MASUK GEREJA
Ada orang mengira asal seseorang sudah menjadi orang Kristen, sudahlah baik; ia tidak perlu lagi mengambil bagian dalam gereja. Dengan kata lain, Kristus, aku mau; gereja, aku tidak mau. Aku dapat berdoa sendiri dengan baik, aku dapat membaca Alkitab, tetapi untuk "masuk gereja," berhubungan dengan orang lain, itu sangat merepotkan. Sebab itu banyak orang Kristen yang tidak mau masuk gereja. Dalam kepercayaan orang Kristen, pendapat demikian adalah pendapat yang tidak sehat dan tidak tepat. Setelah seseorang percaya Tuhan, bukan hanya di pihak negatif terpisah dari dunia, juga di pihak positif masuk dalam gereja. (Istilah "masuk gereja" ini bukan istilah yang terbaik, kami hanya terpaksa meminjamnya untuk memberi penjelasan.)
Bagian dari Keseluruhan
Menurut firman Allah, kita sebagai orang Kristen memiliki satu aspek yang bersifat korporat (bersama-sama).
Pertama, kita dilahirkan di dalam keluarga Allah. Kita adalah anak-anak dalam keluarga Allah. Keluarga Allah adalah keluarga besar, dan kita seharusnya bersama-sama dengan orang Kristen yang lain menjadi anak-anak dalam keluarga ini.
Kedua, semua orang yang telah beroleh selamat, dibangun menjadi satu rumah, menjadi satu tempat kediaman Allah yang membiarkan Allah tinggal di dalamnya.
Ketiga, kita semua adalah Tubuh Kristus, dan kita masing-masing adalah anggotanya. Kita saling beranggota, rapi tersusun dan terikat satu sama lain menjadi satu Tubuh.
Jadi, tidak peduli dari sudut mana Anda memandangnya, kita masing-masing adalah sebagian dari keseluruhan itu. Kalau kita menjadi orang Kristen yang individual (menyendiri), tidak mau berhubungan dengan orang-orang Kristen lainnya, maka kita tidak akan tahan lama, tidak akan memiliki pertumbuhan yang sehat sebagai orang Kristen. Orang Kristen yang bersikap demikian tidak akan mampu menjamah kaya limpah Allah, juga tidak akan dapat memancarkan terang hayat.
Lahir dalam Keluarga Terbesar
Dari aspek adanya banyak anak Allah, kita paham bahwa kita bukanlah anak tunggal dalam keluarga ini. Kalau Allah hanya melahirkan saya seorang, maka saya boleh tidak perlu berhubungan dengan orang lain, karena saya memang tidak memiliki saudara. Tetapi misalkan dalam keluarga saya, selain saya masih ada lima saudara dan saudari, maka saya tidak dapat berkata, "Saya hanya ingin menjadi anak ayah saya, kelima saudara saudari lainnya jangan merepotkan saya, saya tidak mau berhubungan dengan mereka!" Anda tentu tidak dapat berbuat demikian!
Kini, kita telah dilahirkan kembali, telah menjadi orang Kristen, kita harus tahu bahwa kita telah dilahirkan dalam satu keluarga terbesar dalam dunia ini. Dalam keluarga terbesar ini, kita masih memiliki jutaan saudara dan saudari. Dan dalam tuntutan hidup kita, kita perlu memiliki hubungan dan persekutuan dengan saudara dan saudari kita. Kalau di dalam Anda tidak ada minat berhubungan dengan saudara saudari yang lain, tidak ada minat mengulurkan tangan bergandengan bersama saudara saudari yang lain, saya ragu apakah Anda telah benar-benar dilahirkan kembali.
Keinginan untuk memperhatikan orang-orang Kristen yang lain sebagai saudara dan saudari adalah sesuatu yang berasal dari hayat Allah, di dalamnya penuh dengan kasih. Hakiki hayat Allah membuat kita tidak bisa menjadi orang Kristen individual. Kita tidak bisa hanya memperhatikan dan mencari keuntungan diri sendiri. Kita harus berhubungan dan memiliki persekutuan dengan jutaan anak-anak Allah lainnya, hidup dalam keluarga kasih, yaitu hidup dalam keluarga Allah.
Batu Hidup untuk Pembangunan.
Dalam Alkitab Perjanjian Baru, khususnya surat Efesus, banyak wahyu besar yang berhubungan dengan gereja. Dalam pasal dua kita dapati wahyu, bahwa gereja adalah tempat kediaman Allah. Yang Allah inginkan sejak dulu adalah satu tempat kediaman, atau dengan kata lain, Allah ingin mendapatkan satu rumah kediaman. Efesus pasal dua mewahyukan kepada kita tempat kediaman Allah adalah gereja.
Gereja menjadi tempat kediaman Allah karena kita masing-masing adalah batu-batu hidup. Batu-batu hidup itu kalau tidak terbangun menjadi satu, tidak dapat menjadi satu tempat kediaman. Seorang Kristen yang menyendiri, mungkin ia tidak akan menjadi batu mati, ia tetap hidup, tetapi ia hanyalah sebuah batu yang terpisah; sebuah batu yang tidak berguna dalam pembangunan tempat kediaman Allah, dan Allah tidak dapat tinggal di dalamnya.
Bukan itu saja, hayat baru dalam kita selalu membuat kita merasakan keharusan terbangun bersama batu-batu yang lain, agar menjadi satu tempat kediaman di dalam roh yang membiarkan Allah tinggal di dalamnya. Demikianlah hayat baru ini baru merasa nyaman. Kalau tidak, kita akan merasa bahwa kita adalah bahan yang tidak berguna seperti sampah. Saya harus menaruh diri saya ke dalam pembangunan Allah, dan karena saya ikut terbangun, maka tidak terjadi sebuah lubang. Karena saya ikut terbangun di dalamnya, maka saya pun dapat mengambil bagian dalam kemuliaan dan kemegahan bangunan itu.
Anggota-anggota Tubuh
Efesus 4 memberitahu kita, bahwa kita adalah Tubuh Kristus. Bahkan memberitahu kita bahwa "hanya satu tubuh". Hanya ada satu gereja dalam alam semesta ini. Satu Korintus 12:12 mengatakan, "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak." Ini lebih-lebih menampakkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat menyendiri atau merdeka sendiri.
Aku adalah orang Kristen. Aku telah menerima penebusan sempurna Tuhan, juga telah mendapatkan kasih karunia Allah yang sempurna. Tak diragukan lagi, aku adalah anak Allah. Tetapi dalam satu Tubuh yang besar ini, aku hanyalah salah satu anggotanya. Mungkin aku adalah satu anggota Tubuh yang besar, yang sangat berguna, namun aku tetap hanyalah salah satu anggota; aku hanyalah salah satu bagian dari tubuh. Aku harus bersandar pada anggota-anggota yang lain, bersama mereka menjadi Tubuh.
Misalnya, tubuhku memiliki mata, mulut, tangan, kaki; semuanya adalah anggota-anggota tubuh. Mataku akan berguna bila ia berada di kepalaku; kalau ia tertinggal di rumah, ia tidak akan berguna. Tanganku akan berguna kalau ia tetap berada di lenganku; kalau ia tersimpan di lemari besi, ia tidak akan berguna. Anggota tubuh mutlak tidak dapat meninggalkan tubuh. Kalau terpisah, anggota tubuh itu tidak akan berguna. Hubungan ini sungguh sangat serius.
Anggota tubuh yang terpisah dari tubuh tidak hanya tidak dapat berguna, juga sangat tidak sedap dipandang. Kalau ada sepotong kaki manusia tergeletak di bawah meja, atau Anda menemukan sebuah tangan ketika Anda sedang berjalan di jalan, bagaimanakah perasaan Anda? Jadi Anda mustahil terlepas dari Tubuh. Anggota-anggota Tubuh tidak dapat berdiri sendiri, atau merdeka sendiri, mereka harus melekat satu sama lain!
Hayat yang Saling Bersandar
Sebab itu, kita harus tahu, bahwa hayat yang kita dapatkan adalah hayat yang indah sempurna, tetapi belum lengkap. Allah tidak memberi kita hayat yang lengkap; hayat kita masing-masing adalah hayat yang bersandar pada hayat lain. Hayat yang kita terima dari Kristus adalah hayat yang saling membutuhkan, saling bersandar. Hayat ini tidak dapat menyendiri. Saya harus bersandar pada Anda, Anda harus bersandar pada dia. Hayat kita tidak dapat hidup tanpa yang lain, itulah sebabnya kita memerlukan gereja.
Ada lembaga dalam dunia ini yang mempunyai departemen yang terkait, dan universitas yang mempunyai fakultas yang terkait. Demikian juga kita, orang-orang Kristen, terkait satu sama lain, hidup dan berhubungan satu sama lain. Maka sejak hari kita beroleh selamat, kita harus belajar tidak menyendiri, kita masuk gereja dan menempuh hidup bersama anak-anak Allah yang lain.
Jadi masuk gereja bukan ditujukan kepada orang di luar kalangan orang Kristen masuk menjadi anggota gereja. Tetapi itu khusus ditujukan kepada orang-orang yang telah menjadi Kristen, agar mereka tidak menyendiri. Mereka masuk gereja, hidup sebagai orang Kristen bersama orang lain.
Satu Persoalan yang Rumit
Lalu, kita harus masuk gereja yang mana? Dulu, hal ini bukan satu persoalan besar, karena hanya ada satu gereja di atas bumi. Tetapi hari ini, perkara ini telah menjadi sangat rumit. Saat ini, hanya denominasi yang rapi dan terorganisir saja telah berjumlah lebih dari seribu lima ratus. Di beberapa kota, kita dapat dengan mudah menemukan seratus lebih organisasi yang menyebut dirinya gereja. Sebab itu, sebagai orang Kristen, tidaklah mudah memilih gereja yang tepat di antara seribu lima ratus lebih tanpa terpengaruh oleh orang lain.
Ada Jalan dalam Firman Allah
Memang sangat tidak mudah memilih gereja mana yang tepat dalam keadaan yang kacau demikian. Namun, jika Anda bersandar firman Allah, Anda akan menemukan sebuah jalan darinya. Terhadap masalah ini, firman Allah memberi petunjuk yang sangat jelas, agar kita tahu gereja mana yang seharusnya kita masuki.
Namun, kita harus tahu sedikit tentang perpecahan gereja, agar kita tahu apa yang Allah katakan dalam firmanNya kepada kita. Setelah kita memiliki daya pembeda, kita baru dapat sesuai dengan firman Allah memilih dan menemukan gereja yang seharusnya kita masuki.
Penyebab kekacauan dan perpecahan di antara gereja hari ini dapat diringkas dalam kategori-kategori berikut ini:
1. Perpecahan Karena Perbedaan Tempat
Karena perbedaan tempat (geografis), timbullah perpecahan. Misalnya gereja Anglikan atau Episkopal. "Anglikan" berarti "milik orang-orang Anglo". Dengan kata lain, gereja tersebut adalah milik orang-orang Inggris. Di kemudian hari, mereka menyebar sampai ke Amerika, juga mendirikan gereja di sana yang disebut Episkopal, yang tetap berarti gereja orang Inggris di Amerika. Kemudian juga menyebar ke Cina, juga disebut gereja Anglikan di Cina. Gereja Episkopal dari Amerika juga menyebar ke Cina, juga mendirikan gereja, mereka sebut gereja Episkopal Amerika di Cina.
Misalnya lagi gereja Roma Katolik, itu sebenarnya adalah gereja di Roma. Ketika datang ke Cina, mereka mendirikan gereja Roma Katolik di Shanghai, gereja Roma Katolik di Foochow. Inilah kekacauan Roma yang dibawa ke Shanghai, kekacauan yang dibawa ke Foochow. Banyak denominasi yang didirikan berdasarkan asal geografis telah mengacaukan gereja-gereja di seluruh dunia secara demikian.
2. Perpecahan Karena Perbedaan Waktu
Karena perbedaan waktu, timbullah perpecahan. Misalnya di Cina. Ketika Roma Katolik dibawa masuk pada dinasti Tang, mereka disebut Nestorian. Lalu Roma Katolik yang masuk pada dinasti Ming mendirikan gereja lain yang tidak ada hubungannya dengan Nestorian. Bahkan ketika mereka menyebar ke Shanghai, mereka juga mendirikan gereja yang lain, hanya karena perbedaan waktu. Demikianlah timbul banyak yang disebut gereja-gereja orang Kristen.
3. Perpecahan Karena Perbedaan Orang
Karena perbedaan orang, timbullah gereja yang tidak sama. John Wesley mendirikan suatu perhimpunan, dan akhirnya perhimpunan ini berkembang sampai ke seluruh bumi. Mereka memiliki organisasi dan administrasinya tersendiri, disebut gereja Wesley atau disebut gereja Metodis. Ada pula denominasi Lutheran, Lutheran muncul di mana-mana setelah kematian Martin Luther. Semua perpecahan ini disebabkan oleh orang. Masih banyak lagi organisasi kekristenan yang muncul karena perbedaan orang.
4. Perpecahan Karena Perbedaan Penekanan Kebenaran
Karena perbedaan penekanan kebenaran, timbullah gereja yang berbeda-beda. Orang-orang yang menekankan pembenaran oleh iman, mendirikan gereja Pembenaran Iman. Orang-orang yang menekankan Roh Kudus, mendirikan gereja Pentakosta, atau gerakan karismatik. Orang-orang yang menekankan pembaptisan haruslah seluruh tubuh terendam ke dalam air, mendirikan gereja Baptis. Orang-orang yang menekankan terjadinya para rasul, mendirikan gereja Rasuli. Dan masih banyak lagi.
Ada kelompok yang menekankan administrasi gereja yang otonom pada tiap-tiap gereja, mendirikan gereja Kongregasi. Yang menekankan para Penatua, mendirikan gereja Presbiterian. Yang menekankan bahwa para rasul adalah penerus Kristus, mendirikan gereja Apostolik, di mana seorang Penilik mengurus satu gereja.
Seribu lima ratus lebih denominasi terbentuk secara demikian. Masing-masing denominasi memiliki sejarah dan doktrinnya yang enak didengar dan beralasan. Kalau Anda hanya mendengarkan sejarah dan doktrin mereka, Anda sangat sulit mendapatkan jalan yang harus Anda tempuh. Hari ini, kalau Anda berada di suatu kota tertentu, Anda sangat sulit memutuskan gereja mana yang harus Anda masuki.
Satu Kota (Lokal) Satu Gereja
Tetapi Alkitab dengan jelas dan sederhana membicarakan masalah gereja, sedikit pun tidak ada kekacauan. Kalau Anda membaca Kisah Para Rasul, atau membaca kalimat pengantar surat-surat kiriman, atau membaca kitab Wahyu pasal pertama, Anda dapat melihat apakah yang disebut gereja itu. Di sana disebutkan "Gereja di Roma", "gereja di Yerusalem", "gereja di Korintus", "gereja di Filipi", "gereja di Efesus", "gereja di Kolose" dan seterusnya. Dalam kitab Wahyu pasal satu disebut tujuh gereja di tujuh tempat (kota,lokal).
Kita dapat melihat, Alkitab memang membeda-bedakan gereja. Tetapi cara pembedaan itu hanya satu, tidak ada cara kedua. Roma adalah nama sebuah tempat, Korintus adalah nama sebuah tempat. Efesus, Filipi, Kolose, . . . semua adalah nama-nama dari tempat demi tempat. Jadi, gereja dibedakan menurut nama tempat. Selain berbeda karena perbedaan tempat, tidak dapat berbeda karena alasan apapun. Gereja didirikan menurut tumpuan tempat. Anda tidak dapat menemukan perbedaan yang lain dalam Alkitab.
Tidak Boleh Lebih Besar atau Lebih Kecil dari Tempat
Karena itu, suatu gereja itu besar atau kecil, haruslah bertumpu pada kesatuan lokalitas. Yang lebih kecil daripada lokalitas tidak bisa menjadi tumpuan gereja, yang lebih besar daripada lokalitas juga tidak bisa menjadi tumpuan gereja.
Apa yang dimaksud dengan lebih kecil daripada lokalitas? I Korintus pasal satu menampakkan dengan jelas kepada kita, bahwa hanya ada satu gereja di Korintus. Kalau di antara mereka ada yang berkata, "Aku dari golongan Paulus", yang lain berkata, "Aku dari golongan Apolos", dan yang lain lagi berkata, "Aku dari golongan Kefas", juga ada lagi yang berkata, "Aku dari golongan Kristus", maka gereja akan terbagi menjadi empat bagian; dan setiap bagian akan lebih kecil daripada batas lokalitas. Alkitab menyebut keadaan demikian sebagai perpecahan dan perselisihan, bertindak menurut daging. Perpecahan semacam itu menimbulkan sekte-sekte yang tidak diperkenan Allah.
Namun, gereja juga tidak boleh lebih besar daripada lokalitas. Alkitab memperlihatkan kepada kita, Galatia adalah satu propinsi dengan banyak kota. Karena itu dalam Alkitab dipakai sebutan gereja-gereja di Galatia.
Asia juga merupakan satu wilayah yang luas dengan banyak kotanya, maka Alkitab menyebutnya tujuh gereja di Asia. Perhatikanlah, tidak pernah disebut suatu organisasi gabungan, melainkan tujuh gereja lokal.
Katakanlah di Foochow, maka Allah hanya menetapkan satu gereja, yaitu gereja di Foochow. Di Foochow seharusnya tidak ada beberapa gereja. Fukien adalah sebuah propinsi, maka di propinsi itu Allah tidak menetapkan satu gereja di Fukien. Yang lebih besar atau yang lebih kecil daripada lokalitas, tidak boleh menjadi tumpuan gereja.
Tidak Ada Nama Lain
Tidak hanya itu. Satu gereja hanya boleh disebut berdasarkan nama tempatnya (kotanya), tidak boleh dengan nama lain. Hal ini sangat jelas terlihat dalam Alkitab. Atas gereja, seharusnya tidak ada nama orang, tidak ada nama suatu sistem, tidak ada nama suatu negara, tidak ada nama asal-usul, tidak ada nama suatu patokan doktrin, dan sebagainya. Hanya dengan sangat sederhana memakai nama lokal di mana gereja itu berada.
Jadi Anda tidak sepatutnya mendirikan gereja Roma di Shanghai, atau gereja Anglikan di Foochow. Bahkan nama gereja Kristen di Cina, bukanlah nama yang sesuai dengan Alkitab. Di mana Anda berada, Anda berada di gereja di tempat itu. Kalau Anda ingin pindah gereja, maka Anda harus pindah ke tempat (kota) lain.
Lahir dalam Gereja
Setelah seseorang beroleh belas kasih Allah, percaya Tuhan Yesus, mendapatkan penebusan, dilahirkan kembali, mendapatkan hayat baru, saat itu ia pun harus tahu bahwa Allah telah menaruhnya dalam gereja. Sepertinya satu anggota tubuh, begitu ia terlahir, ia pasti hidup di dalam tubuh. Di sini kita memakai istilah masuk gereja, sebenarnya kurang tepat, karena Anda sebenarnya telah dilahirkan dalam gereja dan tidak perlu masuk gereja sekali lagi. Namun untuk pengenalan saudara dan saudari lainnya, untuk adanya hubungan dan persekutuan, Anda harus mencari gereja yang bertumpu pada tumpuan lokalitas. Katakan kepada mereka, "Aku orang Kristen, aku datang untuk bersekutu dengan kalian, marilah kita bersama di dalam Tubuh Kristus, menunaikan fungsi masing-masing." Dengan demikian, Anda akan dapat menempuh jalan yang lurus dan tepat pada jalan kekristenan, juga akan mengalami pertumbuhan yang pesat.
AIR MATA
“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbattMu.. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?"
Mazmur 56:9
"Dalam hidupNya sebagai manusia, la telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya la telah didengarkan."
Ibrani 5:7
Hari ini kita akan membahas satu judul, atau dapat juga disebut satu benda. Benda ini dimiliki oleh setiap orang, tetapi bukannya selalu memiliki; ini sering diperbuat, tetapi tidak setiap kali diperbuat. Benda apakah ini? Benda ini adalah air mata. Saya tidak tahu, apakah Anda mengetahui pentingnya air mata. Jika orang bisa mencucurkan air mata, itu adalah satu pernyataan yang baik. Seorang yang berbobot dan berpengalaman dalam hal rohani berkata, "Jika Anda memberikan kasih Anda kepada orang yang tidak dapat mencucurkan air mata, itu seperti menyerahkan uang kepada pencuri untuk dijaga." Perkataan ini adalah suatu fakta, kalau Anda menyerahkan sejumlah uang kepada seorang pencuri, itu sungguh sangat mengkhawatirkan, sama halnya dengan menyerahkan kasih kepada orang yang tidak dapat mencucurkan air mata, pasti akan mengecewakan. Karena di dalam dunia ini air mata adalah satu benda yang tidak boleh tidak ada. Boleh dikatakan, kalau seseorang tidak dapat mencucurkan air mata, orang itu sudah kehilangan ciri kemanusiaannya, terhitung seperti bukan manusia.
Saya tidak senang melihat orang yang tinggi hati sedemikian rupa sehingga menganggap mencucurkan air mata bukan keharusan bagi manusia. Menganggap tidak mencucurkan air mata adalah menyatakan ketegarannya; menyangka kalau dapat berbuat demikian berarti lebih tinggi daripada orang lain. Sebenarnya tidak demikian! Ijinkan saya berkata, "Mata yang kering menyatakan hati yang di dalamnya keras, suka melawan, tidak berperasaan, mati rasa seperti kayu atau batu. Sering kali air mata menyingkapkan isi yang ada di dalam hati seseorang. Boleh dikata, tidak ada suatu benda yang dapat menyingkapkan keadaan isi hati seperti air mata. Itulah sebabnya dikatakan, bahwa air mata adalah benda yang dapat menyatakan isi hati.
Bagaimana kita dapat mengetahui perkara ini? Misalnya, hari ini saya sangat sedih sedemikian rupa sehingga tidak dapat mengeluh, tidak dapat berkata-kata, tidak dapat makan, tidak dapat tidur, dan tidak dapat bekerja, cobalah bayangkan apa yang harus saya perbuat untuk menghilangkan kedukaan itu? Jika Anda bertanya kepada dokter, bagaimana cara mengobati orang yang berduka semacam ini, kalau dokter itu mengerti psikologi, ia akan menjawab, "Panggillah sahabatnya yang paling karib untuk bercakap-cakap, atau menceritakan beberapa hal yang menyenangkan kepadanya, demikian bisa mengurangi kesedihannya itu; atau mengajaknya bertamasya ke tempattempat yang indah; atau menyuruhnya berjalan-jalan di taman bunga; atau mendengarkan musik yang menyenangkan hati, agar ia melupakan kesedihannya." Akan tetapi, berbuat demikian tidak akan membawa basil. Jika dokter itu adalah orang yang berpengalaman terhadap kehidupan manusia, ia pasti akan berkata, "Biarlah dia menangis sepuas-puasnya, sesudah itu pasti beres." Ya, ketika Anda mendapat tekanan batin yang terlampau berat, tidak dapat menghindarkan diri dari hal itu, asal Anda mencucurkan beberapa tetes air mata, maka lenyaplah "tekanan" itu dan bereslah persoalannya. Sungguh ajaib, barang yang ada di dalam hati dapat keluar melalui mata. Seolah-olah mata adalah pintu keluar dari isi hati. Begitu air mata mengalir, hati segera terbuka.
Saya ingat, ada seorang yang cacat jasmani; karena tubuhnya yang cacat itu, ia sangat bersedih. Semua perkara tidak memuaskan batinnya, sehingga ia merasa jemu hidup di dunia ini. Penderitaan ini terpendam dalam hatinya selama tujuh tahun, seolah-olah seperti api yang terus membakar dirinya. Pada suatu hari, ia menghadiri suatu pagelaran musik, setiap orang yang hadir dan mendengar pertunjukan itu merasa sangat senang, musiknya sangat enak didengar, seakan-akan jiwa pendengarnya ikut terhanyut di dalam alunan musik itu; sungguh menyenangkan, sungguh indah. Tetapi, bagaimana dengan orang tadi? Ternyata ia mencucurkan air mata! Ada orang bertanya kepadanya, bukankah musik tadi sangat indah, mengapa engkau mencucurkan air mata? Ia menjawab, "Tadinya aku merasa sangat kesepian dan berduka, sekarang, setelah mendengarkan musik, air mata tercucur, segalanya jadi beres. Jadi, musik itu seolah telah membuat satu lubang dalam hatinya, agar air matanya dapat mengalir keluar. Tadinya kedukaan itu sudah membungkus hatinya, tetapi begitu air mata mengalir, kesedihan itu ikut mengalir keluar, demikianlah sifat insaninya ternyata. Sebelumnya, sifat insaninya terbelenggu, tertutup oleh rasa duka, kini terbebaskan oleh air matanya. Sebab itu mencucurkan air mata menyatakan bahwa orang ini masih memiliki sifat insaninya. Setelah ada air mata, baru bisa menyatakan sifat insaninya. Ada orang berpendapat bahwa mencucurkan air mata itu menunjukkan lemahnya seseorang, tetapi sebenamya tidak demikian. Sebaliknya, tidak mencucurkan air mata menyatakan keterbelengguan dan tidak adanya sifat insani.
Setiap orang yang hidup di bumi ini pasti memiliki air mata. Itulah sebabnya Tuhan kitapun bisa mencucurkan air mata. Meskipun Alkitab pernah mencatat Tuhan bersukacita, tetapi tidak pernah mencatat Tuhan tertawa; sebaliknya mencatat Tuhan mencucurkan air mata. Kita dapat melihat hal ini dalam Ibrani 5:7, bahwa Tuhan berkali-kali mencucurkan air mata, ini menyatakan bahwa Tuhan sering mencucurkan air mata. Yesaya pasal 53 mengatakan bahwa Tuhan sering mengalami penderitaan dan kesusahan.
Air mata sangatlah berharga, sebab hanya air mata yang dapat mencuci mata manusia. Di dunia ini terlalu banyak debu, lumpur, dan benda kotor lainnya yang setiap saat bisa mengotori mata Anda, untunglah ada air mata yang bisa setiap waktu mencuci bersih, supaya Anda bisa memiliki pandangan yang jelas. Jika mata tidak memiliki air mata, mungkin tidak ada satu matapun yang dapat melihat benda.
Air mata bukan hanya secara jasmani memiliki fungsi membersihkan, dalam hal rohanipun demikian. Mencucurkan air mata, bisa membuat pandangan mata lebih terang; demikian juga, jika kita tidak mencucurkan air mata, maka mata rohani kita akan kehilangan daya gunanya. Pernah sekali, D.M. Panton berkata kepada sepasang suami isteri muda, "Meskipun kalian berbahagia, tetapi masih kekurangan satu hal, jika kalian melakukan hal ini, maka sempumalah kebahagiaan kalian: Berdoalah agar Tuhan segera datang." Pada malam harinya, berkatalah sang suami kepada isterinya, "Sekali ini, bagaimanapun kita harus mendengar nasihat bapak tua itu. Marilah kita berdoa bersama untuk perkara itu." Demikianlah sang suami mulai berdoa dengan sungguh-sungguh hati, kemudian ia juga mengharapkan isterinya menyambung doanya. Tetapi sang isteri tidak mau berdoa. Sang isteri berkata kepada dirinya sendiri: Sekarang rumah tanggaku amat bahagia; di antara suami isteri sangat menyenangkan dan saling berpengertian; penghidupan dapat dikatakan memuaskan, tempat kediaman ada bahkan amat indah, buat apa aku memohon Tuhan supaya lekas datang? Biarlah berlambat-lambat saja. Tujuh bulan berlalu. Tiba-tiba suaminya meninggal dunia. Suatu hari, sang isteri bertemu lagi dengan D.M. Panton, ia memegang tangan D.M. Panton sambil menangis dan berkata, "Sejak bulan ketujuh itu, yakni setelah suamiku meninggal, setiap hari aku berdoa kepada Tuhan agar Tuhan selekas mungkin datang." Air mata mencuci matanya, sehingga ia bisa melihat dengan jelas.
