← Daftar isi Keluaran (7) · bab 8/17

MEZBAH KURBAN BAKARAN (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 27:1-8; 38:1-7; 40:6, 29; Ibr. 13:10

Catatan mengenai mezbah kurban bakaran dalam Kitab Keluaran sangat sulit dipahami. Mengenai Kemah Suci itu sendiri, masalah yang sangat sulit ialah masalah papan-papan. Tidak ada orang yang mampu menyingkapkan masalah papan-papan tersebut. Namun, catatan tentang mezbah jauh lebih sulit dipahami. Walaupun demikian, kita memiliki jalan untuk menghindari masalah ini, yaitu dengan mengikuti jalan rohani dan jalan pengalaman. Menurut catatan hitam di atas putih (secara harfiah), butir-butir tertentu memang terlampau sulit dipahami oleh siapa pun. Namun, jika kita berada dalam pemahaman dan pengalaman rohani, kita akan diselamatkan dari kesulitan ini. Karena itu, sekali lagi saya ingatkan bahwa pembahasan kita pada Pelajaran-Hayat Kitab Keluaran ini bukan menurut doktrin, melainkan menurut pengalaman. Ini berarti kita ingin mengkaji setiap masalah berdasarkan pengalaman rohani kita. Bila ada masalah khusus yang tidak dapat diterapkan pada pengalaman kekristenan kita, saya memilih untuk tidak membicarakannya. Apa keuntungan membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pengalaman kita terhadap Kristus? Kita tak perlu berbicara sia-sia. Sebaliknya, kita dapat mengutarakan apa yang jelas dan dapat dipahami menurut pengalaman kita.

Terlebih dulu kita melihat posisi mezbah. Ada dua mezbah, satu di dalam Kemah Suci, dan yang satunya lagi di luar Kemah Suci, yaitu di pelataran luar. Mezbah yang di dalam Kemah Suci disebut mezbah ukupan yang terbuat dari kayu penaga dan disalut dengan emas, yang ukurannya lebih kecil daripada mezbah kurban bakaran yang di pelataran luar. Tinggi mezbah ukupan ini lebih tinggi daripada panjangnya, itu berarti, juga lebih tinggi daripada lebarnya. Di mezbah ini, orang yang datang ke dalam tempat kediaman Allah bisa berhubungan secara intim dan mesra dengan Allah, sebab di tempat ini ukupan itu dibakar untuk Dia. Di mezbah ini tak ada pencurahan darah. Sebaliknya, di sini hanya ada pembakaran ukupan sebagai wangi-wangian bagi Allah. Namun, pada mezbah kurban bakaran, kurban-kurban dipersembahkan dengan pencurahan darah, dan setelah itu dibakar di tempat itu juga. Kurban bakaran di pelataran luar adalah untuk penebusan, sedangkan membakar ukupan di mezbah ukupan adalah untuk perkenan Allah. Untuk kurban ukupan di mezbah bagian dalam diperlukan api yang diambil dari mezbah di pelataran luar. Jadi, dua macam pembakaran ini hanya menggunakan satu macam api. Api yang ada pada mezbah kurban bakaran membakar kurban persembahan; api yang ada pada mezbah ukupan membakar ukupan. Api yang sejenis membakar dua macam persembahan. Berhubung ada dua mezbah yang berhubungan dengan Kemah Suci, kita perlu memahami kurban apa yang berhubungan dengan mezbah yang kita temukan dalam Perjanjian Lama.

Di dalam tempat maha kudus hanya ada satu macam perabot, yaitu tabut. Di dalam tempat kudus ada meja, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Di pelataran luar ada mezbah kurban bakaran dan bejana pembasuhan. Menurut penafsiran dalam Perjanjian Baru, pelataran luar mewakili bumi, sedangkan seluruh Kemah Suci termasuk tempat kudus dan tempat maha kudus, mewakili langit (surga). Jadi, berada di pelataran luar berarti berada di bumi, sedangkan berada di dalam Kemah Suci berarti berada di surga. Tahukah Anda bagaimana kita bisa berada di surga? Janganlah mendengarkan ajaran luar yang mengatakan bahwa Anda akan berada di surga setelah Anda meninggal dunia. Sesungguhnya Kemah Suci adalah Kristus. Asalkan Anda di dalam Kristus, Anda berada di surga. Sebaliknya, bila Anda berada di luar Kristus, Anda berada di bumi. Berdasarkan prinsip ini, kita dapat mengatakan bahwa kita setiap hari bisa beberapa kali pergi ke surga. Menurut pengalaman, sebelum Anda datang ke sidang gereja, dapat dikatakan Anda berada di bumi, namun ketika Anda berada di dalam sidang, Anda berada di surga.

