← Daftar isi Kristus dan Orang Kristen · bab 1/6

SUBSTANSI IMAN

Apakah orang Kristen itu? Orang Kristen adalah orang yang telah menerima Kristus dan keselamatanNya yang agung. Bagaimana Kristus dan keselamatanNya yang agung bisa didapatkan orang? Pertanyaan ini seolah rumit dan sulit dijawab, tetapi sebenarnya jawabannya sangat sederhana. Hanya ada satu jalan untuk bisa menerima Kristus -- Iman (percaya). Percaya adalah menerima.

Seratus Lima puluh kali lebih

Ada orang pernah menghitung kata "iman" dalam kitab Perjanjian Baru, seluruhnya berjumlah lebih dari seratus lima puluh kali. Tiga puluh kali lebih dipakai sebagai kata benda, dan sisanya sebagai kata kerja. Bila dipakai sebagai kata kerja, kata itu diterjemahkan menjadi "percaya". Demikian banyaknya kata-kata iman, percaya, harus percaya kepadaNya; karena iman merupakan satu-satunya cara dan juga perkara penting dalam menerima Kristus.

Iman menduduki tempat yang sangat penting dalam kepercayaan orang Kristen. Agama lain belum tentu menekankan beriman. Anda tidak pernah mendengar Sidarta Gautama mengatakan, "Percayalah kepadaku." Anda tidak pernah mendengar Kong Hu Cu berkata, "Percayalah kepadaku." Anda pun tidak pernah mendengar tokoh-tokoh agama lain mengatakan, "Percayalah kepadaku." Hanya dalam kepercayaan kita, sekali demi sekali, berulang-ulang, bahkan sampai seratus lima puluh kali lebih, dikatakan, "Percaya kepadaNya, beriman, tidak dapat tidak beriman kepadaNya!"

Alkitab Perjanjian Baru memang membicarakan pertobatan, baptisan, Kerajaan Sorga, perilaku baik dari orang Kristen, . . . tetapi jumlahnya tidak banyak. Namun tentang iman, Alkitab harus berkali-kali mengatakannya, berulang-ulang menekankannya. Karena iman berpengaruh pada apakah Kristus dan karunia keselamatanNya bisa kita dapatkan. Percaya, mendapatkan; tidak percaya, tidak mendapatkan.

Apakah Iman?

Marilah kita melihat dulu apakah iman itu, atau apakah definisi iman?

Satu hal yang mengherankan, meskipun istilah "iman" dipakai demikian banyak dalam Alkitab, yakni dalam Perjanjian Baru saja dipakai sebanyak seratus lima puluh kali lebih, tetapi hanya satu tempat yang memberitahu kita definisi iman; hanya satu tempat yang menjelaskan arti iman. Karenanya, kita perlu memperhatikan dengan cermat bagian Alkitab ini, yaitu Ibrani 11:1. Ayat ini mengatakan, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."

Apakah Dasar?

Kalau kita membaca ayat itu secara biasa, seolah-olah kita telah mengerti definisi iman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Tetapi bila kita membacanya dengan cermat, kita akan merasa bahwa kita belum benar-benar mengerti definisi ini. Saya sendiri mengakui, saya telah menghabiskan waktu beberapa tahun untuk memikirkan kata "dasar" itu, merenungkannya berulang-ulang, tetapi belum juga dapat menafsirkannya dengan baik.

Saya juga telah menghabiskan banyak waktu untuk membandingkan beberapa terjemahan ayat tersebut dalam bahasa Inggris. Setelah memeriksa belasan versi buku, saya merasa kata "dasar" itu paling baik diterjemahkan sebagai "substansi"(substance). Jika mamakai kata ini, ayat itu berbunyi, "Iman adalah substansi dari segala sesuatu yang kita harapkan." Meskipun demikian, terjemahan ini masih belum menampilkan seluruh arti kata itu.

Saya telah belajar bahasa Yunani sejangka waktu. Saya dapat memahami arti kata itu, tetapi tetap tidak dapat menerjemahkan dengan istilah yang tepat. Bagi saya arti kata itu jelas, tetapi karena tidak menemukan istilah yang baik, maka terpaksa saya meminjam istilah dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan definisinya.