Jika Anda pernah belajar ilmu anatomi tubuh, Anda pasti tahu, bahwa biji mata itu bagaikan kaca, harus sering dibersihkan, jika tidak, biji mata akan menjadi buram. Setiap kali kelopak mata berkedip, air mata membasuh biji mata. Demikian juga di dalam dunia rohani, jika tidak pernah mencucurkan air mata, pastilah mata rohaninya tidak pernah tercuci, sehingga tidak dapat melihat dengan jelas. Orang yang belum pernah terbentur, belum pernah menghadapi hal-hal yang tak diinginkan, belum pernah mengalami kesusahan hati, penderitaan, tekanan di dalam roh, maka terhadap banyak perkara, ia pasti tidak jelas, tidak mengetahui.
Ada sepasang suami isteri, di dalam Tuhan boleh dikatakan lumayan, mereka cukup bergairah bekerja untuk Tuhan. Tetapi tidak lama kemudian, anak kesayangan mereka meninggal dunia. Kemudian, dengan penuh amarah mereka berkata, "Mulai sekarang kami berdua tidak mau melayani Allah lagi. Kami telah dengan setia melayaniNya, Dia bukan saja tidak memberkati, malah membuat anak kami mati." Demikianlah mereka kemudian menempuh penghidupan sehari-hari dengan sesukanya sendiri, tidak lagi seperti dulu bergairah melayani, tidak mau menuntut kemajuan rohani. Demikianlah waktu berlalu sekitar 8 sampai 9 tahun. Pada suatu hari, si suami sedang berjalan di suatu belantara, terlihatlah olehnya seorang penggembala domba yang akan menyeberangkan kawanan domba melewati sebuah anak sungai. Pada masa itu, umumnya di anak sungai di desa-desa tidak ada jembatan yang baik, hanya ada papan-papan yang melintang yang menghubungkan kedua tepian. Bagi manusia, jembatan "darurat" itu masih boleh, tetapi bagi hewan, dalam hal ini kawanan domba, sangatlah sulit; karena domba adalah hewan yang penakut lagi bodoh. Sebab itu meskipun gembala itu mencambuk dan mendorongnya, mereka tetap tidak berani menyeberang. Gembala itu kehabisan akal, akhimya diangkatnya seekor anak domba kecil yang sangat disayangi oleh induk domba, digendongnya domba kecil itu dan ia menyeberangi jembatan itu. Demi dilihat induk domba itu bahwa anaknya yang disayangi dibawa ke seberang, segera ia memberanikan diri menempuh bahaya untuk mengikutinya, kemudian kawanan domba yang lainpun ikut menyeberang. Begitu melihat kejadian ini, si suami segera berkata, "Cukuplah." Sejak hari itu dia kembali dibangunkan. Di kemudian hari ia bersaksi, "Karena Allah tidak menghendaki aku tertinggal di seberang sungai ini, maka Dia telah membawa anakku menyeberang lebih dulu. Domba yang begitu bodoh saja mengetahui dan akhimya ikut menyeberang, mengapa aku masih saja berlambat-lambatan dan tidak mau segera menyeberang?"
Jadi, sering kali air mata dapat membawa manusia lebih dekat kepada Allah. Karena itu jika seseorang selalu menempuh jalan yang datar dan nyaman, tidak ada gangguan angin dan hujan, ia tidak dapat menjadi orang yang berbobot dalam hal rohani. Setiap orang yang hanya mau menjadi orang Kristen jika suasananya menyenangkan dan nyaman, sebaliknya jika menempuh hari-hari yang disertai air mata, maka ia akan berhenti di situ, tidak bisa mempunyai pengalaman yang berarti. Demikian juga, hari ini banyak sekali orang yang belum percaya kepada Tuhan, dikarenakan mereka belum pernah membentur penderitaan. Ya, di dunia ini, boleh saja seseorang siang malam tenggelam di dalam gelak tawa, makan minum, dan ia tetap menempuh hidup sebagai seorang manusia; kalau tidak ada suatu peristiwa yang luar biasa, ia juga boleh menempuh hidup dengan sembarangan. Tetapi setiap orang yang tidak bisa mencucurkan air mata, pasti tidak akan nampak terang. Karena itu tidaklah heran, jika sampai saat ini Anda masih demikian sembarangan, tidak kaman, mabuk dalam dunia, belum mendapatkan keselamatan. Hai orang-orang Kristen! Kalian begitu mengeraskan hati, tidak mau membasuh mata kalian dengan air mata, maka tidaklah heran jika di dalam perkara rohani kalian begitu bodoh dan buta.
Sekarang, mari kita melihat bagaimanakah Alkitab menyebutkan perihal air mata, dan apakah cara untuk menghadapinya. Hari ini saya tidak menganjuri Anda agar bergembira atau tertawa ria, melainkan menganjuri Anda bersedih hati dan menangis, sebab hari ini adalah waktunya untuk menangis, dunia ini adalah tempat untuk menangis. Sekali lagi saya katakan, setiap orang yang mengesampingkan air mata, ia adalah "orang yang tidak mengenal zaman dan tidak tahu kedudukannya di dunia ini. Oh! Orang yang tidak dapat mencucurkan air mata, sudah kehilangan sifat insaninya! Ya, mencucurkan air mata itulah makna sesungguhnya dari seorang manusia. Marilah kita melihat apa yang Tuhan kehendaki di atas diri kita. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, perihal air mata hanya beberapa puluh kali saja dicatat, tetapi saat ini kita tidak perlu membaca seluruhnya, cukuplah beberapa ayat saja. Yang akan kita bahas hari ini ada beberapa butir, yaitu apakah arti mencucurkan air mata; hubungan air mata dengan pertobatan orang dosa; hubungan air mata dengan doa dan pekerjaan orang Kristen; dan terakhir, bagaimana sikap Allah terhadap air mata.
I. ARTI MENCUCURKAN AIR MATA
Kadang-kadang orang mencucurkan air mata karena kegirangan yang luar biasa, tetapi pada umumnya, orang mencucurkan air mata karena berduka, mengalami tekanan yang sangat berat. Dengan kata lain, karena di dalam ada hal yang mendukakan, membuat kesal, hati mendapatkan tekanan yang terlampau berat, dan yang sulit diterima, maka air matapun mencucur. Tetapi justru di sinilah terjadi satu peristiwa yang mengherankan, yakni, pada saat air mata Anda mengalir keluar, batin Anda yang tadinya terasa berat kini tiba-tiba terasa lebih ringan, yang tadinya amat tegang, kini menjadi agak reda atau bahkan menjadi lega. Seolah-olah ada sesuatu yang ikut keluar dari dalam diri Anda bersamaan dengan mengalirnya air mata. Kalau tidak, tentu tidak mungkin yang tadinya terasa banyak barang di dalam diri Anda, sekarang menjadi berkurang; tadinya Anda sangat jengkel, sekarang telah berkurang, bahkan mungkin hilang. Jadi, di sini kita dapat nampak, bahwa mencucurkan air mata itu ada artinya, karena ia dapat membuang sesuatu yang terkandung di dalam hati seseorang. Dengan kata lain, air mata merupakan pintu keluar dari hati. Sekarang mari kita lihat bagaimana Alkitab menyinggung tentang air mata.
Ayub 16:20 mengatakan, "Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis." Inilah perkataan Ayub setelah ia menderita pukulan yang hebat dari Iblis dan cemooh dari ketiga sahabatnya. Saudara saudari, apakah Anda pernah dicemooh dan dihina oleh teman-teman Anda, dan Anda hanya menengadah kepada Allah sambil menangis? Berapa kali Anda disinggung oleh orang lain? Pernahkah Anda menderita kerugian atau difitnah orang lain? Ketika Anda mengalami hal-hal itu, pernahkah Anda menangis seperti Ayub? Tentu, menangis di depan orang, menyatakan kelemahan Anda, tetapi menangis di depan Allah sudah selayaknya. Saya sering berkata, "Berbahagialah orang yang pernah mencucurkan air mata di hadapan Allah." Sebaliknya, barangsiapa belum pernah mencucurkan air mata di hadapan Allah, orang itu tidak tabu apa artinya bersekutu, menghampiri Allah, lebih-lebih tidak tahu menyerahkan beban kepada Tuhan.
Seorang teman saya pernah bercerita tentang hal mencucurkan air mata. Katanya, "Bila di dunia ini Anda menemui jalan buntu, di mana-mana buntu, setiap orang menyalahkan Anda, dan keadaan di sekitar Anda menjemukan, teteskanlah beberapa butir air mata Anda di hadapan Allah. Itulah satu-satunya jalan untuk keluar dari kesulitan. Itulah satu-satunya jalan yang dapat menyelesaikan kesukaran." Perkataan ini benar. Setiap orang yang pernah mengalami hal ini dapat mengatakan hal yang serupa. Perkara ini tidak dapat dihindari, dan harus ditempuh oleh setiap orang Kristen. Jika Anda mau melayani Allah dengan setia, dan mau menempuh hidup Anda dengan beribadah kepadaNya, hal-hal tersebut di atas tentu akan menimpa diri Anda, dan teteskanlah air mata Anda. Boleh kita katakan, "Setiap orang yang setia, tidak mungkin tidak pernah mencucurkan air mata." Saudara saudari, bagaimana dengan Anda? Jika Anda pernah menyerahkan dukacita atau sukacita Anda kepada Allah, saya anjurkan, Anda juga menyampaikan air mata Anda kepada Allah.
Mazmur 6:7 mengatakan, "Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku." Saat itu, raja Daud sedang menderita sengsara, tubuhnya juga tidak kuat, maka menangislah ia setiap malam, sehingga air matanya menggenangi tempat tidurnya, membanjiri ranjangnya. Ijinkan saya mengatakan perkataan yang tidak enak didengar, "Setiap orang yang hanya dapat tertawa, namun tidak dapat menangis, ia adalah orang yang dangkal." Orang yang setiap hari hanya tertawa, ha, ha, hi, hi, batinnya pasti kosong melompong. Karena tidak ada seorangpun yang pernah digali hatinya oleh Allah yang tidak pernah menangis. Maka, air mata menyatakan isi yang ada di dalam seseorang, agar orang nampak bahwa itu berasal dari pekerjaan Allah. Tetapi yang diindahkan oleh Allah bukanlah air mata yang terbuka, yang terlihat oleh orang lain, melainkan air mata kita yang tersembunyi, yang hanya dilihat olehNya. Air mata yang "ditujukan kepada Allah," yang dicucurkan pada malam hari, adalah air mata yang berharga. Kita tabu, raja Daud adalah seorang yang pandai menangis. Dalam kitab Mazmur, ia beberapa kali menuliskan perihal ia menangis. Setiap kali ia berbuat dosa atau dalam penderitaan, ia lalu menangis di hadapan Allah. Sebaliknya, raja Saul tidak demikian; ia hanya bisa murka, tidak bisa menangis.
Telah kita lihat, bahwa mencucurkan air mata merupakan pemyataan dari berduka. Juga telah kita ketahui, bahwa dukacita dapat membuat orang berperasaan, sedang tertawa tidak dapat mengharukan orang. Karena tertawa itu hanya pada permukaan yang dangkal saja, tetapi berduka itu terbitnya dari dalam, maka dapat meresap ke dalam orang juga. Hal ini diakui oleh setiap orang yang berpengalaman di dalam penghidupan manusia. Mencucurkan air mata adalah pemyataan dari berduka, maka sebelum mata mencucurkan air, haruslah hatinya mencucur lebih dahulu. Seseorang yang hatinya tidak pedih, tetapi matanya mencucurkan air mata, itu tidak ada artinya.
Jadi, tahulah kita mengapa raja Daud dipimpin oleh Allah sehingga mencapai taraf yang begitu dalam, begitu berpengalaman; tidak lain karena ia banyak mencucurkan air mata. Banyaknya air mata yang ia cucurkan menyatakan banyaknya penderitaan dan kesengsaraan yang ia alami. Banyak pelajaran yang dipelajari dari kesukaran. Seperti yang dikatakan dalam surat Roma, bahwa penderitaan dan kesengsaraan akan membuat orang belajar sabar. Semoga kita ingat bagaimana Daud bisa menjadi raja, yakni berdasarkan tercucumya air mata. Jika tidak ada air mata sebagai pemeliharaan/pemupukan, ia tidak akan lebih dalam daripada orang lain.
Pada waktu umat Israel ditawan ke negeri orang kafir, orang-orang menertawai dan mengolok-olok mereka, "Apa lagi yang ada padamu? Bait Allahmu telah runtuh, negerimu telah musnah, di manakah Allahmu? Apakah yang kamu derita sekarang ini?" Di bawah keadaan yang sedemikian ini, bani Korah lalu menulis sebuah kidung: "Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: Di manakah Allah-mu?" (Mazmur 42:4). Saat itu mereka sangat menderita, orang-orang dengan perkataan yang menusuk mengatangatai mereka, agar mereka lebih menderita, maka mau tidak mau mereka mencucurkan air mata di hadapan Allah. Di dunia ini, orang yang membenci orang lain, selalu mencari kesempatan untuk menusuk orang yang dibencinya, jika tertusuk, maka giranglah orang itu; ia bersukacita atas penderitaan orang yang dibencinya itu. Musuh bani Israel pada masa itu juga demikian menusuk mereka, memaki serta mengata-ngatai mereka, agar mereka menderita. Pada saat demikian, mereka hanya bisa menangis. Tetapi sebentar lagi, kita melihat, bahwa Allah memperhatikan air mata mereka ini.
Pengkhotbah 4:1 mengatakan, "Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghiburmereka, karena di pihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan." Di sini kita nampak bahwa mencucurkan air mata itu disebabkan menerima perkataan yang tidak menyenangkan dari orang lain, atau menerima tindasan atau aniaya, sehingga timbullah rasa duka dan rasa kesal. Hal-hal itu menekan diri Anda, dan setelah melewati sejangka waktu, Anda tidak dapat menahannya lagi, demikianlah Anda lalu menangis.
Ratapan 1:2 mengatakan, "Pada malam hari tersedu-sedu ia menangis, air matanya bercucuran di pip; dari semua kekasihnya, talc ada seorangpun yang menghibur dia. Semua temannya mengkhianatinya, mereka menjadi seterunya." Kitab Ratapan ditulis oleh Nabi Yeremia, yang menuturkan pengalaman bani Israel setelah ditawan. Dari ayat ini kita tahu, bahwa bani Israel mencucurkan air mata disebabkan mengalami tipu daya musuhnya.
Dari ayat-ayat tersebut di atas, dapat kita ketahui, bahwa seseorang mencucurkan air mata disebabkan ia mengalami aniaya, tipu daya, sindiran, dan berbagai suasana yang tidak diinginkan. Jadi mencucurkan air mata adalah pemyataan dari terkena tindasan dan penderitaan. Demikianlah kita tahu, bahwa semua itu telah terjadi di atas diri Tuhan. Jika tidak, tentulah la tidak akan menangis dengan sedih. Menangisnya Tuhan menyatakan kepada kita, bahwa Iapun telah mengalami semua itu. Menangis bukan berarti tidak baik, melainkan kudus.
Menurut saya di dalam dunia ini, lebih baik mencucurkan air mata daripada tertawa! Di dalam dunia yang penuh dengan dosa dan percabulan ini, untung masih ada beberapa tetes air mata sebagai pencucinya; jika tidak, keadaannya pasti akan lebih buruk lagi. Di dalam zaman yang gelap dan penuh kejahatan ini, untung masih ada kehangatan beberapa tetes air mata yang menyatakan bahwa manusia masih memiliki sedikit perasaan; jika tidak, mungkin tidak lebih balk daripada lobang yang dalam, dan kegelapannya akan melebihi neraka. Kini, di bumi ini terdapat banyak bunga indah, untunglah ada air mata yang menyiraminya; jika tidak, mungkin sejak dini sudah menjadi layu. Dalam hubungan antara ibu bapa, suami isteri, sanak keluarga, dan teman-teman, untunglah masih ada beberapa tetes air mata yang mempertahankan; jika tidak, tentulah segera berubah menjadi suasana pada masa kesusahan besar. Kita tahu, bahwa Antikristus akan segera datang, untunglah ada air mata yang menghalanginya; jika tidak, penderitaan itu akan lebih hebat, dan dosa akan berlipat. Karena itu, air mata adalah arti sesungguhnya dari hidup manusia di dunia ini, yang menunjukkan bahwa ia masih memiliki sifat kemanusiaannya, dan masih memiliki perasaan dosa. Sebab di mana dosa berada, di sanalah air mata juga harus berada. Suasana yang menyedihkan, perkara yang mengkhawatirkan, kenangan masa yang silam, semuanya itu dapat membuat kita mencucurkan air mata. Banyak orang yang tidak dapat mencucurkan air mata, itu disebabkan mereka telah lupa akan sejarahnya yang lampau, telah lupa bahwa mereka sudah meninggalkan taman Firdaus, dan tidak mengetahui di mana kedudukan dirinya pada hari ini. Demikian juga dalam penebusan Allah. Jika tidak ada air mata, orang tidak akan dapat kembali ke tempat yang semula. Setiap orang yang melupakan pengalamannya yang lampau, ia tidak dapat mencucurkan air mata. Mencucurkan air mata adalah pemyataan atas ingatan terhadap perkara yang lampau sehingga merasa berduka.
II. FUNGSI MENCUCURKAN AIR MATA
1. Terhadap Hal Mendapatkan Karunia Keselamatan
Mencucurkan air mata bukanlah perkara yang dapat kita kuasai. Jika Anda berkata, "Menangis," lalu Anda segera bisa mencucurkan air mata, ini berarti pencucuran air mata Anda itu sama sekali tidak ada nilainya. Air mata yang mengalir keluar tanpa disebabkan kedukaan, sedikitpun tidak ada artinya. Meskipun perkara ini tidak dapat dikuasai oleh orang, tetapi ini dimiliki oleh setiap orang, dan akan terjadi pada setiap orang. Jika Anda berkata, bahwa selamanya Anda tidak pernah mencucurkan air mata, maka saya akan berkata, bahwa Anda benar-benar tidak berperasaan, dan Anda pasti bukan orang Kristen.
Sekarang ijinkan saya berkata kepada teman-teman yang belum percaya kepada Tuhan, tahukah Anda bahwa air mata dapat memimpin orang ke hadapan Tuhan Yesus? Air mata juga dapat menyebabkan orang lebih menghampiri Allah yang di sorga? Sebab air mata di sini dapat menyingkirkan penghalang itu, yaitu dengan pertobatan menyingkirkan dosa. Teman, bukankah Anda mengenal apakah dosa itu? Tahukah Anda, apakah kaitannya dosa dengan Anda? Pernahkah Anda menyesali dosa Anda sampai mencucurkan air mata? jika Anda belum pernah merasa menyesal dan sedih atas dosa-dosa Anda, saya tidak tahu, apakah Anda mempunyai hati atau tidak. Jika ada orang yang tidak mencucurkan air mata karena dosa, saya akan berkata, bahwa orang itu adalah batu atau kayu, tidak memiliki hati dan perasaan. Karena bagaimana sikap hati seseorang terhadap dosa, akan temyata melalui matanya. Oh! Dosa! Hari ini saya tidak perlu menyinggung dosa-dosa kepada Allah, asal saya sebutkan beberapa perbuatan dosa kepada manusia, Anda pasti bisa mengetahuinya. Cobalah renungkan, berapa banyak kita sudah bersalah kepada orang lain? Di antara orang-orang yang sering bertemu dengan kita, misalnya, orang tua kita, isteri, anak, saudara, kerabat, sahabat, kawan sekolah, teman sekantor, dan lainnya, entah berapa kali kita telah berhutang kepada mereka, berdusta kepada mereka, atau bersalah kepada mereka. Mungkin atas hal harta benda ada yang tidak benar, dalam pembukuan ada yang kurang beres, semua itu adalah dosa. Jika semua itu tidak dibereskan, Anda tidak bisa datang kepada Allah. Ini adalah satu perkara yang sangat serius! Tahukah Anda betapa berbahayanya dosa itu? Anda berdosa, Anda kini penuh dengan dosa, dosa-dosa itu akan membawa Anda masuk ke dalam lobang yang sangat dalam. Teman, bertobatlah! Berpalinglah kepada Tuhan! Cucilah dengan air mata Anda! Tidak salah, bahwa hanya darah yang dapat mencuci bersih dosa, tetapi ini adalah perkara yang pertama, masih ada yang kedua yang dapat mencuci dosa: air mata. Dengan kata lain, di hadirat Allah, dosa dicuci dengan darah; tetapi di dalam hati manusia; dosa dicuci dengan air mata. Satu fakta yang pasti, yaitu mencucurkan air mata di hadapan Allah selamanya tidak bisa mencuci dosa, hanya darah Tuhan yang bisa mencuci dosa. Tetapi darah itu juga meminta air mata. Ada darah Tuhan, namun tidak disertai air mata Anda, itu tidak bisa. Ada karunia penebusan Tuhan, namun tidak ada pertobatan diiringi hati yang membenci kejahatan dosa, selamanya tidak mungkin mencuci dosa. Maka jika kita ingin mempunyai pengalaman yang subyektif, namun tidak ada air mata, itu tidaklah mungkin. Sekarang marilah kita melihat bagaimana pengalaman orangorang zaman dulu.
Ratapan 2:18 mengatakan, "Berteriaklah kepada TUHAN dengan nyaring, hai puteri Sion, cucurkanlah airmata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kau berikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang!" Mengapa orang-orang Yahudi demikian mencucurkan air mata? Karena menyesal akan dosanya, karena Sion direbut musuh, Yerusalem diduduki, dan orang-orang Israel ditawan dan dibawa ke seberang timur sungai Efrat. Dalam keadaan yang tak berdaya ini, maka tercucurlah air mata karena dosa; karena negerinya yang runtuh, karena Bait Allah yang hancur. Semoga hari ini Anda bisa lebih banyak mencucurkan air mata, siang dan malam, bagaikan aliran air sungai.
Teman-teman sekalian, yang belum percaya kepada Tuhan, saya benar-benar mengharapkan kalian semua bisa mencucurkan air mata. Orang yang dapat tertawa akan dosanya, itu menyatakan bahwa ia tidak tahu apakah dosa itu, juga tidak tahu nasib dirinya. Orang yang belum pernah mencucurkan air mata, tidak akan tahu kasih Allah dan kemustikaan Kristus. Orang yang tidak pernah menangis karena dosa, tidak akan mengetahui sukacita terlepas dari dosa. Karena itu, mencucurkan air mata karena dosa adalah satu hal yang tidak boleh "dihemat". Adakah Anda bersalah kepada orang lain? Pernahkah Anda mencuri barang orang lain? Adakah Anda sombong? Adakah Anda memendam perasaan iri, dengki? Ya, dalam banyak hal kita berdosa kepada Allah, dan juga berdosa kepada manusia. Jika demikian, hanya ada satu perkara yang dapat membereskannya, yaitu menangis. Tetapi kalau hanya menangis pada lahiriahnya saja, namun di dalam hati tidak merasa pedih, itu sama sekali tidak ada gunanya. Maka, mencucurkan air mata bukan yang di lahiriah saja. Sumber mengalirnya air mata adalah hati. Hanya yang terbit dari dalam hati, yang kita rasakan sendiri, barulah dapat mengharukan orang lain.
Mencucurkan air mata karena pertobatan atas dosa lebih jelas tercantum dalam Perjanjian Baru. Lihatlah perempuan dalam Lukas 7:38: "Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekatkakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya. kemudian ia mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu." Juga ayat 44: ". . . tetapi dia membasahi kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambut." Teman-teman, pernahkah kalian mencucurkan air mata semacam ini? Banyak macam tangisan di dunia ini: ada yang dikarenakan putus asa, ada yang dikarenakan gelisah, ada yang dikarenakan terlalu sukacita (ini jarang sekali); adakalanya dikarenakan tertimpa penderitaan yang sangat hebat, adakalanya karena memendam benci, adakalanya dikarenakan marah-marah dan bertengkar. Karena itu menangis bisa disebabkan oleh berbagai macam alasan. Tetapi saya ingin bertanya kepada Anda, pernahkah Anda menangis sedemikian rupa seperti perempuan ini, yaitu menangis dikarenakan kepedihan yang amat sangat atas dosanya sendiri?
Darah Tuhan bisa mencuci bersih segala dosa manusia, tetapi jika tidak ditambah dengan air mata manusia, selamanya tidak akan berkhasiat pada manusia tersebut. Dulu Alexander menerima sebuah surat dari raja, isi surat itu penuh dengan tuduhan atas dosa-dosa ibunya, mencantumkan satu demi satu dosa-dosa ibunya, entah berapa banyak. Maksudnya ialah ingin mendakwa ibunya di hadapan Alexander. Kemudian Alexander membalas surat tersebut, di dalamnya hanya berisi satu kalimat yang mengatakan, "Setetes air mata di mata ibuku, telah mencuci bersih semua dosanya." Demikianlah perkara itu terselesaikan.
Tentu, tak peduli berapa banyak air mata Anda mengalir di hadapan Allah, semua itu tidak bisa menghapus sedikitpun dosa Anda. Tetapi pada aspek lain ada satu yang nyata, yaitu meskipun Yesus Kristus telah mati, pica tidak ditambah dengan air mata kita, maka khasiat darah itu tidak bisa menimpa diri kita. Karena itu tidak ada seorangpun yang belum pernah bertobat mengakui dosanya dan menangis di hadapan Tuhan yang bisa beroleh selamat menerima Tuhan. Tidak pernah terjadi perkara ini. Seorang yang benar-benar telah percaya Tuhan pasti memiliki pengalaman bertobat. Seorang saudara berkata, bahwa ada dua obat untuk menanggulangi dosa: pertama adalah darah Tuhan, dan yang lainnya adalah air mata diri sendiri. Meskipun perkara ini sangat mengherankan; tetapi ini adalah fakta. Ya, tidak ada satu orangpun yang bersandar darah Tuhan yang bisa tidak mencucurkan air mata. Lambang Perjanjian Lama juga menyatakan demikian. Yang tidak menyingkirkan ragi, tidak bisa memelihara hari raya Paskah; yang tidak makan roti tidak beragi, tidak bisa makan daging domba. Karena itu, darah adalah satu hal yang sangat penting, tetapi masih perlu ditambah dengan air mata pertobatan; jika tidak, tidak akan bisa lewat. Di tangan kita seharusnya ada darah Tuhan, kemudian ditambah dengan tetesan air mata, agar tetesan air mata itu berbaur dengan darah. Jika orang tidak pernah bersedih hati atas dosanya yang lampau, dia tidak mungkin beroleh selamat.
Dalam berita ini, yang ditekankan bukanlah fungsi air mata terhadap keselamatan, melainkan kita ingin membahas bagaimana seharusnya sikap saudara saudari yang telah percaya Tuhan terhadap air mata. Kita nampak dalam cerita perempuan tadi, dia memakai air matanya untuk menyeka kaki Tuhan. Ketika kita datang ke hadapan Tuhan, meskipun tidak memiliki minyak narwastu untuk mengurapi kepala dan kaki Tuhan, tetapi syukur kepada Allah, kita masing-masing bisa membawa air mata kita untuk dicurahkan kepadaNya. Meskipun minyak itu baik, tetapi air mata juga baik. Membawa air mata ke hadapan Tuhan, lebih baik daripada tidak membawa sesuatu apapun. Karena itu, marilah kita masing-masing membawa air mata kita yang masih hangat untuk Dia! Sekarang marilah kita melihat bagaimana ajaran Alkitab tentang kaum imani menggunakan air mata.
