PENGHIDUPAN IMAN
Kita telah menyinggung kebangkitan Kristus dan telah menunjukkan bagaimana kita dapat menerima hayat baru dalam kebangkitan ini. Tetapi ada satu hal penting yang sangat erat hubungannya dengan hayat kita sebagai orang Kristen, yang harus saya kemukakan dalam bab ini. Kalau kita kekurangan satu hal itu, kita akan kekurangan sesuatu dalam kepercayaan kita. Di samping itu, saya ingin menambahkan lagi beberapa butir tentang iman. Semuanya itu akan kita bahas dalam bab ini.
Untuk Apa Allah Mengaruniakan Hayat Baru?
Pertama, Saya ingin bertanya, "Mengapa Allah mengaruniakan hayat baru kepada kita?" Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat awal perkara tersebut. Dan saya anggap kalian semua adalah orang Kristen; karenanya kita akan membahasnya dari sudut pandangan Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, dapat kita temukan hukum Taurat dengan segala ketetapannya. Hukum Taurat tidak hanya terdiri dari Sepuluh Perintah, tetapi masih mencakup ratusan ketetapan dan peraturan. Ada hukum yang mengatur bagaimana cara berpakaian. Ada hukum yang mengatur waktu menanam dan menuai; membajak harus memakai lembu atau keledai, juga ada hukumnya. Menenun dan memintal ada hukumnya sendiri, memasak juga ada tatacaranya. Segala hal diatur dengan ketat, dan segala peraturan ini digabungkan menjadi satu, jadilah hukum Taurat. Lalu saya ingin bertanya, mengapa harus ada hukum-hukum itu? Untuk apa Allah menetapkan begitu banyak hukum dalam Perjanjian Lama?
Apakah Hukum Taurat untuk Dilakukan Manusia?
Kalau Anda mengamati dan bertanya kepada setiap bangsa dan negara di dunia ini, mengapa mereka mengadakan begitu banyak hukum, mereka pasti akan menjawab, bahwa hukum itu harus ditaati oleh setiap warga negaranya. Lalu, Allah telah memberi kita begitu banyak hukumNya, apakah juga untuk kita pelihara dan taati? Apakah karena Allah ingin kita tidak menyembah berhala sehingga Allah menurunkan hukum, jangan menyembah berhala? Atau karena Ia menghendaki kita menghormati orang tua, maka ada satu hukum yang mengatakan, "Hormatilah ayahmu dan ibumu." Atau karena kita mudah iri hati, mudah membunuh orang, senang mencuri; maka diadakanlah hukum-hukum: jangan iri hati, jangan membunuh, jangan mencuri? Kalau saya bertanya kepada kebanyakan orang, mereka pasti menjawab, "Ya". Mereka akan mengatakan, bahwa alasan Allah memberi kita hukum, peraturan, dan ketetapan adalah agar kita memeliharanya dan hidup dengannya, seperti halnya setiap negara menuntut warganya taat dan tunduk kepada hukum-hukum negaranya.
Sebagai orang Kristen, jawaban kita tidak seharusnya demikian. Kalau Anda mengira Allah memberikan hukum-hukumNya untuk kita pelihara dan lakukan, maaf kalau saya berkata dengan tegas dan terus terang, "Anda belum mengerti apa-apa tentang kepercayaan orang Kristen, Anda masih orang di luar pintu."
Tentu Anda akan bertanya, "Kalau tujuan Allah memberi kita sedemikian banyak hukum itu bukan untuk kita laksanakan, lalu apa gunanya hukum itu diberikan?" Saya akan menjawab, "Agar kita melanggarnya!" Semua peraturan dalam hukum Taurat itu adalah untuk kita langgar! Ini merupakan kebenaran dalam Alkitab, yang juga diberitahukan kepada kita melalui surat Roma dan surat Galatia.
