← Daftar isi Keluaran (7) · bab 7/17

TIRAI UNTUK PINTU KEMAH (3)

Pembacaan Alkitab: Kel. 26:36-37; 2Kor. 5:18-21

Di dalam Kemah Suci terdapat dua tirai atau dua tabir. Yang pertama terletak di pintu masuk tempat kudus, disebut tirai; yang kedua memisahkan tempat kudus dengan tempat maha kudus, disebut tabir. Keluaran 26 berbicara terlebih dulu mengenai tabir di sebelah dalam, kemudian mengenai tirai. Ayat 31 mengatakan, “Haruslah kaubuat tabir dari kain biru, dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun” (Tl.). Inilah tabir penyekat antara tempat kudus dengan tempat maha kudus (ayat 33). Ayat 36 dan 37 mengatakan, “Juga haruslah kau buat tirai untuk pintu kemah itu dari kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: tenunan yang berwarna-warna. Haruslah kaubuat lima tiang dari kayu penaga untuk tirai itu dan kausalutlah itu dengan emas” (Tl.). Sebagaimana telah kita perlihatkan dalam berita-berita sebelum ini, kedua tirai ini melambangkan dua aspek kematian almuhit Kristus. Tirai menunjukkan bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, agar dosa-dosa kita diampuni, sehingga kita dibenarkan oleh Allah. Tabir yang di sebelah dalam menunjukkan bahwa Kristus telah mati bagi kita, agar daging kita, alamiah kita yang telah jatuh, dikoyak-koyak dan dicabik-cabik, sehingga kita bisa masuk ke dalam tempat maha kudus untuk menikmati Allah sepenuh-penuhnya.

DUA ASPEK PENDAMAIAN

Baru-baru ini saya melihat bahwa tirai dan tabir dalam Kemah Pertemuan ada hubungannya dengan perkataan Paulus mengenai pendamaian yang tercantum dalam 2Korintus 5. Bertahun-tahun saya dibingungkan oleh pasal ini, terutama oleh permintaan Paulus kepada saudara-saudara di Korintus agar berdamai dengan Allah. Dalam pasal ini Paulus khusus menanggulangi orang beriman, bukan menanggulangi orang yang tidak percaya. Karenanya ia mengakhiri pasal ini dengan anjuran berdamai. Mengapa dalam pembicaraannya kepada orang beriman, Paulus menerangkan bahwa ministrinya adalah ministri pendamaian? Bukankah kaum beriman Korintus telah didamaikan dengan Allah? Berhubung mereka itu kaum beriman yang sejati, pastilah mereka telah didamaikan. Dua Korintus 5:19, “Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” Kemudian dalam ayat 20 Paulus melanjutkan, “Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Kita perlu melihat bahwa di sini Paulus membicarakan pendamaian dalam dua aspek. Yang satu berkaitan dengan orang dosa, sedang yang lain berkaitan dengan orang beriman.

Jika kita mengenal makna dari tabir dan tirai dalam Kemah Suci, niscaya bisa memahami cara Paulus menanggulangi kaum beriman Korintus dalam 2Korintus 5. Orang-orang Korintus telah melewati tirai yang pertama, yaitu tirai yang ada di pintu masuk Kemah Suci. Namun, mereka belum melewati tirai yang kedua, yaitu tabir di sebelah dalam, yang menyekat tempat kudus dengan tempat maha kudus. Berarti mereka belum mengalami kedua aspek pendamaian antara kita dengan Allah. Sebelum orang-orang Korintus percaya dan diselamatkan, mereka adalah musuh-musuh Allah. Akan tetapi, setelah mereka percaya dalam Kristus, mereka telah didamaikan dengan Allah. Mereka telah diampuni, dibenarkan, sehingga mereka boleh masuk ke dalam tempat kudus, memperoleh kenikmatan atas Tuhan. Walaupun orang-orang Korintus telah mengalami aspek pendamaian ini, namun mereka belum memasuki tempat maha kudus. Mereka telah didamaikan dengan Allah pada taraf tertentu, tetapi belum sampai pada taraf yang memungkinkan mereka memasuki tempat maha kudus dan menikmati Allah sepenuhnya. Karena alasan inilah mereka memerlukan pendamaian yang lebih lanjut, pendamaian yang diungkapkan oleh Paulus dalam 2Korintus 5:20.

