← Daftar isi Keluaran (7) · bab 12/17

MEZBAH KURBAN BAKARAN (5)

Pembacaan Alkitab :

Kel. 27:4-7; 38:5; Yes. 53:8, 10a; 1Ptr. 3:18;

2Kor. 5:21; Rm. 3:23-26; Ibr. 9:14; Gal.

3:13-14; Kis. 1:8; 2:38; Ef. 1:13-14; Gal. 3:3

Di antara pembaca Alkitab mungkin ada yang mengira bahwa mezbah kurban bakaran itu merupakan semacam meja atau peti yang di atasnya diletakkan kurban-kurban persembahan. Padahal sesungguhnya mezbah itu adalah semacam kerangka, yang memiliki empat dinding, tanpa atap dan alas, di tengah-tengahnya terdapat kisi-kisi. Dari Keluaran 27, kita tahu bahwa mezbah itu panjangnya lima hasta, lebarnya lima hasta, dan tingginya tiga hasta. Keluaran 27:4-7 berbicara mengenai kisi-kisi, gelang-gelang, dan tongkat pengusung. Seandainya kisi-kisi, empat gelang, dan dua tongkat pengusung yang dimasukkan ke dalam gelang-gelang itu disingkirkan dari mezbah, niscayalah mezbah itu akan tinggal sebuah kerangka atau kotak yang kosong. Banyak tahun yang lalu saya telah menaruh perhatian terhadap “kotak” ini; namun tidak memiliki ingatan tentang kisi-kisi, gelang-gelang, dan tongkat pengusung. Agaknya ketiga benda ini tidak begitu mengesankan saya. Tiap kali terpikir akan mezbah kurban bakaran, saya akan menggambarkannya seperti sebuah kerangka, sebuah kotak. Namun kisi-kisi, gelang-gelang, dan tongkat pengusung itulah justru isinya. Lagi pula, benda-benda ini merupakan realitas tenaga dan kekuatan mezbah. Tenaga, kekuatan, dan realitas mezbah terletak pada isi mezbah.

Telah kita tunjukkan bahwa kisi-kisi itu diletakkan mendatar di setengah tinggi mezbah melintang dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Kisi-kisi itu tentunya berat dan kuat. Kalau tidak, mana mungkin memikul beban dari beratnya kayu dan kurban-kurban persembahan. Dan tentunya dibuat dari tembaga yang memungkinkannya tahan terhadap panas.

KRISTUS SANG PENEBUS

Mari kita meneliti gambar yang dilukiskan oleh lambang ini dan bertanya apa maknanya. Di dalam kerangka mezbah terdapat sebidang kisi-kisi, sebuah jaringan, dan di atas kisi-kisi ini terdapat kayu bakar dan kurban yang dibakar. Ketika kurban dan kayu terbakar, abunya jatuh ke tanah, sedangkan asapnya membubung ke atas sebagai wangi-wangian bagi kepuasan Allah. Jadi, wangi-wangian adalah untuk kepuasan Allah, sedangkan abunya merupakan tanda bukti bahwa persembahan itu telah diperkenan Allah. Begitu Allah mencium bau wangi-wangian itu, Ia akan puas dan senang. Ketika orang yang mempersembahkan kurban melihat abunya, maka hati nuraninya akan merasa damai, sebab abu itu membuktikan bahwa kurban itu telah Allah terima dan orang yang mempersembahkannya telah mendapat pengampunan. Kisi-kisi itu berkaitan dengan wangi-wangian juga dengan abu. Wangi-wangian berada di atas kisi-kisi, dan abunya berada di bawahnya.

Kisi-kisi bukan hanya menandakan penebusan Kristus. Menurut Alkitab, Kristus dan penebusan-Nya tidak bisa dipisahkan. Kristus sendiri adalah penebusan kita. Penebusan bukan hanya suatu perkara, tetapi juga suatu Persona. Memang, kisi-kisi itu menandakan penebusan Kristus. Namun, kisi-kisi itu sesungguhnya menandakan Kristus, Sang Penebus. Kisi-kisi itu adalah lambang Kristus dalam penebusan-Nya.

Untuk mengerti bagaimana kisi-kisi itu melambangkan Kristus Sang Penebus, sangatlah membantu kita jika kita membandingkan kisi-kisi dengan tutup pendamaian pada tabut. Menurut Roma 3:25, tutup pendamaian adalah Kristus sendiri. Pendamaian itu bukan hanya suatu tindakan yang dirampungkan oleh Kristus; pendamaian adalah Kristus. Dia yang merampungkan pendamaian itu sendiri adalah tutup pendamaian. Tutup tabut adalah suatu Persona Kristus dalam perampungan pendamaian-Nya. Dalam prinsip yang sama, kisi-kisi menandakan Kristus, Penebus, di dalam penebusan-Nya; yaitu menandakan Kristus sendiri di dalam karya penebusan-Nya.