Akhirnya, saya menemukan istilah dalam bahasa Inggris yang tepat, dipakai pertama kali oleh seorang ahli penelaah Alkitab dari Inggris, J.N. Darby. Ia menerjemahkan kata itu menjadi "subtansiasi" (substantiating). Kata "substansi" mudah dipahami. Misalnya, kita semua tahu, bahwa substansi meja kayu ini adalah kayu; dan substansi lempengan logam ini adalah besi. Apakah substansiasi (substantiating)? Perlu banyak waktu untuk menerangkan kata itu.

Saya yakin, bahwa "substansiasi" adalah "kesanggupan untuk mengetahui substansi". Misalnya, bila Anda melihat sebuah meja, Anda memiliki kesanggupan untuk mengetahui, bahwa substansi meja itu dari kayu. Atau Anda melihat sebuah penutup meja, begitu Anda memperhatikannya, Anda segera tahu bahwa substansinya adalah dari besi. Kemampuan ini, kesanggupan ini, adalah substansiasi (substantiating).

Fungsi Pancaindera

Dunia di sekitar kita terdiri dari miliaran obyek dengan berbagai warna dan bentuk. Di dalam tubuh manusia kita, juga ada berbagai obyek dan benda yang tersusun menjadi suatu dunia tersendiri. Dunia yang di luar kita sering berkontak dengan dunia yang di dalam kita, reaksi luar masuk ke dalam kita, dan kita juga memiliki suatu reaksi ke luar. Alat penengah yang menghubungkan kedua dunia itu pada pokoknya dikenal sebagai pancaindera. Melalui pancaindera ini, semua bentuk dan warna dunia luar itu dapat tersalur ke dalam dunia kita, sehingga di dalam kita timbul suatu tanggapan. Dan melalui pancaindera kita pula, segala bentuk dan warna yang ada di dalam kita dapat disalurkan ke dunia di luar kita.

Kalau seseorang telah kehilangan fungsi pancainderanya, ia akan sangat sulit menyalurkan apa yang ada di dunia luar itu masuk ke dalam dirinya. Dalam dunia ini ada berbagai macam warna. Tetapi kalau seseorang tidak memiliki mata, maka berbagai macam warna itu tidak dapat masuk ke dalam dirinya, dan ia tidak akan memahami keindahan semuanya itu, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk mensubstansiasi warna-warna itu. Kalau Anda berkata padanya, bahwa pemandangan hamparan salju itu sangat indah, dia akan bertanya kepada Anda, "Apanya yang indah?" Kalau Anda menjawab, bahwa warna putih salju itu yang indah, dia akan bertanya lagi, "Apa itu warna putih?" Anda berkata, putih adalah lawan dari hitam. Dia akan berkata, "Apa pula hitam itu?" Kita bisa melihat berbagai warna dan benda di dunia luar kita, dan melalui kemampuan mata untuk bersubstansiasi, semuanya itu dapat tersalur ke dalam kita sehingga dunia di dalam kita merasakannya. Orang yang tidak memiliki mata, tidak memiliki kemampuan ini, sehingga dunia di dalam dirinya tidak memiliki berbagai macam warna tadi.

Di samping itu, ada hal-hal yang perlu kita dengar, melalui mendengar, hal-hal itu baru dapat masuk ke dalam kita. Kalau kita tidak memiliki telinga, kita tidak akan memiliki hubungan dengan suara. Ada hal-hal yang memerlukan alat pengecap kita, ada pula yang memerlukan alat penciuman kita. Fungsi pancaindera kita adalah mengalihkan semua hal obyektif itu ke dalam diri kita supaya menjadi pengalaman subyektif kita. Kalau kita tidak memiliki pancaindera, obyek-obyek luaran itu tetap akan di luar kita, mereka tidak dapat masuk ke dalam kita. Antara yang di dalam dan yang di luar selamanya akan terpisah. Yang dilakukan oleh pancaindera kita adalah pekerjaan substansiasi (substantiating).

Mengalihkan yang di Luar ke Dalam

Saya akan menjelaskan hal ini lebih lanjut dengan tetap mengambil warna sebagai contoh. Misalkan, warna biru. Warna biru adalah suatu substansi. Begitu Anda melihat warna itu, mata Anda segera memindahkan warna itu ke dalam Anda, inilah substansiasi. Kini Anda dapat berkata, "Aku telah mensubstansiasi warna biru itu ke dalamku, dan aku tahu di sana ada warna biru."