Dalam 1Korintus 15:3 Paulus mengatakan, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci.” Di sini Paulus menekankan dasar kebenaran Injil bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita. Ini berhubungan dengan aspek pertama dari pendamaian. Sasaran pendamaian ialah menyingkirkan perintang di antara kita dengan Allah. Ketika kita mengalami pengampunan dosa dan pembenaran serta masuk ke dalam tempat kudus, berarti penghalang itu telah disingkirkan pada taraf tertentu. Tetapi masih ada aspek khusus penghalang yang tertinggal, dan aspek ini adalah daging atau sifat alamiah kita yang telah jatuh. Dosa-dosa kita sudah diampuni dan kita sudah didamaikan kepada Allah. Namun demikian, daging atau sifat kita yang telah jatuh, mungkin saja masih menyebabkan kita belum berdamai dengan Allah. Mungkin kita malah masih tersekat dengan Dia, sehingga tak dapat menikmati Dia di dalam tempat maha kudus.

Kaum beriman di Korintus adalah saudara-saudara sejati di dalam Kristus, dan Paulus pun berkali-kali menyebut mereka demikian. Namun, dalam 2Korintus 5:20, ia meminta mereka agar berdamai dengan Allah. Kemudian dalam ayat 21 ia melanjutkan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah” (Tl.). Ini lebih dalam daripada Kristus mati karena dosa-dosa kita. “Kristus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah” berbeda dengan “Kristus mati supaya dosa-dosa kita mendapat pengampunan sehingga kita dibenarkan oleh Allah.”

Jika kita dengan teliti membaca 2Korintus 5, kita akan melihat bahwa pendamaian beraspek dua. Dalam ayat 19, Paulus berkata bahwa Allah mendamaikan dunia kepada diri-Nya di dalam Kristus. Perhatikan bahwa mengenai pendamaian dunia kepada Allah, Paulus tidak menyinggung “Kristus telah dibuat-Nya menjadi dosa”. Sebaliknya, dengan sederhana saja ia katakan bahwa Allah tidak memperhitungkan pelanggaran-pelanggaran mereka. Aspek pendamaian ini meliputi orang-orang dosa, sebagaimana Paulus menggunakan istilah “dunia”. Tetapi menurut ayat 20, bahkan orang yang telah didamaikan itu, kaum beriman, masih pula perlu didamaikan. Dalam ayat-ayat ini, kita melihat tiga golongan orang: para rasul, orang-orang dosa, dan kaum beriman yang belum sepenuhnya didamaikan dengan Allah.

Kebanyakan pengkhotbah-pengkhotbah Kristen hari ini hanya memberitakan aspek pertamanya, yaitu Allah tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Sedikit sekali, kalau ada, yang memberitakan aspek keduanya, yang menyangkut Kristus dibuat menjadi dosa agar kita menjadi kebenaran Allah di dalam Dia. Aspek ini jauh lebih dalam daripada aspek pertama, yang dilambangkan oleh tabir yang kedua di dalam Kemah Suci. Hanya setelah kita melewati tabir ini, barulah kita didamaikan dengan Allah secara tuntas dan bisa menikmati Dia sepenuh-penuhnya.

ALLAH MENGHUKUM DOSA DI DALAM DAGING

Aspek kedua dari pendamaian ini sesuai dengan apa yang Paulus katakan dalam Roma 8. Roma 8:3, ayat yang mirip dengan 2Korintus 5:4 mengatakan, “Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Ini sesuai dengan kalimat dalam 2Korintus 5:21 mengenai Kristus dijadikan dosa karena kita. Putra Allah diutus di dalam rupa daging dosa yang kemudian dibuat menjadi dosa karena kita di kayu salib. Ketika Kristus disalibkan di kayu salib, Allah menghukum dosa di dalam daging. Ini berarti Allah telah menyalibkan, membunuh daging, termasuk dosa, yang sebenarnya adalah Iblis sendiri. Allah menghukum dosa di dalam daging, agar tuntutan kebenaran dari Taurat terpenuhi di dalam kita yang tidak bertindak menurut daging, melainkan menurut roh. Daging yang ditanggulangi dalam Roma 8 dan 2Korintus 5 ternyatakan oleh tabir di bagian dalam pada Keluaran 26. Jika kita tidak memiliki tirai dalam Kemah Suci sebagai pelambang-an, kita takkan memiliki pengertian sepenuhnya mengenai keharusan tertanggulanginya daging. Kita telah melihat bahwa terkoyaknya tabir di sebelah dalam berarti terobeknya daging kita.

