← Daftar isi Keluaran (7) · bab 9/17

MEZBAH KURBAN BAKARAN (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 27:1-8; 38:1-7; 40:6, 29; Ibr. 13:10

Dalam berita sebelum ini saya telah mengatakan bahwa tidaklah mudah bagi kita untuk memahami catatan tentang mezbah. Beberapa aspek tertentu di dalamnya sangatlah menyulitkan. Keluaran 27:5 membicarakan “jala-jala itu di bawah jalur mezbah”. Sulitlah untuk menentukan bagaimana menerjemahkan kata “jalur” ini dari bahasa Ibraninya. Versi King James menerjemahkannya dengan kata “compass”. Versi lain menggunakan kata “tapal batas” (border), versi lain lagi memakai “pinggiran” (margin) atau “bingkai” (rim). Jalur berguna untuk membingkai, menahan, atau melindungi sesuatu. Beberapa siswa Alkitab menyangka bahwa jalur ini berada di bagian luar mezbah. Menurut pengertian mereka, imam-imam yang melayani berdiri di atas jalur yang mengelilingi mezbah. Mereka yang mengukuhi pendapat ini menarik kesimpulannya dari Imamat 9:22, sebuah ayat yang mencantumkan bahwa Harun turun setelah ia mempersembahkan kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban keselamatan. Mereka juga mengutip dari 2Tawarikh 30:16 bahwa para imam berdiri di tempat mereka yaitu di atas jalur. Berdasarkan dua ayat inilah mereka berkesimpulan bahwa jalur itu terletak di bagian luar mezbah dan merupakan tempat berdiri para imam yang sedang bertugas.

X. KISI-KISI (JALA-JALA) TEMBAGA

Apakah jalur itu? Di mana letaknya? Pertanyaan ini sulit dijawab. Namun saya yakin sepenuhnya bahwa jalur ini terletak di dalam mezbah. Ayat 4 mengatakan, “Haruslah engkau membuat untuk itu kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga, dan pada jala-jala itu haruslah kaubuat empat gelang tembaga pada keempat ujungnya.” Dan menurut ayat 5, jala-jala itu mencapai setengah tinggi mezbah. Mezbah itu tiga hasta tingginya, lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya. Kisi-kisi, (jala-jala) tembaga itu terbentang mendatar dari sisi yang satu ke sisi yang lain di tengah-tengah tingginya mezbah. Kayu bakar ditaruh di atas kisi-kisi ini, kemudian kurban diletakkan di atas kayu bakar. Ketika kayu dan kurban itu terbakar, niscaya abu sisa pembakaran kayu jatuh ke dasar mezbah melalui kisi-kisi itu. Lagi pula ayat 5 dengan jelas memberi tahu kita bahwa kisi-kisi itu tak mungkin terletak di luar mezbah. Kisi-kisi itu bukan saja di bawah bahkan di bagian bawah jalur mezbah. Bila kisi-kisi itu berada di luar mezbah, mana mungkin kisi-kisi itu berada di bagian bawah mezbah? Karena itu saya yakin dengan pasti bahwa kisi-kisi itu berada di dalam mezbah.

Mezbah itu dibuat dari kayu penaga yang disalut tembaga. Tidakkah api atas mezbah itu akan menembus tembaga penyalut kemudian menghanguskan kayu penaga yang ada di dalam lapisan tembaga? Yakinlah, karena alasan inilah saya percaya bahwa jalur itu justru melindungi keempat dinding mezbah dari panas api yang terletak di atas kisikisi. Alkitab tidak mengatakan dari bahan apa jalur itu dibuat. Saya percaya tentunya jalur itu dibuat dari tembaga. Karena itulah saya pun percaya bahwa pada dinding keliling di atas kisi-kisi itu terdapat jalur dari tembaga yang melindungi dinding-dinding itu dari panas api. Inilah alasannya dalam ayat lima dikatakan bahwa kisi-kisi itu tidak saja berada di bawah jalur, bahkan berada persis di bawah jalur mezbah.