Kita telah melihat bahwa abu itu merupakan suatu tanda, suatu bukti, suatu penegasan bahwa kurban itu telah diterima oleh Allah, dan dosa atau dosa-dosa orang yang mempersembahkan itu telah diampuni. Hasilnya, Allah menikmati bau harum Kristus, sedang orang yang mempersembahkan itu menikmati damai sejahtera. Sangatlah penting untuk diketahui bahwa kisi-kisi itu bukan di alas atau di atap mezbah, melainkan di tengahtengah di antara atap dan alas. Ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah atas Kristus merupakan masalah batiniah, bukan hanya lahiriah. Kristus memikul penghukuman Allah bukan hanya di atas pundak-Nya, tetapi juga di dalam hati-Nya. Mazmur 22:15 yang mengungkapkan penderitaan Kristus di kayu salib, “ . . . hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku.” Ini memperlihatkan bahwa pada saat Kristus menderita penghukuman Allah, Ia menderita penghukuman ini bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga secara batiniah. Inilah makna letak kisi-kisi di tengah-tengah di dalam mezbah, bukan di atap atau di alas. Penderitaan Kristus terhadap hukuman keadilan Allah juga adalah perkara yang di dalam, bukan hanya perkara yang di luar.

Kita tidak cukup petah lidah untuk menerangkan Kristus, salib-Nya, dan penebusan-Nya. Kita ini picik dalam pengenalan dan tidak mampu mengutarakan dengan memadai apa yang kita pahami. Karena itu, kita sangat bersyukur atas sajian gambar oleh mezbah kurban bakaran. Gambar ini mewahyukan rincian yang tidak dicatat dengan jelas dalam Perjanjian Baru.

KEMATIAN YANG KEKAL

Jika Anda membaca seluruh dua puluh tujuh kitab dalam Perjanjian Baru sambil mempelajari setiap ayat yang berhubungan dengan penebusan Kristus, kematian Kristus, dan salib Kristus, Anda tetap takkan mendapatkan gambar yang jelas mengenai kematian Kristus itu. Kematian Kristus itu agung dan almuhit. Menurut Alkitab, itu bukannya kematian sementara, tetapi kematian yang kekal. Menurut Wahyu 13:8, dalam pandangan Allah, Kristus itu dibunuh sejak dunia dijadikan. Karena itu, Dia adalah Penebus yang kekal, dan kematian-Nya adalah kematian yang kekal, bukan seperti kematian orang dosa.

Kita tidak dapat mengerti kematian Kristus dengan sepenuhnya. Beberapa aspek tertentu atas kematian Kristus untuk penebusan tak dapat dijelaskan. Tetapi kisi-kisi menandakan Kristus yang almuhit dengan kematian kekal-Nya. Ia menanggung pembakaran dan beratnya penghukuman keadilan Allah yang menimpa diri-Nya. Walaupun gambar mezbah telah melukiskan ini, namun kita tetap tak dapat memahami sepenuhnya semua rincian yang menyangkut kematian Kristus.

ABU DAN WANGI-WANGIAN

Satu perkara yang menyangkut mezbah yang tidak saya pahami sepenuhnya yaitu jalur. Mengenai jalur dan kisi-kisi, ada dua istilah yang dipakai “di bawah” (under) dan “tepat di bawah” (beneath). Saya percaya bahwa jalur dengan kisi-kisi yang terletak tepat di bawahnya itu membentuk sebuah tungku untuk pembakaran. Sebagaimana telah saya tunjukkan sebelum ini, jalur itu telah melindungi kayu penaga yang bersalut lempengan tembaga pada empat dinding mezbah dari panas yang hebat yang bisa menghanguskan. Namun, saya tidak mampu mengatakan dengan tepat makna rohani jalur itu. Mungkin saja jalur itu menandakan penunjang yang diberikan kepada Kristus Sang Penebus pada saat Ia menerima penghukuman Allah di kayu salib. Ketika menderita pembakaran oleh penghukuman keadilan Allah, sebagai manusia, tentunya Ia memerlukan suatu penunjang. Jalur ini mungkin menandakan penunjang yang diberikan kepada Kristus Sang Penebus.