CIPTAAN BARU

Dua Korintus 5:16, “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Orang yang mengenal Kristus menurut daging, paling jauh hanya di pelataran luar. Dalam banyak kejadian, mereka malah belum berada di pelataran luar. Mungkin saja orang-orang Korintus mengenal para rasul menurut pengenalan jiwani mereka, sebab banyak di antara mereka masih berada di dalam tempat kudus, yang melambangkan jiwa. Dalam ayat 17, Paulus berbicara mengenai ciptaan baru: “Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Menjadi ciptaan baru berarti menjadi baru secara mutlak. Ini adalah di dalam tempat maha kudus.

HIDUP TERHADAP KRISTUS

Dalam 2Korintus 5:14, Paulus berkata bahwa satu orang, yaitu Kristus, telah mati untuk semuanya. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita, sehingga kita bisa diampuni. Sebagaimana kita tahu, pengampunan dosa adalah aspek pertama dari pendamaian. Kristus mati untuk kita, agar kita hidup terhadap Dia. Hidup terhadap Kristus dalam 2Korintus 5 sama dengan hidup menurut Roh yang dikatakan dalam Roma 8. Hidup terhadap Kristus dengan berjalan menurut Roh jauh lebih dalam daripada beroleh pengampunan dosa.

Dulu, saya bingung oleh masalah-masalah tertentu dalam 2Korintus 5. Bertahun-tahun saya tak mengerti dengan jelas makna dari pasal ini. Walaupun saya memiliki pandangan yang jelas mengenai pasal 2, 3, dan 4, namun saya tak memiliki pengertian yang memadai mengenai pasal 5. Inilah alasannya selama sembilan belas tahun yang silam, saya tidak banyak menyampaikan berita mengenai pasal ini, terutama ayat-ayat yang terakhir. Namun, kini pandangan saya mengenai pasal ini makin lama makin jelas. Sebagaimana akan kita lihat ketika kita sampai pada pasal ini dalam Pelajaran-Hayat 2Korintus, apa yang Paulus kerjakan ialah membawa kaum beriman memasuki aspek kedua dari pendamaian. Aspek ini mengharuskan terkoyaknya daging kita, agar kita boleh memasuki tempat maha kudus serta memperoleh kenikmatan penuh atas Allah.

PAULUS MEMAKAI KIASAN

A. TERTAWAN DI DALAM ARAK-ARAKAN KRISTUS

Dalam Surat 2Korintus, Paulus memakai banyak kiasan. Misalnya, dalam 2Korintus 2:14-16, ia berkata, “Tetapi syukur bagi Allah yang dalam Kristus selalu memimpin kami di jalan (perarakan) kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan.” Ada dua kiasan dalam ayat-ayat ini. Pertama ialah perarakan kemenangan. Paulus menganggap dirinya dan para rasul lainnya sebagai tawanan di dalam perarakan semacam ini. Mereka telah tertawan sepenuhnya oleh Allah, dan sekarang sedang berbaris di dalam perarakan Kristus. Tetapi orang-orang Korintus belum tertawan seluruhnya oleh Tuhan.

B. PARA PEMBAWA UKUPAN (WANGI-WANGIAN)

Kiasan kedua di dalam ayat-ayat ini ialah para pembawa ukupan. Di satu pihak, para rasul adalah tawanan; di pihak lain, para rasul juga adalah pembawa ukupan, bau wangi Kristus. Ketika rasul berbaris dalam perarakan Kristus, mereka mengemban bau wangi Kristus sebagai ukupan.

C. SURAT-SURAT HIDUP KIRIMAN RASUL

Dalam 2Korintus 3:2 dan 3, Paulus memakai kiasan surat-surat hidup kiriman rasul, “Kamulah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami, yang dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata bahwa kamulah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Di sini terlihat bahwa Paulus dan rekan sekerjanya telah menulis surat-surat hidup. Surat-surat ini merupakan surat pujian. Rasul-rasul adalah penulisnya, sedang kaum beriman adalah surat tulisan mereka.