Hukum Taurat untuk Menyingkapkan Dosa Manusia
Di sini, kita perlu menjelaskan lebih lanjut, mengapa Allah memberi kita hukum Taurat? Roh Allah menjawabnya melalui rasul Paulus, "Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak" (Roma 5:20). Karena ada dosa, maka hukum Taurat ditambahkan. Paulus mengatakan, bahwa hukum Taurat adalah untuk menyingkapkan dosa manusia. Dengan kata lain, tujuan hukum Taurat bukan untuk menyingkirkan dosa-dosa kita, melainkan untuk menyatakan dosa-dosa kita. Kalau hukum Taurat diberikan untuk menyingkirkan dosa-dosa kita, maka kita perlu melaksanakannya. Tetapi tujuan hukum Taurat bukan untuk kita laksanakan, melainkan untuk menyingkapkan dosa. Hukum Taurat ditambahkan, khusus untuk menyingkapkan dosa-dosa.
Allah tahu jelas, orang macam apakah kita ini. Allah mutlak tahu kelemahan dan kebobrokan kita. Allah tahu sikap dan perilaku, kalaupun kita ingin berbuat baik, kita tidak bisa melakukannya. Allah tahu batiniah kita tidak baik, dan yang diekspresikan oleh lahiriah kita juga tidak benar. Allah tahu hakiki manusia kita, tidak hanya memiliki tingkah laku yang jahat, bahkan hayatnya pun rusak.
Namun di sinilah kesulitannya, yaitu Allah tahu kebobrokan kita, kita malah tidak menyadarinya. Allah tahu bahwa kita telah rusak sedemikian rupa, tetapi kita tidak mengetahuinya. Kita masih sering mengira kalau dapat sedikit lebih kuat, atau sedikit lebih menguatkan tekad, kita akan mampu melaksanakan perintah Allah. Kita merasa, asal kita mengeluarkan lebih banyak waktu dan tenaga, lebih mengenal doktrin, dan juga Allah sedikit membantu kita, maka kita akan dapat melaksanakan kehendak Allah, bisa memiliki ekspresi hidup yang lebih baik. Kita mengira, diri kita dapat berbuat sesuatu, tetapi Allah tahu bahwa kita mutlak tidak mampu! Sebab itu Allah memberikan satu daftar panjang dari hukum-hukum untuk manusia, bukan untuk dilaksanakan oleh manusia, tetapi untuk dilanggar, supaya kejahatan manusia tersingkap, dan supaya manusia menyadari, bahwa keselamatan tidak mungkin datang dari hukum Taurat.
Allah sangat mengenal keseluruhan diri kita, tetapi kita tidak mengenal diri sendiri. Allah tahu, kita adalah anak-anak kecil, yang jika berlari demikian pasti akan jatuh. Namun kita tidak menyadarinya, dan akhirnya kita benar-benar jatuh. Setelah jatuh, barulah kita sadar bahwa kita bisa jatuh. Kita tidak mengenal diri kita sendiri.
Sebab itu, Alkitab mengatakan, bahwa hukum Taurat mengurung kita di bawah dosa. Berabad-abad lamanya Allah telah memberi kita satu pelajaran, agar kita sadar bahwa kita mustahil melaksanakan hukum Taurat, kita tidak akan pernah dapat melaksanakannya! Demikianlah kita dapat mengetahui betapa kita tidak dapat melaksanakan satu hukum pun dari deretan hukum Taurat itu; sebaliknya tujuan setiap hukum yang diberikan adalah untuk kita rusak, kita langgar, agar kita mengenal diri kita! Begitu kita mengenal diri kita, kita akan dapat berkata, "Ya, Allah, aku menyerah! Kini aku tahu apa yang akan Kau lakukan terhadapku!"
Apa yang Harus Dilakukan untuk Memperoleh Hidup Kekal
Ketika Kristus di bumi, seorang pemuda Israel datang kepadaNya. Ia seorang pemuda yang terhormat dan baik. Ia bertanya kepada Tuhan, "Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Pada hari itu, Tuhan tidak menjawab seperti apa yang biasa Ia katakan, barangsiapa percaya ia memiliki hidup kekal. Sebaliknya Ia berkata, "Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" (Markus 10:19).
