← Daftar isi Keluaran (7) · bab 11/17

MEZBAH KURBAN BAKARAN (4)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 27:4-7; 38:5; Yes. 53:8, 10a; 1Ptr. 3:18;

2Kor. 5:21; Rm. 3:23-26; Ibr. 9:14; Gal. 3:13-14;

Kis. 1:8; 2:38; Ef. 1:13-14; Gal. 3:3

Dalam Keluaran 27:1-8, ayat 1-3 membahas penampilan luar mezbah; sedangkan ayat 4-8 membahas isi dalam mezbah. Yang sulit dipahami dari mezbah bukanlah penampilan luarnya, tetapi isi di dalamnya. Isi mezbah ialah kisi-kisi dan empat gelang tempat dimasukkannya kayu-kayu pengusung mezbah.

Bagian mezbah yang ada hubungannya dengan isi mezbah ialah jalur. Telah kita tunjukkan bahwa kata “jalur” dalam bahasa Ibraninya bisa juga berarti “batas”, “pinggiran”, atau “bingkai”. Tak ada seorang pun mampu mengatakan dengan pasti apa sebenarnya jalur ini. Saya yakin bahwa jalur ini digunakan untuk melindungi empat dinding mezbah dari suhu yang tinggi. Alkitab tidak menyebutkan berapa lebarnya jalur ini. Saya yakin bahwa jalur ini turun ke bawah mencapai kisi-kisi yang terletak di setengah tinggi mezbah. Jadi kisi-kisi itu membagi mezbah menjadi dua bagian, satu setengah hasta di atasnya dan satu setengah hasta di bawahnya.

Semakin saya mempelajari bagian dalam Keluaran 27 yang menyangkut mezbah, saya semakin yakin bahwa jalur ini melindungi dinding mezbah dari penghangusan panas api yang menyala di atas kisi-kisi. Api itu menyala terus bertahun-tahun. Tanpa perlindungan bagi dinding-dinding itu, kayu penaga yang di bawah tembaga niscaya menjadi arang. Karena itu, kisi-kisi itu berfungsi sebagai pelindung. Kisi-kisi yang dipakai untuk menahan kayu dan kurban berada di bawah jalur.

Dalam berita sebelum ini kita telah menunjukkan bahwa empat gelang melambangkan Roh itu. Gelang-gelang itu mempunyai dua aspek. Pertama, gelang-gelang itu berkaitan dengan kisi-kisi. Berarti gelang-gelang itu satu dengan kisi-kisi. Karena itu, kisi-kisi itu tidak terpisah dari empat gelang. Sebaliknya, gelang-gelang itu milik kisi-kisi yang membentuk sebuah jala-jala. Kedua, menurut Keluaran 38:5, empat gelang ini disediakan untuk batang pengusung mezbah. Dua gelang pada masing-masing sisi mezbah.

ISI MEZBAH

Saya ingin menegaskan fakta bahwa isi mezbah ialah kisi-kisi dengan empat gelang. Beberapa tafsiran mengenai Kitab Keluaran membicarakan kayu penaga dan tembaga. Masalah ini agaknya masih dangkal. Sudah lazim bagi para penafsir untuk menunjukkan bahwa kayu penaga melambangkan keinsanian Tuhan Yesus, dan tembaga melambangkan hukuman peradilan Allah, dan empat tanduk mezbah melambangkan kekuatan dan tenaga penebusan Kristus. Darah penebusan dipercikkan di atas tanduk-tanduk ini. Lebih lanjut, darah dari kurban ini dibawa masuk ke dalam tempat kudus dan dipercikkan di atas empat tanduk pada mezbah ukupan, juga dibawa ke dalam tempat maha kudus untuk dipercikkan di atas tutup pendamaian tabut. Berhubung masalah-masalah sedemikian ini tidak begitu dalam atau misterius, sangatlah mudah bagi para penafsir untuk memahami makna perlambangan masalah-masalah ini. Tetapi para penafsir itu tidak banyak mengungkapkan kisi-kisi dan empat gelang. Dalam berita ini saya berbeban untuk membahas misteri dari penebusan Kristus sebagaimana diibaratkan oleh kisi-kisi dan gelang-gelang yang dilambangkan atau digambarkan oleh misteri ini.