Jika kita melihat denah Kemah Suci dan pelataran luar, terlihat bahwa tabut dan mezbah kurban bakaran berada pada dua sisi. Di alam semesta ini sesungguhnya hanya ada dua kelompok: Allah dan manusia (Iblis boleh dipandang sebagai kelompok ketiga, akhirnya akan dicampakkan ke dalam lautan api). Kedua sisi ini berhubungan dengan dua kelompok, yakni Allah dan manusia. Allah di sisi tabut, sedangkan manusia di sisi mezbah kurban bakaran.

Catatan mengenai Kemah Suci dalam Kitab Keluaran dimulai dari sisi Allah atau sisi manusia? Catatan ini dimulai dari sisi Allah, sebab dimulai dari tabut. Gambaran mengenai Kemah Suci dimulai dengan catatan ilahi mengenai tabut. Ini menunjukkan bahwa catatan dimulai dari Allah dan diteruskan kepada manusia. Namun, manusia datang ke Kemah Suci, tidak dimulai dari sisi Allah, melainkan dari mezbah, dimulai dari sisi manusia. Setiap kali seseorang datang ke Kemah Suci, hal pertama yang dia jumpai ialah mezbah.

Allah tidak tinggal di mezbah, melainkan tinggal di tabut, di tempat takhta anugerah. Siapa saja ingin berjumpa dengan Allah, ia harus melewati semua perabot yang terdapat dalam Kemah Suci sampai ia tiba di depan tabut. Namun, Allah telah datang kepada kita. Ia datang dari surga ke bumi, dan mezbah adalah tujuan dari kedatangan-Nya. Kristus datang dari surga ke bumi, dan menjelang akhir masa-Nya di bumi, Ia naik ke atas salib. Di kayu salib Ia mengakhiri ciptaan lama dengan menebus umat pilihan-Nya. Sebagaimana telah kita tunjukkan, penebusan meliputi mengakhiri, menggantikan, membawa kembali kepada Allah. Seperti yang ditunjukkan Kitab Ibrani, kedatangan Kristus ke bumi adalah sekali untuk selamanya. Namun, manusia datang ke hadapan Allah bukan sekali untuk selamanya, melainkan terus-menerus dari hari ke hari.

Apakah tujuan dan sasaran utama Allah datang dari tempat kediaman-Nya ke bumi dan naik ke atas salib? Sasaran utama-Nya adalah membawa manusia kepada diri-Nya sendiri. Ini berarti Allah keluar dari Kemah Suci untuk membawa manusia masuk ke dalam Kemah Suci. Namun, kebanyakan orang beriman masih tinggal di sekeliling salib; sedikit sekali yang masuk ke dalam Kemah Suci. Setiap minggu banyak sekali khotbah yang diberikan kepada orang-orang Kristen, tetapi sedikit sekali dari khotbah-khotbah itu yang merupakan sarana membawa orang-orang dosa yang telah beroleh selamat ke dalam Kemah Suci. Khotbah-khotbah semacam itu hanya dapat membawa orang-orang kepada Allah di mezbah. Ada orang mendebat dan berkata bahwa Allah itu Maha ada. Asalkan seseorang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, niscaya ia berpaling kepada Allah. Pengertian demikian di satu aspek memang tidak salah, tetapi Perjanjian Baru menunjukkan bahwa bila kita masih di sekeliling mezbah, berarti kita tidak berada di dalam Kemah Suci bersama dengan Allah. Kita perlu datang ke meja roti sajian, kaki pelita, mezbah ukupan, dan akhirnya ke tabut. Di atas tabut terdapat tutup pendamaian, takhta anugerah, yang dijelaskan dalam Ibrani 4:16, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Ketika kita menghampiri takhta anugerah, kita tidak hanya berada di hadirat Allah, bahkan kita berada dalam diri Allah sendiri. Di sana kita dan Allah adalah satu. Kolose 3:3 mengatakan bahwa hayat kita tersembunyi ber-sama Kristus di dalam Allah. Allah yang menyembunyikan kita tidak ada di mezbah; Ia berada di tabut. Selanjutnya, kita disembunyikan di dalam Allah bukan di mezbah, melainkan di tabut. Allah telah keluar dari Kemah Suci untuk membawa kita ke dalam Kemah Suci, yakni membawa kita ke tempat kediaman-Nya.