Mendengar ini, dengan yakin dan bangga pemuda itu menjawab, "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Tuhan tahu, bahwa di sini ada seorang yang tidak mengenal dirinya sendiri. Karena itu Tuhan berkata lagi, "Hanya satu lagi kekuranganmu." Seolah-olah Tuhan berkata, kamu merasa telah sempurna, coba lihatlah, benarkah kamu sempurna? Kalimat selanjutnya, "Pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Bagaimana reaksi pemuda itu setelah mendengar perkataan ini? Dia segera sadar, bahwa apa yang dikehendaki Allah tidak dapat ia laksanakan. Satu tambahan itu adalah yang tidak dapat ia lakukan. Maka pergilah ia dengan sedih. Dia mulai mengenal bahwa dirinya tidak dapat, ia tidak mampu!
Bagi Manusia Mustahil
Apa yang Kristus katakan? Ia berkata, "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Inilah tujuan Tuhan menempelak pemuda itu, yaitu agar manusia tahu, bahwa bagi manusia itu mustahil. Saya tidak mengatakan Tuhan meminta setiap orang menjual harta miliknya, lalu memberikannya kepada orang miskin, baru bisa beroleh selamat. Yang dikatakanNya adalah membuat orang-orang yang mengira dirinya mampu, sadar bahwa dirinya tidak mampu! Allah hanya ingin menunjukkan bahwa manusia tidak mampu! Hayat manusia adalah hayat yang tidak mampu, manusia tidak mampu!
Kalau manusia mau mengakui ketidakmampuannya dan menyerah di hadapan Allah, segalanya akan beres. Hai pemuda Israel! Hai orang yang berkedudukan! Mengapa engkau pergi dengan sedih? Mengenal ketidakmampuan diri sendiri adalah benar; sebaliknya pergi dengan sedih adalah tidak benar! Anda boleh berkata kepada Tuhan, "Ya, Tuhan, aku tidak bisa, aku benar-benar tidak mampu, tolonglah aku!" Kalau Anda berkata demikian, betapa baiknya ini, karena tujuan Tuhan bukanlah agar Anda pergi, tetapi membuat Anda nampak betapa Anda tidak mampu.
Bila seseorang berkata, "Aku bisa", maka di atas dirinya Allah tidak berdaya. Tetapi bila manusia tidak mampu, Allah akan mampu. Kapan kita mengakui bahwa kita tidak memiliki kekuatan lagi, Allah akan menyatakan kekuatan dan kemuliaanNya.
Bani Israel Juga Tidak Mampu
Mari kita lihat sedikit sejarah bani Israel. Ketika Allah menurunkan hukum Taurat, seolah jawaban bani Israel sangat enak didengar. Mereka mengatakan, "Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan." Perintah pertama yang Allah berikan adalah, "Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu." Musa menerima hukum-hukum itu di atas gunung, belum lagi ia turun, bani Israel telah membuat sebuah patung anak lembu emas bagi mereka dan berkata, "Inilah Allahmu." Apa yang diucapkan mulut mereka dulu begitu enak didengar, bahwa mereka akan melaksanakan segala yang difirmankan Tuhan. Tetapi Allah menunjukkan kepada mereka, bahwa sebenarnya mereka tidak dapat! Sebagaimana bani Israel tidak dapat, demikian pula pemuda tadi, dan itu pula yang terjadi di atas diri kita. Berulang-ulang Allah menunjukkan kepada manusia, bahwa manusia tidak mampu!
Siapakah yang Mampu?
Lalu, siapakah yang mampu menaati hukum Allah? Inilah pertanyaan penting kedua yang harus kita ajukan.
Ingatlah, setiap tuntutan hukum Taurat dalam Alkitab adalah meminta nyawa manusia! Setiap orang yang kaya harus menjual seluruh miliknya, dan memberikannya kepada orang miskin, kemudian mengikuti Yesus dari Nazaret! Bukankah ini berarti meminta nyawa orang! Permintaan Kristus kepada manusia tuntas dan tegas, meminta nyawa manusia! Dia berkata, "Barangsiapa mengasihi ibu bapanya melebihi mengasihi Aku, tidak layak menjadi muridKu!" "Mengasihi anak-anaknya lelaki atau perempuan melebihi mengasihi Aku, tidak layak menjadi muridKu!" "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, tidak layak menjadi muridKu!" Lihatlah, bukankah ini meminta nyawa orang? Terutama klausa tentang memikul salib mengikuti Dia, dalam jaman ini dapat dibandingkan dengan berjalannya seorang hukuman mati ke tempat eksekusi, dengan tangan kaki terbelenggu, memikul tanda hukuman dosa, sepanjang jalan menjadi bahan ejekan orang. Kalau Anda tidak mau seperti orang hukuman itu, tidak layak menjadi muridNya! Bukankah ini berarti meminta nyawa Anda?