2. Terhadap Hal Berdoa
Mazmur 39:13 mengatakan, "Dengarkanlah doaku, ya Tuhan, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang padaMu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku." Berdoa mencucurkan air mata di hadapan Allah adalah cara yang sangat baik untuk mendapatkan jawaban Allah. Jika doa Anda ditambah dengan air mata Anda, doa Anda akan cepat mendapat jawaban. Banyak doa yang dipanjatkan tanpa minat, karena tidak memiliki air mata; jika Anda berminat, Anda boleh menambahnya dengan air mata. Demikian Anda boleh berkata kepada Allah, "Di bumi ini aku tidak lama, hanyalah sebagai penumpang dan pendatang, di bumi ini aku telah cukup menderita, mohon Engkau menjawab aku." Demikian Allah bisa mendengar doa kita. Meskipun air mata bukan suatu jasa, tetapi itu menyatakan apa yang ada di dalam hati Anda — mempunyai satu hati yang berminat. Semoga doa kita bisa ditambah dengan air mata agar Allah bisa mendengar doa kita.
Dua Raja-raja 20:5 mengatakan, “Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umatKu: Beginilah firman Tuhan, Allah Daud, bapa leluhurmu; telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi kerumah Tuhan. " Betapa baiknya ini! Allah telah melihat air mata Anda. Hizkia berdoa kepada Allah agar ia diberi umur panjang; ia berdoa sambil menangis, Allah lalu mendengar doanya. Ini berarti, Allah senang jika kita berdoa sambil mencucurkan air mata, doa yang disertai air mata bisa menggerakkan hati Allah. Karena itu perkara apa saja yang tidak bisa menggerakkan hati Anda sehingga Anda mencucurkan air mata, pasti juga tidak bisa menggerakkan hati Allah. Demikianlah kita di hadapan Allah boleh lebih banyak mencucurkan air mata. Mencucurkan air mata di hadapan manusia hanyalah menyatakan kelemahan Anda, menyatakan Anda tidak memiliki jiwa kesatria; tetapi jika di hadapan Allah tidak mencucurkan air mata, ini menyatakan bahwa Anda adalah kayu atau batu, yang mati rasa. Saya pribadi sangat menghargai ayat dalam II Raja-raja 20:5 ini, yaitu "Telah Kulihat air matamu." Karena itu, setiap kali kita menemukan kesulitan, penderitaan, tekanan, tidak ada jalan untuk maju, kita boleh menengadahkan kepala kita, di hadapan Allah mencucurkan beberapa tetes air mata, karena Allah bisa melihatnya. Tetapi jika tidak mencucurkan air mata di hadapan Allah, itu tidak ada gunanya. Orang yang menangis di dunia ini sangat banyak, menangisnya orang-orang itu hanyalah menyatakan kesedihan dan penderitaan mereka sendiri, tidak bisa menimbulkan perkara apapun. Air mata perlu ditambah doa barulah cukup. Setiap kali Anda meratap tangis, bersedih, tertimpa kesulitan, mengapa tidak menambahinya dengan doa? Anda boleh melalui doa memberitahukan penderitaan dan kepedihan Anda kepada Allah. Alkitab tidak hanya menampakkan bahwa Hizkia adalah orang yang demikian, bahkan Tuhan kitapun pernah berdoa dengan meratap tangis.
Dua orang saling bertangisan, itu tidak ada gunanya, tetapi jika menangis terhadap Allah, itu akan berguna, karena Allah melihat air mata mereka dan mendengarkan permohonan mereka. Ya, di hadapan Allah tidak ada setetes air mata yang tidak dihitungnya. Seperti yang dikatakan dalam Mazmur 56:9, "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Engkau taruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?" Ingatlah, semua ini adalah faedah dari mencucurkan air mata di hadapan Allah. Hai orang.yang berduka, jika penghidupan manusia membuat Anda menderita, tekanan yang Anda terima terlalu berat, hari-hari Anda lalui tanpa rasa, penuh dengan penderitaan, kelelahan, sangat banyak kesulitan yang tidak bisa membuat Anda lewat, menangislah di hadapan Allah. Ketahuilah, ini bukan perkara yang kosong. Allah akan mencatat setiap air mata yang Anda alirkan, juga akan menampung air mata Anda dalam sebuah kirbat, ini berarti Allah menaruh semua pengalaman penderitaan kita seperti menaruh air mata ke dalam suatu kirbat. O! Syukur kepada Allah, air mata kita tidak jatuh ke tanah dan lebur dengan debu tanah, melainkan tersimpan di dalam kirbat Allah. "Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?" Nyatalah Allah tidak melupakan, Allah memeliharanya, Allah mengingatnya.
Saudara saudari, ijinkan saya bertanya kepada Anda, tahukah Anda tangisan macam apa yang paling menyegarkan dan paling memiliki cita rasa? Kapankah seorang anak menangis dengan hebat, dengan penuh tenaga? Bukan karena menerima pukulan, atau merasa lapar, melainkan ketika ia diganggu oleh seseorang di luar rumah, sehingga ia kecewa dan frustrasi, begitu pulang dan berjumpa dengan ibu yang dikasihinya, ia segera menangis keras, tangisan ini boleh dibilang adalah yang paling hebat, sang anak akan menangis sekuat-kuatnya di pelukan ibunya. O, menangis di hadapan orang yang dikasihi adalah hal yang paling melegakan. Menangis di hadapan manusia pada umumnya tidak begitu berarti, tidak begitu terhitung. Lalu, di manakah seharusnya kita menangis, kapankah seharusnya menangis? Tentu harus di hadapan Allah yang paling kita kasihi dan yang paling bersimpati kepada kita. Di sanalah kita bisa menangis dan mendapatkan kelegaan, karena Dia memustikakan kita. Menangis di hadapanNya, paling bisa membuat kita merasakan kelegaan, karena Allah mau menyendengkan telingaNya untuk mendengar, dengan teliti melihat. Masih ada satu hal yang bisa membuat kita menangis karena sukacita, yaitu karena Dia akan melakukan sesuatu sesuai dengan permohonan kita. O! Tepat sekali, jika kita melakukan ini di hadapan Allah, kita akan melihat hasil yang sangat baik.
Mari kita melihat sebuah kisah tentang bapa dan anak, kisah ini bisa membuat Anda nampak lebih jelas, faedah berdoa sambil mencucurkan air mata di hadapan Allah. Markus 9:24 mengatakan, "Segera ayah anak itu berteriak sambil menangis: Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini." Saat ini, hatinya sungguh tidak tahan lagi, ia sangat membenci dirinya sendiri yang tidak percaya; di satu pihak melihat anaknya yang begitu menderita, meskipun telah berusaha dengan berbagai macam cara, masih belum bisa menyembuhkannya, maka sekarang mohon murid-murid Tuhan menyembuhkannya, namun juga tidak ada hasil, benar-benar membuat orang kesal. Di dalam keadaan yang demikian mengecewakannya, kesal, dan sumpek, dirinya benar-benar tidak bisa menguasai diri. Dia segera menangis dan berseru, mohon kepada Tuhan. Bagaimanakah hasilnya? Tuhan mendengar doanya, anaknya disembuhkan. Banyak doa yang tidak berkhasiat, itu ada penyebabnya, yaitu tidak ada air mata.
Dua Timotius 1:3-4 mengatakan, " . . dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Dan apabila aku terkenangakan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku." Mengapa di sini Paulus ingin bertemu dengan Timotius? Dikarenakan air mata Timotius. Dalam Alkitab tercantum bahwa orang-orang yang bekerja bagi Tuhan adalah orang-orang yang bisa mencucurkan air mata. Sebab itu saya yakin, tidak ada satu orang yang dengan baik bekerja bagi Tuhan yang boleh tidak mencucurkan air mata. Mencucurkan air mata adalah satu hal yang harus dimiliki seorang pekerja. Semua doa yang sesungguhnya paling balk disertai air mata di dalamnya, agar Allah mengingat Anda, mendengar permohonan Anda.
3. Terhadap Pekerjaan Tuhan
Sekarang marilah kita melihat hubungan dan kedudukan air mata terhadap pekerjaan Tuhan?
Yeremia 9:1 mengatakan, "Sekiranya kepalaku penuh air dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh! Yeremia benar-benar adalah orang yang bisa menangis, orang-orang menjulukinya sebagai nabi yang menangis. Mari baca lagi ayat 18, "Biarlah mereka bersegera dan meratap karena kita, supaya mata kita mencucurkan airmata, dan kelopak mata kita melelehkan air!" Pasal 13:17 mengatakan, "Jika kamu tidak mau mendengarkannya, aku akan menangis di tempat yang tersembunyi oleh karena kesombonganmu, air mataku akan berlinang-linang, bahkan akan bercucuran, sebab kawanan domba Tuhan diangkut tertawan. " Begitu orang tidak mau mendengar firman Allah, Yeremia segera menangis. Pasal 14:17 mengatakan, "Katakanlah perkataan ini kepada mereka: Air mataku bercucuran siang dan malam dengan tidak berhenti-henti; sebab banyak dara, puteri bangsaku dilukai dengan luka parah." Di sini dikatakan, karena orang Israel dilukai, maka dia menangis. Tidak ada satu orang yang baik-baik bekerja bagi Tuhan yang bisa tidak menangis. O! Jika Anda tidak bisa menangis demi pekerjaan, ini membuktikan Anda tidak memiliki hati terhadap pekerjaan tersebut. Orang yang memiliki hati, yang menaruh pekerjaan di dalam hatinya, tidak bisa tidak menangis. Adakalanya, dalam menanggulangi seseorang, menggunakan cara apapun tidak mempan, selalu gagal. Namun ketahuilah, masih ada satu cara yang bisa digunakan, yaitu mencucurkan air mata. Adakalanya menganjuri seseorang tetap tidak berguna, tetapi air mata adalah satu anjuran yang terakhir. Adakalanya terhadap peperangan telah memakai berbagai macam senjata, tetapi tetap tidak bisa menang; mencucurkan air mata adalah satu senjata yang terakhir. Orang mungkin akan menentang segala macam alat lainnya, tetapi di hadapan air mata, dia pasti menyerah.
Tidak ada orang yang mengasihi Tuhan yang tidak menangis. Kita harus bersedih bahkan sampai mencucurkan air mata bagi orang dosa. Kita harus mencucurkan air mata karena kemuliaan Allah dirugikan, juga harus memiliki hati yang mendesak sehingga menangis dengan sedih dikarenakan ketidakmampuan menanggulangi musuh. Tentu, setiap orang yang tidak memiliki hati untuk pekerjaan Tuhan, tidak akan memiliki pengalaman demikian; setiap orang yang memiliki hati untuk pekerjaan Tuhan, pasti akan menangis. Yeremia adalah salah satu nabi dalam Perjanjian Lama yang sangat dipakai oleh Tuhan, dia bisa mencapai kedudukan ini dikarenakan cucuran air matanya. Dia gelisah bagi anak Allah, bertanggung jawab, bahkan menangis siang dan malam. Ya, air mata adalah satu benda yang tidak boleh tidak ada pada diri kita. Karena dalam dunia ini memerlukan banyak air mata untuk mencucinya. Banyak orang saleh muda yang memerlukan air mata dalam pembinaannya, pendidikannya. Penghidupan rohani juga memerlukan air mata untuk mempertahankannya. Banyak orang dosa yang memerlukan air mata dalam penaburan benih kepada mereka. Tanpa air mata, pasti tidak bisa. Hari ini persembahan manusia sebenarnya tidak cukup banyak; banyak orang yang mempersembahkan tubuh, kekuatan, harta benda, waktu, tetapi tidak mempersembahkan air mata. Karena itu tidak heran, hari ini terlalu banyak pekerjaan yang tidak sempurna, terlalu banyak orang saleh yang tidak mendapatkan perawatan.
Jika kita menangis bagi pekerjaan itu, bagaimana akibatnya? Ketahuilah, air mata tidak akan terus-menerus mengalir, pasti berhenti pada saatnya. Bacalah kitab Yeremia 31:16, “Beginilah firman TUHAN. Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada pahala, demikianlah firman TUHAN mereka akan kembali dari negeri musuh" (Tl). Jika kita benar-benar menangis atas pekerjaan, Allah akan memberi pahala kepada kita.
Air mata tidak hanya diperlukan dalam pekerjaan Allah, tetapi juga diperlukan dalam hidup rumah tangga kita. Kita dapat melihat hal ini dari cara seorang ibu menghadapi anaknya. Kita tidak pernah melihat seorang ibu yang baik yang menguatirkan anaknya tetapi tidak pernah menangis untuknya. Di antara orang-orang Kristenpun demikian. Air mata yang dicucurkan seorang ibu karena anaknya sangatlah berkhasiat. Kembalinya anak yang hilang, sering kali disebabkan oleh air mata ibunya. Tidak peduli betapa dalamnya seorang anak telah jatuh, dan betapa jauhnya ia telah meninggalkan.rumah, asalkan ia memiliki seorang ibu yang baik menangis untuknya di rumah, cepat atau lambat anak yang hilang itu pasti pulang kembali karena air mata ibunya. Karena itu, orang yang melihat anaknya agak nakal, lalu gelisah, marah-marah, serta memukulnya, tetapi tidak menangis, itu tak akan berguna. Seorang ibu yang mempunyai segala kebajikan, tetapi kekurangan air mata, tidak dapat dianggap sebagai seorang ibu yang baik. Begitu pula dalam menghadapi orang dosa dan saudara-saudara yang masih muda. Memang baik dan bermanfaat bila Anda mengunjunginya, menolongnya, dan membacakan Alkitab kepadanya. Tetapi ada satu hal yang tak bisa kurang: Anda harus memiliki doa Yeremia, yang mengatakan, "Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata" (Yer. 9:1). Jika tidak, pekerjaan Anda tidak akan sempurna. Banyak pekerja Tuhan meminta kefasihan, kuat kuasa, pengetahuan, kesempatan, dan lainnya, semuanya itu baik; tetapi dalam pekerjaan Tuhan ada satu hal yang tidak bisa kurang, yaitu mata kita "mencucurkan air mata" (ayat 18).
Teladan ini bukan hanya terdapat dalam kitab Perjanjian Lama, melainkan juga terdapat dalam kitab Perjanjian Baru. Bacalah Kisah Para Rasul 20:19, “Dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyakmencucurkan airmata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang-orang Yahudi yang mau membunuh aku." Ayat 31 mengatakan, "Sebab itu berjaga jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang ma/am, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. " Bagaimanakah Paulus melayani Tuhan? Dengan segala kerendahan hati dan dengan mencucurkan air mata, siang dan malam. Jadi mencucurkan air mata adalah satu cara yang baik untuk bekerja. Sekali lagi saya katakan, tidak ada seorangpun yang bisa sempurna tanpa menangis. Mungkin saja seseorang baik dalam banyak hal, tetapi jika tidak pernah menangis, ia tidak dapat dikatakan sempuma. Dalam melayani Tuhan, kita harus memiliki air mata, baik di hadirat Tuhan maupun di depan manusia. Tentu saja, air mata semacam ini bukan yang dibuat-buat, melainkan harus keluar dengan spontan dari perasaan kita yang paling dalam.
Paulus berkata, bahwa tiga tahun lamanya dia mencucurkan air mata siang malam bagi mereka! Pernahkah Anda mencucurkan air mata sedemikian bagi pekerjaan Anda? Kalau ingin tahu apakah seseorang bergairah, tulus atau sepenuh hati, atau apakah hatinya sungguh-sungguh terhadap pelayanannya, yang perlu kita tanyakan kepadanya adalah: pernahkah ia mencucurkan air mata? Saya harus mengatakan dengan jujur, tanpa air mata tidak ada pekerjaan yang dapat berkembang. Jika kita kekurangan satu hal yang tersembunyi ini, kemajuan pekerjaa.n kita akan terhambat.
Surat II Korintus 2:4 mengatakan, "Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tabu betapa besamya kasihku kepada kamu semua." Kita tahu, Paulus menulis surat yang pertama kepada orang-orang Korintus setelah ia mendengar tentang keadaan kaum imani Korintus dari keluarga Kloe. Paulus menunjukkan semua kesalahan mereka dan menegur mereka dengan kata-kata yang sangat tegas dan keras. Kini dalam surat yang kedua, dia memberitahu mereka bagaimana dia menulis suratnya yang pertama. Ia berkata, bahwa dia menulis surat itu dengan hati yang sangat cemas dan sesak, dan dengan mencucurkan banyak air mata.
Saudara saudari, ketika Anda mendengar berita bahwa ada seorang saudara atau saudari telah mundur, apakah Anda akan menangis seperti Paulus? Menangis tidaklah mudah. Baik tertawa atau menangis memerlukan tenaga. Saudara. adakah Anda kekuatan untuk menangis? Sudah kita baca, betapa tegasnya perkataan Paulus kepada orangorang di Korintus, bagaikan pisau yang tajam. Di satu ternpat dia berkata, bahwa mereka harus mengusir orang dosa atau kalau tidak, dia akan berbuat sesuatu. Perkataan semacam ini benar-benar sukar diterima. Yang pasti: jika Anda menginginkan perkataan Anda menusuk hati orang, perkataan itu harus menusuk hati Anda dulu. Jika perkataan itu tidak pernah menusuk hati Anda, tidaklah mungkin perkataan itu menusuk hati orang lain. Paulus benar-benar orang yang demikian. Ketika dia menulis perkataan yang paling tegas dalam suratnya yang pertama, dia melakukannya sambil mencucurkan air mata. Sebelum ia mengatakan sesuatu, dan sebelum orang lain merasa pedih, dia sendiri sudah merasa pedih. Karena itu, jika Anda ingin orang lain merasa pedih, Anda sendiri harus merasa pedih lebih dulu. Tidak mungkin Anda hanya menginginkan orang lain saja yang berduka. Sebab itu seorang pekerja Tuhan harus sudah pernah mengalami mencucurkan air mata. Dengan kata lain, semua orang yang tidak mencucurkan air mata ketika melihat saudara mereka jatuh dan gagal, tidak patut melakukan pekerjaan Tuhan, dan tidak patut mencela atau menganjuri siapapun. Kalau Anda ingin menegur seorang saudara, atau kalau Anda ingin menunjukkan kesalahannya kepadanya, maka pertama-tama Anda sendiri harus merasakan kepedihan dan ketajaman kata-kata teguran itu, barulah Anda patut menegur. Mengatakan kekurangan orang lain itu mudah, tetapi tidaklah mudah mengatakannya sambil mencucurkan air mata. Namun, hanya orang yang memiliki air matalah yang patut mengucapkan perkataan itu.
Syukur kepada Tuhan, karena darah AnakNya dicucurkan di bumi dan tidak ditarikNya kembali, manusia bisa menerima keselamatan melalui darah ini. Syukur kepada Tuhan, karena air mata AnakNya juga tidak ditarik kernbali. Air mata itu memberitahu kita bahwa Dia selalu mengingat kita, juga mendorong kita untuk mencucurkan air mata di hadirat Allah maupun di depan manusia. Maka biarlah kita meneladani Tuhan kita dalam doa dan pekerjaan kita, dan semoga kita mencucurkan banyak air mata.
Mazmur 126:5-6 mengatakan, "Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambi/ menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya." Apakah Anda ingin bersaksi bagi Tuhan? Ayat ini menunjukkan caranya kepada Anda. Benih adalah Injil, dan berkas-berkas ialah keselamatan manusia. Kalau Anda menaburkan benih, Anda harus menyiramnya dengan air mata agar bertumbuh. Jika tidak ada air, benih tidak akan bertumbuh. Jangan mengira berbuah itu suatu hal yang mudah; Anda tidak bisa berhasil kalau tidak ada air mata. Di sini dikatakan, jika Anda mencucurkan air mata di hadirat Allah secara tersembunyi, Anda akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkas Anda. Sering kali Anda memandang pemberitaan Injil sebagai sesuatu yang biasa saja. Tidaklah mengherankan jika tidak ada yang bertunas dan bisa dituai. Air mata sangatlah penting bagi pekerjaan Anda. Pekerjaan apapun yang kekurangan air mata pasti akan gagal. Air mata menunjukkan hati Anda. Di mana air mata Anda, di sanalah hati Anda. Ini adalah satu fakta. Sungguh berbahaya, bekerja tanpa menaruh hati. Kiranya kita bergairah bagi pekerjaan Allah, dan semoga kita memiliki air mata yang khusus.
III. APA YANG ALLAH LAKUKAN TERHADAP AIR MATA KITA
Kini mari kita Iihat apa yang Allah lakukan terhadap air mata kita. Mazmur 56:9 mengatakan, "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, airmataku Kautaruh ke dalam kirbatMu. Bukankah semuanya te/ah Kaudaftarkan?" Dari ayat ini kita nampak, Allah ingat dan menghitung-hitung air mata kita. Allah tidak melupakan air mata kita setetespun.
Mazmur 80:6 mengatakan, “Engkau memberi mereka makan roti cucuran airmata. Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah-limpah." Mazmur 116:8 mengatakan, "Ya, Engkau telah me/uputkan aku daripada maut, dan mataku dari pada air mata, dan kakiku dari pada tersandung." Kedua ayat ini menunjukkan kepada kita, nampaknya Allah memberi kita air mata sebagai makanan dan minuman kita. O, kita harus menempuh hari-hari kita di bumi ini dengan mencucurkan air mata, bahkan berkawan dengannya. Dunia ini adalah tempat air mata. Hampir setiap gumpal tanah terbasahi oleh air mata, hampir tidak ada satu tempatpun yang kering. Di sini semua perkara menyebabkan hati kita berduka, dan setiap keadaan memedihkan hati kita. Tidak ada damai sejahtera di bumi ini. Meskipun demikian, Ia akan menyelamatkan mata kita dari air mata, dan menjaga kaki kita dari tersandung. Pada suatu hari, akan tiba saatnya kita meninggalkan dunia yang penuh air mata ini.
Wahyu 7:17 mengatakan, "Sebab Anak Domba yang ditengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka." Mereka yang disebut dalam ayat ini adalah gereja. Allah akan menghapus segala air mata dari mata setiap orang imani di bumi. Inilah janji Tuhan pada masa kesusahan besar dan sebelum masa milenium.
Setelah kerajaan seribu tahun, Tuhan berjanji kepada kelompok orang yang lain, dengan mengatakan, "Dan la akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Why. 21:4). Kelompok orangorang ini adalah orang-orang yang menjadi umat dalam kerajaan seribu tahun. Ini berarti semua orang yang sudah diselamatkan, entah mereka gereja, orang Yahudi, atau orang bukan Yahudi, akan mendapat janji Tuhan: “Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."
Saya menyukai Yerusalem Baru, bukan karena jalannya yang terbuat dari emas, atau pintu gerbang mutiaranya, melainkan karena penyertaan Tuhan. Tidak akan ada air mata di sana. Ketika kita mati, kita tidak masuk ke dalam keadaan yang penuh duka, melainkan beristirahat. Bila seseorang sudah lelah berjalan, ia akan tidur sebentar. Setiap orang sedang menunggu kedatangan hari itu. Kita tidak menunggu kematian. Ada yang sudah beristirahat hari ini. Jika Tuhan menunda kedatanganNya, ada orang yang mungkin beristirahat selama tiga puluh atau lima puluh tahun. Ada orang yang seperti Paulus, beristirahat sekitar dua ribu tahun sebelum tibanya hari itu. Syukur kepada Tuhan, kita dapat berhenti mencucurkan air mata ketika hari itu tiba, dan dunia ini akan berlalu.
Tuhan sudah menanggung segala derita kita, supaya kita tidak lagi menanggung derita. Syukur kepada Tuhan, sebab di sana tidak ada lagi kesedihan dan tidak ada lagi dosa. Jika ada dosa, maka ada kesukaran, penderitaan, dan air mata. Karena di sana tidak ada dosa, maka selamalamanya tidak ada lagi air mata. Syukur kepada Allah, harihari yang penuh dukacita dan hal-hal yang mendukakan tidak akan berlangsung terus. Yerusalem Baru akan segera datang, dan dunia yang penuh air mata ini akan segera berlalu. Ketika kita sudah di sana, segala penderitaan akan lenyap; sebab bila dosa disingkirkan, penderitaan akan tersingkir juga.
Pada hari itu, Tuhan akan mengaruniakan kepada kita suatu tubuh kebangkitan. Seorang saudara dalam Tuhan mengatakan, menurut dia tubuh itu serupa dengan tubuh kita hari ini, yang dilengkapi dengan beraneka anggotanya, semuanya serupa, hanya sudah melewati suatu pengubahan. Akan tetapi, dalam tubuh yang sudah melewati pengubahan itu, tidak akan ada satu hal, yaitu air mata pada mata kita. Karena mencucurkan air mata adalah perkara pada malam hari, dan sekarang itu tidak ada gunanya lagi.
Syukur kepada Allah, kita ini berbahagia, sebab bejana tanah ini tidak akan selalu bekerja dan berdoa di bumi ini. Tetapi jika kita masih di bumi ini, kita dapat merasa puas di dalam Allah. Namun ini juga tidak bisa berjalan lama. Oh, hari itu segera tiba! Saya sangat mengharapkan hari itu segera tiba.
Terakhir, saya akan mengambil sebuah cerita sebagai penutup. Pada akhir perang Eropa, banyak prajurit yang terluka berat di kedua belah pihak, baik Prancis maupun Jerman; banyak yang hampir menemui ajalnya. Di antaranya ada satu tentara bangsa Prancis yang terluka. (Ia adalah orang Kristen). la mengambil satu botol air dan memberikannya kepada salah seorang tentara Jerman. (Tentara Jerman inipun orang Kristen). Pada saat itu, keduanya sudah hampir mati. Sehabis minum air, tentara Prancis itu lalu berjabat tangan dengan tentara Jerman itu dan berkata, "Di sana, tidak ada lagi peperangan." Sesudah berkata demikian, kedua tentara itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Oh! Biarlah di sini kita juga berkata, "Di sana, tidak ada lagi air mata."
SATU DOA YANG MEMINTA WAHYU
PENDAHULUAN
Tergantung pada Melihat
Tujuan penebusan Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita, supaya kita sepenuhnya berbaur menjadi satu dengan-Nya, memiliki hayat dan sifat-Nya, serta diubah sehingga sepenuhnya serupa dengan-Nya. Allah telah menaruh diri-Nya dan segala hakiki-Nya ke dalam Anak-Nya, Kristus, dan melalui Kristus, Allah diberikan kepada kita. Ini berarti Dia telah memberikan diri-Nya sendiri dan segala hakiki-Nya kepada kita. Kristus juga telah di dalam tubuh daging, melalui kematian di salib, menggenapkan semua prosedur yang membuat kita bisa mendapatkan Allah dan segala hakiki Allah. Melalui kebangkitan, Dia masuk ke dalam Roh Kudus, dan melalui naik ke surga Dia kemudian dalam Roh Kudus turun kembali dan masuk ke dalam setiap orang yang menerima-Nya.
Sampai taraf ini, segala hal yang berkaitan dengan keselamatan kita, telah Allah rampungkan bagi kita di dalam Kristus, juga telah Allah terapkan ke atas diri kita di dalam Roh Kudus. Lagi pula, sampai taraf ini, Allah sendiri dengan segala hakiki-Nya, telah di dalam Kristus melalui Roh Kudus masuk ke dalam kita, untuk kita miliki. Allah berada dalam Kristus, Kristus berada dalam Roh Kudus, dan Roh Kudus masuk ke dalam kita. Sebab itu, kita mendapatkan Roh Kudus berarti kita mendapatkan Kristus; mendapatkan Kristus berarti mendapatkan Allah dan segala hakiki Allah. Juga, karena kita di dalam Roh Kudus bersatu dengan Kristus, maka apa yang Kristus alami dan yang Kristus capai — seperti mati, bangkit, naik ke surga, memasuki kemuliaan, dan lain-lain, juga menjadi pengalaman dan pencapaian kita. Jadi, hari ini Allah dan segala hakiki Allah, serta yang dialami Kristus, yang dicapai Kristus, semua telah menjadi milik kita! Di dalam karunia keselamatan Allah kita telah mendapatkan kesemuanya ini! Apa yang hendak Allah berikan kepada kita dan apa yang Allah lakukan bagi kita, semuanya telah kita dapatkan. Kita tidak bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Persoalan kita selanjutnya adalah tergantung pada nampak apa yang telah kita dapatkan. Semoga kita bisa mengikuti Rasul Paulus, memiliki satu doa yang meminta wahyu!