Seorang penulis menganggap bahwa kisi-kisi itu sesungguhnya berada di dasar mezbah setinggi setengah dindingnya. Selanjutnya, penulis itu mengira bahwa pada saat mezbah itu diletakkan, maka ditaruhlah kisi-kisi itu di atas dua gundukan tanah, dengan maksud agar udara bisa masuk. Akan tetapi keterangan sedemikian ini mengandung banyak perkiraan. Seandainya Anda bertanya kepada saya bagaimana udara itu bisa masuk, saya harus menjawab bahwa saya tidak tahu, sebab Alkitab tidak memberikan perincian ini kepada kita.

Fakta bahwa mezbah itu mengandung unsur tertentu yang menyulitkan ini mempunyai makna rohani tersendiri. Mezbah ini seharusnya mudah sekali dijelaskan, lebih mudah dijelaskan daripada perabot-perabot lain. Tetapi sebagaimana telah kita tunjukkan bahwa catatan mengenai mezbah ini sangat menyulitkan; sederhana namun sulit dipahami. Ini bermakna bahwa kita tidak mungkin mengerti rahasia salib Kristus secara keseluruhan. Memang, dalam Perjanjian Baru salib itu telah diwahyukan. Kita pun diberi tahu dengan jelas bahwa Kristus telah disalibkan, dan dalam Surat 1Korintus 1, Paulus menggunakan sebuah ungkapan “pemberitaan tentang salib”, yang memberi tahu kita bahwa pemberitaan tentang salib adalah kekuatan Allah (ayat 18). Betapapun halnya kita tetap tak mungkin memahami penebusan Kristus sampai sedalam-dalamnya. Pada waktu saya baru memasuki pelayanan atau ministri lima puluh tahun yang silam, berkali-kali saya berusaha menyampaikan berita mengenai salib. Ternyata setiap kali saya berdiri untuk mengutarakan, tidak banyak yang bisa saya sampaikan, karena berbicara mengenai salib Kristus itu memang sulit.

Mampukah Anda membicarakan salib Kristus secara memadai? Sudah tentu Anda bisa mengumumkan bahwa salib adalah tempat Kristus dibunuh. Anda pun dapat berkata bahwa pada salib itulah Kristus memikul dosa-dosa kita, di sana kita disalibkan bersama dengan Dia, bahkan si jahat pun telah diremukkan di sana. Lalu bagaimana mengenai kematian Kristus? Bahkan mereka yang telah mengajarkan Alkitab bertahun-tahun lamanya, masih menemui kesulitan untuk membicarakan rahasia kematian almuhit Kristus. Ada orang-orang Kristen yang memasang kayu salib tinggi-tinggi di atas tempat-tempat ibadah mereka, dan ada pula yang mengenakan perhiasan salib. Namun, mereka tetap tak mampu membicarakan salib secara memadai. Bisa saja kita membaca ayat-ayat yang menyinggung salib maupun tersalibnya Kristus dalam Perjanjian Baru. Walaupun demikian, setelah selesai membaca ayat-ayat ini, kita tetap tak mampu memahami rahasia kematian almuhit Kristus. Kematian Kristus merupakan rahasia besar. Begitu rahasianya, sehingga mustahil dapat kita jelaskan secara memadai.

Masalah lain yang menyulitkan ialah tentang kisi-kisi, atau jala-jala di dalam mezbah. Kisi-kisi itu mempunyai empat gelang masing-masing dipasang pada setiap ujungnya. Namun, gelang-gelang ini pun dipakai untuk dimasuki tongkat pengusung mezbah agar dapat diusung (Kel. 38:5). Kisi-kisi itu berada di dalam mezbah, dengan gelang-gelangnya berada di luar. Lalu bagaimana gelang-gelang itu bisa terkait pada kisi-kisi? Dengan jelas kita diberi tahu bahwa gelang-gelang itu berada pada keempat ujung kisi-kisi, dan gelang-gelang itu berada di luar mezbah. Kalau tidak maka kayu pengusung tak mungkin dimasukkan ke dalam gelang-gelang itu. Yang sulit dipahami di sini ialah bagaimana gelang-gelang itu bisa terkait pada kisi-kisi, dengan gelang-gelangnya berada di luar.

