← Daftar isi Keluaran (7) · bab 10/17

MEZBAH KURBAN BAKARAN (3)

Pembacaan Alkitab: Kel. 27:1-8

LAMBANG SALIB KRISTUS

Sewaktu kita membaca kisah mengenai mezbah kurban bakaran dalam Keluaran 27:1-8, sepertinya tidak banyak yang dapat kita utarakan. Tetapi ketika saya merenungkan masalah ini, saya merasa bahwa pada prinsipnya di sini tentu terkandung sesuatu yang penting, mengingat bahwa mezbah itu merupakan lambang salib Kristus. Dalam Perjanjian Baru, salib tidak diwahyukan dalam cara yang alamiah dan menurut pengertian insani kita. Seandainya salib disajikan secara demikian, mungkin salah seorang penulis utama Perjanjian Baru Paulus, Yohanes, atau Petrus akan membuat definisi yang panjang lebar mengenai makna salib Kristus. Dari sudut pandangan manusia, kita merasa perlu adanya definisi semacam ini. Namun, definisi semacam ini tak dapat kita temukan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, wahyu mengenai salib diberikan sepotong demi sepotong; yaitu, bermacam-macam bagian wahyu disuguhkan seperti teka-teki gambar susun, yang kita temukan di sana-sini di antero Perjanjian Baru. Contohnya, satu bagian mengenai salib tercantum dalam Galatia 2:19b-20, dan yang lain tercantum dalam Yohanes 12:14, 1Petrus 2:24, dan Ibrani 2:14.

Banyak ayat yang menyangkut salib dipahami oleh orang-orang Kristen secara dangkal. Umpamanya, 1Petrus 2:24, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Pengkhotbah-pengkhotbah sering mengutip bagian awal dari ayat ini seraya menunjukkan bahwa Kristus telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib. Namun, boleh jadi mereka tidak mendalami masalah yang lebih lanjut yang dibahas dalam ayat ini. Baik dalam lambang Perjanjian Lama maupun wahyu Perjanjian Baru, tidak ada penjelasan rinci mengenai salib. Kurangnya penjelasan rinci mengenai salib Kristus tentu ada alasannya.

KISI-KISI DAN EMPAT GELANG

Butir yang sangat berarti dalam Keluaran 27 mengenai mezbah ialah empat gelang. Semula saya mengira ada dua set gelang, satu set di sebelah dalam dinding mezbah, satu set lagi di luar dinding mezbah. Sebagaimana telah kita lihat bahwa kisi-kisi berada di dalam dinding; tetapi empat gelang yang ada di luar dinding justru ada pada empat ujung kisi-kisi. Kalau demikian, memang bisa jadi ada dua set gelang, set yang pertama ada pada ujung kisi-kisi, sedang set yang kedua ada di luar dinding mezbah disediakan untuk masuknya tongkat pengusung. Ini memungkinkan seandainya kisah mengenai mezbah ini hanya terdapat di Keluaran 27:1-8 saja. Namun, Keluaran 38:5 dan 7 dengan tegas menjelaskan, ”Dituangnyalah empat gelang pada keempat ujung kisi-kisi tembaga itu, yakni tempat memasukkan kayu pengusung . . . Dan dimasukkannyalah kayu-kayu pengusung itu ke dalam gelang-gelang yang pada rusuk mezbah itu, supaya dengan itu mezbah dapat diangkut . . .” Dalam terang ayat-ayat ini, kita tak dapat mengukuhi konsepsi yang mengatakan adanya dua set gelang, satu set di dalam mezbah dan satu set lainnya di luar mezbah. Hanya ada satu set gelang. Gelang-gelang ini terpasang pada keempat ujung kisi-kisi di dalam dinding, namun berada juga di luar sehingga dua batang kayu pengusung itu bisa dimasukkan ke dalamnya.

Sampai sekarang pun entah bagaimana saya harus menjelaskan perkara ini. Alkitab tidak menjelaskan bagaimana gelang-gelang itu terkait pada kisi-kisi, dengan tetap berada di luar mezbah. Sewaktu saya merenungkan masalah ini, terang mulai memancar, kemudian mulai merekahlah wahyu dalam Perjanjian Baru mengenai hubungan antara penebusan Kristus dengan Roh yang kekal. Mengenai hubungan ini, Perjanjian Baru mempunyai sesuatu yang penting yang hendak disampaikan. Dalam empat kitab Injil kita memiliki sebuah gambar tentang kisi-kisi. Kalau ingin mengerti kisi-kisi, kita perlu memahami kitab Injil. Tahukah Anda apa yang disajikan dalam empat kitab Injil? Kitab Injil menyajikan sebuah kisi-kisi penebusan, sebuah kisi-kisi tempat dirampungkannya penebusan. Kemudian dalam Kitab Kisah Para Rasul ada Roh itu sebagai empat gelang. Kisah Para Rasul 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Empat gelang itu adalah untuk mencapai empat ujung bumi. Kemudian dalam Surat-surat Kiriman Rasul, kita mendapatkan definisi mengenai empat gelang ini. Menurut Ibrani 9:14, Kristus telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah dan merampungkan penebusan melalui Roh yang kekal. Melalui sarana Roh yang kekal ini penebusan yang dirampungkan oleh Kristus dibawa ke ujung-ujung bumi. Dari sini kita mengetahui bahwa hampir seluruh Alkitab diperlukan untuk mendefinisikan kisi-kisi dengan empat gelangnya.