Witness Lee
SATU DOA YANG MEMINTA WAHYU
"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih la telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia kita beroleh penebusan oleh darah-Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab la telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi. Aku katakan di dalam Kristus; karena di dalam Dialah kami diberi warisan — kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya — supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar Firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya la memberikan kepadamu Roh (roh. Tl.) hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya la menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu."
Efesus 1:3-23
Kita percaya, ketika kita mulai mengenal Allah, juga mengenal perbuatan Allah, mengenal rencana Allah yang ditetapkan dari semula, kita makin lama makin nampak betapa limpah, dalam, dan istimewa terang yang Allah berikan kepada kita dalam Surat Efesus. Ada satu hal yang tidak bisa tidak kita perhatikan di hadapan Allah, yaitu dalam Surat Efesus, Allah menyuruh Paulus memohonkan dua doa: satu di dalam pasal 1 ini, yang kedua di dalam pasal 3. Doa dalam pasal 1 adalah yang mendasar, doa dalam pasal 3 adalah untuk pembangunan. Dalam pasal 1, doa Paulus bertujuan agar kita mengetahui hubungan kita dengan Tuhan; dalam pasal 3, doa Paulus bertujuan agar kita tidak hanya mengetahui hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga agar kita mengetahui hubungan kita dengan gereja. Di sini, yang akan kita bicarakan adalah doa Paulus dalam pasal 1.
Doa Paulus di sini mengatakan, "Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Is memberikan kepadamu roh hikmat dan wahyu" (Tl.). Untuk apa Paulus menghendaki mereka mendapatkan roh hikmat dan wahyu? Untuk mengetahui beberapa hal di bawah ini:
Ayat 17: "Untuk mengenal Dia dengan benar." Kalimat ini menurut bahasa aslinya lebih tepat diterjemahkan "benar-benar mengenal Dia". Yaitu mengenal diri Allah sendiri.
Ayat 18: “Agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus. " Ini mengacu kepada rencana kekal Allah, dan kegenapan rencana kekal Allah. Panggilan Allah adalah memanggil kita menjadi anak-Nya. Anak-anak ini kelak menjadi warisan-Nya. Panggilan Allah sudah ditentukan sebelum dunia dijadikan. Dalam kekekalan yang akan datang, Allah akan mendapatkan warisan dalam kaum saleh-Nya, warisan ini mempunyai kemuliaan yang betapa kayanya. Dalam kekekalan yang lampau, Allah mempunyai satu penentuan; dalam kekekalan yang akan datang, Allah mempunyai satu perolehan. Keduanya digabungkan menjadi satu, inilah rencana dan tujuan kekal Allah. Yang Paulus hendaki untuk kita ketahui adalah rencana kekal Allah.
Ayat 19: "Dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar." Ini membuat kita tahu, dengan kekuatan apa hari ini Allah mencapai tujuan-Nya, menggenapkan rencana-Nya. Hal ini khusus menyinggung tentang hubungan kita dengan Dia pada hari ini, dan hubungan kita dengan rencana kekal-Nya.
Di hadapan Allah, kita harus mengetahui dan menerima wahyu tentang hal-hal ini.
Benar-benar Mengenal Dia
Di sini Paulus meminta kepada Allah, supaya Ia memberikan kepada kita roh hikmat dan wahyu, supaya kita mengetahui beberapa hal, pertama adalah "benar-benar mengenal Dia". Supaya kita benar-benar bisa mengenal Allah, ini adalah satu hal yang sangat ajaib.
Ketika Paulus berjalan-jalan di Kota Atena, dia menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: "Kepada Allah yang tidak dikenal" (Kis. 17:23). Saat itu orang Atena mengira Allah tidak bisa dikenal. Mereka tidak bisa mengenal Allah dengan pikiran ataupun dengan filsafat mereka. Mereka bisa mengira-ngira, mereka juga bisa menerka, tetapi mereka tetap tidak bisa mengenal Allah. Sama seperti sebagian orang pada hari ini, meskipun mulut mereka mengatakan ada Allah, tetapi tidak pernah mengenal Allah.
Menjelang Tuhan Yesus meninggalkan dunia ini, Dia berkata, "Inilah hidup yang kekal, yaitu dame mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yoh. 17:3). Dia memperlihatkan kepada kita apakah hidup kekal itu. Hidup kekal ialah mengenal Allah. Sebab itu, kaum saleh di Efesus sudah mengenal Allah; Anda tidak bisa berkata bahwa kaum saleh di Efesus belum mengenal Allah, karena mereka sudah memiliki hidup yang kekal. Tetapi di sini Paulus menambahkan satu doa, yaitu meminta kepada Allah, "Supaya Ia memberikan kepadamu roh hikmat dan wahyu untuk benar-benar mengenal Dia." Ini memperlihatkan kepada kita, memang orang Atena tidak mengenal Allah; tetapi seorang Kristen yang sudah mendapatkan hidup kekal, yang sudah mengenal Allah, pengenalannya itu masih belum cukup.
Ketika kita baru percaya Tuhan, atau setelah percaya Tuhan beberapa tahun, kita tidak bisa berkata bahwa kita tidak mengenal Allah, kita ada sedikit mengenal Allah. Tetapi sering kali, kita masih perlu dibantu oleh pikiran, masih perlu dibantu oleh perasaan, baru bisa menempuh jalan yang di depan kita. Kita mempunyai sedikit pengenalan terhadap Allah, tetapi di luar pengenalan yang sedikit ini, kita masih perlu dibantu oleh pikiran. Kalau kita tidak memiliki begitu banyak pikiran, kita akan merasa bahwa pengenalan kita terhadap Allah ini tidak bisa diandalkan, alasan yang demikian ini tidak cukup. Sebab itu kita sering memerlukan bantuan dari pikiran agar bisa mempertahankan diri kita sebagai orang Kristen. Kalau tidak ada bantuan dari pikiran, kalau dalam alasan atau doktrin ada hal-hal yang terasa tidak bisa tembus, sepertinya kita tidak bisa menempuh perjalanan yang di depan. Sering kali pula kita masih perlu dibantu oleh perasaan, perlu perasaan yang hangat, perlu perasaan yang gembira, perlu perasaan yang riang; di luar pengenalan terhadap Allah, kita masih perlu menambah perasaan-perasaan ini, baru bisa menempuh perjalanan di depan kita.
Tetapi pada suatu hari, ketika Allah memberi kita roh hikmat dan wahyu, sekali lagi secara khusus dan lebih dalam mewahyukan diri-Nya kepada kita, supaya kita tidak saja mengenal Dia, tetapi juga benar-benar mengenal Dia, saat itulah kita akan berkata, "Aku sudah tahu, aku sudah nampak, aku sudah jelas, aku tidak perlu bantuan apa pun, tidak perlu dibantu oleh pikiran, juga tidak perlu dibantu oleh perasaan, aku sudah benar-benar mengenal Allah."
Mungkin ada orang tidak begitu paham terhadap pengertian ini, sebab itu, marilah kita mengambil satu atau dua perkara sebagai contoh untuk menjelaskannya. Pernah ada seorang Kristen berkata demikian, "Aku sudah percaya Tuhan selama 20 tahun. Pada 2 tahun yang pertama, aku harus mengeluarkan tenaga untuk percaya. Kalau ditanya apakah aku sudah beroleh selamat, aku benar-benar telah beroleh selamat, siapa pun tidak bisa mengatakan aku belum beroleh selamat. Aku tahu bahwa aku sudah beroleh selamat; aku juga tahu bahwa aku memiliki hidup yang kekal. Tetapi aku mempunyai satu kesulitan, yaitu ketika orang bertanya kepadaku, apakah aku percaya kepada Allah. Aku menjawab bahwa aku percaya kepada Allah, tetapi aku harus berusaha dengan susah payah untuk mengatakan `percaya'. Aku sepertinya harus memegang erat-erat diriku untuk percaya. Kalau tidak, aku takut kalau aku akan berubah menjadi orang yang tidak percaya Kristus. Aku mengeluarkan banyak tenaga untuk percaya. Apakah aku percaya kepada Allah? Aku percaya. Apakah aku benar-benar mengenal Allah? Tidak tahu. Aku perlu memakai banyak alasan, aku perlu memakai banyak doktrin untuk melindungi kepercayaanku. Perlu alasan yang tembus, perlu doktrin yang tepat, barulah aku merasa lega dan juga baru dapat bercerita kepada orang lain tentang kepercayaanku. Aku perlu dibantu oleh pikiran, baru bisa menjadi orang Kristen. Tetapi hari ini, aku bisa bersaksi, aku tidak demikian lagi. Hari ini aku bisa berkata bahwa aku mengenal Allah. Aku tidak perlu dibantu oleh alasan untuk percaya, aku tidak perlu memakai bukti yang di luar untuk melindungi kepercayaanku."
Saudara saudari, benar-benar mengenal Allah adalah demikian, yaitu satu pengenalan yang berasal dari wahyu. Bukan doktrinnya baik, tetapi dalam batin Anda mengetahuinya. Tidak seperti pengenalan ketika baru beroleh selamat, bagaikan memegang sebuah gelas yang penuh dengan air, perlu dipegang dengan hati-hati; kalau tidak hati-hati, airnya akan tumpah. Banyak orang percaya Tuhan Yesus bagaikan memegang sebuah gelas yang penuh dengan air, ketika berjalan harus hati-hati sekali. Ia takut mendengarkan ini, juga takut mendengarkan itu. Tetapi pada suatu hari, begitu Allah memberi wahyu kepadanya, dalam batinnya ia mengenal Allah, benar-benar mengenal Allah, benar-benar nampak Dia; demikian, apa saja tidak menjadi masalah. Saudara saudari, kalau Anda benar-benar mengenal Dia, sekali-pun seluruh orang di dunia percaya, itu tidak akan lebih membantu Anda; sebaliknya, sekalipun seluruh orang di dunia tidak percaya, tetap tidak akan menggoyahkan Anda. Sekalipun perkataan orang lain kelihatannya masuk akal, sekalipun orang lain berkata bahwa Alkitab itu palsu, alasan untuk tidak percaya lebih banyak daripada alasan untuk percaya; tetapi, tidak peduli berapa banyak alasan, semuanya tidak bisa menggoyahkan Anda. Anda bisa dengan berani berkata, "Aku mengenal dari lubuk batin. Pengenalanku lebih dalam daripada pikiran, pengenalanku lebih dalam daripada perasaan. Pengenalan dalam lubuk batinku tidak bisa digoyahkan oleh hal-hal yang di luar."
Ini benar-benar adalah satu perkara yang besar. Banyak orang Kristen hidup bersandarkan perasaan. Kalau hari ini ia merasa gembira, lalu mengatakan Allah benar-benar memberkati dirinya. Kalau hari ini ia merasa semuanya dingin dan tawar, ia hampir-hampir mengatakan, sebenarnya Allah berada di mana, sungguh sulit mengetahui keberadaan-Nya! Banyak orang bersandarkan perasaan untuk menopangnya, begitu tidak ada perasaan, mereka segera goyah, tidak bisa berdiri teguh. Keadaan ini dikarenakan mereka belum benar-benar mengenal Allah. Kita perlu dibawa oleh Allah sampai tahap ini: Tidak peduli aku merasa dingin atau panas, tidak peduli aku merasa tawar atau gairah, semuanya tidak masalah, karena aku sudah mengenal Allah. Pengenalanku lebih dalam daripada kegembiraanku, pengenalanku lebih dalam daripada penderitaanku, pengenalanku lebih dalam daripada perasaan apa pun. Meskipun di luar ada kegembiraan, ada penderitaan, ada berbagai macam perasaan, tidak peduli bagaimana perasaanku, dalam lubuk batin aku mengenal Dia. Saudara saudari, hanya orang yang demikian baru bisa berdiri teguh, hanya orang yang demikian baru bisa tidak goyah, hanya orang yang demikian baru bisa dipakai oleh Allah.
Dulu ada seorang saudara, tidak lama setelah dia percaya Tuhan, ada seseorang berkata kepadanya bahwa dalam Alkitab ada beberapa tempat yang salah. Dia merasa gelisah hingga hampir menangis; karena dia percaya Alkitab itu benar, bagaimana bisa di dalamnya ada kesalahan? Tetapi orang itu membuka Alkitab lalu menunjukkan, beberapa tempat yang menurut orang itu dianggap salah. Saudara ini sedikit takut, dia pikir, kalau benar ada kesalahan, bagaimana menghadapinya? Lalu ia membawa persoalan ini kepada seorang saudari tua. Pikirnya, saudari ini mengasihi Tuhan, juga mencintai Alkitab, kalau melihat ada kesalahan-kesalahan ini dalam Alkitab, pasti juga gelisah. Tetapi anehnya, setelah saudari itu mendengarkan perkataannya, sepertinya tidak ada masalah, hanya berkata, "Ini tidak menjadi masalah." Saudara ini berpikir: Bagi Anda ini tidak menjadi masalah, tetapi bagiku ini adalah masalah. Sebab itu dia meminta saudari tua itu memberi penjelasan kepadanya tentang pertanyaan-pertanyaan itu. Saudari itu malah berkata, "Mengenal Allah tidak tergantung pada jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini." Dalam hati saudara ini masih berpikir: Bagi Anda yang sudah tua, mungkin bisa tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi bagiku orang yang masih muda, yang memiliki otak yang bisa berpikir, tidak bisa dengan begitu saja melewatkan perkara ini. Kemudian saudara ini memakai waktu satu tahun baik-baik mempelajari pertanyaan-pertanyaan itu. Akhirnya dia menemukan bukti bahwa Alkitab tidak salah, Alkitab itu benar, barulah hatinya merasa lega. Sebenarnya, kalau saudara ini benar-benar mengenal Allah, ia tidak perlu khawatir selama satu tahun. Saudara saudari, kalau Anda benar-benar mengenal Allah, sekalipun ada lebih banyak lagi pertanyaan, tidak perlu khawatir, tidak akan terganggu. Orang bisa membuktikan ini, juga bisa membuktikan itu, kita orang Kristen juga bisa membuktikan satu hal — Allah adalah Allah, kita mengenal Allah kita. Allah itu sangat rill; kalau sudah mengenal, ya pasti mengenal. Kalau benar-benar mengenal Dia, semua urusan akan beres. Bukan alasannya masuk akal, bukan doktrinnya jelas sekali, melainkan tergantung pada wahyu. Kita tidak boleh kekurangan wahyu ini. Kita harus meminta kepada Allah memberikan roh wahyu kepada kita, supaya dari lubuk batin kita benar-benar mengenal Dia. Pengenalan ini adalah dasar kaum beriman. Pengenalan ini sangat penting.
Mengerti Panggilan dan Warisan Allah
Allah tidak hanya menghendaki kita benar-benar mengenal diri-Nya, tetapi juga menghendaki kita mengenal panggilan-Nya, yaitu mengenal apakah karunia panggilan-Nya itu; menghendaki kita mengenal apakah warisan yang Dia dapat di antara kaum saleh itu. Dengan kata lain, Allah tidak hanya menghendaki kita mengenal diri-Nya sendiri, tetapi juga menghendaki kita mengenal perkara apa yang Dia lakukan sejak kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang abadi. Allah menghendaki kita mengenal rencana dan tujuan kekal-Nya.
Kita harus tahu bahwa Surat Efesus membicarakan permasalahan dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan abadi, memperlihatkan kepada kita rencana kekal Allah. Di sini Paulus menyinggung panggilan-Nya dan warisan yang Dia dapatkan di antara kaum saleh, juga menyinggung kekuatan-Nya yang besar yang Dia nyatakan kepada kita yang percaya. Ini memberi tahu kita, kalau seseorang benar-benar memahami rencana kekal Allah, benar-benar bisa nampak apa yang Allah kerjakan dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan abadi, maka ia akan nampak bahwa rencana kekal Allah ini berkaitan dengan panggilan terhadap setiap orang di antara kita, bahwa rencana kekal Allah ini berkaitan dengan warisan yang Allah dapatkan di antara kaum saleh, bahwa rencana kekal Allah ini berkaitan dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar yang dinyatakan kepada kita yang percaya. Demikian kita tidak lagi secara abstrak nampak rencana kekal Allah, kita tidak lagi menganggap rencana Allah sebagai perkara yang tidak penting, mengira boleh mengetahui rencana Allah juga boleh tidak mengetahuinya, atau meskipun sudah mengetahui namun boleh mengesampingkannya. Saudara saudari, rencana kekal Allah ini berkaitan dengan setiap orang. Ketika kita membicarakan rencana Allah, jangan mengira rencana Allah ini tidak bisa kita jangkau, tidak bisa kita mengerti. Tidak, tidak demikian. Rencana kekal Allah berkaitan dengan panggilan yang kita terima, rencana kekal ini berkaitan dengan kita menjadi warisan Allah, rencana kekal ini berkaitan dengan pekerjaan kekuatan kuasa-Nya yang besar yang Dia lakukan di atas diri kita.
Sekarang kita terlebih dulu melihat panggilan dan warisan Allah. Kemudian kita akan melihat betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya.
Pertama, kita akan membicarakan panggilan yang kita terima. Ayat 18 mengatakan, "Dan supaya la menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya. " Kita tidak tahu ada berapa banyak orang Kristen yang tahu bahwa ada pengharapan diletakkan di depan mereka. Banyak orang mengharapkan naik ke surga. Syukur kepada Allah, memang benar ada surga. Tetapi ini masih bukan tujuan Allah memanggil kita, ini masih bukan pengharapan yang terkandung dalam panggilan Allah kepada kita. Lain apakah panggilan ini? Ayat 4 mengatakan, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." Inilah panggilan Allah. Panggilan Allah adalah supaya kita bisa menjadi seperti Allah; di aspek positif menjadi kudus, di aspek negatif tak bercacat, tak bercela. Saudara saudari, inilah satu panggilan yang betapa besar! Kalau Anda belum pernah lemah, kalau Anda belum pernah nampak diri Anda mempunyai kekurangan, Anda tidak akan merasakan keistimewaan panggilan ini. Kalau Anda mengetahui sedikit kelemahan Anda, mengetahui sedikit bahwa Anda adalah orang yang tidak berguna, adalah orang yang banyak kekurangan, Anda akan merasakan kemustikaan panggilan ini, Anda akan berkata, "Syukur kepada Allah, Engkau memanggil aku supaya aku menjadi kudus, Engkau memanggil aku supaya aku tak bercacat, Engkau memanggil aku untuk membawa aku ke tahap tanpa cacat kerut apa pun, supaya aku mutlak sama dengan diri-Mu." Syukur kepada Allah, pada suatu hari, tujuan pemilihan Allah atas diri kita pasti akan tercapai. Tidak peduli hari ini kita betapa lemah, tidak peduli hari ini kita betapa tidak berguna, tidak peduli hari ini kita mempunyai banyak kekurangan, tidak peduli hari ini kita mempunyai banyak cacat cela; puji syukur kepada Allah, pada suatu hari, kita akan dibawa oleh Allah sampai satu tahap, yaitu bisa berdiri di hadapan Allah, memiliki kekudusan Allah dan tanpa cacat cela serupa dengan Dia. Inilah yang ingin Allah dapatkan dalam pemilihan dan pemanggilan-Nya terhadap kita. Allah telah menetapkan demikian, Dia pasti menggenapkan demikian juga. Karena itu, di hadapan Allah kita tahu betapa besar pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya. Kita adalah orang-orang yang berpengharapan; pengharapan kita adalah menjadi serupa dengan Allah. Allah memilih kita, Allah memanggil kita, supaya kita mendapatkan ini.
Kedua, kita akan membicarakan tentang warisan yang Allah dapatkan di antara kaum saleh. Mari kita lihat lagi ayat 18: "Dan supaya la menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti . . . Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya di antara orang-orang kudus" (Tl.). Apakah warisan yang Allah dapatkan di antara kaum saleh? Kaum saleh adalah warisan Allah. Menurut arti bahasa Yunaninya, di sini bukan berarti Allah memberikan warisan kepada kaum saleh, melainkan kaum saleh menjadi warisan Allah. Paulus berkata bahwa Allah di antara kaum saleh, di antara anak-anak-Nya, Allah akan mendapatkan warisan, warisan itu mulia; bukan saja mulia, bahkan betapa kayanya kemuliaan itu.
Dalam Efesus 1:5 dan 11, sama-sama memakai kata "dari semula". Ayat 5 mengatakan, “Dalam kasih la telah menentukan kita dari sem ula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya."Di sini mengatakan kita telah ditentukan dari semula untuk mendapatkan hak keputraan. Ayat 11 mengatakan, "Aku katakan di dalam Kristus; karena di dalam Dialah kami diberi (dijadikan) warisan — kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya." Di sini mengatakan kita dari semula sudah dipilih-Nya untuk menjadi warisan-Nya. Apa yang dikatakan dalam ayat 5 agak berbeda dengan apa yang dikatakan dalam ayat 11, tetapi keduanya berhubungan menjadi satu.
Dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang abadi, Allah mempunyai satu rencana yang kekal, yaitu ingin mendapatkan anak. Banyak orang tidak merasakan perihal anak adalah masalah yang penting, tetapi kita harus tahu, tujuan Allah adalah ingin mendapatkan anak, rencana Allah berhubungan dengan anak. Galatia 4:6 berkata demikian, "Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, Ya Abba, ya Bapa!"' Ini memperlihatkan kepada kita, Allah menaruh Roh Anak-Nya ke dalam kita, supaya kita bisa menjadi anak. Sampai Ibrani 2:10, "Sebab memang sepantasnya Allah — yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu Allah yang membawa banyak orang (anak) kepada kemuliaan." Ini memperlihatkan kepada kita, ketika Allah mencapai tujuan-Nya, saat itu anak-anak berada dalam kemuliaan, Allah akan memimpin anak-anak memasuki kemuliaan-Nya. Tujuan Allah adalah mendapatkan anak-anak. Anak-anak ini oleh Allah disebut sebagai warisan-Nya. Sebab itu dalam Efesus 1, di satu pihak Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Dia dari semula telah menentukan untuk mendapatkan anak-anak (ayat 5), di pihak lain juga memperlihatkan kepada kita, Dia dari semula telah memilih atau menentukan untuk mendapatkan warisan (ayat 11).
Apa yang disebut warisan Allah? Warisan Allah adalah sesuatu yang menjadi milik Allah. Allah dari semula menentukan kita menjadi anak-anak-Nya, Allah juga dari semula menentukan kita menjadi warisan-Nya. Setiap orang saleh adalah orang milik Allah. Paulus mengharapkan mata hati kita terang, bisa nampak betapa kayanya kemuliaan warisan yang Allah dapatkan di antara kaum saleh. Apakah kemuliaan itu? Yaitu seperti diri Allah sendiri, bisa memuliakan Allah. Allah menghendaki ini. Allah memilih kita untuk menjadi orang milik-Nya, menjadi warisan-Nya, menjadi anak-anak-Nya. Semoga Allah membuka mata hati kita, supaya kita nampak bahwa ini adalah perkara yang sangat mulia!
Allah menghendaki kita nampak bahwa kita tidak saja perlu mengenal diri-Nya, juga perlu mengenal pekerjaan, rencana, dan tujuan-Nya. Pengenalan ini memerlukan visi. Kalau kita tidak memiliki visi, apa yang kita lihat hanya sekelumit saja, hanya sedikit saja, hanya sementara saja. Mengenai pekerjaan rohani, kita sering hanya melihat pada sedikit pekerjaan yang di tangan kita; kita merasa gembira kalau melihat pekerjaan kita agak baik sedikit, kita merasa sedih kalau melihat pekerjaan kita tidak terlalu baik. Pandangan kita hanya terbatas pada ruang lingkup yang kecil ini, di hadapan Allah tidak melihat perkara yang lebih besar. O, ini benar-benar kecil sekali. Sama seperti seorang anak kecil membawa selembar uang sepuluh dolar yang baru, lalu menganggap hal itu luar biasa, melihat selembar uang sepuluh dolar itu adalah seluruh warisannya. Sering kali pandangan kita begitu pendek, tidak nampak perihal yang kekal. Kita harus mengetahui, pandangan Allah adalah dari kekekalan yang lampau ke kekekalan yang abadi. Allah akan membuka mata kita, supaya kita tidak menjadi orang yang sempit. O, orang terlalu sempit, diri kita terlalu sempit. Allah menghendaki kita keluar dari ruang lingkup yang sempit, Allah menghendaki kita nampak pengharapan apakah yang terkandung dalam penggilan-Nya, warisan yang Allah dapatkan di antara kaum saleh kelak akan mempunyai kemuliaan yang betapa kayanya. Ini bukan hanya keperluan bagi manusia, lebih-lebih adalah keperluan bagi Allah. Untuk apa kita memberitakan Injil? Injil bukan hanya untuk keperluan manusia, lebih-lebih untuk keperluan Allah. Kita jangan mengira Injil anugerah dengan Injil Kerajaan adalah dua macam Injil; tidak, ini bukan dua macam Injil, ini adalah satu Injil yang dipandang dari dua sisi. Dipandang dari sisi manusia adalah Injil anugerah; dipandang dari sisi Allah adalah Injil Kerajaan. Allah ingin mendapatkan banyak orang berpaling pada diri-Nya, Allah ingin mendapatkan banyak orang untuk merampungkan tujuan-Nya, sebab itu pekerjaan kita tidak seharusnya hanya dipandang dari sudut manusia, lebih-lebih harus dipandang dari sudut Allah. Allah akan mendapatkan manusia, Allah akan mendapatkan banyak manusia untuk memuliakan diri-Nya, kita memberitakan Injil mendapatkan orang juga untuk keperluan Allah ini. Karena itu anak-anak Allah perlu memiliki visi, yaitu visi kekekalan. Visi ini akan mengubah pekerjaan kita, visi ini akan mengubah pandangan kita, akan mengubah kehidupan kristiani kita. Setelah kita nampak visi ini, kita tidak bisa terus bekerja dalam ruang lingkup yang kecil itu, kita tidak bisa terus berada dalam pandangan yang lama, cara yang lama, kita tidak bisa terus berada dalam perhitungan untung rugi yang kecil itu lagi.
Ada saudara saudari, telah mendengarkan tentang rencana Allah, telah mendengarkan tentang tujuan Allah; tetapi ketika ia keluar bekerja atau memberitakan Injil, ia mungkin berkata, "Aku tidak tahu bagaimana menghubungkan pekerjaanku dengan rencana Allah. Begitu aku sibuk dalam pekerjaan, begitu aku melakukan pekerjaan, aku telah kehilangan rencana kekal dan tujuan Allah, rencana kekal dan tujuan Allah berangsur-angsur menjadi pudar, tidak kelihatan lagi. Saat aku mendengarkannya, sepertinya sudah jelas sekali, tetapi sebentar saja aku sudah melupakannya." Ketahuilah, kita mudah melupakan apa yang kita dengar, tetapi tidak mudah melupakan yang kita lihat; doktrin mudah kita lupakan, tetapi visi tidak mudah kita lupakan. Sebab itu, persoalannya ialah Anda telah nampak atau belum, mata hati Anda telah dicelikkan oleh Allah atau belum. Kalau mata hati Anda benar-benar telah nampak panggilan Allah, telah nampak warisan Allah, telah nampak rencana dan tujuan Allah, maka dengan sendirinya Anda nampak. Demikian tidak peduli besar atau kecil pekerjaan Anda, seharusnya berhubungan dengan rencana Allah; kalau tidak berhubungan menjadi satu dengan rencana Allah, tidak terhitung sebagai melakukan pekerjaan Allah.