Bila mezbah itu hanya memiliki empat dinding tanpa kisi-kisi di dalamnya, maka mezbah itu akan kosong. Makna mezbah ini terletak sepenuhnya pada kisi-kisi dengan keempat gelangnya. Gelang-gelang itu adalah alat perpindahan mezbah, tetapi gelang-gelang itu terkait pada ujung kisi-kisi yang ada di dalam mezbah. Tanpa kisi-kisi takkan ada gelang-gelang dan tanpa gelang-gelang mezbah tak dapat dipindah-pindahkan. Ini justru membawa kita kepada suatu masalah yang sangat penting. Tanpa kisi-kisi takkan ada cara menyalakan api pembakar kurban bakaran. Maka, demi pembakaran kurban persembahan maupun pemindahan mezbah, kisi-kisi dengan empat gelang itu sangatlah diperlukan.

Kita boleh membandingkan kisi-kisi dan gelang-gelangnya dengan bagian dalam tubuh kita. Bagian dalam tubuh kita ini jauh lebih penting daripada kulit dan rambut kita. Seprinsip dengan itu, kisi-kisi itu merupakan bagian penting dari mezbah. Apabila kisi-kisi itu diambil, maka mezbah hanya berupa kotak kosong yang tak berguna sama sekali. Isi mezbah itu ialah kisi-kisi dengan gelang-gelangnya.

Sangatlah penting untuk menemukan makna kisi-kisi itu. Kisi-kisi dibuat dari tembaga. Dalam pelambangan, tembaga menandakan hukuman keadilan Allah. Ini juga makna dibuatnya kisi-kisi dari tembaga. Pada berita sebelum ini, kita telah menunjukkan bahwa mezbah itu berkaitan dengan satu persona, karena terbuat dari kayu penaga yang disalut dengan tembaga. Ini menyatakan bahwa Kristus menjelma menjadi manusia serta mati di atas salib untuk menanggung hukuman dari Allah bagi kita. Salib itu bukan semata-mata sebuah benda; tetapi ada kaitannya dengan seorang persona, sebagaimana ditunjukkan oleh fakta bahwa mezbah pelambang salib itu terbuat dari kayu penaga yang melambangkan keinsanian Tuhan Yesus. Jadi, salib itu ada kaitannya dengan seorang persona, dan persona ini adalah Kristus.

Kisi-kisi tembaga berada di dalam mezbah, menunjukkan penghukuman Allah telah menimpa bagian dalam Kristus. Penghukuman Allah atas Kristus sebagai pengganti kita bukan hanya luaran saja. Api suci penghukuman Allah bukan hanya di luar Kristus, bahkan telah membakar di dalam-Nya. Ini disinggung dalam Mazmur 22, sebuah mazmur yang membicarakan penderitaan Kristus di kayu salib. Ayat 15 mengatakan, “Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku.” Ini memperlihatkan bahwa ketika Kristus menanggung penghukuman Allah, hukuman itu telah merasuk ke dalam hati-Nya, ke dalam batin-Nya. Tulang-tulang-Nya terlepas dari sendi-Nya, dan hati-Nya meleleh dalam batin-Nya. Ini berarti penghukuman Allah atas Kristus yang batiniah lebih terasa daripada yang lahiriah.

Tidak banyak pengkhotbah Kristen yang memberitakan penderitaan batiniah yang Kristus alami ketika Ia disalibkan. Kebanyakan dari mereka hanya memberitakan aspek penderitaan Kristus yang lahiriah. Sekali lagi, Kristus memikul penghukuman Allah bukan hanya pada aspek lahiriah, tetapi juga pada aspek batiniah. Bahkan pada hakikatnya, penderitaan-Nya di batin lebih berat daripada di lahir. Kisi-kisi bukanlah di luar-Nya, tetapi di dalam-Nya. Maka, tempat terbakar-Nya api suci penghukuman Allah berada di dalam bagian batin Tuhan Yesus.