Sekali lagi, kisi-kisi disajikan dalam kitab-kitab Injil; hubungan empat gelang dengan kisi-kisi terlihat dalam Kitab Kisah Para Rasul; sedangkan dalam semua Surat-surat Kiriman Rasul kita dapati sebuah definisi tentang empat gelang. Satu Korintus 15:45 misalnya, mewahyukan bahwa Kristus telah menjadi Roh pemberi-hayat. Dalam Surat-surat Kiriman kita melihat Roh yang melalui-Nya Kristus telah merampungkan penebusan yang almuhit.

GELANG-GELANG DIPISAHKAN DARI KISI-KISI

Sadarkah Anda akan keadaan kekristenan hari ini terhadap kisi-kisi dan gelang-gelang? Demikianlah keadaannya: Gelang-gelangnya telah terlepas dari kisi-kisi. Kaum Fundamentalis mempunyai kisi-kisi tanpa gelang-gelang; golongan Pentakosta memiliki beberapa gelang yang terlepas dari kisikisi. Dalam pemulihan Tuhan, empat gelang itu dikembalikan kepada kisi-kisinya.

Kita menerima tentangan bukan karena kisi-kisi, tetapi terutama karena kesaksian kita mengenai gelang-gelang. Sebagian penentangan timbulnya dari penyajian kita mengenai kisi-kisi. Kalian tahu bahwa saya telah menyampaikan berita-berita mengenai Kristus dibuat menjadi rupa daging yang berdosa. Dalam berita-berita itu saya menunjukkan bahwa di atas salib Kristus berada dalam bentuk ular (Yoh. 3:14). Ada beberapa penentang memutarbalikkan kata-kata saya sambil menuduh bahwa saya mengajarkan bahwa Kristus memiliki sifat daging yang telah jatuh. Tuduhan semacam ini berasal dari kebutaan mereka. Tidak pernahkah para penentang ini memperhatikan kalimat Paulus dalam 2Korintus 5:21 yang menegaskan bahwa Kristus telah dibuat menjadi dosa? Dalam berita-berita saya, saya menekankan fakta bahwa Kristus berada dalam bentuk ular menurut apa yang dikatakan dalam Roma 8:3. Lagi pula, sehubungan dengan lambang ular tembaga yang ditinggikan di atas tiang oleh Musa di padang gurun, saya mengatakan bahwa ular tembaga adalah dalam bentuk ular yang sesungguhnya, hanya tidak memiliki racun ular. Demikian pula Kristus dalam bentuk daging yang berdosa, tetapi tidak memiliki sifat dosa. Orang-orang menentang kebenaran ini dikarenakan pengertian mereka yang sempit terhadap Kristus sebagai Penyelamat dan Penebus kita. Mereka tidak diterangi oleh firman sehingga melihat bahwa Kristus berada dalam bentuk daging yang berdosa bahkan telah dibuat menjadi dosa.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, sebagian besar penentangan itu disasarkan kepada kesaksian kita tentang Kristus hari ini adalah Roh Pemberi-hayat yang almuhit. Mengenai perbauran, beberapa di antara mereka telah menyimpang jauh dengan menuduh kita mengajarkan panteisme atau deifikasi (mengallahkan manusia). Tuduhan-tuduhan itu menyangkut Kristus sebagai Roh yang meliputi Trinitas, Persona Kristus, dan perbauran. Semua masalah ini berkenaan dengan empat gelang, yaitu Roh itu.

Hari ini banyak orang Kristen memiliki mezbah yang kekurangan hubungan yang memadai antara empat gelang dengan kisi-kisi. Ada yang punya kisi-kisi tanpa gelang-gelang, yang lain memiliki gelang-gelang tanpa kisi-kisi. Mereka yang memiliki kisi-kisi mungkin hanya memilikinya secara permukaan saja tanpa terkait dengan gelang-gelang, dan mereka yang memiliki gelang-gelang kemungkinan sekali memiliki gelang yang tidak benar dan tanpa terkait dengan kisi-kisi.

TUNTUTAN ALLAH TERPENUHI

Telah kita tunjukkan bahwa kisi-kisi itu terletak pada setengah tinggi mezbah, di antara atap dan alas. Ini berarti satu setengah hasta di atas kisi-kisi dan satu setengah hasta di bawah kisi-kisi. Tinggi ini sama dengan tinggi tabut kesaksian. Ukuran tabut ialah dua setengah hasta panjang dan lebarnya, dan satu setengah hasta tingginya. Jadi, tinggi tabut adalah setengah tinggi mezbah. Karena itu, kisi-kisi yang melambangkan penebusan Kristus yang almuhit dan lengkap itu diletakkan pada tingkat setinggi tabut.