Tuhan Yesus datang dari surga ke bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Walaupun Ia berada di bumi, Ia tinggal di tempat maha kudus, dan Ia ingin membawa kita ke sana. Ia pergi ke mezbah, ke salib, dengan maksud agar kita sebagai orang dosa yang telah jatuh, boleh dibawa kembali kepada diri-Nya sendiri, ke tempat Ia tinggal. Pemahaman ini dapat menjadi bantuan yang besar dalam pengalaman kita.

Dalam Kitab Keluaran, mezbah ukupan disajikan pada bagian akhir kitab ini. Alasannya ialah setelah kita mengalami semua hal tersebut, barulah kita bisa diperkenan sepenuhnya oleh Allah. Perkenan Allah ini merupakan hasil dari semua hal yang disebutkan sebelumnya. Selain itu, dalam Alkitab tidaklah mudah untuk menjelaskan secara pasti letak mezbah ukupan. Mungkin saja diletakkan di luar tabir di dalam tempat kudus, atau di balik tabir di dalam tempat maha kudus. Hal ini menunjukkan bahwa diterimanya kita oleh Allah tergantung pada kondisi kita. Berapa banyak kita diterima oleh-Nya tergantung pada seberapa dekat kita dengan-Nya. Mungkin pada waktu-waktu tertentu dalam kehidupan sehari-hari kita, mezbah ukupan dalam pengalaman kita sangatlah dekat dengan Allah. Namun di waktu yang lain, kita jauh dari Dia. Ketika kita menghadiri sidang dan melatih roh kita, secara spontan mezbah ukupan di dalam pengalaman kita menjadi begitu dekat dengan Allah.

Letak mezbah kurban bakaran sudah pasti, itu tidak dapat diubah. Namun, tempat mezbah ukupan mungkin saja berubah-ubah, tergantung pada kondisi kita. Sekali lagi saya katakan, dalam pengalaman kita, mezbah ukupan ditampilkan setelah kita melewati mezbah kurban bakaran, bejana pembasuhan, meja roti sajian, dan kaki pelita. Adakalanya kita dapat pergi ke tabut kemudian ke mezbah ukupan. Catatan dalam Perjanjian Lama mengenai Kemah Suci dengan perabot dan perkakasnya sangat bermakna dan cocok sekali dengan pengalaman kita.

Sangat tidak mungkin bagi seseorang untuk masuk ke dalam Kemah Suci dari belakang. Di sana tidak ada pintu belakang. Hanya ada sebuah jalan masuk ke Kemah Suci. Kita perlu mengalami hal-hal di pelataran luar dan Kemah Suci hingga kita masuk ke dalam tempat maha kudus. Saya ulangi, sulit sekali menjelaskan di mana letak mezbah ukupan, apakah di luar atau di balik tirai, apakah di dalam tempat kudus atau di dalam tempat maha kudus. (KUNINGLihat catatan Ibrani 9:4 versi Pemulihan).