XI. EMPAT GELANG TEMBAGA PADA KEEMPAT UJUNG KISI-KISI

Telah kita tunjukkan bahwa pada keempat ujung kisi-kisi atau jala-jala terdapat empat gelang tembaga. Dalam perlambangan, gelang-gelang ini mengacu kepada Roh kekal yang tercatat dalam Ibrani 9:14, yang mengatakan, “terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Darah Kristus sangat berkhasiat, karena Ia telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah melalui Roh yang kekal. Roh yang kekal yang diibaratkan oleh gelang-gelang pada jaringan adalah sumber khasiat salib Kristus. Roh yang kekal merupakan kekuatan, tenaga salib Kristus. Terpisah dari Roh yang kekal, penebusan Kristus tidaklah berkhasiat, tidak bisa penuh kekuatan dan tenaga. Sekali lagi, Roh yang kekal merupakan kekuatan, tenaga, dan khasiat penebusan Kristus.

Bila empat gelang tembaga itu disingkirkan dari kisi-kisi itu, terjatuhlah kisi-kisi itu, karena kisi-kisi itu terkait pada mezbah oleh empat gelang tersebut. Hal ini mengandung makna rohani. Boleh saja kita berbicara mengenai salib Kristus, mengenai kematian Kristus di kayu salib, dan mengenai tersalibnya kita bersama dengan Kristus, tetapi apabila itu tanpa Roh yang kekal, semua pembicaraan tadi akan sia-sia belaka. Lepas dari Roh yang kekal, kematian Kristus tidaklah efektif. Sangatlah penting bagi kita untuk menyadari bahwa khasiat kekuatan penebusan Kristus tergantung pada Roh yang kekal.

Seandainya mezbah tidak memiliki empat gelang, kisi-kisi tak mungkin terkait pada tempatnya. Dengan demikian mezbah tak punya isi apa-apa. Lagi pula mezbah takkan leluasa dipindahkan. Jadi, keempat gelang itu sangatlah penting. Dengan adanya empat gelang itu, kisi-kisi bisa berada di tempat setengah tingginya mezbah. Dengan adanya keempat gelang, mezbah akan dapat diusung. Demikian pentingnya gelang-gelang itu terhadap mezbah, namun itu bukan kurban persembahan. Kristus sendiri barulah kurban persembahan, kekuatan penyelamatan dan penggerakan kurban persembahan ini ada pada Roh itu. Tanpa gelang-gelang, kisi-kisi akan kehilangan khasiatnya, sehingga tak ada lagi kekuatan pada salib untuk menyelamatkan, dan tak ada lagi tenaga untuk menggerakkan mezbah.

Kematian Kristus itu jauh melampaui pemahaman kita. Kematian Kristus adalah sebuah misteri. Jangan mengira kita mampu memahaminya sepenuhnya, kita tidak mampu. Walaupun kita tidak mampu memahami sepenuhnya kematian Kristus di atas salib, namun kita benar-benar menyadari bahwa penebusan itu telah dirampungkan melalui Roh yang kekal. Tahukah apa sebabnya pemberitaan mengenai kematian Kristus hari ini sangatlah lemah? Karena pemberitaan itu kekurangan Roh yang kekal. Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban persembahan karena dosa melalui Roh yang kekal. Maka, apa yang dirampungkan-Nya di atas salib penuh kekuatan dan khasiat karena Roh. Namun, jika kita memberitakan salib Kristus tanpa Roh itu, niscaya takkan ada kekuatan untuk meng-gerakkan orang lain, atau menyentuh hati dan roh mereka. Ini harus merupakan pekerjaan Roh yang kekal. Dalam Keluaran 27, jalur itu tidak dibicarakan secara rinci, tetapi, empat gelang dibahas jelas sekali. Namun, bagaimana gelang-gelang itu terkait pada kisi-kisi yang berada di dalam mezbah, sedangkan gelang-gelang itu sendiri berada di luar mezbah, masih berupa suatu rahasia. Ini menandakan bahwa meskipun Roh itu jelas ternyata, tetapi masih misterius juga. Roh itu ternyata di luar, tetapi terkait dengan sesuatu yang di dalam mezbah, sebagaimana gelang-gelang di luar mezbah terkait dengan kisi-kisi di dalam mezbah. Kematian Kristus tidak mungkin kita pahami sepenuhnya. Walaupun Roh itu sudah ternyata, tetapi masih misterius, karena salib berkaitan dengan penebusan Kristus. Empat gelang yang melambangkan Roh yang kekal, berkaitan dengan kisi-kisi, yang melambangkan isi penebusan Kristus. Ini memperlihatkan bahwa Roh Kudus berkaitan dengan isi penebusan Kristus. Bila kita memiliki penebusan Kristus dalam realitas, kita pun memiliki Roh itu. Roh itu bergan-dengan dengan realitas ini. Dengan kata lain, bila kita memiliki empat gelang, kita pun memiliki kisi-kisi. Bila kita memiliki Roh yang kekal, kita pun memiliki penebusan Kristus yang sempurna.