Pada tubuh manusia, kulit, daging, dan tulang-belulang tidak semisterius bagian-bagian dalam tubuh, khusus-nya mengenai jiwa dan roh. Pada bagian psikologis kita jiwa, terdiri atas pikiran, emosi, dan tekad. Jiwa itu misterius, walaupun tidak sedalam roh. Di balik jiwa dan terkepung oleh jiwa, terdapat roh. Maka, bagian psikologis dan rohani kita merupakan misteri dari apa adanya kita. Isi batini setiap orang ialah jiwa dan roh. Dalam prinsip yang sama, isi bagian dalam mezbah adalah kisi-kisi dengan empat gelangnya.

Kisi-kisi melukiskan misteri penebusan Kristus. Kayu dan kurban persembahan ditaruh di atas kisi-kisi untuk dibakar. Kisi-kisi merupakan tempat pembakaran kayu. Tanpa ada kisi-kisi tidak mungkin ada pembakaran, karena pembakaran terjadi di atas kisi-kisi. Lagi pula, kita telah tahu bahwa kisi-kisi itu terletak di tengah-tengah tinggi mezbah; mendatar dari sisi yang satu ke sisi yang lain di tengah-tengah antara dasar dan atap mezbah. Fakta bahwa di bawah kisi-kisi itu masih ada jarak satu setengah hasta, menunjukkan bahwa levelnya setinggi tutup pendamaian tabut di dalam tempat maha kudus, menyatakan bahwa kisi-kisi itu mencapai standar setinggi tutup pendamaian. Ketika Paulus membicarakan penebusan Kristus dalam Roma 3:24-25, dengan tegas ia katakan bahwa Allah telah menjadikan Kristus Penebus sebagai tutup pendamaian kita.

Ketika mezbah itu diusung, tongkat pengusung itu terletak di atas pundak sejumlah orang. Tongkat pengusung ini dimasukkan ke dalam gelang-gelang. Berat kisi-kisi dan kayu bakar ditambah kurban persembahan, semuanya dibebankan pada keempat gelang. Ini memperlihatkan bahwa seluruh penebusan Kristus berada pada empat gelang yang melambangkan Roh yang kekal. Ini akan membantu kita mengenal Roh dengan jelas. Dikarenakan pengajaran yang dangkal dan tidak memadai, jarang sekali ada orang Kristen yang paham bahwa penebusan Kristus itu terletak pada kekuatan Roh yang kekal. Kayu bakar dan kurban persem-bahan berada di atas kisi-kisi. Jadi, kisi-kisi memikul berat semua perampungan pembakaran. Pembakaran ini menandakan perampungan penebusan. Beban perampungan penebusan ditaruh di atas kisi-kisi. Lalu apa yang memikul beban berat kisi-kisi? Beban ini dipikul oleh keempat gelang, yakni lambang Roh yang kekal.

PENEBUSAN DIRAMPUNGKAN MELALUI ROH ITU

Adalah benar kalau dikatakan perampungan penebusan itu bukan dilakukan oleh empat gelang. Pembakaran yang merampungkan penebusan terjadi di atas kisi-kisi. Kisi-kisi menandakan Kristus, dan gelang-gelang menandakan Roh itu. Kristus, bukan Roh itu, yang merampungkan penebusan. Mengenai ini kita tidak ragu sama sekali. Tetapi di manakah kisi-kisi bertumpu? Apakah bertumpu pada tunjangan kekuatannya sendiri? Terpisah dari empat gelang, kisi-kisi tidak memiliki tunjangan, ketika mezbah diusung ataupun sedang berhenti, kisi-kisi itu ditunjang oleh gelang-gelang. Tak ada penopang lain, pun tak ada kekuatan penyangga lain. Sekali lagi, kisi-kisi itu ditunjang oleh empat gelang. Memang pembakaran dirampungkan oleh kisi-kisi. Namun kekuatan penunjangnya ada pada gelang-gelang, bukan pada kisi-kisi itu sendiri. Mengenai ini, Ibrani 9:14 mengatakan, “terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Melalui Roh yang kekal, Kristus telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban persembahan bagi dosa kita.