Sebenarnya, setiap hari kita masing-masing mensubstansiasi sesuatu. Kini saya dapat melihat tuan A duduk di sini, dan tuan B duduk di sana. Di atasku ada sebuah lampu, di depanku ada sebuah jalan. Semuanya disubstansiasi oleh mataku. Sepanjang hari, kita mensubstansiasi jutaan benda ke dalam kita melalui pancaindera kita, sehingga kita mempunyai hubungan dengan hal-hal dunia luar. Demikianlah, iman adalah substansiasi hal-hal yang kita harapkan. Saya tidak bisa menemukan terjemahan lain yang lebih baik untuk kata tersebut. Ada yang menerjemahkan "supaya orang tahu", "dasar untuk mengetahui", "prosedur untuk mengetahui", . . . tapi saya rasa itu kurang tepat, karena itu saya tidak memaksakan harus diterjemahkan dengan istilah tersendiri.

Beriman kepada Perkara Rohani

Allah memakai kata "substansiasi" ini untuk memberitahu kita arti iman. Alkitab memberitahu banyak hal kepada kita, di antaranya telah kita lihat di depan. Tadinya hal-hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan kita, terpisah di luar kita. Kita sebut hal-hal itu sebagai hal-hal rohani. Sekarang, bagaimana kita dapat mensubstansiasi hal-hal rohani ke dalam kita? Dalam perkara inilah iman berperan.

Saya masih akan membicarakan fungsi pancaindera kita, setelah itu baru kita bahas fungsi iman. Sore hari ini, beberapa orang dari kami bertamasya ke Palithai. Pemandangan di sana sungguh indah, dan kita menyerap pemandangan itu ke dalam kita melalui mata kita. Tuan Yan memberitahu kita, bunga-bunga plum akan mekar dalam beberapa hari ini, saat itu pemandangannya akan lebih indah. Ada lagi yang berkata, pemandangan salju beberapa hari yang lalu juga sangat indah. Begini indah, begitu indah, ini semua karena kita memiliki kemampuan melihat yang membuat hal-hal di luar itu masuk ke dalam kita. Bagi seorang buta, semua keindahan itu tidak akan ada.

Di sini ada sebuah bunga yang sangat harum. Bila Anda mendekatkan hidung Anda dan menciumnya, Anda segera tahu harum aromanya. Kalau seseorang tidak memiliki hidung, atau ia sedang pilek, ia kehilangan fungsi penciumannya, ia tidak akan tahu aroma bunga itu. Keharuman itu tidak ada di dalam dirinya. Musik yang dihasilkan melalui piano ini sangat indah. Pemainnya cekatan dan serius. Permainannya sangat menghanyutkan orang. Tetapi suara musik sedemikian itu, bagi orang yang tidak bertelinga, sama sekali tidak ada, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk mendengar.

Iman adalah Organ yang Sangat Penting

Saya tidak takut repot menjelaskan hal ini, agar kita memahami apa yang dikatakan Alkitab tentang iman. Karena iman adalah satu organ yang sangat penting, seperti halnya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium. Iman adalah organ untuk mensubstansiasi segala perkara rohani ke dalam kita. Tanpa iman, segala perkara rohani akan seperti tidak ada bagi kita. Karena itu Alkitab mengatakan, "Iman adalah substansiasi dari segala sesuatu yang kita harapkan."

Yang Tidak Dapat Dilakukan Pancaindera

Teman-teman, apakah perkara-perkara rohani itu ada? Anda tidak dapat memastikannya dengan pancaindera Anda! Allah telah mencakupkan kita semua di dalam Kristus, kita mati bersama Kristus. Segala dosa kita telah ditanggung oleh Kristus. Kristus mati dan bangkit, kini berada di dalam Roh Kudus. Dapatkah Anda mensubstansiasi hal-hal itu dengan pancaindera Anda? Dalam perkara ini, pancaindera kita sama sekali tidak berguna. Terhadap perkara ini, mata kita seperti buta, telinga kita seperti tuli, hidung kita seperti buntu, lidah kita tawar, semua indera perasa kita tumpul. Kalau Anda hanya mengandalkan pancaindera Anda, Anda pasti berkesimpulan tidak ada Allah, tidak ada hal-hal Kristus itu, dalam dunia ini tidak ada pengampunan dan penebusan, tidak ada hidup baru, dalam dunia ini tidak ada satu perkara yang disebut perkara rohani. Sebenarnya, bukannya tidak ada substansi, melainkan tidak ada kemampuan mensubstansiasi.