Dia mengatakan pula, "Kasihilah musuhmu!" Bagi kita, sedikit toleransi pada musuh saja sudah tidak mudah, bagaimana bisa mengasihinya? Karena itu, semua perintah Allah, semua tuntutanNya, tidak dapat kita laksanakan.
Hanya Allah yang Mampu
Siapakah yang mampu melakukannya? Hanya Allah sendiri yang mampu! Perintah Kristus hanya dapat dipenuhi oleh Kristus, Anda tidak mampu, saya pun tidak. Sebab itu, jawaban dari pertanyaan kedua adalah: hanya Putra Allah, Yesus, yang dapat memenuhi perintah Allah. Kita semua tidak mampu, hanya Allah yang mampu!
Sebab itu, setiap kali ada saudara dalam Tuhan yang berkata bahwa dirinya tidak berdaya, setiap kali baru bangun segera jatuh lagi, semakin ingin berbuat baik, semakin mudah gagal, saya akan gembira. Semakin sering ia mengucurkan air mata atas dosa-dosanya dan pelanggarannya, saya akan semakin gembira dan tertawa lebar-lebar. Saya akan berkata, "Sekarang Anda baru tahu kalau Anda tidak mampu, ini adalah perkara yang menyenangkan! Walaupun seharusnya mengetahui lebih awal, namun sekarang pun cukup baik. Kita tidak dapat memenuhi tuntutan Allah. Kehendak Allah hanya dapat dipenuhi oleh Allah sendiri, dan perintah Kristus hanya dapat dipenuhi oleh Kristus sendiri."
Kabar Gembira, Bukan Kabar Buruk
Pemberitaan tentang Kristus disebut juga Injil. "Injil" berarti "kabar gembira." Mengapa disebut kabar gembira? Apakah dikarenakan perintah dalam Alkitab berstandar lebih tinggi daripada perintah dalam agama-agama lainnya? Bukan! Kalau karena alasan demikian, maka yang kita beritakan adalah kabar buruk. Misalnya saja suatu ujian olah raga. Kalau dalam ujian itu setiap orang hanya dituntut melompat setinggi setengah meter, setiap orang akan dengan mudah melakukannya. Tetapi kalau dituntut melompat setinggi tiga meter, ini sungguh berita buruk.
Kabar gembira apakah yang Allah berikan kepada kita? Kabar gembira ini adalah Allah telah mengaruniakan AnakNya kepada kita; Ia telah bangkit, maka kita pun bangkit; kini Dia hidup di dalam kita menjadi hayat kita, agar kita memperhidupkan kehidupanNya, memenuhi tuntutanNya. Kabar gembira adalah Allah telah memberi perintah dan sedang melaksanakan perintahNya sendiri di dalam kita! Injil bukan seperangkat aturan yang menuntut Anda, "Tidak boleh begini", "Jangan begitu", sehingga Anda seperti tanaman alang-alang yang menjalar di bumi, dan yang siang malam berkata pada diri sendiri, "Jangan berbuat ini", "Jangan berdosa!" Kalau demikian, itu bukan kabar gembira, melainkan kabar buruk! Allah sendiri yang masuk dan hidup di dalam kita, dan Dia sendiri yang melaksanakan, itulah Injil!
Allah Membuat Kita Mampu
Kita tidak hanya harus melihat diri kita tidak mampu, kita pun harus tahu, bahwa Allah mampu! Pemuda dalam Alkitab tadi hanya melihat dirinya tidak mampu, dan menganggap Allah pun demikian, lalu ia pergi dengan sedih. Sebenarnya tidak demikian, Allah mampu! Jangan mengira kalau Anda tidak mampu, maka habislah segalanya. Ketidakmampuan manusia adalah awal kemampuan Allah, itulah saatnya Allah menyatakan kekuatanNya. Bukan kita yang mampu, melainkan Allah yang bekerja bagi kita, membuat kita mampu.