Bertahun-tahun saya berada di antara Kaum Saudara (The Brethren), tetapi saya tidak pernah diberi tahu bahwa Kristus telah mempersembahkan diri-Nya oleh Roh yang kekal, melalui Roh yang kekal. Pernahkah Anda mendengar berita mengenai Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah oleh dan melalui Roh kekal? Orang-orang Kristen tak lazim mengatakan demikian, karena tak banyak yang mempunyai pengetahuan ini. Karena mereka tidak mempunyai pengetahuan ini, maka mereka tak pernah memakai ungkapan dari Ibrani 9:14. Padahal perkataan ini jelas terdapat dalam Ibrani 9:14.

Kristus yang almuhit menempuh kematian yang almuhit melalui Roh yang kekal. Dia mati melalui Roh yang kekal, yang tanpa permulaan ataupun kesudahan. Peristiwa misterius semacam ini sesungguhnya telah terjadi dalam sejarah manusia, tetapi telah diabaikan oleh para sejarawan kafir. Tidak ada satu buku sejarah yang pernah mengatakan kepada Anda bahwa Kristus yang almuhit telah mempersembahkan diri-Nya melalui Roh yang kekal.

Bertahun-tahun lamanya saya telah mengenal Ibrani 9:14, tetapi saya belum juga memahami makna yang terkandung dalam ayat ini. Apa yang dimaksud dengan Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban persembahan karena dosa melalui Roh yang kekal? Ini tak mudah dimengerti.

MENGAPA KRISTUS MEMPERSEMBAHKAN

DIRI-NYA MELALUI ROH YANG KEKAL

Apakah makna dari “melalui Roh yang kekal”? Apa perlunya Kristus mati di kayu salib melalui Roh yang kekal? Bukankah Kristus itu mahakuasa, dan mampu melakukan segala sesuatu yang perlu untuk merampungkan penebusan? Mengapa Ia memerlukan Roh yang kekal untuk mati di kayu salib? Beban saya dalam berita ini ialah membentangkan sebuah gambar mengenai masalah ini. Gambar ini akan mengajak kita kepada suatu kesimpulan, dan kesimpulan ini sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa Kristus mempersembahkan diri-Nya melalui Roh yang kekal.

Kristus adalah Allah, juga manusia. Kristus bukannya menjelma menjadi manusia secara tiba-tiba. Sebaliknya Ia menjadi manusia seturut proses normal, yakni kehamilan dan kelahiran. Ia dikandung dalam rahim Maria, dan dilahirkan sembilan bulan kemudian. Selama tiga puluh tiga setengah tahun Tuhan Yesus hidup di bumi selaku seorang manusia. Akhirnya Ia menuju ke kayu salib dan mati di atasnya juga sebagai seorang manusia. Namun, walaupun Ia hidup dan mati selaku seorang manusia, Ia pun adalah Allah; jadi, Ia adalah Manusia-Allah. Menurut Yesaya 9:5, Tuhan sebagai putera yang dilahirkan bagi kita dalam palungan disebut Allah Mahakuasa. Ia adalah Allah, tetapi Ia hidup di bumi bukan sebagai Allah, melainkan sebagai seorang manusia. Lagi pula Ia dikandung oleh Roh Kudus. Menurut Matius 1, manusia Yesus dikandung oleh Roh kudus. Sewaktu mulai tampil dalam ministri-Nya sebagai orang dari Nazaret, Ia diurapi oleh Roh. Di saat Ia dibaptis, Roh Kudus turun ke atas-Nya (Mat. 3:16). Sepanjang hidup-Nya, Ia penuh dengan Roh dan di bawah pimpinan Roh secara terus-menerus (Luk. 4:1). Ia hidup, bergerak, bertindak, bekerja, dan menunaikan ministri di bawah bimbingan Roh. Tak pernah melakukan sesuatu di luar pimpinan Roh ini.