Orang yang buta akan berkata, "Di dalam dunia ini tidak ada benda yang disebut warna, sama sekali tidak ada pemandangan indah yang dikatakan orang, semua penjelasan gambar-gambar yang dikatakan hidup dan jelas adalah khayalan belaka." Anda tentu tidak akan heran mendengar orang buta berkata demikian, karena Anda tahu, bahwa ia tidak memiliki daya penglihatan, sehingga pasti mengatakan semuanya itu tidak ada. Argumen yang dikatakannya hanya dapat didengar oleh orang yang juga buta; mereka yang buta menyetujui dan membenarkannya.

Kekurangan Satu Organ yang Penting

Mungkin Anda mengira ini suatu lelucon. Tetapi Anda bisa melihat ada sekelompok orang yang mengeritik orang lain dan berkata, "Dengarlah apa yang dikatakan mereka tentang perkara-perkara rohani, apa itu pengampunan dosa-dosa oleh Kristus? Apa itu Kristus bangkit, membuat kita menerima hayat baru? Yang mereka katakan itu khayalan yang kosong belaka." Perkara-perkara rohani itu jelas ada, tetapi orang-orang itu yang kekurangan sesuatu, mereka seolah-olah orang buta dalam perkara-perkara rohani. Mereka kekurangan sesuatu yang seharusnya mereka miliki; namun mereka tidak memilikinya, yaitu organ yang mensubstansiasi perkara-perkara rohani. Tanpa organ ini, segala perkara rohani gelap bagi mereka. Organ ini adalah iman. Iman menjadikan segala perkara rohani riil dan jelas.

Karena itu teman-teman sekalian, semua unsur dalam dunia materi ini adalah riil, demikian pula semua perkara dalam dunia rohani. Namun Anda memerlukan satu organ untuk dapat melihat dan mendengar hal-hal rohani. Apakah organ itu? Organ itu adalah iman! "Iman adalah substansiasi segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Meskipun perkara-perkara itu tidak kelihatan, tetapi perkara-perkara itu benar-benar riil atas diri kita. Bagaimana perkara rohani yang kelihatannya abstrak itu dapat benar-benar terwujud di dalam kita? Semuanya karena iman. Adakah Anda iman ini? Kalau ada, segala perkara itu akan menjadi riil bagi Anda.

Semakin Riil demi Iman

Pancaindera kita mensubstansiasi segala sesuatu yang ada dalam dunia materi kepada kita sebagai suatu yang riil. Demikian pula iman mensubstansiasi segala sesuatu yang ada dalam dunia rohani kepada kita sebagai sesuatu yang riil. Iman adalah satu indera yang di luar pancaindera kita. Persoalannya sekarang, apakah Anda mempergunakannya atau tidak!

Di sini ada tuan Chang, duduk di depanku. Ia menjadi riil bagiku melalui mataku. Namun, saya dapat memberitahu Anda, bahwa saya melihat Kristus yang ada di dalam saya lebih riil daripada tuan Chang. Bukan hanya berhuninya Kristus di dalam saya begitu riil, juga pengampunan dosa yang Ia berikan, pemberesanNya atas manusia lama, membuat saya bangkit bersamaNya, semuanya riil, lebih riil daripada tuan Chang yang duduk di hadapan saya ini. Di dalam saya ada satu organ yang memungkinkan saya melihat hal itu, bahkan hal itu sangat riil, sehingga saya tidak dapat menyangkalnya. Lebih lagi saya dapat berkata, tidak hanya saya seorang yang telah melihatnya, juga ada orang-orang Kristen yang tak terhitung banyaknya telah melihatnya. Semua perkara rohani itu menjadi riil hanya melalui satu organ, yaitu iman.