Kita perlu Allah membuka mata kita, memberi visi kepada kita. Ini adalah satu penyelamatan yang sangat besar, menyelamatkan kita terlepas dari diri sendiri, menyelamatkan kita terlepas dari ruang lingkup yang kecil. Dengan demikian, kita bisa merasakan, kalau pekerjaan yang kekal belum selesai, kita tidak mungkin mendapatkan perhentian; kalau rencana kekal Allah belum tergenapkan, kita belum merasakan puas. Yang diperhatikan oleh hati kita, beban yang dipikul oleh tubuh kita, yang dikerjakan oleh tangan kita, semuanya adalah yang akan dilakukan oleh Allah. Batu kecil yang bergerak di sana pun juga sedang melakukan pembangunan pekerjaan dari kekekalan lampau sampai kekekalan abadi. Kita mohon Allah memberkati dan menjaga kita agar terus berada dalam visi ini. Kita sangat mudah kehilangan visi ini, kita sangat mudah melakukan pekerjaan yang lebih kecil daripada visi ini. Allah belum tentu menghendaki kita melakukan pekerjaan yang besar, tetapi Allah menghendaki apa saja yang kita kerjakan berada dalam ruang lingkup yang besar itu, semuanya bisa bergandengan dengan tujuan-Nya yang besar itu, semuanya adalah satu bagian dari pekerjaan-Nya yang besar itu. Mungkin dalam seumur hidup Anda hanya melakukan sedikit pekerjaan saja, tetapi kalau itu adalah yang dikehendaki oleh Allah, itu benar-benar adalah pekerjaan yang besar, adalah satu bagian dari pekerjaan Allah yang dilakukan dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang abadi.
Mengetahui Kekuatan Kuasa Allah
Surat Efesus memperlihatkan kepada kita perkara dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang abadi. Di satu pihak kita melihat perkara dalam kekekalan yang lampau. Dalam kekekalan yang lampau itu, Allah mempunyai satu penentuan, mempunyai satu rencana, mempunyai satu kehendak. Di lain pihak kita melihat perkara dalam kekekalan yang abadi. Dalam kekekalan yang abadi itu, Allah akan merampungkan tujuan-Nya sendiri, juga akan mendapatkan apa yang akan Dia dapatkan. Lalu, di antara dua kekekalan ini, yaitu di dalam waktu, apa yang akan Dia lakukan untuk menggenapkan perkara yang telah Dia tetapkan dalam kekekalan yang lampau, supaya Dia dalam kekekalan yang abadi mendapatkan apa yang akan Dia dapatkan itu?
Doa Paulus di sini menyinggung dua aspek, aspek obyektif dan aspek subyektif: Supaya kita benar-benar mengenal Dia, supaya kita mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya, betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya di antara orang-orang kudus, ini adalah di aspek obyektif; masih ada yang di aspek subyektif, yaitu "betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar". Setelah kita mengenal diri Allah, juga mengenal pekerjaan Allah dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang abadi, barulah kita bisa nampak ada kekuatan di dalam kita, barulah ada permulaan di aspek subyektif. Terlebih dulu nampak di aspek obyektif, kemudian baru ada pekerjaan di aspek subyektif. Banyak orang Kristen berkebalikan, bahkan sama sekali berkebalikan; mereka mengesampingkan tentang mengenal Allah, juga mengesampingkan mengetahui kehendak Allah, yang paling dipentingkan adalah "aku" harus mendapatkan kekuatan kuasa Allah, supaya "aku" bisa lebih kudus, supaya "aku" bisa lebih menang, supaya "aku" bisa lebih rohani. Permasalahan yang diperhatikan semuanya di sisi "aku" saja, bukan di sisi Allah. Namun permasalahan yang Allah perhatikan adalah: karena kita mengenal Dia adalah Allah yang bagaimana, karena kita mengetahui kehendak kekal-Nya, maka sekarang Dia akan bekerja di dalam kita untuk mencapai hal itu. Pekerjaan Allah di dalam kita adalah untuk menggenapkan kehendak kekal-Nya. Kemenangan pribadi dan pekerjaan pribadi di atas diri kita, semuanya adalah untuk tujuan kekal Allah itu.
Di antara anak-anak Allah, tidak sedikit orang memutarbalikkan urutan ini, yang mereka perhatikan adalah masalah-masalah pribadi: Bagaimana bisa mendapatkan kemenangan pribadi, bagaimana bisa mendapatkan kekudusan pribadi, bagaimana doa pribadinya kisa mendapatkan jawaban. Bagi orang yang tidak menuntut di hadapan Allah, tidak perlu kita bicarakan; namun justru orang-orang yang ada penuntutan terhadap Allah, yang mengharapkan berjalan di hadapan Allah, sering juga hanya mempunyai satu penuntutan, yaitu bagaimana persolan pribadinya mendapatkan penyelesaian di hadapan Allah. Masalah yang dia perhatikan semuanya adalah masalah pribadi. Apa yang dia dambakan, apa yang dia harapkan, semuanya terpusat pada bagaimana supaya Allah bisa melakukan penyelamatan pada dirinya, bagaimana bisa melepaskan dia, bagaimana supaya dia bisa menempuh hidup yang tenteram dan gembira. Banyak orang dengan dirinya sendiri sebagai pusat, terus berputar-putar di dalam dirinya sendiri, yang diperhatikan hanya dirinya sendiri saja.
Tidak salah, kita perlu Allah bekerja di atas diri kita, kita perlu kemenangan pribadi, kita perlu kekudusan pribadi, kita juga perlu kekuatan pribadi, keperkasaan pribadi, kelepasan pribadi, penyelamatan pribadi. Namun masalahnya di sini, Allah mengharapkan kita terlebih dulu nampak visi, mengetahui pekerjaan-Nya, barulah Dia bekerja di dalam kita untuk mencapai tujuan-Nya. Tujuan Allah tidak saja memberi kita satu kehidupan pribadi yang menang, tujuan Allah bukan hanya memberi kita satu kehidupan pribadi yang kudus, tujuan Allah tidak mungkin demikian kecil. Allah ingin memperlihatkan kepada kita bahwa dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang abadi, Dia akan mengerjakan sesuatu; setiap orang yang tertebus memiliki bagian dalam rencana-Nya ini, dan Allah dengan kekuatan kuasa-Nya bekerja di dalam mereka, supaya mereka bisa merampungkan rencana kekal-Nya.
Sebab itu, kita harus nampak prinsip yang penting ini, yaitu pekerjaan yang subyetif harus berdasarkan visi yang obyektif; kekuatan yang subyektif adalah berdasarkan visi yang obyektif; terlebih dulu ada visi, kemudian ada kekuatan; terlebih dulu memiliki yang obyektif, kemudian memiliki yang subyektif. Kalau seseorang tidak memiliki visi, jangan harap Allah bisa bekerja di dalam dirinya. Misalnya: Seorang ayah menyuruh anaknya membelikan sesuatu untuknya, dia tentu memberikan sejumlah uang kepada anaknya. Tujuan ayahnya bukan supaya kantong anaknya bertambah beberapa lembar uang, tetapi supaya anaknya membeli barang untuk dibawa pulang. Demikian juga, Allah memberikan kekuatan kepada kita, bukan supaya kita mempunyai kenikmatan rohani pribadi, melainkan untuk mencapai tujuan-Nya. Terhadap masalah ini, kita harus pernah satu kali membereskannya dengan tuntas di hadapan Allah. Mungkin kita merasa masalah ini terlalu besar. Ya, ini adalah masalah yang besar, tetapi ini sangat berhubungan dengan hari depan kerohanian kita. Banyak orang di aspek subyektif dalam batinnya tidak mendapatkan pekerjaan Allah, karena mereka tidak mendapatkan visi. Semua pekerjaan yang subyektif adalah berdasarkan visi yang Allah berikan kepada kita. Visi adalah perkara yang pertama, kemudian baru ada pekerjaan yang subyektif. Terlebih dulu nampak visi, kemudian baru ada pekerjaan yang subyektif; terlebih dulu mengetahui pengharapan yang terkandung dalam panggilan Allah dan betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya di antara kaum saleh, kemudian baru tahu betapa hebat kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita. Sebab itu, kita harus benar-benar meminta supaya Allah memberi anugerah, membuat kita nampak bahwa di dalam rumah Allah tidaklah cukup hanya menjadi hamba, tidaklah cukup hanya melakukan sedikit pekerjaan; kita harus menjadi "sahabat" Allah, harus mengerti maksud hati Allah. Harus melihat, harus mengetahui, harus memiliki visi, harus memegang visi itu, hati kita harus tertarik oleh visi itu, supaya kita di hadapan Allah nampak bahwa pekerjaan Allah adalah pekerjaan kita.
Setelah kita mendapatkan visi, mengetahui Kristus bekerja di dalam kita, juga mengetahui kekuatan kuasa Allah yang di dalam kita, barulah kita dapat berguna di hadapan Allah. Visi membuat kita nampak rencana Allah, kekuatan membuat kita bisa mencapai rencana Allah; visi membuat kita bisa mengerti rencana Allah, kekuatan membuat kita melaksanakan rencana Allah. Di sini rasul memperlihatkan kepada kita, tidak saja harus mengetahui pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya, dan betapa kayanya kemuliaan warisan yang Allah dapatkan di antara orang-orang kudus, juga harus mengetahui, "betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar." Kita tidak hanya harus mengenal Allah, tidak hanya perlu mengenal rencana dan tujuan-Nya, kita masih perlu mengenal kekuatan kuasa-Nya. Kita tidak bisa berkata bahwa kita benar-benar mengenal Allah, kalau kuat kuasa-Nya belum pernah bekerja di dalam kita. Kita tidak bisa berkata bahwa kita benar-benar mengenal rencana dan tujuan-Nya, kalau kuat kuasa Allah tidak pernah bekerja di dalam kita. Kalau hanya mengenal rencana dan tujuan Allah, tetapi tidak mengenal kuat kuasa Allah, semua pekerjaan hanya obyektif saja, bukan subyektif. Sebab itu kita perlu mengenal Allah, perlu mengenal rencana dan tujuan-Nya, juga perlu mengenal kuat kuasa kebangkitan-Nya.
Ayat 19 mengatakan, “Dan betapa hebat kuasa-Nya lagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar." Kekuatan ini sangat besar; begitu besar, sehingga kalau bukan Allah yang membuka mata kita, kita tidak bisa nampak seberapa besar kekuatan ini; kekuatan ini begitu besar, sampai-sampai, orangorang kudus di Efesus tidak mengetahui seberapa besar kekuatan ini; begitu besar, sehingga berdasarkan pemikiran mereka pun tidak bisa memikirkan berapa besar kekuatan ini: Ini perlu Paulus berdoa bagi mereka, agar Paulus meminta Allah memberi mereka roh hikmat dan wahyu, supaya mata hati mereka terang, barulah mereka mengetahui seberapa besarnya kekuatan ini. Kita tidak bisa mengutarakan kekuatan ini seberapa besar, kita hanya bisa berkata bahwa kekuatan ini besar, lebih besar daripada yang kita pikirkan, lebih besar daripada yang kita ketahui.
Sebab itu, kita jangan mengira bahwa di dalam bejana tanah liat ini tidak ada barang apa pun. Kita harus tahu, di dalam bejana tanah hat ini ada harta (2 Kor. 4:7). Percayakah kita? Di dalam kita sebagai bejana tanah liat ini ada harta; harta di dalam bejana tanah hat ini sangatlah berharga, berharga sedemikian rupa sehingga kita sendiri tidak tahu seberapa besar nilainya. Perlu Tuhan membuka mata hati kita sehingga kita tahu seberapa besar nilainya. Di satu aspek kita nampak bejana tanah hat ini di bumi adalah kemah yang akan berlalu; tetapi di aspek lain kita harus nampak, kekuatan kuasa yang Tuhan nyatakan di atas diri kita sangatlah besar. Anak-anak Allah harus tahu perkara apa yang mereka dapatkan pada saat mereka dilahirkan kembali. Seseorang dilahirkan kembali, menerima Tuhan, mungkin hanya perlu satu menit saja, tetapi perlu tiga sampai empat puluh tahun untuk menemukan apa saja yang ia terima dalam satu menit itu. Pengalamanan dalam satu menit itu, pada saat itu berlalu begitu cepat, tetapi perlu tiga atau empat puluh tahun untuk dialami kembali, supaya mata hati mereka tercelik, mengetahui bahwa yang Allah berikan kepadanya dalam kurun waktu satu menit itu adalah anugerah yang betapa besar; sejak satu menit itu, betapa hebat kekuatan kuasa yang Allah nyatakan di atas dirinya. Kelihatannya kelahiran kembali adalah satu hal yang biasa, tetapi orang yang mata hatinya tercelik akan berkata: Betapa hebat kuasa Allah yang dinyatakan atas diriku. Kelahiran kembali bisa didapatkan dalam kurun waktu yang begitu singkat, tetapi bagi orang yang mata hatinya tercelik, ia akan berkata: Ini adalah hayat yang kekal, hayat ini akan hidup sampai selama-lamanya, kekuatan ini sangatlah hebat. Tidak ada satu pun anak-anak Allah di bumi ini yang bisa mengetahui dengan sempurna berapa besar yang Allah berikan kepadanya pada satu menit saat dia dilahirkan kembali. Tetapi orang yang bisa mengetahui sedikit saja, berbahagialah ia.
Kemajuan kita tidak tergantung pada mendapatkan lebih banyak kekuatan dari Tuhan, melainkan tergantung pada berapa banyak nampak kekuatan apa yang Tuhan berikan kepada kita, nampak berapa besar, kekuatan yang Allah berikan kepada kita. Pada saat kita dilahirkan kembali, Allah menaruh harta ke dalam kita bejana tanah liat ini, tetapi perlu seumur hidup untuk menemukan berapa besar nilai harta ini, perlu seumur hidup untuk menemukan harta ini adalah harta macam apa. Kalau seorang beriman setelah beroleh selamat sepuluh atau dua puluh tahun nampak bahwa harta yang ia peroleh tetap tidak berubah dengan harta yang ia peroleh ketika ia dilahirkan kembali, berarti orang ini tidak memiliki kemajuan; meskipun dia telah beroleh selamat sepuluh atau dua puluh tahun, ia masih sama seperti bayi yang baru lahir. Allah menghendaki melalui wahyu Roh Kudus, kita bisa nampak betapa hebat kuasa-Nya atas diri kita. Kekuatan atau kelemahan kita tergantung pada kita banyak nampak atau sedikit nampak. Orang yang nampak akan menjadi kuat, orang yang tidak nampak akan menjadi lemah. Bukan mendapatkan lalu kuat, tidak mendapatkan lalu lemah; kita sebenarnya sudah mendapatkannya, masalahnya hari ini tergantung pada nampak atau tidak nampak. Pekerjaan Allah di dalam kita bukan dikarenakan di hadapan-Nya kita meminta, "Berilah aku ini, berilah aku itu." Apa yang bisa Allah berikan kepada kita sudah diberikan semua, sudah ada di dalam kita. Hari ini kita meminta Allah memberikan kepada kita roh hikmat dan wahyu, supaya mata hati kita bisa nampak, kalau sudah nampak, akan mempunyai pengalaman. Banyak orang beriman ketika melewati satu tahap kerohanian, bukan karena Allah memberi mereka satu kekuatan yang lain, melainkan mereka sendiri yang melonjak dan berkata, "Puji Allah! Aku telah memiliki ini." Mereka tidak terus-menerus meminta untuk mendapatkan sesuatu yang belum mereka miliki, melainkan nampak bahwa mereka telah mendapatkannya; sebab itu mereka mengucapkan syukur dan pujian. Orang yang tidak nampak, tidak dapat membayangkan besarnya kekuatan ini.
Sebenarnya, berapa besarkah kekuatan ini? Paulus berkata, "Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus." Kita khusus memperhatikan kata "yang dikerjakan". Kita harus nampak bahwa kekuatan yang Ia nyatakan kepada orang yang percaya kepada-Nya adalah menurut yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus. Dengan kata lain, berapa besar kekuatan kuasa Allah yang dikerjakan di atas diri Kristus, sebesar itu juga kekuatan yang Allah kerjakan di atas diri gereja. Berapa besar kekuatan kuasa Allah yang dikerjakan di atas diri Kristus, sebesar itu juga kekuatan yang Allah kerjakan di atas diri orang-orang yang percaya, sama sekali tidak ada bedanya. Apakah kita nampak hal ini? Kalau kita belum nampak, kita perlu berdoa. Jangan mengira setelah membaca Surat Efesus beberapa kali, telah hafal Efesus 1:19-20, lalu sudah beres. Bisa menghafalkan masih tidak berguna, perlu memiliki wahyu, perlu nampak baru ada gunanya. Paulus berdoa bagi mereka, supaya mereka bisa nampak betapa hebat kuasa yang telah Allah berikan kepada mereka. Kalau kita belum nampak bahwa kekuatan yang dikerjakan atas diri kita sama dengan kekuatan yang dikerjakan atas diri Kristus, kita masih perlu meminta untuk nampak. Kalau kekuatan yang ternyata atas diri kita masih tidak sebesar yang dinyatakan atas diri Kristus, kita seharusnya mengakui bahwa masih banyak yang belum kita lihat. Kita perlu dengan rendah hati mengakui, masih banyak yang belum kita lihat, masih perlu meminta Allah memperlihatkan kepada kita supaya kita nampak. Tetapi tidak peduli Anda nampak atau tidak, faktanya adalah demikian: kekuatan kuasa yang Allah nyatakan atas diri orang yang percaya, sama dengan yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus. Haleluya! Inilah faktanya. Seberapa besar kekuatan yang dikerjakan di atas diri Kristus, sebesar itu juga kekuatan yang dikerjakan di atas diri orang yang percaya kepada-Nya. Puji syukur kepada Allah! Inilah faktanya. Kita meminta Allah membuka mata kita, supaya kita benar-benar nampak. Kita tidak memohon Allah dari luar mencurahkan lebih banyak kekuatan ke atas diri kita, kita hanya meminta Allah supaya kita bisa menemukan lebih banyak hal yang sudah ada di dalam kita; bisa nampak lebih banyak, lebih baik. Kalau Allah membuka mata kita, sehingga kita nampak, kita bisa semakin memuji Allah untuk apa yang sudah kita dapatkan.
Sekarang marilah kita melihat kekuatan ini telah melakukan apa saja. Paulus berkata, "Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati." Kekuatan ini bisa membangkitkan Kristus dari antara orang mati. O, setiap kali kita memikirkan tentang kebangkitan selalu merasakan kemustikaannya. Kebangkitan berarti kematian tidak bisa menahan-Nya (Kis. 2:24), kematian tidak bisa mengikat-Nya. Selama ini, tidak ada orang yang begitu masuk ke dalam kematian, bisa hidup kembali. Tidak pernah ada hal ini. Dari zaman ke zaman, semua orang pasti akan mati, semua orang yang masuk ke dalam kematian tertahan di dalam kematian dan tidak bisa keluar lagi. Tetapi ada seorang pernah keluar dari kematian, yaitu Tuhan kita. Dia pernah berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yoh. 11:25). Dia adalah hidup, sebab itu orang yang percaya kepada-Nya pasti selamanya tidak akan mati; Dia adalah kebangkitan, sebab itu orang yang percaya kepada-Nya, meskipun mati, bisa bangkit kembali. Semua orang yang masuk ke dalam kematian pasti ditahan oleh kematian, tidak ada yang bisa keluar; hanya satu kekuatan yang bisa masuk ke dalam kematian, kemudian keluar dari kematian, itulah kekuatan Allah. Saudara saudari, ketika Anda melihat seseorang menjelang mati, dan Anda mengharapkan dia tetap hidup, saat itu Anda baru mengetahui betapa besarnya kekuatan kematian. Mudah sekali bagi orang masuk ke dalam kematian, tetapi tidak mungkin bagi orang untuk keluar dari kematian. Orang bisa menolak hidup, tetapi orang tidak bisa menolak kematian. Pekerjaan Iblis (Satan) di satu pihak melalui kegelapan, di pihak lain melalui kematian. Tetapi ada satu kekuatan yang keluar dari Allah, yang bisa melewati kematian tanpa tertahan oleh kematian; kuasa setan tidak bisa mengalahkannya, kuasa alam maut juga tidak bisa menelannya, inilah yang disebut kebangkitan. Melewati kematian tanpa terpengaruh oleh kematian, inilah yang disebut kebangkitan. Kekuatan yang ada di dalam kita sekarang ini adalah kekuatan yang demikian; kekuatan yang membangkitkan Kristus dari kematian, yang bisa membuat kita melewati kematian tanpa tertangkap oleh kematian. Kekuatan ini bisa membangkitkan Tuhan Yesus dari kematian, kekuatan ini juga bisa membuat kita bangkit dari kematian.
Kekuatan Allah ini tidak hanya membuat Kristus bangkit dari kematian, tetapi juga "mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala . . . " Tidak hanya demikian, juga "segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada." Allah menjadikan Kristus sebagai Kepala dari segala sesuatu adalah bagi gereja; Kristus menjadi Kepala. dari segala sesuatu supaya gereja mendapatkan kebaikan. Jadi, gereja bisa dari pihak Tuhan mendapatkan suplai kekuatan itu. Saudara saudari, kekuatan yang ada di dalam Anda adalah kekuatan yang demikian. Mustika yang demikian sudah ada di dalam Anda, kalau Anda masih berkata bahwa Anda tidak bisa menjadi orang Kristen, lalu Allah harus memberi apa lagi kepada Anda agar Anda bisa menjadi orang Kristen? Anda seharusnya berkata kepada Allah, "Tidak perlu memberi apa-apa lagi kepadaku, semuanya telah Engkau lakukan." Kekuatan ini sekarang sudah ditaruh di dalam kita, karena itu, bagi orang Kristen tidak seharusnya ada kesulitan yang tidak bisa diselesaikan, bagi orang Kristen juga tidak seharusnya ada pencobaan yang tidak bisa dikalahkan. Karena kekuatan yang ada di dalam diri orang Kristen adalah kekuatan kebangkitan, adalah kekuatan yang melampaui segala-galanya, adalah kekuatan yang menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus, adalah menurut kekuatan yang bekerja di atas diri Kristus.
Ketika Paulus menulis Surat Efesus, ia sangat hati-hati sekali. Ia takut kita salah mengerti bahwa pekerjaan subyektif ini adalah pekerjaan pribadi, sebab itu selanjutnya ia menulis satu kalimat, "Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu." Pekerjaan subyektif bukan untuk perorangan, melainkan untuk Tubuh. Artinya, Allah akan memperlihatkan kepada kita bahwa rencana-Nya dalam kekekalan yang lampau berhubungan dengan gereja, bukan berhubungan dengan pribadi. Yang berhubungan dengan rencana kekal Allah adalah gereja, dalam kekekalan yang lampau adalah gereja, dalam kekekalan yang akan datang juga gereja, dalam pekerjaan Allah hari ini juga gereja, semuanya adalah gereja, bukan perorangan. Hari ini kalau di atas diri Anda ada kekuatan yang terekspresikan, itu juga untuk gereja, bukan untuk diri Anda sendiri. Allah ingin gereja mendapatkan kekuatan ini, bukan perorangan; Anda berdasarkan diri sendiri tidak bisa mendapatkannya. Sebab itu kita harus meminta kepada Allah, supaya kita nampak apa yang disebut Tubuh Kristus, supaya kita nampak bahwa hayat kita perlu dilindungi oleh seluruh Tubuh baru bisa terjaga, berdasarkan satu anggota Tubuh saja tidak ada gunanya. Penjagaan hayat berarti hayat kita tidak terusak, bersamaan dengan itu hayat orang lain juga tidak terusak; kalau satu urat nadi terputus, darah akan terus mengalir, seluruh tubuh bisa mati. Di aspek positif, telinga mendengar berarti seluruh tubuh mendengar, mata melihat berarti seluruh tubuh melihat; satu anggota tubuh mendapatkan, anggota tubuh yang lain juga mendapatkan. Sebab itu kita harus belajar hidup di dalam tubuh, belajar tidak mementingkan diri sendiri, belajar menghargai gereja, belajar berjalan bersama semua anak Allah. Kita harus belajar nampak bahwa tubuh adalah wadah yang melindungi hayat. Paulus berkata, "Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu." Sebab itu kekuatan kuasa-Nya yang hebat itu hanya bisa dialami oleh orang yang mengenal gereja. Siapa yang tidak nampak gereja, yang tidak menolak diri sendiri, pada dirinya tidak mungkin terwujud kekuatan kuasa yang besar itu. Sebab itu, ketika kita membicarakan Allah di aspek subyektif bekerja di atas diri kita, satuannya adalah gereja, bukan perorangan.
Semoga Allah membuka mata hati kita, supaya kita benar-benar bisa nampak pekerjaan yang Allah lakukan di atas diri kita. Kekuatan kuasa yang hebat ini tidak didapatkan dari anugerah yang lain, kekuatan kuasa yang hebat ini didapatkan dari melihat. Persoalan yang mendasar terletak pada wahyu, terletak pada melihat, kalau hanya mendengarkan khotbah saja, tidak berguna. Sekalipun Anda telah mendengarkan banyak khotbah, kalau tidak memiliki wahyu, Anda tetap tidak bisa nampak kekuatan-Nya yang di atas diri Anda. Khotbah yang Anda dengar akan sama seperti satu pembukuan yang mati, selamanya Anda tidak bisa memakainya, tidak bisa memanfaatkannya. Semoga Allah menyelamatkan kita terlepas dari doktrin pembukuan yang mati ini. Kita meminta kepada Allah untuk memberikan kepada kita roh hikmat dan wahyu, supaya kita benar-benar nampak.
Perlu Wahyu
Kita telah sedikit melihat doa yang diucapkan oleh Paulus bagi kaum saleh di Efesus 1. Dalam doa ini ada satu butir yang penting, yaitu dia mengharapkan kaum saleh bisa dari Allah mendapatkan roh hikmat dan wahyu, supaya mata hati mereka terang, supaya mereka bisa mengetahui beberapa hal. Yang khusus diperlihatkan Efesus 1 kepada kita adalah semua pekerjaan Allah sudah dikerjakan oleh-Nya. Hari ini yang kita perlukan bukan mengharapkan Allah bekerja lagi, melainkan wahyu Allah, wahyu Allah tentang hal-hal yang sudah Allah kerjakan. Allah sudah memiliki rencana, Allah sudah memiliki kehendak; hari ini yang diperlukan anak-anak Allah adalah mengetahui bahwa Allah sudah memiliki rencana, Allah sudah memiliki kehendak. Ibrani 11:6 memberi tahu kita, ". . . Sebab siapa yang berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah adalah . . ." (Tl.). Allah itu "adalah", Allah tidak pernah berubah. Hari ini kita perlu memiliki wahyu untuk mengetahui apa saja yang sudah "adalah" pada diri Allah. Sebab itu doa Paulus di sini adalah meminta Allah memberi kita roh hikmat dan wahyu, supaya kita bisa benar-benar mengenal Allah yang sudah "adalah" ini, supaya kita benar-benar mengetahui rencana yang telah ditetapkan-Nya, supaya kita bisa mengetahui pekerjaan yang telah dilakukan-Nya. Banyak orang di hadapan Allah memiliki pemikiran bahwa lebih baik Allah dalam rencana-Nya memiliki satu ketentuan baru, memiliki satu pekerjaan baru. Namun yang Paulus perlihatkan di sini bukan itu. Paulus ingin kita di hadapan Allah dengan jelas nampak bahwa Allah telah sebagai "adalah". Bukan dikatakan rencana Allah paling baik menentukan begini, atau paling baik menentukan begitu, melainkan Allah sudah menentukan, sekarang marilah kita melihat apa yang sudah Allah tentukan. Kita tidak perlu Allah melakukan lebih banyak pekerjaan lagi, melainkan perlu nampak pekerjaan yang sudah Allah lakukan. Begitu kita nampak ini, kita bisa memiliki pengalaman yang baru. Kita perlu roh hikmat untuk memahami pekerjaan yang dilakukan oleh Allah; kita perlu roh wahyu untuk mengetahui pekerjaan yang sudah dilakukan oleh Allah, demikian baru kita di hadapan Allah bisa menjadi orang yang berguna.