Saya sangat bersyukur akan adanya gambar dalam Keluaran 27. Melalui gambar ini kita bisa melihat bahwa Roh yang kekal itu berkaitan dengan penebusan Kristus yang sempurna. Apakah kisi-kisi itu? Kisi-kisi adalah isi penebusan Kristus. Apakah gelang-gelang itu? Gelang-gelang adalah lambang Roh yang kekal, yang membuat penebusan Kristus berkhasiat dan yang merupakan kekuatan penggerak salib Kristus. Pemberitaan salib mengandung kekuatan karena berkaitan dengan Roh yang kekal. Dengan demikian dalam pengalaman kita akan memiliki kisi-kisi dengan empat gelang, yakni penebusan Kristus yang berkaitan dengan Roh yang kekal.

Tiga puluh delapan tahun lebih mezbah itu berkelana mengikuti umat Israel melewati padang gurun. Selama mezbah diusung, api di dalamnya tetap menyala. Api pada mezbah tidak pernah padam. Api itu menyala bukan karena dinyalakan manusia. Alkitab mengatakan bahwa api itu berasal dari Tuhan (Im. 9:24). Jadi, api surgawi itu menyala secara berkesinambungan ketika mezbah itu diusung di padang gurun. Mezbah bergerak, api menyala. Ini menunjukkan bahwa pada saat penebusan Kristus di atas salib diberitakan, api pun menyala-nyala. Ke mana mezbah menuju, ke situlah api menyala.

Pergerakan mezbah tidak tergantung pada api, melainkan tergantung pada empat gelang. Ini berarti mezbah bergerak karena Roh yang kekal. Namun, pembakaran adalah oleh api, bukan oleh Roh itu. Kita perlu melihat bahwa ada dua hal yang terjadi serempak: pembakaran api dan pergerakan Roh itu. Keempat gelang pada mezbah itu berka-itan dengan pembakaran juga pergerakan. Kita tahu bahwa tanpa adanya gelang-gelang, maka kisi-kisi mustahil dikaitkan pada setengah tingginya mezbah. Kalau mau ada pembakaran di atas mezbah, maka empat gelang itu diperlukan untuk mengaitkan kisi-kisi pada tempatnya, dan juga untuk menggerakkan mezbah. Baik pembakaran maupun pergerakan, keduanya tergantung pada empat gelang.

XII. MEMASANG JALA-JALA DI BAWAH JALUR MEZBAH

Mengenai jalur, kita boleh mengatakan bahwa jalur melambangkan kekuatan yang menyangga Kristus di bawah penghukuman Allah. Kristus disangga oleh kekuatan ini pada saat Ia menerima penghukuman Allah di kayu salib. Kayu penaga yang disalut tembaga melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya di bawah penghukuman Allah. Tak salah lagi, pada saat Tuhan Yesus disalibkan, Ia memerlukan penguatan, penyanggaan, penaungan, dan perlindungan. Saya percaya bahwa jalur di dalam mezbah justru untuk tujuan ini.

Kita telah melihat adanya kemungkinan bahwa jalur melindungi kayu penaga yang disalut dengan tembaga, agar terhindar dari sengatan panas api. Tanpa suatu perlindung-an, kayu penaga itu tentu akan hangus oleh panas yang menerobos melalui lempengan tembaga. Api dalam mezbah menyala terus-menerus, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan. Tak mungkin kayu penaga tidak hangus oleh panas api, kecuali dilindungi secara demikian. Karena itu saya percaya bahwa jalur-jalur itu digunakan juga sebagai pelindung kayu penaga. Mungkin inilah alasannya dalam Keluaran 27 dicatat bahwa jala-jala itu diletakkan di bawah jalur mezbah. Fakta bahwa kayu penaga tahan terhadap pembakaran menunjukkan bahwa Kristus dalam keinsanian-Nya mampu menanggung penghukuman Allah.