Apakah artinya Kristus menjadi hayat? Kristus menjadi hayat berarti semula manusia hidup oleh hayatnya sendiri, tetapi dengan masuknya hayat kebangkitan Kristus, hayat alamiah manusia kita tersingkir. "Aku" yang dulu hidup telah pergi, dan hayat Kristus telah masuk menggantikannya, sehingga sekarang bukan aku lagi yang hidup. Karena hayat di dalam kita diganti, maka penghidupan kita pun berubah. Karena hayat kita adalah Kristus, maka kita mampu melaksanakan perintah Kristus. Bukan kekuatan Kristus yang membantu kita melaksanakan peraturan-peraturanNya, melainkan hayat Kristus di dalam kita, bekerja bagi kita untuk memenuhi perintah-perintahNya. HayatNya di dalam kita hidup bagi kita, sehingga kita mampu melaksanakan hukum-hukumNya.
Perjanjian Lama yang Gagal
Kita perlu melihat suatu bagian Alkitab dengan lebih cermat. Ibrani 8:8-9 mengatakan, "Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: 'Sesungguhnya, akan datang waktunya,' demikianlah firman Tuhan, 'Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjianKu, dan Aku menolak mereka,' demikianlah firman Tuhan."
Bagaimanakah dulu Allah mengadakan perjanjian dengan kaum Israel? Ia mengadakannya dengan memegang tangan mereka, bersifat luaran. Hukum Taurat ditulis di loh-loh batu, juga berada di luar. Bagaimanakah hasilnya? Mereka tidak setia dalam perjanjian itu, dan Allah pun menolak mereka. Perintah-perintah Allah adalah satu perkara, dan ketaatan kita adalah perkara lain. Dan ini berakhir dengan kegagalan.
Perjanjian Baru yang Batini
Bagaimanakah dengan perjanjian yang selanjutnya? Dalam pasal yang sama ayat 10 dan 11 mengatakan, "Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan. "Aku akan menaruh hukumKu dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku."
Kini, hukum Taurat itu telah ditaruh di dalam batin manusia. Bukan ditulis di loh-loh batu, atau dicatat dalam Alkitab, tetapi ditulis di dalam hati manusia. Apa manfaatnya hukum itu ditulis di batin kita? Kita melihat Yehezkiel 36:27 mengatakan, "RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya." Perhatikanlah kata "membuat" dalam ayat ini. Kata ini sangat tegas artinya dalam bahasa Ibrani. Allah menaruh RohNya di dalam batin kita, agar kita dapat menuruti peraturan-peraturanNya, hidup menurut ketetapan-ketetapanNya.
Dulu, dalam Perjanjian Lama, manusia harus berusaha sekuatnya memenuhi perintah-perintah Allah. Kini Roh Allah ada di dalam kita, Ia membuat kita melakukan perintah-perintahNya. Dulu, yang mengeluarkan perintah adalah Allah, dan yang mengeluarkan tenaga untuk melaksanakan adalah kita. Kini, yang mengeluarkan perintah adalah Allah, dan yang mengeluarkan tenaga untuk melaksanakannya juga Allah. Setelah bangkit, Kristus masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, agar membuat kita mampu memenuhi perintah Allah, inilah Injil. Kemampuan Kristus menjadi kemampuan kita, karena Kristuslah yang hidup bagi kita, dan semua masalah terselesaikan.
Aku Telah Disalibkan, Kristus yang Hidup
Kini saya mengalihkan persoalannya pada diri Anda. Sudahkah Anda putus asa terhadap diri Anda sendiri? Masihkan Anda berusaha memperbaiki diri dan mencoba mengangkatnya ke keadaan yang lebih baik? Kalau saya, saya telah sepenuhnya membuang harapan pada diri saya! Seluruh diri saya, yang baik maupun yang buruk, telah disalib, telah diakhiri. Kini yang ada adalah Kristus, inilah satu-satunya jalan. Paulus berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku."
Percayakah Anda bahwa Allah telah menyalibkan Anda? Percayakah Anda? Kalau "ya", Anda akan mensubstansiasi fakta ini. Manusia lama Anda telah diakhiri, dan kini Kristus di dalam Anda, akan mensubstansiasikannya sehingga Anda dapat berkata, "Sejak saat ini, Kristuslah yang hidup di dalam aku."