Di sini Paulus memperlihatkan kepada kita bahwa pekerjaan Allah memiliki dua bagian besar: Bagian pertama adalah pekerjaan yang Dia lakukan sebelum dunia dijadikan, bagian kedua adalah pekerjaan yang Dia lakukan di atas salib. Semua yang berkaitan dengan rencana kekal-Nya, sudah dirampungkan sebelum dunia dijadikan; semua yang berkaitan dengan kejatuhan atau kegagalan kita, sudah Dia tanggulangi di atas salib. Dalam kekekalan, Allah sudah mempunyai satu panggilan, sudah mempunyai satu pemilihan, sudah mempunyai satu penentuan dini. Segala yang diinginkan Allah sudah ditentukan oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Di sana Dia sudah memilih, di sana Dia sudah menentukan lebih dulu, siapa pun tidak dapat menggoyahkannya. Memang, sesudah dunia dijadikan, manusia jatuh, Iblis datang merusak pekerjaan Allah; tetapi, puji Tuhan, betapa hebat kuasa Allah bagi kita yang percaya. Memang ada kejatuhan, tetapi juga ada penebusan. Memang ada kematian, tetapi juga ada kebangkitan. Allah mempunyai satu rencana yang kekal, Allah masih ada satu penebusan salib. Rencana yang kekal sepertinya telah dirusak oleh kejatuhan manusia, tetapi yang dirusak oleh kejatuhan, dapat dipulihkan oleh kebangkitan, dapat diselamatkan oleh kebangkitan. Salib dapat menghancurkan kejatuhan, kebangkitan bisa menghapus kematian. Kita nampak pekerjaan Allah telah rampung semua dalam salib dan kebangkitan.
Pekerjaan Allah sudah rampung semua. Sebab itu, tidak ada seorang pun dari kita yang bisa mengharapkan Allah akan bekerja lebih banyak satu perkara lagi untuk kita. Ada orang berkata, "Alangkah baiknya kalau sebelum dunia dijadikan Allah sudah ada ketetapan yang tertentu itu." Tetapi Paulus berkata bahwa sebelum dunia dijadikan, yang Allah tetapkan sudah lengkap. Mungkin kita ingin berkata, "Betapa indahnya kalau hari ini Allah melakukan lebih banyak lagi satu perkara." Tetapi Allah menghendaki kita nampak, di atas salib, di dalam kebangkitan-Nya, Dia sudah melakukan semua pekerjaan-Nya. Hari ini keperluan kaum saleh bukanlah supaya Allah melakukan sedikit lebih banyak pekerjaan. Keperluan kaum saleh hari ini adalah wahyu Allah. Paulus tidak berdoa semoga Allah bisa bekerja sedikit lebih banyak bagi kita; Paulus tidak berdoa semoga Allah memberi sedikit lebih limpah anugerah; Paulus tidak berdoa semoga kekuatan kuasa Allah di atas diri kita sedikit lebih besar lagi. Paulus berdoa mohon Allah memberi kita roh hikmat dan wahyu, supaya benar-benar mengenal Dia, dan supaya Dia menjadikan mata hati kita terang, agar kita dapat melihat, dapat mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya yang Dia dapatkan di tengah-tengah orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya yang telah Dia berikan kepada kita. Di sini Paulus tidak menghendaki kita lebih banyak mendapatkan Allah, tetapi menghendaki kita nampak bahwa yang sudah kita dapatkan itu sangatlah mulia, sangatlah kaya, sangatlah hebat. Hari ini yang kita perlukan bukanlah pekerjaan Allah, melainkan wahyu tentang pekerjaan Allah; hari ini yang kita perlukan bukan mendapatkan pekerjaan Allah, melainkan nampak pekerjaan Allah. Doa Paulus dalam Efesus 1 mengharapkan kita nampak pekerjaan yang sudah Allah kerjakan. Dia tidak meminta Allah memberi kekuatan yang lebih besar kepada kaum beriman, dia tidak meminta Allah untuk melakukan pekerjaan yang lebih banyak lagi; yang ia minta adalah hikmat dan wahyu. Hikmat ini, wahyu ini, akan membuat kita nampak pekerjaan yang telah Allah rampungkan. Di sini masalahnya bukan Allah mempunyai pekerjaan atau tidak, di sini masalahnya adalah kita mendapatkan wahyu atau tidak. O, di sini ada satu perbedaan yang amat besar. Ada banyak orang Kristen mengharapkan mendapatkan ini atau itu, sepertinya Allah belum pernah bekerja di atas dirinya, sepertinya Allah belum pernah memberikan dia apa-apa. Tetapi yang paling istimewa dalam Efesus 1 adalah memperlihatkan kepada kita, Allah sudah merampungkan semua perkara, tidak ada satu perkara pun yang tersisa untuk kita lakukan. Dalam kekekalan yang lampau Allah telah melakukannya, di atas salib dan di dalam kebangkitan Allah juga sudah melakukan semua. Hari ini hanya ada satu persoalan, yaitu kita nampak atau tidak nampak. Hari ini persoalannya bukan Allah sudah bekerja atau belum, melainkan apakah kita telah nampak pekerjaan yang sudah dilakukan oleh Allah.
Misalnya ada seorang saudara mempunyai temperamen yang keras (sementara kita meminjam perkara yang rendah ini sebagai contoh): kali pertama dia ingin mengalahkannya, namun tidak mampu, kali kedua ingin menanggulanginya, namun gagal; kali ketiga ingin menolaknya, namun tidak berhasil. Lalu dalam hati ia berpikir, mengapa Allah tidak membereskan temperamennya? Kelihatannya dia agak menyalahkan Allah. Nampakkah Anda? Kesalahannya ialah mengharapkan Allah melakukan satu pekerjaan. Dia pikir, betapa baiknya kalau tangan Allah mau bergerak, perkaranya pasti beres. Tetapi Efesus 1:3 mengatakan bahwa Allah "dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga." "Telah" berarti sudah dilakukan. Allah bukan meminta kita memohon Dia melakukan sesuatu lagi. Allah akan membuka mata kita, supaya kita nampak bahwa Dia telah bekerja. Haleluya! Allah menghendaki kita nampak pekerjaan yang telah Dia lakukan. Inilah yang diperlihatkan Efesus 1 kepada kita. Kita mungkin berdoa, "Ya Allah, mengapa Engkau tidak memberi kami kekuatan yang lebih besar, untuk mengusir bersih temperamen keras dan banyak perkara jelek kami yang lainnya?" Kita memohon kekuatan yang lebih besar, tetapi Alkitab berkata bahwa kita tidak perlu kekuatan yang lebih besar, melainkan perlu roh hikmat dan wahyu, untuk nampak betapa besar kekuatan yang ada di dalam kita. Kalau pada suatu hari Allah membuka mata hati kita sehingga kita nampak betapa besarnya kekuatan yang ada di dalam kita, kita akan berkata bahwa tidak ada lagi kekuatan yang lebih besar daripada ini.
Saudara saudari, ketahuilah, kekuatan kebangkitan adalah kekuatan Allah yang paling besar. Dalam seluruh Alkitab, Allah menyatakan fakta ini, yaitu kebangkitan adalah puncak tertinggi pekerjaan Allah. Ketika Tuhan bangkit dari kematian, pekerjaan Allah mencapai puncaknya. Allah menghendaki mata kita terbuka, nampak pekerjaan Allah sudah tidak bisa lebih tinggi lagi; apa yang Allah kerjakan di atas diri Kristus sudah mencapai puncaknya, tidak ada pekerjaan yang lebih tinggi lagi. Sebab itu kita nampak doa Paulus dalam Efesus 1 tidak meminta Allah melakukan sesuatu lagi. Dalam doa itu, Paulus sama sekali tidak mengharapkan Allah melakukan sesuatu lagi. Syukur kepada Allah, pekerjaan Allah sudah sempurna, kita tidak bisa menambahkan lagi sesuatu ke dalamnya. Hari ini Allah tinggal membuka mata kita, menampakkan kepada kita; asal kita nampak kekuatan itu adalah kekuatan yang sangat hebat, kekuatan itu akan terwujud di atas diri kita.
Di antara anak-anak Allah, banyak orang mengharapkan mendapatkan penyelamatan yang terjadi di kemudian hari, mungkin esok hari, atau tahun depan. Akan tetapi yang Allah inginkan supaya kita tampak adalah penyelamatan yang sudah rampung, bawl menunggu kemudian hari. Banyak kemenangan orang adalah perkara yang akan datang, perkara di kemudian hari; banyak orang kedambaannya, harapannya, doanya, semuanya merupakan perkara yang akan datang. Tetapi kalau dia memiliki wahyu, dia akan nampak fakta yang sudah Allah genapkan. Wahyu adalah memperlihatkan perkara yang sudah Allah lakukan, bukan memperlihatkan perkara yang akan Allah lakukan. Banyak orang karena dirinya mempunyai satu kelemahan, mempunyai satu kegagalan, lalu mengharapkan pada suatu hari bisa mendapatkan penyelamatan. Tetapi kalau Allah membuka matanya, dia akan nampak bahwa kelemahan ini, kegagalan ini, sudah dibereskan di atas salib. Ketika matanya tercelik, dia akan berkata, "Ya Allah, puji syukur kepada-Mu, Engkau telah merampungkannya. Puji syukur kepada-Mu, aku sudah sepenuhnya mengalahkan perkara itu."
Sebab itu, sering kali kita merasa betapa berharganya Efesus 1, ia memperlihatkan kepada kita bahwa pengampunan dosa adalah perkara yang telah terjadi di masa lampau, penebusan adalah perkara yang telah tdrjadi di masa lampau, mendapatkan Roh Kudus juga perkara yang telah terjadi di masa lampau. Surat Efesus 1 memperlihatkan kepada kita bahwa kita telah memiliki semuanya, yang kita perlukan sekarang hanya satu hal, yaitu wahyu. Begitu perkara ini masuk, semuanya akan beres. Mengapa kita masih demikian lemah? Karena tidak nampak. Mengapa kita masih demikian tidak berguna? Karena tidak nampak. Mengapa Tuhan Yesus ketika di bumi mempunyai kekuatan yang begitu besar, sedangkan sekarang kita masih demikian lemah? Karena tidak nampak. Kekuatan kuasa yang Allah nyatakan atas diri orang yang percaya kepada-Nya, sama seperti kekuatan yang bekerja atas diri Kristus. Allah memberikan kekuatan ini kepada kita. Tetapi perbedaannya di sini, hari ini kita tidak seperti Tuhan nampak dengan jelas. Hari ini perbedaannya bukan pada perbedaan macam kekuatan, bukan perbedaan besar kecilnya kekuatan, melainkan telah nampak atau belum nampak. Hari ini yang kita perlukan adalah wahyu. Setelah ada wahyu, semuanya beres.
Karena itu, kita terus mengatakan, kita perlu wahyu, kalau tidak ada wahyu, semuanya tidak berguna. Kita terus berkata, hanya mendengar saja tidak berguna, perlu melihat baru ada gunanya. Yang diperlukan adalah wahyu, bukan doktrin. Anda boleh membaca Efesus 1 sampai tuntas, bahkan bisa menghafalkannya, tetapi tidak berguna; sampai suatu hari, begitu Anda nampak, segera Anda menjadi orang yang berbeda. Paulus di sini berdoa, "meminta kepada Allah . . . supaya la memberikan kepadamu roh hikmat dan wahyu" (ayat 17). Selain Roh Kudus, kepandaian tidak berguna, doktrin tidak berguna. Roh Kuduslah yang membuka mata kita supaya kita nampak. Ketika Roh Kudus benar-benar membuka mata kita sehingga kita nampak, kita segera berkata di depan-Nya, "Syukur kepada Allah, perkaranya telah rampung." Jangan mengharapkan Allah memberi kita kekuatan yang lebih besar; kita .perlu nampak seberapa besar kekuatan yang telah Allah berikan kepada kita. Roh hikmat bisa membuat kita mengerti, roh wahyu bisa membuat kita nampak. Perlu hikmat, juga perlu wahyu. Perlu hikmat baru bisa paham, baru bisa jelas; perlu wahyu baru bisa nampak, baru bisa mengerti.
Mungkin kita sudah berkali-kali mendengar tentang rencana kekal Allah, mendengar tentang kedudukan gereja dalam rencana kekal Allah, lalu, dari mana hubungan kita dengan rencana Allah dimulai? Dimulai dari wahyu. Wahyulah yang membuat kita nampak apa yang Allah tentukan dan kerjakan sejak dunia belum dijadikan; wahyulah yang membuat kita nampak apa yang sudah dilakukan oleh Allah di atas salib. Wahyu inilah yang membuat kita nampak ketentuan dalam kekekalan yang lampau dan pekerjaan salib; wahyu ini juga yang membuat kita bisa mengerti, bisa melihat, bisa mengetahui kekuatan Allah yang ternyata atas diri kita; wahyu inilah yang membuat kita menjadi satu bagian dari gereja; wahyu inilah yang membuat kita sejak hari ini menjadi bejana yang berguna di tangan Allah.
Sebagian orang mungkin sudah sangat hafal dengan perkataan-perkataan ini, tetapi di hadapan Allah kita perlu sekali lagi nampak betapa pentingnya wahyu ini. Kita percaya, hari ini yang diperhatikan Allah di surga adalah wahyu-Nya, karena semua yang akan Dia lakukan sudah rampung. Masalah hari ini adalah bagaimana orang bisa melihatnya. Sebab itu, kita tidak perlu meminta yang lain, kita perlu seperti Paulus, berdoa bagi diri sendiri, berdoa bagi saudara saudari, meminta Allah memberikan roh hikmat dan wahyu. Kita perlu dengan rendah hati berdoa di hadapan Allah, "Ya Allah, aku perlu nampak, aku perlu nampak!"
MELAYANI BAIT
ATAU
MELAYANI ALLAH ?
Pembacaan Alkitab: Yeh. 44:9-26, 28, 31; Luk. 17:7-19
Dalam kedua bagian Alkitab ini kita nampak adanya dua keadaan yang berbeda di hadapan Allah, dan bagaimanakah sebenarnya kedua perbedaan ini. Sebelum kita melihatnya berdasarkan Alkitab dan bersandarkan terang Allah, saya ingin saudara saudari tahu apakah tanggung jawab kita, dan apakah yang senantiasa diperhatikan oleh Allah di dalam gereja pada zaman ini.
Saudara saudari, izinkan saya dengan terus terang bertanya kepada Anda, “Sebenarnya, yang kita layani ialah kaum saleh atau Dia? Dalam pekerjaan kita, yang kita perhatikan ialah pekerjaan atau Tuhan?” Oh, ada satu perbedaan yang sangat besar di sini! Melayani bait dan melayani Yesus Kristus adalah dua hal yang sangat berbeda. Hari ini kita nampak banyak orang yang sedang melayani, sedang melaksanakan tugas ministrinya, tetapi itu hanyalah di pelataran luar, belum datang ke depan meja. Oh, hari ini banyak orang yang sedang melayani bait, bukan melayani Tuhan. Hari ini, pelayanan yang Tuhan inginkan, pelayanan yang Tuhan tuntut ialah benarbenar melayani Dia. Yang Dia inginkan bukanlah kita melakukan pekerjaan-Nya. Bekerja itu memang penting, mencangkul sawah itu penting, menggembalakan domba juga penting, tetapi yang Tuhan perhatikan bukan semua itu, melainkan melayani Allah dan mengabdi kepada Allah. Dia menghendaki hamba-Nya melayani, mengabdi kepada diri-Nya sendiri! Oh, betapa girangnya bisa melayani Dia!
Sekarang, yang akan saya bahas adalah perbedaan antara kedua pelayanan ini. Marilah kita memeriksanya melalui dua bagian Alkitab; kita bukan melakukan penafsiran Alkitab. Hari ini penafsiran Alkitab telah menjadi jurang bagi banyak orang rohani. Tidak ada perkara yang lebih mencelakakan kaum beriman daripada penafsiran Alkitab. Yang saya katakan adalah kaum beriman yang rohani. Kita sering mengira, asal menemukan dua ayat Alkitab yang mirip, maka kita sudah boleh menafsirkannya. Tidak, tidak ada perkara demikian! Hari ini kita terlebih dulu belajar pelajaran, kemudian baru mengkajinya. Sebelum mengkajinya, kita harus terlebih dulu tahu bagaimana melayani Allah, harus terlebih dulu belajar pelajaran; kita harus terlebih dulu bertemu dengan Sang penulis kitab, kemudian baru mengkaji Alkitab; kita harus terlebih dulu mengenal Dia, kemudian baru bisa memahami kitab-Nya. Jika kita mendahulukan Alkitab, kita sudah gagal. Karena itu, pada permulaannya, terlebih dulu kita nyatakan bahwa kita bukan hendak menafsirkan Alkitab, melainkan kita terlebih dulu mempelajari pelajaran. Karena itu, kini kita hanya melalui dua bagian Alkitab ini menyatakan pengalaman yang seharusnya kita miliki dan pengalaman apa yang telah kita miliki.
Yehezkiel 44:11, 15-16 mengatakan, “Di dalam tempat kudus-Ku merekalah yang mendapat tugas penjagaan di pintu-pintu gerbang Bait Suci dan tugas pelayanan di dalam Bait Suci; merekalah yang menyembelih kurban bakaran dan kurban sembelihan bagi bangsa itu dan bertugas bagi bangsa itu untuk melayaninya . . . Tetapi mengenai imam-imam orang Lewi dari bani Zadok yang menjalankan tugas-tugas di tempat kudus-Ku waktu orang Israel sesat dari pada-Ku, merekalah yang akan mendekat kepada-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan bertugas di hadapan-Ku untuk mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Merekalah yang akan masuk ke dalam tempat kudus-Ku dan yang akan mendekati meja-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan mereka akan menjalankan tugasnya terhadap Aku.” Lihatlah, ada perbedaan besar antara ayat 11 dengan ayat 15-16; ada perbedaan yang mendasar. Ayat 11 mengatakan tentang tugas pelayanan di dalam bait, sedangkan ayat 15-16 mengatakan tentang melayani “Aku”, yaitu melayani TUHAN (LAI: menyelenggarakan kebaktian). Dalam bahasa aslinya, kedua kata tersebut sama, yaitu “melayani”. Karena itu, dalam pandangan Allah, orang-orang Lewi terbagi menjadi dua kelompok. Meskipun mereka semua adalah orang-orang Lewi, adalah milik Allah, berasal dari satu suku, namun sekelompok besar hanya layak melayani di bait; sedangkan sekelompok kecil lainnya, yang juga adalah orang-orang Lewi, keturunan Zadok, mereka boleh melayani “Aku”, yaitu melayani Tuhan.
Saudara saudari, tahukah Anda apa itu melayani bait, dan apa itu melayani Tuhan? Tahukah Anda perbedaan antara melayani bait dengan melayani Tuhan? Banyak orang berkata bahwa tidak ada yang lebih baik daripada melayani bait. Memang melayani bait itu sungguh sangat baik. Lihatlah, aku sekuatnya mengembangkan pekerjaanku, aku sekuatnya berusaha bagi Kerajaan Surga, aku sekuatnya bekerja demi nama Tuhan, memikul tanggung jawab membantu gereja, aku sedang bersemangat menjadi hamba saudara-saudara, aku sekuat tenaga membantu saudara, membantu saudari, lari ke sana ke sini supaya gereja maju, pekerjaan berkembang. Banyak orang mengira kalau bisa menyelamatkan orang berdosa, membuat jumlah orang dalam gereja bertambah, membuat banyak orang masuk ke dalam gereja, itu baik sekali. Tetapi saya mengatakan, itu hanya melayani bait. Dalam pandangan Allah, di luar pelayanan semacam ini, masih ada satu macam pelayanan. Dalam pandangan Allah, tidak hanya ada pelayanan yang melayani bait, masih ada satu macam pelayanan yang lebih baik. Kita tidak hanya melayani di hadapan Tuhan, lebih-lebih melayani Tuhan sendiri. Di sini tidak hanya melayani dalam bait, tetapi juga melayani di depan meja. Kita tidak hanya melayani di hadapan Tuhan, tetapi juga melayani diri Tuhan sendiri. Ini berbeda sekali, sangat berbeda, mutlak tidak sama.
Kalau Anda bisa mengetahui perbedaan ini, Anda baru bisa nampak apa yang ingin Tuhan dapatkan pada hari ini, apa yang terus Tuhan cari pada hari ini. Saudara saudari, janganlah Anda salah paham. Melayani Tuhan bukan berarti tidak lagi mempedulikan bait. Saya berkata, di sini tidak hanya ada melayani bait, masih ada yang lebih dalam, yaitu melayani Tuhan. Hari ini banyak orang hanya mengetahui melayani bait, tetapi tidak mengetahui melayani Tuhan.
Izinkan saya bertanya kepada Anda. Saudara, untuk apa Anda memberitakan Injil? Sebenarnya untuk apa Anda ingin memajukan pekerjaan? Sebenarnya untuk apa Anda pergi ke sana sini? Saya khusus ingin berbicara kepada saudara saudari sekerja, sebenarnya apa yang Anda lakukan di sini? Apakah Anda mengharapkan ada lebih banyak orang yang bisa mendengarkan Injil? — yang saya katakan ini adalah yang baik, saya tidak mengatakan yang berstandar lebih rendah dari ini — memang, kita memberitakan Injil itu baik, kita menyelamatkan orang berdosa, membantu saudara saudari supaya mereka maju, semua ini juga baik; tidak salah, Anda sudah bekerja keras, setia memberitakan Injil, membina orang lain, tetapi yang Anda lihat hanyalah saudara saudari, jadi, itu semua adalah melayani bait. Karena orang-orang ini melayani di hadapan umat, maka hanya melayani mereka, bukan melayani Tuhan. Bukan berarti orang yang melayani Tuhan tidak melakukan hal-hal itu, orang yang melayani Tuhan juga melakukan hal-hal itu, tetapi tujuannya hanya satu, yaitu untuk Tuhan, sepenuhnya karena Tuhan maka ia memustikakan orang, sebab itu yang ia lihat bukan hanya manusia. Kalau Anda datang ke hadapan Tuhan hanya melihat Tuhan, dengan sendirinya Anda juga bisa melayani saudara. Perbedaan ini besar.
Sekarang kita akan melihat perbedaan ini, pada prinsipnya, pada dasarnya, apa perbedaannya. Kemudian kita melihat bagaimana melayani Tuhan, dan bagaimana melayani bait. Terakhir kita akan melihat orang yang melayani Tuhan harus bagaimana baru benar. Jadi, di sini kita akan menyinggung tiga hal:
I. PERBEDAAN ANTARA MELAYANI TUHAN
DENGAN MELAYANI BAIT
Ada satu hal yang harus kita nampak dengan jelas, yaitu secara luaran, tidak terlihat perbedaan yang besar antara melayani bait dengan melayani Tuhan. Banyak orang yang benar-benar sekuat tenaga membantu saudara, benar-benar giat menyelamatkan orang berdosa, benarbenar berupaya menangani urusan-urusan gereja, mereka juga sekuatnya menganjuri orang membaca Alkitab, sekuatnya menganjuri orang berdoa, juga banyak menderita, mengalami penganiayaan, mereka benar-benar telah melakukan berbagai hal. Akan tetapi persoalannya tergantung pada mengapa Anda berbuat demikian! Persoalannya tergantung pada apakah Tuhan menduduki tempat yang paling besar di dalam hati Anda? Ketika Anda pagi-pagi bangun melayani saudara saudari, apakah Anda berkata, “Tuhan! Hari ini oleh karena Engkau, aku melakukan ini lagi.” Atau, Anda hanya ingat kepada keberadaan Anda saja; karena ini adalah pekerjaan yang harus Anda lakukan, maka Anda melakukannya. Kalau demikian, itu mutlak adalah untuk keperluan, bukan untuk Tuhan. Anda hanya melihat saudara Anda, tidak melihat Tuhan. Sebab itu melalui motivasi kita sudah bisa menyelesaikan segala pertanyaan. Semua pertanyaan tergantung kepada mengapa kita melakukan ini.
Izinkan saya berkata terus terang kepada kalian, dalam pekerjaan Tuhan, juga ada hal yang menarik bagi tubuh daging. Misalnya, ada orang yang suka bergerak, sifat bawaannya suka berbicara. Kalau menyuruh dia pergi memberitakan Injil ke desa-desa, dari satu desa ke desa yang lain, berbicara di sini, berbicara di sana, ia akan sangat senang sekali. Coba pikirkan, mengapa dia melakukan itu? Karena asalnya dia adalah orang yang suka bergerak, suka berbicara. Saya dengan terus terang memberi tahu kalian, dia berbuat demikian bukan untuk Tuhan. Karena sering kali, kalau benar-benar Allah menyuruh dia melakukan pekerjaan yang tidak dia senangi, dia tidak bisa melakukannya. Penyebabnya ialah karena sifat bawaannya mendekati ini, maka dia senang melakukan ini. Namun dia masih mengira bahwa dirinya sedang melayani Tuhan, meskipun sebenarnya dia melayani bait. Saudara saudari, di sini ada perbedaan yang sangat besar. Saya berkata terus terang, dalam pekerjaan Allah juga ada tempat yang memikat hati — dalam pekerjaan Allah juga ada petualangan — dalam pekerjaan Allah juga ada satu bagian yang menarik keinginan daging! Ketika Anda berkhotbah, ada banyak orang mengitari Anda untuk mendengar Anda. Ketika Anda membaca sepotongan ayat Alkitab, ada orang lain berkata kepada Anda bahwa pembicaraan Anda sangat baik. Ketika Anda memberitakan Injil, banyak orang beroleh selamat karena Anda. Ini semua sangat menarik, sangat Anda dambakan. Coba pikir, bukankah ini sangat memikat hati Anda?
Kalau saya pengurus rumah tangga, sehari penuh saya sibuk bekerja dalam rumah; kalau saya karyawan yang bekerja di suatu pabrik, yang saya dengar dari pagi hingga petang hanyalah dengungan bunyi mesin; kalau saya juru tulis di suatu kantor, sepanjang hari saya hanya melihat tulisan hitam di atas kertas putih; kalau saya pembantu, sepanjang hari saya hanya melap meja, membersihkan kursi, menyapu lantai, atau memasak; betapa tidak ada artinya semuanya ini! Kalau saya bisa bekerja bagi Tuhan, bukankah ini sangat baik? Banyak orang mengira tinggal di rumah mengurus anak, menjadi istri orang, melakukan banyak urusan rumah tangga yang rumit, adalah hal yang sangat tidak menyenangkan! Kalau memberi dia kebebasan pergi ke sana sini menceritakan perkara rohani, pergi ke sana sini membicarakan perkara Tuhan, bukankah itu sangat baik! Tetapi itu adalah daya tarik daging, bukan rohani, sepenuhnya karena kesenangan ego saja.