Saya ingin Anda melihat lagi gambar mezbah dengan kisi-kisinya. Pada saat kayu dan kurban itu terbakar di atas kisi-kisi, wangi-wangian yang harum semerbak itu membubung kepada Allah, sedangkan kayu bakar dan kurban makin habis menjadi abu. Saya ulangi, abu merupakan bukti kuat bahwa kita telah diterima oleh Allah dan dosa-dosa kita telah diampuni-Nya, sehingga kita beroleh damai sejahtera. Jadi, abu itu untuk kita, sedangkan wangi-wangian itu untuk Allah. Semoga kita berkesan terhadap Kristus, Penebus, yang diibaratkan oleh kisi-kisi dan mezbah kurban bakaran.

KRISTUS SANG PENEBUS MENDATANGKAN ROH ITU

Kisi-kisi menghasilkan empat gelang. Gelang-gelang itu bukan ditambahkan pada kisi-kisi atau disolderkan padanya. Menurut catatan, itu adalah empat siku dari kisi-kisi. Saya percaya bahwa keempat ujung persilangan sisi kisi-kisi itu dimasukkan melalui lubang-lubang pada dinding. Saya juga percaya bahwa siku-siku dari kisi-kisi itu menonjol keluar melalui lubang-lubang pada mezbah itu dan dibentuk menjadi gelang-gelang. Jadi, gelang-gelang itu tidak terpisah dengan kisi-kisi, melainkan seiras. Saya tak percaya bahwa setelah kisi-kisi itu selesai dibuat, lalu dibentuk empat gelang dan kemudian disambungkan pada kisi-kisi itu. Seirasnya gelang-gelang dengan kisi-kisi menunjukkan bahwa Kristus Sang Penebus mendatangkan Roh itu. Roh itu bukan ditambahkan kepada Kristus. Orang-orang Kristen tertentu berpendapat bahwa Roh itu telah ditambahkan kepada Kristus. Tetapi Alkitab mewahyukan bahwa Kristus itu mendatangkan Roh yang almuhit. Dengan kata lain, Roh yang almuhit itu sama dengan Kristus, dan Kristus sama dengan Roh yang almuhit.

Keempat kitab Injil menyajikan kisi-kisi, Kristus Sang Penebus. Kristus Sang Penebus mutlak adalah persona Roh. Ia telah dilahirkan dari Roh, Ia dipenuhi Roh, dan Ia pun selalu berada di bawah pimpinan Roh. Akhirnya Kristus Sang Penebus itu mendatangkan Roh yang almuhit. Dengan kata lain, menurut Perjanjian Baru, Kristus Sang Penebus menjadi Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45).

Pada malam hari menjelang penyaliban-Nya, Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Penghibur yang lain akan datang (Yoh. 14:16 Tl.). Dalam nubuat tersebut Tuhan menunjukkan bahwa Penghibur yang dimaksud adalah diri-Nya sendiri. Ia, Tuhan Yesus, menjadi Penghibur yang kedua. Ketika Ia mengatakan hal ini, Ia sedang sebagai Penghibur yang pertama. Jadi, Penghibur yang pertama adalah Kristus Sang Penebus, sedangkan Penghibur yang kedua adalah Roh pemberi-hayat. Penghibur yang kedua bukanlah orang lain, melainkan Penghibur pertama yang datang kembali dalam bentuk lain, yang bertindak selaku Penghibur yang kedua. Inilah makna lambang empat gelang yang berasal dari kisi-kisi.

Bertahun-tahun yang lalu saya berada di dalam kekristenan yang terorganisir, saya berpegang pada konsepsi bahwa Kristus terpisah dengan Roh itu. Berdasarkan konsepsi itu, Kristus terangkat ke surga serta tinggal di sana, kemudian Roh itu turun ke bumi sebagai pengganti-Nya. Ini berarti yang pertama telah pergi dan yang kedua berada di sini. Tetapi setelah mempelajari Alkitab dan melalui pengalaman yang lebih banyak, saya mulai menyadari bahwa keduanya, Kristus dan Roh itu adalah satu. Yang kedua, Roh itu datang dari yang pertama, Kristus; dan Kristus mendatangkan Roh itu.

Satu Korintus 15:45 memberi tahu kita bahwa Adam yang terakhir telah menjadi Roh pemberi-hayat. Siapakah Adam yang terakhir itu? Adam yang terakhir ialah Kristus Sang Penebus. Kini, Adam yang terakhir ini, Kristus Sang Penebus, adalah Roh pemberi-hayat.