Di tempat lain saya telah menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menempuh kehidupan tersalib. Sekarang kita harus tahu bahwa Ia menempuh kehidupan tersalib ini menurut pimpinan Roh Kudus. Lebih dari itu, dalam Matius 12 kita melihat bahwa Ia mencampakkan Iblis juga dengan kuasa Roh. Jadi, Tuhan adalah manusia yang melakukan segala sesuatu di bawah pimpinan Roh dan kuasa Roh. Ia tidak bertindak seturut kemauan, kesukaan, dan niat-Nya sendiri. Ia hidup, bergerak dan bertindak berdasarkan Roh.

Ketika tiba saatnya bagi Tuhan Yesus untuk mati di kayu salib, Ia tidak menuju ke kayu salib menurut harapan dan keinginan-Nya sendiri, melainkan menurut bimbingan Roh Kudus. Seluruh kehidupan-Nya telah dijalani menurut Roh. Jadi, Ia menuju ke kayu salib juga menurut pimpinan Roh. Di atas kayu salib Tuhan Yesus menempuh kematian yang almuhit, kematian yang menyingkirkan dosa dunia, menumpas Iblis, mengadili dunia, mengakhiri ciptaan lama, dan meniadakan Taurat tulisan tangan. Kematian almuhit yang sedemikian ini dirampungkan melalui Roh yang kekal.

Selama hidup-Nya di bumi, Tuhan sama sekali tidak pernah melakukan sesuatu bahkan hal yang sepele di luar Roh. Pergi-Nya ke padang belantara pun di bawah pimpinan Roh. Dengan sendirinya kematian almuhit di kayu salib tidak dilakukan-Nya di luar pimpinan Roh kudus. Jadi, ketika Kristus mati di kayu salib, Ia mati melalui Roh. Dalam Ibrani 9 terdapat sebuah perbandingan antara kurban hewan yang dipersembahkan oleh para imam Perjanjian Lama dan kurban unik Kristus yang dipersembahkan kepada Allah melalui Roh yang kekal. Sewaktu imam-imam mempersembahkan kurban persembahan, mereka tidak melakukannya melalui Roh Kudus. Sebaliknya, meraka melakukannya berdasarkan diri sendiri. Karena itu, apa yang mereka lakukan hanya mempunyai efek yang kecil; tidak penuh kekuatan. Inilah alasannya mengapa kurban persembahan itu harus dilakukan berkali-kali setiap tahun pada hari penebusan. Tetapi Kristus sebagai Imam Agung mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai persembahan karena dosa melalui Roh yang kekal, sekali untuk selamanya, melalui Dia yang tanpa awal atau akhir. Karena itu, apa yang Kristus persembahkan penuh kekuatan dan berkhasiat.

Sekarang kita sudah mempunyai jawaban terhadap pertanyaan mengapa Kristus perlu mempersembahkan diri-Nya melalui Roh yang kekal. Kita telah tahu bahwa sebagai manusia, Ia tidak melakukan sesuatu menurut kemauan-Nya sendiri. Setiap hal yang Dia lakukan adalah di bawah pimpinan Roh dan oleh kekuatan Roh yang kekal. Inilah yang dimaksud dengan empat gelang pada kisi-kisi. Berat seluruh kisi-kisi ditanggung oleh gelang-gelang. Itulah sebabnya apa yang dirampungkan oleh kisi-kisi sangatlah berkekuatan dan berkhasiat. Ini berarti kekuatan, tenaga, dan khasiat penebusan dirampungkan oleh kisi-kisi yang tergantung pada empat gelang. Kekuatan penebusan Kristus tergantung pada Roh yang kekal.