O! Semoga kita nampak bahwa banyak pekerjaan dan pelayanan di hadapan Allah yang oleh Allah dianggap bukan sebagai melayani Allah. Sangat mengherankan, Allah memberi tahu kita bahwa ada sekelompok orang Lewi yang sangat sibuk melayani dalam bait, tetapi Allah mengatakan bahwa mereka melayani bait, bukan melayani Allah (Aku). Kita mengetahui, melayani bait sangat mirip dengan melayani Tuhan. Secara luaran hampir tidak ada perbedaan. Di bait, mereka menyembelih kurban pendamaian dan kurban bakaran, sungguh baik sekali. Misalnya, di sana ada orang Israel hendak menyembah Allah, hendak mempersembahkan kurban pendamaian dan kurban bakaran kepada Allah, tetapi tidak kuat menarik domba, juga tidak kuat menarik lembu, lalu orang Lewi datang membantu mereka menarik kurban persembahan itu, dia membantu mereka menyembelih kurban persembahan itu. Betapa baiknya hal ini! Lihatlah, dia memimpin seseorang mendekati Tuhan. Lihatlah, dia membantu seseorang mengenal Tuhan Yesus. Coba pikirkan, bukankah membawa orang dosa berpaling, membantu kaum beriman maju, adalah perkara yang sangat baik? Bersamaan dengan itu, dia juga sangat sibuk, bahkan seluruh tubuhnya berkeringat. Dia membantu orang, sehingga orang lain bisa mempersembahkan lembu dan domba. Ketahuilah, kurban pendamaian dan kurban bakaran melambangkan Kristus, ini berarti Anda mengeluarkan banyak tenaga membawa orang ke hadapan Tuhan. Anda sangat baik, bisa membawa orang mengenal Tuhan. Kita mengetahui kurban bakaran adalah masalah kaum beriman dengan Tuhan, dan kurban pendamaian adalah masalah orang dosa dengan Tuhan. Kurban pendamaian membicarakan tentang orang dosa mendekati Tuhan, kurban bakaran membicarakan tentang persembahan kaum beriman. Di sini tidak saja membuat orang dosa percaya Tuhan, tetapi juga menyuruh kaum beriman mempersembahkan diri, sungguh baik sekali. Ini bukan yang palsu, tetapi benar-benar sejati. Allah mengetahui pekerjaannya. Dia benar-benar membantu orang lain mempersembahkan kurban pendamaian dan kurban bakaran. Dia benarbenar menyelamatkan orang, dan membantu orang, bahkan melakukan dengan penuh jerih lelah. Tetapi Allah berkata: Meskipun demikian, kalian bukan melayani Aku.
Saudara saudari, ingatlah, melayani Tuhan lebih dalam daripada membawa orang berpaling kepada Tuhan, melayani Tuhan lebih dalam daripada memimpin orang beriman mempersembahkan diri kepada Tuhan. Menurut pandangan Allah, memimpin orang berpaling kepada Tuhan dan memimpin orang mempersembahkan diri kepada Tuhan, hanyalah melayani bait. Melayani diri Tuhan sendiri lebih maju daripada hal-hal itu. Apa yang Anda lihat di hadapan Allah? Hanya menyelamatkan orang dosa? Hanya membantu kaum beriman maju? Atau lebih dalam daripada semuanya itu? Saya di sini bukan untuk menyelamatkan orang, juga bukan untuk membantu kaum beriman; tetapi bisakah Anda berkata demikian? Saya khawatir banyak orang akan berkata, “Menurut perkataan Anda, aku tidak mempunyai lagi pekerjaan pelayanan.” Banyak orang akan berkata, “Kalau pekerjaanku bukan menyelamatkan orang dosa, membantu kaum beriman, lalu aku harus mengerjakan apa? Aku tidak mempunyai pekerjaan pelayanan lagi.” Saudara saudari, selain hal-hal itu, apakah Anda masih memiliki pekerjaan yang lain? O! Banyak orang hanya memiliki sebanyak itu saja. Itulah sebabnya banyak orang berkata, “Kalau tidak melakukan pekerjaan membantu orang, pekerjaan menyelamatkan orang, lalu aku harus mengerjakan apa?” Karena selain pekerjaan-pekerjaan itu, mereka tidak memiliki pekerjaan lagi. Karena yang bisa mereka lakukan adalah melayani bait, maka kalau mengambil pekerjaan-pekerjaan itu, tidak ada pekerjaan lagi yang bisa mereka lakukan.
O, saudara saudari! Kalau Anda mengetahui beban apa yang ada di dalam saya, Anda akan mengetahui apa tujuan Allah. Yang Allah tuntut pada hari ini bukan pelayanan yang sangat lincah di luar, yang Allah minta pada hari ini bukan mendapatkan orang, membantu kaum beriman lebih rohani, lebih maju; hari ini sasaran Allah hanya ada satu, yaitu menghendaki manusia sepenuhnya menjadi milik-”Ku”, menghendaki manusia di hadapan-”Ku”, melayani “Aku”. Tujuan Allah hari ini bukan banyak pekerjaan, melainkan “Aku”.
Saya ulangi lagi, saya tidak takut dibenci orang, yang paling saya takuti ialah ada banyak orang pergi memberitakan Injil, membantu orang, ada banyak orang pergi menyelamatkan orang dosa, membina kaum beriman, tetapi tidak melayani Tuhan! Melayani Tuhan yang disebut oleh kebanyakan orang sering kali tanpa tujuan, hanya dikarenakan dia senang dan gemar melakukan perkara itu. Dia tidak tahan kalau terus berada di rumah; dia suka bergerak, sebab itu senang bepergian, harus bergerak, baru merasa gembira! Izinkan saya berkata terus terang kepada Anda, apa yang Anda lakukan di luaran, sekalipun menyelamatkan orang dosa, membantu saudara, tetapi yang Anda layani adalah daging Anda! Karena kalau Anda tidak berbuat demikian, Anda merasa tidak gembira; ya, Anda sepenuhnya bukan sedang mencari perkenan Tuhan. Di sini saya sepertinya mempersulit Anda, tetapi ini adalah satu fakta. Ingatlah, di aspek alamiah, dalam pekerjaan Allah juga ada banyak hal yang bisa menarik kita. Ini benar-benar mencelakakan kita, karena Anda nampak bahwa di dalam pekerjaan Allah juga ada hal-hal yang menarik bagi alamiah Anda, dan Anda melakukan itu! Kasihan sekali. Sebab itu kita mohon Allah memberi anugerah agar kita mengetahui apakah melayani Allah, dan apakah melayani bait.
Saya mempunyai seorang teman (saudari dalam Tuhan) yang sangat akrab; sekarang dia sudah berada di seberang tirai. Di dalam Tuhan saya sangat mengasihi dia, dia juga milik Tuhan. Pada suatu hari, kami berdua naik ke atas bukit dan bersama-sama berdoa, kemudian membaca potongan Alkitab dalam Yehezkiel 44. Usianya jauh lebih besar daripada saya, sebab itu dia berkata kepada saya, “Saudara kecil, dua puluh tahun lebih yang lalu aku sudah membaca potongan ayat Alkitab ini.” Saya lalu bertanya kepadanya, “Setelah Anda membaca potongan Alkitab ini, apa yang Anda lakukan?” Dia berkata, “Ketika aku membaca potongan ayat Alkitab ini, aku segera menutup Alkitab, berlutut berdoa, ‘Tuhan, biarlah aku melayani Engkau, jangan biarkan aku melayani bait!’” Saudara saudari, kejadian itu begitu mengesankan saya, sampai hari ini, mungkin sampai kekal tidak akan bisa saya lupakan. Meskipun dia telah tiada, tetapi saya terus ingat perkataannya, yaitu, “Tuhan! Biarlah aku melayani Engkau, jangan biarkan aku melayani bait!” Apakah kita bisa mempunyai doa yang demikian: “Tuhan, aku mau melayani Engkau, tidak mau melayani bait”?
O! Saya paling takut kalau banyak orang menyenangi sesuatu dari Allah, tetapi tidak mau diri Allah sendiri. Banyak orang mengira menyelamatkan orang adalah yang paling tinggi, lalu mereka meninggalkan pekerjaannya: yang menjadi ibu rumah tangga tidak mau mengurus rumah tangganya; yang sebagai gadis tidak mau menikah; yang bekerja tidak mau bekerja lagi, mengira setiap hari melakukan hal-hal itu, sungguh tidak ada artinya; bekerja, mengurus rumah tangga, belajar, sungguh membosankan. Betapa baiknya kalau bisa pergi memberitakan Injil! Tetapi, hai teman! Di sini ada dua persoalan, yaitu sebenarnya Anda melayani Allah, atau melayani bait?
II. BAGAIMANA MELAYANI TUHAN
DAN BAGAIMANA MELAYANI BAIT
Banyak orang senang beraksi di luar bait, karena menyembelih lembu dan domba memerlukan tenaga manusia, bisa memakai kekuatan daging, maka mereka sangat senang. Tetapi kalau Anda meminta mereka ke tempat yang sunyi, tenang, yang tidak terlihat oleh orang, mereka tidak mau melakukannya. Anda mengetahui, tempat kudus adalah tempat yang “gelap”, di dalamnya hanya ada tujuh pelita minyak zaitun, mungkin tidak seterang cahaya dari tujuh batang lilin! Banyak orang mengira melayani Tuhan di tempat ini tidak menarik. Tetapi di sinilah tempat yang Tuhan kehendaki kita berada. Di dalam tempat kudus, tenang, “gelap”, tidak ada banyak orang yang berhimpun di sana, tetapi di sini barulah melayani Tuhan. Saudara! Anda tidak akan menemukan seorang hamba Allah yang sesungguhnya, seorang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan, yang tidak melayani dengan cara yang demikian!
Sekarang marilah kita melihat sekelompok orang Lewi itu, apa yang mereka kerjakan? Mereka di luar bait menyembelih lembu dan domba. O! Di sana semua orang bisa melihat Anda; di sana pekerjaan Anda sangat mencolok; di sana orang lain akan memuji Anda, mengatakan Anda baik, kekuatan Anda besar, bisa menyembelih sekian banyak lembu domba, dan bisa mengikat lembu domba di atas mezbah. Banyak orang sangat senang dengan hasil pekerjaan di luaran.
Tetapi apakah melayani Tuhan? Ayat 15 dengan jelas mengatakan, “Tetapi mengenai imam-imam orang Lewi dari bani Zadok yang menjalankan tugas-tugas di tempat kudus-Ku waktu orang Israel sesat dari pada-Ku, merekalah yang akan mendekat kepada-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan bertugas di hadapan-Ku untuk mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Sebab itu dasar melayani Tuhan, atau syarat dari dasar melayani Tuhan adalah mendekati Tuhan, berani datang ke hadapan Tuhan, bisa duduk diam, tenang di hadapan Tuhan, bisa berdiri di hadapan Tuhan. Saudara, apakah mendekati Tuhan? Sering kali kita sungguh-sungguh perlu sekuatnya menarik diri ke hadapan Tuhan. Banyak orang takut berada di kamar yang gelap, takut seorang diri berada di sana; banyak orang benar-benar tidak tahan seorang diri dikunci di sana. Sebab itu, sering kali meskipun diri kita berada di kamar, tetapi hati kita sudah lebih dulu pergi ke mana-mana, tidak bisa mendekati Tuhan, tidak bisa seorang diri berada di sana, dengan tenang belajar berdoa di hadapan Allah. Banyak orang suka sekali pergi bekerja bagi Tuhan, pergi untuk beramai-ramai. Banyak orang sangat senang berkhotbah di hadapan orang, tetapi berapa banyak orang yang bisa datang ke tempat maha kudus mendekati Allah? O! Banyak orang tidak bisa berada di tempat kudus yang “gelap”, tenang, menyendiri, untuk mendekati Allah. Tetapi, di sini tidak ada seorang pun yang bisa melayani Allah, yang tanpa mendekati Tuhan. Juga tidak ada seorang pun yang bisa melayani Tuhan, yang tanpa doa mendekati Tuhan. Kekuatan rohani bukan kekuatan berkhotbah, kekuatan rohani adalah kekuatan berdoa. Seberapa banyak doa kita, sebesar itu juga kekuatan sesungguhnya yang ada di dalam diri kita. Tidak ada satu perkara rohani yang memerlukan tenaga lebih daripada doa. Membaca Alkitab tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga; saya tidak mengatakan sama sekali tidak mengeluarkan tenaga, melainkan perkara ini mudah dilakukan. Memberitakan Injil juga tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga sudah bisa melakukannya; membantu saudara juga tidak perlu mengeluarkan seberapa besar kekuatan rohani, kita dapat berbicara berdasarkan hal-hal yang kita ingat. Tetapi kalau ingin datang ke hadapan Allah, berlutut selama satu jam, perlu memakai seluruh kekuatan diri kita. Sungguh, kalau kita tidak bergumul, tidak bisa berkelangsungan, karena kita tidak bisa bertahan. Setiap orang yang melayani Tuhan mengetahui kemustikaan ini, betapa manisnya satu jam berdoa sewaktu terjaga dari tidur pada tengah malam. Betapa baiknya bangun pada dini hari untuk berdoa satu jam, lalu tidur lagi. Saya berkata terus terang, kalau kita tidak baik-baik mendekati Allah, kita tidak bisa melayani Allah. Kita tidak bisa sambil melayani Tuhan sambil berdiri di tempat yang jauh. Murid-murid bisa dari jauh mengikuti Tuhan, tetapi tidak ada seorang pun yang menjauhi Tuhan yang bisa melayani Tuhan; kita boleh dari jauh, secara sembunyi-sembunyi mengikuti Tuhan, tetapi kita tidak bisa dari jauh-jauh, secara sembunyi melayani Tuhan. Satu-satunya tempat untuk melayani Tuhan adalah tempat kudus. Di pelataran luar hanya bisa mendekati umat Allah, di tempat kudus baru bisa mendekati Allah. Sesungguhnya, orang-orang yang bisa membantu gereja, yang bisa melakukan pekerjaan pelayanan, adalah orang-orang yang mendekati Allah. Kita yang bekerja di hadapan Allah, kalau hanya untuk saudara, untuk melayani saudari, maka pekerjaan kita sangatlah miskin!
Bukan saja di sini mengatakan demikian, ayat selanjutnya juga mengatakan demikian. Kalau kita ingin melayani Tuhan, harus mendekati Tuhan. Ayat ini mengatakan bagaimana keadaan kita di hadapan Tuhan? “Berdiri di hadapan Tuhan” (Tl.). Hari ini saya merasakan bahwa kita selalu senang pergi, sepertinya tidak bisa hanya berdiri saja. Kalau menyuruh seseorang berdiri saja, ia tidak bisa melakukannya. Hari ini ada banyak saudara saudari, sepertinya mereka sangat sibuk, ada banyak perkara yang terletak di hadapan mereka, sebab itu mereka terus berjalan. Kalau Anda berkata kepadanya, “Berdirilah sebentar, tunggulah sebentar,” dia tidak bisa melakukan itu. Tetapi tidak ada seorang rohani yang tidak bisa berdiri.
Apa artinya berdiri? Yaitu menunggu perintah, menunggu Allah mengucapkan kehendak-Nya. Hari ini entah berapa banyak pekerjaan yang sudah ditentukan. Tetapi apa yang saya katakan di sini bukanlah perkara-perkara duniawi, pekerjaan di pabrik, atau perkara di kantor. Orang Kristen seharusnya setia terhadap majikan duniawinya, kita harus sangat setia melayani majikan duniawi kita. Tetapi pekerjaan rohani bukan demikian. Sebab itu saya secara khusus berkata kepada saudara-saudara sekerja. Saudara, apakah pekerjaan pelayanan Anda sudah ditentukan lebih dulu? Apakah Anda melakukan pekerjaan pelayanan dengan cepat? Apakah Anda bisa berdiri sebentar, menunggu sebentar? Apakah banyak pekerjaan sudah ditentukan, urutannya sudah diatur? Lalu Anda mengambil catatan itu, melakukan menurut kemampuan manajemen Anda? Apakah semuanya sudah berada di tangan Anda? Saudara! Bisakah menunggu tiga hari lagi? Apakah Anda bisa berdiri sebentar, sementara tidak bergerak? Inilah yang dimaksud berdiri. Siapa saja yang tidak bisa mendekati Tuhan, pasti tidak bisa melayani Tuhan; demikian juga, siapa saja yang tidak bisa berdiri di hadapan Tuhan, pasti tidak bisa melayani Tuhan; melayani Tuhan tidaklah tergantung kepadanya. Saudara, cobalah pikir, bukankah seorang hamba harus menunggu dulu mendapatkan perintah, baru melakukannya?
Izinkanlah saya mengatakan lagi satu perkara yang sudah pernah saya katakan. Karena ini adalah perkara rohani, saya tidak takut banyak bicara. Semua dosa di hadapan Allah hanya ada dua macam. Pertama adalah melanggar perintah Tuhan. Kalau Tuhan telah memberi perintah, tetapi Anda tidak melakukannya, itu adalah dosa. Ingatlah, tidak hanya demikian, masih ada satu macam dosa lagi, yaitu Tuhan tidak memberi perintah, tetapi Anda melakukan sesuatu. Sebab itu, yang pertama adalah dosa pengingkaran, yang kedua adalah dosa berbuat lancang. Pertama, Tuhan telah berbicara, tetapi Anda tidak mendengarkan; kedua, Tuhan tidak berbicara, tetapi Anda melakukannya. Berdiri di hadapan Tuhan adalah satu cara untuk mengatasi dosa tidak mendengar perintah Tuhan tetapi melakukan sesuatu. Saudara saudari, ada berapa banyak pekerjaan rohani yang Anda lakukan karena Anda sudah sangat jelas mengetahui kehendak Allah? O! Ada berapa banyak orang yang benarbenar karena telah menerima perintah Tuhan lalu pergi bekerja? Atau karena Anda bergairah lalu Anda melakukan pekerjaan itu? Atau karena Anda menganggap perkara ini baik lalu melakukannya? Izinkan saya memberi tahu Anda, tidak ada satu perkara yang lebih merusak kehendak Allah daripada melakukan perkara yang baik. Perkara baik sangat mudah menghalangi Allah, perkara baik paling bisa menghalangi Allah. Semua perkara dosa, najis, cabul, begitu kita melihat, sudah mengetahui itu tidak seharusnya dilakukan oleh orang Kristen; itu perkara yang jahat, tidak boleh dilakukan. Sebab itu, hal-hal itu tidak begitu menghalangi kehendak Allah. Semua perkara yang menghalangi kehendak Allah adalah perkara yang baik, yang mirip dengan kehendak Allah. Anda mengira berbuat demikian tidaklah salah; Anda mengira perkara itu sangatlah baik, maka tanpa bertanya apakah itu kehendak Allah, Anda segera melakukannya. Karena itu, perkara baik sungguh-sungguh bisa menjadi musuh besar Allah. Setiap kali kita mengingkari Allah, itu karena kita mengira perkara itu baik lalu kita melakukannya. Sebagai anak-anak Allah, kita tahu bahwa kita tidak seharusnya berbuat dosa, tidak seharusnya berbuat jahat, tetapi sering kali karena hati nurani tidak menegur, hati nurani mengira boleh melakukan, lalu kita melakukan perkara itu.
Memang, perkara ini baik sekali, tetapi pernahkah kita berdiri di hadapan Allah? Kita perlu berdiri di hadapan Allah. Berdiri berarti tidak berjalan, tidak bergerak, berdiri di sana, diam di sana, menunggu perintah Tuhan. Saudara, inilah melayani Tuhan! Di pelataran luar menyembelih lembu domba, asal ada orang datang, lalu bekerja. Tetapi di tempat maha kudus sangatlah tenang, tidak ada orang yang berdatangan. Di tempat maha kudus bukan saudara atau saudari yang berkuasa mengatur kita, di sana bukan rapat majelis yang menentukan kita, di sana bukan juga panitia pelayanan yang berhak mengutus kita, di sana hanya ada satu kuasa yang bisa mengatur kita, yaitu Tuhan. Tuhan menyuruh kita melakukan, kita melakukan; Tuhan tidak menyuruh kita melakukan, kita tidak melakukan. Saudara, bisakah Anda berdiri di hadapan Allah?
Kalau kita mau melayani Tuhan di tempat maha kudus, kita harus mengeluarkan banyak waktu untuk berdoa, kalau tidak, kita tidak mungkin bisa melakukannya. Kita perlu melalui doa untuk membawa kita ke hadapan Allah, kita perlu melalui doa supaya kita mendekati Allah. Sebab itu doa adalah berdiri di hadapan Allah, yaitu berdiri di hadapan Allah mencari kehendak-Nya. Puji syukur kepada Allah, meskipun tidak setiap orang beriman demikian, tetapi bagaimanapun masih ada orang-orang yang berdiri di hadapan Allah, dengan baik-baik mengikuti Tuhan menempuh jalan yang di depan.
Untuk berdiri di hadapan Allah, perlu melakukan satu hal, yaitu “mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah” (Yeh. 44:15). Anda mengetahui, di tempat kudus, Allah itu kudus, adil; di tempat maha kudus, Allah itu mulia. Kemuliaan Allah memenuhi tempat maha kudus, kekudusan dan keadilan Allah memenuhi tempat kudus. Di sini, darah adalah untuk kekudusan dan keadilan Allah, lemak adalah untuk kemuliaan Allah. Lemak adalah supaya Allah mendapat sesuatu, darah adalah untuk menghadapi kekudusan dan keadilan Allah. Kita mengetahui Allah itu kudus, Allah itu adil, sebab itu Dia mutlak tidak bisa menerima manusia. Kalau tidak ada darah yang teralir, kalau manusia tidak mendapatkan pengampunan dosa, kalau Allah tidak mendapatkan harga penebusan dosa, Allah tidak bisa melewatkan manusia. Sebab itu di sini harus ada darah; tanpa darah, tidak bisa mendekati Allah. Pada zaman Perjanjian Lama manusia masih dikesampingkan, tidak bisa datang ke hadapan Allah; tetapi hari ini kita bisa berada di hadapan Allah, karena telah ada darah Tuhan. Tidak hanya demikian, masih perlu mempersembahkan lemak, yaitu bagian yang paling gemuk, paling baik, yang bisa memuaskan hati Allah. Sebab itu, lemak adalah untuk kemuliaan Allah.
Karena itu, semua orang yang datang ke hadapan Allah, yang ingin melayani Allah, harus menghadapi kekudusan dan keadilan Allah, juga harus menghadapi kemuliaan Allah. Kita mengetahui bahwa yang paling diperhatikan oleh Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah tiga hal ini: Kekudusan Allah, keadilan Allah, dan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah mengacu kepada diri Allah sendiri; kekudusan Allah mengacu kepada sifat Allah; keadilan Allah mengacu kepada jalan Allah. Dengan kata lain, cara Allah bekerja adalah adil, sifat Allah adalah kudus, diri Allah sendiri tak berdaya kita ceritakan, terpaksa kita mengatakan adalah mulia. Karena itu, setiap kali kita datang ke hadapan Allah, perkara pertama kita harus nampak orang seperti saya ini, bisakah berdiri di hadapan Allah? Allah begitu kudus, Allah begitu adil, saya orang berdosa ini bisakah bertemu dengan Allah? Tidak mengapa, darah ada di sini, darah bisa menebus dosa kita, maka kita bisa mendekati Allah; tidak ada pertentangan, karena darah-Nya sudah mencuci segala ketidakbenaran kita. Tetapi tidak hanya kudus, tidak hanya adil, bahkan diri Allah sendiri adalah mulia. Sebab itu harus mempersembahkan lemak, yaitu mempersembahkan yang terbaik pada diri kita kepada Allah, untuk memuaskan hati Allah. Dengan kata lain, darah untuk menanggulangi segala sesuatu dalam ciptaan lama, lemak membicarakan tentang segala sesuatu dalam ciptaan baru. Darah mengusir segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama, demikian tidak lagi ada masalah dengan kekudusan dan keadilan. Lemak ada dalam ciptaan baru, yaitu mempersembahkan diri kepada Allah. Sebab itu kita juga tidak ada masalah dengan kemulian Allah.
Kalau seseorang tidak mengetahui tentang kematian dan kebangkitan, ia tidak bisa melayani Allah. Kematian yang saya bicarakan bukan semacam doktrin, juga bukan semacam teori dalam Alkitab, melainkan sungguhsungguh bersandar Dia, karena Dia mengalirkan darah yang selamanya tidak binasa, sebab itu Anda juga teralir keluar. Artinya, ketika Dia mengalirkan darah-Nya yang tidak binasa, Anda juga teralir keluar. Puji Tuhan, Tuhan kita sekarang tidak hanya memiliki darah, Dia juga memiliki tubuh yang bertulang dan berdaging. Semua yang berasal dari hayat alamiah telah teralir keluar. Pengaliran darah Tuhan menuangkan tuntas semua hayat jiwani. Dia menuang tuntas jiwa-Nya sampai mati. Inilah artinya darah. Sebab itu mengalirkan darah berarti mengesampingkan segala sesuatu milik alamiah kita. (Mengenai hal ini akan dibicarakan kemudian hari).
Kalau kita ingin datang ke hadapan Allah untuk melayani Dia, kita harus mendekati Dia; kalau kita ingin datang ke hadapan Allah untuk melayani Dia, kita harus berdiri di hadapan Allah, di hadapan-Nya menunggu perintah-Nya atau kehendak-Nya. Ingatlah, di sini ada dua hal yang merupakan keharusan: di satu pihak kita harus terus menumpahkan darah diri kita, dengan kata lain, kita harus terus mengakui bahwa segala sesuatu yang kita terima sejak lahir, dan segala apa yang akan kita tinggalkan setelah kematian kita, semuanya sudah ditumpahkan. Banyak orang bertanya kepada saya, “Apakah hayat alamiah itu?” Saya sering menjawab mereka bahwa segala sesuatu yang sejak lahir ada, kemudian setelah kematian tidak ada lagi, itulah hayat alamiah, yaitu segala sesuatu yang hanya berada di antara kelahiran dan kematian, adalah hayat alamiah. Puji Tuhan, Dia telah mengalirkan tuntas segala hayat alamiah kita, yaitu hal-hal yang asalnya ada, hal-hal yang ada dari kelahiran. Ketika Tuhan mengalirkan darah, bukan mengalirkan hayat-Nya sendiri, melainkan mengalirkan hayat Anda. Sebab itu kita harus terus berdiri pada fakta ini untuk menolak hayat diri sendiri. Saudara saudari, ini bukan satu doktrin, melainkan dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah meletakkan segala sesuatu yang berasal dari hayat alamiah diri sendiri. Saudara saudari, ini bukan suatu angan-angan, yang tidak bisa kita lakukan, karena Kristus sudah mengalirkan segala sesuatu yang berasal dari jiwa kita, sebab itu kita bisa melakukannya, kita bisa menjadi orang-orang yang tidak mempunyai ego. Puji syukur kepada Allah, kita bisa menjadi orang-orang yang tidak mempunyai ego, karena ketika Kristus mengalirkan darah, sudah mengalirkan ego kita. Puji syukur kepada Allah. Anak Allah telah merampungkan fakta itu. Kalau kita bersandar Dia, kita bisa mati, bisa melepaskan ego. Tetapi hanya mati saja tidak cukup, mati hanya aspek negatifnya saja. Yang perlu kita perhatikan di hadapan Allah, bukan hanya mati, tetapi juga bangkit dari kematian. Ketika Tuhan bangkit, kita juga di dalam-Nya, sebab itu kita adalah ciptaan baru. Dia tidak hanya telah mati, juga telah bangkit. Dia hidup terhadap Allah, sebab itu segala sesuatu-Nya adalah untuk memuaskan hati Allah, bukan untuk diri-Nya sendiri. Saudara saudari, Allah mengharapkan kita nampak ini. Inilah melayani Tuhan. Sebab itu kita harus mempersembahkan lemak dan darah kepada Dia.