D. CERMIN YANG TAK BERSELUBUNG

Kiasan keempat ialah cermin. Paulus menyinggung hal ini dalam 2Korintus 3:18, “Kita semua mencerminkan (seperti cermin memandang dan memantulkan) kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar.” Menurut ayat ini, kaum beriman seharusnya merupakan cermin yang tanpa selubung. Berarti kita tak boleh lagi tertutup oleh tirai Taurat. Sebagai cermin yang tak berselubung, kita harus memandang kepada kemuliaan Tuhan, sehingga diubah oleh-Nya.

E. BEJANA TANAH LIAT

Dalam 2Korintus 4:7, Paulus menggunakan kiasan lain, yaitu bejana tanah liat. “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Bila kita mengkaji ayat ini dalam terang yang diungkapkan oleh Paulus dalam ayat 6, di sana ia berkata bahwa penyorotan Allah di dalam hati kita, memberikan cahaya pengenalan terhadap kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus, maka kita akan menyadari bahwa bejana yang dikatakan dalam ayat 7 boleh diumpamakan sebuah kamera. Apa yang Paulus lukiskan dalam ayat-ayat ini sesungguhnya merupakan pengalaman fotografi rohani. Sebagai kaum beriman, kita boleh diumpamakan sebagai kamera. Cahaya ilahi menyorot melalui lensa dan menimbulkan sebuah gambar, sebuah lukisan, yang direkam pada film roh kita. Tadinya film tersebut masih kosong. Tetapi sekarang melalui penyorotan Allah, pada film ini terdapat rekaman gambar kemuliaan Kristus. Gambar pada film roh kita adalah harta mustika yang tersimpan dalam bejana tanah liat. Selanjutnya harta ini merupakan dinamo, sumber tenaga rohani. Tidak ada sesuatu, termasuk yang diuraikan dalam ayat 8 dan 9, yang mampu menaklukkan dinamo ini.

PERLUNYA PENDAMAIAN LEBIH LANJUT

Dua Korintus 5 merupakan sambungan yang baik sekali dari pasal 2, 3, dan 4. Dalam pasal 5, Paulus menunjukkan bahwa kaum beriman di Korintus belumlah memasuki situasi seperti yang dikatakan Paulus dalam pasal-pasal sebelum ini. Berarti mereka juga belum memasuki tempat maha ku-dus; mereka masih tetap dipisahkan oleh tirai kedua. Inilah alasan Paulus meminta dengan sangat agar mereka didamaikan dengan Allah. Didamaikan di dalam aspek kedua, yaitu daging kita harus dikoyak dan dirobek hingga berkeping-keping.

Syukur kepada Tuhan atas apa yang telah Dia perlihatkan kepada kita mengenai tabir dan tirai, dan masalah perlunya daging kita dikoyak dan dirobek agar kita mampu menikmati Allah di dalam tempat maha kudus. Setelah melihat hal-hal ini, jangan sekali-kali merasa puas berada di pelataran luar atau di tempat kudus. Sesungguhnya, semakin kita melihat hal-hal rohani, semakinlah kita merasa bahwa hal-hal lain itu tidak berarti. Semakin kita menikmati tempat kudus, semakin kita tak ingin kembali ke pelataran luar. Hanya mereka yang berada di perbatasan antara tempat kudus dan pelataran luar yang pernah mempertimbangkan hendak meninggalkan tempat kudus dan kembali ke pelataran luar. Seprinsip dengan itu, bila kita berada di dalam tempat maha kudus, kita tidak akan mau pergi ke mana juga. Kita takkan lagi puas dengan tinggal di tempat kudus. Visi yang kita lihat di dalam tempat maha kudus akan memenjarakan kita di dalam tempat maha kudus.

Puji Tuhan yang telah menampakkan kepada kita dua tirai ini, yakni tabir di sebelah dalam dan tirai, dan pula penyingkapan dua aspek pendamaian. Kita semua perlu melewati kedua tirai itu mengalami kedua aspek pendamaian, supaya kita boleh masuk ke dalam tempat maha kudus untuk menikmati Tuhan sepenuhnya.