Iman adalah Menerima

Allah telah menyiapkan dan menggenapkan segala sesuatu di dalam Kristus. Ia pun telah menaruh Kristus ke dalam Roh Kudus, agar setiap orang dapat menikmatiNya, di mana saja, dan kapan saja. Yang perlu dilakukan manusia sekarang adalah menerima Dia. Bagaimana seseorang dapat menerima Dia? Demi iman menerima! Asal manusia percaya, ia dapat menerima Kristus dan segala sesuatu Kristus ke dalam dirinya!

Sebenarnya, yang dilakukan pancaindera kita adalah menerima. Telinga menerima suara melalui pendengaran. Mata menerima warna melalui penglihatan. Dengan selalu menghubungi dunia luar, pancaindera kita menerima segala perkara dunia luar ke dalam kita.

Iman adalah menerima. Allah berfirman, "Kristus telah berdarah untuk mencuci bersih dosa-dosa Anda."Bila Anda percaya, Anda segera menerima ini ke dalam diri Anda. Allah berfirman, "Aku telah mencakupkan Anda di dalam kematian Kristus," dengan iman, pemberesan manusia lama Anda terima ke dalam diri Anda. Fakta-fakta lainnya seperti kebangkitan, mendapatkan hidup baru, dan sebagainya, semuanya diterima ke dalam Anda demi iman Anda. Meskipun saya tidak tahu bagaimana hal-hal itu masuk ke dalam Anda, saya tahu, kalau Anda percaya kepada firman Allah, maka segala yang telah Allah lakukan akan masuk ke dalam Anda. Inilah daya fungsi iman.

Iman Bukan Persetujuan

Di sini saya harus menyatakan satu hal yang penting, yaitu iman dan persetujuan adalah dua hal yang berbeda. Iman itu hidup, sedang persetujuan adalah hasil pemikiran. Hanya iman yang bisa mencapai segala perkara dalam dunia rohani, pikiran selamanya tidak akan mencapainya. Memakai persetujuan untuk merenungkan perkara rohani, adalah seperti memakai mata untuk melihat suara, memakai lidah untuk mengecap warna. Selamanya Anda tidak akan menerima apa-apa.

Misalnya, setiap orang mengatakan bahwa pemandangan di gunung Huang sangat indah. Banyak buku yang menyebutkan demikian dan Anda juga telah melihat gambarnya. Setelah Anda memperhatikannya, Anda pun setuju, dan mengatakan pemandangan di gunung Huang sangat indah. Tetapi pemandangan gunung Huang tidak Anda terima ke dalam Anda, keindahannya tidak riil bagi Anda. Penerimaan terhadap perkara rohani bukanlah perkara persetujuan, melainkan perkara iman. Beriman terhadap apa? Beriman terhadap firman Allah. Kita harus membaurkan iman kita dengan firman Allah. Terhadap firman Allah, bukan saja tidak ragu-ragu, tidak menentang, bahkan bersatu dengannya, demikianlah Anda beroleh selamat.

Setelah memiliki iman yang hidup ini, Anda bisa beroleh selamat, baik Anda berada di tempat sidang, di rumah, di padang gurun atau di mana saja. Hari ini Kristus ada di dalam Roh Kudus, Ia serba ada. Di mana pun Anda berada, Anda dapat beroleh selamat hanya dengan menjamahNya demi iman. Sama seperti lampu-lampu listrik dalam ruangan ini, yang sepenuhnya telah terpasang, asal Anda menekan tombolnya, semuanya akan menyala terang. Keselamatan Anda pun akan segera ternyata bila Anda memakai iman Anda untuk menerima Tuhan.

Harus Mengaku Percaya

Teman, mungkin dulu Anda telah mendengar doktrin tentang Kristus; hingga kini; mungkin bertahun-tahun telah berlalu. Tetapi selama itu Anda hanya menaruhnya dalam otak Anda; Anda hanya menyetujuinya. Karena itu, sampai hari ini Anda masih sebagai manusia yang akan binasa. Persetujuan Anda tidak membawakan faedah apa-apa bagi Anda. Anda harus mengaku, bahwa Anda percaya! Anda harus mengatakan, "Aku percaya bahwa Yesus orang Nazaret adalah Putra Allah! Aku percaya Kristus kini berada di dalam Roh Kudus! Aku percaya bahwa di salib Kristus telah membereskan semua dosaku, dan juga telah menyalibkan manusia lamaku! Aku percaya bahwa di dalam Kristus aku telah mendapatkan hidup baru!" Dengan beriman demikian, Anda telah datang ke hadapan Allah dan menjamahNya; begitu menjamahNya, keselamatan itu tergenap atas diri Anda! Jadi, ini adalah perkara iman, bukan perkara persetujuan!