Ayat 16 mengatakan, “Merekalah yang akan masuk ke dalam tempat kudus-Ku dan yang akan mendekati meja-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan mereka akan menjalankan tugasnya terhadap Aku.” Di sini dikatakan bahwa melayani Tuhan ada tempatnya. Melayani Tuhan berlangsung di dalam tempat kudus, melayani Tuhan berada di dalam, melayani Tuhan di tempat yang sunyi, di sana sangat tersembunyi, tidak terbuka seperti di pelataran luar. Saudara saudari, marilah kita mohon Allah memberi anugerah kepada kita, supaya kita benarbenar tidak menganggap melakukan pelayanan yang demikian ini sangatlah menderita. Sebenarnya, berada di sana satu hari, lebih baik daripada berada di tempat lain seribu hari! Kita selalu takut kepada tempat kudus; merasa pelataran luar sangatlah baik, banyak orang bisa melihat kita, banyak orang mengenal kita, nama kita menjadi tersohor, di sana tidak ada serangan, tidak ada fitnahan, yang ada adalah penyebutan, penyanjungan, sungguh baik sekali. Tetapi Allah menghendaki kita berada di tempat kudus. Di sana mungkin orang akan berkata bahwa kita malas, tidak mau mengerjakan apa pun. Sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa apa yang kita kerjakan di sana jauh lebih tinggi daripada dengan susah payah melayani umat Allah! Saudara saudari, pernahkah Anda mendengar orang lain berkata bahwa Anda terlalu sempit, terlalu kecil? Pernahkah Anda mendengar orang lain mengkritik Anda terlalu sempit, mengatakan Anda tidak suka ini, tidak suka itu? Orang lain berkata Anda terlalu malas bekerja, banyak hal tidak Anda kerjakan. Tetapi saudara saudari, ketahuilah, hati kita sama sekali tidak sempit, karena kita bukan ingin mendapatkan sesuatu dari manusia, karena kita tidak ingin berada di pintu masuk yang dapat dilihat oleh semua orang; karena kita hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melayani Tuhan dalam tempat kudus. Saudara saudari, ketahuilah, kita tidak ingin melayani di dalam bait, karena yang kita harapkan, yang akan kita kerjakan lebih besar daripada itu. Di sini tidak ada satu hati yang lebih perkasa daripada Paulus, karena dia mempunyai satu ambisi, yaitu mencari perkenan Tuhan. Sebab itu yang kita tuntut di sini lebih besar daripada kebanyakan orang. Pekerjaan yang kita lakukan di sini lebih besar daripada pekerjaan besar yang dilakukan banyak orang. Jadi, hati kita lebih besar daripada hati mereka. Saudara, jangan mengira kita terlalu sempit; sesungguhnya kita sangat lapang, karena kita tidak hanya melayani bait, lebihlebih kita ingin melayani Tuhan, meskipun kita di hadapan manusia tidak besar. Saudara saudari, lebih baik orang lain mengkritik kita, kalau bukan kehendak Allah, bagaimanapun, kita tidak mau bergerak. Karena di sini kita hanya mempunyai dua kedudukan: pertama adalah sudah mati, untuk melepaskan segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama; kedua adalah sudah bangkit, untuk datang melayani Allah, belajar bagaimana berdiri di hadapan Allah, mendengarkan perintah-Nya, menunggu di hadapan Allah untuk melayani Dia. Yang lainnya tidak perlu kita tanggapi. O! Saudara saudari, apakah kehendak Allah cukup memuaskan hati Anda? Cukupkah kita melaksanakan kehendak Allah? Apakah kehendak Allah tidak cukup baik? Atau Anda masih ingin menuntut yang lain? Apakah yang Allah tetapkan untuk Anda sudah cukup baik? O! Di hadapan Allah kita harus belajar melayani Dia.
Kita sudah mengatakan bahwa kita akan menyinggung tiga hal, pertama adalah perbedaan melayani Allah dengan melayani bait; kedua adalah bagaimana melayani bait dan bagaimana melayani Allah, terakhir, kita akan melihat syarat dan keadaan apa yang harus dimiliki oleh orang yang melayani Tuhan. Marilah sekarang kita melihat:
III. ORANG YANG MELAYANI TUHAN
HARUS BAGAIMANA
Di sini memberi tahu kita bahwa semua orang yang melayani Allah di hadapan Allah harus mengenakan pakaian macam apa. Mereka harus mengenakan pakaian lenan, kepalanya harus memakai destar lenan, pinggangnya memakai celana lenan; jadi, seluruh tubuhnya memakai pakaian yang terbuat dari lenan. Selanjutnya dikatakan tidak boleh memakai pakaian bulu domba. Jadi, tidak ada seorang pun yang melayani Tuhan, yang boleh memakai pakaian bulu domba. Di hadapan Allah selamanya tidak boleh memakai pakaian bulu domba. Mungkin ada orang akan bertanya, “Mengapa orang yang melayani Tuhan tidak boleh memakai baju bulu domba?” Mari kita membaca ayat 18, “Mereka harus memakai destar lenan dan memakai celana lenan,” selanjutnya mengatakan, “tetapi jangan memakai ikat pinggang (pakaian) yang menimbulkan keringat.” Jadi, maksudnya di sini ialah semua orang yang melayani Tuhan tidak boleh berkeringat; semua pekerjaan yang menimbulkan keringat tidak diperkenan Allah, ditolak oleh Allah. Lalu, apa sebenarnya arti menimbulkan keringat? Kita tahu, teralirnya keringat di dunia ini untuk kali pertama adalah setelah Adam keluar dari Taman Eden. Kejadian 3 memberi tahu kita, karena Adam berdosa, lalu Allah memberi hukuman, kata-Nya, “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu” (ayat 17-19). Karena itu berpeluh adalah keadaan dari menerima kutuk; karena dikutuk Allah, tanah tidak menghasilkan makanan baginya; karena tidak ada berkat Allah, maka harus bekerja sendiri, sehingga tubuhnya berkeringat. Jadi, apakah pekerjaan yang berkeringat? Yaitu semua pekerjaan yang dilakukan dengan jerih payah dari tubuh daging, yang tidak ada berkat Allah Bapa. Tetapi orang yang melayani Allah, sama sekali tidak boleh melakukan pekerjaan yang berkeringat. Hari ini di hadapan Allah entah ada berapa banyak pekerjaan yang perlu mengeluarkan banyak tenaga baru bisa berhasil. Yang dilakukan oleh orang yang melayani Allah seharusnya adalah pekerjaan yang tidak mengeluarkan keringat. Karena semua pekerjaan Allah sangatlah tenang, bukan dikerjakan dengan berlari-lari, melainkan dikerjakan dengan duduk. Meskipun di luar sangat sibuk, tetapi di dalam sangat teduh; meskipun di luar sangat ramai, tetapi di dalam sangat tenang, sebab itu dilakukan dengan duduk. Inilah pekerjaan yang tidak berkeringat. O, bagi Allah semua kejadian bukan kebetulan, semua perkara di hadapan Allah tidak dilakukan dengan kekuatan daging. O! Sayang sekali, hari ini banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan berkeringat. Sayang sekali, banyak pekerjaan kalau tidak ada perencanaan, tidak ada orang yang mengendalikan, mendorong, mempromosikan, menganjuri, memperingatkan, memakai kekuatan diri sendiri, memakai kekuatan tubuh daging, tidak bisa terlaksana. Sayang sekali, hari ini kalau tidak berkeringat, tidak ada pekerjaan pelayanan. Namun ingatlah, di luar kita boleh berkeringat, di luar kita boleh menyembelih lembu domba, melayani orang berdosa, melayani kaum beriman, semua pekerjaan ini bisa membuat orang berkeringat. Tetapi orang yang akan melayani di tempat kudus, tidak boleh berkeringat, karena Allah tidak memerlukan orang yang berkeringat. Memang semua pekerjaan pelayanan pasti sibuk, tetapi pekerjaan Allah tidak memerlukan tenaga daging. Saya tidak mengatakan tidak memerlukan kekuatan rohani, sebenarnya sulit mengatakan harus memakai berapa besar kekuatan rohani, sulit mengatakan perlu mengalami berapa banyak kesulitan. Hari ini semua pekerjaan orang, tidak membedakan yang mana pekerjaan rohani, yang mana pekerjaan daging. Orang selalu berkata, “Semua pekerjaan Allah, kalau tidak berlari ke sana ke sini, tidak berkomunikasi, mengeluarkan waktu untuk membicarakannya, memperdebatkannya, kalau tidak menerima usulan dari banyak orang, dan disetujui oleh kebanyakan orang, tidak bisa terlaksana.” Namun kalau Anda disuruh dengan tenang menunggu di hadapan Allah, mendengarkan perkataan Allah, Anda tidak bisa melaksanakan, karena hal ini tidak bisa dilakukan oleh daging. Semuanya itu perlu berkeringat.
Aspek yang terbesar dalam pekerjaan rohani adalah berurusan dengan Allah. Yang pertama harus dihubungi adalah Allah, bukan manusia. Pekerjaan daging tidak demikian, yang pertama dihubungi adalah manusia. Sebab itu, dalam pekerjaan daging, kalau satu pekerjaan tidak ada manusia, pasti tidak sukses, bahkan menganggap itu bukan pekerjaan Allah. O, berada di hadapan Allah adalah sangat berharga, yang kita hadapi adalah Allah sendiri. Sebab itu, di sini kita bukanlah tidak bekerja, melainkan melakukan pekerjaan yang tidak berkeringat. Bagaimana menjelaskan hal ini? Kalau Anda sudah menanggulangi dengan baik di hadapan Allah, di hadapan manusia Anda tidak perlu berkeringat lagi. Anda bisa menggunakan kekuatan yang paling kecil untuk melakukan pekerjaan yang paling banyak. Mengapa di sini begitu banyak iklan, dorongan, anjuran, semuanya karena mereka tidak berdoa di hadapan Allah. Izinkan saya memberi tahu Anda, semua pekerjaan rohani hanya dikerjakan di hadapan Allah. Kalau Anda melakukan dengan baik di hadapan Allah, orang lain dengan sendirinya bisa mendengarkan Anda. Anda tidak perlu memakai banyak cara, dengan sendirinya akan mendapatkan faedah. Allah yang bekerja, sebab itu tidak perlu kekuatan daging dan berkeringat.
Sebab itu, saudara saudari, hari ini di hadapan Allah, kita boleh dengan jujur memeriksa diri sendiri, bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, sebenarnya aku berbuat demikian ini, apakah melayani Engkau, atau melayani pekerjaan? Ya Tuhan, aku melayani bait atau melayani Allah?” Kalau dari pagi sampai malam Anda terus bekerja dengan “bersimbah peluh”, Anda sendiri bisa memastikan bahwa Anda sedang melayani bait, bukan melayani Allah. Kalau yang membuat Anda sibuk sepenuhnya adalah untuk keperluan di luaran, Anda sendiri bisa memastikan, “Ya Tuhan, aku sedang melayani umat Allah, bukan melayani Engkau.” Saya tidak meremehkan orang-orang yang melayani umat Allah itu. Mereka juga melakukan pekerjaan Allah. Perlu ada orang yang menyembelih lembu dan domba, perlu ada orang yang membimbing orang lain kepada Tuhan. Orang Israel memerlukan orang-orang untuk melayani mereka. Tetapi yang diperlukan Allah di sini adalah masuk lebih dalam lagi. Sebab itu Anda seharusnya berdoa, “Ya Allah, mohon Engkau menolong aku, supaya aku tidak jatuh menjadi orang-orang yang melayani umat Allah.” O, di sini tidak hanya melayani umat Allah. Orang yang melayani umat Allah sudah terlalu banyak, untuk apa Anda ikut meramaikan pekerjaan itu? Hari ini Allah tidak dapat menyuruh semua orang melayani Dia, hal ini tidak bisa dilakukan oleh Allah, karena banyak orang tidak mau melakukan hal ini. Sebab itu, tidak mungkin bisa menggarap sampai seluruh gereja bangkit dan setiap orang menjadi setia, karena manusia tidak mau demikian. Lihatlah, banyak orang yang benar-benar telah beroleh selamat, yang benar-benar telah memiliki hayat, tetapi mereka suka melayani umat Allah, Anda tidak bisa mengubah mereka. Karena mereka tidak mau meninggalkan keramaian di luaran, tidak bisa melepaskan pekerjaan di luaran, mereka memandang penting lapangan pekerjaan. O! Saya mengetahui hal ini. Pasti ada orang yang mau melakukan pekerjaanpekerjaan ini, masalahnya adalah apakah Anda berbagian di dalamnya. Saya harap hari ini kita bisa berkata, “Ya Allah, aku mau melayani Engkau, aku mau meninggalkan segalanya, melepaskan semua pekerjaan, membuang segala sesuatu yang berada di luar, aku mau melayani Engkau, mengerjakan pekerjaan rohani; aku mau melepaskan yang di luar, dan masuk ke dalam, masuk ke tempat yang lebih dalam lagi.”
Di sini Allah tidak bisa menyuruh semua orang Lewi masuk, Dia hanya memiliki keturunan Zadok. Mengapa demikian? Karena saat semua orang Israel murtad, meninggalkan Allah, hanya keturunan Zadok yang menjaga tempat kudus. Mereka melihat perkara yang di luar tidak bisa dibereskan, yang di luar sudah runtuh, najis, sebab itu mereka melepaskannya, sepenuh hati menjaga kekudusan tempat kudus. O, saudara saudari, apakah Anda bisa membiarkan yang di luar runtuh? Atau Anda ingin dengan kayu menunjangnya, supaya dia tidak runtuh? Tetapi Allah berkata, “Aku tidak mau semuanya ini, sekarang Aku akan menjaga tempat kudus-Ku, meninggalkan satu tempat yang kudus bagi anak-anak-Ku.” Jadi, Anda nampak bahwa hari ini perlu ada satu tempat yang mutlak tersisih bagi Dia, yang benar-benar bisa memutuskan apa yang benar, apa yang salah. Karena yang ingin Allah pelihara adalah tempat kudus-Nya. Yang di luar akan runtuh, Allah tidak berdaya, membiarkannya runtuh. Namun keturunan Zadok menjaga tempat kudus, sebab itu Allah memilih mereka. Hari ini Allah tidak bisa membereskan semua orang, tetapi Dia akan membereskan Anda. Kalau Anda tidak bisa melepaskan semua perkara yang di luar, Allah akan mencari siapa? Saudara saudari, hari ini saya berdiri di hadapan Allah memohon kepada kalian, “Hari ini yang Allah cari adalah orang-orang yang sepenuhnya melayani Dia. O, hari ini orang-orang yang melakukan pekerjaan di luaran sudah terlalu banyak, tetapi orang-orang yang di dalam melayani Allah sangatlah sedikit. Sebab itu hari ini Allah berseru: Siapa yang mau datang ke tempat kudus untuk melayani Aku?”
Saya tidak bisa terlalu menekankan hal ini, saya hanya bisa berkata bahwa saya sangat senang membaca ayat Alkitab dalam Kisah Para Rasul 13 yang mengatakan, “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, . . . mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’” (ayat 1-2). Inilah pekerjaan Perjanjian Baru, juga satu-satunya prinsip pekerjaan melayani Tuhan. Pekerjaan Roh Kudus hanya bisa diwahyukan ketika berada dalam beribadah (melayani) kepada Tuhan. Saat melayani Tuhan, barulah Roh Kudus mengutus mereka pergi. Sebab itu kalau tidak mengutamakan pelayanan kepada Tuhan, semuanya akan berkebalikan.
Kita tahu bahwa permulaan pekerjaan gereja di Antiokhia terjadi pada waktu beribadah kepada Tuhan, Roh Kudus berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Saya ulangi lagi, Allah selamanya tidak mau orang masuk menjadi tentara. Allah tidak mau orang berinisiatif sendiri masuk menjadi tentara. Allah hanya menghendaki orang yang dipaksa Dia menjadi tentara, Allah mau merekrut tentara sendiri. Ketahuilah, ada dua macam tentara: yang satu adalah orang itu sendiri yang mau masuk menjadi tentara, yang satu lagi adalah negara yang memaksa merekrut tentara, karena negara memberi perintah, mau tak mau orang harus menjadi tentara. Dalam pekerjaan Allah, hanya ada tentara rekrutan, tidak ada tentara yang masuk sendiri. Sebab itu, tidak ada orang yang bisa berkata, “Karena aku senang, maka aku memberitakan Injil.” Tetapi Allah tidak memerlukan yang demikian. Hari ini yang sangat merusak pekerjaan Allah adalah terlalu banyak orang yang datang sendiri masuk menjadi tentara. Hari ini orang-orang tidak bisa berkata seperti Tuhan, “Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 6:38). Saudara saudari, ini bukan satu perkara yang sembarangan, pekerjaan Allah tidak bisa Anda lakukan menurut kemauan diri Anda sendiri, pekerjaan Allah mutlak milik Allah. Sebab itu hari ini Anda harus memeriksa: Diriku sendiri yang keluar, atau Tuhan yang memanggil aku keluar? Hari ini kita harus bertanya kepada diri sendiri: Aku sendiri yang menjadi tentara, atau aku diperintah Allah masuk tentara? Semua yang masuk sendiri menjadi tentara, tidak bisa tertinggal, semua yang memperkenalkan diri sendiri, tidak bisa tahan lama, karena Allah hanya mau tentara yang Dia cari sendiri. Ketahuilah, ketika mereka melayani Tuhan, bukan Paulus dan Barnabas sendiri yang mengatakan, “Kita akan pergi memberitakan Injil,” tetapi Roh Kudus yang berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Jadi, di sini hanya Roh Kudus yang berhak mengutus orang bekerja, terhadap hal ini gereja sama sekali tidak ada hak. Tetapi hari ini ada banyak misi, banyak badan penginjilan yang diutus oleh orang. Allah tidak bisa mentoleransi hal ini. Karena di sini kita hanya bisa melayani Tuhan, tidak bisa melayani bait. Yang dikehendaki Allah adalah orang-orang yang langsung melayani Dia, orang-orang yang menerima pengutusan oleh Roh Kudus.
Saya ulangi lagi, melayani Tuhan bukan sama sekali tidak mengerjakan pekerjaan di luar, juga bukan berarti tidak lagi berjalan ke sana sini. Yang saya katakan ialah: semua pekerjaan luar harus dilakukan berdasarkan melayani Tuhan; karena melayani Tuhan maka kita pergi, bukan berasal dari kesenangan diri sendiri yang tidak dilakukan berdasarkan melayani Tuhan. Dua hal ini sangat berbeda, perbedaan mereka lebih besar daripada perbedaan langit dengan bumi. Semua orang yang mempunyai pengalaman akan mengetahui, tidak ada perbedaan yang lebih besar daripada perbedaan antara melayani Tuhan dengan melayani bait.
Kita mengetahui tentang tirai, yaitu kita harus melayani Tuhan dalam tempat kudus. Tetapi di samping hal itu masih ada satu hal yang juga penting, yaitu “Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya” (Ibr. 13:13). Pikiran utama Surat Ibrani ada dua: Yang satu adalah tirai, yang satu lagi adalah di luar perkemahan. Sebab itu, kita tidak hanya harus melayani Allah di dalam tempat kudus, tetapi juga perlu pergi ke luar perkemahan. Hanya ketika kita meninggalkan perkemahan untuk melayani Tuhan, barulah Dia berbicara kepada kita, memberi pimpinan kepada kita; waktu-waktu yang lain, Dia tidak berbicara apa-apa.
Sekarang, marilah kita melihat apa yang dibicarakan Injil Lukas. Izinkan saya mengulangi lagi, saya bukan ingin menjelaskan Injil Lukas, tetapi ingin dari potongan Alkitab ini melihat perkara apa yang dituntut oleh Tuhan. Injil Lukas dengan jelas memberi tahu kita, yang Tuhan tuntut tidak lain adalah diri-Nya sendiri, bukan Anda atau saya, melainkan diri-Nya sendiri. Satu hal yang sangat ajaib, meskipun yang dibicarakan di sini sangatlah serius, tetapi setiap orang merasakan ini sangat berharga. Kita mengetahui di sini ada dua macam pekerjaan: pertama, menggarap tanah atau menabur; kedua, menggembalakan ternak atau merawat. Pekerjaan menabur adalah menanggulangi perkara yang belum dilahirkan; menggembalakan ternak adalah menanggulangi perkara yang sudah ada. Sebab itu, yang satu berhubungan dengan pekerjaan terhadap orang berdosa, yang satunya lagi berhubungan dengan pekerjaan terhadap orang beriman. Dengan kata lain, yang satu adalah menyuruh orang yang belum percaya Tuhan untuk percaya Tuhan, yang satunya lagi membuat orang yang sudah menerima Tuhan mendapatkan perawatan. Inilah pekerjaan yang dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan, inilah pekerjaan yang seharusnya kita lakukan di hadapan Allah. Ini sangat penting, kita harus melakukannya dengan rajin. Tetapi di sini Tuhan sangatlah mengherankan, Dia berkata, “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!” (Luk. 17:7). Artinya, tidak ada orang yang berbuat demikian, juga tidak ada orang yang harus berbuat demikian. Jadi, semua hamba — orang Kristen — setelah selesai bekerja, tidak perlu diberi makan. Kalau dilihat dari pandangan tubuh daging, mereka akan berkata bahwa majikan orang Kristen sangat pelit. Mereka di luar membajak tanah, menggembalakan ternak, sangatlah letih, tetapi setelah pulang rumah, masih tidak diberi makan. Tetapi Tuhan tidak seperti orang dunia. (Mengenai bagaimana hubungan tuan dengan hamba dalam kehidupan duniawi, sudah dijelaskan dalam Surat Kolose dan Surat Efesus, di sini hanya mengatakan apa yang dituntut oleh Tuhan sendiri, bagaimana hubungan antara tuan dengan hamba dalam kehidupan rohani). Tuhan tidak mengundang kita makan dan minum. Apa yang Tuhan lakukan? Ayat 8 mengatakan, “Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum.” Inilah yang Tuhan lakukan pada hari ini. Dalam hati kita selalu berpikir: hari ini aku telah membajak berapa hektar tanah, telah menabur berapa kilo benih, lewat beberapa hari lagi, lewat beberapa bulan lagi, sedikitnya aku akan menuai tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat. Hari ini aku telah membimbing berapa banyak domba ke padang rumput yang hijau, ke tepi sungai yang tenang, untuk makan dan minum. Lewat beberapa waktu, dombadomba ini pasti bertambah gemuk. Ini pekerjaan yang sangat besar. Hasil dari tanah bisa dimakan, hasil produksi dari bulu atau kulit domba bisa dipakai untuk membuat pakaian, sebab itu kita pasti akan senang sekali, terus menikmati kesenangan dari hasil pekerjaan kita. Arti dari makan minum adalah merenungkan kembali kenikmatan dari pekerjaan yang telah kita kerjakan. Sering kali setelah kita melakukan satu pekerjaan yang menyenangkan, ketika tidur pun kita masih mengingatnya, masih merasa sangat senang; ketika makan juga terus mengingatnya, merasa sangat bangga. Sering kali kita terus mengingat-ingat satu perkara yang telah kita kerjakan, dan merasa sangat senang. Tetapi Tuhan berkata bahwa dalam semua pekerjaan, baik menggembala ternak, membajak tanah, tujuan Tuhan bukan supaya kita senang, bukan untuk kita nikmati sehingga kita mendapatkan sesuatu. Tuhan pasti akan berkata kepada kita, “Sediakan makanan-Ku, ikatlah pinggangmu dan layanilah Aku.” Apakah kita nampak? Yang dikehendaki Tuhan adalah “melayani Aku”. Jadi, ingatlah, pekerjaan membajak tanah tidak sebanding dengan pekerjaan di dalam rumah. Ingatlah, tanah dan ternak tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan. Di sini Tuhan tidak berkata, “Karena kamu telah berjerih payah, kamu telah membajak tanah yang luas, telah menggembalakan banyak ternak, sebab itu kamu tidak perlu melayani Aku. Kamu boleh makan minum, bergembira ria.” Ingatlah, Tuhan tidak menghendaki demikian, Tuhan hendak memperlihatkan kepada kita berat dan ringannya kedua perkara itu. Lihatlah dalam perkataan-Nya, Dia tidak karena kita telah di luar membajak tanah, lalu kita boleh kendur, dan Dia akan berkata kepada kita bahwa kita tidak perlu melayani Dia. Tuhan tidak mau demikian. Dia tidak akan karena pekerjaan kita terlalu sibuk, lalu mengizinkan kita tidak melayani Dia. Dia tidak akan membiarkan kesibukan pekerjaan merebut pelayanan terhadap diri-Nya. Di sini perkara pertama adalah melayani Tuhan, dan melayani Tuhan lebih penting daripada pekerjaan membajak tanah, menggembalakan ternak, dan lain-lain.
Saudara saudari, apa yang kita kerjakan di sini? Apa tujuan kita? Apakah yang kita pikirkan hanyalah membajak tanah dan menabur benih? Memberitakan Injil menyelamatkan orang dosa? Apakah kerja keras kita hanya untuk menggembalakan ternak? Membagi makanan untuk kaum beriman? Atau kita menyediakan makan dan minum untuk Tuhan, supaya Tuhan kenyang dan puas? Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa setelah pulang dari kerja, Tuhan bukan menyuruh kita istirahat, bermalas-malasan. Meskipun kita sangat letih, tetap harus membangkitkan semangat kita untuk melayani Tuhan; meskipun kita sudah melakukan banyak pekerjaan, tetap masih perlu melayani Dia. Namun bukan berarti kita tidak perlu makan minum, makan minum kita harus setelah Tuhan makan minum. Memang kita perlu makan kenyang, tetapi Tuhan harus makan kenyang lebih dulu. Memang kita perlu bergembira, tetapi Tuhan harus bergembira lebih dulu. Sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya pekerjaan kita untuk siapa? Semua yang saya kerjakan di sini untuk memuaskan hati Tuhan, atau untuk memuaskan hati kita sendiri? Hasil pekerjaan kita adalah untuk memuaskan Tuhan, atau memuaskan kita sendiri? Saya benar-benar takut, sering kali Tuhan belum mendapatkan apa-apa, tetapi kita sudah kenyang lebih dulu. Saya benar-benar takut, sering kali Tuhan belum mendapatkan kegembiraan, kita sudah lebih dulu mendapatkan kegembiraan. Sebab itu, hari ini kita mohon Allah memperlihatkan kepada kita, di hadapan-Nya kita harus berdiri pada kedudukan yang bagaimana, di hadapan-Nya kita harus bagaimana melayani Dia.
Saudara saudari, meskipun kita telah melakukan semuanya, kita tetap masih sebagai hamba yang tidak berguna, sebab itu, kita sangatlah kecil.
Tujuan kita, pergumulan kita, bukan tanah dan ternak, dunia dan gereja. Tujuan kita adalah Tuhan. Pergumulan kita juga tertuju kepada Tuhan. Dia adalah segala sesuatu kita. Sebab itu marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Hari ini pekerjaan kita untuk Kristus atau hanya untuk orang dosa dan saudara saudari? Orang yang bisa membedakan melayani orang dosa dengan melayani Tuhan, dan yang bisa membedakan melayani kaum beriman dengan Tuhan, adalah orang yang bahagia. Meskipun hal ini mudah dimengerti secara harfiah, tetapi berbahagialah orang yang bisa membedakan dalam batin, dalam pengalamannya. O, pengetahuan ini tidak mudah diperoleh, sungguh kita harus mengalirkan darah kita dulu, baru dapat mempelajarinya. Perbedaan ini sungguh tidak mudah dimengerti, perlu melalui banyak penanggulangan baru bisa mengerti. Sering kali perlu benarbenar meletakkan hayat diri kita sendiri, menyingkirkan opini kita, baru bisa mengerti. Hal ini tidak semudah melayani saudara saudari, sebab itu melayani Tuhan sangat berbeda dengan melayani bait.
Meskipun demikian, kalau Roh Kudus bekerja di atas diri kita, tidak sulit untuk mengetahuinya. Sebab itu kita perlu dengan sungguh-sungguh memohon kepada Tuhan untuk memberi anugerah kepada kita, supaya kita nampak apakah melayani Dia itu. Saudara saudari, orang dosa benar-benar tidak terhitung apa-apa. Melayani mereka dengan melayani Tuhan adalah dua hal yang sangat berbeda. Sebab itu, hari ini kita benar-benar harus memohon Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, supaya kita melayani Dia. Sekarang saya tidak bisa berkata lebih banyak lagi, hanya bisa berkata, “Inilah yang hendak Allah katakan kepada kita dalam beberapa hari ini.”
W.N
PEMBARUAN AKAL BUDI
BAB
01 02