Jika kita memiliki pandangan sedemikian tentang Kemah Suci dan pelataran luar, barulah kita memenuhi syarat dalam memahami mezbah kurban bakaran. Mezbah ini merupakan hal yang paling besar dalam Kemah Suci. Semua perabot dan perkakas Kemah Suci tabut, mezbah ukupan, meja, kaki pelita, dan bejana pembasuhan bisa ditaruh ke dalam mezbah kurban bakaran. Mezbah ini lima hasta panjangnya, lima hasta lebarnya, dan tiga hasta ting-ginya. Fakta menunjukkan bahwa mezbah kurban bakaran memuat semua barang-barang Kemah Suci, hal ini juga menunjukkan bahwa salib Kristus mencakup segala pengalaman rohani. Hal ini berarti pengalaman terhadap salib merupakan dasar dari segala pengalaman rohani. Pengalaman rohani kita dimulai dari salib, yaitu dari mezbah. Selanjutnya, prinsip-prinsip yang menyangkut seluruh pengalaman rohani lainnya terkandung di dalam pengalaman salib. Sebagai contoh, walaupun Anda tidak menerima petunjuk yang memadai saat Anda percaya Tuhan Yesus, namun Anda memiliki beberapa pengalaman terhadap roti sajian, kaki pelita, mezbah ukupan, bahkan tabut. Seluruh pengalaman tersebut terkandung pada dasar pengalaman salib. Kebangkitan, pengurapan, dan penyorotan, semuanya terkandung di dalamnya.

Saya sering senang mengingat kembali pengalaman ketika saya beroleh selamat. Saya merasa segar dan baru, semua pengalaman rohani begitu segar dan berarti. Seperti yang lainnya, saya benar-benar mengalami saat yang manis bersama Tuhan Yesus ketika saya beroleh selamat. Ini dikarenakan semua pengalaman rohani dimulai dengan pengalaman salib yang tercakup dalam pengalaman tersebut. Lepas dari salib, mustahil kita memiliki pengalaman di dalam Roh. Salib sebagai dasar, tumpuan, dan faktor awal dari semua pengalaman rohani. Jadi, salib sangatlah penting.

I. MELAMBANGKAN SALIB KRISTUS

Mezbah kurban bakaran melambangkan salib Kristus. Tentang hal ini Ibrani 13:10 mengatakan, “Kita mempunyai suatu mezbah dan orang-orang yang melayani kemah tidak boleh makan dari apa yang di dalamnya.” Mezbah di antara bani Israel pada zaman dahulu merupakan lambang salib, mezbah yang sejati. Hari ini kita memiliki sebuah mezbah. Kita tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak kita miliki. Pada hari pertama setiap minggu, kita berkumpul bersama untuk makan kurban di atas mezbah ini. Mezbah ini menunjukkan meja Tuhan. Pada meja ini kita dapat melihat darah yang telah tercucur dan tubuh yang telah terkoyak, yang disajikan dalam bentuk cawan dan roti. Mengenai meja, Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus mengambil bagian dalam makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Mezbah adalah salib, dan salib adalah meja untuk kita nikmati.

Kita perlu memiliki pemahaman yang lebih penuh terhadap makna dari meja Tuhan. Sekarang kita melihat bahwa meja ini adalah sebuah mezbah, bukan sekadar hari raya. Dalam Perjanjian Lama, kurban-kurban tertentu setelah dipersembahkan kepada Allah di atas mezbah, menjadi makanan bagi umat Allah. Sewaktu umat Israel pada zaman dahulu berkumpul bersama untuk mengadakan hari raya, apa yang mereka nikmati terlebih dulu dipersembahkan kepada Allah, baru kemudian menjadi makanan yang mereka nikmati. Setiap kali datang ke meja Tuhan, kita wajib menyadari bahwa meja itu adalah mezbah tempat Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah; kemudian baru kita boleh mengambil bagian di dalam kurban persembahan Kristus.

II. DIBUAT DARI KAYU PENAGA

Mezbah itu dibuat dari kayu penaga (Kel. 27:1a), menandakan manusia Yesus (1Tim. 2:5) dihakimi oleh Allah sebagai Pengganti kita. Atas butir ini kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan yang penting: Apakah salib mezbah merupakan satu orang atau sebuah benda? Alasan kita mengajukan pertanyaan ini ialah bahan pembuat mezbah dari kayu penaga yang menandakan sifat insani Tuhan. Kayu penaga pembuat mezbah itu disalut dengan tembaga. Bahan dasar, bahan baku dari mezbah itu adalah kayu penaga, bukan tembaga. Kayu penaga ini ditujukan kepada manusia Yesus. Hal ini menyatakan bahwa salib dihubungkan dengan seorang manusia.