HASIL PENEBUSAN KRISTUS

Dalam Perjanjian Baru, kapan saja penebusan Kristus diberitakan, selalu dibicarakan dengan kekuatan Roh kudus, tidak pernah diberitakan lepas dari Roh. Bila kita memiliki kisi-kisi tanpa empat gelang, kisi-kisi itu akan kehilangan kekuatan dan tenaganya. Saya ulangi, kekuatan kisi-kisi terletak pada empat gelang. Ini menerangkan bahwa tenaga, kekuatan, dan khasiat penebusan Kristus terletak pada Roh kudus.

Meskipun saya dilahirkan dan dibesarkan dalam kekristenan, saya belum pernah mendengar berita yang menjelaskan bahwa penebusan Kristus itu berkaitan dengan Roh kudus. Banyak berita mengenai perampungan penebusan oleh Kristus yang telah saya dengar, namun tak ada sepatah pun yang menghubungkan penebusan dengan Roh Kudus. Pemberitaan Injil serupa itu sangat berbeda dengan pemberitaan Petrus, Yohanes, dan Paulus. Di saat Petrus memberitakan Injil pada hari Pentakosta, ia tidak mengatakan bahwa mereka yang dibaptis akan menerima penebusan. Petrus berkata bahwa siapa yang dibaptis akan menerima Roh yang dijanjikan. Pada zaman dulu Allah menjanjikan berkat besar kepada nenek moyang kita, Abraham, yaitu Roh Kudus (Gal. 3:14). Kita perlu dibaptis, sebab kita perlu menerima berkat ini. Inilah alasan Petrus menyuruh orang-orang bertobat dan dibaptis dalam nama Yesus Kristus agar menerima Roh yang dijanjikan (Kis. 2:38-39). Paulus memberitakan Injil dengan cara yang sama. Dalam Galatia 3, ia berkata bahwa Kristus memikul kutuk kita di kayu salib, agar melalui Dia kita boleh menerima Roh yang dijanjikan.

Semasih muda, saya tak pernah mendengar berita yang mengatakan bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita, agar kita boleh menerima Roh itu. Saya tidak pernah mendengar berita seperti ini. Saya hanya pernah mendengar bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita, sehingga kita bisa diampuni, dan pada suatu hari nanti akan naik ke surga. Mereka yang menyampaikan Injil ini tahu tentang matinya Kristus karena dosa-dosa kita, dan mereka pun tahu akan surga, hanya mereka tidak mengenal Roh itu.

Sangatlah penting bagi kita untuk menyadari bahwa terpisah dari Roh itu, penebusan Kristus merupakan penebusan yang tanpa hayat, yaitu penebusan yang mati. Bahkan manusia sendiri pun akan mati bila terpisah dari roh. Kita ini hidup karena memiliki roh. Segera setelah roh meninggalkan tubuh seseorang, orang itu tentu menjadi mayat. Kitab Suci mengatakan bahwa orang-orang dosa adalah orang-orang mati, karena roh mereka mati. Tetapi kita menjadi hidup begitu roh kita dihidupkan dan dipulihkan. Sebagaimana orang yang mati terpisah dari roh, demikian pula penebusan Kristus mati kalau terpisah dari Roh Kudus. Banyak orang Kristen dewasa ini memberitakan penebusan yang mati. Mereka memiliki kisi-kisi tanpa empat gelang. Namun Alkitab mengatakan penebusan yang hidup, yang dilambangkan oleh kisi-kisi dan empat gelang. Penebusan Kristus dirampungkan di bawah penghakiman keadilan Allah, ditunjukkan oleh kisi-kisi tembaga yang ditunjang oleh empat gelang pada keempat ujungnya. Penebusan Kristus dirampungkan bukan hanya melalui Roh itu, tetapi juga untuk Roh itu. Ini berarti penebusan Kristus membuahkan satu hasil, satu akibat. Akibat penebusan Kristus bukan hanya pengampunan dosa; bukan hanya penebusan itu belaka, atau penyelamatan melalui penebusan. Hasil unik dari penebusan Kristus adalah Roh itu.