Harus Tetap Percaya
Suatu kali saya berbincang-bincang dengan seorang misionaris Barat, cukup lama kami berbicara. Ketika sedang makan bersama, saya bertanya kepadanya, "Dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda telah mengalahkan semua dosa Anda?" Dia menjawab, "Aku harus menunggu dan melihat apakah kenyataannya begitu." Dia berkata lagi, "Paulus mengatakan, bahwa ia telah mati; Paulus mengatakan bahwa ia telah bangkit; tetapi aku tidak berani mengatakan demikian. Kalau mengatakan demikian, lalu bagaimana jika besok saya marah-marah lagi? Bukankah ini berarti saya masih hidup? Harus menunggu beberapa hari lagi untuk melihat kenyataannya."
Saya berkata, "Allah telah berfirman, bahwa Ia telah mencakupkan Anda ke dalam AnakNya, mati tersalib bersamaNya; Ia juga telah mencakupkan Anda ke dalam kebangkitan AnakNya, agar Ia dapat menjadi hayat di batin Anda. Seharusnya Anda berkata, 'aku percaya', tetapi Anda berkata, 'tunggu dulu'." Benarkah Anda percaya? Anda tidak percaya! Kalau Anda percaya, Anda akan berkata, "Terima kasih, ya, Allah, Kristus adalah hayatku." Kalau Anda percaya, Anda pasti dapat berkata, "Allah bertanggung jawab terhadap kenyataan itu, dan Ia tidak pernah lalai." Semua pekerjaan yang digenapkanNya menjadi realitas di atas diri Anda, bila Anda menggunakan iman Anda. Apa yang masih Anda tunggu? Ragu-ragukah Anda terhadap firman Allah?"
Mempercayai Fakta
Sekali lagi, ini adalah soal iman. Iman selalu melibatkan fakta-fakta yang telah genap di masa lampau. Semua yang harus menunggu besok, bukanlah iman. Semua yang dalam pengharapan bukanlah iman. Banyak orang, setelah mendengar berita ini berkata, "Aku percaya." Tetapi benarkah mereka beriman, ini masih merupakan satu pertanyaan.
Saya akan menggambarkannya dengan mengambil satu kisah nyata. Saya mempunyai dua orang sekerja. Yang seorang adalah seorang saudara yang bermarga Nee; yang lain adalah seorang saudari yang bermarga Lee. Keduanya baru saja terjun dalam pekerjaan kekristenan, keduanya sama-sama rabun jauh, yang harus memakai kaca mata. Saudari Lee ini berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, Engkau pernah mencelikkan mata orang buta, tidakkah Engkau dapat menyembuhkan penyakitku? Aku seorang perempuan, tidaklah leluasa bagiku berkeliling kampung memberitakan Injil dengan memakai kaca mata ini. Tuhan, sembuhkanlah aku." Saat itu, ia sedang berada di atas sebuah kapal uap kecil dalam perjalanannya ke sebuah kampung. Selesai berdoa, ia tahu bahwa Allah telah mendengar doanya, dia beriman. Ia melepaskan kaca matanya dan melemparkannya ke tengah sungai. Sejak itu matanya tidak rabun jauh lagi.
Iman Bukan untuk Kelak
Kabar ini tersiar sampai ke telinga saudara Nee. Suatu hari, ia datang kepadaku dan berkata, "Kalaupun Allah telah menyembuhkan mata saudari Lee, saya percaya, Allah akan berbuat demikian juga kepadaku." Saya menjawab, "Anda mengatakan, Allah akan menyembuhkan mata Anda, ini menunjukkan Anda tidak beriman, Anda tidak akan sembuh." Dia tetap berkata, "Allah pasti akan menyembuhkan mataku, aku mempunyai iman ini."