Seandainya ada sebuah mezbah, tetapi tidak ada kurban persembahan di atasnya, dapatkah mezbah itu sendiri menyelamatkan orang? Tentu saja tidak. Demikian juga seandainya ada sebuah salib, tetapi tidak ada seorang pun yang mati di atas salib untuk kita, dapatkah salib itu sendiri menyelamatkan kita? Sekali lagi, jawabnya adalah tidak. Unsur dari keselamatan itu bukanlah pada salib yang berwujud benda, tetapi pada Persona yang terpancang di atas salib bagi kita. Dalam prinsip yang sama, ketika kita datang ke meja Tuhan, kita bukan berbagian pada meja itu sendiri, tetapi memakan makanan yang ada di atas meja. Kita memakan apa yang dipersembahkan di atas mezbah atau meja. Jadi, ketika kita membicarakan mezbah, bukan mengacu kepada mezbah itu sendiri, melainkan kita membicarakan apa yang dipersembahkan di atas mezbah. Ketika kita mengatakan salib telah menyelamatkan kita, kita tidak mengartikan salib sebagai sarana hukuman mati yang dipergunakan oleh pemerintah Kekaisaran Romawi, melainkan Kristus yang telah mati di atas salib. Sesungguhnya, bukan salib itu sendiri yang menyelamatkan kita. Yang menyelamatkan kita adalah Tuhan Yesus Kristus yang dijatuhi hukuman mati bagi kita.

Dalam perlambangan, Tuhan menggunakan kayu penaga sebagai bahan pembuat mezbah. Ini menunjukkan bahwa efektivitas salib bukan terletak pada salib itu sendiri, tetapi terletak pada sifat insani yang berkaitan dengan salib yang telah terpancang di atasnya. Sifat insani ini sama seperti yang ditunjukkan oleh tabut, yang juga terbuat dari kayu penaga. Kayu penaga adalah unsur dan substansi dari tabut maupun mezbah. Hanya sifat insani yang telah mencapai taraf tabut baru bisa menjadi pengganti dan penyelamat kita di kayu salib. Sifat insani ini tentu saja hanya dapat ditemukan di dalam Tuhan Yesus. Hanya Tuhan Yesus satu-satunya yang memiliki sifat insani sedemikian.

III. DIBUAT EMPAT PERSEGI

Keluaran 27:1 mengatakan, “. . . sehingga mezbah itu empat persegi.” Empat persegi itu satu hal, dan membuatnya (menjadikannya) empat persegi itu hal lain lagi. Fakta Tuhan Yesus dibuat menjadi empat persegi berarti Tuhan mengalami banyak pencobaan. Dibuat menjadi empat persegi berarti Ia diuji dan dicobai. Ia bukan langsung empat persegi, melainkan telah dibuat menjadi empat persegi. Ia diuji, Ia dicobai, Ia telah terbukti. Menjadi persegi berarti menjadi benar, sempurna, tanpa kekurangan sedikit pun. Tuhan Yesus menjadi empat persegi dan Ia juga dibuat menjadi empat persegi. Ia dicobai dengan bermacam-macam sarana dan dinyatakan benar dan sempurna. Karena itulah Ia diperlengkapi sebagai Pengganti kita yang layak menjadi Penebus kita. Ia pun layak memenuhi tuntutan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Tuntutan Allah itu berhubungan dengan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan-Nya. Dengan memenuhi tuntutan Allah ini barulah Tuhan Yesus dianggap layak oleh Allah sebagai Pengganti kita, orang yang berdosa ini. Oh, betapa kita harus bersyukur dan memuji Tuhan, karena Ia telah diuji dan terbukti layak! Bagi Allah maupun manusia, Ia telah terbukti benar dan sempurna. Itulah sebabnya Ia dibuat menjadi empat persegi.

IV. LIMA HASTA PANJANGNYA DAN LIMA HASTA LEBARNYA

Menurut ayat 1, mezbah itu berukuran lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya. Lima kali lima menandakan bahwa Kristus memikul tanggung jawab penuh di kayu salib untuk memenuhi tuntutan kebenaran (keadilan), kekudusan, dan kemuliaan Allah. Lima adalah angka tanggung jawab, sedangkan lima kali lima menunjukkan tanggung jawab yang penuh, tanggung jawab di atas tanggung jawab. Tuhan Yesus memikul tanggung jawab semacam ini di kayu salib untuk memuaskan tiga tuntutan Allah.