Dalam kitab-kitab Injil, Kristus berbicara tentang kedatangan Roh itu. Injil-injil ini bahkan dimulai dengan kata-kata mengenai Kristus yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dalam Injil Yohanes, Kristus menyinggung Roh itu sebagai Penghibur lain yang akan datang (Yoh. 14:16 Tl.). Kristus adalah pelopor yang merintis jalan, agar Roh itu, Penghibur lain itu, bisa datang. Inilah sebabnya menjelang mati, Ia menyuruh murid-murid-Nya berdoa bagi kedatangan Roh realitas itu.

Injil Yohanes juga mengatakan bahwa Roh itu belum datang, karena Kristus belum dimuliakan (Yoh. 7:39). Setelah Kristus bangkit, yakni setelah Ia dimuliakan, Ia mendatangi murid-murid-Nya, mengembusi mereka, dan membuat mereka menerima Roh Kudus (Yoh. 20:22). Ia menyuruh mereka menerima Penghibur yang kedua, yaitu pneuma kudus. Sebenarnya yang kedua ini justru adalah yang pertama tadi. Kristus sendiri telah menjadi Roh pemberi-hayat. Dengan demikian, yang kedua ini merupakan realitas yang pertama tadi. Sekarang yang satu ini telah masuk ke dalam semua orang tebusan serta menyertai mereka, seperti yang diwahyukan dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kiriman rasul.

Surat-surat Kiriman Rasul membicarakan Roh itu di dalam roh kita, Roh Kudus di dalam roh manusia. Inilah subyek pokok Surat-surat Kiriman Rasul. Akan tetapi, hal ini telah dilalaikan oleh kebanyakan orang Kristen dan dibiarkan terkubur di dalam lembaran-lembaran Perjanjian Baru. Ketika kita mengeluarkan “berlian” ini dan menggunakannya untuk menyuplai, banyak yang menentang kita, bahkan mengatakan bahwa kita ini sesat. Mereka bersikeras pada pendapat mereka bahwa mengatakan Kristus itu Roh pemberi-hayat adalah berlawanan dengan pengakuan iman rasuli dan konsili. Kita telah menggali dengan menyingkirkan terlebih dulu barang-barang lain untuk menemukan berlian ini. Tetapi orang lain malah menghargai barang-barang galian yang disingkirkan, “tanah lumpur” dan meremehkan berliannya. Dari sini terlihatlah perbedaan antara pemulihan Tuhan dengan kekristenan hari ini: Mereka memustikakan barang-barang yang menutupi berlian, “barang-barang lumpur”; tetapi kita justru menyapu lumpur itu untuk mendapatkan berlian. Haleluya, saku saya penuh berlian!

Kitab Wahyu tidak hanya membicarakan Roh itu, tetapi juga tujuh Roh, yaitu Roh tujuh ganda. Roh tujuh ganda ini boleh diumpamakan dengan bola lampu yang diperkuat tujuh kali, bola lampu yang tujuh kali lebih terang. Pemulihan Tuhan berada di bawah cahaya tujuh ganda. Gereja-gereja yang adalah kaki-kaki pelita berada di bawah Roh tujuh ganda. Sungguh ajaib! Ada orang-orang Kristen menghindari Kitab Wahyu, mengira bahwa kitab ini terlalu misterius dan sulit. Namun, kita tidak dipersulit oleh kitab ini, kita malah diberkati dan disoroti oleh kitab ini. Haleluya kita memiliki Roh itu, Roh pemberi-hayat, bahkan Roh tujuh ganda!