Mengenai mezbah, pembakarannya tergantung pada kisi-kisi, sedang pergerakannya tergantung pada keempat gelang. Namun, gelang-gelang itu tidak terpisah dari kisi-kisi. Bila kita melihat gambar ini, niscaya akan melihat bahwa Kristus Sang Penebus adalah kisi-kisi, dan Roh itu, yang dilambangkan oleh gelang-gelang adalah untuk penguatan dan penggerakan. Kita telah melihat bahwa seluruh kisi-kisi beserta beban dari kayu dan kurban persembahan ditopang oleh keempat gelang. Seandainya keempat gelang itu disingkirkan, maka kisi-kisi beserta segala yang ada di atasnya akan jatuh ke bawah. Lepas dari keempat gelang, kisi-kisi itu tidak mempunyai penunjang dan kekuatan. Kisi-kisi itu bisa menetap di tempatnya serta menyangga beban berat atas pembakaran penghukuman Allah karena kisi-kisi itu dipikul oleh keempat gelang. Jadi, gelang-gelang itu tidak hanya untuk pergerakan, juga kekuatan untuk menopang kisi-kisi.

KRISTUS PRIBADI DAN PENEBUSAN PRIBADI

Jika kita tidak memiliki Kristus yang menjadi Roh itu, maka bagi kita Kristus itu hanyalah tokoh sejarah, dan penebusan-Nya tidak lebih dari sebuah doktrin. Bagi kebanyakan orang Kristen dewasa ini, Kristus itu hanyalah seorang tokoh sejarah, dan penebusan-Nya hanyalah sebuah doktrin. Mereka tidak memiliki pengalaman pribadi apa pun terhadap Kristus maupun penebusan-Nya. Sebaliknya, terhadap mereka, Kristus dan penebusan-Nya sama sekali obyektif; Kristus obyektif secara sejarah, dan penebusan-Nya obyektif secara doktrinal.

Saya bisa bersaksi bahwa sebelum saya beroleh selamat, bagi saya Kristus dan penebusan-Nya itu bersifat obyektif. Pada waktu itu saya tidak memiliki pengalaman apa pun terhadap Kristus dan penebusan-Nya. Walaupun demikian, karena keluarga saya adalah keluarga Kristen, maka saya membela kekristenan. Saya membela Kristus dan salib. Tetapi pada suatu hari, saya sungguh-sungguh beroleh selamat. Saya berkontak dengan Tuhan Yesus secara riil, saya menerima Dia, dan saya memiliki pengalaman pribadi terhadap penebusan-Nya.

Berjuta-juta orang Kristen “KTP” hari ini memiliki Kristus hanya sebagai Penebus secara sejarah, dan penebusan sebagai doktrin. Mereka tidak memiliki Kristus yang pribadi atau penebusan yang pribadi. Tahukah Anda, apa sebabnya? Karena bagi mereka Kristus dan penebusan-Nya telah dipisahkan dari Roh itu. Karena itu, dalam pemulihan Tuhan, kita harus menjamah Kristus di dalam Roh serta melayani-Nya di dalam Roh. Setiap kali memberitakan Injil, kita harus melakukannya di dalam Roh. Kisi-kisi itu harus mempunyai empat gelang. Kristus Penebus kita itu harus mendatangkan Roh pemberi-hayat yang almuhit.

Alkitab Perjanjian Baru ditulis secara demikian, sehingga mewahyukan bahwa kisi-kisi mendatangkan empat gelang. Dalam keempat kitab Injil, kita melihat Kristus Penebus mendatangkan Roh itu. Pada akhir kitab Injil dan dalam Kitab Kisah Para Rasul ada Roh itu. Tidak hanya demikian, dalam seluruh Surat-surat Kiriman, Roh itu dipertegas. Contohnya, Paulus menyuruh kita bertindak tanduk di dalam Roh (Gal. 5:16). Akhirnya, dalam kitab terakhir dari Alkitab, Kitab Wahyu, kita menjumpai Roh tujuh ganda (Why. 1:4). Menurut Wahyu 22:17, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’” Jadi, menurut Perjanjian Baru, Roh itu adalah hasil dari Kristus Sang Penebus. Inilah kisi-kisi dengan keempat gelangnya.

PERGERAKAN SALIB MELALUI GEREJA DI DALAM ROH

Sekarang saya perlu menyinggung tentang kayu pengusung. Kayu pengusung adalah tongkat. Gelang-gelang maupun tongkat pengusung harus sangat kuat agar mampu memikul beratnya mezbah. Ingat, mezbah itu berukuran sekitar tujuh setengah kaki persegi, dibuat dari kayu penaga yang disalut dengan tembaga. Maka, mezbah pasti sangat berat. Karena mezbah demikian berat, maka diperlukan paling sedikit empat orang untuk mengusungnya. Bisa-bisa enam belas orang diperlukan untuk mengusungnya. Sudah tentu Alkitab tidak menyebutkan jumlah orangnya. Yang penting di sini ialah pengusungan mezbah dilakukan oleh satu Tubuh yang korporat.