Kisah Si Tua Tujuh Puluh

Beberapa tahun yang lalu, sebuah kapal perang Italia berlabuh di Gibraltar. Malam harinya, para awak kapal naik ke daratan untuk bermain. Mereka minum-minum, berjudi, melakukan segala keributan yang biasa dilakukan oleh para pelaut. Di antara mereka ada seorang yang dijuluki si Tua Tujuh Puluh. Ia adalah kepala kelompok awak kapal itu, dan ia pula yang biasanya memelopori membuat keributan.

Malam itu, ketika si Tua Tujuh Puluh berjalan-jalan di sekitar pelabuhan, ia melihat sebuah rumah. Di dalam rumah itu ada beberapa perempuan sedang bermain piano, menyanyi, dan menginjil. Karena tidak pernah singgah di tempat sedemikian, ia pun ingin tahu dan melangkah masuk ke dalam rumah itu untuk melihat. Seorang pengkhotbah wanita berdiri menghampirinya, tanpa mempedulikan betapa orang tua itu telah minum sampai mabuk, ia mulai menceritakan bagaimana Kristus mati baginya, mengampuni dosanya, memberi hidup baru kepadanya, satu demi satu dijelaskan kepadanya. Akhirnya wanita itu memberitahu laki-laki tua itu, bahwa asal ia percaya, pasti beroleh selamat. Si Tua Tujuh Puluh sangat terjamah, ia berdoa kepada Tuhan Yesus, percaya kepadaNya, menerima Dia sebagai Juruselamatnya.

Setelah kejadian itu, si tua Tujuh Puluh ini kembali ke kapalnya. Ketika ia hendak tidur, ia merasa perlu berdoa lagi, maka ia segera berlutut berdoa di depan ranjangnya. Dalam kamar itu ada dua puluh lebih awak kapal. Ketika melihat si Tua Tujuh Puluh berlutut berdoa, mulailah mereka berteriak-teriak, "Hore! Ada mode baru! Si Tua Tujuh Puluh membuat tipuan baru! Astaga! Mirip orang sedang berdoa, sungguh mirip! Sudah, sudah, sekarang boleh berdiri!" Tetapi si tua tetap berlutut berdoa.

Teman-temannya mulai melempari dia dengan sepatu mereka, banyak sepatu melayang kepadanya, bertumpuk di sekitar tempat ia berlutut, tetapi ia tidak menghiraukannya. Setelah selesai berdoa, ia berdiri dan dengan hikmat dan serius ia memberitahu teman-temannya, bahwa ia telah percaya kepada Kristus. Mendengar perkataan itu, teman-temannya makin gemuruh, bertepuk tangan, dan mengatakan betapa baiknya ia melakukan peranannya.

Apakah Telah Tertipu

Esok paginya, ketika ia sedang membersihkan geladak kapal, seorang pelaut yang sedikit lebih tua memberitahunya, bahwa dirinya juga seorang Kristen. Dia bertanya kepada si Tua Tujuh Puluh, apakah ia merasakan ada satu sukacita dan damai sejahtera yang khusus di dalam dirinya; kalau tidak, ia kuatir itu bukan yang sejati. Si Tua menjawab, "Orang Amerika itu hanya memberitahu kalau saya percaya Tuhan Yesus, maka dosa-dosaku diampuni, tidak memberitahuku apa-apa tentang sukacita dan damai. Saya harus mencari mereka dan minta penjelasan dari mereka." Dia minta ijin, lalu naik ke darat mencari pengkhotbah-pengkhotbah perempuan itu. Dengan serius dan terus terang bertanya kepada mereka, mengapa setelah percaya Kristus, tidak merasakan sukacita dan damai, apakah telah tertipu dalam hal percaya ini.