V. TIGA HASTA TINGGINYA

Keluaran 27:1 juga menunjukkan bahwa tinggi mezbah adalah tiga hasta. Mengapa setinggi tiga hasta? Mengapa tingginya lebih pendek daripada panjang dan lebarnya? Ini tidak mudah dipahami. Dengan adanya fakta bahwa tingginya itu lebih pendek daripada panjang dan lebarnya memperlihatkan bahwa penebusan Tuhan disebarkan secara merata dan luas. Mezbah ini juga almuhit. Kalau terlalu sempit tentu tidak memuat sebanyak itu. Begitu pula, seandainya terlalu tinggi, kita takkan sanggup menjangkaunya. Angka tiga melambangkan Allah Tritunggal atau kebangkitan. Saya kurang yakin bahwa kebangkitan cocok dalam arti ini. Jadi, angka tiga di sini seharusnya ditujukan pada Allah Tritunggal.

Penebusan yang dirampungkan di atas salib tidak hanya dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, tetapi juga dirampungkan oleh Allah Tritunggal. Ibrani 9:14 mengatakan bahwa oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah. Menurut Kolose 2, Allah Bapa sibuk ketika penyaliban Kristus berlangsung. Ketika Allah Putra mati di dalam kematian yang almuhit, Allah Bapa sangatlah aktif. Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, roh jahat pun sangat sibuk. Ibrani 9:14 menunjukkan bahwa Allah Tritunggal ikut terlibat di dalam perampungan penebusan. Dikatakan juga dalam ayat itu bahwa oleh Roh, Kristus telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah. Ini adalah Allah Tritunggal yang dimaksud oleh tinggi dari mezbah yaitu tiga hasta. Jadi, Allah Tritunggal adalah standar dari penebusan. Penebusan dirampungkan oleh Allah Tritunggal menurut standar Allah Tritunggal.

Tiga perumpamaan dalam Lukas 15 juga menunjukkan bahwa Allah Tritunggal terlibat dalam penebusan manusia. Putra, diumpamakan sebagai gembala, mencari domba yang hilang; Roh itu diumpamakan sebagai perempuan yang menyalakan pelita untuk mencari dirham yang hilang; dan Bapa diumpamakan sebagai ayah dari anak yang hilang, yang setelah anaknya pulang, menerimanya kembali, mengenakan jubah yang terbaik kepadanya, dan menjamunya dengan anak lembu yang tambun. Di sini kita melihat bahwa Allah Tritunggal terlibat dalam menerima kembali orang-orang dosa yang bertobat. Inilah yang dimaksud dengan tinggi mezbah yang tiga hasta itu.

Dari pengalaman kita mengetahui bahwa Allah Tritunggal terlibat dalam penebusan kita. Ketika kita, orang-orang yang berdosa mendengar Injil, Roh Kudus bekerja di dalam kita. Ketika kita bertobat, kita mulai menghargai Tuhan Yesus. Pada saat yang bersamaan Bapa juga bekerja. Jadi, Roh, Putra, dan Bapa, semuanya bekerja sama untuk menebus kita, membawa kita kembali, dan menerima kita. Inilah makna dari tingginya penebusan Kristus. Tiga hasta yang merupakan tinggi dari mezbah melambangkan bahwa mezbah itu dibangun oleh Allah Tritunggal dan menurut Allah Tritunggal. Saya percaya bahwa inilah makna sejati dari tinggi mezbah. Penebusan yang terjadi di kayu salib dirampungkan oleh Allah Tritunggal, yaitu Putra, Roh, dan Bapa.

VI. TANDUK-TANDUK PADA KEEMPAT SUDUTNYA

Ayat 2 mengatakan, “Haruslah engkau membuat tanduk-tanduknya pada keempat sudutnya.” Tanduk-tanduk pada keempat sudut mezbah itu melambangkan kekuatan salib Kristus (lihat Mzm. 92:11a) untuk mencapai empat penjuru bumi. Tanduk pada keempat sudut dibubuhi dengan darah kurban persembahan (Im. 4:25, 34). Saya yakin bahwa alasannya adalah agar seseorang boleh memegang tanduk-tanduk pada mezbah sehingga beroleh pengampunan. Sebagai contohnya dalam 1Raja-raja 1:50. Sementara yang berlawanan terdapat dalam ayat lain, Keluaran 21:14, yang mengatakan bahwa jika seseorang berdosa, walaupun sudah memegang tanduk-tanduk pada mezbah, dia tidak akan menerima pengampunan.