XIII. KAYU-KAYU PENGUSUNG MEZBAH

Keluaran 27:6-7, “Haruslah engkau membuat kayu-kayu pengusung untuk mezbah itu, kayu-kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan tembaga. Kayu-kayu pengusungnya itu haruslah dimasukkan ke dalam gelang-gelang itu dan kayu-kayu pengusung itu haruslah ada pada kedua rusuk mezbah itu waktu mezbah itu diangkut.” Kayu-kayu pengusung adalah untuk pergerakan mezbah. Dibuat dari kayu penaga dan disalut dengan tembaga, yang melambangkan Kristus sebagai seorang manusia di bawah penghukuman Allah. Kayu-kayu pengusung ini dimasukkan ke dalam gelang-gelang, menandakan pergerakan salib adalah oleh kekuatan Roh itu. Kayu pengusung pada kedua sisi mezbah harus dipikul oleh orang-orang. Ini menunjukkan bahwa pergerakan salib dilakukan oleh koordinasi kaum beriman sebagai suatu kesaksian.

Adanya kayu-kayu pengusung di dalam gelang-gelang merupakan sebuah bukti kuat bahwa mezbah harus diangkut oleh orang-orang, bukan diletakkan di atas pedati atau dihela oleh hewan. Pengkhotbah mengenai salib hari ini haruslah dilakukan oleh manusia. Tetapi mereka yang memberitakan salib wajib melakukannya di dalam koordinasi sebagai suatu kesaksian. Inilah sebabnya Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya berdua-dua pergi menyebarkan Injil. Angka dua adalah angka kesaksian. Di dalam koordinasi dan sebagai suatu kesaksian, kaum beriman mengusung penebusan Kristus oleh kekuatan Roh itu mencapai keempat penjuru bumi.

XIV. DIBUAT BERONGGA DARI PAPAN-PAPAN

DENGAN UKURAN YANG CUKUP UNTUK DIMUATI

SEMUA PERKAKAS KEMAH SUCI

Ayat 8 mengatakan, “Mezbah itu harus kaubuat berongga dan dari papan, seperti yang ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu . . .” Mezbah itu dibuat berongga dari papan-papan sebesar ukuran yang mampu memuat semua perkakas Kemah Suci. Ini berarti salib Kristus memuat semua pengalaman kita terhadap Kristus. Pengalaman awal terhadap salib Kristus pada waktu kita dilahirkan kembali merupakan dasar pengalaman-pengalaman kita yang selanjutnya terhadap Kristus. Semua pengalaman kita terhadap Kristus berdasar pada prinsip salib Kristus.

Beban dalam berita ini ialah mengenai Roh itu adalah untuk pembakaran dan pergerakan. Sangatlah bermakna dan sangatlah penting bahwa Kristus menerima penghukuman Allah secara batiniah lebih daripada secara lahiriah. Tidak hanya demikian, Roh yang kekal juga berkaitan dengan penebusan Kristus yang sempurna. Roh ini untuk pembakaran di dalam, juga untuk pergerakan di luar. Hari ini, salib harus diberitakan melalui pembakaran dan pergerakan Roh yang kekal. Kita yang memberitakan salib wajiblah merupakan orang-orang yang hidup dan di dalam koordinasi mengemban satu kesaksian. Dengan demikian barulah kita memenuhi syarat mengusung mezbah dalam perjalanannya di bumi. Mezbah itu masih tetap diusung sampai hari ini. Ada pembakaran di dalam dan pergerakan di luar. Puji Tuhan atas kisi-kisi yang melambangkan isi penebusan Kristus! Pujilah Dia bahwa kita memiliki jala-jala dan gelang-gelang! Kita memiliki Roh yang kekal untuk pembakaran dan pergerakan.