Seorang perempuan yang tua memintanya duduk dan berkata kepadanya, "Jangan buru-buru cemas dan memperhatikan bagaimana perasaan hati Anda. Saya ingin bertanya, apakah manusia Anda berbeda dengan sebelumnya?" Si Tua menjawab, "Aku sangat berbeda dengan yang dulu." Setelah terdiam sebentar, ia mengulang keras- keras, "Aku sangat berbeda dengan dulu! Dulu aku paling bisa membuat keributan di antara kelompokku, paling bertingkah di antara kelompokku. Bila berbuat jahat, akulah yang nomor satu. Sejak kemarin malam, setelah aku pulang dari sini, perkataan-perkataan kotor tidak bisa lagi kuucapkan. Terhadap semua perkataan kotor kawan-kawanku, tidak saja aku tidak menimpalinya, bahkan merasa malu karenanya, merasa bahwa semua itu najis. Kemarin malam, mereka melempariku dengan sepatu mereka. Kalau dulu, aku akan bangkit dan memukuli mereka satu persatu. Sekarang aku merasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa, aku pun tidak ingin memukul mereka. Aku telah berbeda dengan yang dulu! Sama sekali berbeda!" Demikianlah ia berpaling dan berlari kembali ke kapalnya.

Kristus yang Menggarap

Kalau seseorang tidak percaya Kristus, tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Tetapi begitu seseorang percaya, segala sesuatu yang ada di dalam Kristus segera masuk ke dalamnya. Sekalipun ia tidak merasakan perbedaan apa-apa, tetapi faktanya, ia telah berbeda dengan yang dulu. Ada yang mengatakan itu adalah garapan emosi. Itu bukan emosi, melainkan garapan Kristus.

Ketika saya di Kai-feng, saya bertemu dengan seorang kepala bagian dalam suatu departemen pemerintahan. Dulu ia hanya setuju pada kekristenan, belakangan ia telah percaya. Dia berkata kepada saya, "Semula aku merasa bahwa percaya dan setuju itu tidak banyak bedanya. Tetapi peristiwa yang baru terjadi ini menampakkan kepadaku, bahwa aku telah berbeda dengan yang dulu." Saya bertanya kepadanya, "Peristiwa apa itu?" Jawabnya, "Saya masuk suatu perkumpulan tenis, di sana banyak pegawai-pegawai tinggi pemerintah bermain. Mereka sering mengeluarkan uang untuk biaya perbaikan lapangan dan perlengkapan permainan tenis. Baru-baru ini, karena ada mutasi besar-besaran dalam kalangan pejabat pemerintah, mereka semua telah dimutasikan, entah ke mana. Dan mereka telah meninggalkan sejumlah uang dan peralatan di perkumpulan itu. Karena mereka telah pergi dan entah ke mana, maka semua uang dan peralatan itu tentunya menjadi milikku. Mereka tidak akan kembali untuk mengambilnya, dan tidak akan ada orang yang akan menuntutnya. Tetapi sekarang aku selalu merasakan bahwa aku tidak dapat memiliki barang-barang itu. Maka dengan tidak takut repot, aku bertanya dan mencari data dan alamat mereka, demi untuk mengembalikan uang dan barang-barang itu kepada mereka. Hal semacam ini belum pernah terjadi padaku sebelumnya. Aku telah berbeda.

Karena Iman Timbul Kekuatan

Seseorang yang telah berjumpa dengan Tuhan di dalam iman, akan berbeda dengan yang dulu. Kekuatan Kristus akan terpancar dari dalam orang yang pernah berkontak denganNya. Segala dosa kita, yang najis, kotor, begitu kita berkontak dengan Kristus, segera terlepas dari diri kita. Begitu kita percaya kepadaNya, maka hayat kebangkitan Kristus segera masuk ke dalam kita. Kalau Anda percaya, maka semuanya itu dengan riil akan tergarap ke dalam Anda.

Bukan hidup kita saja yang mengalami perubahan besar karena iman, dalam iman ini juga ada satu kekuatan yang besar, yang menghasilkan banyak penginjil dan para martir. Karena ada kekuatan yang begitu besar, tidak terbatas, dan tidak terbelenggu itu, maka orang menjadi tidak takut menderita bagi Tuhan, melewati mara bahaya, bahkan mati martir untuk Tuhan. Semuanya itu dikarenakan iman. Begitu Anda menjamah Kristus, segala sesuatu dalam Kristus akan tersalur ke dalam Anda.