Dengan menggunakan istilah “korporat” dan “Tubuh”, saya ingin memperlihatkan bahwa pergerakan salib adalah melalui gereja. Rombongan yang memikul mezbah melambangkan pergerakan salib melalui gereja. Gereja macam apakah ini? Tentunya gereja yang memakai empat gelang, bukan gereja yang menyingkirkan Roh, tetapi gereja yang tetap tinggal di dalam Roh.

Gambar mezbah ini melukiskan Kristus Sang Penebus, Roh yang almuhit, dan gereja. Tidaklah cukup mengenal bahwa salib Kristus diberitakan oleh perorangan. Jika kita bersifat individualistis, kita akan kehilangan kekuatan yang diperlukan untuk memberitakan salib. Salib Kristus harus diberitakan oleh gereja. Dengan kata lain, Tubuh itulah yang mengusung salib Kristus, yang mengusung Kristus Sang Penebus di dalam Roh pemberi-hayat yang almuhit.

Dalam mengkaji lambang mezbah, kita akan melihat bahwa mezbah dengan kisi-kisi, gelang-gelang dan tongkat pengusung menandakan seluruh Perjanjian Baru. Perjanjian Baru justru mewahyukan Kristus Sang Penebus, Roh itu, dan Gereja. Menurut Perjanjian Baru, Kristus Sang Penebus mendatangkan Roh yang almuhit, dan di dalam Roh ini, gereja atau Tubuh mengemban Kristus dan salib-Nya. Mezbah bergerak oleh tongkat pengusung di dalam gelang-gelang dan dipanggul di atas pundak Tubuh korporat. Kita hari ini termasuk di dalam bilangan pemikul mezbah. Kita telah meletakkan pundak kita di bawah tongkat pengusung, mengemban Kristus Sang Penebus di dalam Roh yang almuhit.

Yang kita perlukan dewasa ini ialah realitas dari Kristus Sang Penebus dan pengalaman sejati terhadap Roh itu. Kita perlu merealisasikan Kristus dan penebusan-Nya, dan perlu mengalami Roh itu yang dihasilkan dari Kristus, Penebus. Dengan demikian kita akan menjadi gereja yang hidup yang mengemban kesaksian sampai ke empat penjuru bumi.

ROH ITU BERGERAK BERSAMA-SAMA DENGAN GEREJA

Dalam Wahyu 5, tujuh Roh yang adalah tujuh mata Anak Domba, diutus ke seluruh bumi. Tetapi tujuh Roh ini tidaklah diutus sendirian; tujuh Roh ini diutus bersama-sama dengan gereja-gereja. Jadi, bila kita tidak pergi ke suatu tempat, Roh itu juga tidak akan menemukan jalan untuk ke sana, sebab, Roh itu pergi di dalam kita, bersama-sama dengan kita, dan melalui kita yang sebagai anggota Tubuh. Kalau tongkat pengusung tidak pergi ke bagian-bagian tertentu di bumi, mana mungkin gelang-gelang itu pergi ke tempat itu? Gelang-gelang hanya pergi ke mana tongkat pengusung pergi. Bila tongkat pengusung bergerak, gelang-gelang pun bergerak. Begitu juga, bila tongkat pengusung berhenti, gelang-gelang pun berhenti. Ini berarti, jika hari ini tidak ada orang Kristen di bumi, maka tidak akan ada pergerakan Roh Kudus. Roh itu bergerak bersama-sama dengan kaum beriman. Dengan kata lain, Roh itu bergerak bersama-sama dengan gereja. Gereja mengemban kekuatan Roh itu.

Mereka yang mengusung mezbah, terlebih dulu memanggul tongkat pengusungnya. Bila mereka memanggul tongkat, mereka juga memanggul gelang-gelang, dan bila mereka memanggul gelang-gelang, mereka pun memanggul kisi-kisi beserta mezbah secara keseluruhan. Inilah alasan saya mengatakan bahwa mezbah dengan kisi-kisi, gelang-gelang, dan tongkat pengusung meliputi seluruh Perjanjian Baru. Ketika kita mengkaji gambar ini, kita perlu bertanya kepada diri kita, di manakah kita hari ini. Kita harus meletakkan pundak kita pada tongkat pengusung yang ada di dalam gelang-gelang yang memikul kisi-kisi. Kita harus menjadi pengemban Kristus Sang Penebus, di dalam Roh yang almuhit sebagai satu kesaksian.