Di atas atap tabut kesaksian terdapat tutup pendamaian. Di atas tutup inilah semua tuntutan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah dipenuhi. Ini memungkinkan Allah datang bertemu dengan manusia di atas tutup pendamaian. Karena tuntutan Allah sudah dipenuhi, maka tempat ini disebut takhta anugerah (Ibr. 4:16). Fakta bahwa kisi-kisi mezbah itu berada pada tingkat yang setinggi tutup pendamaian, menunjukkan bahwa penebusan Kristus telah dirampungkan sesuai dengan standar tuntutan Allah. Satu setengah hasta di atas maupun di bawah kisi-kisi menunjukkan bahwa penebusan Kristus dirampungkan dengan tak lebih rendah daripada tuntutan Allah; malahan justru dirampungkan pada standar setinggi tuntutan Allah. Lagi pula, fakta bahwa satu setengah hasta di atas kisi-kisi menunjukkan bahwa khasiat penebusan Kristus juga telah mencapai standar tuntutan Allah.

Saya ulangi, pada mezbah kurban bakaran terdapat dua bagian pada ketinggian tiga hasta, masing-masing satu setengah hasta. Satu setengah hasta di bawah kisi-kisi melambangkan penebusan Kristus telah dirampungkan menurut tingginya standar tuntutan Allah, dan khasiatnya pun seimbang dengan tuntutan-tuntutan ini. Inilah wahyu terhadap salib Kristus dalam Perjanjian Baru.

Walaupun catatan mengenai mezbah dalam Keluaran 27 sederhana dan singkat, namun sangat kaya makna rohaninya. Makna mezbah itu terlihat pada empat gelang yang berkaitan dengan kisi-kisi, dan lokasi kisi-kisi yang pada setengah tinggi mezbah. Karena butir-butir ini sangat penting, maka butir-butir ini ditekankan dalam catatan ilahi. Sebaliknya masalah jalur tidak banyak ditekankan.

Saya yakin sekali bahwa jalur itu melindungi keempat dinding mezbah dari sengatan panas api yang membara di atas kisi-kisi. Kalau tidak, kayu yang di dalam salutan tembaga itu akan hangus oleh panas yang terus-menerus itu. Dengan alasan ini juga saya tidak percaya bahwa jalur itu dibuat dari kayu. Melainkan, saya percaya bahwa jalur itu dibuat dari tembaga.

Jalur pada keempat sisi mezbah juga berguna untuk membatasi ruang pembakaran. Berhubung mezbah itu panjangnya lima hasta dan lebarnya juga lima hasta, maka jalur pada setiap sisi itu mungkin lebarnya setengah hasta. Dengan demikian masih ada sisa ruang seluas empat hasta kali empat hasta untuk pembakaran kurban. Lagi pula dengan demikian masih ada tempat menyimpan perkakas tertentu di atas jalur itu.

Walaupun saya benar-benar yakin mengenai makna keempat gelang, tetapi saya tidak mengukuhi pengertian saya terhadap jalurnya. Mengenai ini saya hanya mengambil suatu kesimpulan, karena tak ada bukti yang kuat yang tertulis dalam firman ini. Namun, jika jalur ini tidak berfungsi sebagai pelindung, bagaimana mungkin dinding-dinding itu terlindung dari sengatan api? Tentunya ada semacam pelindung, dan perlindungan ini mungkin diberikan oleh jalur.

Kita memerlukan lebih banyak pengertian dan pengenalan mengenai salib dan penebusan Kristus seturut Perjanjian Baru. Karena wahyu atas salib itu disajikan sepotong demi sepotong, sulit sekali untuk melihat gambar yang lengkap. Kita hanya mampu melihat gambar selengkapnya apabila potongan-potongan teka-teki itu digabungkan menjadi satu. Kita bersyukur kepada Tuhan yang membantu kita melihat salib lebih jauh!

Pengenalan kita terhadap salib tidak seharusnya hanya doktrin belaka. Kita memerlukan pengalaman yang riil. Haleluya, kita memiliki Kristus, kita memiliki Roh yang kekal! Sesungguhnya, Kristus sendiri adalah Roh yang kekal. Di atas salib Dia itulah Kristus, Penebus. Tetapi dalam pengalaman kita, Dia itulah Roh pemberi-hayat. Empat gelang itu bergandeng erat dengan kisi-kisi. Bahkan gelang-gelang dan kisi-kisi terbuat dari logam yang sama, tembaga. Jadi ada kesamaan antara kisi-kisi tembaga dengan gelang-gelang tembaga. Ini menunjukkan bahwa kisi-kisi itu sama dengan keempat gelang; demikian juga hari ini Kristus sama dengan Roh pemberi-hayat.