereka dapat mengenal dengan lebih jelas tentang apakah kehendak Allah seperti pada:

Keputusan

Roma 14:5 — “Yang seorang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.” Kata “hati” dalam bahasa aslinya adalah “akal budi”. Bagaimana kita dapat memutuskan sesuatu itu benar atau salah? Setiap keputusan (menentukan mana yang benar dan mana yang salah) adalah menurut akal budi masing-masing orang. Setiap orang boleh dengan jelas memutuskan dalam akal budinya. Jadi, jika ada kehendak Allah, setiap orang bisa dengan jelas memutuskan berdasarkan akal budinya.

Mengerti Alkitab

Lukas 24:45 — “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” “Pikiran” di sini dalam bahasa aslinya juga adalah “akal budi”. Mengapa Tuhan Yesus membuka akal budi mereka? Agar mereka mengerti Kitab Suci. Kita dapat mengerti Kitab Suci setelah Tuhan Yesus membuka akal budi kita. Begitu akal budi terbuka, Alkitab dapat dipahami. Itulah sebabnya setiap kali membaca Alkitab, kita harus berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku merendahkan diriku seperti seorang anak kecil di hadapan-Mu. Aku tidak tahu dan juga tidak paham tentang makna bagian ini. Berikanlah terang-Mu kepadaku.”

Belum tentu setiap kali kita membaca Alkitab, Allah lalu membuat kita paham atau memiliki kebenaran Allah. Adakalanya, ketika kita sedang berjalan-jalan, atau sedang bekerja, atau bangun tidur, Allah membuka akal budi kita, dan membuat kita mengerti tentang kebenaran. Begitu Dia membukakan akal budi kita, kita akan dapat mengenal dengan semakin penuh.

Menurut pengalaman saya dan juga pengalaman banyak orang lain, Allah tidak pernah mewahyukan suatu kebenaran secara menyeluruh sekaligus. Apa yang pertama-tama kita dapatkan dari pembacaan Alkitab adalah remah-remah dari seluruh kebenaran Allah. Secara berangsur-angsur, kita akan tahu seluruh kebenaran Allah itu. Misalnya, kita ambil contoh kebenaran tentang kekuasaan. Saya kenal seorang di dalam Tuhan yang telah empat atau lima tahun mendapat kebenaran ini. Tetapi Allah memperlihatkan kepadanya secara berangsur-angsur kebenaran kekuasaan itu seperti yang tercantum dalam Alkitab.

Berkhotbah

Pada suatu hari, ada seorang bertanya kepada saya, “Mengenai berkhotbah, haruskah kita mengadakan persiapan sebelumnya?” Saya menjawab, “Tidak perlu mempersiapkan, namun perlu setiap hari siap sedia.” Setiap hari kita harus menerima dari Tuhan. Kapan saja, kita harus dalam akal budi kita mendapatkan kebenaran yang Allah berikan kepada kita. Dengan demikian, cepat atau lambat kita akan mengenal suatu kebenaran secara penuh. Jangan hanya membuat persiapan khotbah selama dua jam. Itu tidak ada gunanya. Banyak orang rohani yang dapat menerima kebenaran dari Allah secara sistematis dan dengan sangat jelas sepanjang tahun. Allah memperlihatkan kebenaran-kebenaran itu kepada akal budi mereka sehingga mereka dapat merawat diri mereka sendiri, dan juga merawat orang lain.

PENGATURAN PIKIRAN

Akhirnya, mengenai kemajuan dalam hal pembaruan akal budi ini, ada bagian yang harus kita kerjakan, juga ada bagian yang harus Allah kerjakan. Kita harus ingat bahwa setiap akal budi yang diperbarui harus diletakkan di bawah pengaturan diri sendiri. Kita harus berlatih untuk memulai atau menghentikan pikiran. Kita harus dapat mengatur diri sendiri secara sangat alamiah. Jangan biarkan pikiranpikiran dari luar mengatur Anda; jika tidak, berarti Anda sakit. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus menganalisis pikiran kita. Kalau kita berbuat demikian, kita akan menderita sakit kepala. Mengendalikan pikiran harus dilakukan dengan cara yang alamiah, seperti menutup dan membuka kelopak mata, tidak memerlukan pikiran atau perintah, tetapi sangat alamiah. Memang pada awalnya diperlukan usaha, tetapi itu nantinya akan terjadi secara alamiah. Memang kita harus mengatur pikiran-pikiran kita, namun itu harus dilakukan secara wajar, secara alamiah. Jangan manganalisis pikiran-pikiran kita sendiri, karena jika demikian, kita akan jatuh ke dalam bahaya. Kita harus memperhatikan hal ini.

?