Dua hari kemudian, saudara Lee ini naik sebuah kapal uap kecil, di tengah perjalanannya, ia mencopot kaca matanya dan melemparkannya ke sungai. Satu bulan kemudian, saya menjumpainya, dan ia berkata, sakit rabunnya belum ada kemajuan, seolah Allah belum menyembuhkan dia. Saya berkata, "Kalau Anda bijaksana, Anda akan segera mengeluarkan uang dua belas dolar lagi untuk membeli sebuah kaca mata baru." Dia menjawab, "Aku akan menginjil ke Ku Thien, dan akan kembali empat bulan lagi. Dan saat itu mataku pasti telah sembuh." Saya berkata, "Anda mengira Allah baru bisa menyembuhkan Anda setelah empat bulan, Anda telah menaruh iman di kelak kemudian, itu bukan iman."
Iman yang Sejati
Sudah jelaskah Anda? Yang ada pada saudari Lee itulah iman. Dia berkata, "Terima kasih Tuhan, Engkau membuatku tidak rabun jauh lagi, karena itu aku tidak memerlukan kaca mata ini lagi." Tetapi apa yang dikatakan saudara Nee? Ia berkata, "Aku membuang kaca mata ini, maka aku tidak rabun dekat lagi." Saudari Lee percaya bahwa Allah telah bekerja, inilah iman yang sejati. Percaya bahwa Allah telah melakukan, telah menggenapkan, telah terjadi.
Begitu pula terhadap keselamatan dan kemenangan kita. Kita bukan berharap Allah akan menyelamatkan kita. Saya kuatir ada orang yang terus berharap sampai mereka masuk ke dalam neraka. Kita pun tidak mengharapkan kemenangan baru datang dua hari lagi, tetapi mengatakan, "Tuhan, syukur padaMu, dosa-dosaku telah Kau ampuni. Terima kasih Tuhan, bukan lagi aku yang hidup, tetapi Engkaulah yang hidup di dalamku." Anda percaya telah . . . , Anda percaya sudah . . . , demikianlah Anda beroleh selamat.
Menerima Atas Iman dan Menerima Atas Fakta
Ada bagian lain dalam Alkitab yang menyinggung masalah waktu dalam iman, yaitu Injil Markus 11:24. Kita harus membacanya dengan teliti dan cermat.
"Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu pasti diberikan kepadamu" (Tl.).
Kata penting dalam ayat tersebut adalah "telah menerima". Dalam Alkitab saya, kata itu saya garis bawahi dan saya beri satu tanda besar. "Percaya telah menerima" adalah perkara yang lampau; "pasti diberikan" adalah perkara kelak. Dalam Alkitab hanya ada satu jenis iman, yaitu percaya bahwa telah menerima, bukan berharap akan menerima. "Percaya telah menerima" adalah menerima di dalam iman. "Pasti diberikan" adalah menerima di dalam fakta. Tanpa menerima di dalam iman, tidak akan ada menerima di dalam fakta.
Kadangkala, saya atau beberapa sekerja mengoleskan minyak pada orang sakit dan mendoakan mereka. Saya sering bertanya kepada si penderita, "Sudahkah Allah mendengar doamu?" Orang sakit yang beriman, akan menjawab, "Ya, Allah telah mendengar doaku, penyakitku telah lenyap." Penderita yang demikian, mungkin masih demam dan panasnya tinggi, seolah tidak ada gejala membaik, tetapi akhirnya mereka sembuh. Ada orang yang berkata, "Allah akan menyembuhkan saya", atau "Saya akan sembuh". Untuk orang- orang semacam itu kita harus mendoakannya lagi, karena kita merasa, mereka tidak beriman. Yang mereka miliki bukan iman, tetapi harapan. Berharap disembuhkan dan percaya telah disembuhkan sangatlah berbeda. Yang percaya telah menerima, pasti menerima.
Ya adalah Ya, Bukan Berharap
Begitu juga dengan hidup yang menang. Kalau Anda percaya bahwa Anda telah menang, Anda pasti mengalami kemenangan demi kemenangan. Tetapi jika Anda berharap kelak akan menang, maka Anda hanya akan mengalami kemenangan itu kelak. Kata "telah" atau "ya" ini menempati posisi yang sangat penting dalam doa-doa kita. Kalau ya, adalah ya, bukan berharap. Berharap adalah pernyataan dari tidak beriman. Kata "berharap" sering membuat doa-doa Anda tidak dikabulkan. Firman Tuhan sangat jelas, barangsiapa percaya telah menerima, maka hal itu pasti diberikan kepadanya.