Tanduk-tanduk melambangkan kekuatan, empat ujung (sudut) melambangkan empat penjuru bumi. Ini berarti karya penebusan Kristus begitu efektif sehingga tersebar luas sampai ke seluruh penjuru bumi, memiliki tenaga, kekuatan untuk mencapai keempat penjuru bumi. Dalam sejarah, terutama hari ini, telah ternyata bahwa keajaiban penebusan Kristus telah menjangkau batas bumi yang terjauh. Hal ini menunjukkan kekuatan dari penebusan Kristus. Jelas bahwa tanduk-tanduk pada keempat sudut mezbah melambangkan tenaga dan kekuatan Kristus.

VII. TANDUK-TANDUK ITU SEIRAS DENGAN MEZBAH

Ayat 2 mengatakan, “. . . tanduk-tanduknya itu haruslah seiras dengan mezbah.” Ini berarti tanduk-tanduk itu bersatu dengan mezbah. Tanduk-tanduk itu tidak dibuat secara terpisah lalu ditempelkan, melainkan keduanya dibuat seiras dengan mezbah. Ini menunjukkan bahwa tenaga dan kekuatan penebusan Kristus tidak dapat dipisahkan dari salib Kristus. Tanpa mezbah, tidak ada tanduk-tanduk, tidak ada tenaga atau kekuatan. Janganlah berpikir bahwa Anda dapat memiliki kekuatan atau tenaga dalam kerohanian tanpa salib Kristus. Kekuatan ini tak pernah bisa terpisah dari salib. Tanduk-tanduk itu harus seiras dengan mezbah.

VIII. BERSALUTKAN TEMBAGA

Tentang mezbah, ayat 2 mengatakan, “Haruslah engkau menyalutnya dengan tembaga.” Ini melambangkan penghakiman Allah yang adil terhadap Kristus sebagai Pengganti kita (Bil. 16:37-38). Dalam Bilangan 16 kita melihat bahwa tembaga yang dipakai untuk menyalut mezbah berasal dari perbaraan-perbaraan tembaga dari dua ratus lima puluh orang pemberontak yang dihakimi Allah dengan api. Setelah Allah menghukum mereka, Musa disuruh mengambil perbaraan-perbaraan mereka yang dibuat dari tembaga itu untuk menyaluti mezbah. Jadi, tembaga penyalut mezbah menyatakan penghakiman. Dalam perlambangan, tembaga, kuningan, dan perunggu melambangkan penghakiman Allah.

Ketika Kristus berada di kayu salib, Ia adalah seorang manusia yang dilambangkan dengan kayu penaga. Tetapi Ia telah disalut dengan tembaga, yaitu dengan penghakiman Allah. Tidak seperti tabut yang disalut dengan emas (melambangkan sifat ilahi Allah), mezbah disalut dengan tembaga (melambangkan penghakiman Allah). Jadi, sebagai manusia yang mati di kayu salib, Kristus dihukum sepenuhnya oleh Allah sebagai Pengganti kita. Ia telah menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung. Ia tersalut atau terbungkus seluruhnya oleh penghakiman Allah. Di atas kayu salib, Ia adalah manusia yang diadili Allah.

IX. SEMUA PERKAKAS PADA MEZBAH DIBUAT DARI TEMBAGA

Ayat 3 mengatakan, “Juga harus engkau membuat kuali-kualinya tempat menaruh abunya, dan sodok-sodoknya dan bokor-bokor penyiramannya, garpu-garpunya dan perbaraan-perbaraannya; semua perkakasnya itu harus kaubuat dari tembaga.” Kuali-kuali penampung abu, sodok-sodok pengorek abu, bokor-bokor pemercikan untuk menampung darah, garpu-garpu untuk membalik daging dan baki perbaraan tempat memuat arang, semuanya terbuat dari tembaga, logam yang sama digunakan untuk menyaluti mezbah. Fakta semua perkakas disalut dengan tembaga menandakan bahwa semua hal yang berhubungan dengan salib adalah untuk penghakiman Allah.