Menurut Wahyu 22:17, Roh dan pengantin perempuan itu berkata serentak. Seandainya saya sebagai penulisnya, ayat ini akan mengatakan, “Yesus Kristus dan gereja-Nya berkata, ‘Marilah!’” Namun ayat ini jelas mencantumkan, “Roh dan pengantin perempuan berkata, ‘Marilah!’”

KEKUATAN PENEBUSAN KRISTUS

Beban saya dalam berita ini adalah membahas hubungan antara penebusan Kristus dengan Roh itu. Bila kita memberitakan penebusan Kristus tanpa Roh itu, berarti kita adalah penginjil yang amat kasihan, yang memberitakan penebusan yang mati. Di manakah letak kekuatan penebusan Kristus? Di dalam Roh itu.

Telah berkali-kali saya tunjukkan bahwa kisi-kisi itu berkaitan dengan empat gelang. Gelang-gelang ini juga untuk pergerakan mezbah. Mezbah itu sangat berat. Tanpa adanya tongkat pengusung dalam gelang-gelang, sulitlah untuk memindahkan mezbah itu. Ini menunjukkan bahwa pergerakan Tuhan tergantung pada Roh itu. Inilah sebabnya, Tuhan menyuruh murid-murid-Nya menunggu di Yerusalem hingga mereka memperoleh kekuatan dari tercurahnya Roh Kudus ke atas mereka (Kis. 1:8). Kemudian mereka akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Inilah penebusan Kristus, salib Kristus, yang digerakkan oleh kekuatan Roh itu di atas pundak manusia.

KISI-KISI, GELANG-GELANG, DAN TONGKAT PENGUSUNG

Bila kita menganalisis situasi orang-orang Kristen hari ini, kita akan menemukan adanya kaum Fundamental dan kaum Pentakosta. Kaum Fundamental memiliki penebusan obyektif Kristus. Ini berarti mereka hanya memiliki kisi-kisi dan kekurangan gelang-gelang. Sedang kaum Pentakosta, sebaliknya, memiliki beberapa macam gelang, tetapi gelang-gelang itu tidak berkaitan dengan kisi-kisi. Gelang-gelang yang mereka miliki mungkin sudah putus atau tidak sejati. Jadi, di samping menemukan Kaum Fundamental dengan kisi-kisi tanpa gelang-gelang, kita juga menemukan kaum Pentakosta dengan gelang-gelang tanpa kisi-kisi. Tetapi dalam pemulihan Tuhan, kita memiliki kisi-kisi, empat gelang, dan dua batang tongkat pengusung. Karena kita memiliki kisi-kisi, gelang-gelang, dan tongkat pengusung, maka kita mampu berlapang hati dan penuh sukacita.

Saya ingin mendorong kalian untuk membaca kembali kitab Perjanjian Baru dalam cahaya atas gambar mezbah dengan kisi-kisi, gelang-gelang, dan tongkat pengusungnya. Dalam kitab-kitab Injil kita melihat Kristus sebagai kisi-kisi dan gelang-gelang dalam proses pembentukan. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, empat gelang tertampil. Kemudian dalam semua Surat-surat Kiriman, dari Surat Roma sampai Kitab Wahyu terwahyukan lebih jauh mengenai gelang-gelang, termasuk Roh tujuh ganda. Inilah wahyu dalam Perjanjian Baru. Melalui ini kita melihat bahwa isi mezbah memerlukan seluruh kitab Perjanjian Baru untuk penjelasannya. Keempat Injil melukiskan kisi-kisi, dan semua Surat-surat Kiriman menyajikan gambar lengkap mengenai empat gelang dengan dua batang tongkat pengusung. Puji Tuhan untuk gambar yang jelas ini, yang menunjukkan betapa hidupnya, betapa kuasanya, betapa kuatnya, dan betapa berkhasiatnya penebusan Kristus di hadapan Allah dan manusia!